- Beranda
- Stories from the Heart
Kesunyian Menjadi Teman Terbaik [TAMAT]
...
TS
ferdy988
Kesunyian Menjadi Teman Terbaik [TAMAT]
![Kesunyian Menjadi Teman Terbaik [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2017/09/30/8075495_201709300528270171.jpg)
Nice cover by Awayaye
Quote:
Spoiler for Q&A:
Salman namaKu, terlahir dari rahim seorang ibu yang entah bagaimana bentuk fisik dan wajahnya,karna saat usiaku genap 8 hari manusia yang di ciptakan untuk melindungiku telah pergi meninggalkanku menuju alam keabadian.
Sedangkan Ayah ku adalah seorang pengangguran yang hanya bisa makan dari jerih payah istrinya,males bekerja,bisanya hanya bermain judi dan menghabiskan uang istrinya,kerjaannya ketika pulang hanya bisa marah dan marah kepada Ibuku dan kakak kakak ku.
Ketika ku lahir pun Ayah enggak sedikit pun memperdulikan ku,tangisan ku hanya bisa mengganggunya,hingga sampai tega ingin membunuhku namun kasih sayang dari Kakak ku yang berjumlah 3 orang mereka rela menjadi bulan bulanan Ayah hanya untuk melindungiku.
Hingga ketika umurku menginjak 2 minggu,aku di bawa oleh Kakak ku yang tertua untuk di titipkan ke rumah orang yang mau merawat ku,namun enggak ada satu pun tetangga yang mau merawat anak bayi.
Hingga suatu hari datanglah sepasang suami istri kerumah ku lalu meminta izin kepada Ayah ku untuk merawat dan mengadopsi aku sebagai anak angkatnya,dengan santai Ayah kandungku berucap
Quote:
Akhirnya tanpa pikir panjang sepasang suami istri tersebut membayar beberapa rupiah untuk bisa membawa ku pulang,yah diriku hanya sebuah barang murahan bagi Ayah ku yang tega menukarkan ku dengan beberapa rupiah uang.
Akhirnya aku pun dibesarkan oleh kedua orang tua angkat yang sangat mencintai dan menyayangiku seperti anak mereka sendiri,kebetulan mereka sepasang suami istri yang belum di karuniai seorang anak karna salah satu dari mereka mandul.
Semenjak TK aku sudah terbiasa dengan kesendirian,entah kenapa anak anak sebaya dengan ku begitu menjauhiku bahkan anak tetangga pun enggan bermain dengan ku,di lingkungan kampung tempat ku tinggal pun aku selalu di anggap enggak ada,bahkan nenek dari orang tua Ayah angkat ku enggan memanggilku dengan sebutan Cucu.
Ketika ku SD diriku kenyang dengan bullyan teman teman seangkatan ku,kadang uang jajan ku dirampas begitu saja tanpa ada perlawanan sama sekali dariku,kadang aku di bilang anak pungut,lalu ada berkata aku adiknya Ujang.
Ketika ku pulang sekolah langsung ku peluk Ibu ku seraya berucap,"Bu tadi uang jajan ku di ambil oleh teman teman ku,aku juga di bilang anak pungut,apa bener Bu aku bukan anak Ibu?"tanya ku dengan polos
Quote:
Aku pun kembali tenang,yah setiap diriku ada masalah atau habis di bully dengan teman sebaya ku pasti larinya kepelukan Ibu ku.
Selama 6 tahun bersekolah enggak pernah sehari pun ku menyentuh jajanan,nasi bungkus atau mainan seperti kebanyakan teman teman ku,karna uang jajan ku selalu di rampas oleh teman yang disegani di sekolah ku,ku bertanya pada diriku sendiri
Quote:
Diantara sekian banyak teman teman ku di SD hanya ada satu yang perduli dengan ku,selalu menawarkan uang,atau jajanan untuk ku ketika aku merasa lapar,Wulan namanya wanita yang baik dan selalu melindungi ku ketika ku di hina teman teman ku,selalu membela ku ketika aku dicaci,kami akrab hanya di sekolah karna ibu Wulan sama seperti warga lainnya yang menganggap ku sebagai anak aneh.
Kata kata cacian seperti bodoh,tolol,anak buangan dan lain sebagainya selalu menjadi langganan masuk ketelinga ku saat di sekolah maupun di lingkungan kampung tempat ku tinggal,dan lagi lagi hanya ibu lah yang aku punya sebagai tempat ku bersandar dari lelahnya mendengar cacian dan cibiran dari mereka yang menghina ku.
Ayah angkat ku selalu mengajarkan kepada ku
Quote:
itu lah kata Ayah yang Ku pegang hingga ku menginjak kan kaki ke bangku sekolah lanjutan tingkat pertama.
Disini lah awal cerita ku...
Spoiler for pdf Episode 1:
Spoiler for Index:
Spoiler for episode II (kehidupan setelah pernikahan):
Polling
0 suara
Siapakah Wanita Yang Akan Menjadi Istri Salman
Diubah oleh ferdy988 11-04-2020 17:45
sargopip dan 8 lainnya memberi reputasi
9
165.5K
718
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ferdy988
#358
Part44
Tepat di tahun 2007 aku telah menyelesaikan sekolah kejuruan ku,setelah merayakan dengan bercorat coret baju sekolah lalu aku di ajak beberapa teman sekolah untuk konvoi keliling kota namun aku menolaknya,aku lebih memilih tempat yang sunyi yaitu danau kaca tempat biasa diriku dengan Arsanti nongkrong menghabiskan waktu sore bersama.
"enggak kerasa yah Mas kebersamaan kita udah masuk usia 3 tahun"ujar Arsanti
"hmmm..."ujar ku sembari menikmati sejuknya udara disekitar danau
"Mbak Fatimah sama Mas Andre udah tuker cincin loh,Lu kapan Mas?"sembari memegang tangan ku
"Lu maunya kapan?"tanya ku balik
"hmmm...sekarang
"sembari tersenyum lebar padaku
"oh yaudah tunggu sebentar yah Gua carikan cincinnya"ujar ku sembari berdiri
"loh Lu beneran serius Mas?"doi sedikit terkejut
"iyah Gua serius,tunggu yah Gua kebengkel dulu"
"loh Mas katanya tadi mau cari cincin kok kebengkel sih?"doi mulai bingung
"Yah Gua cari baut yang pas buat jari manis Lu"sembari cekikan menahan tawa
"Mas gini yah,dimana mana tuh cincin kimpoi terbuat dari Emas dan beli nya di toko Perhiasan,ini masa dari baut enggak lucu ah"ujar doi dengan wajah cemberut
Aku lalu mendekatinya dan duduk disampingnya kemudian tangan ku menggenggam tangannya dan berucap "San ada waktunya kelak Gua akan memasang cincin kimpoi di jari manis Lu,tapi enggak untuk sekarang"
"Mas enggak inget yah apa yang di bilang Mas Andre dan Mbak Fatimah?kalau Gua dan Lu emang bener bener serius ingin menikah mereka akan urunan uang untuk biaya pernikahan kita Mas"
"enggak...enggak,Gua enggak bisa seperti itu San"tolak ku
"loh kenapa?"tanya nya heran
"itu bukan gaya hidup Gua San,Gua sedari kecil sudah di ajarkan kalau mau sesuatu itu harus dengan usaha,lebih baik tangan di atas dari pada tangan di bawah"
"maksudnya?Gua masih belum paham?"
"gini San prinsip Gua lebih baik memberi dari pada meminta minta,usaha sendiri lebih berasa karna didalamnya terdapat perjuangan untuk mendapatkan apa yang kita mau,daripada meminta kepada orang lain walaupun masih saudara kandung tetap aja kaya enggak punya harga diri,kita diberikan Akal dan anggota tubuh yang lengkap oleh Allah itu untuk di fungsikan bukan buat cuman duduk tiduran meminta minta belas kasih orang lain"ujar ku menjelaskan kepadanya
"Gua bangga Mas punya cowok yang bermental pekerja keras,penjelasan Lu bikin Gua sadar, maaffin Gua yah desak Lu terus,tapi insya Allah Gua akan bersabar kok meskipun Mbak Fatimah dan Mas Andre duluan nikah"
"syukur deh kalau Lu ngerti kemauan Gua"sembari membelai rambutnya
Sedang asyik menikmati keindahan danau bersama Arsanti tiba tiba Hp ku berdering,saat ku lihat di layar ternyata ada panggilan dari Bapak angkat ku,ingatan ku akhirnya kembali karna 3 tahun lalu aku telah berjanji untuk pindah kerumah mereka.
"telpon dari siapa Mas?"sembari mendekat kepadaku dan melihat hp ku
"dari Bapak"jawab ku singkat
"kenapa enggak di angkat?sini Gua angkat kalau Lu enggak mau ngomong"seraya merebut hp dari tangan ku
"heh...mau ngomong apaan Lu,sini balikin"ujar ku berusaha merebut hp ku kembali
"udag Lu diem deh"sembari jari telunjuknya di tempelin di bibirnya
"bakalan runyam dah kalau urusan di tangan si blatung nangka ini"bathin ku
"Halo...assalamu'alaikum"ujar Arsanti
"wa'alaikumsalam,loh ini siapa yah? Salmannya mana?"sahut Emak yang terdengar dari hp ku yang di loudspeaker
"saya Arsanti Buk Calon istrinya Salim Buk,eh Salman maksud saya"sahut Arsanti
"loh kok Ibu enggak di kabarin kalau Salman mau nikah,terus salmannya kemana?"tanya Emak
"itu lagi kencing sebentar katanya,gimana kabar Ibu sama Bapak?"tanya Arsanti
"Alhamdulillah baik,gimana kelulusannya apa kalian udah pada lulus?"tanya beliau
"Alhamdulillah lulus Buk,Salman dapet nilai terbaik loh"ujar Arsanti
"syukur lah Ibu ikut seneng dengernya,emang Nak Arsanti sama Salman bener mau nikah?"
"sebenernya sih sebentar lagi,tapi karna Salman nolak uang mahar yang di bantu Kak Fatimah dan Mas Andre jadi batal nikahnya"dengan wajah yang agak sedih
"iyah begitu lah dia Nak,Salman itu orangnya memang keras kepala sama seperti Bapaknya kalau kata dia iya yah iyah enggak yah enggak"
"tapi Emak sama Bapak ngerestuin kan hubungan ku dengan Salman"
"yah Ibu sama Bapak ikut seneng aja kalau memang Salman senang dengan wanita siapa pun itu"
"Alhamdulillah,yaudah ini Buk Salmannya udah datang"ujarnya padahal sedari tadi aku memang disampingnya mendengar omongannya dengan Emak
Doi lalu mengembalikan Hp kepadaku sembari meledek menjulur kan lidahnya lalu menjauh dari ku menuju jembatan dan duduk disana,dasar kuthil pasti omongannya yang aneh aneh ke Emak udah bisa ku tebak.
"Halo Mak"sapa ku
"iyah Nak,kamu udah ada calon yah?kok enggak bilang Emak?"
"calon apaan Mak,kerja aja belum udah mikirin calon"sahut ku
"yah kalau emang kamu cocok sama siapa tadi namanya?"
"arsanti Mak"jawab ku
"yah Arsanti,kalau cocok sama dia yah nikah aja"ujar beliau
"Kabar Bapak gimana Mak?"aku mengalihkan pembicaraan
Setelah mendengar pertanyaan dari ku Emak lalu terdiam,entah apa yang beliau pikirkan sehingga terdiam cukup lama,karna penasaran aku kembali mempertanyakan kabar dari Bapak.
"Mak,kok diem?Bapak gimana kabarnya Mak"
"Bapakmu...Bapakmu terkena penyakit kencing manis Nak"jawab Emak sembari terbata bata
"hah...sejak kapan?"aku mulai serius mendengarkan Emak berbicara tentang penyakit yang diderita Bapak
"sudah 1 tahun yang lalu Nak"
"kenapa Emak enggak ngasih kabar ke Salman sih,terus gimana keadaan Bapak sekarang?"
"maaffin Emak,sengaja emang enggak ngasih kabar karna takut ganggu kamu yang mau UAN,Bapak pun meminta Emak untuk jangan kasih tau tentang keadaannya karna khawatir kamu enggak konsen disekolah"
"terus kondisi Bapak sekarang gimana?"
"awal terkena penyakit Bapak memiliki luka di kakinya namun bukannya mengering malah menjalar ke jempol kaki Bapak dan akhirnya membusuk dan harus di amputasi,sekarang Bapak hanya bisa duduk dan tidur di kursi karna perutnya mengeras,kalau tidur di bawah pasti susah untuk bernafas,Bapak kangen sama kamu Nak,cepet kesini yah"
"iyah Mak,aku besok langsung pulang"ujar ku lalu Emak menutup telponnya
Setelah mendengar penjelasan dari Emak,aku merasa sangat berdosa karna ketika Bapak sakit aku enggak ada disampingnya,padahal beliau selalu ada untuk ku ketika aku membutuhkannya,lutut ku serasa lemas enggak kuat menopang tubuh ku,lalu aku terduduk lemas di bawah pohon akasia.
"dasar anak enggak tau berterima kasih!!!,kemana dirimu ketika Bapak mu sakit keras?sedangkan beliau rela terkena panas dan hujan untuk mencari uang untukmu dan membesarkan mu seperti anaknya sendiri tapi engkau malah membalas dengan pergi meninggalkannya dari rumah,anak macam apa dirimu ini"bathin ku sembari menyalahkan kebodohan ku
"Mas,Lu kenapa nangis?Lu enggak apa apa kan?"tanya Arsanti yang mendekati ku lalu duduk disamping ku
"besok Gua pulang San,Bapak Gua sakit keras dan sedang butuh Gua disampingnya"ujar ku sembari mengelap air mata
"Ya Allah,yang sabar Mas semoga cepet sembuh yah Bapaknya"ujar Arsanti
"aamiin,makasih doanya"
"tapi entar balik lagi kan kesini Mas?"tanyanya lagi
"aku hanya menggelengkan kepala"
"terus kita gimana?"ujarnya
"tolong jangan tanyakan masalah itu ke Gua,sekarang Gua enggak bisa berpikir jernih San,Lu bisa mikir enggak disana Bapak Gua terbaring sakit sedang Gua disini enak enakan anak macam apa Gua!,sedang tanpa mereka Gua enggak akan bisa jadi sampai sekarang!,kalau Lu tetep mempertanyakan tentang hubungan ini bakal di bawa kemana mending Lu cari lelaki yang bisa ngerti kemauan Lu!"ujar ku yang sedikit mengeluarkan suara tinggi dan membuat Arsanti terdiam
Dalam hati Ku sebenernya enggak tega membentaknya namun kalau enggak di beri pengertian doi pasti terus merengek seperti anak kecil,sedang posisiku juga sangat berat selain meninggalkannya kemungkinan besar aku akan meninggalkan Kak Fatimah juga dan entah kapan bakal bertemu dengannya lagi.
Pagi harinya aku menyiapkan beberapa pakaian dan memasukannya ke tas besar,setelah selesai packing aku lalu duduk sebentar di dekat meja belajarku sembari memandangi setiap sudut ruangan yang sudah 3,5 tahun aku tinggali,momen momen kebersamaan terekam jelas di ingatan ku,kenangan bersama Kak Fatimah,kenangan bersama Mas Andre serta kenangan bersama Arsanti si ratu jahil,entah kisah ini akan berlanjut atau hanya akan menjadi sebuah cerita indah.
"Dek Taxinya sudah ada didepan rumah,gih siap siap"ujar Kak Fatimah yang membuyarkan lamunan ku
"iyah Kak tunggu sebentar"jawab ku
Lalu aku bawa tas ku dan keluar kamar,ternyata Kak Fatimah masih ada di depan kamar ku dengan senyuman yang seperti biasa tanpa ada tangis dan kesedihan yang tersirat di wajahnya,entah lah seperti apa hatinya namun aku berharap hatinya sama seperti senyumannya hingga membuat langkah ku ringan untuk meninggalkan rumah ini.
Aku lalu berjalan menuruni anak tangga satu persatu dan melanjutkan berjalan keluar rumah,disana ternyata sudah Mas Andre dan Arsanti yang menungguku sembari duduk di teras rumah mereka tersenyum kearah ku aku pun membalasnya dengan senyuman,lalu berbalik arah menghadap Kak Fatimah yang ada di belakang ku kemudian mencium tangannya sebagai penghormatan adik kepada Kakaknya seraya memandang wajahnya yang selalu mengingatkan ku dengan sosok Ibu.
"Kak,aku pamit yah,terimakasih atas perhatian yang selama ini Kakak berikan,yang sudah mau menyekolahkan ku hingga lulus SMK,entah bagaimana aku membalasnya"
"hush...Kakak nyekolahin kamu karna itu sudah kewajiban seorang Kakak kepada Adiknya tanpa mengharap imbalan apapun"
Aku mencoba tegar dihadapan Beliau meskipun hati ku tak setegar fisik ku,sudah 3 kali kami terpisah terhitung semenjak aku bayi hingga sekarang,hingga wajar air mata ku hampir terjatuh namun aku berusaha untuk menahannya.
"kakak hanya berharap kalau kamu ada waktu mampir lah kesini"
"insya Allah Kak"ujar ku lalu berpaling dan mendekati Mas Andre
"Mas Gua pamit yah,Gua titip Kakak Gua ama Lu,Gua percaya Lu bisa jagain dia saat Gua enggak ada"ujar ku sembari menyalaminya
"iyah brow itu pasti,jangan khawatir yang terpenting itu kapan Lu bakal kesini lagi dan halalin tuh"ujar Mas Andre menunjuk dengan mulutnya kearah Arsanti
"iyah doain aja Mas brow supaya Gua bisa cepat lamar dia"jawab ku
Lalu aku berjalan mendekati Arsanti yang tersenyum kearah ku,
"eh kuthil si ratu jahil,Gua pamit"canda ku
"...."hanya senyuman yang doi berikan padaku
"Lu napa diem?enggak mau salim ama Gua,yaudah Gua pergi dulu"ujar ku seraya berputar arah menuju ke taxi
"BUUKKK...!" tiba tiba satu pukulan mendarat di punggungku
Aku pun berbalik kearah Arsanti,dan mendapatinya sudah penuh dengan air mata,
"Mas jahat!,udah capek capek nahan setengah jam ini air mata biar dibilang tegar, akhirnya tumpah juga kan hiks..hiks..."ujarnya sembari menangis
Lalu Arsanti memeluk ku tanpa perduli ada Kak Fatimah dan Mas Andre yang ada didekat kami,aku memandang kearah Mas Andre beliau hanya tertawa dan akhirnya menjauh bersama Kak Fatimah,lama sekali si Arsanti memeluk ku hingga membuat sopir taxi sedikit bosan menungguku,lalu dengan pelan aku melepaskan pelukan Arsanti lalu mengelap airmatanya dengan tangan ku sembari berucap
"kalau sudah tiba saatnya Gua pasti balik kok dan akan menghalal kan hubungan kita
"
"janji yah jangan lama lama"
"insya Allah"ujar ku lalu reflek mencium keningnya setelah itu berpaling berjalan menuju taxi yang sudah lama menungguku sedari tadi
Sebelum membuka pintu taxi aku kembali melihat rumah yang sudah 3,5 tahun menaungi ku,serta Kak Fatimah,Mas Andre dan Arsanti yang melambaikan tangannya kearah ku,aku pun membalas dengan senyuman kearah mereka lalu masuk kedalam taxi,ketika masuk taxi pandangan ku enggak pernah lepas dari mereka karna entah kapan bisa berkumpul lagi dan bercanda tawa dengan mereka hanya waktu yang dapat menjawabnya,akhirnya mobil pun berjalan menjauh dari rumah Kak Fatimah dan rumah Kak Fatimah pun menghilang seiring lajunya taxi yang aku tumpangi menjauh pergi.
"enggak kerasa yah Mas kebersamaan kita udah masuk usia 3 tahun"ujar Arsanti
"hmmm..."ujar ku sembari menikmati sejuknya udara disekitar danau
"Mbak Fatimah sama Mas Andre udah tuker cincin loh,Lu kapan Mas?"sembari memegang tangan ku
"Lu maunya kapan?"tanya ku balik
"hmmm...sekarang
"sembari tersenyum lebar padaku"oh yaudah tunggu sebentar yah Gua carikan cincinnya"ujar ku sembari berdiri
"loh Lu beneran serius Mas?"doi sedikit terkejut
"iyah Gua serius,tunggu yah Gua kebengkel dulu"
"loh Mas katanya tadi mau cari cincin kok kebengkel sih?"doi mulai bingung
"Yah Gua cari baut yang pas buat jari manis Lu"sembari cekikan menahan tawa
"Mas gini yah,dimana mana tuh cincin kimpoi terbuat dari Emas dan beli nya di toko Perhiasan,ini masa dari baut enggak lucu ah"ujar doi dengan wajah cemberut
Aku lalu mendekatinya dan duduk disampingnya kemudian tangan ku menggenggam tangannya dan berucap "San ada waktunya kelak Gua akan memasang cincin kimpoi di jari manis Lu,tapi enggak untuk sekarang"
"Mas enggak inget yah apa yang di bilang Mas Andre dan Mbak Fatimah?kalau Gua dan Lu emang bener bener serius ingin menikah mereka akan urunan uang untuk biaya pernikahan kita Mas"
"enggak...enggak,Gua enggak bisa seperti itu San"tolak ku
"loh kenapa?"tanya nya heran
"itu bukan gaya hidup Gua San,Gua sedari kecil sudah di ajarkan kalau mau sesuatu itu harus dengan usaha,lebih baik tangan di atas dari pada tangan di bawah"
"maksudnya?Gua masih belum paham?"
"gini San prinsip Gua lebih baik memberi dari pada meminta minta,usaha sendiri lebih berasa karna didalamnya terdapat perjuangan untuk mendapatkan apa yang kita mau,daripada meminta kepada orang lain walaupun masih saudara kandung tetap aja kaya enggak punya harga diri,kita diberikan Akal dan anggota tubuh yang lengkap oleh Allah itu untuk di fungsikan bukan buat cuman duduk tiduran meminta minta belas kasih orang lain"ujar ku menjelaskan kepadanya
"Gua bangga Mas punya cowok yang bermental pekerja keras,penjelasan Lu bikin Gua sadar, maaffin Gua yah desak Lu terus,tapi insya Allah Gua akan bersabar kok meskipun Mbak Fatimah dan Mas Andre duluan nikah"
"syukur deh kalau Lu ngerti kemauan Gua"sembari membelai rambutnya
Sedang asyik menikmati keindahan danau bersama Arsanti tiba tiba Hp ku berdering,saat ku lihat di layar ternyata ada panggilan dari Bapak angkat ku,ingatan ku akhirnya kembali karna 3 tahun lalu aku telah berjanji untuk pindah kerumah mereka.
"telpon dari siapa Mas?"sembari mendekat kepadaku dan melihat hp ku
"dari Bapak"jawab ku singkat
"kenapa enggak di angkat?sini Gua angkat kalau Lu enggak mau ngomong"seraya merebut hp dari tangan ku
"heh...mau ngomong apaan Lu,sini balikin"ujar ku berusaha merebut hp ku kembali
"udag Lu diem deh"sembari jari telunjuknya di tempelin di bibirnya
"bakalan runyam dah kalau urusan di tangan si blatung nangka ini"bathin ku
"Halo...assalamu'alaikum"ujar Arsanti
"wa'alaikumsalam,loh ini siapa yah? Salmannya mana?"sahut Emak yang terdengar dari hp ku yang di loudspeaker
"saya Arsanti Buk Calon istrinya Salim Buk,eh Salman maksud saya"sahut Arsanti
"loh kok Ibu enggak di kabarin kalau Salman mau nikah,terus salmannya kemana?"tanya Emak
"itu lagi kencing sebentar katanya,gimana kabar Ibu sama Bapak?"tanya Arsanti
"Alhamdulillah baik,gimana kelulusannya apa kalian udah pada lulus?"tanya beliau
"Alhamdulillah lulus Buk,Salman dapet nilai terbaik loh"ujar Arsanti
"syukur lah Ibu ikut seneng dengernya,emang Nak Arsanti sama Salman bener mau nikah?"
"sebenernya sih sebentar lagi,tapi karna Salman nolak uang mahar yang di bantu Kak Fatimah dan Mas Andre jadi batal nikahnya"dengan wajah yang agak sedih
"iyah begitu lah dia Nak,Salman itu orangnya memang keras kepala sama seperti Bapaknya kalau kata dia iya yah iyah enggak yah enggak"
"tapi Emak sama Bapak ngerestuin kan hubungan ku dengan Salman"
"yah Ibu sama Bapak ikut seneng aja kalau memang Salman senang dengan wanita siapa pun itu"
"Alhamdulillah,yaudah ini Buk Salmannya udah datang"ujarnya padahal sedari tadi aku memang disampingnya mendengar omongannya dengan Emak
Doi lalu mengembalikan Hp kepadaku sembari meledek menjulur kan lidahnya lalu menjauh dari ku menuju jembatan dan duduk disana,dasar kuthil pasti omongannya yang aneh aneh ke Emak udah bisa ku tebak.
"Halo Mak"sapa ku
"iyah Nak,kamu udah ada calon yah?kok enggak bilang Emak?"
"calon apaan Mak,kerja aja belum udah mikirin calon"sahut ku
"yah kalau emang kamu cocok sama siapa tadi namanya?"
"arsanti Mak"jawab ku
"yah Arsanti,kalau cocok sama dia yah nikah aja"ujar beliau
"Kabar Bapak gimana Mak?"aku mengalihkan pembicaraan
Setelah mendengar pertanyaan dari ku Emak lalu terdiam,entah apa yang beliau pikirkan sehingga terdiam cukup lama,karna penasaran aku kembali mempertanyakan kabar dari Bapak.
"Mak,kok diem?Bapak gimana kabarnya Mak"
"Bapakmu...Bapakmu terkena penyakit kencing manis Nak"jawab Emak sembari terbata bata
"hah...sejak kapan?"aku mulai serius mendengarkan Emak berbicara tentang penyakit yang diderita Bapak
"sudah 1 tahun yang lalu Nak"
"kenapa Emak enggak ngasih kabar ke Salman sih,terus gimana keadaan Bapak sekarang?"
"maaffin Emak,sengaja emang enggak ngasih kabar karna takut ganggu kamu yang mau UAN,Bapak pun meminta Emak untuk jangan kasih tau tentang keadaannya karna khawatir kamu enggak konsen disekolah"
"terus kondisi Bapak sekarang gimana?"
"awal terkena penyakit Bapak memiliki luka di kakinya namun bukannya mengering malah menjalar ke jempol kaki Bapak dan akhirnya membusuk dan harus di amputasi,sekarang Bapak hanya bisa duduk dan tidur di kursi karna perutnya mengeras,kalau tidur di bawah pasti susah untuk bernafas,Bapak kangen sama kamu Nak,cepet kesini yah"
"iyah Mak,aku besok langsung pulang"ujar ku lalu Emak menutup telponnya
Setelah mendengar penjelasan dari Emak,aku merasa sangat berdosa karna ketika Bapak sakit aku enggak ada disampingnya,padahal beliau selalu ada untuk ku ketika aku membutuhkannya,lutut ku serasa lemas enggak kuat menopang tubuh ku,lalu aku terduduk lemas di bawah pohon akasia.
"dasar anak enggak tau berterima kasih!!!,kemana dirimu ketika Bapak mu sakit keras?sedangkan beliau rela terkena panas dan hujan untuk mencari uang untukmu dan membesarkan mu seperti anaknya sendiri tapi engkau malah membalas dengan pergi meninggalkannya dari rumah,anak macam apa dirimu ini"bathin ku sembari menyalahkan kebodohan ku
"Mas,Lu kenapa nangis?Lu enggak apa apa kan?"tanya Arsanti yang mendekati ku lalu duduk disamping ku
"besok Gua pulang San,Bapak Gua sakit keras dan sedang butuh Gua disampingnya"ujar ku sembari mengelap air mata
"Ya Allah,yang sabar Mas semoga cepet sembuh yah Bapaknya"ujar Arsanti
"aamiin,makasih doanya"
"tapi entar balik lagi kan kesini Mas?"tanyanya lagi
"aku hanya menggelengkan kepala"
"terus kita gimana?"ujarnya
"tolong jangan tanyakan masalah itu ke Gua,sekarang Gua enggak bisa berpikir jernih San,Lu bisa mikir enggak disana Bapak Gua terbaring sakit sedang Gua disini enak enakan anak macam apa Gua!,sedang tanpa mereka Gua enggak akan bisa jadi sampai sekarang!,kalau Lu tetep mempertanyakan tentang hubungan ini bakal di bawa kemana mending Lu cari lelaki yang bisa ngerti kemauan Lu!"ujar ku yang sedikit mengeluarkan suara tinggi dan membuat Arsanti terdiam
Dalam hati Ku sebenernya enggak tega membentaknya namun kalau enggak di beri pengertian doi pasti terus merengek seperti anak kecil,sedang posisiku juga sangat berat selain meninggalkannya kemungkinan besar aku akan meninggalkan Kak Fatimah juga dan entah kapan bakal bertemu dengannya lagi.
Pagi harinya aku menyiapkan beberapa pakaian dan memasukannya ke tas besar,setelah selesai packing aku lalu duduk sebentar di dekat meja belajarku sembari memandangi setiap sudut ruangan yang sudah 3,5 tahun aku tinggali,momen momen kebersamaan terekam jelas di ingatan ku,kenangan bersama Kak Fatimah,kenangan bersama Mas Andre serta kenangan bersama Arsanti si ratu jahil,entah kisah ini akan berlanjut atau hanya akan menjadi sebuah cerita indah.
"Dek Taxinya sudah ada didepan rumah,gih siap siap"ujar Kak Fatimah yang membuyarkan lamunan ku
"iyah Kak tunggu sebentar"jawab ku
Lalu aku bawa tas ku dan keluar kamar,ternyata Kak Fatimah masih ada di depan kamar ku dengan senyuman yang seperti biasa tanpa ada tangis dan kesedihan yang tersirat di wajahnya,entah lah seperti apa hatinya namun aku berharap hatinya sama seperti senyumannya hingga membuat langkah ku ringan untuk meninggalkan rumah ini.
Aku lalu berjalan menuruni anak tangga satu persatu dan melanjutkan berjalan keluar rumah,disana ternyata sudah Mas Andre dan Arsanti yang menungguku sembari duduk di teras rumah mereka tersenyum kearah ku aku pun membalasnya dengan senyuman,lalu berbalik arah menghadap Kak Fatimah yang ada di belakang ku kemudian mencium tangannya sebagai penghormatan adik kepada Kakaknya seraya memandang wajahnya yang selalu mengingatkan ku dengan sosok Ibu.
"Kak,aku pamit yah,terimakasih atas perhatian yang selama ini Kakak berikan,yang sudah mau menyekolahkan ku hingga lulus SMK,entah bagaimana aku membalasnya"
"hush...Kakak nyekolahin kamu karna itu sudah kewajiban seorang Kakak kepada Adiknya tanpa mengharap imbalan apapun"
Aku mencoba tegar dihadapan Beliau meskipun hati ku tak setegar fisik ku,sudah 3 kali kami terpisah terhitung semenjak aku bayi hingga sekarang,hingga wajar air mata ku hampir terjatuh namun aku berusaha untuk menahannya.
"kakak hanya berharap kalau kamu ada waktu mampir lah kesini"
"insya Allah Kak"ujar ku lalu berpaling dan mendekati Mas Andre
"Mas Gua pamit yah,Gua titip Kakak Gua ama Lu,Gua percaya Lu bisa jagain dia saat Gua enggak ada"ujar ku sembari menyalaminya
"iyah brow itu pasti,jangan khawatir yang terpenting itu kapan Lu bakal kesini lagi dan halalin tuh"ujar Mas Andre menunjuk dengan mulutnya kearah Arsanti
"iyah doain aja Mas brow supaya Gua bisa cepat lamar dia"jawab ku
Lalu aku berjalan mendekati Arsanti yang tersenyum kearah ku,
"eh kuthil si ratu jahil,Gua pamit"canda ku
"...."hanya senyuman yang doi berikan padaku
"Lu napa diem?enggak mau salim ama Gua,yaudah Gua pergi dulu"ujar ku seraya berputar arah menuju ke taxi
"BUUKKK...!" tiba tiba satu pukulan mendarat di punggungku
Aku pun berbalik kearah Arsanti,dan mendapatinya sudah penuh dengan air mata,
"Mas jahat!,udah capek capek nahan setengah jam ini air mata biar dibilang tegar, akhirnya tumpah juga kan hiks..hiks..."ujarnya sembari menangis
Lalu Arsanti memeluk ku tanpa perduli ada Kak Fatimah dan Mas Andre yang ada didekat kami,aku memandang kearah Mas Andre beliau hanya tertawa dan akhirnya menjauh bersama Kak Fatimah,lama sekali si Arsanti memeluk ku hingga membuat sopir taxi sedikit bosan menungguku,lalu dengan pelan aku melepaskan pelukan Arsanti lalu mengelap airmatanya dengan tangan ku sembari berucap
"kalau sudah tiba saatnya Gua pasti balik kok dan akan menghalal kan hubungan kita
""janji yah jangan lama lama"
"insya Allah"ujar ku lalu reflek mencium keningnya setelah itu berpaling berjalan menuju taxi yang sudah lama menungguku sedari tadi
Sebelum membuka pintu taxi aku kembali melihat rumah yang sudah 3,5 tahun menaungi ku,serta Kak Fatimah,Mas Andre dan Arsanti yang melambaikan tangannya kearah ku,aku pun membalas dengan senyuman kearah mereka lalu masuk kedalam taxi,ketika masuk taxi pandangan ku enggak pernah lepas dari mereka karna entah kapan bisa berkumpul lagi dan bercanda tawa dengan mereka hanya waktu yang dapat menjawabnya,akhirnya mobil pun berjalan menjauh dari rumah Kak Fatimah dan rumah Kak Fatimah pun menghilang seiring lajunya taxi yang aku tumpangi menjauh pergi.
khodzimzz dan jenggalasunyi memberi reputasi
2
![Kesunyian Menjadi Teman Terbaik [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2017/10/29/8075495_201710290532550523.jpg)