- Beranda
- Stories from the Heart
Langkah - Langkah Kecil | Kisah nyata perjalanan pahit seorang wanita
...
TS
Qiaraa
Langkah - Langkah Kecil | Kisah nyata perjalanan pahit seorang wanita
Halo Gan, salam mendung dari cuaca yang tidak menentu. Ini thread SFTH ane kesekian setelah bertahun-tahun vakum menulis di forum ini. Cerita ini adalah kisah nyata dari seorang sahabat yang saya kenal baik. Ceritanya penuh drama menurut Ane, tapi banyak yang bisa ane petik hikmahnya terutama tentang perjuangan dan cinta kasih yang tulus. Karena itu ane mau bagikan disini.
Cerita ini akan panjang, kalo berkenan baca, ane akan update secara berkala. Soalnya kalo langsung jebret tulis semua, keburu tua ane baru sempet nulis semua, hahaha.
Ceritanya banyak dramanya ya Gan, atau bisa dibilang emang cerita drama HAHAHA. Narsum ga menceritakan secara mendetil, jadi ane akan improvisasi sedikit di cerita ini. Beliau juga sudah mengijinkan ceritanya dipublish disini dengan catatan nama dia, nama orang yang terlibat, lokasi dan kejadian harus disamarkan agar privasi tetap terjaga.
Jangan tanya ane siapa narsumnya, jiwanya sudah terkubur cukup dalam. Sekarang beliau sudah menjadi pribadi yang baru, dan gak perlu kita ungkit atau cari tau lagi ya Gan!
Cerita ini akan panjang, kalo berkenan baca, ane akan update secara berkala. Soalnya kalo langsung jebret tulis semua, keburu tua ane baru sempet nulis semua, hahaha.
Ceritanya banyak dramanya ya Gan, atau bisa dibilang emang cerita drama HAHAHA. Narsum ga menceritakan secara mendetil, jadi ane akan improvisasi sedikit di cerita ini. Beliau juga sudah mengijinkan ceritanya dipublish disini dengan catatan nama dia, nama orang yang terlibat, lokasi dan kejadian harus disamarkan agar privasi tetap terjaga.
Jangan tanya ane siapa narsumnya, jiwanya sudah terkubur cukup dalam. Sekarang beliau sudah menjadi pribadi yang baru, dan gak perlu kita ungkit atau cari tau lagi ya Gan!

LANGKAH - LANGKAH KECIL
INDEX
PART 1 (Perbandingan Menyakitkan)
PART 2 (Perbandingan Menyakitkan 2)
PART 3 (MASUK SMP)
Part 1
(Perbandingan Menyakitkan)
Perkenalkan, namaku Adhira Wimala Dipta. Hari ini adalah hari yang seharusnya menegangkan dan membahagiakan untuk anak seusiaku, karena hari ini adalah hari upacara kelulusan siswa Sekolah Dasar Negeri XX, desa Kalimas, Pontianak, Kalimantan Barat. Seharusnya aku berbahagia hari ini, karena sebelum hari ini tiba, jauh-jauh hari Kepala Sekolahku sudah mengumumkan siapa saja juara umum 1 hingga 10. Dan menurut sebagian orang tua, jika anak masuk jadi juara 9 dari seluruh murid kelas 6 sudah lumayan membanggakan.
Ya, menurut ‘sebagian’, dan orang tuaku tidak termasuk dalam bagian itu. Ibuk bilang, kalau aku tidak ranking 1, aku bukan anak pintar, aku tidak layak dibandingkan dengan Mas Abi (Saudara laki-laki dan satu-satunya saudaraku) yang selalu juara 1 dari kelas 1 SD sampai sekarang Mas Abi kelas 3 SMP. Karena itu, susah payahlah aku belajar mati-matian setiap hari demi mendapatkan senyum Ibuk dan pelukan bangganya saat aku jadi juara kelas. Beruntung selama 6 tahun sekolah, aku 4 kali juara 1 dan sisanya yah cuma bisa juara 3 dan kali ini cuma bisa masuk 10 besar.
Beberapa hari sebelumnya, saat Kepala Sekolahku mengumumkan bahwa aku menduduki peringkat 9 dari beberapa ratus siswa, rasanya seperti disambar petir. Bu Retno selaku Kepala Sekolahku mengerti ekspresiku saat itu langsung berusaha menenangkan.
“Ngopo nduk? Kok lesu dapat juara 9?”, tanya bu Retno
“Eeemh, endak Bu. Saya ingat pesan Ibuk kalau anak pintar pasti juara 1. Aku lulusnya ndak pintar Bu”, sahutku lemah.
“Mala anak Ibu, pintar itu ukurannya dari bakti kita ke orang tua. Niatmu mau bikin Ibu Bapak bahagia tho? Ya kamu berarti udah pinter berarti cah ayu”.
Pesan Ibu Retno sedikit membuatku lebih tenang dan yakin kalau Ibuk gak akan marah dengan rangking 9 yang aku pegang. Aku bergegas pamit ke Ibu Retno dan pulang.
Sesampainya di rumah, Ibuk sudah duduk di depan teras dan sibuk dengan kain rajutan merah maroon yang akan dijadikan topi pantai untukku berlibur minggu depan sekeluarga. Di sebelah Ibuk, ada Mas Abi sedang asyik dengan buku pelajaran Bahasa Inggrisnya (Mas Abi juga saat itu selesai ujian kelulusan, tapi belum ada pengumuman hasilnya seingatku).
Aku: “Assalamualaikum Buk, Mas”
Ibuk & Mas Abi: “Waalaikumsalam”
Ibuk: “Gimana dik? Sudah ada hasil nilaimu?”
Nyaliku ciut lagi mendengar pertanyaan Ibuk. Fikiranku mulai kemana-mana.
Aku: “Udah Buk, tadi Bu Retno panggil satu-satu”
Ibuk: “Mana sini Ibuk liat hasilnya”
Aku menyodorkan selembar kertas pernyataan hasil belajarku 6 tahun terakhir ini ke Ibuk dengan tangan yang bergetar. Ibuk membaca pernyataan itu dengan teliti, sesekali dahinya mengerenyit tanda beliau tidak puas dengan isi kertas itu.
Ibuk: “Mas, Dik. Makan siang dulu ya. Ibuk bikinkan susu sekalian.”
Tak ada respon, TAK.ADA.RESPON yang di kamus Ibuk berarti dia MARAH. Marah yang sebenar-benarnya marah (FYI, Ibuk dan Bapak itu tipe orang tua militer yang kadang keras banget dan kadang cuma kaku saja. Bercanda di kamus keluargaku cuma terjadi kalau ada tetamu atau saat mood mereka sedang berbahagia). Aku bergegas masuk ke rumah, membersihkan diri dan langsung ke meja makan. Menyiapkan makan untuk Mas Abi dan juga untukku. Ibuk di dapur sedang membuatkan kami susu sebelum jam tidur siang.
Suasana selama di meja makan hening, Mas Abi bukan tipe yang suka mengajakku berbincang atau bergurau. Di rumah kami berdua lebih sering saling diam seolah-olah kami tak kenal dekat. Ibuk menaruh gelas berisi susu hangat di samping piring makan kami berdua, duduk di tengah-tengah tanpa banyak bicara. Beliau sesekali hanya menanyakan perihal Mas Abi yang akhir-akhir ini senang mengoleksi Tamiya.
……
Aku bergegas kembali ke kamar setelah menenggak habis susu yang Ibuk buatkan. Pelan-pelan aku merebahkan diri di kasur kapuk buatan Ibuk dan menerawang ke langit-langit kamar yang belum ditutupi plafon karena dulu memang kami keterbatasan biaya. Kadang untuk sekedar lauk makan, aku harus masuk ke hutan untuk mengumpulkan pakis atau kangkung liar, sesekali juga aku memancing ikan gabus di parit kecil untuk jadi santap makan malam keluarga.
KRIEEEETTT
Pintu kamarku terbuka saat aku memejamkan mata, kulihat Ibuk masuk ke kamar dengan wajah yang aku berharap tidak usah lagi melihatnya. Tampak di tangannya sebilah rotan panjang yang ujungnya sudah mulai lapuk.
“Mala, kamu mau bicara sama Ibuk?”, tanya beliau.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Tubuhku gemetar, jantungku berdegub terlalu cepat hingga sesak rasanya, wajahku memanas. Rasanya ingin sekali aku lari dari ruangan ini dan menghindari apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ibuk: “Nilaimu, kenapa?”
Aku: “Mala sudah maksimal Buk, Ibu Retno bilang itu juara umum 10 besar dari seluruh kelas.”
Ibuk: “Mas Abi, dulu dari kelas 1 SD, dia selalu juara 1 sampai dia SMP. Kamu dan Mas Abi itu sama-sama anak Ibuk. Kenapa kamu gak mencontoh Mas Abi?”
“Maaf Bu, Mala bersalah sama Ibuk”, isakku
0.00001 detik kemudian rotan di tangan Ibuk melesat ke lengan kananku. Perih. Kulirik lenganku, ada guratan luka dan darah mulai keluar dari sela-sela kulit.
Aku tak sempat mengerang saat sabetan rotan itu kembali mencium pipiku. Ya, pipiku. Dan dilanjutkan ke pinggang, paha, betis dan berakhir di jari jemariku. Tak ada sedih tersirat di tatapan Ibu, yang kuharap beliau melakukannya untuk mendidikku lebih keras lagi. Saat tiap pukulan rotan itu melukai tubuhku, yang kulihat hanya amarah terpendam di dalam mata Ibuk. Aku mencoba sekuat tenaga menahan air mata dan teriakan sakit ini agar Ibuk tidak semakin gelap mata padaku, sampai akhirnya aku hilang kesadaran entah setelah pukulan yang keberapa.
[Bersambung ke Part 2]
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 9 suara
Lanjut gak ceritanya?
Lanjut
89%
Jangan, basi banget!
11%
Diubah oleh Qiaraa 31-10-2017 13:54
anasabila memberi reputasi
1
4.9K
23
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Qiaraa
#11
Part 2 (Perbandingan Menyakitkan 2)
Matahari sudah mulai meninggi saat aku terbangun dari tidur panjangku semalam suntuk. Aku melewatkan sholat Ashar, Maghrib, Isya bahkan Subuh dan tak ada yang membangunkanku. Pelan-pelan aku bangun dari tempat tidur dengan sekujur tubuh yang ngilu, perih dan penuh luka. Kulihat Bapak tidur di sebelahku dengan kain perca berwarna merah muda di tangannya. Kulihat di samping tempat tidur ada baskom seng dengan air berwarna bening kecoklatan. ‘Ah, bapak merawat lukaku tadi malam sepertinya’ fikirku.
Aku berjalan menuju meja kaca, kuperhatikan sekujur tubuhku memar membiru sisa pukulan rotan tadi malam, aku gak bisa kemana-mana dulu sementara sampai lukaku membaik. Hari itu, kuhabiskan berdiam diri di kamar tanpa berani keluar makan atau minum. Aku masih tak berani bertemu Ibuk meski sebenarnya Ibuk berkali-kali mengetuk kamarku mengajak makan siang dan makan malam.
Sedikit cerita tentang Ibuk. Terkadang aku sendiri merasa tidak terlalu mengenal beliau. Ibuk adalah sosok pekerja keras, ‘nerimo’ dan gampang khilaf di waktu yang bersamaan. Saat aku masih kelas 2 SD tahun 1998, Bapak gak mampu membelikanku boneka barbie atau rumah-rumahan plastik yang sedang trend saat itu. Aku juga tak pernah minta, tapi mungkin Ibuk paham saat aku cuma bisa memandang anak tetangga main boneka barbie dari teras rumah. Ibuk bela-belain membuatkan aku boneka barbie dari kayu, dipahatnya sendiri, lengkap dengan rumah-rumahan barbie dari triplek dan kain perca.
Tapi disaat yang bersamaan, Ibuk bisa berubah sangat beringas. Saat itu, seusai mengaji di TPA (Taman Pendidikan Agama) setiap pagi sebelum aku berangkat sekolah, guru ngajiku memintaku membersihkan ruang kelas sebelum pulang bersama 2 temanku yang lain. Kuiyakan permintaan Pak Ahmad (Guru TPA), dan langsung membersihkan ruang kelas.
15 menit kemudian, aku bergegas pulang. Masih ada waktu 30 menit fikirku sebelum jam masuk sekolah, masih sempat makan dulu hehe. Sesampainya di rumah, Ibuk sudah berdiri di depan teras dengan tatapan yang paling aku takutkan, tatapan nanar.
“Mala! Dari mana?!!” Hentak Ibuk.
“Bantuin Pak Ahmad beresin kelas buk sebentar, sama Siti sama Nana”, jawabku sambil menunduk.
“Masuk kamar!!!” Bentaknya lagi.
Tanpa banyak tanya, aku langsung lari menuju kamarku. Tak kufikirkan lagi perut lapar, yang penting siap-siap berangkat sekolah sebelum Ibuk ngamuk lagi.
BRAKKKKKKK!!!
Pintu kamarku seperti mau hancur ditendang Ibuk dari luar, matanya memandang ke arahku seakan ingin membunuhku saat itu juga. Tapi Ibuk tak memegang sebatang rotanpun, ‘aman’ fikirku.
Ibuk berjalan ke arahku dan langsung menendang betisku ke arah lemari hingga badanku langsung menghantam lemari kayu itu, terasa sesuatu menancap di betis kiri depanku, tepat di sebelah tulang kering di bawah lutut. Ternyata saat Ibuk menendangku, betisku langsung menabrak gagang lemari yang terbuat dari besi dengan ujung yang cukup untuk merobek daging di betisku hanya dengan sekali tendangan.
Aku meringis sambil menahan teriakanku, takut Ibuk semakin kalap. Dia menatap betisku yang mengucurkan darah segar, dan anehnya Ibuk seakan tidak perduli.
“Siapa yang didik kamu untuk jadi pembohong?” Tanyanya lagi dengan teriakan yang aku yakin Ibu Siddik tetangga sebelah mendengar dengan jelas.
“Maaf Bu, tapi Mala gak bohong”, aku masih mencoba membela diri.
“SIAPA YANG NYURUH KAMU JAWAB???? BELAJAR DIMANA KAMU MEMBANGKANG IBU???”
Aku diam seribu bahasa sambil menahan perih yang buat kepalaku berkunang-kunang. Tak lama Adzan Dzuhur berkumandang, aku berharap ini segera selesai. Aku mau lari ke rumah nenek dan minta diobati sebelum pergi sekolah. Kulirik Ibuk, kulihat matanya berubah panik, panik yang aku hafal sekali. Ibuk seperti tersadar setelah suara Adzan memanggil. Ibuk tergopoh-gopoh memelukku, menangis sejadi-jadinya dan meminta maaf karena telah khilaf memarahiku.
…….
Pagi, Agustus 2003 (Aku lupa tanggal berapa, ehehe)
Aku bersiap ke upacara kelulusanku di Sekolah Dasar. Ibuk bilang dia akan menyusulku setelah ambil hasil nilai Mas Abi di sekolahnya. Ibuk akhir-akhir ini tidak banyak membahas perihal ranking 9 pembawa petaka itu. Mungkin Ibuk sudah memaafkanku dan tidak marah lagi padaku, senyumnya pagi ini merekah, dia berdandan cantik dengan setelan Darma Wanita warna pink miliknya (Bapak seorang PNS saat itu).
Aku berpartisipasi dalam upacara kelulusan dengan mengisi acara sebagai penari daerah bersama 5 temanku lainnya. Kudengar sorak-sorai di dalam gedung aula sekolah dari para orang tua murid yang menyukai penampilan anak-anak mereka, tapi Ibuk tidak tampak diantara kerumunan orang tua, ‘mungkin belum datang’ fikirku.
Pengumuman 10 siswa juara umum ditampilkan beberapa menit lagi, aku sudah bersiap di barisan ke 9 bersama teman-teman lain. Berdandan rapi dengan seragam dan atribut merah putih lengkap. Senyum merekah di wajah teman-temanku, begitupun aku menunggu-nunggu momen ini. Aku ingin melihat wajah Ibuk dan Bapak serta Mas Abi yang bangga aku bisa ada di panggung bersama anak-anak berprestasi lainnya.
“Murid-murid penyabet ranking tertinggi dipersilahkan naik ke panggung satu per satu”, ucap pembawa acara.
Teman-teman satu persatu mulai naik ke atas panggung, sampai giliranku yang hampir terakhir naik. Ibu Retno akan memberikan piagam serta mengalungkan medali yang berukirkan juara yang diperoleh tiap siswa. Aku tidak terlalu perduli, mataku menjelajahi tiap sudut ruangan berusaha mencari Ibuk dan Bapak. ‘Ah disitu mereka’ gumamku saat kulihat mereka berdiri di dekat pintu masuk karena kursi sudah terisi penuh oleh tamu lain.
Tatapan Bapak amat sumringah, begitu pula dengan Mas Abi yang melambaikan kedua tangannya ke arahku. Saat mataku tertuju ke Ibuk, kulihat rautnya tidak seperti biasanya. Sesaat sudut bibirnya menyunggingkan senyum, namun sesaat kemudian garis bibirnya datar seolah tak ada ekspresi sampai aku turun panggung dan acara ditutup dengan doa bersama oleh Pak Ustadz.
Segera setelah selesai, aku berlari menghampiri keluargaku yang menunggu di parkiran motor. Bapak saat itu hanya punya Vespa, jadi kami bonceng 4 dempet-dempetan dengan aku duduk di depan sambil berjongkok. Selama perjalanan, Bapak dan Mas Abi riuh rendah menceritakan betapa bangganya mereka aku bisa masuk 10 besar. Begitupun betapa bangganya aku dan Bapak karena Mas Abi kembali lulus SMP dengan predikat Juara 1 Umum, kudengar dia akan dapat beasiswa SMA dari sebuah perusahaan rokok Indonesia.
…..
Di Rumah, keriuhan Bapak, Mas Abi dan aku masih terus berlanjut sampai akhirnya kami ngobrol banyak di ruang tamu. Aku bersyukur paling tidak hari ini berakhir bahagia, sampai tau-tau kami kaget dengan gebrakan meja. Ibuk menggebrak meja dengan tatapan yang kemarin kulihat saat rotan menari-nari di tubuhku.
“Senang kamu Mala???”, tanya Ibuk tanpa tedeng aling-aling.
“Kenapa Buk? Kok marah?”, Bapak bersuara dengan nada yang masih halus.
“ABI ITU JUARA 1 DAN AKAN DAPAT BEASISWA! KAMU MALA??? APA??? NGAPAIN KETAWA??? MALU!!! KAMU HARUSNYA MALU SAMA MASMU!!!” Pekik Ibuk dengan sekuat tenaga.
Tanpa sadar tangan Ibuk sudah melayang ke arah pipiku. Tamparan keras itu sukses merobek ujung bibir kiriku dan mengeluarkan banyak darah. Seketika pandanganku gelap, aku hanya mendengar suara sayup Mas Abi berteriak memanggilku, dan Bapak yang memarahi Ibuk sampai aku benar-benar hilang kesadaran (lagi).
[Bersambung ke Part 3]
Matahari sudah mulai meninggi saat aku terbangun dari tidur panjangku semalam suntuk. Aku melewatkan sholat Ashar, Maghrib, Isya bahkan Subuh dan tak ada yang membangunkanku. Pelan-pelan aku bangun dari tempat tidur dengan sekujur tubuh yang ngilu, perih dan penuh luka. Kulihat Bapak tidur di sebelahku dengan kain perca berwarna merah muda di tangannya. Kulihat di samping tempat tidur ada baskom seng dengan air berwarna bening kecoklatan. ‘Ah, bapak merawat lukaku tadi malam sepertinya’ fikirku.
Aku berjalan menuju meja kaca, kuperhatikan sekujur tubuhku memar membiru sisa pukulan rotan tadi malam, aku gak bisa kemana-mana dulu sementara sampai lukaku membaik. Hari itu, kuhabiskan berdiam diri di kamar tanpa berani keluar makan atau minum. Aku masih tak berani bertemu Ibuk meski sebenarnya Ibuk berkali-kali mengetuk kamarku mengajak makan siang dan makan malam.
Sedikit cerita tentang Ibuk. Terkadang aku sendiri merasa tidak terlalu mengenal beliau. Ibuk adalah sosok pekerja keras, ‘nerimo’ dan gampang khilaf di waktu yang bersamaan. Saat aku masih kelas 2 SD tahun 1998, Bapak gak mampu membelikanku boneka barbie atau rumah-rumahan plastik yang sedang trend saat itu. Aku juga tak pernah minta, tapi mungkin Ibuk paham saat aku cuma bisa memandang anak tetangga main boneka barbie dari teras rumah. Ibuk bela-belain membuatkan aku boneka barbie dari kayu, dipahatnya sendiri, lengkap dengan rumah-rumahan barbie dari triplek dan kain perca.
Tapi disaat yang bersamaan, Ibuk bisa berubah sangat beringas. Saat itu, seusai mengaji di TPA (Taman Pendidikan Agama) setiap pagi sebelum aku berangkat sekolah, guru ngajiku memintaku membersihkan ruang kelas sebelum pulang bersama 2 temanku yang lain. Kuiyakan permintaan Pak Ahmad (Guru TPA), dan langsung membersihkan ruang kelas.
15 menit kemudian, aku bergegas pulang. Masih ada waktu 30 menit fikirku sebelum jam masuk sekolah, masih sempat makan dulu hehe. Sesampainya di rumah, Ibuk sudah berdiri di depan teras dengan tatapan yang paling aku takutkan, tatapan nanar.
“Mala! Dari mana?!!” Hentak Ibuk.
“Bantuin Pak Ahmad beresin kelas buk sebentar, sama Siti sama Nana”, jawabku sambil menunduk.
“Masuk kamar!!!” Bentaknya lagi.
Tanpa banyak tanya, aku langsung lari menuju kamarku. Tak kufikirkan lagi perut lapar, yang penting siap-siap berangkat sekolah sebelum Ibuk ngamuk lagi.
BRAKKKKKKK!!!
Pintu kamarku seperti mau hancur ditendang Ibuk dari luar, matanya memandang ke arahku seakan ingin membunuhku saat itu juga. Tapi Ibuk tak memegang sebatang rotanpun, ‘aman’ fikirku.
Ibuk berjalan ke arahku dan langsung menendang betisku ke arah lemari hingga badanku langsung menghantam lemari kayu itu, terasa sesuatu menancap di betis kiri depanku, tepat di sebelah tulang kering di bawah lutut. Ternyata saat Ibuk menendangku, betisku langsung menabrak gagang lemari yang terbuat dari besi dengan ujung yang cukup untuk merobek daging di betisku hanya dengan sekali tendangan.
Aku meringis sambil menahan teriakanku, takut Ibuk semakin kalap. Dia menatap betisku yang mengucurkan darah segar, dan anehnya Ibuk seakan tidak perduli.
“Siapa yang didik kamu untuk jadi pembohong?” Tanyanya lagi dengan teriakan yang aku yakin Ibu Siddik tetangga sebelah mendengar dengan jelas.
“Maaf Bu, tapi Mala gak bohong”, aku masih mencoba membela diri.
“SIAPA YANG NYURUH KAMU JAWAB???? BELAJAR DIMANA KAMU MEMBANGKANG IBU???”
Aku diam seribu bahasa sambil menahan perih yang buat kepalaku berkunang-kunang. Tak lama Adzan Dzuhur berkumandang, aku berharap ini segera selesai. Aku mau lari ke rumah nenek dan minta diobati sebelum pergi sekolah. Kulirik Ibuk, kulihat matanya berubah panik, panik yang aku hafal sekali. Ibuk seperti tersadar setelah suara Adzan memanggil. Ibuk tergopoh-gopoh memelukku, menangis sejadi-jadinya dan meminta maaf karena telah khilaf memarahiku.
…….
Pagi, Agustus 2003 (Aku lupa tanggal berapa, ehehe)
Aku bersiap ke upacara kelulusanku di Sekolah Dasar. Ibuk bilang dia akan menyusulku setelah ambil hasil nilai Mas Abi di sekolahnya. Ibuk akhir-akhir ini tidak banyak membahas perihal ranking 9 pembawa petaka itu. Mungkin Ibuk sudah memaafkanku dan tidak marah lagi padaku, senyumnya pagi ini merekah, dia berdandan cantik dengan setelan Darma Wanita warna pink miliknya (Bapak seorang PNS saat itu).
Aku berpartisipasi dalam upacara kelulusan dengan mengisi acara sebagai penari daerah bersama 5 temanku lainnya. Kudengar sorak-sorai di dalam gedung aula sekolah dari para orang tua murid yang menyukai penampilan anak-anak mereka, tapi Ibuk tidak tampak diantara kerumunan orang tua, ‘mungkin belum datang’ fikirku.
Pengumuman 10 siswa juara umum ditampilkan beberapa menit lagi, aku sudah bersiap di barisan ke 9 bersama teman-teman lain. Berdandan rapi dengan seragam dan atribut merah putih lengkap. Senyum merekah di wajah teman-temanku, begitupun aku menunggu-nunggu momen ini. Aku ingin melihat wajah Ibuk dan Bapak serta Mas Abi yang bangga aku bisa ada di panggung bersama anak-anak berprestasi lainnya.
“Murid-murid penyabet ranking tertinggi dipersilahkan naik ke panggung satu per satu”, ucap pembawa acara.
Teman-teman satu persatu mulai naik ke atas panggung, sampai giliranku yang hampir terakhir naik. Ibu Retno akan memberikan piagam serta mengalungkan medali yang berukirkan juara yang diperoleh tiap siswa. Aku tidak terlalu perduli, mataku menjelajahi tiap sudut ruangan berusaha mencari Ibuk dan Bapak. ‘Ah disitu mereka’ gumamku saat kulihat mereka berdiri di dekat pintu masuk karena kursi sudah terisi penuh oleh tamu lain.
Tatapan Bapak amat sumringah, begitu pula dengan Mas Abi yang melambaikan kedua tangannya ke arahku. Saat mataku tertuju ke Ibuk, kulihat rautnya tidak seperti biasanya. Sesaat sudut bibirnya menyunggingkan senyum, namun sesaat kemudian garis bibirnya datar seolah tak ada ekspresi sampai aku turun panggung dan acara ditutup dengan doa bersama oleh Pak Ustadz.
Segera setelah selesai, aku berlari menghampiri keluargaku yang menunggu di parkiran motor. Bapak saat itu hanya punya Vespa, jadi kami bonceng 4 dempet-dempetan dengan aku duduk di depan sambil berjongkok. Selama perjalanan, Bapak dan Mas Abi riuh rendah menceritakan betapa bangganya mereka aku bisa masuk 10 besar. Begitupun betapa bangganya aku dan Bapak karena Mas Abi kembali lulus SMP dengan predikat Juara 1 Umum, kudengar dia akan dapat beasiswa SMA dari sebuah perusahaan rokok Indonesia.
…..
Di Rumah, keriuhan Bapak, Mas Abi dan aku masih terus berlanjut sampai akhirnya kami ngobrol banyak di ruang tamu. Aku bersyukur paling tidak hari ini berakhir bahagia, sampai tau-tau kami kaget dengan gebrakan meja. Ibuk menggebrak meja dengan tatapan yang kemarin kulihat saat rotan menari-nari di tubuhku.
“Senang kamu Mala???”, tanya Ibuk tanpa tedeng aling-aling.
“Kenapa Buk? Kok marah?”, Bapak bersuara dengan nada yang masih halus.
“ABI ITU JUARA 1 DAN AKAN DAPAT BEASISWA! KAMU MALA??? APA??? NGAPAIN KETAWA??? MALU!!! KAMU HARUSNYA MALU SAMA MASMU!!!” Pekik Ibuk dengan sekuat tenaga.
Tanpa sadar tangan Ibuk sudah melayang ke arah pipiku. Tamparan keras itu sukses merobek ujung bibir kiriku dan mengeluarkan banyak darah. Seketika pandanganku gelap, aku hanya mendengar suara sayup Mas Abi berteriak memanggilku, dan Bapak yang memarahi Ibuk sampai aku benar-benar hilang kesadaran (lagi).
[Bersambung ke Part 3]
Diubah oleh Qiaraa 18-10-2017 16:32
0