Kali ini kisah akan diambil dari sudut pandang saya, Ayano. Mengenai kisah pada waktu Elisa menceritakan mengenai suasana kantornya yang ternyata banyak 'mereka'nya.
Ini bukan bagian dari kisah utama, hanya Sidestory dari sudut pandang saya saja. Jadi mungkin lebih ke informatif dan sebagai penyambung antara part sebelumnya dengan part setelah ini.
"Elisa..."
"Hoooiii... Elisa...."
Aku memanggil-manggil Elisa sedari tadi tanpa hasil. Gadis yang sedang duduk di sampingku ini tampak sedang tenggelam pada lamunannya. Dari ekspresi wajahnya, nampak sekali kalau gadis ini sedang berpikir keras.
Hmm... apakah pekerjaannya di kantor baru ini sebegitu beratnya?
Tapi ini kan baru hari kedua? apa tidak terlalu cepat untuk pegawai baru mendapatkan pekerjaan yang berat?
Dan...
Ada sesuatu yang menggangguku ketika melihat ekspresi dari dua temannya yang bersamanya tadi, mengantarnya ke tempat parkir dimana aku menunggu Elisa.
Salah satu temannya yang rambutnya dikuncir kuda... ehm... siapa namanya tadi....?
Selly?
Bukan.. Sherly.. sepertinya benar, Sherly.
Gadis itu menunjukkan ekspresi wajah was-was dan terlihat gugup, sembari sesekali menengok ke arah gedung kantor.
Sedangkan gadis satunya lagi yang mengenakan kacamata dan berambut panjang di gerai dengan bando tersemat di kepalanya... Yuli? yahh, gadis yang kalau tidak salah namanya Yuli itu, terlihat seperti sedang menenangkan dan menghibur Elisa ketika mereka baru saja masuk ke area lapangan parkir dan sebelum Elisa menyadari kehadiranku.
Menghibur... untuk apa?
Terasa aneh bagiku..
Apa mungkin Elisa melakukan kesalahan?
Atau apakah atasan Elisa terlalu keras padanya?
Apakah Elisa sedang terkena bully atau semacamnya?
Ini benar-benar membuatku curiga...
Ada apa sebenarnya yang terjadi di sini?
Dan lagi, seperti mengiyakan kecurigaanku, sekarang Elisa benar-benar berkonsentrasi penuh pada sesuatu entah apalah itu, dan mengacuhkan panggilanku yang keberapa kalinya....
Membuatku ingin menggodanya.. kau tau?
Hehehe...
Dan kebetulan saja sedang lampu merah.
Aku mendekatinya dan hendak meniup telinganya, ketika tiba-tiba Elisa berbalik.
"Ko! ahh!?"
Akibatnya, aku malah tidak sengaja mencium pipi Elisa.
Tidak-tidak, aku benar-benar tidak bermaksud begitu.
Saat ini aku sedang berusaha memberikan jarak sepantasnya pada Elisa
(Note : karena pada waktu itu, aku BARU saja ditolak oleh Elisa (T^T) )
Elisa menatapku dengan terkejut setelah 'kecelakaan' kecil tadi.
"Ko!?" tanyanya bingung.
Aku menggeleng "Suwer, nggak sengaja... beneran deh. Tadi koko mau tiup kuping kamu soalnya kamu lagi bengong seru bener. Eh.. kamunya malah puter muka" kataku berusaha menjelaskan.
"Ohh.... tapi bukan itu, ko... aku pengen ngomong sesuatu?"
"Hmm?" gumamku bingung "Tentang apa?"
"Kantor aku sekarang sih...." jawab Elisa ragu-ragu.
Aku berpikir sejenak, lalu berkata "Ya udah, kita mampir aja sekalian makan"
Elisa mengerucutkan bibirnya tanda dia sedang menimbang usulanku sebelum akhirnya mengiyakan ajakanku itu.
Nah... pada saat itulah aku mengetahui, kalau apapun yang sedang menjadi beban pikiran Elisa saat ini sepertinya cukup berat. Karena tidak biasanya Elisa mempertimbangkan ajakanku untuk makan
----
Setelah duduk di sebuah restoran fast food dan memesan makanan.
Aku meminta Elisa makan dulu sebelum memulai ceritanya. Untunglah nafsu makannya belum hilang.
"Jadi.. ada masalah apa? apa pekerjaan di kantor berat?" tanyaku pada Elisa sambil meraih kentang goreng di meja.
Elisa menatapku dengan tatapan 'kasihtau-nggak-yaaa?' tapi versi seriusnya.
Akhirnya sepertinya dia menyerah dan memulai ceritanya.
"Bukan ko... ini masalah... 'mereka'...."
Kata kunci itu membuatku menjadi waspada.
'Mereka'....
"Maksudnya gimana?" tanyaku.
Elisa berdeham dan meminum minumannya, kemudian mulai bercerita mengenai mahluk-mahluk yang berada di kantornya.
Sesuatu yang disebut-sebut sebagai si Putih, si Hitam dan si Ungu....
Aku mendengarkan dengan saksama cerita dari Elisa sebelum mengatakan pendapatku.
"Gimana menurut koko?" tanya Elisa akhirnya.
"Pertama-tama, kamu yakin nggak mau pindah aja?" tanyaku.
Elisa menggeleng dengan tegas dan menatapku lurus-lurus.
Aku sudah cukup mengenal gadis ini untuk mengetahui kalau dia tidak akan mundur sejengkalpun dari keputusannya kalau sudah begini.
Aku menghembuskan nafas dramatis dengan sengaja. Namun seperti yang telah kuduga sebelumnya, Elisa tidak bergeming.
Baiklah kalau begini... apa boleh buat...
"Kalau begitu, kita bahas satu per satu...." kataku menyerah, dan wajah Elisa sedikit menjadi cerah mendengarnya "Koko punya ide?"
"Koko bukan dukun" kataku "Tapi, kalau dari cerita kamu, si Putih dan si Hitam nggak berbahaya? cuma si Ungu?"
"Iya.. tapi kata Sherly, si Putih sama si Hitam agak aneh dari biasanya..."
"Yang kata kamu tadi? beda jam kemunculannya, sama beda tempat kemunculannya?"
Elisa mengangguk.
"Hmm... kalau begitu, kemungkinan mereka terikat di kantor itu. Dan seperti biasanya deh... mereka muncul karena tertarik sama kamu..." kataku menyimpulkan.
"Lalu gimana, ko? apa koko punya cara supaya aku nggak diganggu?"
Aku berpikir sejenak "Yang jadi pikiran koko itu, si Ungu...."
"Kenapa?"
"Kata Sherly, dia paling bahaya kan? maksudnya paling bahaya itu kenapa? apa Sherly pernah kena korbannya mahluk itu? atau hanya pendapatnya karena dia takut.. atau kenapa...."
"Memang kenapa kalau misalkan Sherly pernah jadi korban sama kalau dia takut?"
"Kalau Sherly pernah jadi korban, berarti kita bisa tau apa mahluk ini bisa ngelukain orang langsung? kalau misalkan bisa.... berarti gawat...."
Aku melihat ekspresi wajah Elisa memucat mendengarku.
"Sayangnya mbak M****** (mbak Dress putih) sudah nggak ada. Seenggaknya dia jagain kamu, meskipun ada bayarannya...." kataku.
"Seberbahaya itu?" tanya Elisa.
"Mahluk yang bisa bikin kamu terluka beneran, berarti kuat.... sangat kuat kalau dia bisa lukain dengan kemampuannya sendiri, bukan minjem tenaga manusia..."
"Kayak 'mata'....?"
"Ya... kayak gitu..."
Elisa memeluk tubuhnya wajahnya semakin pucat.
"Elisa.. apa nggak sebaiknya kamu pindah aja? seenggaknya ke tempat yang koko bisa lindungin kamu? di sana koko nggak bisa lindungin kamu... koko nggak kenal siapa-siapa di sana..." bujukku.
Elisa memandangku dengan gelisah "Bahaya banget ya, ko?"
Aku mengangguk.
Apa boleh buat.... aku harus membujuknya agar Elisa mau berubah pikiran....
Aku memiliki firasat buruk atas kantor itu...
Dan aku tidak suka itu, karena firasat burukku sebagian besar terjadi...
Karena itu aku akan membujuk Elisa, meskipun itu berarti aku terpaksa membuat gadis ini takut... setidaknya aku akan menyadarkannya mengenai bahayanya kantor itu baginya.
"Elisa, dengar... ada satu lagi yang koko khawatir dari cerita kamu itu..."
Elisa menatapku.
"Mengenai ciri-ciri kedatangan dari si Ungu... kalau nggak salah 'pas sendirian' dan 'tercium bau kebakar'... bener?"
"Bau arang kebakar" kata Elisa melengkapi.
"Ya itu...."
"Kenapa dengan itu, ko?"
"Kamu lupa, Lis? itu kan ciri-ciri kalau yang muncul itu 'setan' kataku"
"Setan....... ah!! Sherly bilang juga begitu.. pas aku tanya seseram apa si Ungu itu? dia cuma bilang kayak setan. Terus dia nggak mau lanjutin lagi"
Sial... sepertinya dugaanku ini benar....
"Elisa... kalau begitu koko mohon kamu pindah dari kantor itu...."
"Ini... karena si Ungu?"
Aku mengangguk.
"Memangnya koko tau apa si Ungu itu?"
"Nggak pasti, tapi kemungkinan besar... diliat dari ciri-cirinya...."
"Apa itu? memangnya siapa si Ungu ini?"
......
"Iblis..." jawabku.