- Beranda
- Stories from the Heart
(HORROR) Kisah Untuk Malam Seratus Lilin - (Diary Gadis Bermata Indigo return)
...
TS
ayanorei
(HORROR) Kisah Untuk Malam Seratus Lilin - (Diary Gadis Bermata Indigo return)
Hallo All,
We come back!!

thanks all for HT
Setelah sekian lama vakum di Kaskus dan hanya menulis di tempat lain. Akhirnya kami memutuskan kembali. Yap, Ayano dan Elisa kembali akan membagikan kisah kami di Kaskus.
Tadinya, kami tidak berpikir untuk kembali ke Kaskus, tapi ternyata banyak Inbox ke ID ini maupun ke ID Ayanokouji (yang sayangnya sedang bermasalah untuk Login) supaya kami mau kembali melanjutkan cerita di Kaskus ini. Jadi, here we are, we came back.
Post #1 ini akan khusus untuk INDEX. Cerita akan dimulai di Post selanjutnya.
Yang mau baca season 1 nya ada di sini
INDEX
Kisah Pertama - Hantu Pembawa Janin
Kisah Kedua - Mereka Mengawasiku?
Kisah Ketiga - Lily (Bagian Pertama)
Kisah keempat - Lily (bagian kedua)
Kisah Kelima - Penguntit (bagian pertama)
Kisah Keenam - Penguntit (Bagian Kedua)
Kisah Ketujuh - Possession (part 1)
Kisah Kedelapan - Possession (part 2)
Kisah Kesembilan - Mahluk di langit-langit
Kisah Kesepuluh - Susahnya kalau yang ngefans 'mereka'
Kisah Kesebelas - Hantu di gedung tua
Kisah Keduabelas - Ternyata
Kisah Ketigabelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (Bag pertama)
Kisah Keempatbelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (bag kedua)
Kisah Kelimabelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (1)
Kisah Keenambelas - Kisah hantu di sekolah - Sri (2)
Kisah Ketujuhbelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (3)
Kisah Kedelapanbelas - Kisah hantu di sekolah - Belum berakhir
Kisah Kesembilanbelas - Kisah hantu di sekolah - Cerita dari Bi Sumi (1)
Kisah Keduapuluh - Kisah Hantu Disekolah - Cerita dari Bi Sumi (2)
Kisah Keduapuluhsatu - Kisah hantu disekolah - Gangguan Dimulai Lagi
Kisah Keduapuluhdua - Kisah Hantu Disekolah - Terkuak
Kisah KeduapuluhTiga - Kisah Hantu Di Kantor - Prologue
Kisah KeduapuluhEmpat - Kisah Hantu Di Kantor - Putih, Hitam dan Ungu
Kisah KeduapuluhLima - Kisah Hantu di Kantor - Sidestory
Kisah Keduapuluhenam - Kisah hantu di Kantor - Resign
Kisah Keduapuluhtujuh - Kisah Hantu di Kantor - Kembali Bekerja (1)

We come back!!

thanks all for HT
Setelah sekian lama vakum di Kaskus dan hanya menulis di tempat lain. Akhirnya kami memutuskan kembali. Yap, Ayano dan Elisa kembali akan membagikan kisah kami di Kaskus.
Tadinya, kami tidak berpikir untuk kembali ke Kaskus, tapi ternyata banyak Inbox ke ID ini maupun ke ID Ayanokouji (yang sayangnya sedang bermasalah untuk Login) supaya kami mau kembali melanjutkan cerita di Kaskus ini. Jadi, here we are, we came back.
Post #1 ini akan khusus untuk INDEX. Cerita akan dimulai di Post selanjutnya.
Yang mau baca season 1 nya ada di sini
Quote:
INDEX
Kisah Pertama - Hantu Pembawa Janin
Kisah Kedua - Mereka Mengawasiku?
Kisah Ketiga - Lily (Bagian Pertama)
Kisah keempat - Lily (bagian kedua)
Kisah Kelima - Penguntit (bagian pertama)
Kisah Keenam - Penguntit (Bagian Kedua)
Kisah Ketujuh - Possession (part 1)
Kisah Kedelapan - Possession (part 2)
Kisah Kesembilan - Mahluk di langit-langit
Kisah Kesepuluh - Susahnya kalau yang ngefans 'mereka'
Kisah Kesebelas - Hantu di gedung tua
Kisah Keduabelas - Ternyata
Kisah Ketigabelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (Bag pertama)
Kisah Keempatbelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (bag kedua)
Kisah Kelimabelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (1)
Kisah Keenambelas - Kisah hantu di sekolah - Sri (2)
Kisah Ketujuhbelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (3)
Kisah Kedelapanbelas - Kisah hantu di sekolah - Belum berakhir
Kisah Kesembilanbelas - Kisah hantu di sekolah - Cerita dari Bi Sumi (1)
Kisah Keduapuluh - Kisah Hantu Disekolah - Cerita dari Bi Sumi (2)
Kisah Keduapuluhsatu - Kisah hantu disekolah - Gangguan Dimulai Lagi
Kisah Keduapuluhdua - Kisah Hantu Disekolah - Terkuak
Kisah KeduapuluhTiga - Kisah Hantu Di Kantor - Prologue
Kisah KeduapuluhEmpat - Kisah Hantu Di Kantor - Putih, Hitam dan Ungu
Kisah KeduapuluhLima - Kisah Hantu di Kantor - Sidestory
Kisah Keduapuluhenam - Kisah hantu di Kantor - Resign
Kisah Keduapuluhtujuh - Kisah Hantu di Kantor - Kembali Bekerja (1)

Diubah oleh ayanorei 20-10-2017 13:04
scorpiolama dan 15 lainnya memberi reputasi
16
119.7K
Kutip
380
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanorei
#315
Kisah keduapuluh Empat - Kisah Hantu di Kantor - si Putih, Hitam dan Ungu
Setelah gangguan tidak menyenangkan dari hari pertamaku di kantor ini, akupun bertekad untuk mencari tau lebih banyak lagi mengenai 'mahluk-mahluk' yang ada di kantor ini.
Dan menurutku, dari antara semua teman satu divisiku, aku akan bertanya pada Yuli. Karena sepertinya dialah yang paling 'update' dari info-info seperti ini. Tadinya aku hendak bertanya pada Sherly, gadis yang katanya memiliki kemampuan lebih. Tapi aku mengurungkan niat itu karena aku bahkan belum mengenal dia dan dia berbeda divisi denganku.
Oh ya, ngomong-ngomong.. pada titik ini aku masih belum menceritakan apapun pada Ayano mengenai keadaan di kantor baruku ini.
===
Namun, seperti biasanya...
Apa yang terjadi pastinya tidak semulus yang kurencanakan.
Yuli tidak masuk.
Dan alasan tidak masuknya cukup mengerikan...
Menurut gosip dari Enno (yang memang disebut radio gosip berjalan oleh Ci Yuni), Yuli tidak masuk karena terjatuh dari motor. Penyebab jatuhnya adalah karena dia melihat Kuntilanak ketika baru keluar dari tikungan kantor dan karena terkejut, motor Yuli jadi oleng dan dia terjatuh. Beruntung kantor ini terletak di dalam jejeran ruko, jadi tidak banyak mobil yang lewat jadi hanya keseleo dan luka-luka yang dialami oleh Yuli.
Yang membuatku tertarik adalah, si Kuntilanak itu disebut-sebut dengan sebutan si'putih' oleh teman-temanku ini.
Karena penasaran, akhirnya aku memilih bertanya pada Qina, gadis pendiam yang sepertinya merupakan pilihan yang jauh lebih baik daripada bertanya pada Enno. Karena aku takut Enno akan membuatnya seakan-akan menjadi berita besar kalau aku bertanya apapun padanya.
Jadi aku bertanya pada Qina.
Tapi, alih-alih menjawabku, gadis itu malah mengatakan kalau dia akan mengenalkanku pada Sherly karena dia paling anti yang namanya hantu dan sejenisnya. Meskipun menurut pengakuannya, dia adalah satu-satunya yang belum pernah melihat 'mereka' di divisi ini dan berharap sepenuh hati akan demikian untuk seterusnya.
===
Dan aku diperkenalkan dengan gadis bernama Sherly itu.
Kesan pertamaku dengannya bisa dikatakan tidak terlalu bagus...
"Kamu penasaran sama mahluk-mahluk di kantor ini?" kata Sherly dengan nada ketus.
Aku menggangguk.
"Kamu pasti nganggep aku dukun atau semacamnya kan?" tanya Sherly lagi dengan ketus "Aku nggak mau ngomong kalau begitu" putusnya sambil menarik lengan Qina dan bermaksud untuk pergi dari tempat itu.
"A.. aku.. juga bisa ngeliat 'mereka' " kataku.
Sherly mendelik ke arahku "Semua juga banyak yang udah liat di sini" jawabnya.
Aku menggeleng "Bukan... maksudku aku bisa liat bukan cuma yang di kantor ini.. aku juga bisa liat itu.." tunjukku ke suatu titik di kantong celana Sherly.
Sherly terbelalak melihat aku menunjuk tempat itu, kemudian dia memasukkan tangannya ke kantong celana yang kutunjuk dan mengeluarkan sesuatu seperti kristal kecil berwarna biru langit yang diikat pada rantai perak.
"Kamu tau aku bawa ini dari mana?"
"Aku cuma ngeliat semacam aura dari benda itu.."
"Apa itu, Sher?" tanya Qina.
"Ini jimat pelindung aku... dari guru agama aku dulu" jelas Sherly masih dengan ekspresi tidak percaya "Aku nggak nyangka sama sekali ternyata bisa ketemu orang yang sama kayak aku" katanya kepadaku.
"Nggak... kayaknya malah kamu lebih kuat?" tanya Sherly.
Aku menggeleng "Nggak... aku cuma bisa ngeliat doang"
"Kamu nggak punya pengaman atau pegangan?" tanya Sherly lagi.
Aku menggeleng.
"Lalu... kenapa kamu mau tau soal mahluk yang ada di kantor ini kalau gitu? kamu gak bisa ngusir mereka kan?"
"Justru aku mau tau cara menghindar dari mereka kalau bisa"
"Ohh..."
Sherly kemudian kembali duduk di hadapanku.
"Oke... aku akan kasihtau kamu. Mungkin supaya kamu mempertimbangkan lagi apakah kamu akan lanjut atau nggak di kantor ini"
Hah?
Sherly mengangguk "Iya, serius. Aku kan punya ini" katanya sambil menunjukkan jimat kristalnya itu "Tapi kamu nggak punya apa-apa lho... aku rasa kamu tau dong, apa yang sering kejadian sama orang-orang kayak kita?"
Aku mengangguk.
Tentu saja aku tau....
"Jadi target..." bisikku.
"Yup... dan bukan maksud bikin kamu takut. Tapi kemarin aku sempat heran, kenapa beberapa dari mahluk yang ada di sini tuh agak 'berbeda' dari biasanya"
"Berbeda?"
"Mereka nggak di tempat biasa mereka nongkrong... terakhir kayak gitu tuh pas aku baru masuk kantor ini dulu..."
Aku terbelalak "Jadi.. maksudnya..... karena aku?"
Sherly mengangkat bahunya "Nggak tau deh, mungkin aja tapi. Soalnya pas kamu masuk kan kemarin?"
"Iya juga..." jawabku lemas.
"Ya udah, aku kasih tau aja mahluk yang ada di sini.. sebenarnya mahluk di sini ada beberapa. Tapi yang harus diwaspadai cuma tiga"
'Gluk!' tanpa sadar aku menelan ludah.
"Di sini, kita menyebut mahluk-mahluk itu pake warna. Yang aku bilang harus waspada itu ke si Putih, si Hitam dan si Ungu"
Aku mengangguk pelan, mendengarkan cerita dari Sherly dengan serius.
"Si Putih itu kuntilanak yang sering mondar-mandir di lorong lantai 1. Deket sama ruangan aku. Tapi entah kenapa, kemarin si Putih itu muncul di toilet, terus aku ngeliat dia duduk di resepsionis, dan terakhir katanya malah sampe keluar di samping kantor, bikin mbak Yuli kecelakaan"
"Kemudian ada yang namanya si Hitam... kalau yang ini, biasanya nongolnya suka ngagetin. Bisa dimana aja. Bentuknya juga aneh-aneh dan seram. Tapi semuanya ada kesamaan. Apapun bentuknya, warnanya pasti hitam. Nggak membahayakan secara langsung sih... tapi lumayan bahaya juga kalau ngagetin terus bikin jatoh"
"Lalu yang terakhir... si ungu... ini... berharap aja kamu nggak pernah ketemu sama dia deh.... " kata Sherly dengan wajah pucat.
"Kenapa?" tanyaku.
"Ini... pokoknya yang paling bahaya deh... dan paling seram dari yang lain. Si Putih dan si Hitam aja sepertinya takut sama si Ungu ini. Pokoknya kalau kamu udah cium bau-bau arang kebakar gitu, sebaiknya kamu buru-buru kabur deh. Atau cari orang jadi kamu nggak sendirian. Soalnya si Ungu ini nggak pernah muncul ke orang-orang yang berdua. Pokoknya asal jangan sendirian"
Aku begidik mendengar soal si Ungu ini "Seserem itu ya? kayak apa sih bentuknya?"
"Setan... cuma itu aja yang bisa gambarin si Ungu..." kata Sherly, aku menangkap sepertinya gadis ini enggan membahas lebih jauh mengenai si Ungu ini...
Setan...?
Apa.....
Apa sebaiknya aku cerita sama Ayano ya?
Tapi... kalau aku cerita dan dia langsung panik... bisa-bisa aku disuruh langsung berhenti...
Ah... nanti aja deh
Semoga aja nggak sampai terjadi yang nggak-nggak...
"Aku baru denger soal itu lho... kita biasanya cuman ngomong si Putih dan si Hitam doang." komentar Qina.
Sherly menggeleng "Iya.... karena yang pernah liat si Ungu itu cuma aku sama Helen..."
Entah mengapa, Qina sangat terkejut mendengar nama Helen itu, dan memeluk lengan Sherly erat-erat.
"Tenang.. aku nggak bakal sama kayak Helen kok.." kata Sherly.
"Umm... ada apa sama Helen?" tanyaku bingung.
Qina mendadak pucat ketika aku menanyakan hal itu. Sherly menarik nafas dalam sebelum mulai berbicara "Helen itu.. meninggal.."
"Haaah?!"
"DIa.. sebelum meninggal pernah bikin rame kantor. Katanya dia ngeliat jin yang serem banget...
Terus... dia jadi beberapa hari nggak bisa tidur katanya..
Sampe akhirnya dia kecapean pas bawa motor pulang, jadi motornya oleng terus dia jatoh dari flyover ke sungai..."
Aku menutup mulutku saking terkejutnya.
"Apa.. maksudnya itu...?"
Sherly mengangguk dengan susah payah "Kayaknya iya... soalnya Helen udah beberapa kali diganggu sama si Putih dan si Hitam tapi tu anak biasa-biasa aja dan nggak kapok-kapok lembur.."
"Jadi.....?"
"Yah... kayaknya begitu deh... cuma si Ungu yang bikin aku trauma sampe sekarang.."
Sejenak aku benar-benar ingin langsung berhenti saat itu juga dari perusahaan ini. Tapi, mengingat hal itu akan membuat Ayano jadi khawatir hal yang tidak perlu membuatku urung untuk melakukannya.
Lagipula toh aku hanya perlu terus bersama seseorang kan? Menurut Sherly, si Ungu itu nggak pernah mengganggu orang yang tidak sendirian....
Meskipun begitu... aku tetap tidak merasa tenang...
Sepertinya akan ada sesuatu yang akan terjadi.
Dan aku tidak akan menyukai hal itu...
===
Seperti biasanya dan sangat mudah ditebak, yaitu setiap kali aku punya firasat buruk, kemungkinan besar akan terjadi.
Kali inipun juga begitu.
Pekerjaan untuk hari ini sudah selesai.
Hari ini aku pulang sedikit telat, karena kebetulan aku masuk pada tanggal 15, yang berarti adalah waktu closing laporan bagi divisiku.
Untungnya tidak ada budaya kerja lembur sampai pagi di kantorku ini. Apalagi ibu Imelda, kepala Divisiku adalah orang yang sangat teratur dan sangat terarah dalam menentukan target kerja.
Jadi, sebenarnya tidak ada pekerjaan ekstra yang harus kami lakukan dalam rangka closing bulanan ini. Hanya saja, memang butuh waktu sangat lama bagi komputer yang digunakan untuk proses closing. Biasanya akan memakan waktu sampai beberapa jam lamanya, karena harus langsung mengkonsolidasikan laporan dari semua divisi di kantor ini.
Belum lagi kalau tiba-tiba ada data yang tidak bisa masuk atau error. Terpaksalah butuh tambahan satu atau dua jam supaya divisi IT bisa membetulkannya terlebih dulu.
Untunglah tidak terjadi hal-hal semacam itu hari ini.
Tadi, kurang lebih jam setengah enam. Proses Closing diumumkan melalui intercom oleh Divisi Data Management, sudah selesai dilakukan. Sehingga kami semua sudah bisa pulang.
Setelah berberes-beres dan saling menunggu, akhirnya kami wanita-wanita dari Divisi keuangan project manufaktur produk A (maaf, aku memakai samaran karena tidak ingin menimbulkan nama jelek pada kantor itu), bersama-sama pulang.
Ketika lift kami akhirnya tiba di lantai dasar, aku menyadari bau busuk yang datangnya dari dalam lift. Pintu lift belum terbuka, karena itu aku mencari-cari asal bau itu.
Bau busuk seperti bau amis yang sangat anyir...
'Ting'
Pintu lift akhirnya terbuka.
Satu per satu kami keluar dari lift.
Sampai akhirnya terdengar teriakan nyaring dari Enno.
"AAHH!!!"
Kemudian wanita itu langsung menyeruak keluar dari lift dan lari.
Kami semua kebingungan dan beberapa dari kami ikut lari mengejar Enno.
Akupun segera mengikuti yang lain keluar dari lift itu.
Dan, pada saat aku hampir keluar dari lift itulah, aku melihat bayangan yang terpantul di samping pintu lift.
Tepat di belakangku saat ini, berdiri sesosok mahluk yang sangat jangkung, Tingginya mencapai langit-langit lift, rambutnya yang panjang menjuntai kebawah, hampir sama panjangnya dengan tungkai-tungkainya yang tidak normal panjangnya.
Dan satu lagi yang kusadari, mahluk itu berwarna hitam... sehitam arang kayu yang sudah terbakar.
Aku segera mendesak keluar dari lift, seraya menarik tangan Yuli yang berada di sebelahku.
Karena aku melihat dari pantulan itu kalau mahluk itu sedang mengangkat tangannya, hendak menggapai kami...
"He..Hei.... Elisa? ada apa sih?" tanya Yuli kebingungan ketika aku menariknya keluar dari lift itu.
"Ntar aku jelasin..." bisikku sambil melirik ke arah lift itu.
Lift sudah tertutup kembali, namun tangan yang sangat panjang dari mahluk itu menggapai-gapai ke udara kosong.
Mahluk itu terjepit?
Bersyukur atas hal yang tidak terduga itu, aku bergegas bersama dengan Yuli yang masih kugenggam tangannya keluar dari kantor itu.
Ketika kami mencapai lobby, aku melihat Sherly sedang berdiri layaknya menunggu kami.
Aku dan Yuli bergegas menuju ke arahnya...
"Hei... aku tadi denger katanya Enno ngeliat setan di lift?" tanya Sherly langsung.
Aku mengangguk. Aku merasakan genggaman tangan Yuli sedikit menegang.
"Apa yang kamu liat tadi?" tanya Sherly lagi.
Akupun menceritakan wujud hitam yang tadi kulihat pada Sherly. Yuli sangat terkejut dan takut ketika mendengarnya.
"Nggak aku sangka secepet ini ya.." gumam Sherly setelah mendengar penjelasanku "Dan agak aneh...".
"Aneh?"
"Biasanya, si hitam ini nggak pernah langsung keliatan di satu ruangan kayak gitu..." kata Sherly memulai penjelasannya.
"Biasanya, si hitam bakal keliatan di seberang jendela, atau kadang dia berdiri di luar bilik toilet jadi cuma keliatan kakinya aja, atau kadang dia ngeliatin kita dari dalam kantor pas kita ada di luar...." jelas Sherly.
"Makanya... aneh banget dia bisa ada di satu lift sama kalian..." katanya lagi seraya melirikku dengan ragu.
"Karena aku?"
Sherly menghembuskan nafas "Sorry... tapi kayaknya iya...."
"Ohh....."
"Elisa... kamu mendingan mikir-mikir ulang deh..... apa nggak bahaya di sini buat kamu?"
"Aku..... ya.. mungkin... aku akan coba mikir-mikir lagi deh.." kataku bingung.
Sherly hanya mengangguk kecil, dan kemudian mengajak kami pulang.
Di parkiran Ayano sudah menungguku.
"Ada apa, Lis?" tanyanya.
Seperti biasa, bagi Ayano sepertinya wajahku ini bagaikan ada tulisannya. Mudah sekali terbaca...
"Umm... sambil pulang aja kita ngomongnya..."
Yah.... aku memang harus menceritakan ini pada Ayano deh...
Dan kalau bisa.. mendapatkan solusi tanpa harus pindah dari kantor ini....
Spoiler for KHdK - (2) - Putih, Hitam dan Ungu:
Setelah gangguan tidak menyenangkan dari hari pertamaku di kantor ini, akupun bertekad untuk mencari tau lebih banyak lagi mengenai 'mahluk-mahluk' yang ada di kantor ini.
Dan menurutku, dari antara semua teman satu divisiku, aku akan bertanya pada Yuli. Karena sepertinya dialah yang paling 'update' dari info-info seperti ini. Tadinya aku hendak bertanya pada Sherly, gadis yang katanya memiliki kemampuan lebih. Tapi aku mengurungkan niat itu karena aku bahkan belum mengenal dia dan dia berbeda divisi denganku.
Oh ya, ngomong-ngomong.. pada titik ini aku masih belum menceritakan apapun pada Ayano mengenai keadaan di kantor baruku ini.
===
Namun, seperti biasanya...
Apa yang terjadi pastinya tidak semulus yang kurencanakan.
Yuli tidak masuk.
Dan alasan tidak masuknya cukup mengerikan...
Menurut gosip dari Enno (yang memang disebut radio gosip berjalan oleh Ci Yuni), Yuli tidak masuk karena terjatuh dari motor. Penyebab jatuhnya adalah karena dia melihat Kuntilanak ketika baru keluar dari tikungan kantor dan karena terkejut, motor Yuli jadi oleng dan dia terjatuh. Beruntung kantor ini terletak di dalam jejeran ruko, jadi tidak banyak mobil yang lewat jadi hanya keseleo dan luka-luka yang dialami oleh Yuli.
Yang membuatku tertarik adalah, si Kuntilanak itu disebut-sebut dengan sebutan si'putih' oleh teman-temanku ini.
Karena penasaran, akhirnya aku memilih bertanya pada Qina, gadis pendiam yang sepertinya merupakan pilihan yang jauh lebih baik daripada bertanya pada Enno. Karena aku takut Enno akan membuatnya seakan-akan menjadi berita besar kalau aku bertanya apapun padanya.
Jadi aku bertanya pada Qina.
Tapi, alih-alih menjawabku, gadis itu malah mengatakan kalau dia akan mengenalkanku pada Sherly karena dia paling anti yang namanya hantu dan sejenisnya. Meskipun menurut pengakuannya, dia adalah satu-satunya yang belum pernah melihat 'mereka' di divisi ini dan berharap sepenuh hati akan demikian untuk seterusnya.
===
Dan aku diperkenalkan dengan gadis bernama Sherly itu.
Kesan pertamaku dengannya bisa dikatakan tidak terlalu bagus...
"Kamu penasaran sama mahluk-mahluk di kantor ini?" kata Sherly dengan nada ketus.
Aku menggangguk.
"Kamu pasti nganggep aku dukun atau semacamnya kan?" tanya Sherly lagi dengan ketus "Aku nggak mau ngomong kalau begitu" putusnya sambil menarik lengan Qina dan bermaksud untuk pergi dari tempat itu.
"A.. aku.. juga bisa ngeliat 'mereka' " kataku.
Sherly mendelik ke arahku "Semua juga banyak yang udah liat di sini" jawabnya.
Aku menggeleng "Bukan... maksudku aku bisa liat bukan cuma yang di kantor ini.. aku juga bisa liat itu.." tunjukku ke suatu titik di kantong celana Sherly.
Sherly terbelalak melihat aku menunjuk tempat itu, kemudian dia memasukkan tangannya ke kantong celana yang kutunjuk dan mengeluarkan sesuatu seperti kristal kecil berwarna biru langit yang diikat pada rantai perak.
"Kamu tau aku bawa ini dari mana?"
"Aku cuma ngeliat semacam aura dari benda itu.."
"Apa itu, Sher?" tanya Qina.
"Ini jimat pelindung aku... dari guru agama aku dulu" jelas Sherly masih dengan ekspresi tidak percaya "Aku nggak nyangka sama sekali ternyata bisa ketemu orang yang sama kayak aku" katanya kepadaku.
"Nggak... kayaknya malah kamu lebih kuat?" tanya Sherly.
Aku menggeleng "Nggak... aku cuma bisa ngeliat doang"
"Kamu nggak punya pengaman atau pegangan?" tanya Sherly lagi.
Aku menggeleng.
"Lalu... kenapa kamu mau tau soal mahluk yang ada di kantor ini kalau gitu? kamu gak bisa ngusir mereka kan?"
"Justru aku mau tau cara menghindar dari mereka kalau bisa"
"Ohh..."
Sherly kemudian kembali duduk di hadapanku.
"Oke... aku akan kasihtau kamu. Mungkin supaya kamu mempertimbangkan lagi apakah kamu akan lanjut atau nggak di kantor ini"
Hah?
Sherly mengangguk "Iya, serius. Aku kan punya ini" katanya sambil menunjukkan jimat kristalnya itu "Tapi kamu nggak punya apa-apa lho... aku rasa kamu tau dong, apa yang sering kejadian sama orang-orang kayak kita?"
Aku mengangguk.
Tentu saja aku tau....
"Jadi target..." bisikku.
"Yup... dan bukan maksud bikin kamu takut. Tapi kemarin aku sempat heran, kenapa beberapa dari mahluk yang ada di sini tuh agak 'berbeda' dari biasanya"
"Berbeda?"
"Mereka nggak di tempat biasa mereka nongkrong... terakhir kayak gitu tuh pas aku baru masuk kantor ini dulu..."
Aku terbelalak "Jadi.. maksudnya..... karena aku?"
Sherly mengangkat bahunya "Nggak tau deh, mungkin aja tapi. Soalnya pas kamu masuk kan kemarin?"
"Iya juga..." jawabku lemas.
"Ya udah, aku kasih tau aja mahluk yang ada di sini.. sebenarnya mahluk di sini ada beberapa. Tapi yang harus diwaspadai cuma tiga"
'Gluk!' tanpa sadar aku menelan ludah.
"Di sini, kita menyebut mahluk-mahluk itu pake warna. Yang aku bilang harus waspada itu ke si Putih, si Hitam dan si Ungu"
Aku mengangguk pelan, mendengarkan cerita dari Sherly dengan serius.
"Si Putih itu kuntilanak yang sering mondar-mandir di lorong lantai 1. Deket sama ruangan aku. Tapi entah kenapa, kemarin si Putih itu muncul di toilet, terus aku ngeliat dia duduk di resepsionis, dan terakhir katanya malah sampe keluar di samping kantor, bikin mbak Yuli kecelakaan"
"Kemudian ada yang namanya si Hitam... kalau yang ini, biasanya nongolnya suka ngagetin. Bisa dimana aja. Bentuknya juga aneh-aneh dan seram. Tapi semuanya ada kesamaan. Apapun bentuknya, warnanya pasti hitam. Nggak membahayakan secara langsung sih... tapi lumayan bahaya juga kalau ngagetin terus bikin jatoh"
"Lalu yang terakhir... si ungu... ini... berharap aja kamu nggak pernah ketemu sama dia deh.... " kata Sherly dengan wajah pucat.
"Kenapa?" tanyaku.
"Ini... pokoknya yang paling bahaya deh... dan paling seram dari yang lain. Si Putih dan si Hitam aja sepertinya takut sama si Ungu ini. Pokoknya kalau kamu udah cium bau-bau arang kebakar gitu, sebaiknya kamu buru-buru kabur deh. Atau cari orang jadi kamu nggak sendirian. Soalnya si Ungu ini nggak pernah muncul ke orang-orang yang berdua. Pokoknya asal jangan sendirian"
Aku begidik mendengar soal si Ungu ini "Seserem itu ya? kayak apa sih bentuknya?"
"Setan... cuma itu aja yang bisa gambarin si Ungu..." kata Sherly, aku menangkap sepertinya gadis ini enggan membahas lebih jauh mengenai si Ungu ini...
Setan...?
Apa.....
Apa sebaiknya aku cerita sama Ayano ya?
Tapi... kalau aku cerita dan dia langsung panik... bisa-bisa aku disuruh langsung berhenti...
Ah... nanti aja deh
Semoga aja nggak sampai terjadi yang nggak-nggak...
"Aku baru denger soal itu lho... kita biasanya cuman ngomong si Putih dan si Hitam doang." komentar Qina.
Sherly menggeleng "Iya.... karena yang pernah liat si Ungu itu cuma aku sama Helen..."
Entah mengapa, Qina sangat terkejut mendengar nama Helen itu, dan memeluk lengan Sherly erat-erat.
"Tenang.. aku nggak bakal sama kayak Helen kok.." kata Sherly.
"Umm... ada apa sama Helen?" tanyaku bingung.
Qina mendadak pucat ketika aku menanyakan hal itu. Sherly menarik nafas dalam sebelum mulai berbicara "Helen itu.. meninggal.."
"Haaah?!"
"DIa.. sebelum meninggal pernah bikin rame kantor. Katanya dia ngeliat jin yang serem banget...
Terus... dia jadi beberapa hari nggak bisa tidur katanya..
Sampe akhirnya dia kecapean pas bawa motor pulang, jadi motornya oleng terus dia jatoh dari flyover ke sungai..."
Aku menutup mulutku saking terkejutnya.
"Apa.. maksudnya itu...?"
Sherly mengangguk dengan susah payah "Kayaknya iya... soalnya Helen udah beberapa kali diganggu sama si Putih dan si Hitam tapi tu anak biasa-biasa aja dan nggak kapok-kapok lembur.."
"Jadi.....?"
"Yah... kayaknya begitu deh... cuma si Ungu yang bikin aku trauma sampe sekarang.."
Sejenak aku benar-benar ingin langsung berhenti saat itu juga dari perusahaan ini. Tapi, mengingat hal itu akan membuat Ayano jadi khawatir hal yang tidak perlu membuatku urung untuk melakukannya.
Lagipula toh aku hanya perlu terus bersama seseorang kan? Menurut Sherly, si Ungu itu nggak pernah mengganggu orang yang tidak sendirian....
Meskipun begitu... aku tetap tidak merasa tenang...
Sepertinya akan ada sesuatu yang akan terjadi.
Dan aku tidak akan menyukai hal itu...
===
Seperti biasanya dan sangat mudah ditebak, yaitu setiap kali aku punya firasat buruk, kemungkinan besar akan terjadi.
Kali inipun juga begitu.
Pekerjaan untuk hari ini sudah selesai.
Hari ini aku pulang sedikit telat, karena kebetulan aku masuk pada tanggal 15, yang berarti adalah waktu closing laporan bagi divisiku.
Untungnya tidak ada budaya kerja lembur sampai pagi di kantorku ini. Apalagi ibu Imelda, kepala Divisiku adalah orang yang sangat teratur dan sangat terarah dalam menentukan target kerja.
Jadi, sebenarnya tidak ada pekerjaan ekstra yang harus kami lakukan dalam rangka closing bulanan ini. Hanya saja, memang butuh waktu sangat lama bagi komputer yang digunakan untuk proses closing. Biasanya akan memakan waktu sampai beberapa jam lamanya, karena harus langsung mengkonsolidasikan laporan dari semua divisi di kantor ini.
Belum lagi kalau tiba-tiba ada data yang tidak bisa masuk atau error. Terpaksalah butuh tambahan satu atau dua jam supaya divisi IT bisa membetulkannya terlebih dulu.
Untunglah tidak terjadi hal-hal semacam itu hari ini.
Tadi, kurang lebih jam setengah enam. Proses Closing diumumkan melalui intercom oleh Divisi Data Management, sudah selesai dilakukan. Sehingga kami semua sudah bisa pulang.
Setelah berberes-beres dan saling menunggu, akhirnya kami wanita-wanita dari Divisi keuangan project manufaktur produk A (maaf, aku memakai samaran karena tidak ingin menimbulkan nama jelek pada kantor itu), bersama-sama pulang.
Ketika lift kami akhirnya tiba di lantai dasar, aku menyadari bau busuk yang datangnya dari dalam lift. Pintu lift belum terbuka, karena itu aku mencari-cari asal bau itu.
Bau busuk seperti bau amis yang sangat anyir...
'Ting'
Pintu lift akhirnya terbuka.
Satu per satu kami keluar dari lift.
Sampai akhirnya terdengar teriakan nyaring dari Enno.
"AAHH!!!"
Kemudian wanita itu langsung menyeruak keluar dari lift dan lari.
Kami semua kebingungan dan beberapa dari kami ikut lari mengejar Enno.
Akupun segera mengikuti yang lain keluar dari lift itu.
Dan, pada saat aku hampir keluar dari lift itulah, aku melihat bayangan yang terpantul di samping pintu lift.
Tepat di belakangku saat ini, berdiri sesosok mahluk yang sangat jangkung, Tingginya mencapai langit-langit lift, rambutnya yang panjang menjuntai kebawah, hampir sama panjangnya dengan tungkai-tungkainya yang tidak normal panjangnya.
Dan satu lagi yang kusadari, mahluk itu berwarna hitam... sehitam arang kayu yang sudah terbakar.
Aku segera mendesak keluar dari lift, seraya menarik tangan Yuli yang berada di sebelahku.
Karena aku melihat dari pantulan itu kalau mahluk itu sedang mengangkat tangannya, hendak menggapai kami...
"He..Hei.... Elisa? ada apa sih?" tanya Yuli kebingungan ketika aku menariknya keluar dari lift itu.
"Ntar aku jelasin..." bisikku sambil melirik ke arah lift itu.
Lift sudah tertutup kembali, namun tangan yang sangat panjang dari mahluk itu menggapai-gapai ke udara kosong.
Mahluk itu terjepit?
Bersyukur atas hal yang tidak terduga itu, aku bergegas bersama dengan Yuli yang masih kugenggam tangannya keluar dari kantor itu.
Ketika kami mencapai lobby, aku melihat Sherly sedang berdiri layaknya menunggu kami.
Aku dan Yuli bergegas menuju ke arahnya...
"Hei... aku tadi denger katanya Enno ngeliat setan di lift?" tanya Sherly langsung.
Aku mengangguk. Aku merasakan genggaman tangan Yuli sedikit menegang.
"Apa yang kamu liat tadi?" tanya Sherly lagi.
Akupun menceritakan wujud hitam yang tadi kulihat pada Sherly. Yuli sangat terkejut dan takut ketika mendengarnya.
"Nggak aku sangka secepet ini ya.." gumam Sherly setelah mendengar penjelasanku "Dan agak aneh...".
"Aneh?"
"Biasanya, si hitam ini nggak pernah langsung keliatan di satu ruangan kayak gitu..." kata Sherly memulai penjelasannya.
"Biasanya, si hitam bakal keliatan di seberang jendela, atau kadang dia berdiri di luar bilik toilet jadi cuma keliatan kakinya aja, atau kadang dia ngeliatin kita dari dalam kantor pas kita ada di luar...." jelas Sherly.
"Makanya... aneh banget dia bisa ada di satu lift sama kalian..." katanya lagi seraya melirikku dengan ragu.
"Karena aku?"
Sherly menghembuskan nafas "Sorry... tapi kayaknya iya...."
"Ohh....."
"Elisa... kamu mendingan mikir-mikir ulang deh..... apa nggak bahaya di sini buat kamu?"
"Aku..... ya.. mungkin... aku akan coba mikir-mikir lagi deh.." kataku bingung.
Sherly hanya mengangguk kecil, dan kemudian mengajak kami pulang.
Di parkiran Ayano sudah menungguku.
"Ada apa, Lis?" tanyanya.
Seperti biasa, bagi Ayano sepertinya wajahku ini bagaikan ada tulisannya. Mudah sekali terbaca...
"Umm... sambil pulang aja kita ngomongnya..."
Yah.... aku memang harus menceritakan ini pada Ayano deh...
Dan kalau bisa.. mendapatkan solusi tanpa harus pindah dari kantor ini....
scorpiolama dan oldmanpapa memberi reputasi
3
Kutip
Balas