- Beranda
- Stories from the Heart
Patahan Salib Bidadari
...
TS
setiawanari
Patahan Salib Bidadari
In the name of Allah, the beneficient, the merciful
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Terimakasih untuk gambar sampulnya awayeye
Terimakasih Kaskus, khususnya untuk sub forum SFTH yang telah menyediakan tempat menampilkan sebuah cerita. Sebuah fasilitas yang akan saya gunakan untuk menulis dimulai dari hari ini hingga di hari-hari selanjutnya.
Terlepas dari nyata atau tidaknya cerita ini, adalah tidak terlalu penting karena sebagian dari kisah nyata dan sebagian dari imaginasi saya. Harapan saya tokoh-tokoh dalam cerita ini dapat menjadi inspirasi untuk para pembaca cerita yang saya tulis ini dapat menjadikan saya untuk terus berkreatifitas.
Mohon maaf jika materi dalam cerita ini nantinya ada kesalahan dan menyinggung pihak-pihak tertentu sekiranya nasihat, kritik dan saran dari agan/sista yang lebih berpengalaman selalu sangat saya harapkan.
Menemani istirahat untuk menghilangkan lelah setelah pulang kerja/sekolah/kuliah, atau saat sedang menunggu sesuatu mari kita baca ceritanya. Ditemani alunan musik dan segelas kopi/cokelat/susu/teh hangat kita kembali ke beberapa tahun yang lalu!!!.
PEMBUKA CERITA
Terpaku di dalam rasa cinta yang tak mungkin pudar, menanti cinta datang membawa arti sampai segenap organ ini berhenti.
Sore itu saat cuaca cerah di lantai 6 gedung akademisi yang melahirkan sarjana ekonomi terbaik aku termenung. Melamunkan manis, asam, asin dan pahitnya segala kehendak Tuhan yang dianugerahkan kepada salah satu ciptaanNya.
Manusia diberikan otak untuk berfikir dan menggunakan logika lalu diberikan hati untuk merasakan. Hati adalah malaikat sedangkan otak kadang menjadi iblis dan sangat sulit untuk mengontrolnya menjadi malaikat. Hati menjerit saat kita berbuat salah sedangkan otak adalah penyebab semua kesalahan yang dilakukan manusia. Malaikat dan iblis adalah gambaran dari manusia, sebagai simbol antara kebaikan dan kejahatan. Kebaikan tidak akan bersanding dengan kejahatan dan sebaliknya.
“Permisi Mas! Bisa pindah duduknya, lantainya mau di bersihkan!” Sapa seorang petugas cleaning service membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya mas”. Jawabku sambil berlalu pergi menuju tempat parkir motor tepatnya dihalaman depan kampus.
Karamnya cinta ini
Tenggelamkanku diduka yang terdalam
Hampa hati terasa
Kau tinggalkanku meski ku tak rela
Salahkah diriku hingga saat ini
Kumasih mengharap
Kau tuk kembali………
Sore itu gerimis turun saat aku pulang, tak terasa sampai ditempat kos yang kebetulan hanya berjarak 10 menit dari kampus air hujan membasahi jaket jeans yang ku kenakan. Segera aku mengambil handuk dan membersihkan diri, bersiap untuk mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Dengan ritual sholat Ashar aku merasakan kedamaian yang tidak ada bandingannya, sebagai bentuk kepatuhan dan rasa syukur atas semua yang diberikan Tuhan baik itu berkah yang membuat hati senang maupun musibah sebagai ujian kepada hambanya agar menjadi sosok yang lebih kuat.
Waktunya istirahat, kurebahkan badan ini di kasur busa sebagai surga dunia yang paling indah, sambil memutar lagu menemaniku melepas lelah. Secangkir kopi hitam telah kusiapkan untuk menghangatkan suasana karena diluar hujan turun semakin deras. Kupandangi sebuah kalung berwarna emas berliontin salib yang bersanding dengan sebuah kalung perak berliontin lafaz Allah, tergantung dibawah poster foto Ibu Sundari Sukotjo tepat di tengah-tengah dinding kamar kosku. Masih menampakkan kilaunya meski kalung-kalung itu sudah hampir 4 tahun lamanya. Aku bangkit dari tempat tidur, meminum sedikit kopi hitam, sambil menarik nafas dalam sedalam yang aku mampu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu di sore ini, ya aku merasakan suatu kerinduan yang luar biasa dengan pemilik kalung salib yang tergantung dikamarku, seorang yang sangat suka musik klasik, seseorang pecinta sepakbola, seseorang yang suka kopi hitam dan mungkin pernah mencintaiku walaupun tak pernah mengungkapkan sepatah katapun.
“Ya Tuhan hari ini aku kangen banget sama dia, meski tak sebesar kangen ku kepadaMu, tapi sungguh seolah-olah aku merasa sangat lemah dan sangat kehilangan. Hari ini tepat 4 bulan yang lalu dia beranjak pergi dari tempat ini, dia pergi untuk cita-citanya, untuk impiannya dan bodohnya aku belum sempat mengutarakan seluruh perasaanku kepadanya. Perbedaan keyakinanlah yang menghalangi, aku bahkan hanya bisa diam membisu saat ku ingin mengucapkan seluruh rasa cinta ini aku takut rasa cinta kepada makhluk ciptaanMu melebihi rasa cintaku padaMu. Tak kuasa air mata ini menetes, berusaha ku tahan tapi tak sanggup karena mungkin ini air mata rindu yang mencapai puncaknya.
Aku bukan seorang penulis tetapi hari ini tiba-tiba ingin sekali aku ingin sekali memainkan jariku di keyboard yang biasanya hanya kupakai untuk membuat tugas. Aku ingin menulis tentang dirimu tentang cerita kita, walaupun mungkin tidak berujung bahagia tidak apa karena mungkin dengan tulisan ini aku bisa mencurahkan segala isi hati dan kerinduanku kepada mu. Kenangan indah tentang hari-hari yang pernah kulalui dengan seorang bidadari yang telah merubah seluruh hidupku, meski meninggalkan perasaan yang terus menggantung entah sampai kapan. Bidadari yang datang di hidupku, menemaniku sejenak lalu pergi meninggalkan patahan salibnya di hidupku.
Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu
Sekilas Gambar Tentang Aku
Harapan Sesuai dengan Kenyataan
Kerikil Kecil dan Awan yang Jauh
Pertemuan dengan Sahabat
Sepatu Mengawali Sebuah Impian
Dunia Kampus dan Teman Baru
Keluarga Kecil Bernama HALTE
Sesuatu Mengganggu Pesta Akhir Smester
Diantara Rasa Kagum dan Penasaran
Meluapnya Sebuah Emosi
Hubungan yang Semakin Dekat
Kegelisahan Menghadapi Perasaan yang Berbeda
Siang Menjadi Malam dan Sebaliknya
Perjalanan yang Semakin Indah
Momen Menggelikan dan Warna Kehidupan
Dilema Menghadapi Ungkapan Perasaan
Tetangga di Sekitar Kami
Liontin Salib untuk Leher yang Indah
Kepedihan Cerita di Masa Lalu
Senyuman untuk Hati yang Terluka
Sosok yang Menjadi Pertanyaan
Mencoba Menghilangkan Trauma
Pelangi yang Hilang Bersama Turunnya Hujan
Malam Kebahagiaan Bersama Keluarga Kecil
Bidadari Kecil Kini Telah Dewasa
Kebahagiaan Kini Tinggal Prasasti
Semua Terjadi Sangat Cepat
Sebuah Cinta yang Salah
Surga yang Tak Layak untuk Dilihat
Rumput Dingin Di Bawah Bangku Taman
Pahitnya Sebuah Ucapan
Air Mata Menepis Kerasnya Kata-kata
Satu Langkah ke Arah Normal
Bertahan Hanya dalam Waktu Singkat
Semakin Tenggelam dalam Kedekatan
Lilin Kecil di Malam Penuh Kebahagiaan
Selamat Datang Kemarau
Kerinduan yang Teramat Dalam
Hembusan Angin Masa Lalu
Sayap yang Kuat Untuk Bidadari Kecil
Tinta Biru Menorehkan Luka
Berusaha Menyembunyikan Luka
Hilangnya Rasa Segan
Keberhasilan Tanpa Perayaan
Berharap Hanya Andai Saja
Serpihan Kenangan yang Menyiksa
Tempat Baru
Berita Baik Bersama Undangan
Selamat Menempuh Hidup Baru
Kesan yang Baik di Hari Pertama
Insiden Kecil dan Masa yang Telah Terlewati
Menutup Momen 4 Tahun Kebersamaan
Kotak Makan Siang
Keberanian Untuk Memulai
Pahitnya Sambutan Selamat Datang
Seperti Kembali ke Waktu Itu
Teka Teki dari Perhatian Sederhana
Cerita di Ujung Sore
Peneduh Panasnya Amarah
Mengungungkapkan tak Semudah Membayangkan
Titik Terang yang Terasa Gelap
Patahan Salib Bidadari
Terimakasih Untuk Masa yang Terlewati
Apa yang Sebenarnya Terjadi
Kembali Terjatuh
Dunia Ciptakan Keindahan
Dan Kebahagiaan [TAMAT]
Kata Penutup (Q&A)
Diubah oleh setiawanari 10-07-2018 17:35
nona212 dan calebs12 memberi reputasi
3
111.2K
608
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
setiawanari
#253
Berita Baik Bersama Undangan
Teknologi mengambil alih untuk kemudahan manusia dalam menjalankan aktivitasnya. Seperti teknologi telekomunikasi yang terus berkembang pesat, membuat manusia bisa berhubungan dari jarak yang cukup jauh. Pesan teks, gambar maupun video dapat berpindah dalam hitungan detik. Interaksi dunia maya menyatukan manusia tanpa batas hingga di seluruh belahan dunia.
Dibalik kemudahannya tetap akan meninggalkan sisi buruk. Hanya memegang kotak pipih, dengan tombol huruf A sampai Z kadang manusia lupa menyapa orang di sekitarnya. Asyik tertawa sendiri, senyum-senyum, cemberut dan berbagai expresi dengan mata tertuju ke alat di tangannya.
Dahulu burung merpati yang kehilangan pekerjaannya, mungkin beberapa waktu kedepan akan disusul orang-orang berseragam orange. Berkeliling kota dengan kertas yang dibawanya akan beralih profesi.
Tulisan indah dengan tinta di atas kertas yang kita tunggu hingga berhari-hari pun akan punah. Suara kentongan di kampung-kampung untuk pesan isyarat akan berganti dengan dering lagu-lagu yang terdengar di setiap rumah.
Dering telepon berbunyi pagi ini seminggu setelah aku tinggal di tempat kos yang baru.
" Halo, selamat pagi dengan bapak Argani Awan Narendra?" Suara wanita dalam telepon itu.
" Selamat pagi Bu, benar saya sendiri." Jawabku keluar kamar, duduk di bangku rotan teras tempat kos.
" Baik Pak, saya Risa HRD staff PT. Global Manufacture, berdasarkan psikotest dan interview yang sudah bapak ikuti di PT. Global Manufacture. Kami ingin menginformasikan kepada bapak untuk hadir dalam interview user pada hari Jumat tanggal 2 Oktober 2012 pukul 08.00 WIB. Apakah bapak bisa hadir?
" Bisa Bu, untuk kelengkapan dokumen apa saja Bu yang harus saya siapkan."
" Baik Pak, untuk berkas yang harus bapak bawa nanti saya email ya pak, di alamat email arganiawan0808@yahoo.com benar pak."
" Iya Bu, benar."
" Baik, sampai disini ada yang ingin bapak tanyakan?"
" Sementara cukup Bu"
" Baik, terimakasih atas waktunya dan kesediaan bapak untuk mengikuti seleksi penerimaan karyawan di PT. Global Manufacture. Kami tunggu kehadirannya, saya Astri selamat melanjutkan aktivitas kembali." Kata wanita itu menutup telepon meninggalkan kabar baik pagi ini.
" Telepon dari siapa Mas?" Kata Indri keluar membawakan secangkir kopi.
" Kerjaan Ndri, Jumat besuk ada interview user katanya."
" Semoga di terima ya Mas, terus Mas Awan gak jualan lagi?"
" Kayanya sementara mas berhenti dulu Ndri, mau coba lewat online aja, kan bisa kalau sambil kerja."
" Iya mas yang penting Mas Awan jangan terlalu capek."
" Perhatian banget sih kamu sama aku Ndri?"
" Ya kan dari kecil Indri selalu di perhatiin kamu Mas, sekarang saatnya Indri bales semuanya, hehehehe, gak kaya Mbak Putri baru bentaran lulus langsung nikah."
" Apaan sih kamu, Putri itu kan gak mau nerusin kuliah buat jagain kamu Ndri, kalau dia kuliah siapa yang nemenin kamu makan, tidur, belajar?"
" Hehehehe, iya sih Mas tapi mending sama Mas Awan, Indri bisa main internet sepuasnya?"
" Ooooh jadi kamu yang pakai qouta internet Mas, pantesan cepet banget abisnya."
" Iiih orang cuma buat streaming film doang kok, diisi lagi ya Mas, Indri mau nyuci baju dulu." Kata Indri berjalan ke dalam kamar kos.
" Enggak!" Teriakku menyusul masuk ke kamar.
Siang hari suasana komplek tidak seramai tempat tinggal lamaku. Sesekali hanya pedagang keliling yang lewat, dan ibu-ibu yang menyuapi anak-anaknya makan diatas sepeda roda 3. Mayoritas penghuni disini pekerja dan pelajar jadi mungkin mereka sudah sibuk dengan aktivitas di luar sana.
Aku memutuskan berkeliling komplek sekedar menikmati masa-masa baruku di tempat ini. Beberapa saat langkahku terhenti di warung kopi yang letaknya 10 meter dari gerbang keluar masuk komplek.
" Permisi, Teh bikinin es jeruk 1 teh." Kataku duduk di depan warung kopi.
" Diminum sini atau dibungkus a?"
" Disini aja teh, oh iya gulanya sedikit aja ya."
" Baik a." Kata teteh penjual di warung kopi.
Beberapa saat kemudian segelas es jeruk segar ada di depanku siap menyiram tenggorokan di panasnya cuaca siang ini.
" Udah lama jualan disini teh? Oh iya saya Awan, dengan teh siapa kalau boleh tau?" Kataku mencoba berbasa basi dengan penjual kopi yang meskipun sudah berumur namun masih terlihat cantik.
" Susi, kalau warungnya udah lama a dari komplek ini berdiri kalau saya cuma nerusin aja soalnya bapak saya udah tua. Jadi istirahat di kampung. Aa baru ya tinggal disini?" Kata Teh Susi.
" Panggil aja Awan teh, iya baru seminggu. Asli mana teh?"
" Saya Garut a, eh Awan. Kalau kamu asli Jakarta?"
" Oh bukan teh, saya aslinya Jawa Tengah, Solo tepatnya. Cuma udah 4 tahun di Jakarta jadi jawanya udah sedikit ilang."
" Woiiii siang-siang udah godain bini orang, anak baru ya?" Jawab bapak-bapak duduk disampingku.
" Enggak Bang cuma ngobrol aja ini, baru seminggu saya pindah dimari bang."
" Sus, bikinin kopi dong!" Kata pria itu ke Teh Susi.
" Oh iya gw, Mudi yang buka bengkel depan itu."
Kata lelaki itu mengenalkan diri.
" Awan Bang, wah kebetulan kalau service motor gak jauh-jauh saya."
" Kemaren gw liat motor Lo antik juga, CB tahun berapa?"
" Tua bang tahun 73 peninggalan orang tua."
" Wah sekarang nyarinya udah susah tu motor, jangan sampai di jual, anak-anak bengkel juga ada yang masih miara."
" Kagak lah bang, biar tua banyak kenangannya itu."
" Yaudah gw tinggal ke bengkel dulu ya, awas jangan di godain Susi, suaminya galak. Hahahaha Sus gelasnya gw bawa dulu yak." Kata Bang Mudi meninggalkan warung kopi menuju bengkel.
" Oh iya berapa teh semuanya? Es jeruk sama rotinya dua, sekalian sama kopinya bang Mudi?"
" Jadi 12ribu, kok kayanya buru-buru mau kemana?"
" Biasalah bobo siang, hehehehehe. Makasih teh."
" Iya sama-sama."
Aku kembali berjalan menuju tempat kos, memasuki gerbang Indri tampak sedang berbicara dengan orang yang ku kenal.
" Darimana Mas?" Sapa Indri.
" Warkop depan, eh kamu dah lama?" Kataku ke Nilla, wanita yang sedang berbincang dengan Indri.
" Belum baru 15 menitan." Jawab Nilla.
" Lho emang Mas Awan udah kenal sama Kak Nilla?" Kata Indri.
" Udah kemaren, waktu ke rumah Pak RT, dia yang Mas bilang senior kamu nanti di kampus."
" Oooohhh, asik berarti ada yang bisa ngajarin Indri."
" Gak berangkat kuliah Nil?" Kataku.
" Hari ini gak ada jam Mas, jadi ya di rumah aja."
" Yaudah, terusin ngobrol nya ya aku ke dalam dulu." Kataku masuk ke kamar meninggalkan mereka berbincang di teras.
Banyaknya pohon yang tumbuh di sekitar komplek membuat cuaca panas seolah tidak terlalu terasa terlebih putaran baling-baling kipas meniupkan angin membuatku mengantuk.
Merebahkan tubuh diatas spring bed tanpa ranjang sambil membuka laptop. Mencari seseorang melalui media sosial itulah aktivitas pertama yang kulakukan saat laptop telah menyala. Meskipun sampai saat ini belum ada kabar dimana dan bagaimana keadaannya.
Suara mobil datang saat aku batlru saja membuka mata sore itu. Indri menuruni tangga dari kamar atas.
" Mas Awan kayanya ada yang tamu?" Kata Indri dari kamar atas.
" Paling temen kampus Mas." Kataku beranjak tidur dan melihat ke jendela.
Benar saja dugaanku ternyata Fajar dan Anissa yang sore ini berkunjung.
" Assalamualaikum." Kata Anissa turun dari mobil menuju kamar kos.
" Walaikumsallam, gak nyasar Lo Jar?" Kataku.
" Kagak, daerah sini ma gampang dicarinya apalagi alamatnya lengkap."
" Yaudah masuk ya begini tempat kos gw sekarang, udah ada kemajuan dari yang dulu kan?"
" Iya Wan lebih besar, tempatnya. Kalau begini kan pas buat berdua." Jawab Anissa.
" Hei, Kak Anis gimana kabarnya Kak?" Kata Indri turun menghampiri Anissa.
" Alhamdulillah baik, kamu gimana udah masuk kuliahnya?" Jawab Anissa.
" Hari Senin Kak udah masuknya, oh iya mau minum apa? Ada kopi, teh, air dingin?"
" Ah gak usah repot-repot tar tak ambil sendiri aja." Jawab Anissa.
" Mau ngrokok? Jangan disini ayo keluar?" Kataku mengajak Fajar ke teras.
" Yaelah biasanya juga di dalem?" Jawab Fajar mengikutiku.
" Itu kan dulu, sekarang kamar gw udah free smoke Jar, hehehehehe."
" Udah berubah kebiasaan Lo Wan, Lo udah dapet kerjaan Wan?"
" Hmmm Jumat ada interview user Jar kalau lolos ya langsung tanda tangan kontrak kerja, lah Lo sendiri gimana? Nerusin usaha bokap Lo?"
" Sepertinya gak ada pilihan lain Wan, dan ini buat Lo, jangan lupa Dateng." Kata Fajar memberikan kertas setebal 1cm.
" Jadi? Lo meried jar? 3 Minggu lagi?" Kataku membuka kertas undangan itu.
" Yah begitulah, semua sudah terjadi, cepat atau lambat ini tujuannya."
" Selamat ya Bro bentar lagi jadi ayah, pasti anak Lo bangga punya bokap kaya Lo bro."
" Amiiin, thanks ya Wan seandainya gw gak denger omongan Lo semuanya pasti gak berjalan seperti ini."
" Aaah itu ma cuma saran aja Jar, lagian Lo juga udah tau mau sekarang atau nanti tujuannya juga bakal seperti ini?"
" Oh iya gw gak bisa lama-lama nih mau sekalian mampir ke rumah saudara gw. Jangan lupa dateng ya terus jangan bilang ke yang lain tentang Anissa cuma gw sama Lo yang tau."
" Oke siap." Kataku kembali masuk menemui Anissa dan Indri yang sedang berbincang.
" Yaudah gw pulang dulu ya Ndri, jangan lupa belajar biar pinter." Kata Anissa berpamitan.
" Iya, makasih kak sering-sering mampir sini ya kak?" Jawab Indri.
" Yaudah gw cabut dulu sob!" Kata Fajar melangkah menuju mobil bersama kekasihnya.
" Sip, hati-hati Jar, jagain keponakan gw." Teriakku diikuti laju mobil meninggalkan tempat kos.
" Undangan siapa ini Mas?"
" Itu kan ada namanya ada di undangannya Ndri, tar temenin Mas ya!"
" Emang cewek Mas Awan kemana?"
" Masih di sudut bumi, tapi mas bingung bumi kan gak ada sudutnya?"
" Hahahahahaha kasihan." Jawab Indri mengusap kepalaku.
Genap seminggu tinggal di tempat baru, gemuruh geluduk terdengar, langit perlahan gelap menandakan musim hujan segera merayap menuju puncaknya.
Dibalik kemudahannya tetap akan meninggalkan sisi buruk. Hanya memegang kotak pipih, dengan tombol huruf A sampai Z kadang manusia lupa menyapa orang di sekitarnya. Asyik tertawa sendiri, senyum-senyum, cemberut dan berbagai expresi dengan mata tertuju ke alat di tangannya.
Dahulu burung merpati yang kehilangan pekerjaannya, mungkin beberapa waktu kedepan akan disusul orang-orang berseragam orange. Berkeliling kota dengan kertas yang dibawanya akan beralih profesi.
Tulisan indah dengan tinta di atas kertas yang kita tunggu hingga berhari-hari pun akan punah. Suara kentongan di kampung-kampung untuk pesan isyarat akan berganti dengan dering lagu-lagu yang terdengar di setiap rumah.
Dering telepon berbunyi pagi ini seminggu setelah aku tinggal di tempat kos yang baru.
" Halo, selamat pagi dengan bapak Argani Awan Narendra?" Suara wanita dalam telepon itu.
" Selamat pagi Bu, benar saya sendiri." Jawabku keluar kamar, duduk di bangku rotan teras tempat kos.
" Baik Pak, saya Risa HRD staff PT. Global Manufacture, berdasarkan psikotest dan interview yang sudah bapak ikuti di PT. Global Manufacture. Kami ingin menginformasikan kepada bapak untuk hadir dalam interview user pada hari Jumat tanggal 2 Oktober 2012 pukul 08.00 WIB. Apakah bapak bisa hadir?
" Bisa Bu, untuk kelengkapan dokumen apa saja Bu yang harus saya siapkan."
" Baik Pak, untuk berkas yang harus bapak bawa nanti saya email ya pak, di alamat email arganiawan0808@yahoo.com benar pak."
" Iya Bu, benar."
" Baik, sampai disini ada yang ingin bapak tanyakan?"
" Sementara cukup Bu"
" Baik, terimakasih atas waktunya dan kesediaan bapak untuk mengikuti seleksi penerimaan karyawan di PT. Global Manufacture. Kami tunggu kehadirannya, saya Astri selamat melanjutkan aktivitas kembali." Kata wanita itu menutup telepon meninggalkan kabar baik pagi ini.
" Telepon dari siapa Mas?" Kata Indri keluar membawakan secangkir kopi.
" Kerjaan Ndri, Jumat besuk ada interview user katanya."
" Semoga di terima ya Mas, terus Mas Awan gak jualan lagi?"
" Kayanya sementara mas berhenti dulu Ndri, mau coba lewat online aja, kan bisa kalau sambil kerja."
" Iya mas yang penting Mas Awan jangan terlalu capek."
" Perhatian banget sih kamu sama aku Ndri?"
" Ya kan dari kecil Indri selalu di perhatiin kamu Mas, sekarang saatnya Indri bales semuanya, hehehehe, gak kaya Mbak Putri baru bentaran lulus langsung nikah."
" Apaan sih kamu, Putri itu kan gak mau nerusin kuliah buat jagain kamu Ndri, kalau dia kuliah siapa yang nemenin kamu makan, tidur, belajar?"
" Hehehehe, iya sih Mas tapi mending sama Mas Awan, Indri bisa main internet sepuasnya?"
" Ooooh jadi kamu yang pakai qouta internet Mas, pantesan cepet banget abisnya."
" Iiih orang cuma buat streaming film doang kok, diisi lagi ya Mas, Indri mau nyuci baju dulu." Kata Indri berjalan ke dalam kamar kos.
" Enggak!" Teriakku menyusul masuk ke kamar.
Siang hari suasana komplek tidak seramai tempat tinggal lamaku. Sesekali hanya pedagang keliling yang lewat, dan ibu-ibu yang menyuapi anak-anaknya makan diatas sepeda roda 3. Mayoritas penghuni disini pekerja dan pelajar jadi mungkin mereka sudah sibuk dengan aktivitas di luar sana.
Aku memutuskan berkeliling komplek sekedar menikmati masa-masa baruku di tempat ini. Beberapa saat langkahku terhenti di warung kopi yang letaknya 10 meter dari gerbang keluar masuk komplek.
" Permisi, Teh bikinin es jeruk 1 teh." Kataku duduk di depan warung kopi.
" Diminum sini atau dibungkus a?"
" Disini aja teh, oh iya gulanya sedikit aja ya."
" Baik a." Kata teteh penjual di warung kopi.
Beberapa saat kemudian segelas es jeruk segar ada di depanku siap menyiram tenggorokan di panasnya cuaca siang ini.
" Udah lama jualan disini teh? Oh iya saya Awan, dengan teh siapa kalau boleh tau?" Kataku mencoba berbasa basi dengan penjual kopi yang meskipun sudah berumur namun masih terlihat cantik.
" Susi, kalau warungnya udah lama a dari komplek ini berdiri kalau saya cuma nerusin aja soalnya bapak saya udah tua. Jadi istirahat di kampung. Aa baru ya tinggal disini?" Kata Teh Susi.
" Panggil aja Awan teh, iya baru seminggu. Asli mana teh?"
" Saya Garut a, eh Awan. Kalau kamu asli Jakarta?"
" Oh bukan teh, saya aslinya Jawa Tengah, Solo tepatnya. Cuma udah 4 tahun di Jakarta jadi jawanya udah sedikit ilang."
" Woiiii siang-siang udah godain bini orang, anak baru ya?" Jawab bapak-bapak duduk disampingku.
" Enggak Bang cuma ngobrol aja ini, baru seminggu saya pindah dimari bang."
" Sus, bikinin kopi dong!" Kata pria itu ke Teh Susi.
" Oh iya gw, Mudi yang buka bengkel depan itu."
Kata lelaki itu mengenalkan diri.
" Awan Bang, wah kebetulan kalau service motor gak jauh-jauh saya."
" Kemaren gw liat motor Lo antik juga, CB tahun berapa?"
" Tua bang tahun 73 peninggalan orang tua."
" Wah sekarang nyarinya udah susah tu motor, jangan sampai di jual, anak-anak bengkel juga ada yang masih miara."
" Kagak lah bang, biar tua banyak kenangannya itu."
" Yaudah gw tinggal ke bengkel dulu ya, awas jangan di godain Susi, suaminya galak. Hahahaha Sus gelasnya gw bawa dulu yak." Kata Bang Mudi meninggalkan warung kopi menuju bengkel.
" Oh iya berapa teh semuanya? Es jeruk sama rotinya dua, sekalian sama kopinya bang Mudi?"
" Jadi 12ribu, kok kayanya buru-buru mau kemana?"
" Biasalah bobo siang, hehehehehe. Makasih teh."
" Iya sama-sama."
Aku kembali berjalan menuju tempat kos, memasuki gerbang Indri tampak sedang berbicara dengan orang yang ku kenal.
" Darimana Mas?" Sapa Indri.
" Warkop depan, eh kamu dah lama?" Kataku ke Nilla, wanita yang sedang berbincang dengan Indri.
" Belum baru 15 menitan." Jawab Nilla.
" Lho emang Mas Awan udah kenal sama Kak Nilla?" Kata Indri.
" Udah kemaren, waktu ke rumah Pak RT, dia yang Mas bilang senior kamu nanti di kampus."
" Oooohhh, asik berarti ada yang bisa ngajarin Indri."
" Gak berangkat kuliah Nil?" Kataku.
" Hari ini gak ada jam Mas, jadi ya di rumah aja."
" Yaudah, terusin ngobrol nya ya aku ke dalam dulu." Kataku masuk ke kamar meninggalkan mereka berbincang di teras.
Banyaknya pohon yang tumbuh di sekitar komplek membuat cuaca panas seolah tidak terlalu terasa terlebih putaran baling-baling kipas meniupkan angin membuatku mengantuk.
Merebahkan tubuh diatas spring bed tanpa ranjang sambil membuka laptop. Mencari seseorang melalui media sosial itulah aktivitas pertama yang kulakukan saat laptop telah menyala. Meskipun sampai saat ini belum ada kabar dimana dan bagaimana keadaannya.
Suara mobil datang saat aku batlru saja membuka mata sore itu. Indri menuruni tangga dari kamar atas.
" Mas Awan kayanya ada yang tamu?" Kata Indri dari kamar atas.
" Paling temen kampus Mas." Kataku beranjak tidur dan melihat ke jendela.
Benar saja dugaanku ternyata Fajar dan Anissa yang sore ini berkunjung.
" Assalamualaikum." Kata Anissa turun dari mobil menuju kamar kos.
" Walaikumsallam, gak nyasar Lo Jar?" Kataku.
" Kagak, daerah sini ma gampang dicarinya apalagi alamatnya lengkap."
" Yaudah masuk ya begini tempat kos gw sekarang, udah ada kemajuan dari yang dulu kan?"
" Iya Wan lebih besar, tempatnya. Kalau begini kan pas buat berdua." Jawab Anissa.
" Hei, Kak Anis gimana kabarnya Kak?" Kata Indri turun menghampiri Anissa.
" Alhamdulillah baik, kamu gimana udah masuk kuliahnya?" Jawab Anissa.
" Hari Senin Kak udah masuknya, oh iya mau minum apa? Ada kopi, teh, air dingin?"
" Ah gak usah repot-repot tar tak ambil sendiri aja." Jawab Anissa.
" Mau ngrokok? Jangan disini ayo keluar?" Kataku mengajak Fajar ke teras.
" Yaelah biasanya juga di dalem?" Jawab Fajar mengikutiku.
" Itu kan dulu, sekarang kamar gw udah free smoke Jar, hehehehehe."
" Udah berubah kebiasaan Lo Wan, Lo udah dapet kerjaan Wan?"
" Hmmm Jumat ada interview user Jar kalau lolos ya langsung tanda tangan kontrak kerja, lah Lo sendiri gimana? Nerusin usaha bokap Lo?"
" Sepertinya gak ada pilihan lain Wan, dan ini buat Lo, jangan lupa Dateng." Kata Fajar memberikan kertas setebal 1cm.
" Jadi? Lo meried jar? 3 Minggu lagi?" Kataku membuka kertas undangan itu.
" Yah begitulah, semua sudah terjadi, cepat atau lambat ini tujuannya."
" Selamat ya Bro bentar lagi jadi ayah, pasti anak Lo bangga punya bokap kaya Lo bro."
" Amiiin, thanks ya Wan seandainya gw gak denger omongan Lo semuanya pasti gak berjalan seperti ini."
" Aaah itu ma cuma saran aja Jar, lagian Lo juga udah tau mau sekarang atau nanti tujuannya juga bakal seperti ini?"
" Oh iya gw gak bisa lama-lama nih mau sekalian mampir ke rumah saudara gw. Jangan lupa dateng ya terus jangan bilang ke yang lain tentang Anissa cuma gw sama Lo yang tau."
" Oke siap." Kataku kembali masuk menemui Anissa dan Indri yang sedang berbincang.
" Yaudah gw pulang dulu ya Ndri, jangan lupa belajar biar pinter." Kata Anissa berpamitan.
" Iya, makasih kak sering-sering mampir sini ya kak?" Jawab Indri.
" Yaudah gw cabut dulu sob!" Kata Fajar melangkah menuju mobil bersama kekasihnya.
" Sip, hati-hati Jar, jagain keponakan gw." Teriakku diikuti laju mobil meninggalkan tempat kos.
" Undangan siapa ini Mas?"
" Itu kan ada namanya ada di undangannya Ndri, tar temenin Mas ya!"
" Emang cewek Mas Awan kemana?"
" Masih di sudut bumi, tapi mas bingung bumi kan gak ada sudutnya?"
" Hahahahahaha kasihan." Jawab Indri mengusap kepalaku.
Genap seminggu tinggal di tempat baru, gemuruh geluduk terdengar, langit perlahan gelap menandakan musim hujan segera merayap menuju puncaknya.
Diubah oleh setiawanari 15-10-2017 20:58
g.gowang memberi reputasi
1