- Beranda
- Stories from the Heart
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish
...
TS
congyang.jus
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish

Tuhan tidak selalu memberi kita jalan lurus untuk mencapai suatu tujuan. Terkadang dia memberi kita jalan memutar, bahkan seringkali kita tidak bisa mencapai tujuan yg sudah kita rencanakan diawal. Bukan karena tuhan tidak memberi yg kita inginkan, tetapi untuk memberi kita yg terbaik. Percayalah, rencana Tuhan jauh lebih indah.
Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 13 suara
Siapa yang akan menjadi pemaisuri Raja?
Olivia
31%
Bunga
8%
Diana
15%
Zahra
15%
Okta
8%
Shinta
23%
Diubah oleh congyang.jus 04-03-2022 10:27
JabLai cOY dan 37 lainnya memberi reputasi
38
165.8K
793
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
congyang.jus
#229
Part 36
Gw berjalan menuju sekolahan yang hampir setahun menjadi tempat gw menimba ilmu. Tempat gw menemukan sahabat, kawan, sampai permata walau hanya untuk sementara. Gw hanya membawa sebuah tas tabung yang menjadi tempat gw menyimpan seabrek kertas - kertas gambar.
Dengan Zahra disamping kiri, kami berjalan ke lantai 2, letak ruangan kejuruan gambar bangunan. Jam pelajaran dimulai, guru gw mulai meminta kami meneruskan pekerjaan-pekerjaan gambar yang belum selesai.
Kembali gw mengecheck kertas-kertas gambar, dan mencocokkannya dengan daftar tugas-tugas
"Tinggal satu yang belum selesai" ucap gw dalam hati.
Gw langsung mulai menyelesaikan pekerjaan gambar gw detik itu juga. Dan dalam waktu kurang dari satu jam, tugas gw sudah selesai. Waktu-waktu luang tersebut gw gunakan untuk tidur. Karena tadi malam gw lembur sampai jam 2 pagi.
Mungkin disini yang jurusan teknik bangunan juga ngerasa kalau jurusan ini lebih banyak tugas nya dari pada jurusan yang lain.
Sore harinya, di bengkel tercintah
Gw turun dari motor dan duduk di bangku panjang depan bengkel. "Belom ada musuh mas?" tanya gw ke Mas Joe yang sedang mengganti ban mobil.
"Belum ja, sekarang lagi rawan. Tiap malam minggu di razia" jelas Mas Joe
Gw rogoh HP di saku celana dan membaca pesan2 singkat yang masuk
"Kalau mau main, pulang dulu, ganti baju dulu" isi pesan singkat dari Shinta
"Iya, ini udah ganti baju. Kalau pulang mampir kebengkel dulu ya. Aku di bengkel" pinta gw ke Shinta
Hampir satu jam kemudian Shinta memberhentikan motornya di depan gw, masih dengan seragam OSIS nya. Dan melangkah turun menghampiri gw
"Kalau mau main ganti baju dulu" ucap gw ke Shinta, sambil ketawa ngakak
"Nyebelin ih" Shinta ga jadi duduk di samping gw, dan kembali naik ke atas motornya.
"Aku tunggu disini" Ucap gw, dia menjalankan motor nya meninggalkan gw
"Wis pacaran ja?" tanya Mas Joe setelah Shinta pergi. Gw menganggukkan kepala
"Kok ga makan-makan?" tanya dia lagi
"Makan tinggal makan" jawab gw cekakak'an sambil menunjuk warung ibu nya. Dan sebuah obeng sukses mengenai badan gw.
"Bawa helm sekalian" gw kirim pesan singkat ke Shinta
Gw nyalakan sebatang rokok lalu menghisap nya dalam-dalam. Gw hembuskan gumpalan asap putih dari mulut gw.
Setelah beberapa waktu tinggal di rumah mamah, gw merasakan perhatian dari orang tua yang sudah lama tidak gw rasakan. Mamah begitu perhatian ke gw. Dia sudah menganggap gw sebagai anak kandungnya sendiri. "Apakah seperti ini juga perhatian Mamah ke alm Pratama?" tanya gw dalam hati. Bahkan orang tua kandung gw pun tidak pernah se perhatian itu ke gw.
Mamah selalu menelpon gw jika terlambat pulang. Katanya, dia khawatir jika terjadi apa-apa dengan gw. Padahal semasa masih tinggal di rumah eyang, gw ga pernah dicari walaupun gw tidak pulang sampai pagi haha.
"Mau kemana sih?" kedatangan Shinta membuyarkan lamunan tentang keluarga baru gw
"Kendal" ucap gw
"Ngapain?" tanya dia
"Jalan-jalan" jawab gw
Motor gw titipkan di bengkel, kami menuju kendal dengan menggunakan motornya Shinta. Dengan santai, gw jalankan kendaraan ini membelah kepadatan lalu lintas kota Semarang. Jalanan sudah agak macet kala itu, karena hampir bertepatan dengan jam pulang kerja.
Kedua tangan Shinta memeluk erat tubuh gw dari belakang. Tak banyak percakapan dari kami berdua. Sepanjang jalan, kami menikmati perjalanan ini dengan diam. Namun, sikapnya menunjukan bahwa ia sangat nyaman dengan kebersamaan ini.
"Kok masuk hutan-hutan yang?" tanya Shinta saat memasuki Cagar Alam Pagerwunung Darupono, Kaliwungu, Kendal
"Emang lewat sini, bentar lagi ada tempat bagus buat lihat sunset" jelas gw
Beberapa waktu kemudian, kami sampai di tempat tujuan. Gw lihat dari spion kanan, Shinta begitu takjub dengan tempat yang gw maksud.
Di jalan raya Kaliwungu - Boja ada Hutan pinus di sebelah Timur jalan. Dan di sebelah barat jalan, ada seperti padang rumput yang luas. Jadi, kita bisa lihat sunset dengan jelas.
Gw parkirkan motor di bawah jajaran pohon-pohon karet. Motor gw hadapkan ke Selatan, dan kami duduk menyamping menghadap barat.
"Tempat nya bagus yang.. Kok kamu tau tempat kayak gini?" tanya Shinta
"Aku kan mantan Bolang ehehe" jawab gw ngawur
Kami menikmati matahari terbenam dalam diam. Kakinya disilangkan, dan kepalanya disandarkan di bahu gw
Ada satu hal yang sebenarnya menjadi beban pikiran bagi gw ketika dengan Shinta. Yaitu ketidak sukaan ibunya ke gw, Shinta pun menyadari itu. Ibunya agak ga suka jika gw dekat dengan anaknya. Ya mungkin karena gw terkenal sebagai anak-anak madesu di kampung.
Namun berbanding terbalik dengan Bapaknya. Beliau menaruh kepercayaan penuh ketika Shinta pergi dengan gw. Yang terpenting jangan macam-macam, itulah yang di pesan Beliau ke gw. Beliau sangat dekat dengan Eyang gw. Beliau sering bertemu dengan Yangkung di acara-acara kampung maupun di masjid. Jadi, setidaknya Beliau tau sifat asli gw dari Yangkung.
Bukan seperti Ibunya Shinta, yang tau sifat dan perilaku gw dari orang-orang yang tidak mengenal betul diri gw. Eh, tapi ngerumpi kan emang kebiasaannya emak-emak.
Dengan Zahra disamping kiri, kami berjalan ke lantai 2, letak ruangan kejuruan gambar bangunan. Jam pelajaran dimulai, guru gw mulai meminta kami meneruskan pekerjaan-pekerjaan gambar yang belum selesai.
Kembali gw mengecheck kertas-kertas gambar, dan mencocokkannya dengan daftar tugas-tugas
"Tinggal satu yang belum selesai" ucap gw dalam hati.
Gw langsung mulai menyelesaikan pekerjaan gambar gw detik itu juga. Dan dalam waktu kurang dari satu jam, tugas gw sudah selesai. Waktu-waktu luang tersebut gw gunakan untuk tidur. Karena tadi malam gw lembur sampai jam 2 pagi.
Mungkin disini yang jurusan teknik bangunan juga ngerasa kalau jurusan ini lebih banyak tugas nya dari pada jurusan yang lain.
Sore harinya, di bengkel tercintah
Gw turun dari motor dan duduk di bangku panjang depan bengkel. "Belom ada musuh mas?" tanya gw ke Mas Joe yang sedang mengganti ban mobil.
"Belum ja, sekarang lagi rawan. Tiap malam minggu di razia" jelas Mas Joe
Gw rogoh HP di saku celana dan membaca pesan2 singkat yang masuk
"Kalau mau main, pulang dulu, ganti baju dulu" isi pesan singkat dari Shinta
"Iya, ini udah ganti baju. Kalau pulang mampir kebengkel dulu ya. Aku di bengkel" pinta gw ke Shinta
Hampir satu jam kemudian Shinta memberhentikan motornya di depan gw, masih dengan seragam OSIS nya. Dan melangkah turun menghampiri gw
"Kalau mau main ganti baju dulu" ucap gw ke Shinta, sambil ketawa ngakak
"Nyebelin ih" Shinta ga jadi duduk di samping gw, dan kembali naik ke atas motornya.
"Aku tunggu disini" Ucap gw, dia menjalankan motor nya meninggalkan gw
"Wis pacaran ja?" tanya Mas Joe setelah Shinta pergi. Gw menganggukkan kepala
"Kok ga makan-makan?" tanya dia lagi
"Makan tinggal makan" jawab gw cekakak'an sambil menunjuk warung ibu nya. Dan sebuah obeng sukses mengenai badan gw.
"Bawa helm sekalian" gw kirim pesan singkat ke Shinta
Gw nyalakan sebatang rokok lalu menghisap nya dalam-dalam. Gw hembuskan gumpalan asap putih dari mulut gw.
Setelah beberapa waktu tinggal di rumah mamah, gw merasakan perhatian dari orang tua yang sudah lama tidak gw rasakan. Mamah begitu perhatian ke gw. Dia sudah menganggap gw sebagai anak kandungnya sendiri. "Apakah seperti ini juga perhatian Mamah ke alm Pratama?" tanya gw dalam hati. Bahkan orang tua kandung gw pun tidak pernah se perhatian itu ke gw.
Mamah selalu menelpon gw jika terlambat pulang. Katanya, dia khawatir jika terjadi apa-apa dengan gw. Padahal semasa masih tinggal di rumah eyang, gw ga pernah dicari walaupun gw tidak pulang sampai pagi haha.
"Mau kemana sih?" kedatangan Shinta membuyarkan lamunan tentang keluarga baru gw
"Kendal" ucap gw
"Ngapain?" tanya dia
"Jalan-jalan" jawab gw
Motor gw titipkan di bengkel, kami menuju kendal dengan menggunakan motornya Shinta. Dengan santai, gw jalankan kendaraan ini membelah kepadatan lalu lintas kota Semarang. Jalanan sudah agak macet kala itu, karena hampir bertepatan dengan jam pulang kerja.
Kedua tangan Shinta memeluk erat tubuh gw dari belakang. Tak banyak percakapan dari kami berdua. Sepanjang jalan, kami menikmati perjalanan ini dengan diam. Namun, sikapnya menunjukan bahwa ia sangat nyaman dengan kebersamaan ini.
"Kok masuk hutan-hutan yang?" tanya Shinta saat memasuki Cagar Alam Pagerwunung Darupono, Kaliwungu, Kendal
"Emang lewat sini, bentar lagi ada tempat bagus buat lihat sunset" jelas gw
Beberapa waktu kemudian, kami sampai di tempat tujuan. Gw lihat dari spion kanan, Shinta begitu takjub dengan tempat yang gw maksud.
Di jalan raya Kaliwungu - Boja ada Hutan pinus di sebelah Timur jalan. Dan di sebelah barat jalan, ada seperti padang rumput yang luas. Jadi, kita bisa lihat sunset dengan jelas.
Gw parkirkan motor di bawah jajaran pohon-pohon karet. Motor gw hadapkan ke Selatan, dan kami duduk menyamping menghadap barat.
"Tempat nya bagus yang.. Kok kamu tau tempat kayak gini?" tanya Shinta
"Aku kan mantan Bolang ehehe" jawab gw ngawur
Kami menikmati matahari terbenam dalam diam. Kakinya disilangkan, dan kepalanya disandarkan di bahu gw
Ada satu hal yang sebenarnya menjadi beban pikiran bagi gw ketika dengan Shinta. Yaitu ketidak sukaan ibunya ke gw, Shinta pun menyadari itu. Ibunya agak ga suka jika gw dekat dengan anaknya. Ya mungkin karena gw terkenal sebagai anak-anak madesu di kampung.
Namun berbanding terbalik dengan Bapaknya. Beliau menaruh kepercayaan penuh ketika Shinta pergi dengan gw. Yang terpenting jangan macam-macam, itulah yang di pesan Beliau ke gw. Beliau sangat dekat dengan Eyang gw. Beliau sering bertemu dengan Yangkung di acara-acara kampung maupun di masjid. Jadi, setidaknya Beliau tau sifat asli gw dari Yangkung.
Bukan seperti Ibunya Shinta, yang tau sifat dan perilaku gw dari orang-orang yang tidak mengenal betul diri gw. Eh, tapi ngerumpi kan emang kebiasaannya emak-emak.
japraha47 dan 12 lainnya memberi reputasi
13