- Beranda
- Stories from the Heart
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish
...
TS
congyang.jus
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish

Tuhan tidak selalu memberi kita jalan lurus untuk mencapai suatu tujuan. Terkadang dia memberi kita jalan memutar, bahkan seringkali kita tidak bisa mencapai tujuan yg sudah kita rencanakan diawal. Bukan karena tuhan tidak memberi yg kita inginkan, tetapi untuk memberi kita yg terbaik. Percayalah, rencana Tuhan jauh lebih indah.
Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 13 suara
Siapa yang akan menjadi pemaisuri Raja?
Olivia
31%
Bunga
8%
Diana
15%
Zahra
15%
Okta
8%
Shinta
23%
Diubah oleh congyang.jus 04-03-2022 10:27
JabLai cOY dan 37 lainnya memberi reputasi
38
166.2K
793
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
congyang.jus
#181
Monster Pengerat
Kami berkumpul di warung dekat sekolahan untuk berangkat bersama2 ke tempat futsal. Sebagian dari akan menumpang kendaraan bak terbuka karena motor yang tersedia tidak cukup untuk kami semua, gw adalah salah satunya. Mbak Oliv sudah pulang terlebih dahulu karena tidak mau ikut.
Kami duduk di pinggiran jalan menunggu kendaraan yang bisa ditumpangi. Mungkin hanya truk kecil atau mobil bak, karena truk pasir dan sejenisnya tidak akan melewati jalanan sekolahan kami.
Dari kejauhan terlihat sebuah truk tanpa bak hendak melintas, kami semua bersiap memblokade jalan. Mau tidak mau sang supir harus memberhentikan kendaraannya karena jalan sudah dicegat oleh segerombolan anak sekolah yang hampir tidak punya rasa takut. Gw langsung naik setelah truk tersebut berhenti.
"Numpang sampai depan om" ucap teman gw ke sang supir
Teman gw yang berada di atas kabin truk mengeluarkan bendera dengan warna khas aliansi sekolahan gw dari tas nya. "******** anti lari, ******** tak pernah mati" teriak anak sekolahan gw sambil mengibarkan bendera. Gw duduk di samping kanan truk menghadap ke seberang jalan, kedua kaki gw bergelantungan dengan bebas.
"Siap siap woy, gw dapet kabar dari yang naik motor kalo didepan banyak anak STM *sensor*" kata Robi. Jalan gw menuju tempat futsal memang melewati titik dimana banyak anak sekolah musuh menunggu angkutan kota.
"Ada badut bayar zakat. Permisi mbut, ******** all base mau lewat" teriak salah satu teman gw. Pelajar dari sekolahan musuh yang berada di kanan dan kiri jalan meneriaki kami agar turun dari truk yang kami naiki. Gw sudah memprediksi kalau mereka tidak akan melempari kami dengan batu karena jalanan yang agak padat. Bisa jadi pengguna jalan yang lain akan terkena lemparan batu jika mereka nekat.
"Majuin, majuin" ucap Akbar. Kami yang sebenarnya kalah jumlah turun dari truk dan berlari ke arah gerombolan pelajar musuh. Mereka yang tadi nya meneriaki kami agar turun malah berlari masuk ke gang
"Jangan kepancing woi, biarin" gw meneriaki teman2 gw agar tidak mengejar musuh. Kami akan dihadapkan musuh yang lebih banyak jika mengejar mereka, karena mereka berlari ke arah sekolahan. Fyi sekolahan mereka agak masuk ke gang.
Kami kembali naik ke atas truck tadi. Mereka meneriaki kami dan mengacungkan jari tengah begitu kami naik ke atas truk. Maunya apa coba? Nyuruh turun, diturunin malah pada lari. Pas udah naik, malah teriak2 ga jelas
"Ayam ayam.." teriak kami seiring berjalannya truk yang kami tumpangi. Seketika itu juga kami menjadi pusat perhatian bagi pengguna jalan yang melintas.
Tidak ada hambatan lagi setelah itu, kami semua selamat sampai tujuan. "Om berhenti om" teman gw yang berada di atas memukul kabin truk mengisyaratkan si supir agar berhenti.
"Makasih om" ucap gw ke si supir. Dia mengacungkan jempol tanpa berkata. Gw dan kawan2 berjalan ke stadium futsal yang berada di seberang jalan
"Tadi ribut sama STM *sensor* ga?" tanya Bagas yang terlebih dahulu sampai karena beboncengan naik motor dengan Kribo
"Koar koar doang, pada lari masuk sekolahan" jawab Akbar
Gw merokok di parkiran sambil menunggu jam main. "Nanti kabarin kalau sudah sampai rumah ya". Bunyi pesan elektronik yang gw dapat dari Shinta. "Iya" balas gw singkat ke Shinta. Sebelumnya, gw memberi tahu Shinta kalau gw akan bermain futsal. Belakangan ini, hubungan gw dan dia jauh lebih dekat. Shinta akan marah2 jika tahu gw masih dibengkel ketika sudah jam 10 keatas.
"Bagi rokok ja.." ucap Rico
"Ga ada mas, tadi gw ngecer di Mak'e" entah kenapa jika ada warung di dekat sekolah STM, dan yang jualan ibu2, pasti dipanggil Mak'e
Segerombolan pelajar berseragam putih abu2 memasuki parkiran stadium futsal.
"Anak mana tuh?" tanya Robi
"Paling anak SMA" jawab gw. Karena motor mereka mahal2 semua. Gw ga melihat motor pabrikan tahun 2007 kebawah. Semuanya motor baru. Bahkan ada yang bermobil. Jika ada segerombolan pelajar yang menunggangi kendaraan seperti itu, sudah dipastikan mereka adalah pelajar SMA.
"Mayan tuh, bisa ditodongi" ucap Robi
Mereka mulai turun dari kendaraan masing2. Ada ceweknya juga beberapa, mulus2 coy. Beda sama cewek STM. Seorang cewek keluar dari mobil yang harganya hampir sama dengan harga 3 rumah subsidi.
"Ngeliatin nya jangan sampai gitu" kepala gw digeplak Akbar
"Bening nda..
" ucap gw
"Kalo lo bisa dapetin kontaknya, gw beliin rokok dah" Bagas menantang gw untuk minta pin BBM cewek tersebut
"Woke deal
" balas gw dengan sangat yakin
Gw injak rokok yang baranya sudah hampir membakar filter nya dan berjalan melewati segerombolan cewek2 SMA tersebut. Dengan sengaja gw berpura2 tidak tahu keberadaannya.
"Raja.." Okta memanggil gw ketika lewat dihadapan dia dan teman2 wanita nya.
"Eh Okta, kok ada disini?" gw berpura2 terkejut dengan keberadaannya. Padahal gw udah tau dari awal dia keluar dari mobil
"Nemenin temen main futsal ja.." owalah, yang boncengin Okta naik mobil itu cuma temen. Masih aman lah
"Pin mu ganti ya ta?" tanya gw berbasa-basi
"Enggak, emang kenapa?" dia balik bertanya
"Kok ga bisa aku hubungin?, aku minta lagi dong" Akbar, Bagas, Kribo, Rico, dan Robi melihat gw dari kejauhan.
Okta mengucapkan kombinasi angka dan huruf pin BBM dia. Dan gw menuliskan nya di HP gw. Dari kejauhan, Bagas mulai tampak gelisah. Gw tersenyum penuh kemenangan ke arah dia.
"Siapa ta?" seorang cowok bertanya ke Okta
"Dia dulu pernah nolong aku waktu motorku mogok" jawab Okta
"Oh, makasih ya bro" ucap cowok tersebut ke gw
"Iya, nyantai aja" balas gw
"Ada rokok ga bos?" lanjut gw
Dia mengeluarkan sebungkus rokok mild yang masih sisa setengah bungkus lebih. Gw ambil satu batang, tapi dia menyuruh gw mengambil semuanya.
"Makasih bro, gw kesana dulu ya" gw menyalami cowok tersebut, berpamitan ke Okta, dan berjalan menuju kawan2 gw
"Nih, rokok.." gw memberi rokok ke teman2 gw
"Lo utang rokok sebungkus ke gw" ucap gw ke Bagas
"Lo dapet ajian darimana sih ja?, segala macam cewek nempel semua. Mana pacarnya ditodong rokok juga
" Akbar heran dengan gw yang bisa mendapatkan kontak Okta di hadapan cowok yang Akbar kira adalah pacarnya Okta. Dia ga tau kalau sebernya gw sudah kenal lama dengan Okta
Futsalnya gw skip ye, ga ada yang menarik. Futsalnya ga niat, capek teriak2 doang. Mainnya juga cuma sebentar. Orang satu lapangan dibuat main 50 orang lebih. Bayangin aja gimana penuhnya
Karena arah pulangnya berbeda2, anak yang ga kebagian tumpangan motor pada naik BRT. Gw turun di halte tepat depan gang kampung gw. Jarak jalan raya sampai rumah gw sekitar 3km an. Gw udah kayak orang ilang gan, jalan sendirian
"Mbak, numpang mbak" gw teriak ke seorang wanita yang berkendara dengan anaknya. Dia berhenti, dan gw berlari kecil ke arahnya.
"Tumben jalan kaki?" tanya dia
"Tadi habis futsal mbak, Mbak Oliv nya pulang duluan" jawab gw
Dia langsung melanjutkan perjalanan begitu gw naik ke atas motornya. Dia adalah seorang wanita beranak 1, rumahnya ada di dekat bengkel. Kabarnya, dia adalah istri kedua dari seorang pengusaha kaya. Jadi, suaminya itu cuma 2 atau 3 hari sekali berkunjung ke rumah nya. Anak2 bengkel lumayan akrab sama dia. Soalnya dia sering ngasih jajan juga ke anak2 bengkel. Kadang juga dia minta bantuan ke anak bengkel buat ganti lampu atau pekerjaan rumah yang biasanya dikerjakan laki. Walaupun sudah akrab, gw dan teman2 gw ga ada yang tau namanya
. Dia biasa dipanggil dengan panggilan 'mbak' sama anak2 bengkel.
"Turun mana ja?" tanya dia
"Turun bengkel aja mbak" jawab gw
Dia memberhentikan motor di pinggir jalan seberang bengkel. Gw ucapkan terimakasih, dan mencubit pipi anak ceweknya yang masih kecil. Lalu mbak mbak tersebut langsung melajukan motor ke arah rumahnya
Gw mampir ke bengkel terlebih dahulu. anak2 bengkel yang otaknya agak geser langsung mencecar gw dengan pertanyaan2 ngaco "gede ga?", "anunya warnanya apa?" dan pertanyaan2 sejenisnya. Lha dikira gw abis ngapain
Tak lama, Mbaknya balik lagi ke bengkel.
"Ada apa mbak?" tanya gw
"Tolong tangkepin tikus dong, itu di dapur ada tikusnya" ucapnya
Feri, Bagus dan gw berjalan ke arah rumah Mbaknya dan langsung masuk ke dapur.
"Itu tuh tadi di belakang tabung gas" ucap Mbaknya
Feri mengangkat tabung gas tersebut, Bagus sudah siap dengan sapu ijuk ditangannya. Nampak seekor tikus besar dibalik tabung gas berwarna hijau itu.
"Bacokin bodoh, bacokin" gw berteriak sambil berlari keluar dapur.
Bagus memukul dengan sapu. Namun pukulannya meleset, tikus tersebut berlari ke arah rak piring
Feri mendorong tikus tersebut dengan sapu agar dia mau keluar dari tempat persembunyiannya.
"Woi, itu bacok gus" teriak gw dari kejauhan
"Mati lo.." Sebuah pukulan maut dari bagus sukses membuat seekor monster pengerat menjadi koid. Bagus menenteng tikus tersebut dengan dipegang bagian ekornya.
"Lo ngapain teriak2 di situ?" tanya Bagus
"Jijik gw.."
Gw jijik sama segala jenis hewan pengerat, bahkan dengan hamster sekalipun. Entah kata orang kok hamster itu lucu, padahal kan masih sekeluarga sama tikus.
Bagus malah berjalan kearah gw dengan membawa tikus tersebut, gw langsung lari masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu dengan rapat. Entah kamar siapa gw ga peduli.
"Ini disate enak ja.." ucap Feri dari luar sambil tertawa. Gw tetap berdiam diri di dalam kamar. Sekitar satu menit kemudian, Mbaknya mengetuk pintu dan memberi tahu gw kalau Feri dan Bagus sudah pergi bersama monster pengerat tersebut.
Gw pun keluar sambil celingak-celinguk. Dan syukurlah mereka benar sudah pergi. Gw langsung pulang ke rumah setelah berpamitan dengan Mbaknya, tak lupa dia mengucapkan terimakasih ke gw.
Kami duduk di pinggiran jalan menunggu kendaraan yang bisa ditumpangi. Mungkin hanya truk kecil atau mobil bak, karena truk pasir dan sejenisnya tidak akan melewati jalanan sekolahan kami.
Dari kejauhan terlihat sebuah truk tanpa bak hendak melintas, kami semua bersiap memblokade jalan. Mau tidak mau sang supir harus memberhentikan kendaraannya karena jalan sudah dicegat oleh segerombolan anak sekolah yang hampir tidak punya rasa takut. Gw langsung naik setelah truk tersebut berhenti.
"Numpang sampai depan om" ucap teman gw ke sang supir
Teman gw yang berada di atas kabin truk mengeluarkan bendera dengan warna khas aliansi sekolahan gw dari tas nya. "******** anti lari, ******** tak pernah mati" teriak anak sekolahan gw sambil mengibarkan bendera. Gw duduk di samping kanan truk menghadap ke seberang jalan, kedua kaki gw bergelantungan dengan bebas.
"Siap siap woy, gw dapet kabar dari yang naik motor kalo didepan banyak anak STM *sensor*" kata Robi. Jalan gw menuju tempat futsal memang melewati titik dimana banyak anak sekolah musuh menunggu angkutan kota.
"Ada badut bayar zakat. Permisi mbut, ******** all base mau lewat" teriak salah satu teman gw. Pelajar dari sekolahan musuh yang berada di kanan dan kiri jalan meneriaki kami agar turun dari truk yang kami naiki. Gw sudah memprediksi kalau mereka tidak akan melempari kami dengan batu karena jalanan yang agak padat. Bisa jadi pengguna jalan yang lain akan terkena lemparan batu jika mereka nekat.
"Majuin, majuin" ucap Akbar. Kami yang sebenarnya kalah jumlah turun dari truk dan berlari ke arah gerombolan pelajar musuh. Mereka yang tadi nya meneriaki kami agar turun malah berlari masuk ke gang
"Jangan kepancing woi, biarin" gw meneriaki teman2 gw agar tidak mengejar musuh. Kami akan dihadapkan musuh yang lebih banyak jika mengejar mereka, karena mereka berlari ke arah sekolahan. Fyi sekolahan mereka agak masuk ke gang.
Kami kembali naik ke atas truck tadi. Mereka meneriaki kami dan mengacungkan jari tengah begitu kami naik ke atas truk. Maunya apa coba? Nyuruh turun, diturunin malah pada lari. Pas udah naik, malah teriak2 ga jelas
"Ayam ayam.." teriak kami seiring berjalannya truk yang kami tumpangi. Seketika itu juga kami menjadi pusat perhatian bagi pengguna jalan yang melintas.
Tidak ada hambatan lagi setelah itu, kami semua selamat sampai tujuan. "Om berhenti om" teman gw yang berada di atas memukul kabin truk mengisyaratkan si supir agar berhenti.
"Makasih om" ucap gw ke si supir. Dia mengacungkan jempol tanpa berkata. Gw dan kawan2 berjalan ke stadium futsal yang berada di seberang jalan
"Tadi ribut sama STM *sensor* ga?" tanya Bagas yang terlebih dahulu sampai karena beboncengan naik motor dengan Kribo
"Koar koar doang, pada lari masuk sekolahan" jawab Akbar
Gw merokok di parkiran sambil menunggu jam main. "Nanti kabarin kalau sudah sampai rumah ya". Bunyi pesan elektronik yang gw dapat dari Shinta. "Iya" balas gw singkat ke Shinta. Sebelumnya, gw memberi tahu Shinta kalau gw akan bermain futsal. Belakangan ini, hubungan gw dan dia jauh lebih dekat. Shinta akan marah2 jika tahu gw masih dibengkel ketika sudah jam 10 keatas.
"Bagi rokok ja.." ucap Rico
"Ga ada mas, tadi gw ngecer di Mak'e" entah kenapa jika ada warung di dekat sekolah STM, dan yang jualan ibu2, pasti dipanggil Mak'e

Segerombolan pelajar berseragam putih abu2 memasuki parkiran stadium futsal.
"Anak mana tuh?" tanya Robi
"Paling anak SMA" jawab gw. Karena motor mereka mahal2 semua. Gw ga melihat motor pabrikan tahun 2007 kebawah. Semuanya motor baru. Bahkan ada yang bermobil. Jika ada segerombolan pelajar yang menunggangi kendaraan seperti itu, sudah dipastikan mereka adalah pelajar SMA.
"Mayan tuh, bisa ditodongi" ucap Robi
Mereka mulai turun dari kendaraan masing2. Ada ceweknya juga beberapa, mulus2 coy. Beda sama cewek STM. Seorang cewek keluar dari mobil yang harganya hampir sama dengan harga 3 rumah subsidi.
"Ngeliatin nya jangan sampai gitu" kepala gw digeplak Akbar
"Bening nda..
" ucap gw"Kalo lo bisa dapetin kontaknya, gw beliin rokok dah" Bagas menantang gw untuk minta pin BBM cewek tersebut
"Woke deal
" balas gw dengan sangat yakinGw injak rokok yang baranya sudah hampir membakar filter nya dan berjalan melewati segerombolan cewek2 SMA tersebut. Dengan sengaja gw berpura2 tidak tahu keberadaannya.
"Raja.." Okta memanggil gw ketika lewat dihadapan dia dan teman2 wanita nya.
"Eh Okta, kok ada disini?" gw berpura2 terkejut dengan keberadaannya. Padahal gw udah tau dari awal dia keluar dari mobil
"Nemenin temen main futsal ja.." owalah, yang boncengin Okta naik mobil itu cuma temen. Masih aman lah

"Pin mu ganti ya ta?" tanya gw berbasa-basi
"Enggak, emang kenapa?" dia balik bertanya
"Kok ga bisa aku hubungin?, aku minta lagi dong" Akbar, Bagas, Kribo, Rico, dan Robi melihat gw dari kejauhan.
Okta mengucapkan kombinasi angka dan huruf pin BBM dia. Dan gw menuliskan nya di HP gw. Dari kejauhan, Bagas mulai tampak gelisah. Gw tersenyum penuh kemenangan ke arah dia.
"Siapa ta?" seorang cowok bertanya ke Okta
"Dia dulu pernah nolong aku waktu motorku mogok" jawab Okta
"Oh, makasih ya bro" ucap cowok tersebut ke gw
"Iya, nyantai aja" balas gw
"Ada rokok ga bos?" lanjut gw
Dia mengeluarkan sebungkus rokok mild yang masih sisa setengah bungkus lebih. Gw ambil satu batang, tapi dia menyuruh gw mengambil semuanya.
"Makasih bro, gw kesana dulu ya" gw menyalami cowok tersebut, berpamitan ke Okta, dan berjalan menuju kawan2 gw
"Nih, rokok.." gw memberi rokok ke teman2 gw
"Lo utang rokok sebungkus ke gw" ucap gw ke Bagas
"Lo dapet ajian darimana sih ja?, segala macam cewek nempel semua. Mana pacarnya ditodong rokok juga
" Akbar heran dengan gw yang bisa mendapatkan kontak Okta di hadapan cowok yang Akbar kira adalah pacarnya Okta. Dia ga tau kalau sebernya gw sudah kenal lama dengan Okta
Futsalnya gw skip ye, ga ada yang menarik. Futsalnya ga niat, capek teriak2 doang. Mainnya juga cuma sebentar. Orang satu lapangan dibuat main 50 orang lebih. Bayangin aja gimana penuhnya
Karena arah pulangnya berbeda2, anak yang ga kebagian tumpangan motor pada naik BRT. Gw turun di halte tepat depan gang kampung gw. Jarak jalan raya sampai rumah gw sekitar 3km an. Gw udah kayak orang ilang gan, jalan sendirian

"Mbak, numpang mbak" gw teriak ke seorang wanita yang berkendara dengan anaknya. Dia berhenti, dan gw berlari kecil ke arahnya.
"Tumben jalan kaki?" tanya dia
"Tadi habis futsal mbak, Mbak Oliv nya pulang duluan" jawab gw
Dia langsung melanjutkan perjalanan begitu gw naik ke atas motornya. Dia adalah seorang wanita beranak 1, rumahnya ada di dekat bengkel. Kabarnya, dia adalah istri kedua dari seorang pengusaha kaya. Jadi, suaminya itu cuma 2 atau 3 hari sekali berkunjung ke rumah nya. Anak2 bengkel lumayan akrab sama dia. Soalnya dia sering ngasih jajan juga ke anak2 bengkel. Kadang juga dia minta bantuan ke anak bengkel buat ganti lampu atau pekerjaan rumah yang biasanya dikerjakan laki. Walaupun sudah akrab, gw dan teman2 gw ga ada yang tau namanya
. Dia biasa dipanggil dengan panggilan 'mbak' sama anak2 bengkel."Turun mana ja?" tanya dia
"Turun bengkel aja mbak" jawab gw
Dia memberhentikan motor di pinggir jalan seberang bengkel. Gw ucapkan terimakasih, dan mencubit pipi anak ceweknya yang masih kecil. Lalu mbak mbak tersebut langsung melajukan motor ke arah rumahnya
Gw mampir ke bengkel terlebih dahulu. anak2 bengkel yang otaknya agak geser langsung mencecar gw dengan pertanyaan2 ngaco "gede ga?", "anunya warnanya apa?" dan pertanyaan2 sejenisnya. Lha dikira gw abis ngapain

Tak lama, Mbaknya balik lagi ke bengkel.
"Ada apa mbak?" tanya gw
"Tolong tangkepin tikus dong, itu di dapur ada tikusnya" ucapnya
Feri, Bagus dan gw berjalan ke arah rumah Mbaknya dan langsung masuk ke dapur.
"Itu tuh tadi di belakang tabung gas" ucap Mbaknya
Feri mengangkat tabung gas tersebut, Bagus sudah siap dengan sapu ijuk ditangannya. Nampak seekor tikus besar dibalik tabung gas berwarna hijau itu.
"Bacokin bodoh, bacokin" gw berteriak sambil berlari keluar dapur.
Bagus memukul dengan sapu. Namun pukulannya meleset, tikus tersebut berlari ke arah rak piring
Feri mendorong tikus tersebut dengan sapu agar dia mau keluar dari tempat persembunyiannya.
"Woi, itu bacok gus" teriak gw dari kejauhan
"Mati lo.." Sebuah pukulan maut dari bagus sukses membuat seekor monster pengerat menjadi koid. Bagus menenteng tikus tersebut dengan dipegang bagian ekornya.
"Lo ngapain teriak2 di situ?" tanya Bagus
"Jijik gw.."
Gw jijik sama segala jenis hewan pengerat, bahkan dengan hamster sekalipun. Entah kata orang kok hamster itu lucu, padahal kan masih sekeluarga sama tikus.
Bagus malah berjalan kearah gw dengan membawa tikus tersebut, gw langsung lari masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu dengan rapat. Entah kamar siapa gw ga peduli.
"Ini disate enak ja.." ucap Feri dari luar sambil tertawa. Gw tetap berdiam diri di dalam kamar. Sekitar satu menit kemudian, Mbaknya mengetuk pintu dan memberi tahu gw kalau Feri dan Bagus sudah pergi bersama monster pengerat tersebut.
Gw pun keluar sambil celingak-celinguk. Dan syukurlah mereka benar sudah pergi. Gw langsung pulang ke rumah setelah berpamitan dengan Mbaknya, tak lupa dia mengucapkan terimakasih ke gw.
Diubah oleh congyang.jus 18-08-2018 04:07
japraha47 dan 10 lainnya memberi reputasi
11