- Beranda
- Stories from the Heart
Terlanjur
...
TS
siaris
Terlanjur
WELCOME TO MY FIRST STORY
Quote:
Selamat datang di thread pertama nubi, gue akan berbagi sedikit pengalaman pribadi gue, tentang sebuah perjalanan hidup gue yang ga bakal bisa gue lupain seumur hidup gue. Semoga nubi diberi kesehatan sampai cerita ini selesai, dan tidak ada kentang diantara kita.
Quote:
PROLOG
"Beritau aku satu hal untuk gak ninggalin kamu."
"Karena kamu yang merubah hidupku Ndra."Kata Abi sambil terus memegang tangan gue, matanya terlihat berkaca kaca. Gue ga sanggup liat dia terus kayak gini, tapi apa mau dikata, nasi sudah jadi bubur.
"Merubah hidup kamu yah? Tapi sayangnya aku gak bisa. Aku udah hilang kepercayaan ke kamu. Mulai sekarang silahkan lakukan apa yang kamu mau, aku bukan siapa siapa kamu lagi." Sambil melepaskan tangannya dan meraih hitam gue, tanpa ucapan apapun lagi gue langkahkan kaki gue masuk ke dalam stasiun.
"Aku Terlanjur Cinta sama kamu Rendra."
"Terserah." Gue terus kan langkah kaki gue tanpa memperdulikan Abi. Semuanya sudah cukup.
Gue ga akan bisa lupa apa yang dia lakuin ke gue, ga akan pernah bisa.
"Karena kamu yang merubah hidupku Ndra."Kata Abi sambil terus memegang tangan gue, matanya terlihat berkaca kaca. Gue ga sanggup liat dia terus kayak gini, tapi apa mau dikata, nasi sudah jadi bubur.
"Merubah hidup kamu yah? Tapi sayangnya aku gak bisa. Aku udah hilang kepercayaan ke kamu. Mulai sekarang silahkan lakukan apa yang kamu mau, aku bukan siapa siapa kamu lagi." Sambil melepaskan tangannya dan meraih hitam gue, tanpa ucapan apapun lagi gue langkahkan kaki gue masuk ke dalam stasiun.
"Aku Terlanjur Cinta sama kamu Rendra."
"Terserah." Gue terus kan langkah kaki gue tanpa memperdulikan Abi. Semuanya sudah cukup.
Gue ga akan bisa lupa apa yang dia lakuin ke gue, ga akan pernah bisa.
Quote:
PART 1
Yogyakarta, Oktober 2008
Malam ini terasa sangat berbeda, berbaring hanya dengan beralaskan dinginnya lantai, angin malam masuk melalui celah celah kecil disudut ruangan. Mata ini sama sekali tidak bisa terpejam, walaupun hari ini terasa sangat melelahkan. Perasaan tak tenang seolah tak pernah lelah mengikuti kami kemanapun kami berada walaupun hanya sebentar. Terlihat sorot cahaya dari balik tirai jendela, tak ada satu orangpun dari kami yang bisa tenang dengan keadaan seperti ini.
Malam terus berlalu, rasa tegang kami sama sekali tidak hilang, langkah langkah kaki berat terus terdengar dari depan ruang kelas kami. Beberapa kali, pintu kelas kami terbuka dan seorang menyoroti kami dengan senter yang ada ditangannya, memeriksa kami apakah kami sudah tertidur atau belum. Tentu saja kami belum tidur, bagaimana bisa kami tidur dalam kondisi seperti ini?
Terdengar derap langkah kaki, terdengar begitu banyak, sangat sangat banyak.
Quote:
“Bangun kalian! Cepat pakai seragam lengkap!”
Seseorang langsung membuka pintu kelas yang kami tempati dengan keras, dan langsung memberi perintah untuk bersiap siap, untuk kegiatan Jurit Malam.
Quote:
“3 menit kalian harus sudah pakai atribut dan langsung ke Indoor! Saya tidak mau tau!”
“Siap kak!”
“Siap kak!”
Tanpa aba aba lagi gue langsung mempersiapkan semua atribut OSIS lengkap yang sudah gue persiapkan sebelumnya dan gue sembunyikan ditempat yang menurut gue paling aman dari tangan tangan jahil. Semuanya sudah gue pakai, mulai dari topi sampai sepatu, gue yakin atribut yang gue pakai lengkap, jadi tidak ada alasan lagi untuk panitia mencari cari kesalahan dan memberi sanksi ke gue karena dinilai kurang disiplin.
Tanpa aba-aba lagi gue langsung lari keluar kelas dan langsung menuju ke Indoor.
Quote:
“Eh siapa yang suruh lu lari? Jalan jongkok!”
Waduh ini si berat jadinya, tapi dari pada gue kena omel dari senior mending gue nurut aja kata mereka. Dari kelas laki laki ke Indoor lumayan jauh juga, gue ga yakin kalau gw sanggup, karena semalam gue ga cukup makan, ditambah gue ga tidur sma sekali malam ini, tapi who care? Ini LDK semua harus bisa kuat pikir gw.
Lumayan lama gw jalan jongkok, kaki gue sudah mulai kram, gue coba berhenti sebentar dan sedikit gerakin jari jari kaki gw, katanya si bisa bantu biar gak kram. Gue liat dari arah kelas cewe belum ada yang keluar dari kelas, yah pakaian cewe emang lebih ribet, mesti pakek ini itu, belum yang pakai kerudung, tapi jarak kelas mereka lebih dekat ke Indoor dari pada kelas kami.
Setengah perjalanan berhasil gue tempuh, kaki gue udah mulai kram berat, nafas gue juga udah gak beraturan, sedangkan senior gw masih teriak teriak disamping gue biar cepet jalan, mereka enak cuman kasih komando aja, mereka ga ngerasain gimana ga enaknya gini. Gw paling ga suka sama cara yang mereka bilang senioritas, emang menurut gue senioritas perlu ada, cuman kalau gini namanya si udah bukan senioritas lagi, lebih ke arah balas dendam mereka. Tapi mau gimana lagi, gue ga ada kekuatan atau hak apapun disini.
Sampai didepan Indoor ternyata gue sampai pertama, yang lain masih jauh dibelakang gue, akhirnya gw putusin buat masuk duluan. Didalam suasana terasa semakin tegang, semua mata senior mengarah ke gw, ditambah penerangan didalam sini hanya ada beberapa lilin yang menyala redup, tanpa perintah gue lari ke tengah Indoor dan berbaris.
Cukup lama gue nunggu dan akhirnya semua peserta udah masuk, dan sekarang saatnya yang gue bilang sesi menghina. Kenapa gue bilang gitu? Karena disesi ini para senior bebas ngomong apa aja tentang kami, tanpa ada gangguan dari pengawas. Gue si ga terlalu mikirin, namanya juga manusia pasti bikin salah kan?
Sesi menghina selesai, gue denger ada beberapa dari peserta yang nangis, mungkin mentalnya masih kurang kali, buat nerima hinaan senior. Sekarang saatnya untuk pengecekan atribut, siapapun yang tidak lengkap atributnya akan dapat sanksi berupa 5 push up per kesalahannya, jadi kebayang kan kalau sampai enggak lengkap sama sekali.
Pengecekan atribut dimulai dari ujung kanan, dan posisi gw tepat di kedua dari ujung kiri, jadi gw kedua terakhir. Beberapa peserta udah mulai dicek dan ada beberapa yang langsung mundur keluar dari barisan, dan itu artinya mereka ada yang tidak lengkap. Disini kita ga bisa saling bantu, jadi gue hanya bisa berdoa kalau atribut yang gue pakai sekarang lengkap.
Tibalah giliran gue yang di cek, gue ngerasa sedikit aneh ketika para senior mengecek atribut gue, gue penasaran apa yang aneh sama penampilan gue.
Quote:
“Eh, nama lu siapa?”tanya Ka Raffi dengan sedikit tertawa.
“Nama saya Haris Narendra kak”
“Lu yakin, kalau yang lu pakai sekarang tuh bener?” sekarang nadanya berubah menjadi mengejek.
“Siap yakin ka”
“Nama saya Haris Narendra kak”
“Lu yakin, kalau yang lu pakai sekarang tuh bener?” sekarang nadanya berubah menjadi mengejek.
“Siap yakin ka”
Ka Raffi dan senior yang lain langsung tertawa, emang apa yang salah dari atribut gue? Kemudian Ka Raffi langsung mengambil nametag yang ada di saku baju gue.
Quote:
“Lu baca yang keras semua yang ada di name tag ini.”
“Siap ka. “Pelatihan Dasar Kepemimpinan OSIS Tahun 2005. Nama, Haris Narendra. Jabatan, seksi bidang 9.””
“Sekarang lu baca yang keras, badge nama yang nempel di baju lu.”
“Siap ka. “Pelatihan Dasar Kepemimpinan OSIS Tahun 2005. Nama, Haris Narendra. Jabatan, seksi bidang 9.””
“Sekarang lu baca yang keras, badge nama yang nempel di baju lu.”
Gue langsung nengok ke arah badge nama yang ada di dada kanan gue, dan gue terkejut, ternyata baju yang gue pakai bukan baju gue, tapi baju punya Galang Wahyu P. Waduh salah pakai baju orang nih gue.
Quote:
“Eh siapaa gue tanya”
“Siap Galang Wahyu P.”
“Wahh, belum jadi OSIS aja udah maling lu, gimana nanti pas udah jadi anggota, mau maling di sekretariat?”ucapnya dengan nada mengejek.
“Siap Galang Wahyu P.”
“Wahh, belum jadi OSIS aja udah maling lu, gimana nanti pas udah jadi anggota, mau maling di sekretariat?”ucapnya dengan nada mengejek.
Gue bener bener ga tau, apa mungkin gue salah ambil baju? Tapi ga mungkin juga, soalnya semua atribut gue jadiin satu, jadi ga mungkin ketuker. Dan gw langsung disuruh mundur sama Ka Raffi. Yah udah lah lagi sial mungkin lagian satu kesalahan doang mah gampang.
Dan ternyata temen di sebelah gue juga disuruh mundur juga, lagi sial juga nih anak, tapi siapa nih orang?
Quote:
“Kena juga lu?”bisik gw
“Iya lah baju gue ketuker sama punya lu.”
“Lah ternyata lu yang namanya Galang. Kok bisa baju gue ketuker sama punya lu?”
“Mereka tuker pas kita lagi kegiatan outdoor tadi, soalnya baju gue juga gue buntel jadi satu, tapi masih aja ilang. Itu yang paling mungkin.”
“Iya juga yah, ya udah lah terima nasib aja”
“Iya lah baju gue ketuker sama punya lu.”
“Lah ternyata lu yang namanya Galang. Kok bisa baju gue ketuker sama punya lu?”
“Mereka tuker pas kita lagi kegiatan outdoor tadi, soalnya baju gue juga gue buntel jadi satu, tapi masih aja ilang. Itu yang paling mungkin.”
“Iya juga yah, ya udah lah terima nasib aja”
Setelah diberi hukuman, dilanjutkan dengan beberapa kegiatan jurit malam pada umumnya. Jalan ditengah malam, diiringi dengan senior senior yang berpura pura menjadi hantu dan sebagainya. Jalur yang kami lalui cukup jauh, kegiatan baru selesai sekitar pukul 4 dini hari. Semoga ini benar benar selesai.
Kegiatan kembali dilanjutkan sekitar pukul 8 pagi, kami diminta untuk datang ke ruang kerja OSIS untuk mengikuti materi lanjutan. Beberapa senior tidak hadir didalam ruang kerja, hanya beberapa yang hadir karena mereka menjadi pemateri kali ini, mungkin mereka masih istirahat setelah kegiatan jurit malam tadi. Kami juga sebenarnya masih ingin istirahat, hampir kebanyakan peserta memiliki kantung mata mereka sendiri karena selama 2 hari ini kami kurang tidur.
Materi kali ini adalah tentang penyusunan proposal. Beruntung peemateri kali ini adalah senior yang menurut gue paling baik, Kak Bifi. Dia jarang sekali ikut ambil bagian ketika teman teman seniornya melakukan perpeloncoan kepada juniornya. Dia lebih suka hanya memperhatikan daripada ikut bergabung bersama temannya.
Diruang kerja gue duduk di barisan belakang, karena sadar badan gue cukup tinggi, gue ga mau menghalangi peserta lain, dan juga gue sama sekali gak akrab sama peserta lain, gue hanya sekedar tau nama nama mereka, gue pikir si nanti juga sambil jalan juga bakal akrab.
Quote:
“Ya sekarang materinya proposal. Kamu tolong bagi ini, setiap anak satu.”
Kak Bifi langsung menyuruh Dimas, yang duduk tepat didepan kak Bifi untuk membagikan selembar kertas buram kepada kami. Gue pikir si paling belajar bikin proposal, ah kalau gini si gampang.
Quote:
“Sekarang kalian bentuk kelompok kalian masing masing, 1 kelompok 2 orang. Bebas dengan siapa saja. Saya keluar dulu. Saya masuk harus sudah dapat kelompok. Dan jangan berisik.”
Gue kaget ketika Kak Bifi menyuruh kami untuk membentuk kelompok, dan kami sendiri yang membentuknya. Peserta lain langsung membentuk kelompok, karena kebanyakan memang ada yang sudah akrab, dan ada juga yang sekelas. Sedangkan gue masih bingung, gue belum dapet kelompok, gawat nih nanti pas Kak Bifi datang gue belum dapet kelompok.
Quote:
“Udah sekelompok sama gue aja.”Ucap seseorang dari samping gue, dan ternyata itu Galang
“Lah lu Lang. Belum dapet kelompok juga?”
“Kalau udah juga gue ga bakal ngajak lu.”
“Ok deh. Oiya, gw Haris Narendra, panggil aja Rendra. Seksi bidang 9.”
“Gue Galang. Seksi bidang 5.”
“Lah lu Lang. Belum dapet kelompok juga?”
“Kalau udah juga gue ga bakal ngajak lu.”
“Ok deh. Oiya, gw Haris Narendra, panggil aja Rendra. Seksi bidang 9.”
“Gue Galang. Seksi bidang 5.”
Galang ini orangnya sedikit lebih tinggi dari gue, badannya cukup besar, rambut sedikit keriting, dan kulitnya putih. Karena Kak Bifi cukup lama keluar jadi gue sama Galang ngobrol sebentar tentang kegiatan ini, orangnya asik juga untuk ngobrol sejauh ini, dan dia juga sependapat dengan gue tentang senioritas yang berlebihan dalam organisasi, jadi gue nyambung ngobrol sama dia.
Sekitar empat menit kemudian Kak Bifi masuk lagi ke ruang kerja, dan memberi sedikit pengertian dan menugaskan kami untuk membuat rancangan proposal. Kami diberi waktu satu jam untuk menyusun rancangan proposal yang nanti akan dipresentasikan. Didepan semua senior dan peserta lain.
Galang ternyata cukup pintar dalam pembuatan proposal, buktinya dia sudah paham semua yang dijelaskan Kak Bifi tadi didepan, dan pemikiran ide idenya juga sangat bagus. Hal yang gw pikirkan adalah membuat kegiatan budaya, sedangkan Galang berpikir untuk membuat kegiatan wirausaha, jadi kami putuskan untuk membuat rancangan proposal tentang pembuatan pekan wirausaha tradisional. Kami buat proposal semaksimal yang kami bisa, mengenai rancangan acara, hingga sampai ke masalah anggaran kami benar benar rencanakan matang matang.
Satu jam berlalu begitu cepat, semua peserta sudah selesai menulis rancangan proposal, termasuk juga kelompok gue. Sekarang saatnya untuk presentasi proposal, semua senior satu persatu masuk ke ruang kerja, dan langsung duduk sekenanya. Setiap kelompok maju dan mempresentasikan rancangan proposal mereka masing masing, beberapa mendapat sambutan cukup baik dari senior, ada juga yang mendapat komentar jelek, ya itu biasa si di organisasi.
Sekarang giliran gue dan Galang presentasi. Saat kami menyampaikan rancangan kami, para senior cukup serius memperhatikan kami. Bukan maksud sombong, tapi karena rancangan kami dinilai cukup lengkap. Setelah sesi presentasi, sekarang sesi tanya jawab. Pertanyaan pertama datang dari Kak Bifi.
Quote:
“Kenapa kalian mengambil tema ini?”tanya dia.
“Menurut kami ini akan menjadi peluang bagus untuk siswa siswi, karena wirausaha dibidang benda benda tradisonal memang sudah banyak, tapi dalam pemasarannya saya kira masih kurang baik.” Ucap Galang dengan penuh keyakinan
“Dan saya rasa ini juga akan meningkatkan kreatifitas dan kecintaan budaya kita sendiri.” Tambahku.
“Menurut kami ini akan menjadi peluang bagus untuk siswa siswi, karena wirausaha dibidang benda benda tradisonal memang sudah banyak, tapi dalam pemasarannya saya kira masih kurang baik.” Ucap Galang dengan penuh keyakinan
“Dan saya rasa ini juga akan meningkatkan kreatifitas dan kecintaan budaya kita sendiri.” Tambahku.
Kak Bifi mengangguk menandakan jawab kami cukup memuaskan, disusul beberapa pertanyaan lain dari senior, kami jawab pertanyaan pertanyaan tersebut secara bergantian, dan gue rasa senior cukup puas dengan jawaban kami. Selesai menjawab pertanyaan, kami langsung kembali ke tempat duduk kami, dan dilanjutkan dengan presentasi kelompok selanjutnya.
Setelah semuanya selesai, kami diberi waktu bebas sebelum nanti siang upacara penutupan. Waktu istirahat cukup lama, sekarang masih jam 11, upacara penutupan nanti jam 2, jadi waktu masih lumayan untuk tidur sebentar. Gue langsung ke kelas untuk merapikan barang barang gw dan istirahat sebentar. Mata gue bener bener berat karena rasa ngantuk berlebihan. Saat gue udah mulai tidur, Galang membangunkan gue, nih orang gak capek kali yak?
Quote:
“Woy bangun.”Kata Galang sambil mukul kaki gue
“Kenapa si? Ngantuk banget nih gue.”
“Ya gue tau, nanggung tidur sekarang nanti aja pas udah balik. Kita mau makan di angkringan depan. Ayok”
“Pada ngapain emang?”
“Ya makan lah, sarapan tadi kurang, emang lu kagak laper nasi segitu doang?”
“Kenapa si? Ngantuk banget nih gue.”
“Ya gue tau, nanggung tidur sekarang nanti aja pas udah balik. Kita mau makan di angkringan depan. Ayok”
“Pada ngapain emang?”
“Ya makan lah, sarapan tadi kurang, emang lu kagak laper nasi segitu doang?”
Perut gue emang masih laper banget, jatah sarapan tadi sangat sedikit. Lebih banyak lauknya dari pada nasinya. Katanya si jatah terakhir biar lebih enak makannya. Gue si lebih pilih nasi banyak lauk sedikit.
Quote:
“Ya udah bentar, gue ganti baju dulu.”
“Iya ini juga masih nunggu yang lain santai aja.”
“Iya ini juga masih nunggu yang lain santai aja.”
Gue bangun dari tidur dan ganti seragam gue dengan kaos oblong yang kiranya masih bersih.
Angkringan depan sekolah gue memang jadi favorit didaerah ini, karena memang dekat dengan beberapa SMA dan daerah perkantoran. Tempatnya memakai lahan kosong didepan sekolah, jadi cukup luas, ditambah harganya yang sangat terjangkau, dan soal rasa, sudah pasti enak. Juga alunan musik dari statsiun radio lokal yang menambah kesempurnaan angkringan ini.
Kita semua bareng kesana, gue jalan paling belakang, terlihat wajah wajah bahagia karena ini akan segera selesai, dan hanya tinggal menunggu waktu hingga kami dilantik jadi anggota OSIS baru. Gue hanya tersenyum melihat tingkah teman teman gue, keliatannya mereka sudah sangat akrab, termasuk Galang, yang berarti tinggal gue yang belum akrab sama mereka. Biarlah nanti waktu yang menuntun gue biar akrab sama mereka.
Sampai di angkringan, ternyata masih sangat sepi, karena memang baru buka, hanya ada beberapa orang dan dua pemilik angkringan ini, mas Husen dan mba Yuni. Kedatangan kami bak rombongan kelaparan, nasi yang tertata rapi di baki langsung habis diambil, bahkan mas Husen sampai mengambil tambahannya. Beberapa duduk di lesehan, sedangkan gue lebih memilih duduk di bangku gerobak.
Quote:
“Abis kegiatan apa Ndra?"Tanya mba Yuni penasaran.
“Ohh LDK mba, ini baru selesai nanti, lagi istirahat ini.”
“Oalah, ya nih tak kasih bonus, nasi tongkol.” Ucap mas Husen sambil memberikan sebungkus nasi kepadaku.
“Wah beneran nih mas?”
“Iya tau lah nek kamu makan sak gitu ga bakal kenyang”
“Makasih yo mas.”
“Ohh LDK mba, ini baru selesai nanti, lagi istirahat ini.”
“Oalah, ya nih tak kasih bonus, nasi tongkol.” Ucap mas Husen sambil memberikan sebungkus nasi kepadaku.
“Wah beneran nih mas?”
“Iya tau lah nek kamu makan sak gitu ga bakal kenyang”
“Makasih yo mas.”
Gue memang sudah akrab dengan mereka, kadang kalau senggang gue mampir kesini buat sekedar bantu bantu atau numpang dengerin radio.
Tanpa gue sadari ada beberapa senior yang ke angkringan, suasana yang tadi cukup ramai, jadi terasa sangat hening.
Quote:
“Udah gak usah gitu, kegiatan udah selesai juga.”Kata salah satu senior.
Gue ga terlalu merhatiin mereka, gue fokus ke nasi tongkol gue, dan suasana perlahan kembali seperti semula, para senior ikut berbaur dengan kami, pemandangan seperti inilah yang gue suka, antara senior dan junior akur.
Ketika gue minum es teh, tangan lembut mendarat tepat di bahu gue, dan gue tengok ke belakang ternyata itu Kak Bifi sama Kak Sena, ketua OSIS terpilih.
Quote:
“Eh kak, monggo kak.”Ucap gue dan langsung bergeser ke tepi bangku mempersilahkan kedua senior gue duduk.
“Makasih yak.” Ucap Kak Bifi
“Ndra, program lu tadi bagus tuh, masukin aja ke program kerja nanti.” Ucap Kak Sena.
“Eh, serius? Tapi itu cuman program biasa ka.” Kata gw heran.
“Ya itukan menurut lu Ndra, menurut gue si ya bagus. Tapi mungkin dibikin satu hari aja. Kita bahas besok besok lagi. Sekarang gue mau makan.” Kata kak Sena meyakinkan gue. Gue gak bakal mengira kalau program gue malah jadi pilihan langsung ketua OSIS. Antara kaget dan bangga.
“Ini isinya apaan aja Ndra? Lu sering kesini kan?” Kata kak Bifi memecah lamunan gue
“Eh, ohh. Yang karet kuning nasi tongkol, yang karet merah nasi sambal teri.”
“Makasih yak.” Ucap Kak Bifi
“Ndra, program lu tadi bagus tuh, masukin aja ke program kerja nanti.” Ucap Kak Sena.
“Eh, serius? Tapi itu cuman program biasa ka.” Kata gw heran.
“Ya itukan menurut lu Ndra, menurut gue si ya bagus. Tapi mungkin dibikin satu hari aja. Kita bahas besok besok lagi. Sekarang gue mau makan.” Kata kak Sena meyakinkan gue. Gue gak bakal mengira kalau program gue malah jadi pilihan langsung ketua OSIS. Antara kaget dan bangga.
“Ini isinya apaan aja Ndra? Lu sering kesini kan?” Kata kak Bifi memecah lamunan gue
“Eh, ohh. Yang karet kuning nasi tongkol, yang karet merah nasi sambal teri.”
Ga disangka gue makan duduk disamping calon ketua OSIS dan calon sekertaris OSIS. Setelah puas mengisi perut, kami semua kembali ke kelas untuk persiapan upacara penutupan. Upacara penutupan terlaksana dengan khidmat, dan ditutup dengan saling berjabat tangan.
Quote:
Diubah oleh siaris 04-10-2017 13:48
anasabila memberi reputasi
1
3.3K
Kutip
21
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
siaris
#15
Quote:
PART 2
Desember 2008
Tak terasa 1 bulan gue sudah menjalankan tugas menjadi anggota OSIS baru. Tergabung dalam seksi bidang 9, seksi bidang Teknologi dan Komunikasi, menjadikan gue cukup bangga, karena ini adalah seksi bidang yang difavoritkan setelah seksi bidang 6, Kepemimpinan. Dengan Kak Ardi sebagai koordinator seksi bidang 9 dan Bayu sebagai rekan gue, gue berharap bisa berguna banyak disini.
Sejauh ini seksi bidang 9 lah yang terasa kekompakannya. Setiap minggunya ada rapat khusus seksi bidang, untuk membahas beberapa program yang akan dilaksanakan kedepan. Disaat seksi bidang lain membahas tentang program mereka masing masing dengan penuh rasa tegang, hanya kami bertigalah yang membahasnya di angkringan depan sekolah. Jadi sedikit mengurangi rasa tegang.
Tibalah saatnya rapat terakhir sebelum pelaksanaan tugas OSIS pertama kami, yaitu Lomba antar kelas atau classmeeting. Lombanya dilaksanakan 1 minggu kedepan, cukup menguras tenaga, jadi kami harus bekerja ekstra keras untuk menyukseskan acara pertama kami.
Kali ini gue bertugas sebagai seksi perlengkapan
Quote:
“Jadi gimana persiapan semuanya?”Kata kak Sena
“Semuanya hampir lengkap tinggal masalah wasit sepakbolanya, dari kemarin kita sudah cari, kita ada 2 orang, sedangkan paling tidak kita butuh 3 untuk gantian.” Kata Agung selaku ketua panitia.
“Mungkin ada yang tau siapa yang kira kira bisa jadi wasit?”
“Semuanya hampir lengkap tinggal masalah wasit sepakbolanya, dari kemarin kita sudah cari, kita ada 2 orang, sedangkan paling tidak kita butuh 3 untuk gantian.” Kata Agung selaku ketua panitia.
“Mungkin ada yang tau siapa yang kira kira bisa jadi wasit?”
Kami semua hening, gue kemarin udah coba minta ke tetangga gue cuman dia masih ragu bisa atau nggak, jadi gue milih diam. Gue bisa aja minta Bapak gue yang cari, tapi ini urusan organisasi gue, gue harus pecahin masalah ini bareng OSIS.
Quote:
“Kak.”
Ditengah keheningan terdengar satu suara perempuan, semua mata otomatis tertuju kearah sumber suara itu. Seorang perempuan berambut panjang lurus terlihat mengangkat tangannya. Memang sudah satu bulan gue di OSIS, cuma gue masih ga terlalu paham sama nama nama mereka yang seangkatan gue. Tapi terkecuali untuk 2 anak, Galang dan anak perempuan ini, Abi namanya.
Ada alasan kenapa gue hafal sama anak ini, karena dia selalu menjadi yang paling berisik diantara kami semua. Sedangkan gue paling ga suka kalau dia berisik, dia dekat dengan semua anak di OSIS, kecuali gue. Gue hanya berurusan dengan dia hanya saat urusan OSIS saja, diluar itu gue sama sekali gak deket sama dia. Satu hal yang ga bisa gue hindari adalah dirinya yang cantik, rambutnya yang dia biarkan tergerai membuat gue kadang ga bisa menghindar untuk menatap betapa indahnya bentuk ciptaan Tuhan yang satu ini. Tapi itu semua itu seakan sirna bagi gue ketika dia mulai berbicara, benar benar mengganggu pendengaran gue.
Quote:
“Ya kenapa Bi?”Tanya Kak Sena
“Saya ada kenalan, dia pernah jadi wasit pertandingan sepakbola di daerah saya, mungkin dia bisa.” Kata Abi
“Coba kamu hubungi dia sekarang, kita perlu pastiin sekarang.”
“Iya baik kak, saya keluar dulu, mau telfon dia.”
“Silahkan”
“Saya ada kenalan, dia pernah jadi wasit pertandingan sepakbola di daerah saya, mungkin dia bisa.” Kata Abi
“Coba kamu hubungi dia sekarang, kita perlu pastiin sekarang.”
“Iya baik kak, saya keluar dulu, mau telfon dia.”
“Silahkan”
Abi langsung mengambil dompet biru kecil dari dalam tasnya, dan keluar dari ruangan. Sedangkan kami membahas hal lain mengenai kegiatan besok. Untuk tugas gue si dimulai nanti, jadi gue sekarang hanya perlu mendengarkan apa yang perlu dipersiapkan. Beberapa saat kemudian Abi masuk keruangan kembali dengan muka gembira dan langsung menghampiri Kak Sena dan Agung
Quote:
“Bisa kak, tapi dia minta konsumsi sama bayaran lebih. Gimana?”Katanya
Cukup lama gue liat mereka berdiskusi karena dana untuk wasit sudah tetap di proposal dan jika ditambahkan ke satu orang, maka tidak etis rasanya. Tapi melihat ada kelebihan dana makanya diputuskan untuk mengambil wasit itu, dari pada kita ambil resiko katanya. Rapat ditutup dengan yel yel kami untuk penambah semangat.
Kami langsung menuju ke lapangan untuk mempersiapkan lapangan, memasang jaring ke gawang, memompa bola dan berbagai hal lainnya. Walaupun kami bekerja bersama, gue sebagai seksi perlengkapan memiliki tanggung jawab besar dalam pengadaan perlengkapan perlombaan. Gue harus cek kesana kemari memastikan semuanya lengkap, jika tidak lengkap gue lah orang yang pertama disalahkan.
Setelah memasang jaring di gawang gue putuskan untuk istirahat sejenak dibawah pohon mangga, hari ini sedang panas panasnya, kemungkinan nanti malam hujan nih. Tak berapa lama Galang dan beberapa anak lainnya ikut menepi karena cuaca semakin panas.
Quote:
“Gila panas bener nih hari, es jeruk enak kali yak.”Kata Galang
“Malah sakit lu nanti panas panas gini minum es.” Jawab gue
“Cie abang peduli nih. Hahaha.”
“Najis gue, lu inget besok acara pertama, lu meriang gue yang repot.”
“Malah sakit lu nanti panas panas gini minum es.” Jawab gue
“Cie abang peduli nih. Hahaha.”
“Najis gue, lu inget besok acara pertama, lu meriang gue yang repot.”
Obrolan ditengah cuaca panas ini untuk cukup membuat kami kehausan, botol air mineral yang baru gue beli juga udah habis. Mau jalan kekantin rasanya sangat berat, keringat benar benar membasahi tubuh gue. Gue inget tadi ada kardus penuh air di sebelah gawang, tapi kok gue liat ga ada lagi yah.
Quote:
“Lu liat kardus air kagak disitu tadi.”Kata gue sambil menunjuk ke gawang
“Dibawa tadi sama cewek cewek tadi.” Kata Iqbal
“Kemana Bal?”
“Ya mana gue tau lah.”
“Dibawa tadi sama cewek cewek tadi.” Kata Iqbal
“Kemana Bal?”
“Ya mana gue tau lah.”
Dan sangat kebetulan, beberapa anak perempuan membawa sekardus air mineral dan snack. Wah tau aja lagi haus.
Quote:
“Nih dibagi snack sama minumnya.”Ucap Dewi
Tanpa basa basi lagi kami semua langsung menyerbu kardus berisi minum.
Quote:
“Santai kali masih banyak.”
“Yehh, lu enak kerja didalem ruangan, kita kita nih panas gini juga.”Ucap Galang dengan sedikit ketus.
“Kalem bisa kali Lang.” Ucap Abi
“Yehh, lu enak kerja didalem ruangan, kita kita nih panas gini juga.”Ucap Galang dengan sedikit ketus.
“Kalem bisa kali Lang.” Ucap Abi
Gue mengambil 2 gelas air dan 1 bungkus snack, sangat lega rasanya ada air masuk di tenggorokan gue. Sesaat kemudian mereka berkumpul, dan mulai lah hal yang paling gue gak suka disini, berisiknya si Abi. Mulutnya itu terus berbicara tanpa henti, walaupun yang lain ikut bicara juga, tapi dialah yang paling berisik. Jadi gue putuskan untuk memisahkan diri dari kelompok itu dan pindah ke pohon mangga sebelah. Disini lebih tenang rasanya, gue buka bungkusan snack warna putih itu, wah isinya lumayan bikin kenyang nih, langsung gue ambil risol semoga isinya sayur.
Quote:
“Hey.”
Tiba tiba suara yang sangat gue kenal terdengar sangat dekat dengan gue. Abi ngapain duduk disebelah gue coba.
“Oh hey.”Balas gue dengan nada datar
“Lu ngapain disini? Gak ikut ngumpul disana?”
“Ya gak papa, pengin aja.”
“Enak nggak?”
“Hah? Enak apaan?” gue sempat kebingungan saat dia tiba tiba tanya itu.
“Snacknya.”
“Ohh, gue aja baru makan risolnya, enak si risolnya.”
Tiba tiba suara yang sangat gue kenal terdengar sangat dekat dengan gue. Abi ngapain duduk disebelah gue coba.
“Oh hey.”Balas gue dengan nada datar
“Lu ngapain disini? Gak ikut ngumpul disana?”
“Ya gak papa, pengin aja.”
“Enak nggak?”
“Hah? Enak apaan?” gue sempat kebingungan saat dia tiba tiba tanya itu.
“Snacknya.”
“Ohh, gue aja baru makan risolnya, enak si risolnya.”
Dia hanya diam tanpa membalas ucapanku, biarin lah, lebih enak dia diam dari pada berisik. Cukup lama kami saling diam, tidak ada satu kata pun keluar dari mulut kami. Sampai akhirnya di langsung pergi meninggalkan gue, dia hanya melempar senyuman ke gue. Subhanallah, sungguh gue bersyukur bisa melihat ciptaan indahmu ini. Dan gue balas senyumannya juga. Setelah Abi pergi Galang langsung dateng.
Quote:
“Gila lu Ndra.”Kata Galang
“Kalau gue gila, gue kagak sekolah disini.” Kata gue sekenanya sambil makan puding coklat
“Lu normal kagak si? Cewek secantik Abi lu diemin.”
“Lah emang gue suruh ngapain?”
“Wah parah lu.”
“Lagian gue udah bilang gue gak suka dia. OK. Kerja kerja, udah lumayan nih, gak panas banget. Cepet selesai cepet pulang.”
“Kalau gue gila, gue kagak sekolah disini.” Kata gue sekenanya sambil makan puding coklat
“Lu normal kagak si? Cewek secantik Abi lu diemin.”
“Lah emang gue suruh ngapain?”
“Wah parah lu.”
“Lagian gue udah bilang gue gak suka dia. OK. Kerja kerja, udah lumayan nih, gak panas banget. Cepet selesai cepet pulang.”
Gue langsung membuang sampah snack dan air minum ke tong sampah.
Quote:
“Iya iya pak.”Kata Galang sambil bangun dari duduknya.
Semua persiapan udah selesai, kami langsung kembali ke ruang OSIS dan pamit untuk pulang. Kami langsung berpencar, ada yang ke parkiran karena bawa motor, ada juga yang langsung kedepan sekolah untuk cari angkutan umum. Gue? Gue nyelip lewat pintu belakang sekolah. Rumah gue tepat berada di kawasan perumahan belakang sekolah, males gue kalau harus putar sekolah dulu, kalau lewat belakang gini kan lebih cepat.
Rumah gue berada di blok E4, yang mana komplek paling jauh dari pintu masuk. Meskipun perumahan ini cukup besar, tapi sebagian penghuni perumahan ini bukan lah orang asli sini, tapi mereka hanya membeli rumah, dan hanya ada orang saat musim liburan tiba. Jadi kalau hari hari biasa seperti ini terlihat pemandangan rumah besar yang kotor terasnya.
Rumah gue juga sepi, dirumah biasanya hanya ada gue dan kakak gue, ramainya rumah gue ya pas sore sampai malam saja. Sampai dirumah gue liat motor matic hitam kakak gue masih terparkir, berarti dia dirumah.
Quote:
“Assalamualaikum”
Kakak angkat perempuan gue, Mba Dinda, lagi tiduran malas malasan di sofa.
“Waalaikumsallam, baru balik Ris?”
“Iya mba, nyiapin lomba besok. Belum balik bapak ibu?”
“Udah, lagi keluar kemanaaa tadi gitu. Dah makan belum, kalau belum tuh ada ayam geprek mas Jo di meja dapur. Cabai 8.”
“Tumben nihh, mau apaan sekarang??”
“Hehehe tau aja, bikinin poster Ris buat kampus nih.”Katanya sambil nyengir
“Buat kapan emang?”
“Tanggal 28, poster acara kampus mba.”
“Ya nanti mba ceritain aja gimana, sekarang Haris mau mandi, makan sama sholat dulu.”
Kakak angkat perempuan gue, Mba Dinda, lagi tiduran malas malasan di sofa.
“Waalaikumsallam, baru balik Ris?”
“Iya mba, nyiapin lomba besok. Belum balik bapak ibu?”
“Udah, lagi keluar kemanaaa tadi gitu. Dah makan belum, kalau belum tuh ada ayam geprek mas Jo di meja dapur. Cabai 8.”
“Tumben nihh, mau apaan sekarang??”
“Hehehe tau aja, bikinin poster Ris buat kampus nih.”Katanya sambil nyengir
“Buat kapan emang?”
“Tanggal 28, poster acara kampus mba.”
“Ya nanti mba ceritain aja gimana, sekarang Haris mau mandi, makan sama sholat dulu.”
Ya beginilah kakak gue, aslinya memang baik, Cuma kalau lagi ada maunya bakal jadi lebih baik. Biasanya aja gue nitip beli makan dia gak mau, padahal tempatnya sebelahan. Orangnya ga terlalu tinggi, paling sebahu gue, cukup cantik juga, ramah sama semua orang, pintar juga, rajin ibadah, karena udah dari kecil kami dibiasakan sama orang tua kami untuk rajin untuk ibadah. Mungkin ini lah yang jadi penyebab dia sering dibilang primadona kampusnya saat ini. Tapi kalau sudah sampai rumah, dia berubah jadi sangat pemalas. Keluar rumah hanya untuk tugas, selesai tugas, dia langsung pulang kerumah. Dirumahpun selesai mengerjakan tugasnya, kalau nggak tiduran di sofa sambil nonton tv, pasti tiduran dikamar sambil baca novel. Mba Dinda sekarang sedang kuliah di salah satu universitas favorit di kota Yogyakarta, dan dia ambil jurusan arsitektur.
Gue adalah anak kandung semata wayang, dan anak kedua di dalam keluarga gue ini. Mba Dinda menurut cerita dari ibu gue, diadopsi karena dulu orang tua gue susah dapat keturunan. Jadilah mereka ikut saran dari nenek gue, katanya si buat pancingan gitu. Dan entah kebetulan atau gimana, beberapa tahun kemudian ibu gue hamil, dan itu adalah gue.
Meskipun Mba Dinda ini anak angkat, orang tua gue selalu bersikap adil kepada kami berdua, tidak ada perbedaan sikap yang mereka berikan. Misal kalau Mba Dinda beli sepatu, gue pasti ikut dibeliin juga. Kami sudah seperti saudara kandung, waktu kecil gue selalu main bareng sama Mba Dinda, entah main apapun itu. Itu karena komplek perumahan kami memang sangat sepi, jadi hanya ada beberapa anak sebaya gue, itu juga rumahnya berjauhan, jadi Mba Dinda selalu jadi teman bermain gue.
Gue masuk kekamar tidur gue di lantai dua rumah, dan langsung membuka jendela, biar ada sirkulasi udara. Kamar gue ini rencana awalnya adalah gudang, tapi sewaktu keluarga gue pindah kerumah ini, gue minta ruang ini jadi kamar gue. Gue lebih suka disini, gak terlalu luas, saat gue buka jendela langsung terlihat pematang sawah. Dinding kamar gue penuh dengar hasil gambar dan lukisan iseng gue. Menggambar dan melukis jadi hobi gue dari kecil, gue lebih suka gambar sketsa dan perspektif, dan gue kira karya gue ga jelek jelek amat, buktinya gue pernah beberapa kali masuk 10 besar karya terbaik di berbagai lomba, ya walaupun ga menang gue tetap bangga sama hasilnya. Dan sekarang gue lagi coba coba untuk merambah ke versi digital, gue mulai belajar berbagai software untuk gambar, seperti CorelDraw dan Photoshop. Maka dari itu gue kadang diminta sama beberapa orang untuk bikin poster dan sebagainya. Ya gue bantuin aja, asal gak gak ribet ribet banget, karena gue juga masih belajar.
Setelah bersih bersih dan sholat, gue ambil bungkusan nasi ayam geprek di dapur dan makan diruang tengah sambil dengerin kakak gue menjelaskan semua detil acara
Quote:
“Gitu Ris. Bisa kan?”Kata Mba Dinda menatap gue dengan penuh harap
“Ya asal ga terlalu ribet aja si gapapa. Kan Haris juga besok ada kegiatan OSIS, jadi ngerjainnya paling malem.”
“Iya gak papa, yang penting bisa.”
“Hmm”
“Ya asal ga terlalu ribet aja si gapapa. Kan Haris juga besok ada kegiatan OSIS, jadi ngerjainnya paling malem.”
“Iya gak papa, yang penting bisa.”
“Hmm”
Gue jawab sekenanya saja, karena mulut gue lagi penuh konsentrasi mengunyah ayam geprek. Mba Dinda juga masih tiduran di sofa sambil nonton tv sesekali mengecek handphonenya sambil memasang raut sebal.
Quote:
“Kenapa mba?”Tanyaku
“Ini ada temen mba, kayaknya pengin ngedeketin mba.”
“Dih GeEr amat mba, kayak ada yang mau aja.”
“Ihhh, gini gini banyak kali yang naksir.”
“Yaelah PD banget si.” Ucapku sambil tertawa.
Tanpa sadar sebuah bantal sofa mengarah ke gue, beruntung gue masih bisa mengindar
“Mba yang bener aja, lagi makan, nanti jatuh mubadzir.”
“Ya salah siapa juga lagi cerita malah di becandain.”
“Siapa emang mba?”
“Nih liat aja sendiri.”
“Ini ada temen mba, kayaknya pengin ngedeketin mba.”
“Dih GeEr amat mba, kayak ada yang mau aja.”
“Ihhh, gini gini banyak kali yang naksir.”
“Yaelah PD banget si.” Ucapku sambil tertawa.
Tanpa sadar sebuah bantal sofa mengarah ke gue, beruntung gue masih bisa mengindar
“Mba yang bener aja, lagi makan, nanti jatuh mubadzir.”
“Ya salah siapa juga lagi cerita malah di becandain.”
“Siapa emang mba?”
“Nih liat aja sendiri.”
Mba Dinda memberikan HPnya, gue taruh makanan gue di meja. Di HPnya mba Dinda gue liat serentetan SMS dari orang yang namanya Anwar. SMSnya si gue liat masih wajar wajar aja, ngajak makan juga masih bareng bareng sama yang lain. Mungkin emang bener kegeeran nih mba gue.
Quote:
“Kegeeran mba ah, orang biasa aja SMSnya.”Kata gue sambil naruh HPnya di meja dan ngambil makanan gue.
“Yehhh kalau kamu tau aja”
“Ya kan emang Haris ga tau mbaaa.”
“Udah ah, mba mau mandi.”
“Pantes bau banget dari tadi.”
Dan bantal sofa kedua melayang lagi kearah gue, dan sekarang tepat sasaran, nasi ayam geprek gue jatuh ke lantai.
“Ah kan dibilang juga apa.”
“Ya udah, tinggal bersihin aja kenapa si ribet amat.” Katanya sambil berjalan ke kamarnya
“Yehhh kalau kamu tau aja”
“Ya kan emang Haris ga tau mbaaa.”
“Udah ah, mba mau mandi.”
“Pantes bau banget dari tadi.”
Dan bantal sofa kedua melayang lagi kearah gue, dan sekarang tepat sasaran, nasi ayam geprek gue jatuh ke lantai.
“Ah kan dibilang juga apa.”
“Ya udah, tinggal bersihin aja kenapa si ribet amat.” Katanya sambil berjalan ke kamarnya
Ya walaupun baik, kadang gue kesel sama mba Dinda juga. Nasi berserakan dimana mana, ayam gepreknya masih lumayan banyak, sengaja gue sisain buat nanti terakhir. Dari pada mubadzir, gue ambil ayam gepreknya dan langsung gue makan, lumayan lah masih banyak, ada kulitnya juga.
Setelah selesai bersihin tumpahan nasi tadi, gue langsung kedapur buat rebus air, udah kebiasaan gue sore sore gini bikin teh. 1 kantung teh melati sudah masuk kedalam cangkir teh besar, dua sendok makan gula sudah cukup untuk gue. Sambil menunggu air mendidih, gue nyalain radio lama bapak gue, coba cari yang lagi nyiarin lagu lagu. Biasanya lagu lagu yang diputar diradio terasa lebih cocok ditelinga gue dari pada lagu yang disiarkan ditelevisi. Mendengar ceret udah berbunyi, tandanya air udah mendidih. Gue tuang air dalam ceret ke dalam cangkir, setengah cangkir terisi dengan air panas, aroma teh mulai tercium dihidung. Gue bawa teh gue ke kamar, mumpung masih sore, gue putuskan untuk mulai mendesain posternya mba Dinda, lebih cepat lebih baik pikir gue.
Quote:
“Riss, mba keluar dulu. Mau kerumah Nadia.”
Gw denger mba Dinda teriak keras banget dari bawah. Gue taruh teh gue di meja, dan keluar kamar dan nengok mba Dinda dari balkon.
“Kunci aja mba, bapak ibu bawa kunci kan?”
“Iya udah, jaga rumah.”
“Bentar lagi paling pulang bapak ibu.”
“Ya udah mba pergi. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam”
Gw denger mba Dinda teriak keras banget dari bawah. Gue taruh teh gue di meja, dan keluar kamar dan nengok mba Dinda dari balkon.
“Kunci aja mba, bapak ibu bawa kunci kan?”
“Iya udah, jaga rumah.”
“Bentar lagi paling pulang bapak ibu.”
“Ya udah mba pergi. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam”
Mba Dinda langsung keluar, terdengar suara pintu yang terkunci. Gue pun balik ke kamar dan berpikir mau dibuat gimana posternya.
Quote:
Jangan Lupa kasih komeng, Rate sama Cendol bila berkenan. 

Diubah oleh siaris 04-10-2017 13:50
0
Kutip
Balas