Kaskus

News

n4z1Avatar border
TS
n4z1
Sesama Kodam Diponegoro, Soeharto tak Masuk Jenderal Diculik Pasukan Letkol Untung
Sesama Kodam Diponegoro, Soeharto tak Masuk Jenderal Diculik Pasukan Letkol Untung

Sesama Kodam Diponegoro, Soeharto tak Masuk Jenderal Diculik Pasukan Letkol Untung

RIAU ONLINE - Indonesianis asal Amerika Serikat, Ben Anderson dan Ruth McVey, dalam karyanya, Cornel Paper, menceritakan peristiwa Gerakan 30 September 1965 (Gestapu) merupakan konflik internal di Angkatan Darat Indonesia kala itu dan menyangkut Kodam Diponegoro.

Tak hanya itu, sejarawan Asvi Warman Adam dalam bukunya, Menguak Misteri Sejarah, 2010, menyatakan, pandangan ini merupakan versi awal sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut.

Menurut Wakil Perdana Menteri/Menteri Luar Negeri/Kepala Badan Pusat Intelijen, Subandrio, walaupun sama-sama berasal dari Diponegoro terdapat trio dikorbankan (Soeharto, Untung, Latief) dan trio dilanjutkan (Soeharto, Yoga Sugomo, Ali Moertopo).

"Tentu terlihat jelas pelaku gerakan maupun menumpasnya berasal dari komando daerah militer yang sama," kata Asvi Warman Adam, dalam bukunya tersebut, Rabu, 27 September 2017.

Itu pula yang menjelaskan gerakan itu hanya tampil di Jakarta, dan di wilayah Kodam Diponegoro, Jawa Tengah dan Yogyakarta serta dapat dipadamkan dalam hitungan hari.

Alasan itu juga yang digunakan kenapa Soeharto tidak termasuk dalam daftar orang-orang yang diculik. Ia dianggap "kawan", minimal "bukan musuh".

Sejarawan asal Bukittinggi ini menganalisa, Soeharto dan Latief, keduanya sama-sama ikut dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta.

Pada malam 30 September 1965, Latief menjumpai Soeharto di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Bahkan beberapa hari sebelumnya, tulis Asvi, Latief dan istrinya sempat berkunjung ke rumah Soeharto di Jalan Agus Salim.

Meski tidak sedekat dengan Latief, Soeharto berhubungan baik dengan Untung. Di lain pihak, Yoga Sugomo dan Ali Moertopo, terbina ketika mereka melakukan serangkaian manuver mendukung Soeharto, sang atasan, sebagai Komandan Terotorium IV/Diponegoro.

Pada 6 juni 1962, terbentuklah pasukan Tjakrabirawa dengan satu batalyon Angkatan Darat dipimpin Letnan Kolonel Untung, sejak Mei 1965.

Letkol Untung-lah, selain LB Moerdani yang memperoleh Bintang Sakti diserahkan langsung oleh Soekarno, karena keberaniannya dalam Operasi Tritura di bumi Cenderawasih, Papua.


Ben Anderson, tutur mamak (paman) dari Direktur Utama Bank Riau Kepri, Irvandi Gustari ini, memulai analisanya dengan mengutarakan karakter "Jawa" dari Divisi Diponegoro. Sejak awal berdiri, Pangdamnya, komandannya hingga 1965, berasal dari tiga daerah, Banyumas-Kedu-Yogya.

"Jangan harapkan seorang Batak, Minang, atau Minahasa bisa menjabat sebagai komandan di Kodam Diponegoro, seperti yang terjadi di Siliwangi," tulis Asvi Warman.

Kodam Diponegoro terletak di wilayah padat penduduk, pangan tidak seimbang, faham komunisme dan sentimen anti-aristokrasi, cukup kuat.

Pada 4 agustus 1965, Presiden Sukarno mengalami stroke ringan dan beredarnya dokumen Gilchrist dan isu Dewan Djenderal akan melakukan kudeta pada 5 Oktober 1965, membuat suasana politik semakin memanas.

Maka sebagai komandan batalyon militer, tuturnya, Untung terpanggil menyelamatkan Presiden dari ancaman para jenderal tersebut dengan mendahului mereka melalui gerakan 30 september.

Walaupun namanya tertulis sebagai komandan gerakan tersebut, namun kenyataanya, Letkol Untung bukanlah pemimpin utama gerakan ini. Karena berbagai hal ditentukan oleh Sjam Kamaruzzaman dari Biro Chusus PKI.

Gerakan 30 September yang dilakukan secara ceroboh itu rontok dalam hitungan hari, karena ketiadaan satu komando. Pasalnya, terdapat dua kelompok pimpinan, militer (Untung, Latief, Sudjono) dan Biro Chusus PKI (Sjam, Pono, Bono). kedua kelompok ini terpecah, kalangan militer ingin mematuhi, namun Biro Chusus ingin tetap melanjutkan.

Ini dapat menjelaskan mengapa antara pengumuman pertama dengan kedua dan ketiga, terdapat selang waktu lima jam. Sesuatu dalam upaya kudeta kesalahan besar.

"Pada pagi hari, mereka umumkan Presiden selamat. Namun, siang harinya, sudah berubah drastis, pembentukkan Dewan Revolusi dan Pembubaran Kabinet. Dalam lima jam, operasi penyelamatan Presiden Soekarno berubah 180 derajat menjadi percobaan makar melalui radio," tuturnya.

Untung memang bukan komandan Gerakan 30 september 1965, yang sesungguhnya karena Sjam mengatur semuanya. Pada 1969, ia menjalani eksekusi tembak mati. Di dalam penjara di Cimahi, Untung menceritakan kepada Heru Atmodjo, ia tidak akan dieksekusi karena hubungan baiknya dengan Jenderal Soeharto. Namun, Untung memang tak beruntung.

Sesama Kodam Diponegoro, Soeharto tak Masuk Jenderal Diculik Pasukan Letkol Untung

http://www.riauonline.co.id/nasional...-letkol-untung
=========================

Usai Singkirkan Soekarno, Soeharto Campakkan Tiga Jenderal Loyalisnya

RIAU ONLINE - Penculikan disertai pembunuhan terhadap enam jenderal di Jakarta, kemudian dikenal dengan sebutan peristiwa Gerakan 30 September (Gestapu) 1965, hingga kini masih meninggalkan misteri, siapa pelaku dan otak dibalik itu semuanya.

Sisi lain dari Gestapu ini memunculkan seorang Soeharto, ketika itu berpangkat Mayor Jenderal, Panglima Komando Strategis TNI AD (Kostrad), yang luput dari penculikan terhadap jenderal-jenderal anti-komunis tersebut.

Zaman dulu, walau berpangkat bintang dua dan Pangkostrad, Soeharto tak miliki pasukan sebanyak Kostrad saat ini. Ia hanya memiliki pasukan yang diperbantukan, BKO-kan dari Kodam-kodam di Jawa, maupun Sumatera.

Salim Haji Said, dalam bukunya Gestapu 65 PKI, Aidit, Sukarno dan Soeharto, mengisahkan bagaimana kudeta gagal terhadap Bung Karno itu, termasuk intrik-intrik yang ada di dalamnya.

Pasca-Gestapu kekuatan militer dan politik terkristalisasi pada dua kubu, Pro-Sukarno dan Pro-Soeharto. Pada akhirnya, tentara yang pro-Soeharto-lah menjadi pemenang dengan menyingkirkan perwira-perwira tinggi loyalis Sukarno.

Loyalis-loyalis Sukarno itu disingkirkan dengan cara mencari-cari kesalahan mereka, apakah terlibat sebagai anggota maupun simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) serta menempatkan mereka bukan lagi di militer. Misal, sebagai duta besar atau dirjen atau jabatan non-militer selama ini dibanggakan.

Penyingkiran serupa inilah kemudian dipakai Soeharto saat memarkir, dan membuang jenderal-jenderal loyalisnya di kemudian hari, di zaman Orde Baru.

Padahal, jenderal-jenderal tersebut memiliki peranan sangat besar membantu Soeharto menyingkirkan Sukarno beserta tentara loyalisnya. Tentara, terutama TNI AD saling bahu-membahu bersama rakyat menghancurkan PKI.


Salim Said mengatakan, Soeharto memerlukan waktu dua tahun secara perlahan-perlahan menyempurnakan penguasaannya atas tentara. Selama proses tersebut, dalam kalangan tentara Soeharto harus menghadapi pendukungnya yang radikal sembari berurusan dengan pendukung Sukarno yang fanatik.

"Di pihak Soeharto, ada Jenderal Kemal Idris, Jenderal Harsono Rekso (HR) Dharsono serta Kolonel Sarwo Edhi. Mereka bertiga inilah yang loyal dan tegas terus mendesak agar Soeharto segera menyingkirkan Presiden Sukarno," tulis guru besar Politik tersebut.


Mantan wartawan Majalah Tempo di tahun 1970-an ini kemudian menjelaskan, di pihak loyalis dan pendukung fanatik Presiden Sukarno pada berbagai unit militer di Jawa Tengah dan Jawa Timur, tidak sulit ditemuka yang siap mati untuk sang Putera Fajar.

"Dari itu semua, loyalis Sukarno yang paling menonjol adalah Panglima Marinir, juga Wakil Panglima Angkatan Laut, Letnan Jenderal KKO Haryono," tulis Salim Said.

Dengan kecerdikan politik dan kesabarannya, jelas Salim, Soeharto bukan saja berhasil menyingkirkan para penentangnya dari berbagai satuan unit militer, melainkan juga dengan sangat dingin berhasil terbebas dari para perwira loyalis dan radikal pendukungnya.

Salim mencontohkan Jenderal Kemal Idris, terlempar ke Makassar, Sulawesi Selatan dan diberi jabatan sebagai Pangkowilhan, sebelum akhirnya perwira tinggi berdarah Minangkabau tersebut dikirim ke Beograd, Yugoslavia sebagai duta besar.

Padahal, Kemal Idris diangkat Soeharto sebagai Pangkostrad, penerusnya, sedangkan dirinya diangkat oleh Sukarno sebagai Panglima Angkatan Darat.

Nasib serupa juga dialami Jenderal HR Dharsono. Loyalis Soeharto ini kemudian dibuang menjadi duta besar ke Bangkok sebagai Duta Besar untuk Thailand.

"Untuk Sarwo Edhi, jenderal RPKAD, Kopassus itu dicampakkan ke Medan sebagai Pangdam Bukit Barisan sebelum akhirnya dibuang jauh-jauh ke Papua, sebagai Pangdam Cenderawasih," tulis Salim Said.

Terlemparnya Kemal Idris sebagai Duta Besar tak lepas dari semakin populernya prajurit yang pernah mengarahkan meriam ke Istana di zaman Presiden Sukarno, 17 Oktober 1952, di Indonesia bagian Timur.

"Kemal berhasil membawa rakyat dalam pembangunan. Mereka antusias. Mereka tidak menghalangi pembangunan. Kemal berhasil menenangkan kaum muda di Indonesia bagian timur. Dia terlalu populer di sana. Popularitas itu diperlukannya untuk memperoleh jabatan tertinggi. Dulu dia berani melawan Bung Karno sedang berada di puncak kejayaannya.Tentu dia akan berani pula melawan Soeharto," seperti tertulis dalam buku memoar Kemal Idris diangkat dari Majalah Tempo, dengan judul Memoar: Senarai Kiprah Sejarah, terbitan Grafiti, Juli 1993.

Sedangkan, Mayjen HR Dharsono semasa menjadi Pangdam Siliwangi pernah mengeluarkan Surat Perintah agar masyarakat Jawa Barat tidak dikunjungi atau mengunjungi mantan Presiden Indonesia, Soekarno, antara tahun 1968-1969. Kemungkinan ini diperintah Soeharto.

Sementara itu, Letjen Sarwo Edhi merupakan mertua Susilo Bambang Yudhoyono. Ia dengan pasukan RPKAD-nya memburu anggota dan simpatisan PKI hingga pelosok-pelosok di Pulau Jawa.


Hasilnya? Salim Said menjelaskan, Soeharto akhirnya berhasil berdiri tegak sebagai Panglima Angkatan Darat dan Ketua "Partai Tentara". Dari posisi kuat seperti itulah berangsur-angsur Soeharto memenangkan pertarungan politik dengan Sukarno.

"Presiden Sukarno tersingkir pada 1968 digantikan Jenderal Soeharto sebagai presiden kedua, setelah keluar sebagai pemenang selama dua tahun terjadi pertarungan politik (Power Strunggle) antara Soeharto melawan Sukarno," pungkasnya.
http://www.riauonline.co.id/nasional...ral-loyalisnya
============================


Sejarah selalu akan mencari kebenarannya sendiri, dengan caranya sendiri, walaupun dibelokkan sedemikian rupa, dia akan kembali kepada relnya, sesuai faktanya, meskipun terkubur jaman.

Sejarah, menurut banyak orang, adalah milik pemenang. Tapi seorang pemenang, tak akan pernah bisa berdiri diatas terus menerus. Selalu ada yang bisa menggantikan. Dan saat itulah sejarah akan berusaha mencari kebenaran dari apa yang ditulis seorang pemenang.

4 cuplikan sejarah diatas dan dibawah, dari kurun waktu yang berbeda, sesungguhnya hanya ingin mencari kebenaran yang pernah ditulis oleh seorang pemenang. Dan sejarah tak perlu dibaca penuh emosi. Sejarah itu untuk dipelajari, dipahami, dikaji.

Trit ini cuma buat arsip, yang bisa dibaca kapanpun bagi yang membutuhkan.
Dikomen syukur, gak dikomen ya gak masalah. emoticon-Big Grin
Diubah oleh n4z1 03-10-2017 03:15
0
36.4K
77
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
Berita dan Politik
KASKUS Official
692.4KThread57.5KAnggota
Tampilkan semua post
n4z1Avatar border
TS
n4z1
#1
Soeharto: Di Mana Syam?


Langkah Aristides Katoppo, wartawan senior Harian Sinar Harapan, berhenti sejenak di halaman parkir Kompleks Istana Kepresidenan, akhir Agustus 2015. Ia menunjuk salah satu sudut batas antara Kompleks Istana Kepresidenan dengan Kantor Sekretariat Negara.

Di sudut itu, katanya, 50 tahun lalu ia sempat mengobrol santai dengan (alm) Jenderal Ahmad Yani. Kira-kira satu bulan sebelum Gerakan 30 September 1965. Obrolan berlangsung santai mengenai desas-desus di kalangan jenderal tentara terkait pro dan kontra keberadaan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Saat itu, merebak ketakutan pada komunis, yang memang sedang berkembang pesat di Uni Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Ketakutan kepada siapa dan karena apa tidaklah jelas ujung pangkalnya. “Saat itu situasi sangat-sangat gawat. Kita tidak bisa tahu siapa kawan dan siapa lawan. Siapa melawan siapa tidak jelas, tetapi ada angin lesus (angin puting beliung) yang bertiup sangat kencang,” kenang Aristides. Di kalangan jenderal Angkatan Darat, ada aroma saling curiga yang tidak terungkap satu dengan yang lain.

Kepadanya, Jenderal Ahmad Yani mengatakan, selagi ia memimpin militer Indonesia, komunis tidak akan berkembang. “As long as I’m the commando of Indonesian military, the communist no way!” begitu kata-kata Jenderal Yani saat itu. Sebelum peristiwa 30 September, PKI adalah partai komunis terbesar ketiga di dunia setelah di Uni Soviet dan Tiongkok. Pada pemilu 1955, PKI menempati posisi keempat (16 persen suara), dengan sejumlah tokohnya adalah generasi muda.

PKI merebut 39 dari 357 kursi yang disediakan dan berhasil menempatkan 80 dari 514 anggota konstituante. Sekalipun pada 1955 banyak didominasi tokoh muda, PKI bukanlah partai baru dan sebenarnya sudah menempuh jalan politik yang panjang sejak perang kemerdekaan.

Pada era Orde Lama, PKI adalah salah satu pendukung Presiden Soekarno. Bahkan Presiden Soekarno mengeluarkan slogan Nasakom: Nasionalis, Agamais, dan Komunis pada 1960, yang kemudian dimaknai PKI sebagai kelompok tanpa kelas dan golongan, sebagai bentuk dukungan pada PKI. PKI memiliki basis masa, dari organisasi buruh, petani, Gerwani, dan juga perhimpunan para sarjana. Tokoh PKI seperti DN Aidit dan Njoto pun diangkat Presiden Soekarno sebagai penasihatnya.

Kesempatan dan kedekatan itulah yang digunakan keduanya untuk memengaruhi Presiden Soekarno menjadikan PKI sebagai Angkatan ke-5 yang terdiri atas buruh dan petani. Namun, hal itu pula yang memperkuat kekhawatiran militer, terutama Angkatan Darat (AD) kepada PKI, yakni peluang terjadinya penyelewengan penggunaan senjata oleh PKI. Menurut Aristides, jelang peristiwa 30 September 1965, ada banyak faksi yang berkembang di militer. Faksi-faksi itu ada dan bisa dirasakan, tetapi tidak pernah terungkap secara jelas ke publik. Dalam situasi seperti itu, Presiden Soekarno tetap mencerminkan sikap politik yang seimbang kepada semua pihak. Sebagai kepala negara, ia tetap memiliki otonomi politik sendiri, meski PKI terus menempelnya.

Kekhwatiran terhadap PKI yang anti-Barat (imperalis dan liberalis) juga dibarengi dengan situasi ekonomi yang morat-marit, inflasi mencapai 600 persen, serta pencurian dan pencopetan terjadi di mana-mana. Korupsi merajalela dan penegakan hukum lemah. Kolom “Komentar” Harian Sinar Harapan, 2 September 1965 misalnya, mempertanyakan penegakan hukum atas manipulasi benang yang nilainya mencapai miliaran rupiah dan kasus penyelundupan karet ke Singapura sebagai contoh buruknya situasi saat itu. Jurang antara orang kaya dan miskin makin jomplang.

Apakah Mereka Tahu?

Puncak angin lesus itu adalah PKI akhirnya menjadi tertuduh melakukan kudeta pada 30 September. PKI dituduh membunuh enam jenderal senior ABRI pada 1 Oktober 1965 dini hari. Tentu, aksi itu telah melalui rencana. Nah, apakah Presiden Soekarno, penyambung lidah rakyat, pemimpin besar revolusi saat itu, yang juga panglima tertinggi militer, tahu soal rencana Gerakan 30 September? Kalau dia tahu, seberapa jauh ia mengetahuinya?

Pertanyaan yang sama juga ditujukan untuk Jenderal Soeharto, yang pada 2 Oktober 1965 menegaskan kudeta oleh PKI gagal dan dalam sekejap bersama TNI AD mengampanyekan gerakan antikomunis. Soeharto juga jenderal senior penting kala itu. Dengan terbunuhnya sejumlah jenderal, Soeharto merupakan orang pas untuk memimpin militer. Namun, mengapa ia tidak masuk dalam target pembunuhan oleh PKI. Tidak ada yang tahu alasannya hingga saat ini dan tentu akan sulit untuk menjawabnya.

Namun, hal menarik adalah pertanyaan Soeharto ketika berada di Halim Perdanakusuma setelah mengambil alih pucuk pemimpin militer. “Di mana Syam?” Syam yang dimaksudkan tentu saja Syam Kamaruzaman, pria kelahiran Tuban, Jawa Timur 1924. Syam adalah salah satu anggota kelompok Pathuk, kelompok pemuda yang melawan Jepang di Yogakarta pada perang kemerdekaan.

Syam adalah salah satu tokoh kunci PKI, menjabat kepala biro khusus PKI sejak 1964. Syam dikenal sebagai orang yang pandai bergaul, tetapi sulit dideteksi keberadaannya. Jabatan dan kesehariannya membuat ia diyakini memiliki jaringan informasi ke berbagai sektor dan lapisan di militer. Ia dekat dengan kalangan militer karena memiliki kartu akses resmi untuk keluar masuk di markas militer.


Sebagai kepala biro khusus dengan dengan anak buah Supono Marsudidjojo, Bono, Wandi, dan Hamim, ia bertanggung jawab mengumpulkan informasi untuk diberikan kepada DN Aidit selaku eksekutor terhadap informasi tersebut. DN Aidit adalah orang pertama yang mendapat informasi apa pun dari Syam. Syam pernah menyelamatkan DN Aidit dan M Lukman setelah peristiwa Madiun tahun 1948. Ada yang menyebut pria keturunan pedagang Arab tersebut double agent rahasia negara asing.

Mungkin itulah yang menyebabkan tidak ada yang mampu menjawab pertanyaan Jenderal Soeharto kala itu. Berpikir Syam tak memiliki daftar kontak Jenderal Soeharto kala itu, tentu kecil kemungkinan. Namun, itu pula yang menaruh curiga pada peran Soeharto di balik aksi berdarah tersebut. Banyak kalangan memperkirakan, di balik Gerakan 30 September, sebenarnya dalang utama adalah Syam, bukan DN Aidit. Namun, pada persidangannya setelah ditangkap tahun 1967, ia mengaku semuanya atas perintah DN Aidit yang sudah dieksekusi lebih dahulu oleh rezim Orde Baru.
http://www.sinarharapan.co/news/read...-di-mana-syam-
======================

[JAS MERAH] TOKOH MISTERIUS, SJAM KAMARUZZAMAN

"Bahwa Sjam, 'tokoh misterius'itu, tidak pernah ada dan hanya merupakan sebuah 'sosok fiktif' yang diciptakan oleh pihak militer..." ~ Victor M.Fic ~

"Apakah Sjam mempunyai kemandirian, sehingga ia sendiri bisa merancang G30S dan membiarkan Aidit tidak tahu detail rencana? Apakah Sjam lebih bekerja untuk tentara ketimbang untuk Aidit? Ataukah ia bekerja untuk pihak ketiga?" ~ John Roosa ~


Sjam Kamaruzzaman yang berarti matahari dan bulan sang zaman lahir di Tuban, Jawa Timur pada 30 april 1924, ia merupakan seorang keturunan Arab. Ayahnya bernam R Achmad Moebaedah sebagai penghulu dan pedagang keturunan Arab, dan ibunya Siti Chasanah seorang keturunan ningrat bergelar Raden Roro. Dia adalah anak kelima dari 5 bersaudara.

Sjam kecil menimba ilmu di sekolah rakyat Tuban. selepas dari Sekolah Rakyat, Sjam melanjutkan sekolah di Land&Tuinbouw School di Surabaya. sayang, Sjam tidak dapat menyelesaikan pendidikannya, Sekolahnya ditutup akibat datangnya Jepang ke Surabaya pada tahun 1942.

Sjam dan DN Aidit

Hubungan Aidit dan Sjam punya sejarah panjang. Keduanya sudah saling kenal sejak 1949, tatkala Sjam aktif di Serikat Buruh Kapal Pelabuhan di Tanjung Priok, Jakarta. Keluarga keduanya juga dekat.

Sekitar Juli 1948, Sjam menuju ke Solo. di Pesindo Pusat sana, dia berbicara tentang the red drive proposal, sebuah rencana Amerika untuk membersihkan orang-orang komunis. dan benar saja, 2 bulan kemudian, peristiwa Madiun meletus.

Suatu kebetulan, saat Aidit diselamatkan oleh Sjam di Tanjung Priok, sekitar tahun 1950-an. dan dari situlah barangkali Aidit berhutang budi pada Sjam. Sjam pun diajak bergabung menjadi anggota PKI dan ditugasi mengurus dokumen yang berhubungan dengan ideologi Marxisme-Leninisme.

Sjam dan Biro Chusus


Biro Chusus dibentuk oleh Aidit sekitar bulan November 1964. Sjam diangkat menjadi ketua Biro Chusus menggantikan KArto alias Hardi Bengkring yang telah meninggal. dari namanya jelas, badan rahasia ini memiliki tugas khusus. Biro ini berada di luar struktur PKI.

Biro Chusus terdiri dari 5 orang agen inti
Sjam sebagai ketua
Pono dan Bono sebagai Wakil
Suwandi sebagai staf bendahara
dan Hamim sebagai staf pendidikan

Sjam, aktor G30/S-PKI?

Pertengahan Mei 1965, Adanya isu rencana kudeta Dewan Jendral membuat PKI lebih bekerja keras.

Soekarno yang saat itu jatuh sakit, membuat Aidit was was. ditakutkan akan adanya coup oleh Dewan Jendral apabila Presiden meninggal. dan itu sangat mempengaruhi posisi PKI.

Aidit kemudian memberikan wewenang kepada Sjam untuk memprakarsai rapat-rapat dengan anggota militer serta menjelaskan segala detail rencana penculikan Dewan Jendral. tujuannya adalah membawa para Jendral kehadapan Presiden dengan keadaan hidup dan meminta mereka untuk membatalkan rencana coup Dewan Jendral.

Sjam lah yang memimpin beberapa rapat, persiapan pasukan, pembagian susunan organisasi, hingga penentuan sasaran masing masing pasukan.

1 hal yang menarik,
ketika pasukan Cakrabirawa pimpinan Letnan Dul Arief (anak buah Letkol Untung) akan berangkat menuju rumah para jendral. Dul Arief sempat bertanya bagaimana jika para jendral menolak untuk diajak menghadap Presiden. Sjam pun menjawab "Para Jendral ditangkap hidup atau mati"

30 september, penyerangan dipimpin oleh Letkol Untung. Pada 05:30, 1 Oktober tim Pasopati berhasil menembak tewas 3 Jendral, termasuk Ahmad Yani, dan kemudian membawanya ke Lubang Buaya. Namun Nasution dapat lolos dari penculikan. Rencana awal gagal.

Soepardjo bertemu dengan presiden agar menyetujui rencana penyerangan itu, namun presiden menolaknya. Soepardjo membawa berita itu kepada Sjam, dan seluruh rencananya gagal.

Melalui RRI, PKI menyiarkan pengumuman tentang Gerakan 30 September yang ditujukan kepada para perwira tinggi anggota "Dewan Jenderal" yang akan mengadakan kudeta terhadap pemerintah.
Kemudian dibentuklah Dewan Revolusi oleh Sjam yang bertugas membentuk pemerintahan koalisi nasional berporos Nasakom di bawah Presiden Soekarno yang bersih dari anasir Dewan Jendral dan Kapitalis Birokrat.

setelah pengumuman itu, para pemimpin menunggu reaksi gelombang dari anggota ABRI beserta massa sipil yang tidak pro dengan dewan jendral. mereka akan menuntut dewan jendral diadili dan dihukum mati. sayang, pos-pos komando tidak berjalan, gelombang massa tidak pernah muncul, sekali lagi, rencana Sjam dan kawan kawan gagal.

Apalagi setelah Soeharto mengudara di RRI yang mengatakan bahwa Gerakan 30 September adalah kontrarevolusioner.
Para pemimpinpun melakukan penyelamatan diri.

Penangkapan Sjam

Sjam hidup secara berpindah-pindah untuk mengamankan diri.pada 9 Maret 1967 Sjam tertangkap di Cimahi dan di masukkan ke dalam Rumah Tahanan Militer Budi Utomo. Ia memperoleh perlakuan khusus di sana.

Sjam muncul di hadapan public pertama kali 2 tahun setelah itu sebagai saksi dalam persidangan Sudisman-Sekjen PKI. Namun pengakuannya semakin menjerumuskan PKI. Hal ini membuat berbagai pihak menyangsikan kadar komunis Sjam. Muncul anggapan bahwa sjam adalah triple agen sekaligus, agen PKI-TNI- dan CIA. Dalam pengakuannya itu banyak membuat orang-orang dihukum mati.

Pada akhirnya Sjam pun dijatuhi hukuman mati 19 tahun kemudian. Pada 1986 bersama anggota Biro Chusus yang lain, Pono dan Bono ia dihukum mati di Kepulauan Seribu. Pada eksekusinya bahwa Sjam kebal peluru, namun seletah di tembak bagian pelipisnya dia langsung mati.

Namun kematian Sjam diragukan, eks Kolonel Latief sempat melihat dirinya di penjara Cipinang pada 1990. Pasca turunnya Soeharto pun kabar itu masih terdengar, kabarnya ia tinggal di Florida, Amerika Serikat. Ada pula yang mengatakan ia dibuang di Arab Saudi.


"Sejarah adalah milik pemenang"
https://www.erepublik.com/id/article...n-2159802/1/20
=========================
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.