- Beranda
- Stories from the Heart
Patahan Salib Bidadari
...
TS
setiawanari
Patahan Salib Bidadari
In the name of Allah, the beneficient, the merciful
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Terimakasih untuk gambar sampulnya awayeye
Terimakasih Kaskus, khususnya untuk sub forum SFTH yang telah menyediakan tempat menampilkan sebuah cerita. Sebuah fasilitas yang akan saya gunakan untuk menulis dimulai dari hari ini hingga di hari-hari selanjutnya.
Terlepas dari nyata atau tidaknya cerita ini, adalah tidak terlalu penting karena sebagian dari kisah nyata dan sebagian dari imaginasi saya. Harapan saya tokoh-tokoh dalam cerita ini dapat menjadi inspirasi untuk para pembaca cerita yang saya tulis ini dapat menjadikan saya untuk terus berkreatifitas.
Mohon maaf jika materi dalam cerita ini nantinya ada kesalahan dan menyinggung pihak-pihak tertentu sekiranya nasihat, kritik dan saran dari agan/sista yang lebih berpengalaman selalu sangat saya harapkan.
Menemani istirahat untuk menghilangkan lelah setelah pulang kerja/sekolah/kuliah, atau saat sedang menunggu sesuatu mari kita baca ceritanya. Ditemani alunan musik dan segelas kopi/cokelat/susu/teh hangat kita kembali ke beberapa tahun yang lalu!!!.
PEMBUKA CERITA
Terpaku di dalam rasa cinta yang tak mungkin pudar, menanti cinta datang membawa arti sampai segenap organ ini berhenti.
Sore itu saat cuaca cerah di lantai 6 gedung akademisi yang melahirkan sarjana ekonomi terbaik aku termenung. Melamunkan manis, asam, asin dan pahitnya segala kehendak Tuhan yang dianugerahkan kepada salah satu ciptaanNya.
Manusia diberikan otak untuk berfikir dan menggunakan logika lalu diberikan hati untuk merasakan. Hati adalah malaikat sedangkan otak kadang menjadi iblis dan sangat sulit untuk mengontrolnya menjadi malaikat. Hati menjerit saat kita berbuat salah sedangkan otak adalah penyebab semua kesalahan yang dilakukan manusia. Malaikat dan iblis adalah gambaran dari manusia, sebagai simbol antara kebaikan dan kejahatan. Kebaikan tidak akan bersanding dengan kejahatan dan sebaliknya.
“Permisi Mas! Bisa pindah duduknya, lantainya mau di bersihkan!” Sapa seorang petugas cleaning service membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya mas”. Jawabku sambil berlalu pergi menuju tempat parkir motor tepatnya dihalaman depan kampus.
Karamnya cinta ini
Tenggelamkanku diduka yang terdalam
Hampa hati terasa
Kau tinggalkanku meski ku tak rela
Salahkah diriku hingga saat ini
Kumasih mengharap
Kau tuk kembali………
Sore itu gerimis turun saat aku pulang, tak terasa sampai ditempat kos yang kebetulan hanya berjarak 10 menit dari kampus air hujan membasahi jaket jeans yang ku kenakan. Segera aku mengambil handuk dan membersihkan diri, bersiap untuk mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Dengan ritual sholat Ashar aku merasakan kedamaian yang tidak ada bandingannya, sebagai bentuk kepatuhan dan rasa syukur atas semua yang diberikan Tuhan baik itu berkah yang membuat hati senang maupun musibah sebagai ujian kepada hambanya agar menjadi sosok yang lebih kuat.
Waktunya istirahat, kurebahkan badan ini di kasur busa sebagai surga dunia yang paling indah, sambil memutar lagu menemaniku melepas lelah. Secangkir kopi hitam telah kusiapkan untuk menghangatkan suasana karena diluar hujan turun semakin deras. Kupandangi sebuah kalung berwarna emas berliontin salib yang bersanding dengan sebuah kalung perak berliontin lafaz Allah, tergantung dibawah poster foto Ibu Sundari Sukotjo tepat di tengah-tengah dinding kamar kosku. Masih menampakkan kilaunya meski kalung-kalung itu sudah hampir 4 tahun lamanya. Aku bangkit dari tempat tidur, meminum sedikit kopi hitam, sambil menarik nafas dalam sedalam yang aku mampu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu di sore ini, ya aku merasakan suatu kerinduan yang luar biasa dengan pemilik kalung salib yang tergantung dikamarku, seorang yang sangat suka musik klasik, seseorang pecinta sepakbola, seseorang yang suka kopi hitam dan mungkin pernah mencintaiku walaupun tak pernah mengungkapkan sepatah katapun.
“Ya Tuhan hari ini aku kangen banget sama dia, meski tak sebesar kangen ku kepadaMu, tapi sungguh seolah-olah aku merasa sangat lemah dan sangat kehilangan. Hari ini tepat 4 bulan yang lalu dia beranjak pergi dari tempat ini, dia pergi untuk cita-citanya, untuk impiannya dan bodohnya aku belum sempat mengutarakan seluruh perasaanku kepadanya. Perbedaan keyakinanlah yang menghalangi, aku bahkan hanya bisa diam membisu saat ku ingin mengucapkan seluruh rasa cinta ini aku takut rasa cinta kepada makhluk ciptaanMu melebihi rasa cintaku padaMu. Tak kuasa air mata ini menetes, berusaha ku tahan tapi tak sanggup karena mungkin ini air mata rindu yang mencapai puncaknya.
Aku bukan seorang penulis tetapi hari ini tiba-tiba ingin sekali aku ingin sekali memainkan jariku di keyboard yang biasanya hanya kupakai untuk membuat tugas. Aku ingin menulis tentang dirimu tentang cerita kita, walaupun mungkin tidak berujung bahagia tidak apa karena mungkin dengan tulisan ini aku bisa mencurahkan segala isi hati dan kerinduanku kepada mu. Kenangan indah tentang hari-hari yang pernah kulalui dengan seorang bidadari yang telah merubah seluruh hidupku, meski meninggalkan perasaan yang terus menggantung entah sampai kapan. Bidadari yang datang di hidupku, menemaniku sejenak lalu pergi meninggalkan patahan salibnya di hidupku.
Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu
Sekilas Gambar Tentang Aku
Harapan Sesuai dengan Kenyataan
Kerikil Kecil dan Awan yang Jauh
Pertemuan dengan Sahabat
Sepatu Mengawali Sebuah Impian
Dunia Kampus dan Teman Baru
Keluarga Kecil Bernama HALTE
Sesuatu Mengganggu Pesta Akhir Smester
Diantara Rasa Kagum dan Penasaran
Meluapnya Sebuah Emosi
Hubungan yang Semakin Dekat
Kegelisahan Menghadapi Perasaan yang Berbeda
Siang Menjadi Malam dan Sebaliknya
Perjalanan yang Semakin Indah
Momen Menggelikan dan Warna Kehidupan
Dilema Menghadapi Ungkapan Perasaan
Tetangga di Sekitar Kami
Liontin Salib untuk Leher yang Indah
Kepedihan Cerita di Masa Lalu
Senyuman untuk Hati yang Terluka
Sosok yang Menjadi Pertanyaan
Mencoba Menghilangkan Trauma
Pelangi yang Hilang Bersama Turunnya Hujan
Malam Kebahagiaan Bersama Keluarga Kecil
Bidadari Kecil Kini Telah Dewasa
Kebahagiaan Kini Tinggal Prasasti
Semua Terjadi Sangat Cepat
Sebuah Cinta yang Salah
Surga yang Tak Layak untuk Dilihat
Rumput Dingin Di Bawah Bangku Taman
Pahitnya Sebuah Ucapan
Air Mata Menepis Kerasnya Kata-kata
Satu Langkah ke Arah Normal
Bertahan Hanya dalam Waktu Singkat
Semakin Tenggelam dalam Kedekatan
Lilin Kecil di Malam Penuh Kebahagiaan
Selamat Datang Kemarau
Kerinduan yang Teramat Dalam
Hembusan Angin Masa Lalu
Sayap yang Kuat Untuk Bidadari Kecil
Tinta Biru Menorehkan Luka
Berusaha Menyembunyikan Luka
Hilangnya Rasa Segan
Keberhasilan Tanpa Perayaan
Berharap Hanya Andai Saja
Serpihan Kenangan yang Menyiksa
Tempat Baru
Berita Baik Bersama Undangan
Selamat Menempuh Hidup Baru
Kesan yang Baik di Hari Pertama
Insiden Kecil dan Masa yang Telah Terlewati
Menutup Momen 4 Tahun Kebersamaan
Kotak Makan Siang
Keberanian Untuk Memulai
Pahitnya Sambutan Selamat Datang
Seperti Kembali ke Waktu Itu
Teka Teki dari Perhatian Sederhana
Cerita di Ujung Sore
Peneduh Panasnya Amarah
Mengungungkapkan tak Semudah Membayangkan
Titik Terang yang Terasa Gelap
Patahan Salib Bidadari
Terimakasih Untuk Masa yang Terlewati
Apa yang Sebenarnya Terjadi
Kembali Terjatuh
Dunia Ciptakan Keindahan
Dan Kebahagiaan [TAMAT]
Kata Penutup (Q&A)
Diubah oleh setiawanari 10-07-2018 17:35
nona212 dan calebs12 memberi reputasi
3
111.1K
608
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
setiawanari
#187
Sayap yang Kuat Untuk Bidadari Kecil
Tujuan akhir dari sebuah perjalanan cinta adalah pernikahan lalu membangun kebahagiaan dalam sebuah keluarga. Buah dari cinta adalah keturunan yang kemudian akan mengalami fase yang sama beranak pinak melanjutkan generasi umat manusia.
Cinta sejati antara pria dan wanita adalah cinta yang terjadi setelah terjadi pernikahan begitu kata orang bijak. Meskipun banyak pendapat dari sebagian orang ada kalanya cinta tak harus memiliki.
Dari dalam kamar Putri keluar, mengenakan kebaya putih dengan balutan kain batik menutupi dari pinggang hingga mata kaki. Aksesoris kalung tembaga melingkar dileher hingga terurai kebawah melewati bagian depan tubuhnya. Beberapa rangkaian bunga kanthil tergantung di sanggul rambutnya, lengkap dengan tinta hitam membentuk daun-daun lancip di atas keningnya.
Bidadari cantik, membuatku tertegun sejenak karena aku seperti sosok almarhum ibu. Dia berjalan menghampiri ku, mengulurkan tangan kanannya seolah meminta aku mengantarkannya bertemu dengan orang yang hari ini akan mendampinginya. Tangan kanannya melingkar di lengan kiriku, kami berjalan dengan rasa gemetar diikuti Putri, Ninda, Paman dan Bibiku. Semua mata tertuju kepada Putri karena dia akan menjadi ratu hari ini, ratusan orang termasuk teman kampusku, teman kecilku dan hampir semua orang yang kukenal telah datang menyaksikan prosesi ijab qobul.
Doa, senyuman dan linangan air mata kebahagiaan. Air mata keharuan mereka berikan untuk seorang anak yang telah ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya.
Kami pun duduk menghadap penghulu dengan meja kecil membatasi kami. Kuberikan senyuman untuk seorang pria yang duduk disamping Ninda didampingi kedua orang tuanya. Acara akad nikah dimulai dengan sambutan bapak penghulu. Sandro nampak asyik mengambil video dengan handycam nya sementara Sherly tidak kalah mencari angel terbaik untuk mengambil gambar. Beberapa orangpun mengabadikannya dengan kamera handphone.
"Sebelum memulai ijab Qabul apakah kamu sudah siap, ikhlas dan tidak ada paksaan dalam pernikahan ini?" Kata Penghulu bertanya kepada Putri.
"Iya, pak saya siap, ikhlas dan tidak ada paksaan dari siapapun.?" Jawab Putri.
"Masih ada waktu 10 menit dari jadwal akad nikah ada yang ingin kamu sampaikan." Lanjut penghulu.
"Iya pak sedikit ucapan terimakasih saja." Kata Putri membuka selembar kertas.
" Bismillahirohmanirohim, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bismillahi tawakalna alallah lakhaula wa la quata ila bilah ashadualaila hai ilallah wa ashaduana muhamadarosulullah.
Segala puji bagi Allah maha pemilik Cinta.
Sholawat dan salam untuk nabi Muhammad SAW. Yang saya hormati dan yang saya sayangi, para orang tua, teman sebaya dan semuanya yang hadir disini. Saya ucapkan terimakasih untuk waktu dan doanya.
Teriring doa untuk ayah dan ibu di sana, sebuah doa dalam airmata kerinduan dihari kebahagiaan ini. Dalam keyakinanku jika mereka selalu mendengar, mereka selalu melihat, mereka selalu merasakan hari ini aku meminta izin dan restu untuk menyatukan cinta dalam sebuah pernikahan.
Untuk......," Kata kata Putri terhenti karena tangisnya, lalu dengan berusaha tegar dia mulai melanjutkan.
"Untuk, orang yang terlahir dua tahun sebelumku, Mas Argani Awan Narendra. Tiada kata terindah yang bisa ku rangkai tiada kebaikan yang bisa kulakukan untuk mengganti semua yang telah kau berikan. Lelahmu saat harus menggendongku dikala aku menangis, candamu saat menghiburku dengan sepotong es kau berikan, inginmu yang selalu kau korbankan untuk keinginanku dengan sesuatu. Kau memilih usang agar aku memakai yang baru, kau memilih sakit untuk kesehatanku, kau memilih menangis untuk semua kebahagiaanku. Ucapan maaf yang tak terhingga untumu aku sampaikan, ucapan terimakasih dari dalam hatiku aku tujukan padamu. Kau yang telah memberikan segalanya, sebuah pelukan hangat kata-kata, sikap, dan tubuhmu yang akan selalu hangat sampai kapanpun.
Untuk orang yang telah merawatku Paman, Bibi.
Ucapan berjuta-juta maaf dari perempuan yang terus saja merepotkan Paman dan bibi. Perempuan yang seringkali terlambat bangun saat harus memulai pagi, seseorang yang sangat jauh belum bisa membahagiakan Paman dan bibi. Terimakasih untuk bangun pagi demi menyiapkan sarapanku, menahan kantuk untuk menjagaku dari mimpi buruk. Letihmu bekerja, tetesan keringat paman dan bibi keluarkan untukku tanpa mengharapkan apapun.
Untuk bidadari kecilku, malaikat kecil yang dikirim Tuhan melalui ayah dan ibuku. Terimkasih,Adikku Indri, jari tangan halus terasa lembut selalu kau eluskan membelai rambut ini saat aku terjatuh. Kedua kakimu seolah tak pernah berhenti berjalan kesana kemari untuk menuruti ucapku. Ucapan maaf dari seorang kakak yang tak bisa menghapus air matamu saat kamu menangis, seorang kakak yang beralasan badannya terlalu lelah untuk menggendongku, kakak yang terlalu egois berkorban memberimu sesuatu, Maafkan Kakak.
Untuk calon suamiku, hari ini aku siap memulai semuanya dengan doa, kebahagiaan, dan ketulusan cinta.
Terimakasih
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh".
Kata-kata Putri membuat suasana kebahagiaan ini diiringi air mata, sedangkan aku berusaha untuk tetap menahan meski air mata ini telah bekumpul ujung kelopak mata.
"Baiklah hadirin yang berbahagia, sudah waktunya kita memulai akad nikah..........."
Penghulu lalu meminta wali nikah dan saksi nikah mendekat. Jantung ini berdetak sangat cepat, saat bersalaman dan menggenggam tangan Wahyu, memaksa pikiran untuk tetap konsentrasi diantara sejuta perasaan yang bercampur menjadi satu. Tangan Wahyu terasa dingin karena mungkin merasakan hal yang sama denganku.
"Ananda Wisnu Bayu Aji bin Pramono, saya nikahkan dan saya kimpoikan kepadamu saudara kandung saya Laras Putri Mayangsari binti Almarhumah Hargo Wiyono dengan mas kimpoinya perhiasan emas 8 gram tunai."
"Saya terima nikahnya dan kimpoinya Laras Putri Mayangsari dengan mas kimpoinya yang tersebut tunai"
“Sah." Teriak para saksi dan para tamu yang menyaksikan acara. Putri pun beranjak dari tempatnya menghampiriku lalu memeluk dengan sangat erat seperti seorang anak kecil yang tak mau di tinggal pergi.
“Alhamdulillah, Putri kamu udah resmi jadi seorang istri dari suami yang mencintai kamu. Jangan nangis dong harusnya kamu seneng kamu bahagia. Sekarang udah ada yang gantiin mas buat jagain kamu, dan kebetulan dia temen mas dari kecil, temen kamu juga. Mas yakin dia jauh lebih baik bisa jaga kamu melebihi mas." Kataku tanpa bisa lagi menahan air mata kebahagiaan ini namun Putri masih enggan untuk melepas pelukannya sambil menangis sesenggukan.
“Terimakasih Mas, terimakasih untuk segalanya, maafin Putri selama Putri hidup pasti banyak salah udah banyak repotin mas Awan. Selalu sayang sama Putri ya mas, selalu doain putri agar bisa jadi istri yang baik, agar bisa jadi seperti ibu." Jawab Putri
“Iya Put, mas akan selalu sayang Putri, kamu gadis yang pinter, kamu gak pernah nyusahin mas pasti kamu bisa jadi istri yang baik dan ibu yang baik untuk ponakan mas Awan kelak." Kataku dan perlahan putri melepas pelukannya kemudian menghpiri Indri, Paman dan bibi. Dan Ninda orang terakhir yang mendapat pelukan, dan tetesan air mata Putri.
Lalu giliran Wisnu yang menghampiri dan memelukku, tangisnya pun pecah sampai pada akhirnya acara dilanjutkan dengan kotbah nikah dan doa penutup di bacakan.
Hari ini Wisnu dan Putri telah menjadi suami istri sah diakui oleh agama dan negara. Dua buah buku kecil dengan sampul bergambar burung mengepakkan kedua sayapnya menghadap ke kanan entah apa yang membuatnya tidak mau melihat kedepan. Buku itu mereka pamerkan saat mereka berpose untuk di abadikan gambarnya.
Musik karawitan berisi lagu lagu Jawa kuno mulai terdengar mengiringi keluargaku bertemu dengan keluarga Wisnu memulai acara upacara resepsi. Wisnu dan Putri melangkah menuju kursi pelaminan, beberapa saat setelah mereka duduk muncul beberapa penari yang secara bergantian membawakan tarian serimpi dan gambyong. Sebuah tarian yang melambangkan romantisme percintaan dengan gerakannya yang sangat pelan dan iringan lembut suara gamelan. Sebuah rangkaian upacara pernikahan dilalui Wisnu dan Putri dengan lancar hingga upacara berakhir sakral penuh makna berakhir.
Selamat menempuh hidup baru Wisnu dan Putri itulah ucapan-ucapan yang diberikan untuk mereka saat mereka menyalami para tamu undangan.
“Hei terus kapan giliran mas Awan sama mbak Ninda," Kata Indri membuat aku dan Ninda saling berpandangan.
“Emmmm, tanya aja sama calon kakak iparmu," Kataku sambil menunjuk Ninda.
“Iiih kok nanya aku sih, curang! Hmmm ada saatnya kok Ndri, mbak Ninda mau keliling dunia dulu." Kata Ninda.
“Ikuuuttttttt." Kata Indri.
“Iya tar Mbak ajak kamu, tapi kamu temenin Mas Awan dulu ya! Kasihan adiknya udah diambil orang satu, hehehehe." Kata Ninda mencubit hidung Indri.
“Sip-sip, Yaudah Indri kesana dulu nemuin temen-temen Indri." Kata Indri lalu berjalan ke beberapa orang seumuran SMA, yang sedang asik bercanda.
Aku dan Ninda beranjak untuk menyalami dan menemui para tamu yang datang dan pergi, sekedar berbincang dan menemani menikmati hidangan yang telah di sediakan.
Di tengah-tengah keramaian aku melihat sosok yang sangat terkenal dan sering menjadi perbincangan di kotaku. Seorang kakek yang sudah berumur 60 tahun namun masih tampak sangat sehat. Berdampingan dengan seorang wanita yang nampak seumuran dengan kebaya batik berwarna hijau. Beberapa orang datang menyalaminya dan sebagian yang lain mencium tangan sangat bersalaman.
“ Pakdhe, bukannya itu Mbah Karso emang di undang juga?” Tanyaku ke Pakdhe Darman, kakak kandung ayahku.
“ Oh, iya Pak Lurah yang undang soalnya mau ada ruwatan bulan depan di kelurahan.” Jawab Pakdhe Darman.
“ Bukannya tinggalnya jauh dia Dhe, kok bisa sampai sini?”
“ Ya, gak jauh lah Wonogiri- Karanganyar paling tiga jam. Oh iya Pakdhe temuin dulu ya.” Kata Pakdhe berjalan menghampiri Mbah Karso dan bersalaman dengan mencium tangan Mbah Karso.
“Ada-ada saja dimana internet sudah berkuasa masih aja percaya hal-hal yang tidak masuk akal.” Batinku saat mengingat beberapa kali aku pernah dengar cerita tentang sosok Mbah Karso.
(Sosok yang nanti akan tertulis dalam sebuah Novel Horor dengan Judul SAPTA PESONA)
Kemeriahan dan keramaian ini akhirnya selesai menjelang pukul 10 malam. Rasa lelah sepertinya tidak begitu terasa karena perasaan bahagia dihari ini.
“Mas Awan, Bibi dan Paman, Putri, Indri dan Ninda, kami pulang dulu ya terimakasih telah mengijinkan kami untuk singgah dan mohon maaf jika kedatangan kami membuat kerepotan." Kata Sherly berpamitan mewakili teman-teman kampusku.
“Iya kami juga mengucapkan kan terimakasih atas kedatangan teman teman sungguh suatu kehormatan bagi kami dengan waktu yang telah teman-teman berikan. Sekiranya kami kami mohon maaf jika masih banyak kekurangan dalam menyambut kedatangan dan disaat teman-teman disini, tiada sesuatu hal yang berharga dapat kami bawakan selain doa agar temen-temen selamat sampai tujuan." Kata Paman membalas pamit mereka mengawali perpisahan kami.
Mereka pun kembali ke Jakarta, kembali menatap aktivitas yang sepertinya sudah menunggu untuk dikerjakan. Malam akhirnya menyudahi acara keramaian yang penuh kebahagiaan hari ini. Semua sudah kembali seperti sediakala, hanya menyisakan tenda dan beberapa hiasan janur kuning yang mulai layu. Menandakan kita harus segera beristirahat, mengisi kembali energi yang terkuras hari ini. Semilir angin musim kemarau kota Karanganyar terasa dingin menyentuh kulit.
Dari tempat inilah cerita hidupku bermula dan tempat inilah yang akan selalu memanggilku untuk pulang. Gadis kecilku kini telah memiliki sayap dan bersiap mengepakkannya terbang menuju tempat yang ia mau, tapi aku masih punya satu gadis kecil yang sayapnya mulai tumbuh memaksa tubuh ini untuk terus bertahan hidup demi menjaganya sampai sayapnya sempurna. Tentang aku? Hanya bisa berharap bisa menjadi sayap bidadari yang kini sedang terlelap menemani Indri meskipun batas kata-kata ini seolah hilang ketika harus berhadapan dengannya memegang tangannya menatap bening matanya sambil berucap " aku cinta padamu".
Gerimis kecil di musim kemarau seolah menahan kepergian ku untuk kembali ke kota Jakarta. Segenap rasa rindu ini nampaknya belum sepenuhnya terobati hanya dengan menghabiskan waktu dua malam saja. Ingin rasanya aku tinggal lebih lama lagi tapi skripsiku terus memanggil untuk segera aku selesaikan. Diantara lalu lalang warga yang mulai membereskan tenda dan peralatan acara kemaren aku sibuk membereskan dan menata barang-barang di mobil. Dan baru selesai bertepatan dengan kedatangan keluarga Pak Pramono mengunjungi rumah kami.
“Assalamualaikum." Sapa Pak Pramono.
“Walaikumsallam." Jawabku merekapun masuk disambut keluargaku.
”Oooh besan udah dateng, ayo pak silahkan duduk." Kata Bibi.
“Lha ini kok udah beres-beres emang udah mau balik?" Kata Pak Pramono.
“Iya Pak Dhe, tugas di Jakarta udah numpuk kalau gak segera di kelarin malah tambah repot tar." Kataku.
“Iya Pak, padahal udah Wahyu suruh 2 hari lagi tapi namanya Awan tau sendiri." Kata Wahyu.
“Hush kamu itu manggil kakakmu kok ngawur to Le," kata Ibu Winarni istri pak Pramono.
“Udah gakpapa budhe saya yang nyuruh lagian Wahyu ini kan temen kecil saya umurnya juga lebih tua dia 4bulan, malah risih saya di panggil Mas." Kataku.
“Tapi itu kan unggah ungguh Le, alias tata krama?!" Jawab Bu Winarni.
“Iya gakpapa lah budhe, tar kalau Wahyu manggil saya mas malah saya kelihatan tua." Kataku disambut tawa.
“Ayo Mas Pram, Mbak di minum tehnya, terus ini dimakan jangan didiemin aja." Kata Paman.
“Iya, iya Mas makasih malah ngrepotin ini," kata Pak Pramono.
“Ngrepotin opo to mas, wong kaya biasanya aja ini." kata Bibi.
“Rafa, Kamu kelas berapa sekarang?" Kataku ke anak Mbak Icha kakak Wahyu istri dari Mas Ramdhan.
“Kelas dua om," kata Rafa.
“Wih cepet amat, perasaan tahun kemarin masih TK?" Kataku.
“Kemaren kelas satu om, tar tahun depan kelas tiga." Jawab Rafa.
“Dapet rangking berapa Rafa?" Kata Ninda.
“2 Tante." Jawab Rafa.
“Anak pinter, gak kaya Om Awan juara duanya dari belakang." Kata Ninda.
“Enak aja Aku ma juara satu terus kok," Kataku.
“Iya tapi muridnya 2 kan." Teriak Putri.
“Itu tau, muridnya cuma aku sama Wahyu." Kataku disambut tawa.
“Saya bangga sama Almarhum Mas Hargo, punya anak-anak seperti kalian Awan, Putri dan Indri.” Kata Pak Pramono menghisap rokoknya dalam-dalam.
“ Ah, biasa aja kali Pakdhe.” Kataku.
“ Iya Nih Pak e malah bahas masa lalu.” Jawab Bu Winarni.
“ Banyak kenangan bersama beliau Bu, teman dari kecil seorang anak kiai yang nekat menjadikan mbak Sari sebagai istri meski Pak Karyo (kakekku dari bapak) tidak menyetujui tapi pada akhirnya Mbak Sari jadi menantu kesayangan Bu Sartini(istri kakek).” Kata Pak Pramono melihat foto Ayah yang tertempel di tembok.
“ Hehehehe tapi Mas Pram dulu sempet nitip salam to ke mbak Sari lewat saya?” Kata Paman.
“ Walah, kamu kok malah buka kartu to Mas Larto? Lha wong yang nitip salam bukan cuma aku tapi hampir seluruh pemuda di kampung waktu itu kok?” Jawab Pak Pramono.
“ Oooh jadi dulu Mas sempet suka sama Almarhum Mbak Sari?” kata Bu Winarni.
“ Walah kok masih nanya lagi kan aku sudah banyak cerita tentang yang dulu-dulu itu cinta monyet?” Kata Pak Pramono.
“ Iya dulu monyet sekarang kingkong gitu?” Kata Bu Winarni.
“ lha itu sampingmu kingkong ya?” Jawab Pak Pramono melirik ke arah Mbak Icha yang badannya paling berisi diantara kami.
“Hahahahahaha.” Kami pun tertawa.
“ Iiih apaan sih Pak, kalau Icha kingkong berarti bapak gorilanya.” Jawab Mbak Icha lagi lagi disambut tawa.
Perbincangan kami pun berlanjut sampai menjelang sore dan akhirnya tiba saatnya aku kembali ke Jakarta. Aku berpamitan dengan keluargaku dan juga keluarga Pak Pramono. Lagi lagi diantar dengan tangis haru seolah mereka masih merasakan rindu seperti yang aku rasakan.
“Hati-hati ya Wan, sekarang Lo kakak gw ingetin gw disaat salah bimbing gw saat gw keluar dari jalan lurus." Kata Wahyu saat aku bersiap menginjak gas.
“Iya bro, gw tau Lo yang terbaik buat adik gw, titip Putri ya, hehehehe tugas gw beliin es potong udah kelar giliran Lo yang beliin lipstik." Kataku.
“Hahahaha, oke siap Mas." Kata Wahyu.
Akupun menutup kaca mobil dan mobil melaju menuju kota Jakarta. Didampingi seorang wanita yang tanpa henti menceritakan kembali peristiwa yang ia alami selama di desa hingga akhirnya kelelahan dan memejamkan mata. Wajah cantik meskipun tampak lelah yang hanya bisa aku pandangi dan aku kagumi hingga saat ini. Sebuah pertemuan yang begitu rumit pada akhirnya akan meninggalkan cerita indah seperti ini.
Hingga pada akhirnya angin pun berhembus semakin kencang meniupkan sedikit demi sedikit cerita indah hingga akhirnya terbang terbawa entah kemana terhempasnya.
Cinta sejati antara pria dan wanita adalah cinta yang terjadi setelah terjadi pernikahan begitu kata orang bijak. Meskipun banyak pendapat dari sebagian orang ada kalanya cinta tak harus memiliki.
Dari dalam kamar Putri keluar, mengenakan kebaya putih dengan balutan kain batik menutupi dari pinggang hingga mata kaki. Aksesoris kalung tembaga melingkar dileher hingga terurai kebawah melewati bagian depan tubuhnya. Beberapa rangkaian bunga kanthil tergantung di sanggul rambutnya, lengkap dengan tinta hitam membentuk daun-daun lancip di atas keningnya.
Bidadari cantik, membuatku tertegun sejenak karena aku seperti sosok almarhum ibu. Dia berjalan menghampiri ku, mengulurkan tangan kanannya seolah meminta aku mengantarkannya bertemu dengan orang yang hari ini akan mendampinginya. Tangan kanannya melingkar di lengan kiriku, kami berjalan dengan rasa gemetar diikuti Putri, Ninda, Paman dan Bibiku. Semua mata tertuju kepada Putri karena dia akan menjadi ratu hari ini, ratusan orang termasuk teman kampusku, teman kecilku dan hampir semua orang yang kukenal telah datang menyaksikan prosesi ijab qobul.
Doa, senyuman dan linangan air mata kebahagiaan. Air mata keharuan mereka berikan untuk seorang anak yang telah ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya.
Kami pun duduk menghadap penghulu dengan meja kecil membatasi kami. Kuberikan senyuman untuk seorang pria yang duduk disamping Ninda didampingi kedua orang tuanya. Acara akad nikah dimulai dengan sambutan bapak penghulu. Sandro nampak asyik mengambil video dengan handycam nya sementara Sherly tidak kalah mencari angel terbaik untuk mengambil gambar. Beberapa orangpun mengabadikannya dengan kamera handphone.
"Sebelum memulai ijab Qabul apakah kamu sudah siap, ikhlas dan tidak ada paksaan dalam pernikahan ini?" Kata Penghulu bertanya kepada Putri.
"Iya, pak saya siap, ikhlas dan tidak ada paksaan dari siapapun.?" Jawab Putri.
"Masih ada waktu 10 menit dari jadwal akad nikah ada yang ingin kamu sampaikan." Lanjut penghulu.
"Iya pak sedikit ucapan terimakasih saja." Kata Putri membuka selembar kertas.
" Bismillahirohmanirohim, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bismillahi tawakalna alallah lakhaula wa la quata ila bilah ashadualaila hai ilallah wa ashaduana muhamadarosulullah.
Segala puji bagi Allah maha pemilik Cinta.
Sholawat dan salam untuk nabi Muhammad SAW. Yang saya hormati dan yang saya sayangi, para orang tua, teman sebaya dan semuanya yang hadir disini. Saya ucapkan terimakasih untuk waktu dan doanya.
Teriring doa untuk ayah dan ibu di sana, sebuah doa dalam airmata kerinduan dihari kebahagiaan ini. Dalam keyakinanku jika mereka selalu mendengar, mereka selalu melihat, mereka selalu merasakan hari ini aku meminta izin dan restu untuk menyatukan cinta dalam sebuah pernikahan.
Untuk......," Kata kata Putri terhenti karena tangisnya, lalu dengan berusaha tegar dia mulai melanjutkan.
"Untuk, orang yang terlahir dua tahun sebelumku, Mas Argani Awan Narendra. Tiada kata terindah yang bisa ku rangkai tiada kebaikan yang bisa kulakukan untuk mengganti semua yang telah kau berikan. Lelahmu saat harus menggendongku dikala aku menangis, candamu saat menghiburku dengan sepotong es kau berikan, inginmu yang selalu kau korbankan untuk keinginanku dengan sesuatu. Kau memilih usang agar aku memakai yang baru, kau memilih sakit untuk kesehatanku, kau memilih menangis untuk semua kebahagiaanku. Ucapan maaf yang tak terhingga untumu aku sampaikan, ucapan terimakasih dari dalam hatiku aku tujukan padamu. Kau yang telah memberikan segalanya, sebuah pelukan hangat kata-kata, sikap, dan tubuhmu yang akan selalu hangat sampai kapanpun.
Untuk orang yang telah merawatku Paman, Bibi.
Ucapan berjuta-juta maaf dari perempuan yang terus saja merepotkan Paman dan bibi. Perempuan yang seringkali terlambat bangun saat harus memulai pagi, seseorang yang sangat jauh belum bisa membahagiakan Paman dan bibi. Terimakasih untuk bangun pagi demi menyiapkan sarapanku, menahan kantuk untuk menjagaku dari mimpi buruk. Letihmu bekerja, tetesan keringat paman dan bibi keluarkan untukku tanpa mengharapkan apapun.
Untuk bidadari kecilku, malaikat kecil yang dikirim Tuhan melalui ayah dan ibuku. Terimkasih,Adikku Indri, jari tangan halus terasa lembut selalu kau eluskan membelai rambut ini saat aku terjatuh. Kedua kakimu seolah tak pernah berhenti berjalan kesana kemari untuk menuruti ucapku. Ucapan maaf dari seorang kakak yang tak bisa menghapus air matamu saat kamu menangis, seorang kakak yang beralasan badannya terlalu lelah untuk menggendongku, kakak yang terlalu egois berkorban memberimu sesuatu, Maafkan Kakak.
Untuk calon suamiku, hari ini aku siap memulai semuanya dengan doa, kebahagiaan, dan ketulusan cinta.
Terimakasih
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh".
Kata-kata Putri membuat suasana kebahagiaan ini diiringi air mata, sedangkan aku berusaha untuk tetap menahan meski air mata ini telah bekumpul ujung kelopak mata.
"Baiklah hadirin yang berbahagia, sudah waktunya kita memulai akad nikah..........."
Penghulu lalu meminta wali nikah dan saksi nikah mendekat. Jantung ini berdetak sangat cepat, saat bersalaman dan menggenggam tangan Wahyu, memaksa pikiran untuk tetap konsentrasi diantara sejuta perasaan yang bercampur menjadi satu. Tangan Wahyu terasa dingin karena mungkin merasakan hal yang sama denganku.
"Ananda Wisnu Bayu Aji bin Pramono, saya nikahkan dan saya kimpoikan kepadamu saudara kandung saya Laras Putri Mayangsari binti Almarhumah Hargo Wiyono dengan mas kimpoinya perhiasan emas 8 gram tunai."
"Saya terima nikahnya dan kimpoinya Laras Putri Mayangsari dengan mas kimpoinya yang tersebut tunai"
“Sah." Teriak para saksi dan para tamu yang menyaksikan acara. Putri pun beranjak dari tempatnya menghampiriku lalu memeluk dengan sangat erat seperti seorang anak kecil yang tak mau di tinggal pergi.
“Alhamdulillah, Putri kamu udah resmi jadi seorang istri dari suami yang mencintai kamu. Jangan nangis dong harusnya kamu seneng kamu bahagia. Sekarang udah ada yang gantiin mas buat jagain kamu, dan kebetulan dia temen mas dari kecil, temen kamu juga. Mas yakin dia jauh lebih baik bisa jaga kamu melebihi mas." Kataku tanpa bisa lagi menahan air mata kebahagiaan ini namun Putri masih enggan untuk melepas pelukannya sambil menangis sesenggukan.
“Terimakasih Mas, terimakasih untuk segalanya, maafin Putri selama Putri hidup pasti banyak salah udah banyak repotin mas Awan. Selalu sayang sama Putri ya mas, selalu doain putri agar bisa jadi istri yang baik, agar bisa jadi seperti ibu." Jawab Putri
“Iya Put, mas akan selalu sayang Putri, kamu gadis yang pinter, kamu gak pernah nyusahin mas pasti kamu bisa jadi istri yang baik dan ibu yang baik untuk ponakan mas Awan kelak." Kataku dan perlahan putri melepas pelukannya kemudian menghpiri Indri, Paman dan bibi. Dan Ninda orang terakhir yang mendapat pelukan, dan tetesan air mata Putri.
Lalu giliran Wisnu yang menghampiri dan memelukku, tangisnya pun pecah sampai pada akhirnya acara dilanjutkan dengan kotbah nikah dan doa penutup di bacakan.
Hari ini Wisnu dan Putri telah menjadi suami istri sah diakui oleh agama dan negara. Dua buah buku kecil dengan sampul bergambar burung mengepakkan kedua sayapnya menghadap ke kanan entah apa yang membuatnya tidak mau melihat kedepan. Buku itu mereka pamerkan saat mereka berpose untuk di abadikan gambarnya.
Musik karawitan berisi lagu lagu Jawa kuno mulai terdengar mengiringi keluargaku bertemu dengan keluarga Wisnu memulai acara upacara resepsi. Wisnu dan Putri melangkah menuju kursi pelaminan, beberapa saat setelah mereka duduk muncul beberapa penari yang secara bergantian membawakan tarian serimpi dan gambyong. Sebuah tarian yang melambangkan romantisme percintaan dengan gerakannya yang sangat pelan dan iringan lembut suara gamelan. Sebuah rangkaian upacara pernikahan dilalui Wisnu dan Putri dengan lancar hingga upacara berakhir sakral penuh makna berakhir.
Selamat menempuh hidup baru Wisnu dan Putri itulah ucapan-ucapan yang diberikan untuk mereka saat mereka menyalami para tamu undangan.
“Hei terus kapan giliran mas Awan sama mbak Ninda," Kata Indri membuat aku dan Ninda saling berpandangan.
“Emmmm, tanya aja sama calon kakak iparmu," Kataku sambil menunjuk Ninda.
“Iiih kok nanya aku sih, curang! Hmmm ada saatnya kok Ndri, mbak Ninda mau keliling dunia dulu." Kata Ninda.
“Ikuuuttttttt." Kata Indri.
“Iya tar Mbak ajak kamu, tapi kamu temenin Mas Awan dulu ya! Kasihan adiknya udah diambil orang satu, hehehehe." Kata Ninda mencubit hidung Indri.
“Sip-sip, Yaudah Indri kesana dulu nemuin temen-temen Indri." Kata Indri lalu berjalan ke beberapa orang seumuran SMA, yang sedang asik bercanda.
Aku dan Ninda beranjak untuk menyalami dan menemui para tamu yang datang dan pergi, sekedar berbincang dan menemani menikmati hidangan yang telah di sediakan.
Di tengah-tengah keramaian aku melihat sosok yang sangat terkenal dan sering menjadi perbincangan di kotaku. Seorang kakek yang sudah berumur 60 tahun namun masih tampak sangat sehat. Berdampingan dengan seorang wanita yang nampak seumuran dengan kebaya batik berwarna hijau. Beberapa orang datang menyalaminya dan sebagian yang lain mencium tangan sangat bersalaman.
“ Pakdhe, bukannya itu Mbah Karso emang di undang juga?” Tanyaku ke Pakdhe Darman, kakak kandung ayahku.
“ Oh, iya Pak Lurah yang undang soalnya mau ada ruwatan bulan depan di kelurahan.” Jawab Pakdhe Darman.
“ Bukannya tinggalnya jauh dia Dhe, kok bisa sampai sini?”
“ Ya, gak jauh lah Wonogiri- Karanganyar paling tiga jam. Oh iya Pakdhe temuin dulu ya.” Kata Pakdhe berjalan menghampiri Mbah Karso dan bersalaman dengan mencium tangan Mbah Karso.
“Ada-ada saja dimana internet sudah berkuasa masih aja percaya hal-hal yang tidak masuk akal.” Batinku saat mengingat beberapa kali aku pernah dengar cerita tentang sosok Mbah Karso.
(Sosok yang nanti akan tertulis dalam sebuah Novel Horor dengan Judul SAPTA PESONA)
Kemeriahan dan keramaian ini akhirnya selesai menjelang pukul 10 malam. Rasa lelah sepertinya tidak begitu terasa karena perasaan bahagia dihari ini.
“Mas Awan, Bibi dan Paman, Putri, Indri dan Ninda, kami pulang dulu ya terimakasih telah mengijinkan kami untuk singgah dan mohon maaf jika kedatangan kami membuat kerepotan." Kata Sherly berpamitan mewakili teman-teman kampusku.
“Iya kami juga mengucapkan kan terimakasih atas kedatangan teman teman sungguh suatu kehormatan bagi kami dengan waktu yang telah teman-teman berikan. Sekiranya kami kami mohon maaf jika masih banyak kekurangan dalam menyambut kedatangan dan disaat teman-teman disini, tiada sesuatu hal yang berharga dapat kami bawakan selain doa agar temen-temen selamat sampai tujuan." Kata Paman membalas pamit mereka mengawali perpisahan kami.
Mereka pun kembali ke Jakarta, kembali menatap aktivitas yang sepertinya sudah menunggu untuk dikerjakan. Malam akhirnya menyudahi acara keramaian yang penuh kebahagiaan hari ini. Semua sudah kembali seperti sediakala, hanya menyisakan tenda dan beberapa hiasan janur kuning yang mulai layu. Menandakan kita harus segera beristirahat, mengisi kembali energi yang terkuras hari ini. Semilir angin musim kemarau kota Karanganyar terasa dingin menyentuh kulit.
Dari tempat inilah cerita hidupku bermula dan tempat inilah yang akan selalu memanggilku untuk pulang. Gadis kecilku kini telah memiliki sayap dan bersiap mengepakkannya terbang menuju tempat yang ia mau, tapi aku masih punya satu gadis kecil yang sayapnya mulai tumbuh memaksa tubuh ini untuk terus bertahan hidup demi menjaganya sampai sayapnya sempurna. Tentang aku? Hanya bisa berharap bisa menjadi sayap bidadari yang kini sedang terlelap menemani Indri meskipun batas kata-kata ini seolah hilang ketika harus berhadapan dengannya memegang tangannya menatap bening matanya sambil berucap " aku cinta padamu".
Gerimis kecil di musim kemarau seolah menahan kepergian ku untuk kembali ke kota Jakarta. Segenap rasa rindu ini nampaknya belum sepenuhnya terobati hanya dengan menghabiskan waktu dua malam saja. Ingin rasanya aku tinggal lebih lama lagi tapi skripsiku terus memanggil untuk segera aku selesaikan. Diantara lalu lalang warga yang mulai membereskan tenda dan peralatan acara kemaren aku sibuk membereskan dan menata barang-barang di mobil. Dan baru selesai bertepatan dengan kedatangan keluarga Pak Pramono mengunjungi rumah kami.
“Assalamualaikum." Sapa Pak Pramono.
“Walaikumsallam." Jawabku merekapun masuk disambut keluargaku.
”Oooh besan udah dateng, ayo pak silahkan duduk." Kata Bibi.
“Lha ini kok udah beres-beres emang udah mau balik?" Kata Pak Pramono.
“Iya Pak Dhe, tugas di Jakarta udah numpuk kalau gak segera di kelarin malah tambah repot tar." Kataku.
“Iya Pak, padahal udah Wahyu suruh 2 hari lagi tapi namanya Awan tau sendiri." Kata Wahyu.
“Hush kamu itu manggil kakakmu kok ngawur to Le," kata Ibu Winarni istri pak Pramono.
“Udah gakpapa budhe saya yang nyuruh lagian Wahyu ini kan temen kecil saya umurnya juga lebih tua dia 4bulan, malah risih saya di panggil Mas." Kataku.
“Tapi itu kan unggah ungguh Le, alias tata krama?!" Jawab Bu Winarni.
“Iya gakpapa lah budhe, tar kalau Wahyu manggil saya mas malah saya kelihatan tua." Kataku disambut tawa.
“Ayo Mas Pram, Mbak di minum tehnya, terus ini dimakan jangan didiemin aja." Kata Paman.
“Iya, iya Mas makasih malah ngrepotin ini," kata Pak Pramono.
“Ngrepotin opo to mas, wong kaya biasanya aja ini." kata Bibi.
“Rafa, Kamu kelas berapa sekarang?" Kataku ke anak Mbak Icha kakak Wahyu istri dari Mas Ramdhan.
“Kelas dua om," kata Rafa.
“Wih cepet amat, perasaan tahun kemarin masih TK?" Kataku.
“Kemaren kelas satu om, tar tahun depan kelas tiga." Jawab Rafa.
“Dapet rangking berapa Rafa?" Kata Ninda.
“2 Tante." Jawab Rafa.
“Anak pinter, gak kaya Om Awan juara duanya dari belakang." Kata Ninda.
“Enak aja Aku ma juara satu terus kok," Kataku.
“Iya tapi muridnya 2 kan." Teriak Putri.
“Itu tau, muridnya cuma aku sama Wahyu." Kataku disambut tawa.
“Saya bangga sama Almarhum Mas Hargo, punya anak-anak seperti kalian Awan, Putri dan Indri.” Kata Pak Pramono menghisap rokoknya dalam-dalam.
“ Ah, biasa aja kali Pakdhe.” Kataku.
“ Iya Nih Pak e malah bahas masa lalu.” Jawab Bu Winarni.
“ Banyak kenangan bersama beliau Bu, teman dari kecil seorang anak kiai yang nekat menjadikan mbak Sari sebagai istri meski Pak Karyo (kakekku dari bapak) tidak menyetujui tapi pada akhirnya Mbak Sari jadi menantu kesayangan Bu Sartini(istri kakek).” Kata Pak Pramono melihat foto Ayah yang tertempel di tembok.
“ Hehehehe tapi Mas Pram dulu sempet nitip salam to ke mbak Sari lewat saya?” Kata Paman.
“ Walah, kamu kok malah buka kartu to Mas Larto? Lha wong yang nitip salam bukan cuma aku tapi hampir seluruh pemuda di kampung waktu itu kok?” Jawab Pak Pramono.
“ Oooh jadi dulu Mas sempet suka sama Almarhum Mbak Sari?” kata Bu Winarni.
“ Walah kok masih nanya lagi kan aku sudah banyak cerita tentang yang dulu-dulu itu cinta monyet?” Kata Pak Pramono.
“ Iya dulu monyet sekarang kingkong gitu?” Kata Bu Winarni.
“ lha itu sampingmu kingkong ya?” Jawab Pak Pramono melirik ke arah Mbak Icha yang badannya paling berisi diantara kami.
“Hahahahahaha.” Kami pun tertawa.
“ Iiih apaan sih Pak, kalau Icha kingkong berarti bapak gorilanya.” Jawab Mbak Icha lagi lagi disambut tawa.
Perbincangan kami pun berlanjut sampai menjelang sore dan akhirnya tiba saatnya aku kembali ke Jakarta. Aku berpamitan dengan keluargaku dan juga keluarga Pak Pramono. Lagi lagi diantar dengan tangis haru seolah mereka masih merasakan rindu seperti yang aku rasakan.
“Hati-hati ya Wan, sekarang Lo kakak gw ingetin gw disaat salah bimbing gw saat gw keluar dari jalan lurus." Kata Wahyu saat aku bersiap menginjak gas.
“Iya bro, gw tau Lo yang terbaik buat adik gw, titip Putri ya, hehehehe tugas gw beliin es potong udah kelar giliran Lo yang beliin lipstik." Kataku.
“Hahahaha, oke siap Mas." Kata Wahyu.
Akupun menutup kaca mobil dan mobil melaju menuju kota Jakarta. Didampingi seorang wanita yang tanpa henti menceritakan kembali peristiwa yang ia alami selama di desa hingga akhirnya kelelahan dan memejamkan mata. Wajah cantik meskipun tampak lelah yang hanya bisa aku pandangi dan aku kagumi hingga saat ini. Sebuah pertemuan yang begitu rumit pada akhirnya akan meninggalkan cerita indah seperti ini.
Hingga pada akhirnya angin pun berhembus semakin kencang meniupkan sedikit demi sedikit cerita indah hingga akhirnya terbang terbawa entah kemana terhempasnya.
g.gowang memberi reputasi
1