- Beranda
- Stories from the Heart
Patahan Salib Bidadari
...
TS
setiawanari
Patahan Salib Bidadari
In the name of Allah, the beneficient, the merciful
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Terimakasih untuk gambar sampulnya awayeye
Terimakasih Kaskus, khususnya untuk sub forum SFTH yang telah menyediakan tempat menampilkan sebuah cerita. Sebuah fasilitas yang akan saya gunakan untuk menulis dimulai dari hari ini hingga di hari-hari selanjutnya.
Terlepas dari nyata atau tidaknya cerita ini, adalah tidak terlalu penting karena sebagian dari kisah nyata dan sebagian dari imaginasi saya. Harapan saya tokoh-tokoh dalam cerita ini dapat menjadi inspirasi untuk para pembaca cerita yang saya tulis ini dapat menjadikan saya untuk terus berkreatifitas.
Mohon maaf jika materi dalam cerita ini nantinya ada kesalahan dan menyinggung pihak-pihak tertentu sekiranya nasihat, kritik dan saran dari agan/sista yang lebih berpengalaman selalu sangat saya harapkan.
Menemani istirahat untuk menghilangkan lelah setelah pulang kerja/sekolah/kuliah, atau saat sedang menunggu sesuatu mari kita baca ceritanya. Ditemani alunan musik dan segelas kopi/cokelat/susu/teh hangat kita kembali ke beberapa tahun yang lalu!!!.
PEMBUKA CERITA
Terpaku di dalam rasa cinta yang tak mungkin pudar, menanti cinta datang membawa arti sampai segenap organ ini berhenti.
Sore itu saat cuaca cerah di lantai 6 gedung akademisi yang melahirkan sarjana ekonomi terbaik aku termenung. Melamunkan manis, asam, asin dan pahitnya segala kehendak Tuhan yang dianugerahkan kepada salah satu ciptaanNya.
Manusia diberikan otak untuk berfikir dan menggunakan logika lalu diberikan hati untuk merasakan. Hati adalah malaikat sedangkan otak kadang menjadi iblis dan sangat sulit untuk mengontrolnya menjadi malaikat. Hati menjerit saat kita berbuat salah sedangkan otak adalah penyebab semua kesalahan yang dilakukan manusia. Malaikat dan iblis adalah gambaran dari manusia, sebagai simbol antara kebaikan dan kejahatan. Kebaikan tidak akan bersanding dengan kejahatan dan sebaliknya.
“Permisi Mas! Bisa pindah duduknya, lantainya mau di bersihkan!” Sapa seorang petugas cleaning service membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya mas”. Jawabku sambil berlalu pergi menuju tempat parkir motor tepatnya dihalaman depan kampus.
Karamnya cinta ini
Tenggelamkanku diduka yang terdalam
Hampa hati terasa
Kau tinggalkanku meski ku tak rela
Salahkah diriku hingga saat ini
Kumasih mengharap
Kau tuk kembali………
Sore itu gerimis turun saat aku pulang, tak terasa sampai ditempat kos yang kebetulan hanya berjarak 10 menit dari kampus air hujan membasahi jaket jeans yang ku kenakan. Segera aku mengambil handuk dan membersihkan diri, bersiap untuk mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Dengan ritual sholat Ashar aku merasakan kedamaian yang tidak ada bandingannya, sebagai bentuk kepatuhan dan rasa syukur atas semua yang diberikan Tuhan baik itu berkah yang membuat hati senang maupun musibah sebagai ujian kepada hambanya agar menjadi sosok yang lebih kuat.
Waktunya istirahat, kurebahkan badan ini di kasur busa sebagai surga dunia yang paling indah, sambil memutar lagu menemaniku melepas lelah. Secangkir kopi hitam telah kusiapkan untuk menghangatkan suasana karena diluar hujan turun semakin deras. Kupandangi sebuah kalung berwarna emas berliontin salib yang bersanding dengan sebuah kalung perak berliontin lafaz Allah, tergantung dibawah poster foto Ibu Sundari Sukotjo tepat di tengah-tengah dinding kamar kosku. Masih menampakkan kilaunya meski kalung-kalung itu sudah hampir 4 tahun lamanya. Aku bangkit dari tempat tidur, meminum sedikit kopi hitam, sambil menarik nafas dalam sedalam yang aku mampu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu di sore ini, ya aku merasakan suatu kerinduan yang luar biasa dengan pemilik kalung salib yang tergantung dikamarku, seorang yang sangat suka musik klasik, seseorang pecinta sepakbola, seseorang yang suka kopi hitam dan mungkin pernah mencintaiku walaupun tak pernah mengungkapkan sepatah katapun.
“Ya Tuhan hari ini aku kangen banget sama dia, meski tak sebesar kangen ku kepadaMu, tapi sungguh seolah-olah aku merasa sangat lemah dan sangat kehilangan. Hari ini tepat 4 bulan yang lalu dia beranjak pergi dari tempat ini, dia pergi untuk cita-citanya, untuk impiannya dan bodohnya aku belum sempat mengutarakan seluruh perasaanku kepadanya. Perbedaan keyakinanlah yang menghalangi, aku bahkan hanya bisa diam membisu saat ku ingin mengucapkan seluruh rasa cinta ini aku takut rasa cinta kepada makhluk ciptaanMu melebihi rasa cintaku padaMu. Tak kuasa air mata ini menetes, berusaha ku tahan tapi tak sanggup karena mungkin ini air mata rindu yang mencapai puncaknya.
Aku bukan seorang penulis tetapi hari ini tiba-tiba ingin sekali aku ingin sekali memainkan jariku di keyboard yang biasanya hanya kupakai untuk membuat tugas. Aku ingin menulis tentang dirimu tentang cerita kita, walaupun mungkin tidak berujung bahagia tidak apa karena mungkin dengan tulisan ini aku bisa mencurahkan segala isi hati dan kerinduanku kepada mu. Kenangan indah tentang hari-hari yang pernah kulalui dengan seorang bidadari yang telah merubah seluruh hidupku, meski meninggalkan perasaan yang terus menggantung entah sampai kapan. Bidadari yang datang di hidupku, menemaniku sejenak lalu pergi meninggalkan patahan salibnya di hidupku.
Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu
Sekilas Gambar Tentang Aku
Harapan Sesuai dengan Kenyataan
Kerikil Kecil dan Awan yang Jauh
Pertemuan dengan Sahabat
Sepatu Mengawali Sebuah Impian
Dunia Kampus dan Teman Baru
Keluarga Kecil Bernama HALTE
Sesuatu Mengganggu Pesta Akhir Smester
Diantara Rasa Kagum dan Penasaran
Meluapnya Sebuah Emosi
Hubungan yang Semakin Dekat
Kegelisahan Menghadapi Perasaan yang Berbeda
Siang Menjadi Malam dan Sebaliknya
Perjalanan yang Semakin Indah
Momen Menggelikan dan Warna Kehidupan
Dilema Menghadapi Ungkapan Perasaan
Tetangga di Sekitar Kami
Liontin Salib untuk Leher yang Indah
Kepedihan Cerita di Masa Lalu
Senyuman untuk Hati yang Terluka
Sosok yang Menjadi Pertanyaan
Mencoba Menghilangkan Trauma
Pelangi yang Hilang Bersama Turunnya Hujan
Malam Kebahagiaan Bersama Keluarga Kecil
Bidadari Kecil Kini Telah Dewasa
Kebahagiaan Kini Tinggal Prasasti
Semua Terjadi Sangat Cepat
Sebuah Cinta yang Salah
Surga yang Tak Layak untuk Dilihat
Rumput Dingin Di Bawah Bangku Taman
Pahitnya Sebuah Ucapan
Air Mata Menepis Kerasnya Kata-kata
Satu Langkah ke Arah Normal
Bertahan Hanya dalam Waktu Singkat
Semakin Tenggelam dalam Kedekatan
Lilin Kecil di Malam Penuh Kebahagiaan
Selamat Datang Kemarau
Kerinduan yang Teramat Dalam
Hembusan Angin Masa Lalu
Sayap yang Kuat Untuk Bidadari Kecil
Tinta Biru Menorehkan Luka
Berusaha Menyembunyikan Luka
Hilangnya Rasa Segan
Keberhasilan Tanpa Perayaan
Berharap Hanya Andai Saja
Serpihan Kenangan yang Menyiksa
Tempat Baru
Berita Baik Bersama Undangan
Selamat Menempuh Hidup Baru
Kesan yang Baik di Hari Pertama
Insiden Kecil dan Masa yang Telah Terlewati
Menutup Momen 4 Tahun Kebersamaan
Kotak Makan Siang
Keberanian Untuk Memulai
Pahitnya Sambutan Selamat Datang
Seperti Kembali ke Waktu Itu
Teka Teki dari Perhatian Sederhana
Cerita di Ujung Sore
Peneduh Panasnya Amarah
Mengungungkapkan tak Semudah Membayangkan
Titik Terang yang Terasa Gelap
Patahan Salib Bidadari
Terimakasih Untuk Masa yang Terlewati
Apa yang Sebenarnya Terjadi
Kembali Terjatuh
Dunia Ciptakan Keindahan
Dan Kebahagiaan [TAMAT]
Kata Penutup (Q&A)
Diubah oleh setiawanari 10-07-2018 17:35
nona212 dan calebs12 memberi reputasi
3
111.2K
608
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
setiawanari
#186
Hembusan Angin Masa Lalu
Tiba di rumah suasana semakin ramai, adik dan kakak dari ibu dan ayah berserta keluarga besarnya sudah mulai berdatangan. Mulai dari yang dari Jogja, Surabaya, Ungaran dan yang hanya beda desa namun masih satu kota.
“Oooh minta gendong, yaampun gantengnya mau kue ya, apa ini jeruk." Kata Ninda menggendong Evan anak dari mbak Nadine kakak sepupuku yang tinggal di Jogja. Evan pun menunjuk kue di atas meja.
“Dede gantengnya mau kue ya, ini jeruknya gak mau, enak lho tante aja suka jeruk, Dede gak suka.?" Kata Ninda kembali anak berusia 18bulan itu menggelengkan kepala.
“Ooh dede sukanya kue, emang Dede udah punya gigi, tumbuh 4 ya, pinter.....ayo di mamam sini-sini Tante suapin." Kata Ninda menyuapi secuil kue bolu dan Evan pun memakannya.
“Wah anak Kamu genit tu Fer, kecil-kecil udah tau cewe cantik." Kata Mas Dipo.
“Iya nih nakal, tadi mau Putri ajak aja gak mau giliran sama mbak Ninda langsung lengket." Kata Putri.
“Kamu belum mandi kali Put, hahahaha." Jawab Mas Ferdi ayah Evan.
“Iih enak aja dasarnya nakal aja nih si Evan pilih-pilih anaknya, iiih gemes... Gemes.. gemes," kata Putri mencium pipi kanan dan kiri Evan.
Dan kembali perhatian tertuju kepada Ninda orang asing yang beberapa beberapa dari saudaraku baru melihatnya untuk pertama kali. Sampai waktu magrib menjelang Evan membuat suasana menjadi seru tingkah polah anak kecil yang baru bisa jalan ini membuat kami dibuat tertawa. Ditengah keseruan datang kembali tiga mobil keluarga namun hanya berhenti di depan dan beberapa kali membunyikan klakson tanpa ada satu orangpun yang turun.
Aku penasaran dan menghampiri ketiga mobil tersebut. Sekarang kejutan apa lagi yang di rencanakan Tuhan.
“Heyyyy Sob, jalanan ke kampung Lo ekstrim juga kaya di puncak, hahahahaha." Kata Sandro dari dalam mobil paling depan.
“Ya Tuhan kalian kok bisa sampai sini." Kataku.
“Yaelah ini ma deket daripada kampung gw yang di Medan, perjalanan pakai mobil bisa 2hari." Kata Sandro.
“Yaudah ayo turun, masa mau di mobil aja." Kataku.
Lalu satu persatu teman kampusku turun dari mobil, pelukan hangat mereka sempatkan meski badan mereka tampak lelah. Sementara Sherly, Anisa, Lena, Laura, dan Dewi menangis saat bertemu Putri dan Ninda. Salah satu keunikan wanita yaitu bisa menangis dan tertawa bisa dilakukan dalam satu waktu sekaligus.
Keluargaku menyambut kedatangan teman-temanku dengan hangat, tak ada rasa canggung diantara mereka. Kami pun berkumpul di ruang tamu, tempat yang kosong karena pihak keluarga ku berkumpul di rumah Paman dan sebagian di luar.
“Wan kok udah ramai banget, bukannya acaranya masih besuk siang?" Kata Riski.
“Iya Ki, tradisi di kampung gw emang begitu, ini semua 1 kampung berkumpul kaya kerjabakti gitu, ada yang masak, bikin tenda dan pokoknya semuanya dibantu dah." Kataku.
“Wih hebat ya, jadi gak perlu EO dong Wan?" Kata Ucup.
“Yah EOnya paling besuk, pas acara doang itu untuk akad nikah, resepsi sama dokumenter, kan acaranya dari pagi sampai malam kalau hajatan di kampung ma, pokoknya seru dah ceremonial nya pasti belum pernah kalian lihat sebelumnya, hampir mirip sama Jogja, iya kan Sher." Kataku.
“Iya, betul pokoknya panjang ceremonialnya bisa sampai 4jam." Kata Sherly.
“Tapi kok kalian gak bawa ganti?" Kataku.
“Oooh bawa Wan, malah drescode kita untuk besuk sesuai sama warna tendanya padahal gak di rencanain." Kata Laura.
“Yaudah kenapa gak di bawa turun?" Kataku.
“Yeeeh dibawa turun gimana orang udah di taruh di penginapan," kata Sandro.
“Oooh jadi kalian nanti gak nginep sini, padahal cukup tempatnya buat kalian tidur meskipun ya begini adanya?" Kataku.
“Aah nanti malah ngrepotin Wan, lagian tadi deket kecamatan ada 1 rumah yang disewakan, ukurannya gede banget, ada 4kamar dan harganya itu murah banget, kalau di Jakarta cuma dapet satu kamar." Kata Sherly.
“Oooh tapi nanti kalian pulangnya malem aja, kita bikin kambing guling gimana sekalian nanti gw kenalin sama temen-temen gw, bentar lagi juga pada dateng." Kataku.
“Wajah seru tuh, kayanya bakal lebih seru dari acara-acara kita sebelumnya." Kata Lena.
“Aaah temen-temen Awan kan paling juga cowok semua, apanya yang seru buat kita yang masih jomblo," kata Riski
“Lagian elu, Ari, Ucup, sama Ambon gimana gak mau jomblo permanen, mana ada cewe yang mau sama cowok yang pikiran nya mesum kaya kalian." Kata Sandro.
“Wah parah buka kartunya cepet banget, ya kan Lo gurunya San," Kata Ari.
“Sandro ma bukan cuma gurunya tapi udah dosennya." Balas Ucup.
“Dosen sekaligus Rektor" Tambah Riski.
“Udah buat cowok-cowok yang masih jomblo, tar juga bakalan betah di mari kalau udah ketemu sama temen-temennya Awan, Putri bilang kalau disini Awan banyak fansnya." Kata Ninda membawakan minuman diikuti Putri dan Indri membawa nasi lauk dan pelengkapnya.
“Wah ada yang mulai cemburu nih?" Kata Sherly
“Apaan sih Lo Sher, ayo udah saatnya makan malem, muka-mukanya udah pada nahan laper kan?" Kata Ninda.
“Wah ini yang ditunggu-tunggu emang gak ada yang ngalahin enaknya makan bareng-bareng." Kata Ucup orang pertama menyambar piring.
“Aaah Lu ma Cup, kalau gak Elu, Ambon, waktunya makan pasti paling cepet tapi waktunya kerja paling duluan ngumpet." Kata Sandro membuat kami tertawa memulai makan malam.
Satu persatu teman sekampungku mulai berdatangan, bergabung dengan keluarga besar dan teman-teman kampusku meramaikan suasana malam menjelang pernikahan Putri. Bercengkerama diantara kesibukan orang-orang yang mempersiapkan acara resepsi pernikahan. Bernyanyi dengan iringan gitar, menikmati daging kambing yang di panggang dengan sempurna.
" Lho katanya mau ngecas hp doang kenapa masih di kamar?" Kataku menghampiri Ninda dan Putri di kamarku.
" Ini abis angkat telpon temen Wan." Jawab Ninda.
" Yaudah Putri tinggal dulu ya Mas." Kata Putri meninggalkan kamar.
" Nin, ayo keluar lagi atau udah ngantuk kamu?" Kataku duduk di sampingnya.
" Belum lah, bentar gw balesin B*M temen gw dulu, oh iya Wan, disini banyak cewek-cewek cantik gak pernah Lo pacaran sama mereka?" Kata Ninda dengan mata tertuju ke layar hp.
" Hahahaha, gak ada! Ya gak tau waktu gw dari kecil sampai SMA gak mikirin pacaran, lebih asik nongkrong sama temen-temen cowok malahan. Lagipula mana ada cewek yang mau pacaran sama cowok gak jelas kaya gw.! Emang kenapa?"
" Ya nanya aja, hehehehe yakin gak ada yang suka sama Lo?"
" Hmmmm gak ada! Ya ada paling cuma nitip salam-salam ke adik-adik gw entah salam apaan. Dan gw gak pernah nanggepin."
" Wan, kadang kita gak pernah tau perasaan orang yang suka sama kita, tapi gak pernah kita peduliin. Oh iya pernah gak sih Wan Lo berbuat sesuatu untuk orang lain yang menurut Lo biasa aja tapi bisa bikin orang lain jatuh cinta sama Lo?"
" Gak pernah! ini ngomong apa sih Lo Nin? Lagian gw juga gak pernah berbuat sesuatu apapun buat orang lain."
" Tapi Lo pernah ngelakuin sesuatu hal yang bikin orang lain nyaman terus orang tersebut suka sama Lo. Tapi Lo gak pernah tau hal itu, bukan cuma satu tapi beberapa!"
" Nah makin gak ngerti gw Nin maksudnya?"
" Ngeselin banget sih Lo, cowok gak peka, cowok aneh. Biarin aja suatu saat Lo bakalan kena karma suka sama orang tapi orang itu gak nganggap Lo ada. Wan dapet salam dari Isti." Kata Ninda berjalan meninggalkan kamar.
" Lha Nin, tunggu kok Lo tau tentang...." Kataku mengejarnya.
" Tau lah, hehehehe Lo pikir aja sendiri Wan."
" Serius Nin, tau dari mana kamu?" Kataku menarik tangan Ninda."
" Iiiih, tadi barusan telepon Putri." Kata Ninda terus berjalan dan bergabung dengan anak-anak di halaman rumah.
Tengah malam memisahkan kami malam ini, beristirahat untuk kembali membuka mata esuk harinya menyaksikan momen kebahagiaan Putri untuk pertama dan terakhir seumur hidupnya.
“Oooh minta gendong, yaampun gantengnya mau kue ya, apa ini jeruk." Kata Ninda menggendong Evan anak dari mbak Nadine kakak sepupuku yang tinggal di Jogja. Evan pun menunjuk kue di atas meja.
“Dede gantengnya mau kue ya, ini jeruknya gak mau, enak lho tante aja suka jeruk, Dede gak suka.?" Kata Ninda kembali anak berusia 18bulan itu menggelengkan kepala.
“Ooh dede sukanya kue, emang Dede udah punya gigi, tumbuh 4 ya, pinter.....ayo di mamam sini-sini Tante suapin." Kata Ninda menyuapi secuil kue bolu dan Evan pun memakannya.
“Wah anak Kamu genit tu Fer, kecil-kecil udah tau cewe cantik." Kata Mas Dipo.
“Iya nih nakal, tadi mau Putri ajak aja gak mau giliran sama mbak Ninda langsung lengket." Kata Putri.
“Kamu belum mandi kali Put, hahahaha." Jawab Mas Ferdi ayah Evan.
“Iih enak aja dasarnya nakal aja nih si Evan pilih-pilih anaknya, iiih gemes... Gemes.. gemes," kata Putri mencium pipi kanan dan kiri Evan.
Dan kembali perhatian tertuju kepada Ninda orang asing yang beberapa beberapa dari saudaraku baru melihatnya untuk pertama kali. Sampai waktu magrib menjelang Evan membuat suasana menjadi seru tingkah polah anak kecil yang baru bisa jalan ini membuat kami dibuat tertawa. Ditengah keseruan datang kembali tiga mobil keluarga namun hanya berhenti di depan dan beberapa kali membunyikan klakson tanpa ada satu orangpun yang turun.
Aku penasaran dan menghampiri ketiga mobil tersebut. Sekarang kejutan apa lagi yang di rencanakan Tuhan.
“Heyyyy Sob, jalanan ke kampung Lo ekstrim juga kaya di puncak, hahahahaha." Kata Sandro dari dalam mobil paling depan.
“Ya Tuhan kalian kok bisa sampai sini." Kataku.
“Yaelah ini ma deket daripada kampung gw yang di Medan, perjalanan pakai mobil bisa 2hari." Kata Sandro.
“Yaudah ayo turun, masa mau di mobil aja." Kataku.
Lalu satu persatu teman kampusku turun dari mobil, pelukan hangat mereka sempatkan meski badan mereka tampak lelah. Sementara Sherly, Anisa, Lena, Laura, dan Dewi menangis saat bertemu Putri dan Ninda. Salah satu keunikan wanita yaitu bisa menangis dan tertawa bisa dilakukan dalam satu waktu sekaligus.
Keluargaku menyambut kedatangan teman-temanku dengan hangat, tak ada rasa canggung diantara mereka. Kami pun berkumpul di ruang tamu, tempat yang kosong karena pihak keluarga ku berkumpul di rumah Paman dan sebagian di luar.
“Wan kok udah ramai banget, bukannya acaranya masih besuk siang?" Kata Riski.
“Iya Ki, tradisi di kampung gw emang begitu, ini semua 1 kampung berkumpul kaya kerjabakti gitu, ada yang masak, bikin tenda dan pokoknya semuanya dibantu dah." Kataku.
“Wih hebat ya, jadi gak perlu EO dong Wan?" Kata Ucup.
“Yah EOnya paling besuk, pas acara doang itu untuk akad nikah, resepsi sama dokumenter, kan acaranya dari pagi sampai malam kalau hajatan di kampung ma, pokoknya seru dah ceremonial nya pasti belum pernah kalian lihat sebelumnya, hampir mirip sama Jogja, iya kan Sher." Kataku.
“Iya, betul pokoknya panjang ceremonialnya bisa sampai 4jam." Kata Sherly.
“Tapi kok kalian gak bawa ganti?" Kataku.
“Oooh bawa Wan, malah drescode kita untuk besuk sesuai sama warna tendanya padahal gak di rencanain." Kata Laura.
“Yaudah kenapa gak di bawa turun?" Kataku.
“Yeeeh dibawa turun gimana orang udah di taruh di penginapan," kata Sandro.
“Oooh jadi kalian nanti gak nginep sini, padahal cukup tempatnya buat kalian tidur meskipun ya begini adanya?" Kataku.
“Aah nanti malah ngrepotin Wan, lagian tadi deket kecamatan ada 1 rumah yang disewakan, ukurannya gede banget, ada 4kamar dan harganya itu murah banget, kalau di Jakarta cuma dapet satu kamar." Kata Sherly.
“Oooh tapi nanti kalian pulangnya malem aja, kita bikin kambing guling gimana sekalian nanti gw kenalin sama temen-temen gw, bentar lagi juga pada dateng." Kataku.
“Wajah seru tuh, kayanya bakal lebih seru dari acara-acara kita sebelumnya." Kata Lena.
“Aaah temen-temen Awan kan paling juga cowok semua, apanya yang seru buat kita yang masih jomblo," kata Riski
“Lagian elu, Ari, Ucup, sama Ambon gimana gak mau jomblo permanen, mana ada cewe yang mau sama cowok yang pikiran nya mesum kaya kalian." Kata Sandro.
“Wah parah buka kartunya cepet banget, ya kan Lo gurunya San," Kata Ari.
“Sandro ma bukan cuma gurunya tapi udah dosennya." Balas Ucup.
“Dosen sekaligus Rektor" Tambah Riski.
“Udah buat cowok-cowok yang masih jomblo, tar juga bakalan betah di mari kalau udah ketemu sama temen-temennya Awan, Putri bilang kalau disini Awan banyak fansnya." Kata Ninda membawakan minuman diikuti Putri dan Indri membawa nasi lauk dan pelengkapnya.
“Wah ada yang mulai cemburu nih?" Kata Sherly
“Apaan sih Lo Sher, ayo udah saatnya makan malem, muka-mukanya udah pada nahan laper kan?" Kata Ninda.
“Wah ini yang ditunggu-tunggu emang gak ada yang ngalahin enaknya makan bareng-bareng." Kata Ucup orang pertama menyambar piring.
“Aaah Lu ma Cup, kalau gak Elu, Ambon, waktunya makan pasti paling cepet tapi waktunya kerja paling duluan ngumpet." Kata Sandro membuat kami tertawa memulai makan malam.
Satu persatu teman sekampungku mulai berdatangan, bergabung dengan keluarga besar dan teman-teman kampusku meramaikan suasana malam menjelang pernikahan Putri. Bercengkerama diantara kesibukan orang-orang yang mempersiapkan acara resepsi pernikahan. Bernyanyi dengan iringan gitar, menikmati daging kambing yang di panggang dengan sempurna.
" Lho katanya mau ngecas hp doang kenapa masih di kamar?" Kataku menghampiri Ninda dan Putri di kamarku.
" Ini abis angkat telpon temen Wan." Jawab Ninda.
" Yaudah Putri tinggal dulu ya Mas." Kata Putri meninggalkan kamar.
" Nin, ayo keluar lagi atau udah ngantuk kamu?" Kataku duduk di sampingnya.
" Belum lah, bentar gw balesin B*M temen gw dulu, oh iya Wan, disini banyak cewek-cewek cantik gak pernah Lo pacaran sama mereka?" Kata Ninda dengan mata tertuju ke layar hp.
" Hahahaha, gak ada! Ya gak tau waktu gw dari kecil sampai SMA gak mikirin pacaran, lebih asik nongkrong sama temen-temen cowok malahan. Lagipula mana ada cewek yang mau pacaran sama cowok gak jelas kaya gw.! Emang kenapa?"
" Ya nanya aja, hehehehe yakin gak ada yang suka sama Lo?"
" Hmmmm gak ada! Ya ada paling cuma nitip salam-salam ke adik-adik gw entah salam apaan. Dan gw gak pernah nanggepin."
" Wan, kadang kita gak pernah tau perasaan orang yang suka sama kita, tapi gak pernah kita peduliin. Oh iya pernah gak sih Wan Lo berbuat sesuatu untuk orang lain yang menurut Lo biasa aja tapi bisa bikin orang lain jatuh cinta sama Lo?"
" Gak pernah! ini ngomong apa sih Lo Nin? Lagian gw juga gak pernah berbuat sesuatu apapun buat orang lain."
" Tapi Lo pernah ngelakuin sesuatu hal yang bikin orang lain nyaman terus orang tersebut suka sama Lo. Tapi Lo gak pernah tau hal itu, bukan cuma satu tapi beberapa!"
" Nah makin gak ngerti gw Nin maksudnya?"
" Ngeselin banget sih Lo, cowok gak peka, cowok aneh. Biarin aja suatu saat Lo bakalan kena karma suka sama orang tapi orang itu gak nganggap Lo ada. Wan dapet salam dari Isti." Kata Ninda berjalan meninggalkan kamar.
" Lha Nin, tunggu kok Lo tau tentang...." Kataku mengejarnya.
" Tau lah, hehehehe Lo pikir aja sendiri Wan."
" Serius Nin, tau dari mana kamu?" Kataku menarik tangan Ninda."
" Iiiih, tadi barusan telepon Putri." Kata Ninda terus berjalan dan bergabung dengan anak-anak di halaman rumah.
Tengah malam memisahkan kami malam ini, beristirahat untuk kembali membuka mata esuk harinya menyaksikan momen kebahagiaan Putri untuk pertama dan terakhir seumur hidupnya.
g.gowang memberi reputasi
1