- Beranda
- Stories from the Heart
Patahan Salib Bidadari
...
TS
setiawanari
Patahan Salib Bidadari
In the name of Allah, the beneficient, the merciful
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Terimakasih untuk gambar sampulnya awayeye
Terimakasih Kaskus, khususnya untuk sub forum SFTH yang telah menyediakan tempat menampilkan sebuah cerita. Sebuah fasilitas yang akan saya gunakan untuk menulis dimulai dari hari ini hingga di hari-hari selanjutnya.
Terlepas dari nyata atau tidaknya cerita ini, adalah tidak terlalu penting karena sebagian dari kisah nyata dan sebagian dari imaginasi saya. Harapan saya tokoh-tokoh dalam cerita ini dapat menjadi inspirasi untuk para pembaca cerita yang saya tulis ini dapat menjadikan saya untuk terus berkreatifitas.
Mohon maaf jika materi dalam cerita ini nantinya ada kesalahan dan menyinggung pihak-pihak tertentu sekiranya nasihat, kritik dan saran dari agan/sista yang lebih berpengalaman selalu sangat saya harapkan.
Menemani istirahat untuk menghilangkan lelah setelah pulang kerja/sekolah/kuliah, atau saat sedang menunggu sesuatu mari kita baca ceritanya. Ditemani alunan musik dan segelas kopi/cokelat/susu/teh hangat kita kembali ke beberapa tahun yang lalu!!!.
PEMBUKA CERITA
Terpaku di dalam rasa cinta yang tak mungkin pudar, menanti cinta datang membawa arti sampai segenap organ ini berhenti.
Sore itu saat cuaca cerah di lantai 6 gedung akademisi yang melahirkan sarjana ekonomi terbaik aku termenung. Melamunkan manis, asam, asin dan pahitnya segala kehendak Tuhan yang dianugerahkan kepada salah satu ciptaanNya.
Manusia diberikan otak untuk berfikir dan menggunakan logika lalu diberikan hati untuk merasakan. Hati adalah malaikat sedangkan otak kadang menjadi iblis dan sangat sulit untuk mengontrolnya menjadi malaikat. Hati menjerit saat kita berbuat salah sedangkan otak adalah penyebab semua kesalahan yang dilakukan manusia. Malaikat dan iblis adalah gambaran dari manusia, sebagai simbol antara kebaikan dan kejahatan. Kebaikan tidak akan bersanding dengan kejahatan dan sebaliknya.
“Permisi Mas! Bisa pindah duduknya, lantainya mau di bersihkan!” Sapa seorang petugas cleaning service membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya mas”. Jawabku sambil berlalu pergi menuju tempat parkir motor tepatnya dihalaman depan kampus.
Karamnya cinta ini
Tenggelamkanku diduka yang terdalam
Hampa hati terasa
Kau tinggalkanku meski ku tak rela
Salahkah diriku hingga saat ini
Kumasih mengharap
Kau tuk kembali………
Sore itu gerimis turun saat aku pulang, tak terasa sampai ditempat kos yang kebetulan hanya berjarak 10 menit dari kampus air hujan membasahi jaket jeans yang ku kenakan. Segera aku mengambil handuk dan membersihkan diri, bersiap untuk mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Dengan ritual sholat Ashar aku merasakan kedamaian yang tidak ada bandingannya, sebagai bentuk kepatuhan dan rasa syukur atas semua yang diberikan Tuhan baik itu berkah yang membuat hati senang maupun musibah sebagai ujian kepada hambanya agar menjadi sosok yang lebih kuat.
Waktunya istirahat, kurebahkan badan ini di kasur busa sebagai surga dunia yang paling indah, sambil memutar lagu menemaniku melepas lelah. Secangkir kopi hitam telah kusiapkan untuk menghangatkan suasana karena diluar hujan turun semakin deras. Kupandangi sebuah kalung berwarna emas berliontin salib yang bersanding dengan sebuah kalung perak berliontin lafaz Allah, tergantung dibawah poster foto Ibu Sundari Sukotjo tepat di tengah-tengah dinding kamar kosku. Masih menampakkan kilaunya meski kalung-kalung itu sudah hampir 4 tahun lamanya. Aku bangkit dari tempat tidur, meminum sedikit kopi hitam, sambil menarik nafas dalam sedalam yang aku mampu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu di sore ini, ya aku merasakan suatu kerinduan yang luar biasa dengan pemilik kalung salib yang tergantung dikamarku, seorang yang sangat suka musik klasik, seseorang pecinta sepakbola, seseorang yang suka kopi hitam dan mungkin pernah mencintaiku walaupun tak pernah mengungkapkan sepatah katapun.
“Ya Tuhan hari ini aku kangen banget sama dia, meski tak sebesar kangen ku kepadaMu, tapi sungguh seolah-olah aku merasa sangat lemah dan sangat kehilangan. Hari ini tepat 4 bulan yang lalu dia beranjak pergi dari tempat ini, dia pergi untuk cita-citanya, untuk impiannya dan bodohnya aku belum sempat mengutarakan seluruh perasaanku kepadanya. Perbedaan keyakinanlah yang menghalangi, aku bahkan hanya bisa diam membisu saat ku ingin mengucapkan seluruh rasa cinta ini aku takut rasa cinta kepada makhluk ciptaanMu melebihi rasa cintaku padaMu. Tak kuasa air mata ini menetes, berusaha ku tahan tapi tak sanggup karena mungkin ini air mata rindu yang mencapai puncaknya.
Aku bukan seorang penulis tetapi hari ini tiba-tiba ingin sekali aku ingin sekali memainkan jariku di keyboard yang biasanya hanya kupakai untuk membuat tugas. Aku ingin menulis tentang dirimu tentang cerita kita, walaupun mungkin tidak berujung bahagia tidak apa karena mungkin dengan tulisan ini aku bisa mencurahkan segala isi hati dan kerinduanku kepada mu. Kenangan indah tentang hari-hari yang pernah kulalui dengan seorang bidadari yang telah merubah seluruh hidupku, meski meninggalkan perasaan yang terus menggantung entah sampai kapan. Bidadari yang datang di hidupku, menemaniku sejenak lalu pergi meninggalkan patahan salibnya di hidupku.
Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu
Sekilas Gambar Tentang Aku
Harapan Sesuai dengan Kenyataan
Kerikil Kecil dan Awan yang Jauh
Pertemuan dengan Sahabat
Sepatu Mengawali Sebuah Impian
Dunia Kampus dan Teman Baru
Keluarga Kecil Bernama HALTE
Sesuatu Mengganggu Pesta Akhir Smester
Diantara Rasa Kagum dan Penasaran
Meluapnya Sebuah Emosi
Hubungan yang Semakin Dekat
Kegelisahan Menghadapi Perasaan yang Berbeda
Siang Menjadi Malam dan Sebaliknya
Perjalanan yang Semakin Indah
Momen Menggelikan dan Warna Kehidupan
Dilema Menghadapi Ungkapan Perasaan
Tetangga di Sekitar Kami
Liontin Salib untuk Leher yang Indah
Kepedihan Cerita di Masa Lalu
Senyuman untuk Hati yang Terluka
Sosok yang Menjadi Pertanyaan
Mencoba Menghilangkan Trauma
Pelangi yang Hilang Bersama Turunnya Hujan
Malam Kebahagiaan Bersama Keluarga Kecil
Bidadari Kecil Kini Telah Dewasa
Kebahagiaan Kini Tinggal Prasasti
Semua Terjadi Sangat Cepat
Sebuah Cinta yang Salah
Surga yang Tak Layak untuk Dilihat
Rumput Dingin Di Bawah Bangku Taman
Pahitnya Sebuah Ucapan
Air Mata Menepis Kerasnya Kata-kata
Satu Langkah ke Arah Normal
Bertahan Hanya dalam Waktu Singkat
Semakin Tenggelam dalam Kedekatan
Lilin Kecil di Malam Penuh Kebahagiaan
Selamat Datang Kemarau
Kerinduan yang Teramat Dalam
Hembusan Angin Masa Lalu
Sayap yang Kuat Untuk Bidadari Kecil
Tinta Biru Menorehkan Luka
Berusaha Menyembunyikan Luka
Hilangnya Rasa Segan
Keberhasilan Tanpa Perayaan
Berharap Hanya Andai Saja
Serpihan Kenangan yang Menyiksa
Tempat Baru
Berita Baik Bersama Undangan
Selamat Menempuh Hidup Baru
Kesan yang Baik di Hari Pertama
Insiden Kecil dan Masa yang Telah Terlewati
Menutup Momen 4 Tahun Kebersamaan
Kotak Makan Siang
Keberanian Untuk Memulai
Pahitnya Sambutan Selamat Datang
Seperti Kembali ke Waktu Itu
Teka Teki dari Perhatian Sederhana
Cerita di Ujung Sore
Peneduh Panasnya Amarah
Mengungungkapkan tak Semudah Membayangkan
Titik Terang yang Terasa Gelap
Patahan Salib Bidadari
Terimakasih Untuk Masa yang Terlewati
Apa yang Sebenarnya Terjadi
Kembali Terjatuh
Dunia Ciptakan Keindahan
Dan Kebahagiaan [TAMAT]
Kata Penutup (Q&A)
Diubah oleh setiawanari 10-07-2018 17:35
nona212 dan calebs12 memberi reputasi
3
111.2K
608
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
setiawanari
#158
Bertahan Hanya Dalam Waktu Singkat
Dua bulan sudah aku jalani kehidupan, berada diantara luka dan kecemburuan. Sore ada jadwal latihan futsal, kumasukkan sepatu dan pakaian futsal ke dalam tas menunggu Sandro datang.
" Woi bengong aja, siang-siang kemasukan setan baru tau kau." Kata Sandro tiba di tempat kos.
" Ini lagi belajar hp baru San, ribet yak tombolnya banyak banget." Kataku mencoba hp baru yang kubeli beberapa hari lalu.
" Yaelah, gaptek amat Lo, yang lain udah lancar malah Lo baru belajar, emang paket internetnay udah aktif?"
" Udahlah ini gw udah install B*M, tinggal invite pin anak-anak nih."
" Eh sekalian nih gw ada pin cewek mau gak Lo, cakep bray?"
" Serius Lo, anak kampus kita?"
" Iya lah, masa dari kampus lain."
" Siapa namanya?"
" Ibu Pudjiastuti Wan, hahahahahaha."
" Njrit itu ma rektor kita Cuk, wah becanda Lo rada ekstrim kwalat baru tau Lo."
" Hahahahahaha, abis Lo ma bray, kalau cewe aja cepet giliran yang ada Lo diemin, eh Nafa kemana kok gak keliatan?"
" Nafa siapa Ninda kali, ganti-ganti nama orang udah macem dukun bayi aja kau ini, b*dat kau ini nampaknya. Hahahaha."
" Jiah napa logat gw jadi Lo bawa njir kagak ada pantes-pantesnya, iya Ninda kemana orang itu?"
" Jalan dia sama cowoknya, yaudah berangkat yuk anak-anak udah pada kumpul." Kataku berdiri dan bersiap menuju lapangan futsal diikuti Sandro.
" Cowok? Lha elu? Wah aneh nih anak. Cewek macam Ninda di depan mata malah di sia-siakan begitu saja."
" Ya kan gw sama dia beda San, sama seperti hubungan kita bisa jalan sama-sama tapi gak bisa bersatu, maafin gw ya San!" Kataku menyalakan mesin motor.
" Ih najis, amit-amit makin gawat Lo Wan, lama-lama jadi gay beneran Lo."
" Hahahahahaha kalaupun gay Lo bukan tipe gw San, yaudah buruan naik! Apa Lo mau jalan kaki?" Kataku lalu kami berangkat menuju lapangan futsal yang tidak jauh dari tempat kos.
Keringat bercucuran bersama rasa lelah tubuh kami selesai bermain futsal. Ditambah harus mengalami pahitnya kekalahan tipis dengan lawan sparing kali ini. Terpaksa kami harus membayar lapangan sebagai akibat dari kekalahan.
" Njir, tumben hari ini Lo mainnya parah banget, gak seperti biasanya Wan, hari ini gampang banget di lewatin lawan." Kata Fajar melepas sepatu.
" Lagi gak fokus gw Jar, banyak pikiran." Kataku.
" Lain kali kalau sparing jangan ngajak anak yang abis putus, apesnya ke tim juga, hahahahahaha." Teriak Sandro.
" Bukan mikirin cewek gw San, mikirin tugas kuliah makin banyak." Kataku.
" Yaelah masih ngeles aja, biasanya juga tugas banyak gak ngaruh sama permainan Lo, hari ini parah banget." Jawab Sandro.
" Ya masa gw yang salahin, emang gw yang paling jago dimari? Biasanya gw gak main juga menang ini aja lawannya mainnya lebih bagus dari kita." Kataku.
" Bukannya nyalahin Wan, cuma hari ini Lo mainnya kaya gak maksimal." Kata Riski.
" Oh ya cari makan dulu yuk laper." Kata Fajar.
" Ayok, deket daerah sini aja." Jawab Ari.
Kami pun menuju tempat makan, dan baru saja tiba di tempat makan hpku berbunyi.
"Ninda? Ada apa dia telepon." Batinku mengangkat telepon.
" Halo, Awan dimana?"
" Lagi di tempat makan abis main futsal."
" Kesini dong jemput gw, Wan."
" Iya tar, makan dulu gw laper nih."
" Ihhhhh, sekarang aja Wan gw lagi bete nih, mau pulang cepet."
" Lha emang si Willy kemana?"
" Itu masalahnya, buruan Wan."
" Oh yaudah Lo dimana?"
" Depan Hotel Ka*isar Mampang, buruan yak."
" Iya-iya." Aku menutup telepon dan segera beranjak menuju tempat Ninda.
" Woi, sory gw duluan ya mau jemput Ninda penting, oh iya Mbon tar Lo anterin Sandro ke kosan yak.!" Kataku meninggalkan anak-anak.
" Woi pacar bukan mau aja Lo jemput-jemput, kang ojek Lo, hahahaha." Teriak Sandro yang tidak aku hiraukan.
Kupacu motor tuaku hingga akhirnya tiba di depan Hotel Ka*sar. Baru ingin membuka hp Ninda berjalan menghampiriku.
" Lama amat sih Lo Wan?" Kata Ninda memakai helm.
" Ini udah ngebut-ngebut Nin, kalau gak ma belum sampai sini, lagian ngapain sih Lo disini?" Jawabku mulai menjalankan motor.
" Ribet ceritanya, tar aja di kosan."
" Langsung ke kosan Nin? Laper nih gak berhenti makan dulu!"
" Udah langsung aja ini udah gw beliin nasi bebek, depan hotel tadi."
" Hehehehe oke." Kataku dan motor pun terus melaju, selap selip diantara kendaraan roda empat melewati kemacetan ibu kota hingga tiba di tempat kos.
" Eh Nin gw makan dulu yak, telat makan bisa kambuh tipes gw." Kataku tiba di tempat kos.
" Yaudah gw mandi dulu." Jawab Ninda lalu masuk ke kamarnya.
Akupun meletakkan tas lalu kembali ke sofa menyantap makanan yang dibelikan Ninda.
" Gila cepet banget makannya gw baru selesai mandi udah bersih aja, gak nawar-nawarin lagi." Kata Ninda keluar kamar dengan pakaian yang sangat minim.
" Lah, emang Lo belum makan?"
" Udah-udah tapi orang ma basa-basi kek nawarin gitu!"
" Yah tar keburu basi beneran nasinya kalau kebanyakan basa basi. Nih tutupin emang gak ada celana lain apa?" Kataku memberikan jaket untuk menutupi paha Ninda yang hampir terbuka seluruhnya karena semakin tertarik ke atas saat duduk disampingku.
" Iiih kenapa sih Wan orang panas gini, lagian Lo juga udah liat semuanya." Kata Ninda menutup bagian atas kakinya.
" Ooh yaudah buka aja kalau gitu mau?"
"Auuuwwww, iya sakit-sakit Nin." Teriakku saat cubitan mendarat di perutku. Cubitan yang selama ini aku rindukan dalam beberapa bulan ini.
" Beneran mau di buka, tapi Lo jangan kabur ya!" Kata Ninda berdiri dan bersiap membuka tank topnya.
" Enggak-enggak yaelah orang cuma becanda." Kataku lalu Ninda kembali duduk.
" Lagian becandanya kaya gitu?"
" Nin, tadi darimana kok bisa sampai di Mampang? Terus Willy kemana?"
" Gila tuh emang cowok, keliatannya aja baik, polos. Eh gak taunya jadian belum ada sebulan udah ngajakin tidur. Kalau sekedar peluk cium sih wajar tapi ini udah keterlaluan." Kata Ninda sambil menyalakan sebatang rokok.
" Terus Lo tadi Lo kabur?"
" Iya, gw mau diajak masuk hotel, pas dia mau check in gw bilang aja mau pulang dulu ambil baju tar gw nyusul. Brengs*ek tu cowok."
" Ya wajar kali Nin, kalian kan pacaran jaman sekarang mana ada pacaran cuma sebatas kata-kata, pasti ada perbuatan juga."
" Tapi kan gw gak mau Wan, gw gak bisa! Terlalu cepet buat gw untuk nglakuin hal yang udah pernah gw lakuin sama Visca."
" Lha terus sekarang gimana?"
" Ya gw putusin aja lah, pacaran kaya gini ma ujung-ujungnya gak beres."
" Nah itu tau, terus kalau dia gak mau di putusin?"
" Bodo lah mau gak mau, ya harus mau."
Trrrrrr...trrrrrr...trrrrrr...
Hp Ninda berdering beberapa kali namun Ninda enggan mengangkatnya.
" Willy tuh, kenapa gak di jawab?" Kataku
" Udah lah biarin aja, males gw." Jawab Ninda.
" Udah angkat sekalian bilang kalau mau putus biar kelar urusannya.
Ninda akhirnya menjawab telepon yang terus berdering.
" Halo." Kata Ninda.
" Halo sayang kok lama kesininya? Apa aku nyusul ke sana?" Jawab Willy.
" Sory Will, sepertinya kita udahan aja, gw minta putus karena gw gak siap dengan permintaan Lo!"
" Lho ini kan buat bukti cinta kita sayang, aku janji kok bakal nikahin kamu dan kamu bisa pegang janji yang aku ucapkan. Sayang aku sangat mencintai kamu."
" Hmmm enggak Will, gw gak bisa cinta gak harus seperti ini yaudah kita akhiri aja semuanya."
" Kok kamu gitu say? Kalau kamu gak siap sekarang aku tunggu sampai kamu siap kok, oke aku tunggu sampai kamu siap!"
" Yaudah kita nikah dulu gimana Will?"
" Hmmmm, kalau itu gampang say, tapi aku butuh waktu, nikah itu perlu modal dan gak kecil biayanya tapi aku janji kok bakal nikahin kamu secepatnya. Kamu bisa kesini sekarang?"
" Yaudah ya Will, sampai disini aja hubungan kita gw gak bisa terusin. Bye"
" Kok gitu? Gw kan minta baik-baik say? Tapi ternyata memang kamu gak cinta sama aku. Yaudah sekarang gini aja aku tunggu sampai kamu siap gimana atau....?"
" Gak bisa Will yaudah ya.!"
" Tunggu-tunggu aku ngomong baik-baik kok tanggepan kamu kaya gini. Sekarang gini aja kamu mau dateng sekarang atau gw sebarin foto-foto seksi Lo yang nyaris telanjang biar semua tau kamu itu cewek seperti apa?"
" Oooh jadi Lo nyuri gambar pribadi dari hp gw?"
" Hahahaha Nin, kamu tuh jangan sok suci sayang aku tahu latar belakang kamu. Gak mungkin cewe baik-baik nyimpen foto-foto tanpa busana kaya gini. Jadi gimana? Kesini sekarang ya atau Lo bakal menanggung malu seumur hidup."
" Lo ngancem gw Will? Gak nyangka ternyata ucapan cinta dari mulut Lo bulshit. Lo sebarin aja Will gw gak takut emang dengan foto tanpa busana gw kesebar lantas gw takut? Gue malu gitu? Enggak Will, lebih baik begitu daripada gw nurutin kemauan Lo. Lo sebarin sebanyak-banyaknya!!! Yaudah sampah kaya Lo baiknya pergi jauh-jauh dari hidup gw!" Kata Ninda mengakhiri telepon.
Beberapa saat kemudian hp Ninda berbunyi kembali namun Ninda biarkan.
" Gak diangkat Nin?" Kataku.
" Lo angkat aja lah, Wan Lo bilang aja sekalian kalau Lo cowok gw sama kaya pas Lo pura-pura jadian sama Sherly. Lo kan jago akting." Jawab Ninda.
Akupun merasa tertantang dengan ucapan Ninda, entah ini sebuah hobi atau apa aku sendiri tidak mengerti. Hasrat untuk berkelahi selalu muncul dalam keadaan seperti ini. Aku merasa rindu dengan rasa memar di wajah dan tubuhku. Sangat aneh karena sakit bercampur linu kadang terasa nikmat dikala malam menjelang tidur.
" Yah jadi bantalan lagi ini ma." Kataku lalu menjawab telepon.
" Halo, Nin kok Lo main matiin aja gw belum selesai bicara." Suara Willy di telepon.
" Iya, ada Bro? Kok kayanya marah-marah gini?"
" Halo siapa nih?"
" Gw Awan Bro, kenapa?"
" Oh Awan kok hp Ninda ada di Lo? Mana Nindanya?"
" Ninda? Emang gak boleh kalau cowok megang hp ceweknya?"
" Cowok? Maksudnya?"
" Lah masa Lo gak paham sih Bro? Ninda itu kan cewe gw ada yang salah gitu?"
" Gak mungkin! Mana bisa Lo cowoknya Ninda terus biarin Dia jadian sama gw."
" Yaelah, muka Lo boleh ganteng bos tapi otak Lo ternyata cuma setengah sendok! Pas Lo jadian sama dia itu kita baru aja break, ya karena ada masalah. Minggu lalu kita mulai jadian lagi coba buat memperbaiki hubungan. Jadi mending Lo pergi jauh-jauh dari hidupnya."
" Anj*ing, Gw gak sebodoh itu bos! Sekarang mana Ninda gw mau ngomong?"
" Susah kalau ngomong sama orang gak kebagian otak, Lo gak percaya kalau gw cowo dia apa perlu gw kirim foto-foto mesra gw sama dia? Dan Lo ya gak usah repot-repot kalau mau ngomong Lo dateng aja kemari. Cowok berani ngambil cewek orang kok pengecut!"
" Oke-oke kalau Lo gak ijinin gw ngomong sama Ninda gw kesana sekarang, sekalian gw kasih Lo pelajaran"
" Oke bos ditunggu!"
Telepon pun ditutup.
" Dia mau kesini Wan?" Kata Ninda memegang lenganku.
" Iya, punya nyali juga tu anak?" Kataku.
" Tapi Wan gw gak mau nemuin dia."
" Yaudah Lo dikamar aja tar gw yang nemuin dia! Lagian Lo sih cari cowok model begitu emang yang suka sama Lo gak ada yang lain apa?"
" Ya ada aja, tapi awalnya dia itu baik, ganteng, perhatian tapi ternyata kaya gini ujungnya."
" Nin emang Lo gak takut sama ancamannya tadi, kalau benar terjadi gimana?"
" Oooh, gak papa lah Wan, lagian udah banyak kok yang liat gw telanjang meskipun pakai topeng. Tapi foto yang diambil dari hp gw gak ada yang full kok ya paling-paling masih pakai bikini. Kalau kesebar malah bagus siapa tau ada yang tertarik jadiin gw model."
" Wah gila nih anak! Abis putus gak ada sedih-sedih nya!"
" Ngapain harus sedih, malah bersyukur gw tau kelakuannya sebelum semua terjadi."
Di tengah pembicaraan kami terdengar suara motor datang dan berhenti di depan tempat kos.
" Lah Sandro mana Mbon?" Kataku saat Ambon datang.
" Masih dibelakang dia Abang, Sandro ada dia satu mobil dengan Fajar. Mereka itu sedang menuju kemari." Jawab Ambon.
Tidak lama berselang Sandro dan Fajar pun datang.
" Lo udah di kosan aja Wan katanya jemput Naf... Eh Ninda maksudnya?" Kata Sandro.
" Udah pulang lah dari tadi, Lo makan lama amat baru pada kelar!" Kataku.
" Biasa lah makannya ma 5 menit ngrokok sama ngobrolnya 2 jam." Jawab Fajar.
" Tau Fajar betah banget di sini mentang-mentang pelayannya cakep-cakep." Jawab Sandro.
" Njir kebiasaan jelek sendiri di limpahin ke orang lain!" Kata Fajar.
" Oh iya Ninda mana Wan? Pergi lagi dia sama cowoknya?" Kata Sandro.
" Ada apa San nanyain gw kangen ya?" Kata Ninda keluar kamarnya membawakan 4 cangkir kopi.
" Puji Tuhan, makin hari makin cantik makin seksi aja kau rupanya." Kata Sandro.
" Yaelah masih ngegombal aja gw bilangin Lena baru tau Lo." Jawab Ninda lalu duduk bergabung dengan kami.
" Alamak jangan lah kau bilang dia, cukup kita saja yang tau, gimana? kau mau lain waktu temani Abang ngopi-ngopi santai?" Kata Sandro.
" Mau mau, tapi kopinya gw kasih racun ya!" Jawab Ninda.
"Hahahahahaha." Kami pun tertawa serentak.
Tak lama berselang Willy pun ternyata benar datang dengan seorang pria yang nampak lebih tua darinya. Keluar dari mobil dan tergesa-gesa berjalan menuju ke atas menghampiri kami. Ninda segera berlari masuk ke kamarnya.
" Nah itu orangnya bang! Awan dimana Lo sembunyiin Ninda?" Bentak Willy membuat Fajar, Ambon dan Sandro bingung.
Lelaki yang bersama Willy itu menatap dengan tajam ke arah kami seperti pernah bertemu kami.
" Lah Mas Fajar ngapain disini Mas?" Kata lelaki yang bersama Willy.
" Lagi main Bang, lah itu siapa kok dateng-dateng kok kayanya marah-marah gitu?" Jawab Fajar.
" Oh ini temen saya Mas, mungkin ada salah paham, yaudah maaf Mas Fajar kalau udah ganggu. Will ayo balik Will." Kata lelaki itu menarik tangan Willy dan berjalan kembali ke mobil.
" Tapi bang? Emang ada apa? Urusan saya kan belum selesai." Kata Willy berusaha meronta.
" Will, Lo gak tau siapa yang Lo hadapi tadi ayo pulang sekarang atau Lo bakal nyesel, tau begini gw gak mau nemenin Lo kemari."
" Saya masih gak ngerti Bang, kenapa emang bang."
" Udahlah tar gw jelasin di jalan."
Merekapun masuk mobil dan meninggalkan tempat kos. Kami merasa bingung dengan kejadian yang baru saja terjadi dan menatap Fajar.
" Gimana Wan? Willy udah pergi?" Kata Ninda keluar dari kamarnya.
" Udah Nin." Kataku.
" Puji Tuhan, gak terjadi keributan seperti yang gw bayangin." Jawab Ninda.
" Jar, Lo kenal orang tadi?" Tanyaku ke Fajar.
" Kalau yang satu gw kenal dia Bang Rizal anak temen bokap gw, bisa di bilang waktu itu temen dari awal bokap bangun bisnis kopi. Tapi yang satu lagi gak tau siapa. Pertanyaan gw kok tadi dateng marah-marah gak jelas gitu Wan, Lo cari gara-gara lagi?" Penjelasan Fajar masih seperti teka-teki mengapa
" Lah Lo kaya baru kenal gw aja Jar, jadi ceritanya begini......" Kataku menceritakan kronologi yang memicu kejadian yang baru saja terjadi.
" Wah Lo ma kaya gak ada kapok-kapoknya Wan, seneng banget berurusan sama orang." Kata Sandro.
" Yeee, Lo lagi nyalahin gw noh biang keladinya." Kataku menunjuk Ninda.
" Iiiih apaan sih gw kan cuma minta tolong, lagian kalau bukan Lo siapa lagi yang mau bantuin gw." Jawab Ninda.
" Ya kan kau bisa minta bantuan Bang Sandro Nin." Jawab Sandro.
" Yaelah Lo lagi San setiap cewek Lo gombalin mulu giliran ketauan Lena Lo nangis-nangis minta jangan diputusin." Kata Fajar.
" Namanya juga usaha Bray, dia kan buat masa depan masa gak boleh belok-belok dikit yang penting gak ketauan." Jawab Sandro.
" Bukannya gak boleh San, takutnya beloknya kebablasan tar burung Lo........." Kataku terhenti karena Sandro menutup mulutku.
" Yah yah, jangan kau bahas lagi lah itu udah berlalu dan sekarang udah sembuh gw." Jawab Sandro melepaskan tangannya dari mulutku.
" Ada apaan sih kalian gak jelas banget." Kata Ninda yang kami sambut dengan tawa, hanya Sandro yang kali ini tidak ikut tertawa. Sedikit perbincangan kami harus berakhir menjelang malam tiba. Mereka kembali pulang, tinggallah Aku dan Ninda yang masih setia duduk di sofa ini.
" Wan!" Kata Ninda.
" Apaan?" Jawabku.
" Iiiihh kok jawabnya jutek amat."
" Jutek gimana Nin, emang harus jawab gimana?" Kataku memaksakan tersenyum di depan Ninda.
" Hahahaha, jelek ih kalau mukanya gitu."
" Biarin aja, jelek-jelek juga fansnya banyak."
" Pede, hmmmm sekali lagi makasih ya Wan udah bantuin gw untuk kesekian kalinya."
" Iya Nin tapi jangan di ulang lagi ya! Kalau masih ngeyel tar gw jewer kupingnya." Kataku mengusap rambut Ninda.
" Iiih emang anak kecil gw? Iya kapok gw baru mau jalan eh malah begini, mendingan gw jalan sama cewek lagi lah."
" Yaaah, kumat lagi dia masa Lo udah keluar mau masuk lagi kesitu Nin? Tenang aja ada saatnya kok Lo nemuin cowok yang baik!"
" Terus kapan Wan? Semua cowok kan sama aja temen-temen Lo juga sama tu kayanya. Tapi kenapa gak Lo aja sih Wan yang nembak gw?" Kata Ninda membuatku kaget.
" Wah ni anak kalau ngomong, Lo belum tau gw sih gimana coba kalau kita jadian terus sehari gw ngajak Lo ML?" Kataku mencoba mengalihkan alasan.
" Aaah gak mungkin, selama ini juga Lo gak macem-macem sama gw, meski ada kesempatan."
" Hahahahahaha lah kan kita belum pacaran, kalau udah jadian ma gak sampai seminggu Lo juga udah gw makan Nin. Terus Lo takut akhirnya Lo kabur dah, nah gw sendiri lagi dong?"
" Hahahaha emang kue dimakan, serem banget! Hmmmm yaudah gw masuk dulu ya, mau ngerjain tugas." Kata Ninda berdiri, beranjak menuju kamarnya.
" Tumben inget kuliah? Biasanya tugas cuma nyalin?"
" Bodo, mumpung gak ada kerjaan." Jawab Ninda menutup pintu kamar.
Keringat mulai mengering membuat badanku terasa lengket hilang bersama guyuran air membasahi tubuh ini. Meneruskan sisa-sisa tugas kuliah yang terus melambaikan tangan menariknya untuk mengerjakannya.
Warna merah di perutku bekas cubitan Ninda membuatku tersenyum mengawali tangan ini menggerakkan mouse. Kerinduan yang sedikit terobati meski hubungan semu ini akan terus berlanjut atau berakhir pada waktunya. Malam pun tiba saatnya menutup hari dengan merebahkan raga menuju mimpi untuk kehidupan di esok hari.
" Woi bengong aja, siang-siang kemasukan setan baru tau kau." Kata Sandro tiba di tempat kos.
" Ini lagi belajar hp baru San, ribet yak tombolnya banyak banget." Kataku mencoba hp baru yang kubeli beberapa hari lalu.
" Yaelah, gaptek amat Lo, yang lain udah lancar malah Lo baru belajar, emang paket internetnay udah aktif?"
" Udahlah ini gw udah install B*M, tinggal invite pin anak-anak nih."
" Eh sekalian nih gw ada pin cewek mau gak Lo, cakep bray?"
" Serius Lo, anak kampus kita?"
" Iya lah, masa dari kampus lain."
" Siapa namanya?"
" Ibu Pudjiastuti Wan, hahahahahaha."
" Njrit itu ma rektor kita Cuk, wah becanda Lo rada ekstrim kwalat baru tau Lo."
" Hahahahahaha, abis Lo ma bray, kalau cewe aja cepet giliran yang ada Lo diemin, eh Nafa kemana kok gak keliatan?"
" Nafa siapa Ninda kali, ganti-ganti nama orang udah macem dukun bayi aja kau ini, b*dat kau ini nampaknya. Hahahaha."
" Jiah napa logat gw jadi Lo bawa njir kagak ada pantes-pantesnya, iya Ninda kemana orang itu?"
" Jalan dia sama cowoknya, yaudah berangkat yuk anak-anak udah pada kumpul." Kataku berdiri dan bersiap menuju lapangan futsal diikuti Sandro.
" Cowok? Lha elu? Wah aneh nih anak. Cewek macam Ninda di depan mata malah di sia-siakan begitu saja."
" Ya kan gw sama dia beda San, sama seperti hubungan kita bisa jalan sama-sama tapi gak bisa bersatu, maafin gw ya San!" Kataku menyalakan mesin motor.
" Ih najis, amit-amit makin gawat Lo Wan, lama-lama jadi gay beneran Lo."
" Hahahahahaha kalaupun gay Lo bukan tipe gw San, yaudah buruan naik! Apa Lo mau jalan kaki?" Kataku lalu kami berangkat menuju lapangan futsal yang tidak jauh dari tempat kos.
Keringat bercucuran bersama rasa lelah tubuh kami selesai bermain futsal. Ditambah harus mengalami pahitnya kekalahan tipis dengan lawan sparing kali ini. Terpaksa kami harus membayar lapangan sebagai akibat dari kekalahan.
" Njir, tumben hari ini Lo mainnya parah banget, gak seperti biasanya Wan, hari ini gampang banget di lewatin lawan." Kata Fajar melepas sepatu.
" Lagi gak fokus gw Jar, banyak pikiran." Kataku.
" Lain kali kalau sparing jangan ngajak anak yang abis putus, apesnya ke tim juga, hahahahahaha." Teriak Sandro.
" Bukan mikirin cewek gw San, mikirin tugas kuliah makin banyak." Kataku.
" Yaelah masih ngeles aja, biasanya juga tugas banyak gak ngaruh sama permainan Lo, hari ini parah banget." Jawab Sandro.
" Ya masa gw yang salahin, emang gw yang paling jago dimari? Biasanya gw gak main juga menang ini aja lawannya mainnya lebih bagus dari kita." Kataku.
" Bukannya nyalahin Wan, cuma hari ini Lo mainnya kaya gak maksimal." Kata Riski.
" Oh ya cari makan dulu yuk laper." Kata Fajar.
" Ayok, deket daerah sini aja." Jawab Ari.
Kami pun menuju tempat makan, dan baru saja tiba di tempat makan hpku berbunyi.
"Ninda? Ada apa dia telepon." Batinku mengangkat telepon.
" Halo, Awan dimana?"
" Lagi di tempat makan abis main futsal."
" Kesini dong jemput gw, Wan."
" Iya tar, makan dulu gw laper nih."
" Ihhhhh, sekarang aja Wan gw lagi bete nih, mau pulang cepet."
" Lha emang si Willy kemana?"
" Itu masalahnya, buruan Wan."
" Oh yaudah Lo dimana?"
" Depan Hotel Ka*isar Mampang, buruan yak."
" Iya-iya." Aku menutup telepon dan segera beranjak menuju tempat Ninda.
" Woi, sory gw duluan ya mau jemput Ninda penting, oh iya Mbon tar Lo anterin Sandro ke kosan yak.!" Kataku meninggalkan anak-anak.
" Woi pacar bukan mau aja Lo jemput-jemput, kang ojek Lo, hahahaha." Teriak Sandro yang tidak aku hiraukan.
Kupacu motor tuaku hingga akhirnya tiba di depan Hotel Ka*sar. Baru ingin membuka hp Ninda berjalan menghampiriku.
" Lama amat sih Lo Wan?" Kata Ninda memakai helm.
" Ini udah ngebut-ngebut Nin, kalau gak ma belum sampai sini, lagian ngapain sih Lo disini?" Jawabku mulai menjalankan motor.
" Ribet ceritanya, tar aja di kosan."
" Langsung ke kosan Nin? Laper nih gak berhenti makan dulu!"
" Udah langsung aja ini udah gw beliin nasi bebek, depan hotel tadi."
" Hehehehe oke." Kataku dan motor pun terus melaju, selap selip diantara kendaraan roda empat melewati kemacetan ibu kota hingga tiba di tempat kos.
" Eh Nin gw makan dulu yak, telat makan bisa kambuh tipes gw." Kataku tiba di tempat kos.
" Yaudah gw mandi dulu." Jawab Ninda lalu masuk ke kamarnya.
Akupun meletakkan tas lalu kembali ke sofa menyantap makanan yang dibelikan Ninda.
" Gila cepet banget makannya gw baru selesai mandi udah bersih aja, gak nawar-nawarin lagi." Kata Ninda keluar kamar dengan pakaian yang sangat minim.
" Lah, emang Lo belum makan?"
" Udah-udah tapi orang ma basa-basi kek nawarin gitu!"
" Yah tar keburu basi beneran nasinya kalau kebanyakan basa basi. Nih tutupin emang gak ada celana lain apa?" Kataku memberikan jaket untuk menutupi paha Ninda yang hampir terbuka seluruhnya karena semakin tertarik ke atas saat duduk disampingku.
" Iiih kenapa sih Wan orang panas gini, lagian Lo juga udah liat semuanya." Kata Ninda menutup bagian atas kakinya.
" Ooh yaudah buka aja kalau gitu mau?"
"Auuuwwww, iya sakit-sakit Nin." Teriakku saat cubitan mendarat di perutku. Cubitan yang selama ini aku rindukan dalam beberapa bulan ini.
" Beneran mau di buka, tapi Lo jangan kabur ya!" Kata Ninda berdiri dan bersiap membuka tank topnya.
" Enggak-enggak yaelah orang cuma becanda." Kataku lalu Ninda kembali duduk.
" Lagian becandanya kaya gitu?"
" Nin, tadi darimana kok bisa sampai di Mampang? Terus Willy kemana?"
" Gila tuh emang cowok, keliatannya aja baik, polos. Eh gak taunya jadian belum ada sebulan udah ngajakin tidur. Kalau sekedar peluk cium sih wajar tapi ini udah keterlaluan." Kata Ninda sambil menyalakan sebatang rokok.
" Terus Lo tadi Lo kabur?"
" Iya, gw mau diajak masuk hotel, pas dia mau check in gw bilang aja mau pulang dulu ambil baju tar gw nyusul. Brengs*ek tu cowok."
" Ya wajar kali Nin, kalian kan pacaran jaman sekarang mana ada pacaran cuma sebatas kata-kata, pasti ada perbuatan juga."
" Tapi kan gw gak mau Wan, gw gak bisa! Terlalu cepet buat gw untuk nglakuin hal yang udah pernah gw lakuin sama Visca."
" Lha terus sekarang gimana?"
" Ya gw putusin aja lah, pacaran kaya gini ma ujung-ujungnya gak beres."
" Nah itu tau, terus kalau dia gak mau di putusin?"
" Bodo lah mau gak mau, ya harus mau."
Trrrrrr...trrrrrr...trrrrrr...
Hp Ninda berdering beberapa kali namun Ninda enggan mengangkatnya.
" Willy tuh, kenapa gak di jawab?" Kataku
" Udah lah biarin aja, males gw." Jawab Ninda.
" Udah angkat sekalian bilang kalau mau putus biar kelar urusannya.
Ninda akhirnya menjawab telepon yang terus berdering.
" Halo." Kata Ninda.
" Halo sayang kok lama kesininya? Apa aku nyusul ke sana?" Jawab Willy.
" Sory Will, sepertinya kita udahan aja, gw minta putus karena gw gak siap dengan permintaan Lo!"
" Lho ini kan buat bukti cinta kita sayang, aku janji kok bakal nikahin kamu dan kamu bisa pegang janji yang aku ucapkan. Sayang aku sangat mencintai kamu."
" Hmmm enggak Will, gw gak bisa cinta gak harus seperti ini yaudah kita akhiri aja semuanya."
" Kok kamu gitu say? Kalau kamu gak siap sekarang aku tunggu sampai kamu siap kok, oke aku tunggu sampai kamu siap!"
" Yaudah kita nikah dulu gimana Will?"
" Hmmmm, kalau itu gampang say, tapi aku butuh waktu, nikah itu perlu modal dan gak kecil biayanya tapi aku janji kok bakal nikahin kamu secepatnya. Kamu bisa kesini sekarang?"
" Yaudah ya Will, sampai disini aja hubungan kita gw gak bisa terusin. Bye"
" Kok gitu? Gw kan minta baik-baik say? Tapi ternyata memang kamu gak cinta sama aku. Yaudah sekarang gini aja aku tunggu sampai kamu siap gimana atau....?"
" Gak bisa Will yaudah ya.!"
" Tunggu-tunggu aku ngomong baik-baik kok tanggepan kamu kaya gini. Sekarang gini aja kamu mau dateng sekarang atau gw sebarin foto-foto seksi Lo yang nyaris telanjang biar semua tau kamu itu cewek seperti apa?"
" Oooh jadi Lo nyuri gambar pribadi dari hp gw?"
" Hahahaha Nin, kamu tuh jangan sok suci sayang aku tahu latar belakang kamu. Gak mungkin cewe baik-baik nyimpen foto-foto tanpa busana kaya gini. Jadi gimana? Kesini sekarang ya atau Lo bakal menanggung malu seumur hidup."
" Lo ngancem gw Will? Gak nyangka ternyata ucapan cinta dari mulut Lo bulshit. Lo sebarin aja Will gw gak takut emang dengan foto tanpa busana gw kesebar lantas gw takut? Gue malu gitu? Enggak Will, lebih baik begitu daripada gw nurutin kemauan Lo. Lo sebarin sebanyak-banyaknya!!! Yaudah sampah kaya Lo baiknya pergi jauh-jauh dari hidup gw!" Kata Ninda mengakhiri telepon.
Beberapa saat kemudian hp Ninda berbunyi kembali namun Ninda biarkan.
" Gak diangkat Nin?" Kataku.
" Lo angkat aja lah, Wan Lo bilang aja sekalian kalau Lo cowok gw sama kaya pas Lo pura-pura jadian sama Sherly. Lo kan jago akting." Jawab Ninda.
Akupun merasa tertantang dengan ucapan Ninda, entah ini sebuah hobi atau apa aku sendiri tidak mengerti. Hasrat untuk berkelahi selalu muncul dalam keadaan seperti ini. Aku merasa rindu dengan rasa memar di wajah dan tubuhku. Sangat aneh karena sakit bercampur linu kadang terasa nikmat dikala malam menjelang tidur.
" Yah jadi bantalan lagi ini ma." Kataku lalu menjawab telepon.
" Halo, Nin kok Lo main matiin aja gw belum selesai bicara." Suara Willy di telepon.
" Iya, ada Bro? Kok kayanya marah-marah gini?"
" Halo siapa nih?"
" Gw Awan Bro, kenapa?"
" Oh Awan kok hp Ninda ada di Lo? Mana Nindanya?"
" Ninda? Emang gak boleh kalau cowok megang hp ceweknya?"
" Cowok? Maksudnya?"
" Lah masa Lo gak paham sih Bro? Ninda itu kan cewe gw ada yang salah gitu?"
" Gak mungkin! Mana bisa Lo cowoknya Ninda terus biarin Dia jadian sama gw."
" Yaelah, muka Lo boleh ganteng bos tapi otak Lo ternyata cuma setengah sendok! Pas Lo jadian sama dia itu kita baru aja break, ya karena ada masalah. Minggu lalu kita mulai jadian lagi coba buat memperbaiki hubungan. Jadi mending Lo pergi jauh-jauh dari hidupnya."
" Anj*ing, Gw gak sebodoh itu bos! Sekarang mana Ninda gw mau ngomong?"
" Susah kalau ngomong sama orang gak kebagian otak, Lo gak percaya kalau gw cowo dia apa perlu gw kirim foto-foto mesra gw sama dia? Dan Lo ya gak usah repot-repot kalau mau ngomong Lo dateng aja kemari. Cowok berani ngambil cewek orang kok pengecut!"
" Oke-oke kalau Lo gak ijinin gw ngomong sama Ninda gw kesana sekarang, sekalian gw kasih Lo pelajaran"
" Oke bos ditunggu!"
Telepon pun ditutup.
" Dia mau kesini Wan?" Kata Ninda memegang lenganku.
" Iya, punya nyali juga tu anak?" Kataku.
" Tapi Wan gw gak mau nemuin dia."
" Yaudah Lo dikamar aja tar gw yang nemuin dia! Lagian Lo sih cari cowok model begitu emang yang suka sama Lo gak ada yang lain apa?"
" Ya ada aja, tapi awalnya dia itu baik, ganteng, perhatian tapi ternyata kaya gini ujungnya."
" Nin emang Lo gak takut sama ancamannya tadi, kalau benar terjadi gimana?"
" Oooh, gak papa lah Wan, lagian udah banyak kok yang liat gw telanjang meskipun pakai topeng. Tapi foto yang diambil dari hp gw gak ada yang full kok ya paling-paling masih pakai bikini. Kalau kesebar malah bagus siapa tau ada yang tertarik jadiin gw model."
" Wah gila nih anak! Abis putus gak ada sedih-sedih nya!"
" Ngapain harus sedih, malah bersyukur gw tau kelakuannya sebelum semua terjadi."
Di tengah pembicaraan kami terdengar suara motor datang dan berhenti di depan tempat kos.
" Lah Sandro mana Mbon?" Kataku saat Ambon datang.
" Masih dibelakang dia Abang, Sandro ada dia satu mobil dengan Fajar. Mereka itu sedang menuju kemari." Jawab Ambon.
Tidak lama berselang Sandro dan Fajar pun datang.
" Lo udah di kosan aja Wan katanya jemput Naf... Eh Ninda maksudnya?" Kata Sandro.
" Udah pulang lah dari tadi, Lo makan lama amat baru pada kelar!" Kataku.
" Biasa lah makannya ma 5 menit ngrokok sama ngobrolnya 2 jam." Jawab Fajar.
" Tau Fajar betah banget di sini mentang-mentang pelayannya cakep-cakep." Jawab Sandro.
" Njir kebiasaan jelek sendiri di limpahin ke orang lain!" Kata Fajar.
" Oh iya Ninda mana Wan? Pergi lagi dia sama cowoknya?" Kata Sandro.
" Ada apa San nanyain gw kangen ya?" Kata Ninda keluar kamarnya membawakan 4 cangkir kopi.
" Puji Tuhan, makin hari makin cantik makin seksi aja kau rupanya." Kata Sandro.
" Yaelah masih ngegombal aja gw bilangin Lena baru tau Lo." Jawab Ninda lalu duduk bergabung dengan kami.
" Alamak jangan lah kau bilang dia, cukup kita saja yang tau, gimana? kau mau lain waktu temani Abang ngopi-ngopi santai?" Kata Sandro.
" Mau mau, tapi kopinya gw kasih racun ya!" Jawab Ninda.
"Hahahahahaha." Kami pun tertawa serentak.
Tak lama berselang Willy pun ternyata benar datang dengan seorang pria yang nampak lebih tua darinya. Keluar dari mobil dan tergesa-gesa berjalan menuju ke atas menghampiri kami. Ninda segera berlari masuk ke kamarnya.
" Nah itu orangnya bang! Awan dimana Lo sembunyiin Ninda?" Bentak Willy membuat Fajar, Ambon dan Sandro bingung.
Lelaki yang bersama Willy itu menatap dengan tajam ke arah kami seperti pernah bertemu kami.
" Lah Mas Fajar ngapain disini Mas?" Kata lelaki yang bersama Willy.
" Lagi main Bang, lah itu siapa kok dateng-dateng kok kayanya marah-marah gitu?" Jawab Fajar.
" Oh ini temen saya Mas, mungkin ada salah paham, yaudah maaf Mas Fajar kalau udah ganggu. Will ayo balik Will." Kata lelaki itu menarik tangan Willy dan berjalan kembali ke mobil.
" Tapi bang? Emang ada apa? Urusan saya kan belum selesai." Kata Willy berusaha meronta.
" Will, Lo gak tau siapa yang Lo hadapi tadi ayo pulang sekarang atau Lo bakal nyesel, tau begini gw gak mau nemenin Lo kemari."
" Saya masih gak ngerti Bang, kenapa emang bang."
" Udahlah tar gw jelasin di jalan."
Merekapun masuk mobil dan meninggalkan tempat kos. Kami merasa bingung dengan kejadian yang baru saja terjadi dan menatap Fajar.
" Gimana Wan? Willy udah pergi?" Kata Ninda keluar dari kamarnya.
" Udah Nin." Kataku.
" Puji Tuhan, gak terjadi keributan seperti yang gw bayangin." Jawab Ninda.
" Jar, Lo kenal orang tadi?" Tanyaku ke Fajar.
" Kalau yang satu gw kenal dia Bang Rizal anak temen bokap gw, bisa di bilang waktu itu temen dari awal bokap bangun bisnis kopi. Tapi yang satu lagi gak tau siapa. Pertanyaan gw kok tadi dateng marah-marah gak jelas gitu Wan, Lo cari gara-gara lagi?" Penjelasan Fajar masih seperti teka-teki mengapa
" Lah Lo kaya baru kenal gw aja Jar, jadi ceritanya begini......" Kataku menceritakan kronologi yang memicu kejadian yang baru saja terjadi.
" Wah Lo ma kaya gak ada kapok-kapoknya Wan, seneng banget berurusan sama orang." Kata Sandro.
" Yeee, Lo lagi nyalahin gw noh biang keladinya." Kataku menunjuk Ninda.
" Iiiih apaan sih gw kan cuma minta tolong, lagian kalau bukan Lo siapa lagi yang mau bantuin gw." Jawab Ninda.
" Ya kan kau bisa minta bantuan Bang Sandro Nin." Jawab Sandro.
" Yaelah Lo lagi San setiap cewek Lo gombalin mulu giliran ketauan Lena Lo nangis-nangis minta jangan diputusin." Kata Fajar.
" Namanya juga usaha Bray, dia kan buat masa depan masa gak boleh belok-belok dikit yang penting gak ketauan." Jawab Sandro.
" Bukannya gak boleh San, takutnya beloknya kebablasan tar burung Lo........." Kataku terhenti karena Sandro menutup mulutku.
" Yah yah, jangan kau bahas lagi lah itu udah berlalu dan sekarang udah sembuh gw." Jawab Sandro melepaskan tangannya dari mulutku.
" Ada apaan sih kalian gak jelas banget." Kata Ninda yang kami sambut dengan tawa, hanya Sandro yang kali ini tidak ikut tertawa. Sedikit perbincangan kami harus berakhir menjelang malam tiba. Mereka kembali pulang, tinggallah Aku dan Ninda yang masih setia duduk di sofa ini.
" Wan!" Kata Ninda.
" Apaan?" Jawabku.
" Iiiihh kok jawabnya jutek amat."
" Jutek gimana Nin, emang harus jawab gimana?" Kataku memaksakan tersenyum di depan Ninda.
" Hahahaha, jelek ih kalau mukanya gitu."
" Biarin aja, jelek-jelek juga fansnya banyak."
" Pede, hmmmm sekali lagi makasih ya Wan udah bantuin gw untuk kesekian kalinya."
" Iya Nin tapi jangan di ulang lagi ya! Kalau masih ngeyel tar gw jewer kupingnya." Kataku mengusap rambut Ninda.
" Iiih emang anak kecil gw? Iya kapok gw baru mau jalan eh malah begini, mendingan gw jalan sama cewek lagi lah."
" Yaaah, kumat lagi dia masa Lo udah keluar mau masuk lagi kesitu Nin? Tenang aja ada saatnya kok Lo nemuin cowok yang baik!"
" Terus kapan Wan? Semua cowok kan sama aja temen-temen Lo juga sama tu kayanya. Tapi kenapa gak Lo aja sih Wan yang nembak gw?" Kata Ninda membuatku kaget.
" Wah ni anak kalau ngomong, Lo belum tau gw sih gimana coba kalau kita jadian terus sehari gw ngajak Lo ML?" Kataku mencoba mengalihkan alasan.
" Aaah gak mungkin, selama ini juga Lo gak macem-macem sama gw, meski ada kesempatan."
" Hahahahahaha lah kan kita belum pacaran, kalau udah jadian ma gak sampai seminggu Lo juga udah gw makan Nin. Terus Lo takut akhirnya Lo kabur dah, nah gw sendiri lagi dong?"
" Hahahaha emang kue dimakan, serem banget! Hmmmm yaudah gw masuk dulu ya, mau ngerjain tugas." Kata Ninda berdiri, beranjak menuju kamarnya.
" Tumben inget kuliah? Biasanya tugas cuma nyalin?"
" Bodo, mumpung gak ada kerjaan." Jawab Ninda menutup pintu kamar.
Keringat mulai mengering membuat badanku terasa lengket hilang bersama guyuran air membasahi tubuh ini. Meneruskan sisa-sisa tugas kuliah yang terus melambaikan tangan menariknya untuk mengerjakannya.
Warna merah di perutku bekas cubitan Ninda membuatku tersenyum mengawali tangan ini menggerakkan mouse. Kerinduan yang sedikit terobati meski hubungan semu ini akan terus berlanjut atau berakhir pada waktunya. Malam pun tiba saatnya menutup hari dengan merebahkan raga menuju mimpi untuk kehidupan di esok hari.
Diubah oleh setiawanari 29-09-2017 16:52
g.gowang memberi reputasi
1