- Beranda
- Stories from the Heart
Life story: horor, drama, kisah seorang perantau (lanjutan) [TAMAT]
...
TS
prestant18
Life story: horor, drama, kisah seorang perantau (lanjutan) [TAMAT]
![Life story: horor, drama, kisah seorang perantau (lanjutan) [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2017/10/09/7213687_20171009032458.jpg)
CREDIT PICT: AGAN CATUR SAPUTRA
assalamualaikum
selamat siang kaskusers,
ane akan melanjutkan cerita dari thread ane sebelumnya.
untuk readers yang belum membaca kisah sebelumnya, silahkan baca di kisah keluarga perantau.
untuk cerita tentang perjalanan hidup dimana ane sudah mandiri,
cerita tersebut akan ane link dibawah,
selamat menikmati.... :
1. the beggining
2. tanah pertama
3. rumah pakdhe
4. kerja
5. belajar mengendalikan diri
6. desi
7. panggilan tes
8. Training
9. nilai dari sebuah perjalanan
10. misteri baung part 1
11. misteri baung part 2
12. misteri baung part 3
13. misteri baung part 4
14. mister baung part 5
15. misteri baung last part
16. perkenalan
17 teror
18. shita
19. shita 2
20. fighting
21. rendi
22. drama[belajar dewasa]
23. finally, we are. . .
24. another side from shita
25. moments
26. crash
27. about rendi
28. perpisahan 1
29. suasana baru
30. quality time 1
31. quality time 2
32. :'(
33. last memories of shita
34. TAKDIR
35. sisi gelapku
36. misteri mimpi nyata 1
37. misteri mimpi nyata 2
38. misteri mimpi nyata 3
39. resolusi
40. arah perubahan
41. rumah mas malik 1
42. rumah mas malik 2
43. rumah mas malik 3
44. rumah mas malik 4
45. maung dan mbah
46. rumah mas malik last chapter
47. sheryi 1
48. sheryl 2
49. djakarta; first impression
50. pemberitahuan
51. samapta
52. 2nd test
53. jangan sok
54. masa peralihan
55. tes kerja lagii
56. UPDATE SPESIAL TENTANG CV
57. indonesia
58. misteri divisi siang 1
59. misteri divisi siang 2 ( the story )
60. misteri divisi siang ( last part )
61. kematian itu pasti
62. PHK
63. adikku bernama dian 1
64. adikku bernama dian 2
65. titik balik
66. terus berjuang!!
67. SEMANGAT MERDEKA SAUDARAKU!
68. OJT 1
69. OJT 2
70. adek 1
71. adek 2
72. tulungagung, wecome to the jungle
73. pengalaman misteri baru
74. traveling with shita's family, [sakit]
75. she is. . .
76. hujan sore itu
77. aku ingin memastikan
78. sheryl's stories 1
79. sheryl's stories 2
80. sheryl's stories 3
81. my choice is, ,
82. teror 1; mabuk
83. alasanku memilih
84. teror 2, santet 1
85. teror 2, santet 2
86. karena kamu berbeda
87. teror 3, gangguan semakin berat
88. teror4, akhir
89. mimpi
90. hari yang dinanti nanti??
91. pertengkaran 1, fakta
92. pertengkaran 2, itu bukan kamu yang kukenal
93. PERTENGKARAN 3, AKHIR
94. SHERYL; FINAL CHAPTER
95. EPILOG
Diubah oleh prestant18 09-10-2017 03:30
zoekyvalkrye dan 65 lainnya memberi reputasi
62
1.3M
3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
prestant18
#2353
teror 2, santet 2
perhatian kepada para readers trit ini.
saya mohon maaf sebelumnya.
ada yang ingin saya sampaikan mengenai cerita saya.
saya meminta tolong dengan sangat kepada teman teman readers yang mungkin penasaran dengan para karakter cerita ini.
saya harap kesediaannya agar tetap menjadikan mereka hanya sebatas tokoh.
janganlah berusaha mencari tahu, atau bahkan sampai mengusik privasi dari para tokoh tersebut.
kalau saya pribadi sebenarnya tidak masalah, karena saya juga berteman dengan beberapa readers disini.
saya menghormati teman teman kaskusers tersebut karena mereka adalah para pembaca yang sudah dewasa dan mengerti batasan.
namun saya menerbitkan permohonan ini karena ada beberapa readers yang sudah mulai mencari tahu tentang para tokohnya terlalu dalam,
seperti dian, sheryl, dan ifa.
sekali lagi saya harapkan kedewasaan para pembaca untuk tetap memahami batas batas privasi dari para tokoh tersebut.
sekian, dan terimakasih.

tiga hari berselang dari suara dentuman.
khair sudah kembali dari mudiknya.
kali ini dia masuk normal bersamaku.
pagi itu aku berangkat kerja bersama khair setelah seminggu lamanya menikmati liburan.
khair: " yo "
aku: " opo bro? "
khair: " kemaren firman cerita, katanya ada kejadian aneh di kost ya? pas aku mudik "
aku: " ah, nggak si, emang firman cerita apaan? "
khair: " katanya malam malam ada suara kaya bom "
aku: " paling suara dari pesawat latihan bro "
( didaerah tulungagung, trenggalek dan blitar kadang sering terdengar suara dentuman yang sumbernya kurang jelas, namun biasanya aku dan khair berasumsi jika itu adalah sonic boom yang bersumber dari pesawat tempur yang sedang berlatih )
khair: " tapi mosok malam malam, kurang kerjaan banget "
aku: " lha mbok menowo simulasi serangan fajar "
khair: " ya semoga saja begitu yo "
khair mengakhiri percakapannya karena kami sudah hampir tiba di PLTA.
aku sendiri memang berpikir jika suara itu adalah suara dari pesawat tempur yang melewati kecepatan suara.
walau aku tidak yakin apakah ada suara pesawat atau tidak sebelum ledakan terdengar.
kami sepakat tidak membahas masalah ini karena dianggap sudah selesai.
namun ternyata prasangkaku salah.
malam itu aku sedang rebahan di dalam kamar sambil menelpon ifa.
aku: " mosok kamu nggak dengar fa? dua hari yang lalu ada suara kaya bom pas malam malam "
ifa: " enggak mas, emange jam berapa lho? "
aku: " ya sekitar jam sepuluh setengah sebelasan lah "
ifa: " nggak denger aku "
aku: " paling kamu udah tidur kali ya? "
ifa: " belum mas, wong aku masih bantuin ibu "
aku: " ealah, , , berarti apa dong ya? "
ifa: " mana ku tau mas "
tadi di kantor aku memang menanyakan ini kepada orang orang yang rumahnya masih berdekatan dengan kontrakanku.
mereka memang tidak mendengarnya,
makanya sekalipun sudah dianggap selesai,
aku masih merasa penasaran dengan suara itu..
" BUMMMMMMMM!!!! "
terdengar suara berdentum, ,
kaca kontrakan sampai terasa bergetar.
aku melompat terkejut dari atas tempat tidur.
aku: " INNALILLAHI!!!!!! "
ifa: " mas? mas? kamu kenapa lho!? "
ifa memanggilku dari seberang sana karena terkejut aku beristirja' setengah berteriak.
aku: " barusan ada suara berdentum yang sama fa!! "
aku masih mengatur nafas karena jantungku berdegub kencang.
ifa: " suara apa lho? nggak ada suara apa apa mas tiyo "
aku: " barusan fa, suara mak BUMM!!, , "
ifa: " ah, aku nggak denger kok mas! "
aku: " barusan fa, beneran, makanya aku sampe teriak tadi "
belum selesai kepanikanku,
aku mendengar suara khair berteriak teriak dari luar kamar.
aku bergegas keluar dengan membiarkan telepon masih menyala.
aku: " kenapa ir?? "
khair: " kebakaran yo! kebakaraan! "
aku: " mana?! "
aku ikut panik mendengar kebakaran,
namun dari arah jendela, aku melihat rona merah masuk dari celah yang tidak tertutup tirai tebal.
aku bergegas mengikuti khair ke arah jendela,
begitu juga firman yang barusan juga keluar.
" SRAAKKK!! "
suara tirai disibakkan dengan cepat.
dan dari jendela lantai dua yang lebar itu aku bisa melihat ada kobaran api besar di sebelah rumah.
aku: " lho!! kebakaran beneran!! "
aku panik, sebab ternyata api itu berasal dari gubuk di tengah sawah yang tengah terbakar hebat.
namun khair menenangkanku.
jarak gubuk dengan tembok rumah memang masih jauh,
sekitar 25 meter.
kami bertiga menatap ke arah luar,
kearah kobaran api yang melahap habis gubuk tersebut.
dan bertanya tanya, dari mana sumber api itu,
karena jalanan di depan sudah sangat gelap dan sepi,
tidak ada seorangpun yang lalu lalang.
firman: " lha, wingi yo ngene iki sam suorone! " ( lha, kemaren itu juga kaya gini mas suaranya )
khair: " iyo ya?! tadi ada suara kaya bom gitu, jendelaku sampai bergetar "
aku: " kalian denger kan suara tadi? "
khair: " denger, malah trus pas aku liat keluar jendela, itu gubuk terbakar kok "
( kamar khair memang jendelanya menghadap ke arah gubuk tsb )
aku: " tapi ifa nggak denger katanya "
khair: " lha iya, wong umahe adoh "
aku: " nggak kok, iki aku masih telepon, , halo fa? ifa? "
ifa: " [ ada apaan sih mas? kok berisik, , tak tutup aja kalo lagi repot ya? ] "
aku: " jangan, nggak papa, , kamu barusan denger suaranya khair kan? "
ifa: " [ itu tadi mas khair yang teriak teriak kebakaran? apa yang kebakar mas? ] "
aku: " gubuk disebelah kost kebakar fa, yang ditengah sawah itu lho "
ifa: " [ ha? siapa yang mbakar? kok kurang kerjaan malam malam gini? ] "
aku: " lha embuh, , makanya tadi aku kaget dengar suara kaya bom, nggak lama gubuk sebelah kebakar "
ifa: " [ kok serem si mas? ] "
aku diam, logikaku berusaha mencerna kejadian ini.
aku kemudian berlari ke balkon depan.
kubuka pintu dan kulihat ke luar.
aku berpikir akan menemukan seseorang yang mungkin bertanggung jawab dengan kebakaran ini.
namun nyatanya didepan rumah benar benar gelap dan sepi.
aku kembali kedalam dan mengunci pintu balkon.
logikaku buntu.
perlahan lahan api yang membakar gubuk mengecil, ,
kemudian padam dengan sendirinya.
menyisakan tumpukan abu.
aku: " kenapa ya kok bisa terbakar gubuk ini? "
khair yang biasanya paling logis hanya diam.
dia tidak menjawab pertanyaanku.
aku melihat ke arah firman yang nampaknya hendak berkata sesuatu.
aku: " kenapa man? "
firman: " ee, , enggak, , apa ini ada hubungannya dengan suara yang terjadi tadi ya? "
aku: " lha gimana si? "
firman terdiam.
kemudian dia mengutarakan sesuatu.
firman: " sebenarnya aku mau cerita, tapi aku pikir kalian jadi nanti jadi takut "
khair: " emang kenapa? "
firman nampak menghela nafas.
firman: " sebenarnya beberapa waktu belakangan ini, aku merasa aneh "
aku: " aneh gimana? "
firman: " mungkin kalian nggak ngalamin karena kamar kalian didepan " ( kamar firman letaknya paling belakang )
khair: " kenapa man? "
firman kembali diam sejenak.
firman: " beberapa waktu belakangan ini aku sering mendengar suara kaya geraman gitu dari arah halaman belakang "
suasana mendadak horor.
wajah khair nampak tegang,
sebab diantara kami bertiga, khairlah yang paling mudah takut, walau tidak bisa dikatakan penakut.
aku dan firman saja yang terlalu berani.
firman: " terkadang suara geraman itu berganti jadi kaya tembok yang dipukul pukul, , "
aku: " dipukul? lantai bawah maksudmu yang dipukul? "
firman: " enggak bro, dinding bagian luar kamarku "
aku dan khair terdiam.
sebab kamar firman ini letaknya di lantai dua, yang lantainya saja sudah setinggi empat meter dari tanah halaman belakang,
jika dari tahan sawah di samping rumah malah hampir enam meter tanpa ada tempat berpijak.
karena pondasi bangunan yang tinggi.
khair: " mosok to man? kejadiannya sudah lama? "
firman: " ya sekitar seminggu terakhir ini lah "
aku: " jam berapa kejadiannya? "
firman: " biasanya menjelang tengah malam atau jam dua belas lebih dikit, pas aku baru mau tidur "
aku menerima informasi dari firman ini,
kujadikan bahan analisa.
analisa terhadap sesuatu yang mulai mengarah kepada aktifitas supranatural.
aku: " yo wes, kita santai saja dulu, sekarang kita istirahat, , mungkin besok akan terpikirkan sebabnya "
khair: " iyo ki, tidur aja lah, aku wes mulai merinding "
firman: " aku nggak bermaksud nakut2in lho sam "
khair: " ha,ha, santai ae, , walau sebenere aku juga takut "
aku: " lha ,minta dikeloni apa? "
khair: " ah, sori , , aku sek normal yo, , mungkin kalau kamu sama firman berminat, silahkan "
aku: " aku nawarin biar kamu dikeloni firman kok "
firman: " aduh, , nawar nawarke kancane, , padahal paling tiyo sing butuh konco kelon sam "
kami ngakak dengan kelakar barusan.
lumayan untuk menurunkan tensi yang mulai meninggi karena rentetan kejadian tidak masuk akal ini.
kemudian kami pamit masuk ke kamar masing masing.
aku juga menyuruh ifa tidur saja karena hari sudah larut.
sedari tadi dia mendengarkan cerita kami.
ifa pamit kepadaku kemudian menutup teleponnya.
meninggalkan aku yang masih menerawang langit langit. .
kejadian barusan membuat rasa kantukku lenyap seketika.
====
keesokan harinya, ,
aku baru saja selesai patrol check,
aku masuk kedalam ruang kontrol dan duduk disebelah stop kontak dimana HPku sedang di charging.
kulihat di HP ada BBM masuk dari ifa.
" mas, nanti pulang kerja jam berapa? "
tanyanya.
aku: " jam 3 keluar "
" kata ibu, sampean disuruh mampir warung mas, penting. "
balas ifa lagi.
aku: " oke "
HP kembali kuletakan.
ada apa ya? jarang jarang bu umi menyuruhku datang kewarung dengan embel embel penting.
aku menghampiri khair dan memintanya nanti mengantarku ke rumah ifa.
ada sesuatu yang penting.
khair sempat meledekku,
katanya aku disuruh menikahi ifa secepat mungkin.
aku cuma nyengir mendengar candaan khair.
//
bu umi: " mas tiyo? sudah makan? "
aku: " sudah si bu, tadi siang "
bu umi: " makan dulu mas "
aku: " ah, nggak bu, maturnuwun, , "
ifa: " maem o mas "
aku: " iya, , masak apa si? "
ifa: " masak tumis "
aku: " wah, cocok nih, lama nggak makan tumisan "
bu umi: " ifa tadi yang masak itu mas tiyo, , katanya buat mas tiyo yang seneng tumis tumisan "
ifa hanya menunduk malu mendengar ibunya berkata seperti itu sambil mencuci piring di wastafel.
aku jadi geli, ,
tiga bulan berjalan sudah hubunganku dengan ifa.
namun ifa masih saja pemalu.
dia hampir tidak pernah mengutarakan rasa sayangnya kepadaku walaupun kupancing untuk berbicara hati ke hati.
namun dia menunjukan rasa sayangnya dengan tidakan.
pernah suatu ketika,aku mengajaknya mampir ke toko roti,
kubilang tempo hari aku lihat ada roti enak disana, ,
sayangnya roti yang dimaksud sudah habis,
hanya tinggal gambarnya saja. .
keesokan harinya, tiba tiba ifa menyuruhku datang ke rumah untuk mengambil roti, ,
katanya roti sisa dari kondangan, ,
tapi kalau sisa, kenapa rotinya masih besar dan utuh.
setelah bu umi bercerita, barulah aku tau
ternyata semalaman ifa membuat sendiri roti tersebut.
katanya sedang ingin membuat roti, ,
atau suatu ketika aku sedang libur,
tiba tiba ifa datang ke kontrakan membawa makanan.
katanya disuruh ibunya,
tumben tumbenan bu umi mengirim makanan untukku,
akhirnya aku menelpon bu umi, untuk menanyakan sekaligus berterimakasih karena dengan makanan itu, aku sedikit tertolong.
maklum tanggal tua.
ternyata setelah kutanyakan kepada bu umi,
beliau malah tidak tau apa apa, ,
katanya ifa tiba tiba memasak dan membungkus masakannya, kemudian pamit keluar sebentar tanpa bilang mau ke tempatku.
perilaku ifa yang seperti inilah yang membuatku jadi semakin jatuh hati kepadanya.
dibalik segala keterbatasannya,
ifa adalah gadis yang memiliki jiwa sosial tinggi.
pengalamannya hidup didalam kesulitan,
membuat empatinya berkembang.
aku bersyukur dipertemukan dengannya.
//
ifa: " enak mas? "
aku: " hm? " ( karena asyik makan )
ifa: " enak nggak? "
aku: " wenyak fa " ( mulutku masih penuh )
ifa: " ojo ngomong nek mulutmu penuh mas "
aku: " kan kamu yang ngajakin ngobrol, , HEKK!! "
aku tersedak cabai,
aku langsung batuk batuk.
ifa berlari mengambilkan minum sambil tertawa.
aku menerimanya dan kemudian mulai kembali menguasai tenggorokannku yang tadi sempat lepas kontrol.
ifa: " hihihi, , makanya kalau dikasih tau tu nurut mas "
aku: " yang ngajakin ngobrol sopo barusan iku? "
ifa: " hihi, maaf mas "
aku pura pura kesal kepadanya.
sebab aku nyaris tidak bisa marah kepada ifa.
senyumnya yang manis sudah langsung meredam perasaan negatif di dalam hati.
bu umi: " mas tiyo "
bu umi duduk disebelah ifa.
aku yang sudah selesai makan mendengarkan beliau.
bu umi: " katanya semalam ada kebakaran disebelah kontrakan sampean ya? "
aku: " em, iya, kok ibu tau? "
bu umi: " ifa yang cerita "
aku: " iya bu, cuma saya masih penasaran kok bisa terbakar "
bu umi menatapku dengan tatapan yang tidak biasa.
aku melihat ada kekhawatiran didalam sorot mata beliau,
begitu pula ifa.
bu umi: " em, gini mas. . aku minta maaf sebelumnya ya? "
aku: " minta maaf kenapa bu? "
bu umi: " minta maaf kalau nanti yang mau tak ceritakan ini tidak bisa njenengan terima "
aku agak terkejut juga mendengar cerita bu umi.
aku: " maksudnya ibu? "
bu umi: " jadi gini mas, , mas tiyo percaya dengan yang namanya santet/teluh? "
aku terkejut mendengar penuturan bu umi.
aku: " em, saya percaya jika hal ghaib semacam itu memang ada bu, , memangnya ada apa kok bu umi tiba tiba bicara seperti itu? "
bu umi memandang ifa yang ada disampingnya.
lalu berkata kembali kepadaku.
bu umi: " di daerah sini hal hal semacam itu masih sangat kental mas, apalagi daerah pesisir "
aku: " iya, , terus hubungannya dengan saya? "
bu umi: " dengar cerita dari ifa, saya takut mas "
aku: " takut kenapa bu? "
bu umi nampak gelisah.
bu umi: " takut kalau mas tiyo jadi sasaran santet "
jantungku berdegub keras.
penuturan bu umi membuatku jadi merasa tidak enak.
aku: " ah, jangan menyimpulkan begitu bu, memangnya saya disantet perkara apa coba "
bu umi: " hee, ini beneran lho mas, sering terjadi hal semacam ini disini "
suasana menjadi lebih serius.
ifa sendiri nampak ikut gelisah.
bu umi: " tak ceritani ya mas, dulu ifa juga pernah di "bikin" sama orang. "
aku: " ha? di "bikin" gimana bu? "
bu umi: " jadi dulu aku masih ada di Luar negeri mas,
ifa sama levi ini masih sekolah SMA.
aku dapat kabar dari adikku kalau ifa ini bertingkah aneh,
masa dia bisa kesengsem sama seseorang yang bahkan nggak dia kenal.
sampai kalau tidur itu selalu mimpi orang tersebut.
aku mendengarkan penuturan dari bu umi dengan seksama.
ifa yang tadinya duduk disebelah ibunya, bergeser mendekat ke arahku.
bu umi: " akhirnya aku minta tolong sama orang pinter, katanya ifa dipelet mas, , "
aku: " dikasih melet gitu bu bu? "
aku setengah bercanda menanggapi cerita bu umi.
akibatnya ifa yang duduk disebelahku mencubit perutku dengan keras sambil melirik tajam.
aku mengaduh dan meminta maaf.
aku: " maaf fa, , hehe, monggo dilanjut bu "
bu umi: " setelah aku minta bantuan itu, akhirnya ifa bisa kembali sadar, ,
kalau njenengan tau, habis sadar, ifa langsung nangis gara gara pernah suka sama orang yang nggak dikenal itu.
ya mohon maaf ni, orangnya pendek, uelek, nganggur, kerjaane cuma mabuk mabukan, , "
aku: " lha nggak kenal kok bisa tau orangnya kaya gitu bu? "
bu umi: " kan orangnya dari desa sebelah, alhamdulillah sekarang orangnya sudah nggak ada di kampung, sudah keluar pulau, wong sukanya bikin geger "
aku: " ealaaah, , fa fa, , makanya banyak banyak ibadah, , kamu sholat aja males malesan "
tangan kananku meraih kepala ifa yang duduk disebelahku dan mengelus rambutnya.
ifa hanya diam,
namun aku lihat wajahnya merah.
aku: " lha terus bu? "
bu umi: " ya itu, aku jadi pulang dan mikir lebih baik nyari uang dirumah sambil mengawasi anak anakku aja mas tiyo "
aku diam mendengar penuturan bu umi.
aku: " lalu hubungannya dengan saya? "
bu umi: " nah itu mas, kemungkinan suara berdentum yang njenengan dengar itu adalah santet yang dikirim, tapi karena satu dan lain hal, santetnya mental, , "
aku: " lha ibu kok tau sampe sedetail itu bu? "
bu umi nampak menoleh ke kanan dan kekiri.
bu umi: " disini santet semacam itu rahasia umum mas, , kalau ada yang nggak suka sama seseorang, main dukun sudah menjadi kebiasaan "
aku: " astaghfirullaaah!!! "
aku beristighfar.
ternyata kemusyrikan semacam itu sudah agak lazim disini.
aku: " lha berarti ibu juga pernah menggunakan jasa dukun? "
bu umi: " buat apa mas tiyo? "
aku: " ya nggak tau, mungkin pas buat nyembuhin ifa dulu "
bu umi: " aku nggak minta ke dukun mas, aku minta tolong didoakan sama kyai pas nyembuhin ifa itu, lagi pula biarpun saya bukan orang alim, saya ngga mau berurusan dengan dukun, dosanya gede "
aku: " ooh, , iya bu, jangan pernah berurusan dengan dukun, itu menyekutukan Allah, dosanya paling gede! "
bu umi: " iya mas, makanya aku juga takut kalau ada orang nekat yang nyantet njenengan "
aku: " siapa yang nyantet saya? lagian kan saya nggak punya masalah dengan orang sini "
bu umi memperhatikan aku dan ifa.
kali ini duduk kami memang sudah berhimpitan.
ifa malahan sudah memeluk lengan kananku.
bu umi: " yang menyantet mas tiyo kemungkinan adalah orang orang yang sudah kecewa karena kalian bersama "
aku: " kok gitu bu? "
bu umi: " ya, sebenarnya begini mas, , "
ifa: " bu, ojo. . "
ifa memotong pembicaraan ibunya.
bu umi: " nggak papa nduk, mas tiyo berhak tau "
ifa diam, hanya saja pelukannya di lengan kananku semakin erat.
aku bisa merasakan kecemasan ifa dari gestur tersebut.
bu umi: " ifa ini sebenarnya sudah berulang kali disukai oleh laki laki disini mas, , tapi ifanya nggak mau "
aku: " kenapa nggak mau bu? "
bu umi: " tanya aja sama ifanya langsung mas "
aku menoleh kepada ifa.
aku: " kenapa fa? "
ifa diam saja.
wajahnya malah menunduk,
namun disandarkan ke lenganku.
aku paham, dia tidak akan mau bercerita walau dipaksa seperti apapun jika seperti ini.
mungkin lain kali dia akan bercerita sendiri.
( di kemudian hari aku tahu jika ifa sempat kehilangan rasa percaya kepada sosok yang namanya laki laki.
pengalaman masa lalu yang buruk tentang ayah tirinya yang suka memukul bu umi, dan kenyataan jika ayah kandungnya menelantarkannya membuat ifa sempat tidak percaya dengan laki laki.
apalagi jika sosok laki laki tersebut cenderung kasar, suka mabuk, dan tidak bertanggung jawab.
aku pun bertanya kenapa dia mau membuka dirinya untukku.
dia bilang sudah tersentuh dengan prinsip dan caraku memperlakukan perempuan. )
bu umi: " kalau aku pribadi, seneng mas tiyo sudah mau menerima ifa apa adanya, tapi namanya orang lain kita nggak tau mas "
aku: " iya bu, terimakasih "
bu umi: " mas tiyo hati hati aja ya? "
aku: " nggih bu umi, kalau prinsip saya, tiada daya dan upaya selain daripada Allah, , santet sekuat apapun tidak akan kena jika Allah tidak berkehendak.
makanya cara paling baik untuk melindungi diri ya mendekatkan diri sama Allah bu "
bu umi: " oh ya udah, , moga moga orang yang ngirim santet itu kena sendiri mas "
aku: " ya itu saya kembalikan lagi sama Allah, saya nggak mau mendoakan yang jelek buat pengirimnya. Allah maha tau apa yang terbaik "
sore itu kami mengakhiri pembicaraan kami setelah adzan maghrib berkumandang.
bu umi sudah memberitahuku jika aku harus hati hati.
pikiranku juga langsung tertuju kepada dedi,
apakah orang itu yang mengirimkan santet kepadaku?
namun aku menepis anggapan itu,
karena jika anggapanku tidak terbukti,
maka dosa dari tuduhanku bisa berbalik kepadaku sendiri.
sekali lagi aku hanya bisa berbaik sangka dengan semuanya.
ifa menyuruhku membawa sepeda motor miliknya,
agar aku tidak usah berjalan kaki.
awalnya aku menolak,
namun ifa terus memaksaku,
malahan dia hendak mengantarkanku pulang.
aku akhirnya mengalah,
daripada petang petang begini dia bolak balik,
lebih baik kuturuti saja keinginannya.
besok pagi pagi sekalian berangkat kerja,
akan kukembalikan sepeda motornya.
====
saya mohon maaf sebelumnya.
ada yang ingin saya sampaikan mengenai cerita saya.
saya meminta tolong dengan sangat kepada teman teman readers yang mungkin penasaran dengan para karakter cerita ini.
saya harap kesediaannya agar tetap menjadikan mereka hanya sebatas tokoh.
janganlah berusaha mencari tahu, atau bahkan sampai mengusik privasi dari para tokoh tersebut.
kalau saya pribadi sebenarnya tidak masalah, karena saya juga berteman dengan beberapa readers disini.
saya menghormati teman teman kaskusers tersebut karena mereka adalah para pembaca yang sudah dewasa dan mengerti batasan.
namun saya menerbitkan permohonan ini karena ada beberapa readers yang sudah mulai mencari tahu tentang para tokohnya terlalu dalam,
seperti dian, sheryl, dan ifa.
sekali lagi saya harapkan kedewasaan para pembaca untuk tetap memahami batas batas privasi dari para tokoh tersebut.
sekian, dan terimakasih.

tiga hari berselang dari suara dentuman.
khair sudah kembali dari mudiknya.
kali ini dia masuk normal bersamaku.
pagi itu aku berangkat kerja bersama khair setelah seminggu lamanya menikmati liburan.
khair: " yo "
aku: " opo bro? "
khair: " kemaren firman cerita, katanya ada kejadian aneh di kost ya? pas aku mudik "
aku: " ah, nggak si, emang firman cerita apaan? "
khair: " katanya malam malam ada suara kaya bom "
aku: " paling suara dari pesawat latihan bro "
( didaerah tulungagung, trenggalek dan blitar kadang sering terdengar suara dentuman yang sumbernya kurang jelas, namun biasanya aku dan khair berasumsi jika itu adalah sonic boom yang bersumber dari pesawat tempur yang sedang berlatih )
khair: " tapi mosok malam malam, kurang kerjaan banget "
aku: " lha mbok menowo simulasi serangan fajar "
khair: " ya semoga saja begitu yo "
khair mengakhiri percakapannya karena kami sudah hampir tiba di PLTA.
aku sendiri memang berpikir jika suara itu adalah suara dari pesawat tempur yang melewati kecepatan suara.
walau aku tidak yakin apakah ada suara pesawat atau tidak sebelum ledakan terdengar.
kami sepakat tidak membahas masalah ini karena dianggap sudah selesai.
namun ternyata prasangkaku salah.
malam itu aku sedang rebahan di dalam kamar sambil menelpon ifa.
aku: " mosok kamu nggak dengar fa? dua hari yang lalu ada suara kaya bom pas malam malam "
ifa: " enggak mas, emange jam berapa lho? "
aku: " ya sekitar jam sepuluh setengah sebelasan lah "
ifa: " nggak denger aku "
aku: " paling kamu udah tidur kali ya? "
ifa: " belum mas, wong aku masih bantuin ibu "
aku: " ealah, , , berarti apa dong ya? "
ifa: " mana ku tau mas "
tadi di kantor aku memang menanyakan ini kepada orang orang yang rumahnya masih berdekatan dengan kontrakanku.
mereka memang tidak mendengarnya,
makanya sekalipun sudah dianggap selesai,
aku masih merasa penasaran dengan suara itu..
" BUMMMMMMMM!!!! "
terdengar suara berdentum, ,
kaca kontrakan sampai terasa bergetar.
aku melompat terkejut dari atas tempat tidur.
aku: " INNALILLAHI!!!!!! "
ifa: " mas? mas? kamu kenapa lho!? "
ifa memanggilku dari seberang sana karena terkejut aku beristirja' setengah berteriak.
aku: " barusan ada suara berdentum yang sama fa!! "
aku masih mengatur nafas karena jantungku berdegub kencang.
ifa: " suara apa lho? nggak ada suara apa apa mas tiyo "
aku: " barusan fa, suara mak BUMM!!, , "
ifa: " ah, aku nggak denger kok mas! "
aku: " barusan fa, beneran, makanya aku sampe teriak tadi "
belum selesai kepanikanku,
aku mendengar suara khair berteriak teriak dari luar kamar.
aku bergegas keluar dengan membiarkan telepon masih menyala.
aku: " kenapa ir?? "
khair: " kebakaran yo! kebakaraan! "
aku: " mana?! "
aku ikut panik mendengar kebakaran,
namun dari arah jendela, aku melihat rona merah masuk dari celah yang tidak tertutup tirai tebal.
aku bergegas mengikuti khair ke arah jendela,
begitu juga firman yang barusan juga keluar.
" SRAAKKK!! "
suara tirai disibakkan dengan cepat.
dan dari jendela lantai dua yang lebar itu aku bisa melihat ada kobaran api besar di sebelah rumah.
aku: " lho!! kebakaran beneran!! "
aku panik, sebab ternyata api itu berasal dari gubuk di tengah sawah yang tengah terbakar hebat.
namun khair menenangkanku.
jarak gubuk dengan tembok rumah memang masih jauh,
sekitar 25 meter.
kami bertiga menatap ke arah luar,
kearah kobaran api yang melahap habis gubuk tersebut.
dan bertanya tanya, dari mana sumber api itu,
karena jalanan di depan sudah sangat gelap dan sepi,
tidak ada seorangpun yang lalu lalang.
firman: " lha, wingi yo ngene iki sam suorone! " ( lha, kemaren itu juga kaya gini mas suaranya )
khair: " iyo ya?! tadi ada suara kaya bom gitu, jendelaku sampai bergetar "
aku: " kalian denger kan suara tadi? "
khair: " denger, malah trus pas aku liat keluar jendela, itu gubuk terbakar kok "
( kamar khair memang jendelanya menghadap ke arah gubuk tsb )
aku: " tapi ifa nggak denger katanya "
khair: " lha iya, wong umahe adoh "
aku: " nggak kok, iki aku masih telepon, , halo fa? ifa? "
ifa: " [ ada apaan sih mas? kok berisik, , tak tutup aja kalo lagi repot ya? ] "
aku: " jangan, nggak papa, , kamu barusan denger suaranya khair kan? "
ifa: " [ itu tadi mas khair yang teriak teriak kebakaran? apa yang kebakar mas? ] "
aku: " gubuk disebelah kost kebakar fa, yang ditengah sawah itu lho "
ifa: " [ ha? siapa yang mbakar? kok kurang kerjaan malam malam gini? ] "
aku: " lha embuh, , makanya tadi aku kaget dengar suara kaya bom, nggak lama gubuk sebelah kebakar "
ifa: " [ kok serem si mas? ] "
aku diam, logikaku berusaha mencerna kejadian ini.
aku kemudian berlari ke balkon depan.
kubuka pintu dan kulihat ke luar.
aku berpikir akan menemukan seseorang yang mungkin bertanggung jawab dengan kebakaran ini.
namun nyatanya didepan rumah benar benar gelap dan sepi.
aku kembali kedalam dan mengunci pintu balkon.
logikaku buntu.
perlahan lahan api yang membakar gubuk mengecil, ,
kemudian padam dengan sendirinya.
menyisakan tumpukan abu.
aku: " kenapa ya kok bisa terbakar gubuk ini? "
khair yang biasanya paling logis hanya diam.
dia tidak menjawab pertanyaanku.
aku melihat ke arah firman yang nampaknya hendak berkata sesuatu.
aku: " kenapa man? "
firman: " ee, , enggak, , apa ini ada hubungannya dengan suara yang terjadi tadi ya? "
aku: " lha gimana si? "
firman terdiam.
kemudian dia mengutarakan sesuatu.
firman: " sebenarnya aku mau cerita, tapi aku pikir kalian jadi nanti jadi takut "
khair: " emang kenapa? "
firman nampak menghela nafas.
firman: " sebenarnya beberapa waktu belakangan ini, aku merasa aneh "
aku: " aneh gimana? "
firman: " mungkin kalian nggak ngalamin karena kamar kalian didepan " ( kamar firman letaknya paling belakang )
khair: " kenapa man? "
firman kembali diam sejenak.
firman: " beberapa waktu belakangan ini aku sering mendengar suara kaya geraman gitu dari arah halaman belakang "
suasana mendadak horor.
wajah khair nampak tegang,
sebab diantara kami bertiga, khairlah yang paling mudah takut, walau tidak bisa dikatakan penakut.
aku dan firman saja yang terlalu berani.
firman: " terkadang suara geraman itu berganti jadi kaya tembok yang dipukul pukul, , "
aku: " dipukul? lantai bawah maksudmu yang dipukul? "
firman: " enggak bro, dinding bagian luar kamarku "
aku dan khair terdiam.
sebab kamar firman ini letaknya di lantai dua, yang lantainya saja sudah setinggi empat meter dari tanah halaman belakang,
jika dari tahan sawah di samping rumah malah hampir enam meter tanpa ada tempat berpijak.
karena pondasi bangunan yang tinggi.
khair: " mosok to man? kejadiannya sudah lama? "
firman: " ya sekitar seminggu terakhir ini lah "
aku: " jam berapa kejadiannya? "
firman: " biasanya menjelang tengah malam atau jam dua belas lebih dikit, pas aku baru mau tidur "
aku menerima informasi dari firman ini,
kujadikan bahan analisa.
analisa terhadap sesuatu yang mulai mengarah kepada aktifitas supranatural.
aku: " yo wes, kita santai saja dulu, sekarang kita istirahat, , mungkin besok akan terpikirkan sebabnya "
khair: " iyo ki, tidur aja lah, aku wes mulai merinding "
firman: " aku nggak bermaksud nakut2in lho sam "
khair: " ha,ha, santai ae, , walau sebenere aku juga takut "
aku: " lha ,minta dikeloni apa? "
khair: " ah, sori , , aku sek normal yo, , mungkin kalau kamu sama firman berminat, silahkan "
aku: " aku nawarin biar kamu dikeloni firman kok "
firman: " aduh, , nawar nawarke kancane, , padahal paling tiyo sing butuh konco kelon sam "
kami ngakak dengan kelakar barusan.
lumayan untuk menurunkan tensi yang mulai meninggi karena rentetan kejadian tidak masuk akal ini.
kemudian kami pamit masuk ke kamar masing masing.
aku juga menyuruh ifa tidur saja karena hari sudah larut.
sedari tadi dia mendengarkan cerita kami.
ifa pamit kepadaku kemudian menutup teleponnya.
meninggalkan aku yang masih menerawang langit langit. .
kejadian barusan membuat rasa kantukku lenyap seketika.
====
keesokan harinya, ,
aku baru saja selesai patrol check,
aku masuk kedalam ruang kontrol dan duduk disebelah stop kontak dimana HPku sedang di charging.
kulihat di HP ada BBM masuk dari ifa.
" mas, nanti pulang kerja jam berapa? "
tanyanya.
aku: " jam 3 keluar "
" kata ibu, sampean disuruh mampir warung mas, penting. "
balas ifa lagi.
aku: " oke "
HP kembali kuletakan.
ada apa ya? jarang jarang bu umi menyuruhku datang kewarung dengan embel embel penting.
aku menghampiri khair dan memintanya nanti mengantarku ke rumah ifa.
ada sesuatu yang penting.
khair sempat meledekku,
katanya aku disuruh menikahi ifa secepat mungkin.
aku cuma nyengir mendengar candaan khair.
//
bu umi: " mas tiyo? sudah makan? "
aku: " sudah si bu, tadi siang "
bu umi: " makan dulu mas "
aku: " ah, nggak bu, maturnuwun, , "
ifa: " maem o mas "
aku: " iya, , masak apa si? "
ifa: " masak tumis "
aku: " wah, cocok nih, lama nggak makan tumisan "
bu umi: " ifa tadi yang masak itu mas tiyo, , katanya buat mas tiyo yang seneng tumis tumisan "
ifa hanya menunduk malu mendengar ibunya berkata seperti itu sambil mencuci piring di wastafel.
aku jadi geli, ,
tiga bulan berjalan sudah hubunganku dengan ifa.
namun ifa masih saja pemalu.
dia hampir tidak pernah mengutarakan rasa sayangnya kepadaku walaupun kupancing untuk berbicara hati ke hati.
namun dia menunjukan rasa sayangnya dengan tidakan.
pernah suatu ketika,aku mengajaknya mampir ke toko roti,
kubilang tempo hari aku lihat ada roti enak disana, ,
sayangnya roti yang dimaksud sudah habis,
hanya tinggal gambarnya saja. .
keesokan harinya, tiba tiba ifa menyuruhku datang ke rumah untuk mengambil roti, ,
katanya roti sisa dari kondangan, ,
tapi kalau sisa, kenapa rotinya masih besar dan utuh.
setelah bu umi bercerita, barulah aku tau
ternyata semalaman ifa membuat sendiri roti tersebut.
katanya sedang ingin membuat roti, ,
atau suatu ketika aku sedang libur,
tiba tiba ifa datang ke kontrakan membawa makanan.
katanya disuruh ibunya,
tumben tumbenan bu umi mengirim makanan untukku,
akhirnya aku menelpon bu umi, untuk menanyakan sekaligus berterimakasih karena dengan makanan itu, aku sedikit tertolong.
maklum tanggal tua.
ternyata setelah kutanyakan kepada bu umi,
beliau malah tidak tau apa apa, ,
katanya ifa tiba tiba memasak dan membungkus masakannya, kemudian pamit keluar sebentar tanpa bilang mau ke tempatku.
perilaku ifa yang seperti inilah yang membuatku jadi semakin jatuh hati kepadanya.
dibalik segala keterbatasannya,
ifa adalah gadis yang memiliki jiwa sosial tinggi.
pengalamannya hidup didalam kesulitan,
membuat empatinya berkembang.
aku bersyukur dipertemukan dengannya.
//
ifa: " enak mas? "
aku: " hm? " ( karena asyik makan )
ifa: " enak nggak? "
aku: " wenyak fa " ( mulutku masih penuh )
ifa: " ojo ngomong nek mulutmu penuh mas "
aku: " kan kamu yang ngajakin ngobrol, , HEKK!! "
aku tersedak cabai,
aku langsung batuk batuk.
ifa berlari mengambilkan minum sambil tertawa.
aku menerimanya dan kemudian mulai kembali menguasai tenggorokannku yang tadi sempat lepas kontrol.
ifa: " hihihi, , makanya kalau dikasih tau tu nurut mas "
aku: " yang ngajakin ngobrol sopo barusan iku? "
ifa: " hihi, maaf mas "
aku pura pura kesal kepadanya.
sebab aku nyaris tidak bisa marah kepada ifa.
senyumnya yang manis sudah langsung meredam perasaan negatif di dalam hati.
bu umi: " mas tiyo "
bu umi duduk disebelah ifa.
aku yang sudah selesai makan mendengarkan beliau.
bu umi: " katanya semalam ada kebakaran disebelah kontrakan sampean ya? "
aku: " em, iya, kok ibu tau? "
bu umi: " ifa yang cerita "
aku: " iya bu, cuma saya masih penasaran kok bisa terbakar "
bu umi menatapku dengan tatapan yang tidak biasa.
aku melihat ada kekhawatiran didalam sorot mata beliau,
begitu pula ifa.
bu umi: " em, gini mas. . aku minta maaf sebelumnya ya? "
aku: " minta maaf kenapa bu? "
bu umi: " minta maaf kalau nanti yang mau tak ceritakan ini tidak bisa njenengan terima "
aku agak terkejut juga mendengar cerita bu umi.
aku: " maksudnya ibu? "
bu umi: " jadi gini mas, , mas tiyo percaya dengan yang namanya santet/teluh? "
aku terkejut mendengar penuturan bu umi.
aku: " em, saya percaya jika hal ghaib semacam itu memang ada bu, , memangnya ada apa kok bu umi tiba tiba bicara seperti itu? "
bu umi memandang ifa yang ada disampingnya.
lalu berkata kembali kepadaku.
bu umi: " di daerah sini hal hal semacam itu masih sangat kental mas, apalagi daerah pesisir "
aku: " iya, , terus hubungannya dengan saya? "
bu umi: " dengar cerita dari ifa, saya takut mas "
aku: " takut kenapa bu? "
bu umi nampak gelisah.
bu umi: " takut kalau mas tiyo jadi sasaran santet "
jantungku berdegub keras.
penuturan bu umi membuatku jadi merasa tidak enak.
aku: " ah, jangan menyimpulkan begitu bu, memangnya saya disantet perkara apa coba "
bu umi: " hee, ini beneran lho mas, sering terjadi hal semacam ini disini "
suasana menjadi lebih serius.
ifa sendiri nampak ikut gelisah.
bu umi: " tak ceritani ya mas, dulu ifa juga pernah di "bikin" sama orang. "
aku: " ha? di "bikin" gimana bu? "
bu umi: " jadi dulu aku masih ada di Luar negeri mas,
ifa sama levi ini masih sekolah SMA.
aku dapat kabar dari adikku kalau ifa ini bertingkah aneh,
masa dia bisa kesengsem sama seseorang yang bahkan nggak dia kenal.
sampai kalau tidur itu selalu mimpi orang tersebut.
aku mendengarkan penuturan dari bu umi dengan seksama.
ifa yang tadinya duduk disebelah ibunya, bergeser mendekat ke arahku.
bu umi: " akhirnya aku minta tolong sama orang pinter, katanya ifa dipelet mas, , "
aku: " dikasih melet gitu bu bu? "
aku setengah bercanda menanggapi cerita bu umi.
akibatnya ifa yang duduk disebelahku mencubit perutku dengan keras sambil melirik tajam.
aku mengaduh dan meminta maaf.
aku: " maaf fa, , hehe, monggo dilanjut bu "
bu umi: " setelah aku minta bantuan itu, akhirnya ifa bisa kembali sadar, ,
kalau njenengan tau, habis sadar, ifa langsung nangis gara gara pernah suka sama orang yang nggak dikenal itu.
ya mohon maaf ni, orangnya pendek, uelek, nganggur, kerjaane cuma mabuk mabukan, , "
aku: " lha nggak kenal kok bisa tau orangnya kaya gitu bu? "
bu umi: " kan orangnya dari desa sebelah, alhamdulillah sekarang orangnya sudah nggak ada di kampung, sudah keluar pulau, wong sukanya bikin geger "
aku: " ealaaah, , fa fa, , makanya banyak banyak ibadah, , kamu sholat aja males malesan "
tangan kananku meraih kepala ifa yang duduk disebelahku dan mengelus rambutnya.
ifa hanya diam,
namun aku lihat wajahnya merah.
aku: " lha terus bu? "
bu umi: " ya itu, aku jadi pulang dan mikir lebih baik nyari uang dirumah sambil mengawasi anak anakku aja mas tiyo "
aku diam mendengar penuturan bu umi.
aku: " lalu hubungannya dengan saya? "
bu umi: " nah itu mas, kemungkinan suara berdentum yang njenengan dengar itu adalah santet yang dikirim, tapi karena satu dan lain hal, santetnya mental, , "
aku: " lha ibu kok tau sampe sedetail itu bu? "
bu umi nampak menoleh ke kanan dan kekiri.
bu umi: " disini santet semacam itu rahasia umum mas, , kalau ada yang nggak suka sama seseorang, main dukun sudah menjadi kebiasaan "
aku: " astaghfirullaaah!!! "
aku beristighfar.
ternyata kemusyrikan semacam itu sudah agak lazim disini.
aku: " lha berarti ibu juga pernah menggunakan jasa dukun? "
bu umi: " buat apa mas tiyo? "
aku: " ya nggak tau, mungkin pas buat nyembuhin ifa dulu "
bu umi: " aku nggak minta ke dukun mas, aku minta tolong didoakan sama kyai pas nyembuhin ifa itu, lagi pula biarpun saya bukan orang alim, saya ngga mau berurusan dengan dukun, dosanya gede "
aku: " ooh, , iya bu, jangan pernah berurusan dengan dukun, itu menyekutukan Allah, dosanya paling gede! "
bu umi: " iya mas, makanya aku juga takut kalau ada orang nekat yang nyantet njenengan "
aku: " siapa yang nyantet saya? lagian kan saya nggak punya masalah dengan orang sini "
bu umi memperhatikan aku dan ifa.
kali ini duduk kami memang sudah berhimpitan.
ifa malahan sudah memeluk lengan kananku.
bu umi: " yang menyantet mas tiyo kemungkinan adalah orang orang yang sudah kecewa karena kalian bersama "
aku: " kok gitu bu? "
bu umi: " ya, sebenarnya begini mas, , "
ifa: " bu, ojo. . "
ifa memotong pembicaraan ibunya.
bu umi: " nggak papa nduk, mas tiyo berhak tau "
ifa diam, hanya saja pelukannya di lengan kananku semakin erat.
aku bisa merasakan kecemasan ifa dari gestur tersebut.
bu umi: " ifa ini sebenarnya sudah berulang kali disukai oleh laki laki disini mas, , tapi ifanya nggak mau "
aku: " kenapa nggak mau bu? "
bu umi: " tanya aja sama ifanya langsung mas "
aku menoleh kepada ifa.
aku: " kenapa fa? "
ifa diam saja.
wajahnya malah menunduk,
namun disandarkan ke lenganku.
aku paham, dia tidak akan mau bercerita walau dipaksa seperti apapun jika seperti ini.
mungkin lain kali dia akan bercerita sendiri.
( di kemudian hari aku tahu jika ifa sempat kehilangan rasa percaya kepada sosok yang namanya laki laki.
pengalaman masa lalu yang buruk tentang ayah tirinya yang suka memukul bu umi, dan kenyataan jika ayah kandungnya menelantarkannya membuat ifa sempat tidak percaya dengan laki laki.
apalagi jika sosok laki laki tersebut cenderung kasar, suka mabuk, dan tidak bertanggung jawab.
aku pun bertanya kenapa dia mau membuka dirinya untukku.
dia bilang sudah tersentuh dengan prinsip dan caraku memperlakukan perempuan. )
bu umi: " kalau aku pribadi, seneng mas tiyo sudah mau menerima ifa apa adanya, tapi namanya orang lain kita nggak tau mas "
aku: " iya bu, terimakasih "
bu umi: " mas tiyo hati hati aja ya? "
aku: " nggih bu umi, kalau prinsip saya, tiada daya dan upaya selain daripada Allah, , santet sekuat apapun tidak akan kena jika Allah tidak berkehendak.
makanya cara paling baik untuk melindungi diri ya mendekatkan diri sama Allah bu "
bu umi: " oh ya udah, , moga moga orang yang ngirim santet itu kena sendiri mas "
aku: " ya itu saya kembalikan lagi sama Allah, saya nggak mau mendoakan yang jelek buat pengirimnya. Allah maha tau apa yang terbaik "
sore itu kami mengakhiri pembicaraan kami setelah adzan maghrib berkumandang.
bu umi sudah memberitahuku jika aku harus hati hati.
pikiranku juga langsung tertuju kepada dedi,
apakah orang itu yang mengirimkan santet kepadaku?
namun aku menepis anggapan itu,
karena jika anggapanku tidak terbukti,
maka dosa dari tuduhanku bisa berbalik kepadaku sendiri.
sekali lagi aku hanya bisa berbaik sangka dengan semuanya.
ifa menyuruhku membawa sepeda motor miliknya,
agar aku tidak usah berjalan kaki.
awalnya aku menolak,
namun ifa terus memaksaku,
malahan dia hendak mengantarkanku pulang.
aku akhirnya mengalah,
daripada petang petang begini dia bolak balik,
lebih baik kuturuti saja keinginannya.
besok pagi pagi sekalian berangkat kerja,
akan kukembalikan sepeda motornya.
====
Diubah oleh prestant18 27-09-2017 00:50
symoel08 dan 11 lainnya memberi reputasi
12