- Beranda
- Stories from the Heart
Vanilla
...
TS
beanilla93
Vanilla
Hai agan-sis semua.
Setelah sering jadi silent reader, kayanya asik juga kalau saya mencoba share cerita juga.
Cerita ini 'based on true story'. Tapi ya mungkin dengan sedikit modifikasi. hehehe
Tapi kalo cerita ini bukan selera agan-sis, atau agan-sis merasa ceritanya aneh,
And you feel like you can't stand to read it anymore silahkan cari cerita lain.
Nggak usah sumpah serapah ya.
Karna buat saya mereka yg sumpah serapah itu, pikirannya sempit, kosa katanya terbatas.
Bingung mau komentar apa, ujungnya malah ngata-ngatain
Comment, critics and question allowed ya
Indeks :
Part 1. Prolog
Part 2. Selected memories
Part 3. MY hero
Part 4. His journey
Part 5. Restriction
Part 6. The results
Part 7. First year
Part 8. We're classmate!
Part 9. The class president
Part 10. Embarrassing youth - intermezzo
Part 11. Wrong thought?
Part 12. Boom!
Part 13. Aftereffects
Part 14. "Manner maketh man"
Part 15. Reunion
Part 16. Let it loose
Part 17. Those shoulders
Part 18. The sunrise
Part 19. Present
Part 20. Year 7th
Part 21. Tom and jerry
Part 22. Crown Prince
Part 23. Amnesia
Part 24. "Okay, let's do that"
Part 25. Jalan belakang(back street)
Part 26. The castle
Part 27. Story about a long night
Part 28. The storm
Part 29. War
Part 30. Gotcha!
Part 31. End
Part 32. Abege
Part 33. Story of nasi goreng
Part 34. The reason behind cold martabak
Part 35. He knew it(all the time!)
Part 36. The betrayal
Part 37. Revealing the truth
Setelah sering jadi silent reader, kayanya asik juga kalau saya mencoba share cerita juga.
Cerita ini 'based on true story'. Tapi ya mungkin dengan sedikit modifikasi. hehehe
Tapi kalo cerita ini bukan selera agan-sis, atau agan-sis merasa ceritanya aneh,
And you feel like you can't stand to read it anymore silahkan cari cerita lain.
Nggak usah sumpah serapah ya.
Karna buat saya mereka yg sumpah serapah itu, pikirannya sempit, kosa katanya terbatas.
Bingung mau komentar apa, ujungnya malah ngata-ngatain

Comment, critics and question allowed ya
Spoiler for Prolog:
Indeks :
Part 1. Prolog
Part 2. Selected memories
Part 3. MY hero
Part 4. His journey
Part 5. Restriction
Part 6. The results
Part 7. First year
Part 8. We're classmate!
Part 9. The class president
Part 10. Embarrassing youth - intermezzo
Part 11. Wrong thought?
Part 12. Boom!
Part 13. Aftereffects
Part 14. "Manner maketh man"
Part 15. Reunion
Part 16. Let it loose
Part 17. Those shoulders
Part 18. The sunrise
Part 19. Present
Part 20. Year 7th
Part 21. Tom and jerry
Part 22. Crown Prince
Part 23. Amnesia
Part 24. "Okay, let's do that"
Part 25. Jalan belakang(back street)
Part 26. The castle
Part 27. Story about a long night
Part 28. The storm
Part 29. War
Part 30. Gotcha!
Part 31. End
Part 32. Abege
Part 33. Story of nasi goreng
Part 34. The reason behind cold martabak
Part 35. He knew it(all the time!)
Part 36. The betrayal
Part 37. Revealing the truth
Diubah oleh beanilla93 16-03-2018 13:46
chamelemon dan anasabila memberi reputasi
2
20.2K
182
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beanilla93
#28
Part 6. Him (now)
Terlepas dari betapa kerasnya kepribadian Ayah dulu, aku bersyukur telah dilahirkan sebagai anak beliau.
Berkat beliau, aku tumbuh menjadi anak yang mandiri, dan merasa memiliki tanggung jawab.
Di saat teman-teman terdekatku sendiri masih mengharapkan uang dari orang tuanya, padahal mereka sudah memiliki penghasilan. Aku berhasil menahan diriku untuk berhenti meminta uang pada Ayah.
Bahkan aku pernah hanya membawa uang beberapa ribu rupiah, saat gajihku sedikit terlambat dibayarkan.
Aku pun tidak pernah merasa berat, dan berpikir dua kali untuk turut ambil bagian dalam biaya-biaya yang dikeluarkan oleh Ayah. Karena bagiku, bahkan jika aku kelak sangat kaya pun, dan seluruh kekayaan ku kuberikan pada Ayah, maka seluruh harta itu tidak akan pernah cukup untuk mengganti semua hal yang pernah beliau berikan untukku.
Sampai saat ini aku masih heran dengan teman-teman dekatku, yang masih meminta uang kepada orang tuanya. Padahal mereka sudah bekerja, dan berpenghasilan. Dan bahkan, bisa dibilang penghasilan mereka jauh lebih besar daripada aku.
V : Rin, kita kemana ini? Jangan mamam mahal ya. Cekak ini belum gajihan.
A : Lah ngga minta duit sama Ayah mu? Aku juga belum gajihan ini. Cekak. Mau minta sama mamah buat mamam siang.
V : Ealah rin, udah kerja masih aja minta sama orang tua. Duitmu abis kemana sih. Wong gajihmu itu lebih banyak dari aku ko' ya udah cekak?
A : Ya abis gimana dong. Orang tua ya mana tega ya kan anaknya ngga ada duit? Duitku abis kemarin ta' pake belanja online. Hahaha
Ringan sekali kalimat itu keluar dari mulut temanku, si Airin(bukan nama sebenarnya). Ada juga temanku yang lain, Nana(bukan nama sebenarnya). Dia juga sudah bekerja, tapi sampai saat ini yang dia bawa dan pakai ya masih saldo di debit card orang tuanya. Waktu di tanya uang nya dipakai kemana, jawabannya 'khilaf kemaren beli parfum'.
Ko bisa? Sekolah kami sama-sama TK sampai SMA. Pendidikan kami sama-sama sarjana. Sudah sama-sama bekerja juga. Tapi pola pikir kami sangat berbeda?
Ternyata satu hal yang membuat kami berbeda adalah, lingkungan keluarga. Airin, dan juga Nana, memang dibesarkan di keluarga yang berada. Tipe keluarga yang 'kamu minta apa, Papah-Mamah pasti kasih aja'.
Aku masih ingat, Nana pernah membeli sepatu seharga 2 juta untuk adiknya. Dan satu set parfum seharga hampir 3 juta untuk dirinya sendiri. Dia membayarnya menggunakan debit card Mamah nya.
Pun Airin, yang bercerita bahwa Papahnya membeli dua iph*ne 5s sekaligus(saat itu baru rilis dan harganya masih 12juta) untuknya dan untuk mbak nya, supaya tidak ada kecemburuan. Juga saat aku bertanya kenapa dia mengganti mobil padahal mobil sebelumnya masih bagus pun, dengan ringan dia menjawab :
"Ohh. Mobil yang kemaren kan second. Dibeliin second karena aku baru belajar. Jadi ya emang buat ditabrak-tabrakin aja."
Sekitar 2 tahun kemudian, mobilnya baru lagi. Masih dengan jenis yang sama, hanya beda warna.
V : Lah rin, ngapain ganti mobil kalau jenisnya ya ini juga?
A : Abis bingung mau beli apa lagi. Udah enak pake jenis ini.
V : Yang kemaren emang kenapa? Rusak? Kan baru 2 tahun?
A : Nggak sih. Ya pengen ganti aja. Tapi beda kan warnanya? Hehehe
Sedangkan aku tumbuh di keluarga yang 'kamu minta apa, Ayah pertimbangkan dulu kamu perlu apa ngga. Kalau kamu ngga perlu, tapi tetap mau, kerja dulu baru beli pakai uang kamu'.
Tapi berkat Ayah, aku pun merasa memiliki tanggung jawab untuk cepat-cepat menyelesaikan kuliah. Supaya tidak lagi menghabiskan duit orang tua. Supaya aku bisa membeli barang yang aku inginkan tanpa harus minta belikan Ayah.
Saat menuju akhir masa kuliah pun, banyak teman-temanku yang ogah-ogahan mengerjakan skripsi, karena pada waktu itu dosen jurusan kami memang sedang mencoba merubah sistem skripsi. Akibatnya, dari sekitar 100 orang mahasiswa, hanya 20 orang yang lulus berbarengan denganku. Padahal waktu itu kami sudah hampir memasuki perkuliahan tahun ke 4.
Alasan mereka, "malas ah, dipersulit. Ntaran aja."
Aku sendiri pun merasa, bahwa aku pun berapa kali hampir patah semangat untuk mengerjakan tugas akhir tersebut. Tapi suatu hari, tiba-tiba saja terlintas bagiku untuk menghitung perkiraan uang pendidikan yang sudah dikeluarkan Ayah dan juga Bang Bani untukku. Setelah sadar akan berapa besarnya uang yang sudah mereka keluarkan untukku, aku tercenung. Mereka telah susah payah memenuhi hakku untuk mendapatkan pendidikan, mungkin sudah saatnya untukku melakukan kewajibanku dan mempertanggungjawabkannya kepada mereka.
Dengan pemikiran itu pun, akhirnya aku mampu menyelesaikan skripsi ku dalam kurun waktu 6 bulan. Aku juga berhasil mempertahankan karya tulisku dengan nilai A, dan berhasil mendapatkan gelar sarjanaku dengan predikat pujian.
Selepas acara yudisium sarjanaku, aku pun berniat mendatangi Ayah dan Nyonya yang memang saat itu berhadir. Aku menemukan mereka sedang berjalan beriringan di lobi, mungkin baru kembali dari toilet. Aku pun memanggil Ayah dan mempercepat langkahku, dan langsung menyalami tangan Ayah sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada beliau.
A : Vanilla tau ngga? Saat nama kamu tadi dipanggil, dan disebutkan bahwa kamu lulus dengan predikat pujian, Ayah nangis.
Ada rasa hangat yang tiba-tiba muncul di dalam hatiku. Rasa hangat karena aku senang. Aku senang aku mampu membuat Ayah menangis karena bangga, bukan karena hal lain, seperti mungkin menyakiti hati nya?
V : Masa yah? Nangis kenapa? Karena Vanilla ngga bisa jadi lulusan terbaik ya? hehe
A : Ya ngga lah. Ngga usah kamu jadi lulusan terbaik, kamu cumlaude aja Ayah terharu dan bangga luar biasa sama kamu. Kalau kamu jadi lulusan terbaik, mungkin Ayah pingsan saking kagetnya.
V : Ah lebay ah Ayah. Ya Vanilla sengaja si ngga jadi lulusan terbaik, biar Ayah ngga pingsan. Jadi Vanilla kuliah secukupnya aja itu. Ahahah
A : Ck. Iya iya. Percayaaa
Sekitar 28 hari setelah aku wisuda, aku pun diterima bekerja sebagai seorang karyawan di salah satu perusahaan. Hal ini seolah semakin menyirami kebahagiaan Ayah yang sebenarnya masih belum usai pasca aku wisuda.
Sekarang, umur Ayah sudah hampir 64 tahun. Beda umur Ayah denganku, pas 40 tahun.
Kondisi beliau saat ini, sehat. Hanya penyakit maag, dan kadang vertigo yang muncul mengganggu beliau bila sedang kelelahan.
Meskipun sudah lama pensiun, Ayah terbiasa menggerakkan tubuhnya. Segala hal yang bisa beliau kerjakan, beliau kerjakan sendiri. Mengganti pipa yang bocor, menambal atap rumah, mengganti plafon, mencabut rumput, membakar sampah, menyapu halaman, mencuci baju, membuat kandang kucing, membuat pagar, bahkan sampai memasak dan mencuci piring, bergantian beliau kerjakan setiap hari.
Bobot tubuh beliau memang sangat jauh berkurang. Awalnya aku tidak menyadari ini. Namun suatu hari ketika aku melihat beliau menggunakan jas yang dulu ukurannya pas, tapi sekarang potongan bahunya jatuh sangat jauh di badan beliau. Barulah aku sadar, kalau Ayahku, memang semakin kurus.
Rambut beliau yang sering dipuji oleh orang-orang karena tidak beruban, sekarang sudah mulai dihiasi uban sedikit demi sedikit.
Kulit dan otot beliau yang dulu kencang, sekarang sudah mulai mengendur.
Kerut di wajah beliau pun sudah semakin bertambah.
Sekarang aku sudah diperbolehkan keluar, atau jalan-jalan meskipun malam hari. Karena aku memang bekerja dari hari senin hingga sabtu. Menjadikan malam satu-satunya opsi untukku sekedar cari angin, atau berkumpul dengan teman-teman.
Tapi beliau tidak pernah mengijinkan aku keluar malam menggunakan sepeda motor seperti aku biasa berangkat ke kantor.
Beliau selalu menyuruh aku menggunakan mobil. Bahkan suatu ketika, beliau rela ke luar kota menggunakan sepeda motor, karena beliau kekeuh menyuruh aku saja yang memakai mobil untuk pergi ke ulang tahun temanku.
Sekarang, beliau sudah mampu mengatur emosi beliau. Beliau sudah sangat jarang sekali marah. Hari-hari beliau juga hanya diisi dengan ibadah, selain dengan pekerjaan rumah.
Setiap pagi, beliau lebih dulu bangun dan mengajak ke empat ekor kucingku mengobrol sambil membuat sarapan.
Setiap awal bulan beliau pergi mengantri nomor untuk mengambil uang pensiun.
Setiap tiga bulan sekali, beliau pergi ke acara pertemuan alumni. Mendata teman yang sudah berpulang kata beliau.
Beliau sekarang memiliki 2 orang cucu. Satu laki-laki,dan satu perempuan. Ayah sangat menyayangi kedua cucu beliau. Pokoknya duo cilik itu minta apa saja pasti dibelikan.
3 orang anak beliau sudah berkeluarga, meninggalkan aku, Vanilla, satu-satunya anak beliau yang masih belum menikah, dan masih tinggal bersama Ayah.
Dan untuk sekarang, entah kenapa aku takut membayangkan bagaimana perasaanku kalau suatu hari nanti aku harus menikah, dan meninggalkan rumah ini dan Ayah.
Terlepas dari betapa kerasnya kepribadian Ayah dulu, aku bersyukur telah dilahirkan sebagai anak beliau.
Berkat beliau, aku tumbuh menjadi anak yang mandiri, dan merasa memiliki tanggung jawab.
Di saat teman-teman terdekatku sendiri masih mengharapkan uang dari orang tuanya, padahal mereka sudah memiliki penghasilan. Aku berhasil menahan diriku untuk berhenti meminta uang pada Ayah.
Bahkan aku pernah hanya membawa uang beberapa ribu rupiah, saat gajihku sedikit terlambat dibayarkan.
Aku pun tidak pernah merasa berat, dan berpikir dua kali untuk turut ambil bagian dalam biaya-biaya yang dikeluarkan oleh Ayah. Karena bagiku, bahkan jika aku kelak sangat kaya pun, dan seluruh kekayaan ku kuberikan pada Ayah, maka seluruh harta itu tidak akan pernah cukup untuk mengganti semua hal yang pernah beliau berikan untukku.
Sampai saat ini aku masih heran dengan teman-teman dekatku, yang masih meminta uang kepada orang tuanya. Padahal mereka sudah bekerja, dan berpenghasilan. Dan bahkan, bisa dibilang penghasilan mereka jauh lebih besar daripada aku.
V : Rin, kita kemana ini? Jangan mamam mahal ya. Cekak ini belum gajihan.
A : Lah ngga minta duit sama Ayah mu? Aku juga belum gajihan ini. Cekak. Mau minta sama mamah buat mamam siang.
V : Ealah rin, udah kerja masih aja minta sama orang tua. Duitmu abis kemana sih. Wong gajihmu itu lebih banyak dari aku ko' ya udah cekak?
A : Ya abis gimana dong. Orang tua ya mana tega ya kan anaknya ngga ada duit? Duitku abis kemarin ta' pake belanja online. Hahaha
Ringan sekali kalimat itu keluar dari mulut temanku, si Airin(bukan nama sebenarnya). Ada juga temanku yang lain, Nana(bukan nama sebenarnya). Dia juga sudah bekerja, tapi sampai saat ini yang dia bawa dan pakai ya masih saldo di debit card orang tuanya. Waktu di tanya uang nya dipakai kemana, jawabannya 'khilaf kemaren beli parfum'.
Ko bisa? Sekolah kami sama-sama TK sampai SMA. Pendidikan kami sama-sama sarjana. Sudah sama-sama bekerja juga. Tapi pola pikir kami sangat berbeda?
Ternyata satu hal yang membuat kami berbeda adalah, lingkungan keluarga. Airin, dan juga Nana, memang dibesarkan di keluarga yang berada. Tipe keluarga yang 'kamu minta apa, Papah-Mamah pasti kasih aja'.
Aku masih ingat, Nana pernah membeli sepatu seharga 2 juta untuk adiknya. Dan satu set parfum seharga hampir 3 juta untuk dirinya sendiri. Dia membayarnya menggunakan debit card Mamah nya.
Pun Airin, yang bercerita bahwa Papahnya membeli dua iph*ne 5s sekaligus(saat itu baru rilis dan harganya masih 12juta) untuknya dan untuk mbak nya, supaya tidak ada kecemburuan. Juga saat aku bertanya kenapa dia mengganti mobil padahal mobil sebelumnya masih bagus pun, dengan ringan dia menjawab :
"Ohh. Mobil yang kemaren kan second. Dibeliin second karena aku baru belajar. Jadi ya emang buat ditabrak-tabrakin aja."
Sekitar 2 tahun kemudian, mobilnya baru lagi. Masih dengan jenis yang sama, hanya beda warna.
V : Lah rin, ngapain ganti mobil kalau jenisnya ya ini juga?
A : Abis bingung mau beli apa lagi. Udah enak pake jenis ini.
V : Yang kemaren emang kenapa? Rusak? Kan baru 2 tahun?
A : Nggak sih. Ya pengen ganti aja. Tapi beda kan warnanya? Hehehe
Sedangkan aku tumbuh di keluarga yang 'kamu minta apa, Ayah pertimbangkan dulu kamu perlu apa ngga. Kalau kamu ngga perlu, tapi tetap mau, kerja dulu baru beli pakai uang kamu'.
Tapi berkat Ayah, aku pun merasa memiliki tanggung jawab untuk cepat-cepat menyelesaikan kuliah. Supaya tidak lagi menghabiskan duit orang tua. Supaya aku bisa membeli barang yang aku inginkan tanpa harus minta belikan Ayah.
Saat menuju akhir masa kuliah pun, banyak teman-temanku yang ogah-ogahan mengerjakan skripsi, karena pada waktu itu dosen jurusan kami memang sedang mencoba merubah sistem skripsi. Akibatnya, dari sekitar 100 orang mahasiswa, hanya 20 orang yang lulus berbarengan denganku. Padahal waktu itu kami sudah hampir memasuki perkuliahan tahun ke 4.
Alasan mereka, "malas ah, dipersulit. Ntaran aja."
Aku sendiri pun merasa, bahwa aku pun berapa kali hampir patah semangat untuk mengerjakan tugas akhir tersebut. Tapi suatu hari, tiba-tiba saja terlintas bagiku untuk menghitung perkiraan uang pendidikan yang sudah dikeluarkan Ayah dan juga Bang Bani untukku. Setelah sadar akan berapa besarnya uang yang sudah mereka keluarkan untukku, aku tercenung. Mereka telah susah payah memenuhi hakku untuk mendapatkan pendidikan, mungkin sudah saatnya untukku melakukan kewajibanku dan mempertanggungjawabkannya kepada mereka.
Dengan pemikiran itu pun, akhirnya aku mampu menyelesaikan skripsi ku dalam kurun waktu 6 bulan. Aku juga berhasil mempertahankan karya tulisku dengan nilai A, dan berhasil mendapatkan gelar sarjanaku dengan predikat pujian.
Selepas acara yudisium sarjanaku, aku pun berniat mendatangi Ayah dan Nyonya yang memang saat itu berhadir. Aku menemukan mereka sedang berjalan beriringan di lobi, mungkin baru kembali dari toilet. Aku pun memanggil Ayah dan mempercepat langkahku, dan langsung menyalami tangan Ayah sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada beliau.
A : Vanilla tau ngga? Saat nama kamu tadi dipanggil, dan disebutkan bahwa kamu lulus dengan predikat pujian, Ayah nangis.
Ada rasa hangat yang tiba-tiba muncul di dalam hatiku. Rasa hangat karena aku senang. Aku senang aku mampu membuat Ayah menangis karena bangga, bukan karena hal lain, seperti mungkin menyakiti hati nya?
V : Masa yah? Nangis kenapa? Karena Vanilla ngga bisa jadi lulusan terbaik ya? hehe
A : Ya ngga lah. Ngga usah kamu jadi lulusan terbaik, kamu cumlaude aja Ayah terharu dan bangga luar biasa sama kamu. Kalau kamu jadi lulusan terbaik, mungkin Ayah pingsan saking kagetnya.
V : Ah lebay ah Ayah. Ya Vanilla sengaja si ngga jadi lulusan terbaik, biar Ayah ngga pingsan. Jadi Vanilla kuliah secukupnya aja itu. Ahahah
A : Ck. Iya iya. Percayaaa
Sekitar 28 hari setelah aku wisuda, aku pun diterima bekerja sebagai seorang karyawan di salah satu perusahaan. Hal ini seolah semakin menyirami kebahagiaan Ayah yang sebenarnya masih belum usai pasca aku wisuda.
Sekarang, umur Ayah sudah hampir 64 tahun. Beda umur Ayah denganku, pas 40 tahun.
Kondisi beliau saat ini, sehat. Hanya penyakit maag, dan kadang vertigo yang muncul mengganggu beliau bila sedang kelelahan.
Meskipun sudah lama pensiun, Ayah terbiasa menggerakkan tubuhnya. Segala hal yang bisa beliau kerjakan, beliau kerjakan sendiri. Mengganti pipa yang bocor, menambal atap rumah, mengganti plafon, mencabut rumput, membakar sampah, menyapu halaman, mencuci baju, membuat kandang kucing, membuat pagar, bahkan sampai memasak dan mencuci piring, bergantian beliau kerjakan setiap hari.
Bobot tubuh beliau memang sangat jauh berkurang. Awalnya aku tidak menyadari ini. Namun suatu hari ketika aku melihat beliau menggunakan jas yang dulu ukurannya pas, tapi sekarang potongan bahunya jatuh sangat jauh di badan beliau. Barulah aku sadar, kalau Ayahku, memang semakin kurus.
Rambut beliau yang sering dipuji oleh orang-orang karena tidak beruban, sekarang sudah mulai dihiasi uban sedikit demi sedikit.
Kulit dan otot beliau yang dulu kencang, sekarang sudah mulai mengendur.
Kerut di wajah beliau pun sudah semakin bertambah.
Sekarang aku sudah diperbolehkan keluar, atau jalan-jalan meskipun malam hari. Karena aku memang bekerja dari hari senin hingga sabtu. Menjadikan malam satu-satunya opsi untukku sekedar cari angin, atau berkumpul dengan teman-teman.
Tapi beliau tidak pernah mengijinkan aku keluar malam menggunakan sepeda motor seperti aku biasa berangkat ke kantor.
Beliau selalu menyuruh aku menggunakan mobil. Bahkan suatu ketika, beliau rela ke luar kota menggunakan sepeda motor, karena beliau kekeuh menyuruh aku saja yang memakai mobil untuk pergi ke ulang tahun temanku.
Sekarang, beliau sudah mampu mengatur emosi beliau. Beliau sudah sangat jarang sekali marah. Hari-hari beliau juga hanya diisi dengan ibadah, selain dengan pekerjaan rumah.
Setiap pagi, beliau lebih dulu bangun dan mengajak ke empat ekor kucingku mengobrol sambil membuat sarapan.
Setiap awal bulan beliau pergi mengantri nomor untuk mengambil uang pensiun.
Setiap tiga bulan sekali, beliau pergi ke acara pertemuan alumni. Mendata teman yang sudah berpulang kata beliau.
Beliau sekarang memiliki 2 orang cucu. Satu laki-laki,dan satu perempuan. Ayah sangat menyayangi kedua cucu beliau. Pokoknya duo cilik itu minta apa saja pasti dibelikan.
3 orang anak beliau sudah berkeluarga, meninggalkan aku, Vanilla, satu-satunya anak beliau yang masih belum menikah, dan masih tinggal bersama Ayah.
Dan untuk sekarang, entah kenapa aku takut membayangkan bagaimana perasaanku kalau suatu hari nanti aku harus menikah, dan meninggalkan rumah ini dan Ayah.
Spoiler for info:
Diubah oleh beanilla93 27-09-2017 09:15
0

)