- Beranda
- Sejarah & Xenology
Kekaisaran Mongol Sang Penguasa Dunia
...
TS
rnkx1002
Kekaisaran Mongol Sang Penguasa Dunia
Quote:

Kekaisaran Mongolia adalah kekaisaran kedua terbesar dalam sejarah dunia, hanya dikalahkan oleh Imperium Britania, menguasai sekitar 33 juta km² pada puncak kejayaannya, dengan perkiraan penduduk sebanyak di atas 100 juta orang dan menjadi yang paling kuat di antara semua kekaisaran abad pertengahan.
[/center]
Quote:
Sekilas Mengenai Bangsa Mongol
Spoiler for Wilayah:

Ibu kota:Avarga Karakorum Dadu(kini Beijing)
Agama: Tengriisme (Shamanisme), kemudian Buddha, Kristen dan Islam
Bentuk Pemerintahan: Monarki demokratis
Khan Agung:
1206-1227 Jenghis Khan
1229-1241 Ögedei Khan
1246-1248 Güyük Khan
1251-1259 Möngke Khan
1260-1294 Kublai Khan
1333–1370 Toghan Temur
Badan legislatif: Kurultai
Mata uang: Koin (misalnya dirham), Sukhe, uang kertas yang dijamin dengan sutra atau batangan perak, serta matauang Dinasti Yuan (Chao).
Sekarang bagian dari:
1) Afganistan
2) Armenia
3) Azerbaijan
4) Belarusia
5) China
6) Georgia
7) India
8) Iran
9) Iraq
10) Kazakhstan
11) Kirgizstan
12) Korea Selatan
13) Korea Utara
14) Mongolia
15) Pakistan
16) Polandia
17) Rumania
18) Rusia
19) Suriah
20) Tajikistan
21) Turki
22) Turkmenistan
23) Ukraina
24) Uzbekistan
Quote:
Quote:
Awal Mula
Spoiler for Jenghis Khan:
Kekaisaran Mongolia didirikan oleh Jenghis Khan pada tahun 1206sesudah mempersatukan Suku-suku Mongolia yang saat itu sering berselisih di antara sesama dan memulai banyak penaklukan di seluruh benua Eurasia yang dimulai dengan penaklukan Dinasti Xia Barat di Cina Utara dan Kerajaan Khawarezmia di Persia. Pada puncaknya, Kekaisaran Mongolia menguasai sebagian besar wilayah Asia Tenggara ke Eropa tengah. Selama keberadaannya, Mongolia melakukan pertukaran budaya antara Timur, Barat dan Timur Tengah sekitar abad ke-13 dan 14.
Kekaisaran Mongolia dipimpin oleh Khagan (Khan Agung keturunan Jenghis Khan) secara turun-temurun. Sesudah kematian Jenghis Khan, Kekaisaran Mongolia pada dasarnya terbagi menjadi empat bagian yaitu; DinastiYuan (Cina), Ilkhanate (Persia), Chagatai Khanate (Asia Tengah), dan Golden Horde (Rusia). Semua wilayah pembagian itu dipimpin oleh keturunan Jenghis Khan.
Menurut ahli sejarah barat R.J. Rummel, diperkirakan sekitar 30 juta orang terbunuh dibawah pemerintahan Kekaisaran Mongolia dan sekitar setengah jumlah populasi Tiongkok habis dalam 50 tahun pemerintahan Mongolia.
Quote:
Khan Agung Mongol
Para Khan Agung di Karakorum dan setelah masa Mongke, di Peking atau Khanbaliq (berarti "Kota Para Khan"), hidup dengan kekayaan meterial dan barang jarahan yang didapat dari daerah-daerah taklukan Mongol. Hal tersebut dapat ditemui dalam laporan perjalanan dari para musafir dan tamu dari Eropa Barat dan Timur Dekat. Lambat-laun, para Khan Agung Mongol menjadi dinasti Tiongkok dan hanya memiliki kekuasaan nominal saja terhadap khan-khan Mongol di Asia Tengah dan Asia Barat.
Berikut ini adalah tahun kenaikan tahta para Khan Agung (Kha Khan) Mongol atau Dinasti Yuan di Tiongkok, 1206-1634 M, berdasarkan penelitian dari C.E. Bosworth:
Spoiler for Gambar:

1206: Jenghis Khan, pendiri Kekaisaran Mongolia
1227: Ogadai Khan (Ogedei Khan), anak Jenghis Khan
1241: Toregene, istri Ogadai Khan (bukan marga Borjigid) dan wali atas Guyuk Khan
1246: Guyuk Khan; anak Ogadai Khan dan Toregene
1251: Möngke Khan, anak Tolui (saudara Ogadai Khan)
1260: Kubilai Khan, saudara Mongke Khan
1294: Temur Oljeytu (Uljaytu), cucu Khubilai Khan
1307: Qayshan Guluk, keponakan Temur Oljeytu
1311: Ayurparibhadra Buyantu, adik Qayshan Guluk
1320: Suddhipala Gege'en (Gegen), anak Ayurparibhadra Buyantu
1323: Yesun Temur, sepupu Qayshan Guluk dan Ayurparibhadra Buyantu
1328: Arigaba, anak Yesun Temur
1328: Jijaghatu Toq-Temur, anak Qayshan Guluk
1329: Qushila Qutuqtu, anak Qayshan Guluk dan kakak Jijaghatu Toq-Temur
1332: Rinchendpal (Irinjipal), anak Qushila Qutuqtu
1332-1370: Toghan Temur; anak Qushila Qutuqtu (saudara tiri Rinchendpal) dan kaisar Dinasti Yuan terakhir
Setelah Toghan Temur disingkirkan oleh kaisar Ming, maka pengaruh mereka di wilayah non-Tiongkok menjadi pupus sama sekali.
Quote:
Khan-Khan Asia Tengah & Asia Barat
Spoiler for 1200 M:

Spoiler for 1300-1400 M:

Sementara itu, para pemimpin wilayah atau kerajaan bawahan Khan-Khan Agung Mongol memerintah dengan cukup bebas, beberapa yang terkenal antara lain adalah:
1227-1241: Chagatai Khan; anak Jenghis Khan, yurt atau wilayah kekuasaannya meliputi Transoxania sampai Turkestan Timur, termasuk pula Gunung T'ien Shan
1226-1280: Orda Khan; anak Jochi, putra sulung Jenghis Khan dan pendiri White Horde Khanate
1227-1255: Batu Khan; saudara Orda Khan dan pendiri Blue Horde Khanate
1256-1265: Hulagu Khan; saudara Möngke Khan dan Kubilai Khan, serta penguasa Il-Khanate (Il-Khan berarti warga atau bawahan Khan Agung)
Kadan Khan; salah seorang anak daripada Ogadai Khan
Oghui, bukan bermarga khan
Quote:
Wilayah kekuasaan Mongolia
1)Seluruh Tiongkok (dinasti Xia Barat, Song, Jin, dan Liao) dan Nanchao (Kerajaan Dali)
2)Kerajaan Khawarezmi (bisa disebut juga wilayah Persia atau Iran-Irak-Azerbaijan sekarang ini)India bagian utaraBeberapa negara di Asia Tenggara (Vietnam, Kamboja, Thailand, Burma, dll)
3)Timur Tengah atau Asia Barat Daya (Irak, Sebagian Turki)
4)Sebagian wilayah Rusia
5)Asia Tengah (Afganistan, negara2 pecahan Soviet: Ukraina, Georgia, Belarusia, Moldavia, dll)
6)Mongolia
7)Beberapa negara di Eropa Timur atau Eropa Tengah (Bulgaria, Hungaria, dll)
8)Asia Timur (Korea)Yerusalem (Israel, Palestina)
Quote:
Wilayah yang diserang tetapi gagal
1)Jepang berhasil mengusir pasukan Mongolia tetapi akhirnya mengirimkan upeti sehingga Kaisar Mongol merasa puas, dan kemudian memusatkan perhatiannya ke Asia Tenggara
2)Jawa (Indonesia), gagal akibat disiasati dan diusir oleh Raden Wijaya, yang kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit
3)Negara-negara Eropa seperti Lithuania, Polandia, Austria, Moravia (Rep. Ceko timur), Dalmatia (Kroasia), Hungaria, dan pegunungan Carpathia. Pasukan Polandia, Hungaria dan Austria mengalami kekalahan besar tetapi wilayah mereka tidak jadi dikuasai karena pada saat itu Kaisar Mongolia (Ogadai Khan) meninggal sehingga pasukan Mongolia ditarik kembali ke Mongolia.
4)Mesir, dinasti Mameluk berhasil mengusir dan menghancurkan tentara Mongol pada masa pemerintahan Hulagu Khan bahkan mereka terus mendesak mongol hingga keluar dari Damaskus, Syria.
Catatan: Kekaisaran Mongolia juga pernah berencana menyerang negara Eropa Barat, seperti Perancis, Romawi dan negara-negara Eropa lainnya. Ahli-ahli sejarah menyatakan jika bukan karena kematian Ogadai Khan, maka kemungkinan seluruh Eropa akan dikuasai dan sejarah Eropa akan berubah.
Menurut penelitian Marcopolo, bangsa Mongol adalah keturunan Gog Magog.
Baca disini : https://m.kaskus.co.id/thread/590920...si-yajuj-majuj
Akan diupdate lagi nanti. Biar ga ketinggalan, di subscribe dulu aja trit enih.
Spoiler for Sumber:
1. Wikipedia
2.
3.
.....
Diubah oleh rnkx1002 29-10-2017 15:49
VeY dan 4 lainnya memberi reputasi
5
60.6K
Kutip
217
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
6.5KThread•11.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rnkx1002
#2
Penyerangan Bangsa Mongol-Yuan Ke Tanah Jawa
Quote:
Sejarah Dinasti Yuan,kapal yang dikirim untuk mengangkut pasukan memiliki perbandingan 20.000 : 1.000. Ia diperintahkan untuk mengirim Shi Bi, Ike Mese dan Gao Xing memimpin sebuah angkatan perang untuk menaklukkan Jawa; mengumpulkan prajurit dari Propinsi-propinsi Fujian, Jiangxi dan Huguang hingga berjumlah 20.000, menunjuk Komandan Sayap Kanan dan Sayap Kiri serta empat Komandan Sepuluh Ribu; mengirimkan seribu kapal dan melengkapinya dengan perbekalan sebanyak satu tahun dan 40.000 batang perak.
Penulis: Irawan JK
Serbuan Mongol ke Jawa dicatat dalam tiga sumber. Pertama, kidung, yaitu Kidung Harsawijaya dan Kidung Ranggalawe, yang sering disebut sebagai versi Bali. Kedua, Sejarah Dinasti Yuan (1279-1368), yang meliputi Sejarah Dinasti Yuan, Buku 210; Catatan Shi Bi, Buku 162; Catatan Gao Xing, Buku 162; serta Catatan Ike Mese, Buku 131. Sejarah Dinasti Yuan ini sering disebut sebagai versi Cina. Dan ketiga, prasasti, yaitu Prasasti Gunung Butak, tahun 1294; Prasasti Kertarajasa, tahun 1296; serta Prasasti Kertarajasa, tahun 1305 . Sumber prasasti dapat disebut sebagai versi Jawa.
Penulis: Irawan JK
Serbuan Mongol ke Jawa dicatat dalam tiga sumber. Pertama, kidung, yaitu Kidung Harsawijaya dan Kidung Ranggalawe, yang sering disebut sebagai versi Bali. Kedua, Sejarah Dinasti Yuan (1279-1368), yang meliputi Sejarah Dinasti Yuan, Buku 210; Catatan Shi Bi, Buku 162; Catatan Gao Xing, Buku 162; serta Catatan Ike Mese, Buku 131. Sejarah Dinasti Yuan ini sering disebut sebagai versi Cina. Dan ketiga, prasasti, yaitu Prasasti Gunung Butak, tahun 1294; Prasasti Kertarajasa, tahun 1296; serta Prasasti Kertarajasa, tahun 1305 . Sumber prasasti dapat disebut sebagai versi Jawa.
Quote:
A.Sumber Kidung (Catatan Indonesia)
Ketiga versi tersebut memang berbeda, tapi sebenarnya memiliki persamaan. Menurut versi Bali, datangnya pasukan Mongol ke Jawa dimulai dari surat Wiraraja kepada Raja Tatar. Secara garis besarnya informasi versi Bali adalah sebagai berikut.
1.Garis Besar Informasi Kidung Harsawijaya

Wiraraja mengusulkan suatu rencana: ia akan meminta sahabatnya, Raja Tatar, untuk membantunya menyerang Kediri. Sebagai umpan, ditawarkan kepadanya anak Jayakatwang, Ratna Kesari. Harsawijaya setuju. Sambil menantikan kedatangan pasukan Madhura serta sekutu mereka dari Tatar, pernikahannya dengan Puspawati pun dirayakan. Raja Tatar tiba dan mendarat di Canggu. Ketika mendengar bahwa Raja Tatar mendarat di Canggu, Jayakatwang menganggap kewajibannya sebagai seorang ksatria adalah tidak menghindari pertempuran. Semua, termasuk Pusparasmi, memperlihatkan rasa marahnya karena sikap Harsawijaya yang tak kenal terima kasih dan mengkhianati pelindungnya. Pasukan dibagi dalam tiga kelompok. Mereka menuju Bobot Sari. Setelah ketiga kelompok tentara menempati posisinya masing-masing, tentara Kediri pun tampak.
Kelompok yang dipimpin Harsawijaya dapat mengalahkan pasukan Kediri dengan cepat. Mereka segera merampas harta istana dan membawanya ke Majapahit sebelum meninggalkan istana, mereka membakar istana sehingga menyebabkan kebakaran yang hebat. Pasukan Mongol kiranya tetap tertahan menghadapi pasukan Kediri. Mereka tidak dapat mengalahkan pasukan Kediri. Ketika mengetahui pasukan penjaga istana kalah dan istana telah ditaklukkan, Raja Jayakatwang bersama para mantri tua bertempur mencari mati. Raja Jayakatwang, yang duduk di atas seekor gajah, melakukan samadhi, dan tiba-tiba lenyap di angkasa. Kepergiannya disusul oleh para mantra, yang bertempur sampai mati.
Atas nasihat Wiraraja, Harsawijaya meminta para prajurit Tatar mengundurkan diri dulu ke perkemahannya, sementara ia mengurus perabuan para ksatria yang gugur. Harsawijaya memerintahkan beberapa pengawal untuk mengantar sang putri ke Majapahit, sedangkan ia sendiri menuju Bobot Sari.
Desas-desus mengenai putri (putri kata yg dipakai dlm kidung2 utk perlambang kekayaan negara) yang dibawa ke Majapahit itu didengar oleh Raja Tatar. Ia mengutus patihnya apa yang telah dijanjikan kepadanya. Wiraraja mengatakan bahwa sang putri telah merenggut nyawanya sendiri. Utusan Tatar kembali ke rajanya dengan berita tersebut, tapi kekecewaan Raja Tatar berubah menjadi kemarahan, ketika desas-desus tersebut ternyata benar. Ia bertekad merebut sang putri dengan kekerasan.
Dengan suara gaduh, pasukan-pasukan Tatar memasuki Majapahit sambil Cumiik agar sang putri diserahkan. Terjadilah pertempuran sengit, tapi para penyerbu dapat dikalahkan dan raja mereka pun ditewaskan. Di bawah pemerintahan Krtarajasa, kerajaan bertambah sejahtera. Lalu, Bali, Tatar, Tumasik, Sampi, Koci, Gurun, Wandan, Tanjungpura, Dompo, Palembang, dan Makasar mengakuinya sebagai atasan.
2.Garis Besar Informasi Kidung Ranggalawe

Gagasan untuk menyerang Daha dengan bantuan Raja Tatar baru muncul setelah Majapahit didirikan. Gagasan itu disampaikan oleh putra Wiraraja ketika ia bersama ibunya mengantar para putri yang ditinggal di Madura, supaya kelak berjumpa dengan Wijaya. Dalam pertempuran dengan pihak Daha, Raja Jayakatwang turut aktif dalam pertempuran. Sejumlah perwira Tatar dan Majapahit ditewaskan. Dalam pertempuran terakhir antara Raja Tatar dan Raja Jayakatwang, Raja Jayakatwang dikalahkan dan ditawan.
Setelah perang selesai, dua mantri Tatar diantar banyak prajurit bersenjata lengkap menuntut agar sang putri diserahkan kepada raja Tatar. Mereka diutus kembali oleh Sora dengan dalih, bahwa sang putri sejak dulu tidak tahan melihat senjata-senjata, apalagi sejak peristiwa di Singhasari.
Seyogianya ia diantar oleh suatu pasukan yang tak bersenjata, diiringi musik.
Raja Tatar setuju, dan mengutus rombongan lain, lalu kembali ke negerinya untuk mengadakan persiapan bagi pernikahannya. Para Tatar, setelah disambut dengan ramah di Majapahit, tiba-tiba disergap, ditawan, dan dibunuh. Kapal-kapal yang menunggu di lepas pantai dihancurkan. Secara singkat, disebut kematian Jayakatwang di penjara, tempat ia menulis Kidung Wukir Polaman, serta pulangnya pasukan-pasukan dari Melayu.
P.J. Zoetmulder menuliskan bahwa pengarang Kidung Ranggalawe tidak mengetahui siapa sebenarnya Ratna Sutawan. Kidung Ranggalawe, jika dilihat dari sudut sastra, terutama kaidah-kaidah Jawa Kuno, mengenai kalangön, lebih unggul dibanding Kidung Harsawijaya. Penilaian-penilaian tersebut menjelaskan bahwa Kidung Ranggalawe lebih literer dan kurang memiliki nilai kesejarahan ketimbang Kidung Harsawijaya.
Quote:
B. Sumber Sejarah Dinasti (Catatan Tiongkok)
Penyebutan kedatangan Raja Mongol dalam Kidung Harsawijaya maupun Kidung Ranggalawe atas undangan Wiraraja merupakan kisah yang menarik. Kisah ini sangat berbeda dengan catatan Sejarah Dinasti Yuan. Kedatangan bala pasukan Mongol ke Jawa karena Raja K?tanagara melukai muka Utusan Kaisar Meng Qi, dan pemimpin pasukan bukan Raja Mongol sendiri, melainkan 3 panglima perangnya, yaitu Shi Bi, Ike Mese, dan Gao Xing.
Catatan Sejarah Dinasti Yuan menceritakan secara panjang-lebar penyerangan tentara Mongol ke Jawa yang dipimpin oleh Shi Bi, Ike Mese, dan Gao Xing atas perintah Kaisar Mongol, Kubilai Khan. Untuk tidak mengurangi makna laporan, laporan itu disajikan secara utuh.
Pada bulan kedua 1292, Kaisar mengeluarkan perintah kepada Gubernur Fukian. Ia diperintahkan untuk mengirim Shi Bi, Ike Mese, dan Gao Xing memimpin sebuah angkatan perang untuk menaklukkan Jawa; mengumpulkan prajurit dari provinsi-provinsi Fujian, Jiangxi, dan Huguang hingga berjumlah 20.000, menunjuk Komandan Sayap Kanan dan Sayap Kiri serta empat Komandan Sepuluh Ribu; mengirimkan seribu kapal dan melengkapinya dengan perbekalan sebanyak satu tahun dan 40.000 batang perak. (Kenapa bawa sedemikian banyak batangan emas? Yang dipakai utk: 1. menyuap musuh yg membelog; 2. membeli bahan2 makanan dan perbekalan di pelabuhan2 yg dikuasai)
Selanjutnya Kaisar memberikan sepuluh lencana harimau, 40 lencana emas, dan seratus lencana perak serta seratus gulung sutra dengan sulaman benang emas yang digunakan sebagai penghargaan prestasi.
Ketika Ike Mese dan rekan-rekannya menghadap kaisar sebelum berangkat, Kaisar berkata: “Setibanya di Jawa, kalian harus memproklamasikan dengan jelas kepada tentara dan penduduk negara itu bahwa Pemerintah Kekaisaran sebelumnya telah melakukan kontak dengan Jawa melalui para utusan dari kedua belah pihak. Hubungan ini telah berjalan dengan harmonis. Baru-baru ini mereka telah melukai wajah Utusan Kaisar Meng Qi dan kalian datang untuk menghukum mereka akibat perbuatan itu.”
Pada bulan kesembilan, sejumlah prajurit telah dikumpulkan di Qinyuan (nama kuno Ningbo). Shi Bi dan Ike Mese melakukan perjalanan saat bersama para prajurit itu menuju Quanzhou, sementara Gao Xing membawa perbekalan dengan kapal laut. Pada bulan ke-11, seluruh prajurit dari Provinsi Fujian, Jiangxi, dan Huguang telah berkumpul di Quanzhou. Pada bulan ke-12, ekspedisi ini memulai pelayarannya. Pada bulan pertama 1293, mereka tiba di Pulau Gou-lan (Belitung) dan merencanakan penyerangan mereka dengan saksama.
Pada bulan kedua, Ike Mese dan salah seorang komandan bawahannya berangkat terlebih dahulu untuk membawa perintah Kaisar ke negara ini. Ike Mese didampingi oleh tiga pejabat dari Kantor Urusan Penghiburan, yang ditugasi untuk mengurus Jawa serta negara-negara lainnya. Selain mereka, masih ada seorang Komandan Sepuluh Ribu yang memimpin 500 orang dan 10 kapal. Pasukan utama selanjutnya berlayar ke Karimon (Karimun Jawa) dan dari sana menuju sebuah tempat di Jawa yang disebut Du-Bing-zu (Tuban). Di sana, Shi Bi dan Gao Xing kembali bertemu Ike Mese. Bersama para komandan lainnya, mereka memutuskan untuk membagi dua pasukan ini.
Pasukan pertama akan turun ke daratan, sedangkan pasukan kedua akan mengikutinya dengan menggunakan kapal. Shi Bi berlayar menuju Muara Sungai Sugalu (Sedayu), dan dari sana menuju sebuah sungai kecil bernama Ba-jie (Kali Mas). Pasukan darat yang dipimpin Gao Xing dan Ike Mese, yang terdiri atas kavaleri dan infanteri, melakukan perjalanan darat menuju Du-Bing-zu. Salah seorang Komandan Sepuluh Ribu memimpin pasukan pembuka jalan. Tiga perwira tinggi berlayar menggunakan kapal cepat dari Sugalu menuju jembatan terapung Majapahit dan selanjutnya bergabung dengan pasukan utama dalam perjalanan mereka menuju Sungai Ba-jie.
Para pejabat dari Kantor Perdamaian segera melaporkan bahwa menantu Raja Jawa yang bernama Tuhan Pijaya bermaksud menyatakan bahwa negaranya tunduk kepada Tiongkok. Karena Tuhan Pijaya tidak dapat meninggalkan tentaranya, ketiga pejabat ini diperintahkan untuk pergi dan menjemput Perdana Menteri Xi-la-nan-da-zha-ya dan 14 orang lainnya yang ingin datang dan menerima pasukan kaisar.
Pada hari pertama bulan ketiga, seluruh pasukan telah berkumpul di Sungai Ba-jie.
Di bagian hulu sungai ini, terdapat istana Raja Du-ma-ban (Tumapel) dan bermuara di Laut Pu-ben (laut di sebelah selatan Madura). Sungai ini merupakan jalan masuk menuju Jawa, dan di sinilah mereka memutuskan untuk bertempur. Karena itu, menteri pertama Jawa, Xi-ning-guan, tetap berada di atas perahu untuk melihat peluang mereka dalam pertempuran yang akan datang. Berulang kali dia dipanggil, tapi tidak mau menyerah.
Para komandan pasukan kekaisaran membuat sebuah perkemahan berbentuk bulan sabit di tepi sungai. Sebuah feri disediakan di bawah komando seorang Komandan Sepuluh Ribu. Armada kapal di sungai serta kavaleri dan infanteri di daratan kemudian bergerak maju bersama. Melihat hal ini, Xi-ning-guan meninggalkan perahunya dan melarikan diri dalam kegelapan malam. Lebih dari seratus kapal besar dengan kepala setan di haluannya dapat direbut. Pasukan yang cukup kuat diperintahkan untuk menjaga muara Sungai Ba-jie, sedangkan pasukan utama melanjutkan gerak majunya.
Sejumlah pembawa pesan dari Tuhan Pijaya (lafal Cina utk Tuan Wijaya-Bra Wijaya) mengatakan bahwa pasukan Raja Kalang (Raja Kediri-Daha-Gelang-Gelang, Jaya Katwang atau Haji/Aji/Raja Katong) telah mengejarnya hingga Majapahit dan meminta prajurit untuk melindunginya. Ike Mese dan salah seorang letnannya bergegas menemuinya agar dia tetap bersemangat. Seorang perwira lainnya mengikutinya dengan memimpin sejumlah prajurit menuju Zhang-gu untuk membantu Tuhan Pijaya. Gao Xing bergerak menuju Majapahit. Karena mendengar kabar bahwa posisi prajurit Kalang tidak dapat ditentukan, dia segera kembali ke Sungai Ba-jie. Setelah mendapat informasi dari Ike Mese bahwa pasukan musuh akan tiba malam itu, sekali lagi dia berangkat menuju Majapahit.
Pada tanggal 7, para prajurit Kalang (Jayakatwang Kediri-Daha-Gelang-Gelang) tiba dari tiga penjuru untuk menyerang Tuhan Pijaya. Lalu, pada hari kedelapan dini hari, Ike Mese memimpin sebagian prajuritnya untuk menyerang musuh di barat daya, tapi tidak dapat menemukan mereka. Gao Xing bertempur dengan musuh di tenggara dan membunuh beberapa ratus prajurit musuh, sementara sisannya melarikan diri ke pegunungan. Menjelang tengah hari, musuh juga datang dari barat daya. Gao Xing kembali menyerang musuh dan pada sore hari mereka dapat dikalahkan.
Pada tanggal 15, pasukan dibagi menjadi tiga bagian untuk menyerang Kalang. Kemudian disepakati bahwa pada tanggal 19 mereka akan bertemu di Da-ha (Daha) dan memulai penyerangan setelah mendengar suara pao. Pasukan pertama berlayar menyusuri sungai, pasukan kedua yang dipimpin Ike Mese berjalan di tepi sungai sebelah timur, sedangkan pasukan ketiga yang dipimpin Gao Xing berjalan di tepi sungai sebelah barat. Tuhan Pijaya dan pasukannya berjalan di belakang.
Pada tanggal 19, mereka tiba di Daha. Di sana, Pangeran Kalang (Pangeran Kediri kemungkinan putra Jayakatwang) mempertahankan diri dengan dukungan lebih dari 100.000 prajurit. Pertempuran berlangsung sejak pukul 06.00 hingga 14.00. Setelah tiga kali serangan, akhirnya musuh dapat dikalahkan dan melarikan diri. Beberapa ribu di antaranya berusaha menyeberangi sungai dan tenggelam, sementara 5.000 prajurit musuh terbunuh. Raja melarikan diri ke dalam kota dan segera dikepung pasukan kami. Lalu raja diminta menyerah. Pada sore hari, sang raja yang bernama Haji Katang keluar dari benteng dan menyatakan takluk. Mendengar hal itu, perintah dari Kaisar segera diberikan kepadanya dan dia diminta kembali ke dalam.
Pada tanggal 2 bulan ke-4, Tuhan Pijaya kembali ke kotanya untuk mempersiapkan upeti. Dua perwira dan 200 prajurit mengawalnya. Pada tanggal 19, secara diam-diam Tuhan Pijaya meninggalkan prajurit kita dan menyerang mereka. Atas kejadian ini, seluruh rombongan merasa sedih.
Pada tanggal 24, pasukan kembali ke Tiongkok. Mereka membawa anak-anak dan sejumlah perwira Haji Katang. Jumlah mereka lebih dari 100 orang. Mereka juga membawa peta negara itu, catatan populasi, dan sebuah surat dengan huruf emas yang dituliskan oleh sang raja.
Secara garis besarnya, laporan itu mengisahkan sebagai berikut.
Laporan itu berbeda dengan catatan para komandan pasukan Mongol. Berikut ini persamaan dan perbedaan antara laporan Dinasti Yuan dan catatan para komandan pasukannya.
Melalui keterangan tersebut, ternyata terdapat perbedaan yang sangat besar antara Sejarah Dinasti Yuan dan Catatan Para Komandan Pasukan Mongol. W.P. Groeneveldt mengingatkan, versi Cina tentang penyerbuan Mongol memang banyak kesalahan dan ketidaktepatan informasi, tapi tidak pernah mencantumkan fiksi. Catatan Bali (Kidung), yang telah diturunkan dari generasi ke generasi, secara bertahap kehilangan akurasinya dan tercantum dengan hal-hal yang fantastis dan menakjubkan. Pendapat W.P. Groeneveldt tersebut kiranya kurang tepat dan hanya melihat dari satu sisi semata. Sebenarnya informasi versi Cina dan versi Bali bila diperbandingkan saling melengkapi.
Secara umum, perbedaan antara Sejarah Dinasti Yuan dan Catatan Para Komandan Pasukan Mongol terletak pada perbedaan jumlah pasukan yang dikirim, kondisi Haji Katong, serta barang rampasan perang yang dibawa. Perbedaan mengenai jumlah pasukan yang dikirim sebenarnya dapat dijembatani bila saling menyadari bahwa Shi Bi dan Gao Xing hanyalah perwira menengah, bukan komandan seluruh pasukan. Komandan pasukan yang memimpin 5.000 dan 1.000, dari 20.000 orang yang dikirim, menunjukkan kecilnya derajat kepemimpinan komando yang dimiliki. Jumlah prajurit yang sedikit, yaitu 5.000 dan 1.000, tentu tidak akan mampu menghadapi pasukan dengan kemampuan sama sebanyak 20 kalinya. Dengan demikian, ada komandan lain di atas Shi Bi dan Gao Xing, yang tidak diceritakan, yang dapat mengakomodasi seluruh pasukan.
Tidak diceritakannya komandan utama pasukan kemungkinan besar untuk tujuan kebaikan moral pasukan Mongol. Taktik menyembunyikan kematian komandan pasukan agar tidak menurunkan moral pasukan dilakukan pula pada saat kematian Jenghis Khan, Raja Mongol pertama. Taktik ini kiranya diulang pada masa penyerangan pasukan Mongol ke Jawa. Namun siapa sebenarnya komandan pasukan yang mampu mengakomodasi seluruh pasukan Mongol tersebut?
Informasi versi Bali dapat melengkapi kekurangan data tersebut. Komandan pasukan yang mampu mengakomodasi seluruh pasukan adalah raja Mongol sendiri yaitu, Kubilai Khan. Ini dapat dipahami karena Kubilai Khan sebagai raja besar pada masanya tidak bisa menerima penghinaan dari Raja K?tanagara. Dalam catatan versi Cina juga, Kubilai Khan selalu menegaskan bahwa penyerangan dilakukan karena penghinaan atas utusan khususnya, Meng Qi. Karena Kubilai Khan sendiri yang berangkat berperang, jumlah pasukan yang dikirim tentu lebih besar dari saat Mongol menyerang Jepang. Total pasukan lebih banyak dari hanya 20.000 pasukan. Total pasukan yang dikirim kiranya juga disembunyikan agar tidak memberi semangat baru kepada musuh. Total pasukan diperkirakan sebanyak 2 atau 3 kali pasukan Kediri. Berarti sekitar 200.000 sampai 300.000 pasukan. Hal ini karena, pada Prasasti K?tarajasa, Raja Mongol disebut sebagai raja yang memiliki tentara besar saat datang di Jawa.
Demikian pula informasi takluknya Haji Katong, Raja Jawa. Takluknya Haji Katong dikisahkan menyerah dengan posisi pasukan masih ada. Takluknya Haji Katong ini tentu ada penyebabnya. Di sini versi Cina tidak menyebut alasan takluknya Haji Katong tersebut. Menurut versi Bali, takluknya Haji Katong karena melihat istana telah dibakar oleh Wijaya, dan harta rampasan telah dibawa ke Majapahit. Alasan itulah yang membuat sirna semangat Haji Katong untuk berperang.
Mengenai harta rampasan perang dari Jawa versi Cina, hanya Shi Bi yang mencatat pasukan Mongol memperoleh harta rampasan perang dari Jawa dengan jumlah yang sangat besar. Sedangkan catatan versi Cina lainnya mengatakan sebaliknya.
Pernyataan selain Shi Bi ini dapat dimaklumi karena mereka melihat telah dikalahkan dan tidak mendapat harta rampasan yang diberikan oleh Tuhan Pijaya. Dalam catatan versi Bali, harta rampasan yang diperoleh pasukan Mongol memperkuat keterangan mayoritas informasi versi Cina. Harta rampasan Kerajaan Kediri yang dibawa ke Majapahit saat Raja Jayakatwang masih berperang dengan pasukan Mongol tidak diserahkan sedikit pun kepada pasukan Mongol. Harta yang tidak diserahkan kepada pasukan Mongol tersebut diperlambangkan dengan Ratna Kesari oleh pujangga Kidung Harsawijaya, atau Ratna Sutawan oleh pujangga Kidung Harsawijaya.
Tidak diberikannya harta rampasan itu, menurut versi Bali, menyebabkan kemarahan luar biasa bagi pemimpin pasukan, yaitu Raja Mongol. Kemarahan itu dapat dipahami karena biaya pengiriman pasukan sangat besar, tapi hasil sama sekali tidak ada. Raja Mongol diceritakan mengerahkan pasukannya untuk menyerang Majapahit. Dalam penyerangan itu, Raja Mongol tewas. Sementara itu, Catatan Shi Bi menceritakan, dari 5.000 pasukannya, 3.000 pasukan meninggal. Catatan Shi Bi ini menunjukkan begitu sengitnya perang yang dilakukan di Jawa. Bila dimisalkan pasukan yang meninggal di salah satu pasukan (Shi Bi) mencapai 60 persen total kematian dari seluruh pasukan adalah 180.000, termasuk Raja Kubilai Khan. Hal ini karena pasukan yang datang ke Jawa diperkirakan berjumlah 300.000 orang.
Nanti ane rapihin

Diubah oleh rnkx1002 29-09-2017 10:10
yoseful memberi reputasi
1
Kutip
Balas