- Beranda
- Stories from the Heart
Vanilla
...
TS
beanilla93
Vanilla
Hai agan-sis semua.
Setelah sering jadi silent reader, kayanya asik juga kalau saya mencoba share cerita juga.
Cerita ini 'based on true story'. Tapi ya mungkin dengan sedikit modifikasi. hehehe
Tapi kalo cerita ini bukan selera agan-sis, atau agan-sis merasa ceritanya aneh,
And you feel like you can't stand to read it anymore silahkan cari cerita lain.
Nggak usah sumpah serapah ya.
Karna buat saya mereka yg sumpah serapah itu, pikirannya sempit, kosa katanya terbatas.
Bingung mau komentar apa, ujungnya malah ngata-ngatain
Comment, critics and question allowed ya
Indeks :
Part 1. Prolog
Part 2. Selected memories
Part 3. MY hero
Part 4. His journey
Part 5. Restriction
Part 6. The results
Part 7. First year
Part 8. We're classmate!
Part 9. The class president
Part 10. Embarrassing youth - intermezzo
Part 11. Wrong thought?
Part 12. Boom!
Part 13. Aftereffects
Part 14. "Manner maketh man"
Part 15. Reunion
Part 16. Let it loose
Part 17. Those shoulders
Part 18. The sunrise
Part 19. Present
Part 20. Year 7th
Part 21. Tom and jerry
Part 22. Crown Prince
Part 23. Amnesia
Part 24. "Okay, let's do that"
Part 25. Jalan belakang(back street)
Part 26. The castle
Part 27. Story about a long night
Part 28. The storm
Part 29. War
Part 30. Gotcha!
Part 31. End
Part 32. Abege
Part 33. Story of nasi goreng
Part 34. The reason behind cold martabak
Part 35. He knew it(all the time!)
Part 36. The betrayal
Part 37. Revealing the truth
Setelah sering jadi silent reader, kayanya asik juga kalau saya mencoba share cerita juga.
Cerita ini 'based on true story'. Tapi ya mungkin dengan sedikit modifikasi. hehehe
Tapi kalo cerita ini bukan selera agan-sis, atau agan-sis merasa ceritanya aneh,
And you feel like you can't stand to read it anymore silahkan cari cerita lain.
Nggak usah sumpah serapah ya.
Karna buat saya mereka yg sumpah serapah itu, pikirannya sempit, kosa katanya terbatas.
Bingung mau komentar apa, ujungnya malah ngata-ngatain

Comment, critics and question allowed ya
Spoiler for Prolog:
Indeks :
Part 1. Prolog
Part 2. Selected memories
Part 3. MY hero
Part 4. His journey
Part 5. Restriction
Part 6. The results
Part 7. First year
Part 8. We're classmate!
Part 9. The class president
Part 10. Embarrassing youth - intermezzo
Part 11. Wrong thought?
Part 12. Boom!
Part 13. Aftereffects
Part 14. "Manner maketh man"
Part 15. Reunion
Part 16. Let it loose
Part 17. Those shoulders
Part 18. The sunrise
Part 19. Present
Part 20. Year 7th
Part 21. Tom and jerry
Part 22. Crown Prince
Part 23. Amnesia
Part 24. "Okay, let's do that"
Part 25. Jalan belakang(back street)
Part 26. The castle
Part 27. Story about a long night
Part 28. The storm
Part 29. War
Part 30. Gotcha!
Part 31. End
Part 32. Abege
Part 33. Story of nasi goreng
Part 34. The reason behind cold martabak
Part 35. He knew it(all the time!)
Part 36. The betrayal
Part 37. Revealing the truth
Diubah oleh beanilla93 16-03-2018 13:46
chamelemon dan anasabila memberi reputasi
2
20.5K
182
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beanilla93
#23
Part 4. Him (at that time) - 2
Ayah menempuh pendidikan tinggi di Akademi Pemerintahan dalam Negeri atau APDN (sekarang STPDN).
Selepas lulus kuliah, karirnya sebagai PNS benar-benar dimulai dari nol.
Karena saat itu APDN hanya selevel D3, bukan S1 seperti STPDN sekarang. Praktis golongannya pun masih rendah.
Beliau pertama kali bekerja sebagai staf desa M, desa kelahiran beliau.
Sebuah desa yang sangat terpencil, yang bahkan jalanan desanya saja hanya bisa dilewati sepeda motor.
Saat beliau berumur 25 tahun, beliau menikah dengan mendiang Ibu yang saat itu berumur 24 tahun.
Ibu pun diboyong Ayah untuk tinggal bersama di desa.
Sepanjang umurnya, Ibu hidup di kota B, ibukota provinsi.
Ibu terbiasa hidup ramai, karena rumah Kakek pun letaknya di pinggir jalan raya.
Perubahan lingkungan tempat tinggal yang cukup drastis sempat membuat ibu stres.
Kata Ayah, rumah tempat tinggal beliau dulu di masa baru menikah dengan ibu adalah sebuah bangunan kayu bekas kantor.
Bingkai jendela nya bukan dilapisi kaca, tetapi plastik yang lapuk. Yang kalau di colok menggunakan jari saja bisa berlubang. Belakang rumah adalah hutan basah, yang didominasi oleh pohon enau. Babi hutan sering lewat di situ pada malam hari.
Untuk sampai ke rumah, harus melewati sedikit jembatan kayu. Di sisi kanan dan kiri jembatan kayu itu adalah kuburan kru kapal tanpa identitas yang mati tenggelam.
Desa M memang terbagi dua, dan dipisahkan oleh sebuah sungai yang sangat besar.
Dan di sungai itu juga terdapat pusaran air, yang sering menyebabkan kecelakaan kapal. Buaya dengan ukuran besar pun masih mudah ditemui kala itu.
Letak kantor Ayah dan rumah yang mereka tinggali lumayan jauh. Ayah pun jadi sering terlambat pulang ke rumah.
Suatu saat, ketika Bang Redi sudah lahir, Ayah pernah pulang sangat terlambat.
Ketika berjalan menuju rumah, Ayah melihat Ibu sedang berdiri di samping dermaga, sedang menggendong Bang Redi yang saat itu masih bayi. Sebuah tas besar tergeletak di samping beliau.
Rupanya Ibu sewot karena Ayah terlambat pulang. Dan sudah berencana akan kembali ke kota B.
Aku kurang ingat kapan tepatnya mereka pindah dari desa M. Yang pasti setelah itu mereka pindah ke kota P. Sebuah kota, yang dekat dengan pantai. Dan yang pasti lebih ramai dibandingkan dengan desa M.
Disitu, Ayah bekerja di kantor dinas pendapatan. Disamping penghasilan Ayah, Ibu yang memang berbakat penjahit pun menjalankan usaha jahit nya.
Pada saat bertugas di kota P, Ayah pun kembali kuliah, untuk meraih gelar S1.
Ayah tugas belajar ke kota M, yang berbeda pulau dari tempat tinggal beliau pada saat itu.
Saat itu, Bang Atma yang baru berumur 20 hari ikut diboyong pindah, menggunakan pesawat tentara.
Satu cerita yang sangat berkesan padaku adalah ketika Ayah sedang mengejar 'acc' tugas akhir(karya tulis/skripsi) dari dosen pembimbing beliau yang dikenal sangat killer, kritis, dan sangat susah memberikan 'acc'.
Pada saat itu, beberapa orang teman Ayah yang lebih dulu meminta 'acc' kepada dosen tersebut, pulang gigit jari karena dosen tersebut selalu saja menyuruh untuk melakukan perbaikan.
Di jaman sekarang, kita bisa mengedit bagian yang ingin di revisi, tanpa perlu mengganggu bab lain.
Sedangkan di jaman itu, karena hanya menggunakan mesin tik, revisi satu bagian, pasti mempengaruhi bagian lainnya.
Ayah sama sekali tidak menyiapkan diri untuk menghadapi kata 'revisi' atau 'tidak lulus'.
Karena Ayah sudah membeli tiket pesawat untuk kembali ke kota asal.
Kontrakan rumah pun waktu habisnya bertepatan dengan hari kelulusan Ayah. Dan kalau ingin memperpanjang barang sehari, tetap harus membayar seharga satu tahun penuh, tanpa pengecualian.
Jadi Ayah harus lulus. Tidak ada opsi lain.
Akhirnya bermodal keyakinan, dan do'a, Ayah pun datang ke rumah dosen tersebut.
Saat Ayah datang, dosen tersebut sedang berada di depan rumahnya dan terlihat bingung.
Ayah(A) : Selamat pagi Pak...
Dosen Pembimbing(DP) : Eh pagi. Mahasiswa saya kan kamu?
A : Iya pak.
DP : Sebelum kamu sampaikan tujuan kamu, coba bantu saya dulu. Musang peliharaan saya lepas. Tolong bantu dicarikan.
A : Eh... Baik pak.
Walaupun sedikit bingung, Ayah pun akhirnya membantu dosen tersebut berkeliling sekitar rumah beliau, untuk mencarikan musang beliau yang lepas.
Ayah pun berhasil menemukan musang yang lepas tersebut, dan menyerahkannya kepada dosen tersebut untuk disimpan kembali ke dalam kandang.
Wajah dosen tersebut terlihat cerah setelah musangnya berhasil ditemukan.
DP : Wah. Hebat kamu ini. Saya udah berapa jam muter-muter nyari ngga dapat. Lah kamu ko bisa ketemu. Hahaha
A : Hehe iya pak. Alhamdulillah.
DP : Eh, ngomong-ngmong ada keperluan apa kamu sama saya?
A : Ini pak, saya membawa tugas akhir saya. Semoga saja bapak bisa ngasih acc, soalnya saya sudah beli tiket buat pulang pak. Hehe
Merasa dosen tersebut sedang bagus moodnya, Ayah pun langsung mengutarakan niatnya.
DP : Ohh. Ya udah mana sini saya tanda tangani. Saya acc. Nggak perlu saya periksa. Nanti saja kita bahas waktu sidang. Hahaha
Singkat cerita, Ayah pun berhasil lulus ujian mempertahankan karya tulis/sidang.
Dosen tadi pun diceritakan Ayah sangat kooperatif waktu sidang.
Bahkan di saat dosen penguji lain ingin memberikan pertanyaan, beliau melarangnya dengan alasan
DP : Ini mahasiswa bimbingan saya, saya hapal betul isi karya tulisnya. Dan saya jamin, dia sudah pantas lulus dan dapat gelar ini. Udah, nggak usah dikasih pertanyaan macam-macam. Langsung aja kasih nilai A.
Alhasil dosen penguji lain pun hanya manut dengan perkataan dosen tersebut, karena dosen tersebut termasuk salah satu dosen yang di 'tua' kan di kampus.
Sekembalinya Ayah dari tugas belajar, karir Ayah perlahan-lahan mulai naik.
Dari yang awalnya hanya staf di sebuah dinas, Ayah diangkat menjadi camat di kecamatan B(sekarang kecamatan ini sudah berkembang menjadi sebuah Kota).
Jabatan camat pertama Ayah adalah sebuah prestasi, karena sebelum Ayah, camat yang menjabat disitu selalu di mutasi setelah 1 tahun, karena terbukti menyalahgunakan jabatan(Kecamatan B tersebut memang salah satu lahan basah untuk penyalahgunaan jabatan, karena berbagai sektor sangat menjamur di sana. Mulai dari pertambangan, logging, sampai dengan kelautan). Sedangkan Ayah menjabat di kecamatan itu selama 5 tahun. Sebelum akhirnya dipindah ke kecamatan L yang lebih dekat dengan ibukota Provinsi.
Ibu meninggal(dan aku lahir), saat Ayah masih menjabat sebagai camat di Kecamatan B. Saat Ayah pindah ke kecamatan L, aku sudah memasuki umur 2 tahun.
Aku pun tinggal di situ, sampai aku menyelesaikan pendidikan TK ku. Sebelum akhirnya, Ayah memutuskan untuk pindah ke kota kelahiranku.
Kota B, ibu kota Provinsi.
Ayah menempuh pendidikan tinggi di Akademi Pemerintahan dalam Negeri atau APDN (sekarang STPDN).
Selepas lulus kuliah, karirnya sebagai PNS benar-benar dimulai dari nol.
Karena saat itu APDN hanya selevel D3, bukan S1 seperti STPDN sekarang. Praktis golongannya pun masih rendah.
Beliau pertama kali bekerja sebagai staf desa M, desa kelahiran beliau.
Sebuah desa yang sangat terpencil, yang bahkan jalanan desanya saja hanya bisa dilewati sepeda motor.
Saat beliau berumur 25 tahun, beliau menikah dengan mendiang Ibu yang saat itu berumur 24 tahun.
Ibu pun diboyong Ayah untuk tinggal bersama di desa.
Sepanjang umurnya, Ibu hidup di kota B, ibukota provinsi.
Ibu terbiasa hidup ramai, karena rumah Kakek pun letaknya di pinggir jalan raya.
Perubahan lingkungan tempat tinggal yang cukup drastis sempat membuat ibu stres.
Kata Ayah, rumah tempat tinggal beliau dulu di masa baru menikah dengan ibu adalah sebuah bangunan kayu bekas kantor.
Bingkai jendela nya bukan dilapisi kaca, tetapi plastik yang lapuk. Yang kalau di colok menggunakan jari saja bisa berlubang. Belakang rumah adalah hutan basah, yang didominasi oleh pohon enau. Babi hutan sering lewat di situ pada malam hari.
Untuk sampai ke rumah, harus melewati sedikit jembatan kayu. Di sisi kanan dan kiri jembatan kayu itu adalah kuburan kru kapal tanpa identitas yang mati tenggelam.
Desa M memang terbagi dua, dan dipisahkan oleh sebuah sungai yang sangat besar.
Dan di sungai itu juga terdapat pusaran air, yang sering menyebabkan kecelakaan kapal. Buaya dengan ukuran besar pun masih mudah ditemui kala itu.
Letak kantor Ayah dan rumah yang mereka tinggali lumayan jauh. Ayah pun jadi sering terlambat pulang ke rumah.
Suatu saat, ketika Bang Redi sudah lahir, Ayah pernah pulang sangat terlambat.
Ketika berjalan menuju rumah, Ayah melihat Ibu sedang berdiri di samping dermaga, sedang menggendong Bang Redi yang saat itu masih bayi. Sebuah tas besar tergeletak di samping beliau.
Rupanya Ibu sewot karena Ayah terlambat pulang. Dan sudah berencana akan kembali ke kota B.
Aku kurang ingat kapan tepatnya mereka pindah dari desa M. Yang pasti setelah itu mereka pindah ke kota P. Sebuah kota, yang dekat dengan pantai. Dan yang pasti lebih ramai dibandingkan dengan desa M.
Disitu, Ayah bekerja di kantor dinas pendapatan. Disamping penghasilan Ayah, Ibu yang memang berbakat penjahit pun menjalankan usaha jahit nya.
Pada saat bertugas di kota P, Ayah pun kembali kuliah, untuk meraih gelar S1.
Ayah tugas belajar ke kota M, yang berbeda pulau dari tempat tinggal beliau pada saat itu.
Saat itu, Bang Atma yang baru berumur 20 hari ikut diboyong pindah, menggunakan pesawat tentara.
Satu cerita yang sangat berkesan padaku adalah ketika Ayah sedang mengejar 'acc' tugas akhir(karya tulis/skripsi) dari dosen pembimbing beliau yang dikenal sangat killer, kritis, dan sangat susah memberikan 'acc'.
Pada saat itu, beberapa orang teman Ayah yang lebih dulu meminta 'acc' kepada dosen tersebut, pulang gigit jari karena dosen tersebut selalu saja menyuruh untuk melakukan perbaikan.
Di jaman sekarang, kita bisa mengedit bagian yang ingin di revisi, tanpa perlu mengganggu bab lain.
Sedangkan di jaman itu, karena hanya menggunakan mesin tik, revisi satu bagian, pasti mempengaruhi bagian lainnya.
Ayah sama sekali tidak menyiapkan diri untuk menghadapi kata 'revisi' atau 'tidak lulus'.
Karena Ayah sudah membeli tiket pesawat untuk kembali ke kota asal.
Kontrakan rumah pun waktu habisnya bertepatan dengan hari kelulusan Ayah. Dan kalau ingin memperpanjang barang sehari, tetap harus membayar seharga satu tahun penuh, tanpa pengecualian.
Jadi Ayah harus lulus. Tidak ada opsi lain.
Akhirnya bermodal keyakinan, dan do'a, Ayah pun datang ke rumah dosen tersebut.
Saat Ayah datang, dosen tersebut sedang berada di depan rumahnya dan terlihat bingung.
Ayah(A) : Selamat pagi Pak...
Dosen Pembimbing(DP) : Eh pagi. Mahasiswa saya kan kamu?
A : Iya pak.
DP : Sebelum kamu sampaikan tujuan kamu, coba bantu saya dulu. Musang peliharaan saya lepas. Tolong bantu dicarikan.
A : Eh... Baik pak.
Walaupun sedikit bingung, Ayah pun akhirnya membantu dosen tersebut berkeliling sekitar rumah beliau, untuk mencarikan musang beliau yang lepas.
Ayah pun berhasil menemukan musang yang lepas tersebut, dan menyerahkannya kepada dosen tersebut untuk disimpan kembali ke dalam kandang.
Wajah dosen tersebut terlihat cerah setelah musangnya berhasil ditemukan.
DP : Wah. Hebat kamu ini. Saya udah berapa jam muter-muter nyari ngga dapat. Lah kamu ko bisa ketemu. Hahaha
A : Hehe iya pak. Alhamdulillah.
DP : Eh, ngomong-ngmong ada keperluan apa kamu sama saya?
A : Ini pak, saya membawa tugas akhir saya. Semoga saja bapak bisa ngasih acc, soalnya saya sudah beli tiket buat pulang pak. Hehe
Merasa dosen tersebut sedang bagus moodnya, Ayah pun langsung mengutarakan niatnya.
DP : Ohh. Ya udah mana sini saya tanda tangani. Saya acc. Nggak perlu saya periksa. Nanti saja kita bahas waktu sidang. Hahaha
Singkat cerita, Ayah pun berhasil lulus ujian mempertahankan karya tulis/sidang.
Dosen tadi pun diceritakan Ayah sangat kooperatif waktu sidang.
Bahkan di saat dosen penguji lain ingin memberikan pertanyaan, beliau melarangnya dengan alasan
DP : Ini mahasiswa bimbingan saya, saya hapal betul isi karya tulisnya. Dan saya jamin, dia sudah pantas lulus dan dapat gelar ini. Udah, nggak usah dikasih pertanyaan macam-macam. Langsung aja kasih nilai A.
Alhasil dosen penguji lain pun hanya manut dengan perkataan dosen tersebut, karena dosen tersebut termasuk salah satu dosen yang di 'tua' kan di kampus.
Sekembalinya Ayah dari tugas belajar, karir Ayah perlahan-lahan mulai naik.
Dari yang awalnya hanya staf di sebuah dinas, Ayah diangkat menjadi camat di kecamatan B(sekarang kecamatan ini sudah berkembang menjadi sebuah Kota).
Jabatan camat pertama Ayah adalah sebuah prestasi, karena sebelum Ayah, camat yang menjabat disitu selalu di mutasi setelah 1 tahun, karena terbukti menyalahgunakan jabatan(Kecamatan B tersebut memang salah satu lahan basah untuk penyalahgunaan jabatan, karena berbagai sektor sangat menjamur di sana. Mulai dari pertambangan, logging, sampai dengan kelautan). Sedangkan Ayah menjabat di kecamatan itu selama 5 tahun. Sebelum akhirnya dipindah ke kecamatan L yang lebih dekat dengan ibukota Provinsi.
Ibu meninggal(dan aku lahir), saat Ayah masih menjabat sebagai camat di Kecamatan B. Saat Ayah pindah ke kecamatan L, aku sudah memasuki umur 2 tahun.
Aku pun tinggal di situ, sampai aku menyelesaikan pendidikan TK ku. Sebelum akhirnya, Ayah memutuskan untuk pindah ke kota kelahiranku.
Kota B, ibu kota Provinsi.
Diubah oleh beanilla93 30-01-2018 16:28
0