- Beranda
- Stories from the Heart
Patahan Salib Bidadari
...
TS
setiawanari
Patahan Salib Bidadari
In the name of Allah, the beneficient, the merciful
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Terimakasih untuk gambar sampulnya awayeye
Terimakasih Kaskus, khususnya untuk sub forum SFTH yang telah menyediakan tempat menampilkan sebuah cerita. Sebuah fasilitas yang akan saya gunakan untuk menulis dimulai dari hari ini hingga di hari-hari selanjutnya.
Terlepas dari nyata atau tidaknya cerita ini, adalah tidak terlalu penting karena sebagian dari kisah nyata dan sebagian dari imaginasi saya. Harapan saya tokoh-tokoh dalam cerita ini dapat menjadi inspirasi untuk para pembaca cerita yang saya tulis ini dapat menjadikan saya untuk terus berkreatifitas.
Mohon maaf jika materi dalam cerita ini nantinya ada kesalahan dan menyinggung pihak-pihak tertentu sekiranya nasihat, kritik dan saran dari agan/sista yang lebih berpengalaman selalu sangat saya harapkan.
Menemani istirahat untuk menghilangkan lelah setelah pulang kerja/sekolah/kuliah, atau saat sedang menunggu sesuatu mari kita baca ceritanya. Ditemani alunan musik dan segelas kopi/cokelat/susu/teh hangat kita kembali ke beberapa tahun yang lalu!!!.
PEMBUKA CERITA
Terpaku di dalam rasa cinta yang tak mungkin pudar, menanti cinta datang membawa arti sampai segenap organ ini berhenti.
Sore itu saat cuaca cerah di lantai 6 gedung akademisi yang melahirkan sarjana ekonomi terbaik aku termenung. Melamunkan manis, asam, asin dan pahitnya segala kehendak Tuhan yang dianugerahkan kepada salah satu ciptaanNya.
Manusia diberikan otak untuk berfikir dan menggunakan logika lalu diberikan hati untuk merasakan. Hati adalah malaikat sedangkan otak kadang menjadi iblis dan sangat sulit untuk mengontrolnya menjadi malaikat. Hati menjerit saat kita berbuat salah sedangkan otak adalah penyebab semua kesalahan yang dilakukan manusia. Malaikat dan iblis adalah gambaran dari manusia, sebagai simbol antara kebaikan dan kejahatan. Kebaikan tidak akan bersanding dengan kejahatan dan sebaliknya.
“Permisi Mas! Bisa pindah duduknya, lantainya mau di bersihkan!” Sapa seorang petugas cleaning service membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya mas”. Jawabku sambil berlalu pergi menuju tempat parkir motor tepatnya dihalaman depan kampus.
Karamnya cinta ini
Tenggelamkanku diduka yang terdalam
Hampa hati terasa
Kau tinggalkanku meski ku tak rela
Salahkah diriku hingga saat ini
Kumasih mengharap
Kau tuk kembali………
Sore itu gerimis turun saat aku pulang, tak terasa sampai ditempat kos yang kebetulan hanya berjarak 10 menit dari kampus air hujan membasahi jaket jeans yang ku kenakan. Segera aku mengambil handuk dan membersihkan diri, bersiap untuk mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Dengan ritual sholat Ashar aku merasakan kedamaian yang tidak ada bandingannya, sebagai bentuk kepatuhan dan rasa syukur atas semua yang diberikan Tuhan baik itu berkah yang membuat hati senang maupun musibah sebagai ujian kepada hambanya agar menjadi sosok yang lebih kuat.
Waktunya istirahat, kurebahkan badan ini di kasur busa sebagai surga dunia yang paling indah, sambil memutar lagu menemaniku melepas lelah. Secangkir kopi hitam telah kusiapkan untuk menghangatkan suasana karena diluar hujan turun semakin deras. Kupandangi sebuah kalung berwarna emas berliontin salib yang bersanding dengan sebuah kalung perak berliontin lafaz Allah, tergantung dibawah poster foto Ibu Sundari Sukotjo tepat di tengah-tengah dinding kamar kosku. Masih menampakkan kilaunya meski kalung-kalung itu sudah hampir 4 tahun lamanya. Aku bangkit dari tempat tidur, meminum sedikit kopi hitam, sambil menarik nafas dalam sedalam yang aku mampu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu di sore ini, ya aku merasakan suatu kerinduan yang luar biasa dengan pemilik kalung salib yang tergantung dikamarku, seorang yang sangat suka musik klasik, seseorang pecinta sepakbola, seseorang yang suka kopi hitam dan mungkin pernah mencintaiku walaupun tak pernah mengungkapkan sepatah katapun.
“Ya Tuhan hari ini aku kangen banget sama dia, meski tak sebesar kangen ku kepadaMu, tapi sungguh seolah-olah aku merasa sangat lemah dan sangat kehilangan. Hari ini tepat 4 bulan yang lalu dia beranjak pergi dari tempat ini, dia pergi untuk cita-citanya, untuk impiannya dan bodohnya aku belum sempat mengutarakan seluruh perasaanku kepadanya. Perbedaan keyakinanlah yang menghalangi, aku bahkan hanya bisa diam membisu saat ku ingin mengucapkan seluruh rasa cinta ini aku takut rasa cinta kepada makhluk ciptaanMu melebihi rasa cintaku padaMu. Tak kuasa air mata ini menetes, berusaha ku tahan tapi tak sanggup karena mungkin ini air mata rindu yang mencapai puncaknya.
Aku bukan seorang penulis tetapi hari ini tiba-tiba ingin sekali aku ingin sekali memainkan jariku di keyboard yang biasanya hanya kupakai untuk membuat tugas. Aku ingin menulis tentang dirimu tentang cerita kita, walaupun mungkin tidak berujung bahagia tidak apa karena mungkin dengan tulisan ini aku bisa mencurahkan segala isi hati dan kerinduanku kepada mu. Kenangan indah tentang hari-hari yang pernah kulalui dengan seorang bidadari yang telah merubah seluruh hidupku, meski meninggalkan perasaan yang terus menggantung entah sampai kapan. Bidadari yang datang di hidupku, menemaniku sejenak lalu pergi meninggalkan patahan salibnya di hidupku.
Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu
Sekilas Gambar Tentang Aku
Harapan Sesuai dengan Kenyataan
Kerikil Kecil dan Awan yang Jauh
Pertemuan dengan Sahabat
Sepatu Mengawali Sebuah Impian
Dunia Kampus dan Teman Baru
Keluarga Kecil Bernama HALTE
Sesuatu Mengganggu Pesta Akhir Smester
Diantara Rasa Kagum dan Penasaran
Meluapnya Sebuah Emosi
Hubungan yang Semakin Dekat
Kegelisahan Menghadapi Perasaan yang Berbeda
Siang Menjadi Malam dan Sebaliknya
Perjalanan yang Semakin Indah
Momen Menggelikan dan Warna Kehidupan
Dilema Menghadapi Ungkapan Perasaan
Tetangga di Sekitar Kami
Liontin Salib untuk Leher yang Indah
Kepedihan Cerita di Masa Lalu
Senyuman untuk Hati yang Terluka
Sosok yang Menjadi Pertanyaan
Mencoba Menghilangkan Trauma
Pelangi yang Hilang Bersama Turunnya Hujan
Malam Kebahagiaan Bersama Keluarga Kecil
Bidadari Kecil Kini Telah Dewasa
Kebahagiaan Kini Tinggal Prasasti
Semua Terjadi Sangat Cepat
Sebuah Cinta yang Salah
Surga yang Tak Layak untuk Dilihat
Rumput Dingin Di Bawah Bangku Taman
Pahitnya Sebuah Ucapan
Air Mata Menepis Kerasnya Kata-kata
Satu Langkah ke Arah Normal
Bertahan Hanya dalam Waktu Singkat
Semakin Tenggelam dalam Kedekatan
Lilin Kecil di Malam Penuh Kebahagiaan
Selamat Datang Kemarau
Kerinduan yang Teramat Dalam
Hembusan Angin Masa Lalu
Sayap yang Kuat Untuk Bidadari Kecil
Tinta Biru Menorehkan Luka
Berusaha Menyembunyikan Luka
Hilangnya Rasa Segan
Keberhasilan Tanpa Perayaan
Berharap Hanya Andai Saja
Serpihan Kenangan yang Menyiksa
Tempat Baru
Berita Baik Bersama Undangan
Selamat Menempuh Hidup Baru
Kesan yang Baik di Hari Pertama
Insiden Kecil dan Masa yang Telah Terlewati
Menutup Momen 4 Tahun Kebersamaan
Kotak Makan Siang
Keberanian Untuk Memulai
Pahitnya Sambutan Selamat Datang
Seperti Kembali ke Waktu Itu
Teka Teki dari Perhatian Sederhana
Cerita di Ujung Sore
Peneduh Panasnya Amarah
Mengungungkapkan tak Semudah Membayangkan
Titik Terang yang Terasa Gelap
Patahan Salib Bidadari
Terimakasih Untuk Masa yang Terlewati
Apa yang Sebenarnya Terjadi
Kembali Terjatuh
Dunia Ciptakan Keindahan
Dan Kebahagiaan [TAMAT]
Kata Penutup (Q&A)
Diubah oleh setiawanari 10-07-2018 17:35
nona212 dan calebs12 memberi reputasi
3
111.2K
608
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
setiawanari
#140
Rumput Dingin Di Bawah Bangku Taman
" Iya gakpapa Nin, gw juga minta maaf soalnya tadi pergi gitu aja, janji gw selalu sama Nin, gw gak bakal jauhi Lo, cuma jangan paksa mata ini untuk lihat hal kaya tadi." Jawabku rasanya ingin sekali memeluknya tetapi ada sesuatu hal yang sepertinya menahanku. Hanya keheningan karena kami saling diam.
"Ehm....ehmm.... "
Terdengar ada orang datang memecah keheningan pembicaraan ku dengan Ninda.
"Oooh jadi ini orangnya, biang keladinya?" Kata perempuan dengan 4 orang lelaki berdiri dibelakangnya. Ninda pun beranjak mendekati wanita itu.
"Visca, ngapain Lo nyusul kemari?" Kata Ninda.
"Oooh jadi baj*ngan ini yang bikin Lo berubah Nin? Dia yang pengaruhin Lo sampai Lo gak sadar Lo itu siapa?" Bentak Visca seseorang wanita yang aku perhatikan adalah penari yang berjoget dengan Ninda.
“Bukan Vis, bukan, dia bukan siapa-siapa, ini semua kemauan gw, gw sadar kalau selama gw salah Vis, gw belajar bukan karena dia. Dan gw udah mutusin untuk normal kembali Vis, gw mau normal." Kata Ninda.
“Hahahahahaha normal? Kenapa? Lo mau normal? Orang kaya kita itu cuma jadi pemuas nafsu mereka Nin dengan embel2 cinta, setelah mereka dapet yang mereka mau? Lalu apa? mereka akan cari lagi yang baru, mereka itu makhluk yang cepet bosen beda sama kita. Mereka itu makhluk egois." Bentak Visca.
“Enggak Visca, kita yang salah, kita yang salah Vis," kata Ninda tiba-tiba terjatuh karena mendapat dorongan Visca.
“Pinter Lo Nin, udah mulai menggurui gw rupanya, gara-gara bergaul sama b*jingan itu!" Bentak Visca.
“Woi." Kataku sambil berlari mendekati Ninda namun di cegah oleh kedua orang pria.
“He Lo siapa,? Mau ikut campur? Ternyata bener Lo yang udah pengaruhi Ninda?" Bentak Visca.
“Bukannya ikut campur gw cuma gak bisa biarin orang yang lemah kaya gini." Jawabku sedikit gemetar karena sudah pasti aku akan kalah jika harus berhadapan dengan 4 orang dengan tubuh semuanya lebih besar dari tubuhku.
“Oooh mau jadi jagoan.” Jawab Visca memberi kode kedua pria untuk menyerangku.
Dan benar terjadi mereka mendekatiku melayangkan pukulan ke arah wajahku namun aku bisa menghindar namun pukulan pria yang satunya mendarat di perutku. Lalu entah berapa kali mereka memukul hingga akhirnya aku terjatuh. Saat terjatuh mereka masih menendang dan menginjak tubuhku. Aku berusaha menutupi bagian kepala agar tendangan mereka tidak mengenai kepalaku. Aku hanya mendengar teriakan-teriakan Ninda meminta agar Visca menghentikan ini semua. Akhirnya mereka pun berhenti dan perempuan itu berjalan mendekatiku yang masih dalam posisi meringkuk diatas rumput taman. Entah kenapa dalam posisi seperti ini aku mengingat seseorang aku mengingat Sherly, kenapa tiba-tiba wajahnya muncul dalam benakku. Visca berjongkok menarik rambutku.
" Sekarang Lo tahu kan akibatnya, Lo jauhin Ninda atau Lo bakal gw abisin terus mayat Lo gua buang tanpa bisa ditemuin." Kata Visca menggertak ku.
Mendapat perlakuan seperti ini darahku kembali naik namun apalah daya tubuh ini pasti tidak akan sanggup melawan. Visca pun pergi meninggalkan aku yang tergeletak kemudian berbisik kepada Ninda yang masih terduduk entah apa yang di bicarakannya. Lalu mereka pergi menuju mobil yang terparkir di pinggir taman.
“Awan, Lo gak papa, maafin gw ya Wan, maafin gw." Kata Ninda menghampiriku sambil menangis.
“Iya gakpapa Nin, gw masih hidup, tenang aja." Akupun berusaha berdiri dibantu Ninda.
Kami berjalan ke mobil Ninda menuju klinik terdekat. Sesampainya di klinik aku membuka hpku dan ada banyak sekali SMS serta panggilan masuk. Ternyata dari Sandro, akupun menelponnya dan meminta mereka menunggu di tempat kos. Segera setelah selesai berobat dengan perban melingkar di kepalaku aku bersama Ninda menuju tempat kos dan benar saja keempat temanku sudah tiba terlebih dahulu.
“Wow, wow ada apa ini Wan, Lo gak bayar minum sampai digebukin,?" Kata Sandro sambil membantu mememapahku berjalan ke arah kamar.
Terasa sakit pergelangan kakiku mungkin terkilir saat kedua orang tadi menginjakku.
“Tau ni anak kirain masih disana eh gak taunya malah bonyok bonyok." Kata Fajar.
Sampai di atas kami tidak langsung masuk, tetapi berkumpul di teras sementara Ninda turun mengambil minuman dingin dari dalam mobil untuk kami.
"Kenapa Lo Wan? Bisa seperti ini?" Kata Riski.
"Semuanya salah gw, gw yang bikin temen kalian kaya gini, Awan di gebukin sama temen gw tadi!" Kata Ninda muncul dari bawah membawa minuman.
“Maksudnya gimana? Awan cari gara-gara di Club?" Kata Fajar.
“Bukan, tapi ceritanya agak panjang boleh kan gw ceritain Nin," Kataku.
“Iya, Wan mungkin udah saatnya Lo cerita." Jawab Ninda menyalakan sebatang rokok.
Aku pun bercerita garis besar sehingga terjadi masalah ini.
“Jadi Lo,........?" Kata Riski terhenti saat aku menarik tangannya.
“Gak papa Wan, iya Ris gw Lesby dan gw seorang streaptease atau penari telanjang, tapi gw bukan pramuria meskipun sebenarnya sama saja. tubuh gw cuma untuk dilihat bukan untuk disentuh kecuali Visca cewek gw. Akhirnya gw sadar kalau hidup gw salah kalau gw sakit dan gw berusaha sembuh. Awan selalu suport gw tapi ya ini akibatnya, kalau tau begini gw gak akan nyuruh awan buat dateng di acara terakhir gw nari." Kata Ninda menjelaskan.
“Terus gimana selanjutnya, bukannya tadi dia masih ngancam Lo sama Awan kalau Lo gak balik sama dia lagi?" Kata Riski.
“Iya mungkin gw udah ditakdirin seperti ini jadi gak ada solusi lain kecuali balik ke dia lagi atau gw pergi jauh tapi masalahnya kuliah gw udah mau kelar.” Kata Ninda menunduk.
“Nggak bisa Nin, Lo tetep disini Lo gak boleh balik ke dia lagi terlebih Lo bakal dibawa ke Batam." Kataku setelah dalam perjalanan tadi Ninda bercerita apa yang di bisikan oleh Visca padanya.
“Tapi, Wan orang kaya Visca itu nekat Wan, dia gak segen habisin orang cuma buat orang yang dia cintai. Terlebih dia juga punya uang buat bayar orang." Kata Visca.
“Gw tau Nin, tenang aja orang macam dia bisa gw atasi, dia udah ngelakuin kesalahan gak matiin gw tadi malah nantang mau bunuh gw lalu mayat gw mau dibuang sampai gak ditemuin." Kataku kembali darahku naik mengingat ucapannya terlebih itu tidak sepantasnya diucapkan seorang wanita.
“Serius Wan? Serem amat." Kata Riski.
“Udah Wan gak usah aneh-aneh apapun itu gw takut malah nambah masalah baru." Kata Ninda.
“Enggak Nin, kali ini gw minta tolong sama Lo untuk percaya gw," Kataku. Ninda hanya menunduk seperti masih bingung dengan ucapanku.
“Eh udah subuh, cabut yuk.” Kata Riski.
“Abisin dulu minumnya.” Jawab Ninda.
Akhirnya Sandro Riski dan Ambon pulang setelah berpamitan dan memastikan aku dalam keadaan baik. Hanya Fajar yang memutuskan untuk tinggal dan Ninda kembali masuk ke kamarnya mungkin sangat lelah dia malam ini.
“Wan, serius dengan rencana Lo?" Kata Fajar saat kami sedang merebahkan diri di spring bed.
“Rencana apaan sih?"
“Gw tau yang ada dipikiran Lo, sebaiknya Lo pikir lagi Wan, resikonya penjara Wan gak main-main.” Kata Fajar.
“Sotoy Lo Jar, udah tenang aja gw cuma mau kasih pelajaran aja, gw gak terima sama kata-katanya Jar." Kataku.
“Yaudah kalau Lo udah yakin, cuma hati-hati aja jaga mata Lo jangan terlalu merah, soalnya yang Lo bawa cuma ngikutin perintah Lo aja, kalau sampai lewat batas gw bakal nyesel ngenalin mereka sama Lo." Kata Fajar.
“Sip.” Jawabku singkat menahan luka memar di hampir seluruh tubuh ini.
Kami pun tertidur, cepat sekali nampaknya Fajar terlelap sementara aku masih menahan perih dan linunya badan ini. Meski akhirnya kalah dengan rasa kantuk yang telah mencapai puncaknya.
Perkataan manusia bisa menjadi hal yang baik maupun hal yang buruk. Perkataan yang baik akan terdengar menyenangkan dan sebaliknya perkataan buruk akan terdengar menyakitkan menimbulkan emosi.
"Jangan sampai elo gw matiin terus mayat Lo gw buang sampai gak pernah bisa ditemuin"
Kata-kata itu selalu terngiang dan tidak pernah dapat aku terima.
Almarhum ibu dan ayahku saja berusaha merawat, menjaga dan melindungi aku sampai dia meninggal. Kemudian ini orang lain tiba-tiba berbicara seperti Tuhan dengan mudahnya mengambil nyawa orang lalu membuang jasadnya. Aku tidak pernah takut mati karena dengan cepat mati aku lebih cepat bertemu dengan kedua orang tuaku. Selalu hal itu yang aku pikirkan saat emosiku mencapai titik puncaknya.
“Eh Awan, udah lama! Tumben nongol nih jagoan, hehehehe." Kata Mas Toha pemilik cafe tempatku duduk menikmati segelas kopi saat ini.
Sebuah cafe yang mungkin sudah puluhan tahun berdiri menempati bangunan bekas Belanda di dekat dengan stasiun Jakarta Kota.
“Ooh belum Mas, ini kopinya aja belum diminum, hahahaha." Kataku.
“Lha ini, udah normal sekarang, biasanya kosong."
“Ooh iya ini Ninda Mas, temen satu kosan." Kataku mengenalkan Ninda.
“Ninda mas," kata Ninda mengulurkan tangannya
“Toha.” Jawab mas Toha tanpa menyalami Ninda hanya membalas dengan mempertemukan kedua telapak tangannya di depan dada.
“Udah lama Lo gak ikut kopdar Wan, motor Lo masih ada kan?" Kata mas Toha sambil menghisap pipa tembakaunya.
Unik memang orang ini mantan tentara dengan tubuh yang tidak terlalu besar. Tampak sangat ramah meskipun banyak cerita beredar dia telah membunuh banyak orang. Akupun mengenalnya melalui komunitas motor kebetulan dia ketua dari komunitas motor klasik untuk wilayah Jakarta.
“Masih lah mas, itu pemberian almarhum jadi sebisa mungkin saya pertahanan, itu saya bawa." Kataku sambil menunjuk motor kesayanganku.
“Yakin, gak mau Lo jual?" Kata mas Toha.
“Yakin mas, berapapun itu?"
“Kalau saya suka terus saya bayarin tetep Lo gak mau jual,?" Kata mas Toha sedikit membentak.
“Siapapun itu mas?"
“Brakkk,"
Mas Toha memukul meja meskipun tidak terlalu kencang membuatku sedikit kaget. Terlebih Ninda yang duduk di sampingku mencengkeram erat lengan kiriku.
“Jadi kalau misalnya Lo harus kehilangan nyawa pun tidak akan pernah Lo jual motor itu,?" Bentak mas Toha.
“Enggak saya jual Mas." Jawabku sedikit bergetar karena mas Toha mengeluarkan sesuatu dan sepertinya senjata api.
“Yakin?”
“Yakin mas, saya tidak akan menjual motor itu."
“Oke, berarti Lo sama siapa tadi,..?"
“Ninda om." Jawab Ninda gemetar.
“Oh iya Lo sama Ninda boleh ngopi gratis sepuasnya hari ini. Hehehehe Lo orang yg nekat, berani and konsisten Wan, jarang gw ketemu orang kaya Lo." Kata mas Toha.
“Makasih Mas, lha jadi dibayarin gak tu motor”
“Hahahaha aaah kamu itu, koleksi gw udah cukup 1 aja tar kalau beli lagi malah gak keurus."
“Alhamdulillah berarti bisa buat jalan jalan bulan madu saya Mas tar, hehehehe.”
“Bulan madu pakai motor itu palingan juga istri lo yang minta cerai karena sebelum sampai tujuan mesinnya mogok, hahahaha." Ledek Mas Toha.
“Oh iya mas Toha saya minta izin buat minjem anak-anak kalau diizinkan soalnya saya ada masalah. Saya mau dimatiin sama orang Mas. Orang itu bilang………" Kataku terpotong oleh Mas Toha.
“Hah, matiin orang? Siapa yang berani bilang kaya gitu emang dia kira di Tuhan, siapa orangnya atau jangan jangan kamu yang cari gara gara? kamu yang sok jagoan?" Bentak Mas Toha.
“Bukan Mas bentar boleh saya cerita mas?"
“ Boleh....….....Gimana ceritanya? Kalau Lo yang cari masalah duluan jangan minta tolong gw!”
Kemudian aku bercerita masalah yang terjadi ke Mas Toha.
“Oooh jadi ini cewek? Masa sama cewek aja Lo nyari orang Lo lawan aja sendiri lah, Cemen."
“Masalahnya bukan dia mas tapi dia juga punya orang suruhan, sepertinya preman mas bukan anggota,"
“Ya iya lah mana ada anggota mau di bayar buat matiin orang, apalagi cuma matiin kamu yang notabenenya bukan orang penting hahahaha."
“Yaelah masih becanda aja, jadi gimana Mas boleh gak, kalo boleh dan gak lagi tugas saya minta bantuan Mas Jefri sama Mas Linggar."
“Yaudah nanti gw hubungi anak-anak itu."
“Sebelumnya terimakasih Mas. Kalau emang bisa gw kabari secepatnya"
“Iya, iya ternyata kamu sekalinya main kemari ada maunya.”
“Bukannya gitu Mas, sebenernya saya pengen setiap saat kemari, kopdar sama anak-anak tapi ya mau gimana lagi siang kuliah malam cari uang buat makan, jadi harus pinter-pinter atur waktu."
“Iya gw paham Wan, Lo juga juga tau latar belakang gw kaya apa. Justru gw bangga sama orang kaya Lo Wan. Berani, semangat dan tanggung jawab. Jadi inget jaman gw pas seumuran Lo, di kota ini kalau takut maka gak bisa maju, dan tertindas lalu cuma jadi budak orang lain. Eh ayo minum kopinya." Kata Kas Toha.
Kami melanjutkan perbincangan sampai menjelang magrib dan kami akhiri setelah Mas Toha akan memberi bantuan kepadaku tentang rencana ini.
Aku kembali pulang ke tempat kos bersama Ninda.
“Nin, makan dulu yuk, laper.” Kataku di tengah perjalanan.
“Ayok, gw juga udah nahan dari tadi cuma gak enak kebawa serem bicara sama temenku tadi." Jawab Nind.
“Hahaha bukannya tadi bilang jadi tadi sekalian makan mumpung gratis, hehehehe." Kataku kemudian berhenti di sebuah tempat makan berdinding bambu dengan kolam ikan disekitarnya.
“Oh iya tadi itu siapa Wan? Dan Lo kenal dimana?" Kata Ninda.
“Oooh mas Toha, itu udah gw bapak angkat ku ....” Akupun bercerita tentang Mas Toha.
Dia adalah seorang yatim piatu dari kecil hampir sama denganku tapi dia lebih beruntung berasal dari keluarga kaya raya asli keturunan Betawi. Tapi entah kenapa suka dipanggil dengan Mas bukan Bang. Setelah lulus sekolah SMA Mas Toha melanjutkan pendidikan ke sekolah tentara sampai akhirnya lulus dan menjadi seorang tentara nasional. Karirnya biasa-biasa saja sampai dia menikah dan punya 3 orang anak semuanya wanita. Mas Toha menginginkan anak lelaki tetapi Tuhan tidak mengabulkan doanya justru ditambah cobaan. Istrinya divonis menderita kanker rahim dan rahimnya harus diangkat saat mengandung anak laki-laki di usia 5 bulan.
Rasa frustasi dan harapan yang gagal membuat Mas Toha menjadi hilang kendali. Disaat itulah dia mulai sedikit gila, dia mulai mengkonsumsi narkoba, bahkan menjadi pelindung bandar-bandar besar agar bisnisnya berjalan mulus. Selain itu mas Toha mulai membangun bisnis agen security sekaligus pembunuh bayaran. Bisnisnya berkembang pesat hanya dalam waktu 3 tahun, namun saat itu keluarganya berantakan. Anak pertamanya menjadi seorang pemakai narkoba, istrinya meninggal karena kecelakaan. Mas Toha sangat kehilangan istri tercintanya sangat frustasi ditambah anaknya yang harus menjalani rehabilitasi.
Seakan cobaan tidak berhenti salah satu bandar besar narkoba tertangkap dan Mas Toha terlibat di dalamnya akhirnya jeruji besi harus ia rasakan. Selepas keluar dari penjara Mas Toha kembali meneruskan bisnis yang hampir hancur. Lalu kembali bermasalah dengan hukum dan kembali masuk penjara. Begitu seterusnya banyak kasus yang membuatnya keluar masuk penjara. Hingga akhirnya mungkin sudah lelah dan mengingat umurnya semakin tua Mas Toha mulai menutup bisnisnya perlahan-lahan. Anak-anaknya disekolahkan semuanya di luar negeri bahkan 2 orang sudah menikah dan menetap disana. Tinggallah dia dalam kesendirian kembali meneruskan usaha cafe yang menjadi peninggalan keluarga almarhum ayahnya.
Sedikit demi sedikit Mas Toha bangkit dan keluar dari bisnis ilegal. Dia mulai merintis usaha lembaga bantuan hukum, beberapa panti asuhan, dan bantuan jasa kemanusiaan seperti tenaga profesional untuk masalah-masalah yang tidak mau dilakukan melalui jalur hukum. Entah kebetulan atau tidak aku mendapatkan informasi dari Fajar karena waktu itu ayahnya pernah meminta bantuan Mas Toha saat perusahaan kopi milik ayah Fajar mengalami perselisihan dengan perusahaan lain.
Tapi menurut pengakuan dari anak buah dan teman-teman Mas Toha ( komunitas motor classic) hanya mau memberikan bantuan dengan harga murah bahkan jarang tidak mau di beri imbalan. Dan dia hanya membantu jika memang orang yang meminta bantuan dalam posisi benar.
Dan menurut desas desus mas Toha juga sering keluar masuk penjara akibat terkait pembunuhan. Namun itu masih simpang siur, aku memahami Mas Toha hanya disatu sisi baiknya saja tapi mungkin banyak orang yang memanfaatkannya dan mengambil keuntungan dari sisi buruknya.
Menenal Mas Toha aku harus memiliki kartu AS yang menjadi kelemahannya. Seseorang yang mempunyai watak keras seperti itu tetap akan tunduk terhadap kebenaran. Keberanian untuk tetap mempertahankan yang aku anggap benar membuat orang seperti Mas Toha menjadi teman yang sangat lembut meskipun memiliki kepribadian yang keras sekalipun.
“Tapi Wan, aku masih takut ini malah akan nambah masalah baru, terlebih buat Lo Wan gw gak mau nglibatin Lo terlalu jauh." Kata Ninda setelah mendengar ceritaku.
“Semua udah terjadi Nin, gw gak mau langkah Lo buat beranjak dari kelamnya hidup ini malah terhenti.”
“Wan, bukannya masih ada cara lain yang bisa kita………” Kata Ninda terhenti.
“ Udah Nin tenang aja kali ini aja percaya sama gw, ini bukan tentang Lo aja Nin ini juga tentang gw ini penghinaan buat gw, seolah-olah gw orang yang mudah diambil nyawanya kaya tikus yang tinggal diinjek langsung mati.” Kataku.
“Iya Wan, gw cuma khawatir kalau terjadi apa-apa sama Lo." Kata Ninda memegang tanganku sejenak lalu melepasnya.
“ Gak papa Nin, gw bisa jaga diri." Kataku.
Kami mengakhiri malam ini dengan tidak terlalu banyak bercanda seperti malam yang telah berlalu. Aku juga memikirkan tentang apa yang akan aku lakukan. Merasa takut jika nantinya hilang kendali. Mungkin sama dengan Ninda memikirkan tentang rencanaku. Aku melihat raut wajahnya seperti sedang mencemaskan sesuatu. Sebuah kecemasan untukku atau mungkin untuk dia yang di dalam hati kecilnya masih dia cintai.
Diubah oleh setiawanari 29-09-2017 16:44
g.gowang memberi reputasi
1