Kaskus

Story

setiawanariAvatar border
TS
setiawanari
Patahan Salib Bidadari
In the name of Allah, the beneficient, the merciful
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Patahan Salib Bidadari
Terimakasih untuk gambar sampulnya awayeye

Terimakasih Kaskus, khususnya untuk sub forum SFTH yang telah menyediakan tempat menampilkan sebuah cerita. Sebuah fasilitas yang akan saya gunakan untuk menulis dimulai dari hari ini hingga di hari-hari selanjutnya.

Terlepas dari nyata atau tidaknya cerita ini, adalah tidak terlalu penting karena sebagian dari kisah nyata dan sebagian dari imaginasi saya. Harapan saya tokoh-tokoh dalam cerita ini dapat menjadi inspirasi untuk para pembaca cerita yang saya tulis ini dapat menjadikan saya untuk terus berkreatifitas.

Mohon maaf jika materi dalam cerita ini nantinya ada kesalahan dan menyinggung pihak-pihak tertentu sekiranya nasihat, kritik dan saran dari agan/sista yang lebih berpengalaman selalu sangat saya harapkan.

Menemani istirahat untuk menghilangkan lelah setelah pulang kerja/sekolah/kuliah, atau saat sedang menunggu sesuatu mari kita baca ceritanya. Ditemani alunan musik dan segelas kopi/cokelat/susu/teh hangat kita kembali ke beberapa tahun yang lalu!!!.


PEMBUKA CERITA

Terpaku di dalam rasa cinta yang tak mungkin pudar, menanti cinta datang membawa arti sampai segenap organ ini berhenti.

Sore itu saat cuaca cerah di lantai 6 gedung akademisi yang melahirkan sarjana ekonomi terbaik aku termenung. Melamunkan manis, asam, asin dan pahitnya segala kehendak Tuhan yang dianugerahkan kepada salah satu ciptaanNya.

Manusia diberikan otak untuk berfikir dan menggunakan logika lalu diberikan hati untuk merasakan. Hati adalah malaikat sedangkan otak kadang menjadi iblis dan sangat sulit untuk mengontrolnya menjadi malaikat. Hati menjerit saat kita berbuat salah sedangkan otak adalah penyebab semua kesalahan yang dilakukan manusia. Malaikat dan iblis adalah gambaran dari manusia, sebagai simbol antara kebaikan dan kejahatan. Kebaikan tidak akan bersanding dengan kejahatan dan sebaliknya.

“Permisi Mas! Bisa pindah duduknya, lantainya mau di bersihkan!” Sapa seorang petugas cleaning service membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya mas”. Jawabku sambil berlalu pergi menuju tempat parkir motor tepatnya dihalaman depan kampus.

Karamnya cinta ini
Tenggelamkanku diduka yang terdalam
Hampa hati terasa
Kau tinggalkanku meski ku tak rela
Salahkah diriku hingga saat ini
Kumasih mengharap
Kau tuk kembali………


Sore itu gerimis turun saat aku pulang, tak terasa sampai ditempat kos yang kebetulan hanya berjarak 10 menit dari kampus air hujan membasahi jaket jeans yang ku kenakan. Segera aku mengambil handuk dan membersihkan diri, bersiap untuk mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Dengan ritual sholat Ashar aku merasakan kedamaian yang tidak ada bandingannya, sebagai bentuk kepatuhan dan rasa syukur atas semua yang diberikan Tuhan baik itu berkah yang membuat hati senang maupun musibah sebagai ujian kepada hambanya agar menjadi sosok yang lebih kuat.

Waktunya istirahat, kurebahkan badan ini di kasur busa sebagai surga dunia yang paling indah, sambil memutar lagu menemaniku melepas lelah. Secangkir kopi hitam telah kusiapkan untuk menghangatkan suasana karena diluar hujan turun semakin deras. Kupandangi sebuah kalung berwarna emas berliontin salib yang bersanding dengan sebuah kalung perak berliontin lafaz Allah, tergantung dibawah poster foto Ibu Sundari Sukotjo tepat di tengah-tengah dinding kamar kosku. Masih menampakkan kilaunya meski kalung-kalung itu sudah hampir 4 tahun lamanya. Aku bangkit dari tempat tidur, meminum sedikit kopi hitam, sambil menarik nafas dalam sedalam yang aku mampu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu di sore ini, ya aku merasakan suatu kerinduan yang luar biasa dengan pemilik kalung salib yang tergantung dikamarku, seorang yang sangat suka musik klasik, seseorang pecinta sepakbola, seseorang yang suka kopi hitam dan mungkin pernah mencintaiku walaupun tak pernah mengungkapkan sepatah katapun.

“Ya Tuhan hari ini aku kangen banget sama dia, meski tak sebesar kangen ku kepadaMu, tapi sungguh seolah-olah aku merasa sangat lemah dan sangat kehilangan. Hari ini tepat 4 bulan yang lalu dia beranjak pergi dari tempat ini, dia pergi untuk cita-citanya, untuk impiannya dan bodohnya aku belum sempat mengutarakan seluruh perasaanku kepadanya. Perbedaan keyakinanlah yang menghalangi, aku bahkan hanya bisa diam membisu saat ku ingin mengucapkan seluruh rasa cinta ini aku takut rasa cinta kepada makhluk ciptaanMu melebihi rasa cintaku padaMu. Tak kuasa air mata ini menetes, berusaha ku tahan tapi tak sanggup karena mungkin ini air mata rindu yang mencapai puncaknya.

Aku bukan seorang penulis tetapi hari ini tiba-tiba ingin sekali aku ingin sekali memainkan jariku di keyboard yang biasanya hanya kupakai untuk membuat tugas. Aku ingin menulis tentang dirimu tentang cerita kita, walaupun mungkin tidak berujung bahagia tidak apa karena mungkin dengan tulisan ini aku bisa mencurahkan segala isi hati dan kerinduanku kepada mu. Kenangan indah tentang hari-hari yang pernah kulalui dengan seorang bidadari yang telah merubah seluruh hidupku, meski meninggalkan perasaan yang terus menggantung entah sampai kapan. Bidadari yang datang di hidupku, menemaniku sejenak lalu pergi meninggalkan patahan salibnya di hidupku.


Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu


Sekilas Gambar Tentang Aku
Harapan Sesuai dengan Kenyataan
Kerikil Kecil dan Awan yang Jauh
Pertemuan dengan Sahabat
Sepatu Mengawali Sebuah Impian
Dunia Kampus dan Teman Baru
Keluarga Kecil Bernama HALTE
Sesuatu Mengganggu Pesta Akhir Smester
Diantara Rasa Kagum dan Penasaran
Meluapnya Sebuah Emosi
Hubungan yang Semakin Dekat
Kegelisahan Menghadapi Perasaan yang Berbeda
Siang Menjadi Malam dan Sebaliknya
Perjalanan yang Semakin Indah

Momen Menggelikan dan Warna Kehidupan
Dilema Menghadapi Ungkapan Perasaan
Tetangga di Sekitar Kami
Liontin Salib untuk Leher yang Indah
Kepedihan Cerita di Masa Lalu
Senyuman untuk Hati yang Terluka
Sosok yang Menjadi Pertanyaan
Mencoba Menghilangkan Trauma
Pelangi yang Hilang Bersama Turunnya Hujan
Malam Kebahagiaan Bersama Keluarga Kecil
Bidadari Kecil Kini Telah Dewasa
Kebahagiaan Kini Tinggal Prasasti
Semua Terjadi Sangat Cepat
Sebuah Cinta yang Salah
Surga yang Tak Layak untuk Dilihat
Rumput Dingin Di Bawah Bangku Taman
Pahitnya Sebuah Ucapan
Air Mata Menepis Kerasnya Kata-kata
Satu Langkah ke Arah Normal
Bertahan Hanya dalam Waktu Singkat
Semakin Tenggelam dalam Kedekatan
Lilin Kecil di Malam Penuh Kebahagiaan
Selamat Datang Kemarau
Kerinduan yang Teramat Dalam
Hembusan Angin Masa Lalu
Sayap yang Kuat Untuk Bidadari Kecil
Tinta Biru Menorehkan Luka
Berusaha Menyembunyikan Luka
Hilangnya Rasa Segan
Keberhasilan Tanpa Perayaan
Berharap Hanya Andai Saja
Serpihan Kenangan yang Menyiksa
Tempat Baru
Berita Baik Bersama Undangan
Selamat Menempuh Hidup Baru
Kesan yang Baik di Hari Pertama
Insiden Kecil dan Masa yang Telah Terlewati
Menutup Momen 4 Tahun Kebersamaan
Kotak Makan Siang
Keberanian Untuk Memulai
Pahitnya Sambutan Selamat Datang
Seperti Kembali ke Waktu Itu
Teka Teki dari Perhatian Sederhana
Cerita di Ujung Sore
Peneduh Panasnya Amarah
Mengungungkapkan tak Semudah Membayangkan
Titik Terang yang Terasa Gelap
Patahan Salib Bidadari
Terimakasih Untuk Masa yang Terlewati
Apa yang Sebenarnya Terjadi
Kembali Terjatuh
Dunia Ciptakan Keindahan
Dan Kebahagiaan [TAMAT]

Kata Penutup (Q&A)
Diubah oleh setiawanari 10-07-2018 17:35
calebs12Avatar border
nona212Avatar border
nona212 dan calebs12 memberi reputasi
3
111.2K
608
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
setiawanariAvatar border
TS
setiawanari
#119
Sebuah Cinta yang Salah
Beberapa tahun yang lalu aku datang ke kota ini penuh dengan sejuta harapan. Menjadi orang yang mampu melakukan perubahan terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar untuk hal-hal ke arah yang lebih baik. Suatu saat ketika aku pulang ke kampung halaman nanti menjadi sosok yang dapat memberi inspirasi bagi banyak orang.


Sejauh ini semua berjalan seperti seharusnya, bahkan perjalanan hidup disini pun penuh dengan warna yang membuat aku justru enggan beranjak dari tempat ini. Semua warna yang sangat memanjakan mata, meneduhkan hati dan semakin membuatku takut akan kehilangan warna itu. Aku takut nantinya menjadi hitam putih, dan aku tak siap menghadapinya.


Satu setengah tahun lagi aku akan menuntaskan masa kuliahku, ini yang membuat aku terus bersemangat untuk mengejarnya. Sebuah cita-cita yang rasanya tak ingin aku tunda meskipun belum ada tujuan pasti selepas dari sini nantinya.
Laptop kunyalakan untuk menyelesaikan tugas meteodologi penelitian, sebuah tugas dari kampus sebagai bagian dari mata kuliah yang akan berpengaruh terhadap mata kuliah berikutnya.

“Kenapa Lo mau mundur? Kemana aja Lo selama ini? Gw mati2an kerja sendiri, Lo kemana aja? Kata suara perempuan terdengar seperti nada marah dari kamar Ninda.

Aku mematikan musik yang sedang ku putar mencoba mendengarkan dan mencari tahu apa yang terjadi.

“Ya gua capek aja Vis, masa gw gak boleh istirahat, gw mau coba pekerjaan lain,"! Jawab Ninda
“Capek Lo bilang!? Terus Lo mau berhenti gitu aja? Semua ada prosesnya Nin. Kita selesaikan kontrak baru kita berhenti kita masih ada satu kali lagi abis itu terserah Lo." Kata suara perempuan itu.
“Oke2 kita selesaikan, setelah itu....." Kata Ninda
“Setelah itu apa? Masih banyak yang bakal kita lakuin, masalah Lo mau berhenti kerja itu urusan Lo yg jelas urusan Lo sama gua gak bisa berhenti, Lo gak bakal bisa ngejauhin gua, inget itu." Kata perempuan itu, diiringi dengan suara pintu ditutup dengan keras.

Sepertinya perempuan itu pergi karena terdengar suara mobil meninggalkan parkiran tempat kosku.

Tok.tok.tok.
Terdengar suara pintu diketuk.


“Masuk.” Jawabku.
“Awan, Lo lagi sibuk ya.” Kata Ninda membuka pintu kamar kosku.
“Iya nih Nin, lagi kerjain tugas.” Kataku seolah-olah aku tidak tahu apa yang barusan terjadi.
“Ooh yaudah kalau gitu sorry ganggu." Jawab Ninda menutup kembali pintu kamarku.


Segera aku simpan tugas lalu aku matikan laptopku, beranjak keluar kos.

“Eh Ninda, Lo mau kemana?” Kataku mengejar Ninda yang berjalan meninggalkan kamarnya.
“Mau cari angin, katanya Lo sibuk Wan?”
“Aah udah kelar kok tugasnya, gw temenin yak."
“Udah gak usah gw lagi mau sendiri," jawab Ninda tanpa menghentikan langkahnya menuju mobil yang terparkir di depan tempat kos.
“Yaudah kalau gak boleh ikut.” Kataku menghentikan langkahku.

Ninda pun mulai menyalakan mesin mobil.

“Yaudah ayo.” Kata Ninda membuka kaca jendela mobil.

Aku segera masuk kedalam mobil Ninda.

“Mau kemana kita Nin?”
“Udah Lo diem aja!”

Kami terdiam dalam mobil yang terus melaju dan baru berhenti di sebuah kafe sudut selatan kota Jakarta. Aku berjalan mengikuti Ninda, yang nampak terburu-buru.

“Mau pesen apa mas?" Kata pelayan.
“Jeruk hangat sama pisang bakar madu.'' Jawabku.
“Saya mocacino ya mas, sama roti bakar keju satu" Kata Ninda
“Baik, ditunggu pesanannya ya mas.” Kata pelayan menutup pesanan kami.


“Hey Nin, kayanya tadi ada temen Lo ya." kataku mencoba mencairkan suasana.
“Iya." kata Ninda singkat.
"Hmmmm kok jawabnya singkat banget, sorry Nin bukannya mau ikut campur tapi sepertinya tadi Lo lagi cek cok ya?”
“Yah begitulah namanya hubungan pasti adalah sesekali masalah," kata Ninda membuatku sedikit bingung dan harus terpotong oleh kedatangan pelayan.


“Pesanannya sudah semua ya mas, kalau ada tambahan panggil saja lagi, selamat menikmati." Kata pelayan kafe.
“Oh iya terimakasih mas.” Jawabku masih memikirkan perkataan Ninda.
“Nin, tadi Lo bilang hubungan maksudnya hubungan apa?"
“Yaelah Wan, bukannya di kosan tadi Lo udah denger semuanya? Tadi Visca, Pacar gw Wan." Jawab Ninda membuatku sedikit bingung.
"Maksudnya? Tadi temen Lo itu bukannya Cewek? Kok bisa, Oooo gw paham jadi Lo seorang......" Kataku terhenti karena tangan Ninda menutup mulutku, lalu dia mendekatkan mulutnya disamping kanan telingaku.


“Iya Wan gw Lesbi, gw pecinta sesama jenis, dan sekarang Lo udah tau tentang gw dan gw yakin sebentar lagi Lo bakal ngejauh dari hidup gw, karena gw ini sakit Wan, sebuah penyakit yg sampai saat ini belum ada obatnya. Keberadaan orang-orang seperti gw gak pernah diakui di masyarakat Wan. Selalu di tolak." Jawab Ninda yang membuatku sangat kaget terlebih saat Ninda mulai meneteskan air matanya.

“Eh Nin, kenapa Lo mikirnya kaya gitu? Apa yang Lo pikirin itu salah Nin, bagi gw Lo adalah Lo dan gw gak peduli Lo itu seperti apa dimata gw Lo itu cewek yg tegar cewe yang hebat Nin, sesuatu hal yg sangat-sangat gw syukuri bisa ketemu cewek kaya Lo, Nin please jangan mikir kaya gitu ya?" Kataku meski aku tidak pernah menyangka kalau gadis cantik nyaris sempurna di depan ku adalah seorang lesbian.

Entah apa yang membuatnya seperti ini padahal dengan wajah secantik Ninda untuk mendapatkan lelaki mungkin tidak sampai butuh waktu lama dia akan mendapatkannya.


“Yakin Wan gak merasa gw itu orang yang aneh?" Kata Ninda.
“Ya memang itu gak wajar sih Nin, tapi hidup itu pilihan hidup itu misteri jadi pasti ada sebab seseorang melakukan suatu hal. Nin Lo pasti pernah dengar tentang Leonardo da Vinci, Galileo Galilei dan orang-orang luar biasa pada jamannya. Kebanyakan mereka juga tidak di terima di masyarakat akibat perilakunya yang aneh tapi mereka membuktikan kalau apa yang mereka lakukan itu pasti ada alasannya." Kataku berusaha meyakinkan Ninda jika aku tidak seperti yang Ninda pikirkan.

“Iya Wan, thanks ya kalau emang Lo masih mau deket dan temenan sama orang kaya gw."
“Pasti Nin, tapi maaf kalau boleh tau apa ini terjadi sejak Lo kecil atau emang ini sebuah pilihan Lo Nin?"
“Enggak Wan? Semua bermula saat aku di Jogja pada saat puncak dari masalah yang waktu udah pernah gw ceritain ke Lo. Gw benci dengan mahkluk dengan sebutan lelaki dan waktu itu gw udah menutup diri bergaul dengan lelaki manapun, hanya kebencian yang kurasakan saat melihat laki-laki."
“Iya-iya gw inget Lo pernah cerita pada waktu itu.”
“Disana gw ketemu sama malaikat dan cinta pertama gw Wan, seorang yang kasih suport dan selalu bantuin gw saat gw merasa kesulitan. Selalu ada saat senang maupun susah, tetapi gw segera sadar dia seorang wanita normal, bukan seorang lesbian dan gw gak mungkin bawa dia ke hubungan terlarang sampai ke arah yang lebih jauh. Kami pun mengakhirinya saat gw harus kembali lagi ke Jakarta. Tapi dunia ini sepertinya terlalu sempit, ternyata di kota ini pun kami bertemu kembali, secara tiba-tiba. Aku bersyukur dia telah memiliki kekasih dalam hubungan yang normal, pasangan dengan jenis kelamin yang berbeda dan diapun dalam keadaan bahagia." Kata Ninda menjelaskan.


“Ooh berarti pacar Lo yg sekarang bukan yang dari Jogja?”
“Bukan Wan, tetapi dia yang mengajarkan gw bertahan hidup di kota ini. Mengajarkan segala hal, mencari uang, mencari kesenangan dan bagaimana kita saling mengisi satu sama lain. Sejak awal bertemu sampai saat ini.”
“Tapi selama ini apa Lo gak pernah nyoba untuk berubah? Ya gw tau itu adalah pilihan tapi pasti dalam hati kecil Lo pernah ada keinginan untuk merubahnya kan Nin?”
“Iya Wan pernah beberapa kali gw mencoba tetapi ketakutan itu terus memaksaku untuk tidak beranjak di tempat, dan di saat gw merasa takut dia yang sekarang bersama gw selalu memberikan pelukan hangat hingga gw yakin kalau emang ini takdir gw.”
“Terus kalau memang Lo trauma dan menutup hubungan dengan laki-laki kenapa Lo gak takut sama gw Nin?"
“Gak tau Wan, awalnya gw pikir Lo sama aja kaya lelaki lain, tapi ternyata Lo beda. Perlu waktu berbulan-bulan kan waktu itu buat gw untuk akrab sama Lo. Dan sampai sejauh ini gw ngerasa nyaman aja saat deket sama Lo," kata Ninda memberikan senyuman kecil.

“Yaelah Nin, masih banyak kok di dunia ini orang kaya gw bahkan lebih baik dari gw. Ya tapi makasih ya Nin, Lo mau bertemen sama gw kita kita punya perasaan yang sama gw juga ngerasa nyaman saat deket sama Lo.”
“Iya Wan, eh udah malem pulang yuk.” Ajak Ninda.
“Ayuk, bentar gw bayar dulu Nin.” Kataku berjalan ke kasir.


Kami kembali ke tempat kos, selama perjalanan nampak tidak ada yang beda dari biasanya dengan Ninda. Namun kali ini tatapan matanya sedikit berbeda seperti ada sesuatu yang sedang ia pikirkan.


Aku merasakan hal yang sama memikirkan kenyataan yang baru saja aku dengar. Sepertinya aku tidak rela seorang seperti Ninda adalah seorang lesbian. Aku berfikir harus menyembuhkannya dengan cara apapun agar dia menjadi seorang yang normal kembali.

“Wan, Lo udah mau tidur?" Kata Ninda membuka pintu kamarnya.
“Hmmmm belum sih, paling nonton TV kenapa emang Nin?"
“Gw pengen minum Wan, kebetulan w ada Sm*rnoff temenin gw ya tapi Lo jangan minum, gw takut Lo sakit lagi," kata Ninda.
“Hahahaha ayo keluarin aja, dikit ma gak apa apa kali Nin, hehehehe.”
“Yaudah masuk lah ngapain disitu.”
“Ooh di kamar Lo? Gak diluar aja?”
“ Di dalem aja Wan, sambil mau nonton film." Kata Ninda lalu aku menyusulnya masuk ke dalam kamar, membiarkan pintunya tetap terbuka setengah.

Ninda menyalakan tv dan kami pun menikmati sebotol Sm*rnoff sambil menyaksikan film bergenre komedi romantis. Segelas demi segelas minuman itu masuk ke organ pencernaan kami hingga habis menyisakan botol belingnya saja.


“Abis Nin filmnya, ke sofa yuk.” Kataku.
“Ayuk." Jawab Ninda dan kami pun duduk di sofa menikmati angin lewat tengah malam.
“Wan, gw banyak tau tentang Lo dari Sherly dia banyak cerita tentang Lo," kata Ninda.
“Kayanya udah akrab banget Lo sama dia Nin, padahal jarang ketemu.” Kataku menyalakan sebatang rokok.
“Sok tau, Gw udah tau hubungan Lo sama Sherly semua hal Wan, tapi Lo tau gak Sherly itu siapa? Kata Ninda menatapku.
“Jadi? Padahal gw baru mau cerita sama Lo Nin, kalau gw sama Sherly gak ada hubungan apa-apa, tapi kok Lo tau banget tentang Sherly Nin?" Kataku terhenti setelah Ninda menempelkan bibirnya tepat di atas bibirku, dan akupun tak kuasa untuk menolaknya.

Ya Tuhan rencana apalagi yang kau tuliskan kepadaku. Meskipun ini yang pertama, secara naluri akupun bereaksi menyentuh bagian atas tubuh Ninda dan meremasnya dengan lembut. Menikmatinya hingga beberapa detik.


“Awan." kata Ninda melepas ciumannya dan kembali duduk di sampingku.
“Iya Nin, maaf Nin, maaf.” Kataku yang masih bingung dengan kejadian ini.
“Bukan Wan ini salah gw, gw yang mulai duluan," kata Ninda.
“Nin, itu yg pertama." Kataku.
Sama Wan, gw juga. Maksudnya sama cowok" Kata Ninda.
“Oooh terus yg pertama?" Kataku
“Ehhhmmm,...... Sherly Wan, the first with Sherly," kata Ninda membuatku kaget.

Ha, Sherly, ya Tuhan kenapa hidup ini terasa aneh ya Nin?" Kataku serasa dunia ini begitu sempit. Kenapa wanita itu seperti terus mengikutiku.


“Aneh kenapa Wan? Sherly cinta pertama gw waktu di Jogja Wan, awalnya kita cuma sering bareng dan akhirnya terjebak dalam hubungan terlarang. Waktu itu Sherly kecewa karena mau di jodohkan oleh orang tuanya, dengan seseorang yang sekarang akan menjadi suaminya. Kalau gak salah namanya Arfan, Waktu itu masih terlalu dini bagi Sherly untuk mengetahui hal tersebut dan ya pada akhirnya kita sama-sama terjerumus. Lalu di Jakarta ternyata kita bertemu Lo yang bawa kesini, gw juga gak nyangka dengan semua kejadian ini, dan gw berfikir kalau dunia memang bener-bener sempit, makanya mungkin orang tua kita di alam sana mungkin dapet tempat yang lebih luas ya Wan." Kata Ninda menjelaskan.

“Iya Nin, pasti.”
“Oh iya Wan, gw ambil sesuatu dulu ya buat Lo," Kata Ninda masuk ke dalam kamar lalu keluar lagi membawa kemeja putih lengan panjang yang masih baru dengan kertas seperti undangan pernikahan.


“Apaan itu Nin?" Tanyaku.
“Ini baju, tar Lo pakai ya sama ini tiketnya, Minggu depan Lo dateng ke acara gw disitu udah ada alamatnya tar Lo kasih tiketnya ke resepsionis disana nanti Lo bakal dianter ke tempat nya.” Kata Ninda tiba-tiba menangis dan masuk kedalam kamar.

“Hei Nin, Lo kenapa kok nangis?" Kataku menyusul namun Ninda cepat menutup pintu kamarnya.
“Gak papa Wan, yaudah gw mau tidur ngantuk.” Jawab Ninda terisak dari dalam kamar.
“Oke-oke, yaudah met istirahat Nin, kalau ada apa-apa Lo bilang ya!” Kataku melangkah ke kamar dengan gejolak perasaan yang bercampur aduk menjadi satu.

Aku letakkan kemeja putih yang masih terbungkus plastik dan tiket yang diberikan Ninda diatas meja.

Dini hari tidak ada hujan tidak ada petir cuaca pun sangat cerah yang kurasakan hari ini belum pernah aku rasakan di hari-hari sebelumnya nya. Untuk pertama kalinya bibir ini tersentuh oleh bibir wanita, lidah ini sejenak menari menyambut lidahnya dia yang bukan siapa-siapa ku. Sulit sekali rasanya memejamkan mata, aku terpaku merenung memikirkan yang baru saja terjadi. Disatu sisi aku merasa ingin lebih jauh melangkah untuk membuatnya berubah dan kembali tapi kenapa ada perasaan takut semua ini adalah kesalahan.

Semua berjalan terasa aneh terlebih Sherly, aku tidak pernah menduga sebelumnya kalau dia pernah terjebak ke dalam sebuah kesalahan. Dalam gejolak jiwa ini aku tetap berusaha tersenyum, menikmati indahnya dan menepis rasa pahitnya. Aku yakin semua ini akan berjalan seperti seharusnya, karena hidup memang sebuah pemberhentian sejenak sebelum kita mati dan menuju kehidupan abadi.
Diubah oleh setiawanari 22-09-2017 16:28
g.gowang
g.gowang memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.