- Beranda
- Stories from the Heart
Life story: horor, drama, kisah seorang perantau (lanjutan) [TAMAT]
...
TS
prestant18
Life story: horor, drama, kisah seorang perantau (lanjutan) [TAMAT]
![Life story: horor, drama, kisah seorang perantau (lanjutan) [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2017/10/09/7213687_20171009032458.jpg)
CREDIT PICT: AGAN CATUR SAPUTRA
assalamualaikum
selamat siang kaskusers,
ane akan melanjutkan cerita dari thread ane sebelumnya.
untuk readers yang belum membaca kisah sebelumnya, silahkan baca di kisah keluarga perantau.
untuk cerita tentang perjalanan hidup dimana ane sudah mandiri,
cerita tersebut akan ane link dibawah,
selamat menikmati.... :
1. the beggining
2. tanah pertama
3. rumah pakdhe
4. kerja
5. belajar mengendalikan diri
6. desi
7. panggilan tes
8. Training
9. nilai dari sebuah perjalanan
10. misteri baung part 1
11. misteri baung part 2
12. misteri baung part 3
13. misteri baung part 4
14. mister baung part 5
15. misteri baung last part
16. perkenalan
17 teror
18. shita
19. shita 2
20. fighting
21. rendi
22. drama[belajar dewasa]
23. finally, we are. . .
24. another side from shita
25. moments
26. crash
27. about rendi
28. perpisahan 1
29. suasana baru
30. quality time 1
31. quality time 2
32. :'(
33. last memories of shita
34. TAKDIR
35. sisi gelapku
36. misteri mimpi nyata 1
37. misteri mimpi nyata 2
38. misteri mimpi nyata 3
39. resolusi
40. arah perubahan
41. rumah mas malik 1
42. rumah mas malik 2
43. rumah mas malik 3
44. rumah mas malik 4
45. maung dan mbah
46. rumah mas malik last chapter
47. sheryi 1
48. sheryl 2
49. djakarta; first impression
50. pemberitahuan
51. samapta
52. 2nd test
53. jangan sok
54. masa peralihan
55. tes kerja lagii
56. UPDATE SPESIAL TENTANG CV
57. indonesia
58. misteri divisi siang 1
59. misteri divisi siang 2 ( the story )
60. misteri divisi siang ( last part )
61. kematian itu pasti
62. PHK
63. adikku bernama dian 1
64. adikku bernama dian 2
65. titik balik
66. terus berjuang!!
67. SEMANGAT MERDEKA SAUDARAKU!
68. OJT 1
69. OJT 2
70. adek 1
71. adek 2
72. tulungagung, wecome to the jungle
73. pengalaman misteri baru
74. traveling with shita's family, [sakit]
75. she is. . .
76. hujan sore itu
77. aku ingin memastikan
78. sheryl's stories 1
79. sheryl's stories 2
80. sheryl's stories 3
81. my choice is, ,
82. teror 1; mabuk
83. alasanku memilih
84. teror 2, santet 1
85. teror 2, santet 2
86. karena kamu berbeda
87. teror 3, gangguan semakin berat
88. teror4, akhir
89. mimpi
90. hari yang dinanti nanti??
91. pertengkaran 1, fakta
92. pertengkaran 2, itu bukan kamu yang kukenal
93. PERTENGKARAN 3, AKHIR
94. SHERYL; FINAL CHAPTER
95. EPILOG
Diubah oleh prestant18 09-10-2017 03:30
zoekyvalkrye dan 65 lainnya memberi reputasi
62
1.3M
3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
prestant18
#2163
my choice is, ,
malang, desember 2015, rumah sheryl
sheryl menjeda ceritanya. . .
dia menarik nafas agak dalam, ,
lalu dihembuskan.
mungkin ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya.
aku: " kamu bales apa dek? "
sheryl hanya menatap layar laptop, ,
aku jadi penasaran dengan kelanjutan ceritanya.
sheryl: " ya aku bales, dimaafkan "
aku melongo mendengar jawaban sheryl.
aku: " kapan kamu balesnya? aku nggak menerima pesan itu kayaknya "
sheryl melirikku,
sheryl: " aku bales dua hari setelah pesan terakhir mas tiyo, dan gagal "
aku hanya membatin, , " pantesan "
aku: " kamu bales dua hari setelah pesan terakhir yo jelas ae gagal dek, hapeku wes amblas "
sheryl diam, tidak meneruskan percakapan lagi dan hanya kembali membuka buka folder filmku yang memang sangat banyak.
aku jadi tidak enak hendak meneruskan.
namun aku sama sekali belum menemukan jawaban dari pertanyaan yang terus bergelayut di hatiku.
aku: " tapi sekarang kamu sudah mengerti kan kenapa waktu itu aku berkata seperti itu dek? "
sheryl: " udah "
aku: " jadi? "
sheryl: " apanya mas? "
sheryl berkata sambil menatap ke arahku.
aku: " aku sudah mengungkapkan perasaanku melalui pesan itu, , , "
sheryl diam
aku: " dan setelahnya aku selalu memilih untuk menutup diri dek, , "
aku nggak bisa lagi meneruskan kata kataku.
kupikir kata kata tadi sudah mewakili apa yang seharusnya kukatakan.
sekarang, aku mau menatap mata sheryl pun nggak berani. .
rasanya malu,
perempuan yang dulu pernah kutolak, saat ini malahan kutunggu tunggu jawabannya.
walau sebenarnya ini hanya untuk meyakinkan diriku sendiri dalam mengambil sikap berikutnya.
sheryl: " mas tiyo ngerti nggak. . .? "
sheryl membuka pembicaraan lagi sambil menatap jalanan.
aku: " apa dek? "
sheryl: " hati itu tempatnya bukan di kepala mas, , , nggk bisa disamakan seperti hitungan matematika "
suasana kembali hening.
jawaban barusan sudah benar benar membuatku tidak berani bertanya lebih jauh.
aku sadar posisiku dan tidak ingin suasana yang sudah kembali harmonis akan kembali canggung karena masalah perasaan.
aku: " ha ha, , iya dek, , maaf deh udah bikin kamu mengingat apa yang nggak ingin kamu ingat2 "
sheryl tidak menjawab.
dia hanya terus menatap jalanan.
aku melirik kepadanya, , ,
barulah aku menyadari apa yang sudah kulewatkan sejauh ini, ,
seorang gadis cantik nan baik yang sudah dikecewakan.
aku: " ya udah dek, , nggk usah dipikirkan lagi, terimakasih ya udah mau cerita "
aku berniat mengakhiri percakapan ini.
dari jawaban barusan, aku bisa mengerti.
keputusannya hingga sampai hari ini pasti sudah diambil setelah melalui hari hari yang berat.
hari hari yang dipenuhi ketidakpastian.
sheryl: " em, , , iya mas, nggak papa "
aku bangun dari dudukku.
entah mengapa rasanya bercampur campur.
sedih, menyesal, malu, , bercampur jadi satu.
sheryl: " mau kemana mas? "
aku: " mau istirahat duluan ya dek, besok mau balik pagi pagi soalnya "
sheryl: " ini laptopnya, , , "
aku: " pake aja dulu nggak papa "
sheryl: " oh, iya mas "
aku masuk kedalam dan pamit istirahat duluan kepada ayah yang masih nonton TV.
sekali lagi aku menginap di kamar almarhumah yang tidak terlalu banyak berubah.
hanya cat biru mudanya yang diperbaharui dan juga penataan ulang perabot di dalamnya.
aku berjalan menghampiri meja belajar yang terlihat sudah tua.
tempelan tempelan foto khas anak 90an masih melekat walau gambarnya memudar dan hampir tidak terlihat.
seingatku dulu itu adalah foto shita dengan dua orang perempuan lain yang masih berseragam SMA.
foto berbingkai dimana aku dan shita di malioboro dan jatim park pun sudah tidak ada.
aku duduk di bangku kecil yang terbuat dari kayu.
sambungannya sudah longgar sehingga ketika kududuki, kursi tersebut goyah, ,
ada suara berdecit . . .
aku kembali bangkit dari kursi kecil tersebut.
takut jika aku merusaknya.
karena setelah kembali masuk kekamar ini setelah sekian lama,
aku merasa ayah dan mamah membiarkan kamar ini tetap seperti semula,
beliau berdua ingin tetap memelihara kenangan tentang almarhumah didalam sini.
kurebahkan diriku di kasur.
sepreinya berbau wangi.
nampaknya mamah mengganti seprei dan sarung bantalnya tadi.
bau wangi yang sedikit mengingatkanku akan sesuatu.
aku memandang langit langit kamar,
pikiranku melayang. . .
setengah tahun ini berlalu dengan damai.
aku tidak merasakan konflik yang berarti sejauh ini.
setelah empat tahun berada di titik nadir,
setengah tahun ini aku merasa mulai bisa bangkit perlahan lahan dari segala keterpurukan.
bangkit dari keterpurukan ekonomi, ,
lalu bangkit dari masa masa pencarian jatidiri, ,
dan juga aku berhasil bangkit dari kesedihan mendalam sepeninggal shita.
sejujurnya dari ketiga hal tadi,
aku paling besar merasakan perubahan pada sisi jatidiri dan juga hati yang perlahan lahan kembali terbuka.
sebab, dari sisi ekonomi,
kehidupanku selalu naik dan turun semenjak aku kecil.
aku tidak terlalu merasakan perubahan berarti. .
dian sudah menyelesaikan sekolahnya.
dan tinggal tersisa si kecil ardi yang masih kelas 4. .
dari sisi pencarian jatidiri,
aku sudah mulai bisa menatap kedepan dengan jelas.
aku bisa membedakan apa yang kubutuhkan dan apa yang kuinginkan.
didalam benakku, akupun sudah membayangkan menjadi pribadi seperti apa aku kelak.
aku belajar, hidup adalah pilihan. .
kita dibekali akal agar bisa membedakan baik dan buruk beserta konsekuensinya masing masing.
kemudian kita akan dihadapkan pada kondisi yang mengharuskan kita memilih,
menjadi baik?
atau masih menuruti dorongan nafsu. . .
pilihan ditangan kita sendiri.
terakhir kembali kepada masalah hati.
empat tahun adalah waktu yang tidak sebentar.
selama empat tahun itu aku bereaksi dengan menutup diri.
perasaan sedih ditinggalkan almarhumah shita membawa trauma mendalam.
aku sama sekali tidak memberikan kesempatan kepada siapapun untuk masuk kedalamnya.
sekalipun itu sheryl.
sheryl,
ah, , tadi sheryl kira kira tersinggung nggak ya?
niatku tadi bertanya hanya untuk memastikan tentang perasaannya.
dan dari jawabannya,
aku menebak sheryl sudah mengubur perasaan suka itu.
walau sebenarnya pernyataan sheryl tadi masih terdengar mengambang.
jika memang seperti ini,
berarti aku sudah mantap untuk mencoba membuka hatiku untuk ifa.
walau jelas, sosok ifa berbeda dari shita dan sheryl,
" tok tok tok "
suara pintu diketok membuyarkan lamunanku.
aku: " buka aja nggak dikunci "
pintu dibuka sedikit dan aku melihat wajah sheryl menyembul dari balik pintu.
sheryl: " mas, ini laptopnya "
aku: " oiya dek "
aku bangun dan menghampiri sheryl di pintu.
sheryl: " makasih mas, koleksi filmnya banyak, , aku jadi punya kegiatan kalau lagi senggang, , hehe "
aku: " iya dek, sama sama "
laptop kuterima dari tangan sheryl.
aku: " oiya dek, kayaknya dulu diatas meja itu ada foto foto mbak shita ya? "
sheryl: " yang mana mas? "
aku: " yang ditaro didalam bingkai itu "
sheryl: " oh, ada mas, tak ambil, tak simpen di kamarku, kenapa mas? "
aku: " nggak papa dek, nanya aja kok "
sheryl: " mas tiyo masih inget aja ya? padahal nginep sini kan terakhir kan udah lama banget "
aku: " aku terbiasa mengingat detil dari hal hal yang berkesan dek "
sheryl: " pantesan, , , "
aku: " pantesan apa dek? "
sheryl: " pantesan susah move on, , hihihi, , piss mas "
aku: " iya juga ya dek, , hehe "
sheryl: " yo wes mas, silahkan dilanjutkan istirahatnya, , sory ya tak gangguin bentar, , "
aku: " gak popo, , jarang jarang kan kamu gangguin aku gini "
sheryl: " makanya sering2 kesini biar tak ganggu
, yo wes ah, met istirahat mas tiyo "
aku: " met istirahat dek "
sheryl nyengir kepadaku dan berbalik menuju kamarnya.
kututup pintu kamar, kemudian kusimpan laptop di dalam tas.
setelah itu, kumatikan lampu kamar.
aku pergi tidur.
keesokan paginya aku kembali ke tulungagung dengan menggunakan bus.
sheryl mengantarku ke terminal sekaligus berangkat kuliah.
dalam perjalanan itu, kami bisa kembali ngobrol dengan normal.
tidak nampak lagi kecanggungan akibat dari percakapan kami semalam.
kuanggap ini sudah selesai dan aku tidak perlu menunggu jawaban apa apa lagi.
aku bisa berfokus memulai hal lainnya.
==
setelah hari itu,
aku berusaha lebih serius dalam mendekati ifa.
dalam hatiku, aku memang berniat untuk mengenal sosok ifa lebih jauh sebelum membuat keputusan.
walau sebenarnya aku bisa membaca jelas sinyal sinyal balasan dari ifa,
aku ingin lebih dulu mengenal dia dengan benar.
seiring berjalannya waktu,
aku dan ifa jadi semakin dekat.
aku mulai memahami sedikit tentang karakter ifa ini.
ifa adalah gambaran dari gadis pedesaan kebanyakan yang masih polos.
hanya saja, dia memiliki kelebihan yang tidak dialami oleh anak perempuan kebanyakan.
ifa pernah berada pada fase masa anak anak yang keras.
bu umi, ibu ifa,
sudah bercerai dengan ayahnya ketika ifa dan adiknya yang hanya berselisih satu tahun masih sangat kecil.
perceraian ini dipicu karena sifat ayah ifa yang suka bermain perempuan.
bahkan ifa tidak pernah tahu siapa ayahnya sampai dia menginjak bangku SMA.
ifa kecil hidup bersama kakek dan neneknya karena bu umi harus banting tulang bekerja sebagai TKW.
( bu umi sempat pulang ketika ifa berusia 5 tahun untuk menikah lagi, namun ternyata suami kedua beliaupun perangainya tidak jauh berbeda, bu umi jadi korban KDRT sehingga memutuskan kembali bercerai setelah memiliki seorang anak laki laki.
beliau kembali pergi menjadi TKW untuk membiayai ketiga anaknya )
masa kecil ifa dipenuhi dengan hal hal menyedihkan karena kondisi keuangan kakek dan neneknya pun serba terbatas.
ifa kecil sering dihina teman temannya karena tidak memiliki ayah dan ibu ( karena ifa tinggal dengan kakek dan neneknya )
selain itu para tetangga bukannya simpati, malah ikut menghina ifa dan juga si adik.
mereka berkata jika ifa dan adiknya sudah dibuang oleh orang tua mereka.
adik ifa yang bernama levi ( nama samaran ), sering menangis karena tidak tahan dihina dan dikucilkan.
jika sudah begini, ifa kecil lah yang berusaha membesarkan hati adiknya agar tidak menangis.
ifa yang kala itu masih SD berkata kepada levi jika ibu mereka saat ini bekerja jauh,
supaya mereka bisa sekolah, karena itu levi tidak boleh menangis dan harus kuat.
( adik laki laki mereka yang masih kecil dititipkan di keluarga dari suami kedua atas permintaan mertua bu umi.
mertua bu umi memang lebih sayang kepada menantunya daripada anak laki lakinya yang memang tempramental )
seiring bertambahnya usia,
ifa dan levi tumbuh menjadi gadis yang cantik dan menarik.
ifa menjadi sosok yang pendiam.
dia lebih banyak menyimpan segala masalahnya di dalam hati.
sedangkan levi tumbuh menjadi pribadi yang keras & blak2kan.
levi tidak akan sungkan sungkan melabarak orang yang tidak dia suka.
ketika ifa dan levi sudah masuk masa SMA,
bu umi memutuskan untuk pulang.
beliau merasa petualangannya bekerja di negeri orang sudah cukup,
toh anak anaknya sudah mulai tumbuh besar.
beliau ingin mencari rizki di rumah saja sambil mendampingi kedua putrinya dan putra bungsunya.
aku mendengarkan cerita ifa dengan seksama.
hatiku merasa sedih sekaligus simpatik.
pantas saja selama ini ifa lebih banyak diam,
berbeda dengan sheryl yang ( sebenarnya ) cerewet.
cerita inipun dia tuturkan setelah dia mempercayaiku sepenuhnya.
sebuah pesan moral bagi kita para laki laki,
bersikaplah baik kepada perempuan,
seburuk apapun pasangan kita, itu tak lepas dari kita sebagai laki laki.
sebab laki laki adalah al qowwam ( pemimpin ).
kita harus mengerti dan paham bagaimana cara menjadi pemimpin yang baik dan tidak sewenang wenang.
selalu mengayomi, namun tetap tegas diatas segala prinsip kita tanpa harus merendahkan diri untuk mengemis.
jika sampai terjadi perpisahan,
imbas paling besar adalah kepada anak anak.
seorang ayah dan seorang ibu yang berpisah tetap bisa melanjutkan kehidupannya walau terasa sulit,
namun bagi anak anak korban perceraian,
masa kecil yang seharusnya indah dan hangat sudah hancur.
ifa juga akhirnya bercerita kepadaku tentang angan angannya,
sebuah angan angan yang tidak pernah dia ceritakan kepada orang lain. .
dia ingin berubah, berubah menjadi lebih baik.
namun tidak tau dengan cara apa. . .
ifa: " mas, sebenernya aku juga berangan angan suatu hari nanti aku bisa seperti mereka, perempuan perempuan terhormat itu "
aku: " lho? kamu juga perempuan terhormat lho fa "
ifa: " maksudku mereka yang berasal dari kalangan berada, , yang mana orang tidak memandang rendah "
aku terdiam,
angan angan yang sederhana itu membuat dadaku sesak.
aku: " nggak harus jadi orang berada untuk jadi terhormat fa, "
ifa: " maksudnya mas? "
aku: " cukup kamu menjadi pribadi baik yang berguna bagi orang lain itu sudah mengangkat kehormatanmu "
ifa: " em, , aku ingin jadi seperti itu mas, tapi aku nggak yakin bisa "
aku: " mulailah dari hal hal sederhana agar terbiasa "
ifa: " contohnya mas? "
aku: " maafkan mereka yang selama ini sudah merendahkanmu, tunjukan kalau kamu perempuan berjiwa besar "
ifa terdiam.
ifa: " kayaknya sulit mas "
aku: " udah dicoba? "
ifa: " em, belum si, , , "
aku: " kok tau sulit darimana? "
aku tersenyum kepadanya.
ifa menarik nafas agak dalam dan menatap arah lain.
mungkin dia sedang berusaha berdamai dengan dirinya sendiri.
dirinya yang masih marah oleh hinaan dan celaan orang, ,
dan nanti setelah hatinya bisa damai, mungkin ifa bisa berdamai dengan orang orang yang dia tidak suka.
aku: " nggak usah terlalu dipikirkan, cukup dicoba saja dulu "
ifa: " iya mas, mungkin karena selama ini nggak ada sosok yang membimbing, jadi aku selalu bingung "
aku menangkap suatu kode lain dari ifa, ,
namun aku tidak mampu meneruskan, ,
sehingga percakapan kami kali ini berhenti begitu saja sampai akhirnya aku pulang. .
//
beberapa hari berlalu setelah percakapan terakhir kami tentang angan angan ifa untuk berubah.
aku jadi semakin menaruh perhatian kepada tekadnya,
jujur aku salut dengan perjuangannya selama ini untuk bisa bangkit dari kondisi sulit.
ketertarikanku kali ini rasanya berbeda dengan ketertarikanku yang sebelum sebelumnya.
suatu hari selepas maghrib di akhir bulan desember ketika kebanyakan orang sedang menikmati libur natal dan tahun baru,
aku yang tidak pulang karena kedapatan roster kerja pada pagi hari, berkunjung ke rumah bu umi.
aku: " assalamu'alaikum "
bu umi: " wa'alaikumsalam, , mas tiyo, monggo masuk, , "
aku: " terimakasih bu umi "
aku masuk kedalam rumah bu umi.
bu umi: " mas tiyo nggk pulang? kan liburan ini "
aku: " saya libur bersama orang orang hanya mitos bu, , hehe "
bu umi: " ealah, , kasian banget to njenengan mas, mau minum apa ini? "
aku: " ndak usah repot repot bu, "
aku menolak penawaran bu umi karena takut merepotkan beliau.
namun bu umi nampak memaksa dan masuk ke dalam.
tak lama beliau keluar dengan membawa segelas teh hangat.
aku berterimakasih kepada beliau.
bu umi: " monggo mas tiyo, , "
aku: " terimakasih bu "
bu umi: " ini tumben ada apa kok malam malam njenengan main kesini? "
aku: " e, anu, mau ngobrol sesuatu dengan njenengan "
bu umi: " ngobrol apa to? "
aku menarik nafas terlebih dahulu.
sebab apa yang ingin kutanyakan kepada bu umi ini adalah hal hal yang cukup serius.
aku: " bu, maaf ya sebelumnya, saya mau bertanya ini "
bu umi: " silahkan mas tiyo, mau nanya apa? "
aku: " saya mau nanya tentang putri njenengan, ifa "
bu umi: " ifa? lha emangnya kenapa mas? "
aku: " ifa itu pripun to bu anaknya? "
bu umi mengerutkan dahinya,
bu umi: " ifa ya kaya seperti yang mas tiyo liat, kaya gitu mas "
aku: " maksudnya karakternya itu seperti apa? "
bu umi nampak mulai paham arah pembicaraanku.
bu umi: " ifa ya gitu mas, anaknya pendiam, jarang ngomong, tapi banyak berpikir "
aku: " oh, gitu ya bu, makanya kemarin sempat ngobrol banyak hal dengan saya "
bu umi: " saya juga heran, sama njenengan kok mau terbuka, padahal sama saya yang ibunya aja nggak trlalu banyak ngobrol "
aku: " masa to bu? "
bu umi: " iya mas, mungkin karena saya lama nggak nyanding "
aku: " ealah, , lha terus selama ini dia ceritanya sama siapa kalau punya masalah? "
bu umi: " disimpen sendiri mas, makanya sering sakit dia, , kemarin tak suruh keluar dari tempat kerjanya di kota kan gara gara sering sakit "
aku: " ealah, gitu to bu "
bu umi: " lha mas tiyo kok nanya tentang ifa ada apa? "
aku terkejut langsung ditanya seperti itu.
bingung juga mau jawab apa, ,
aku: " aa, , , anu bu, , saya. . . "
" assalamu'alaikuum "
belum sempat aku menjawab,
dari luar sudah terdengar salam.
itu suara ifa.
benar saja, tak lama, ifa muncul di ambang pintu dengan wajah heran karena ada aku didalam.
ifa: " eh, ada mas tiyo, udah lama mas? "
aku: " ee, , belum fa, paling lima menitan yang lalu "
ifa masuk dan duduk disebelah ibunya.
rupanya dia baru saja datang dari rumah lama,
dia ingin menemani ibunya malam ini.
aku jadi agak canggung, ,
bu umi: " nah, mumpung ada orangnya mas tiyo, nanya sendiri monggo "
deg,
aku jadi benar benar bingung mau bilang apa.
padahal barusan dikepalaku sudah tersusun kata kata yang pas.
aku berusaha fokus lagi agar tidak berantakan dalam berbicara.
aku: " bu umi, ifa. . . "
mereka: " iya mas? "
aku menahan pembicaraanku sesaat.
otakku memastikan kata kata yang akan keluar sudah tepat.
aku: " saya mau bertanya satu hal "
ifa: " iya mas, tanya apa? "
aku: " em, apakah kamu masih sendiri fa? "
sesaat ruangan hening setelah aku selesai bertanya.
bu umi dan ifa terkejut.
terutama ifa, wajahnya langsung memerah.
aku: " fa? bu? kok diam? "
bu umi: " itu lho fa, ditanyain mas tiyo "
bu umi menepuk pundak ifa.
ifa menunduk,
ifa: " masih mas "
aku: " kalau kamu masih sendiri, bagaimana menurutmu jika aku maju jadi pendampingmu "
ifa semakin menunduk.
dia tidak berani menatap wajahku.
sedangkan bu umi yang duduk disebelah ifa hanya memperhatikan kami.
aku: " gimana bu umi? "
bu umi tersenyum,
bu umi: " tu nduk, ditanyain mas tiyo lagi lho, , "
ifa masih menunduk,
kini dia menyembunyikan wajahnya dibalik punggung ibunya.
bu umi: " mas tiyo ini sebelum kenal kamu sudah kenal ibu, ibu tau mas tiyo ini orang yang baik, nggak neko neko, yo bagus, , heh, kamu kok malah ngumpet koyo anak kecil sih, berat tau, kamu sama ibu itu gedean kamu "
ifa: " malu bu "
ifa masih menarik pundak ibunya agar bisa bersembunyi dibalik tubuh sang bunda.
aku jadi geli melihat sikapnya yang salah tingkah.
bu umi: " ayo duduk yang bener, "
ifa keluar dari balik punggung ibunya.
sesekali matanya mencuri curi pandang kepadaku.
namun langsung menunduk lagi.
aku: " gimana fa? kamu mau? nanti kita bisa belajar jadi baik bersama sama. katamu kan kamu sering bingung. aku siap mendengarkan kebingunganmu kok "
ifa masih menunduk.
wajahnya keliatan sekali memerah.
bibirnya berusaha menyembunyikan senyuman yang sedari tadi sudah mendesak untuk merekah.
ifa: " iya mas, "
suara ifa terdengar sangat pelan.
aku: " apa fa? aku nggak dengar? "
tanyaku meyakinkan.
ifa: " iya mas "
kali ini jawabannya agak keras,
aku tersenyum lega.
alhamdulillah, , , ,
bu umi: " mas tiyo beneran mau dengan ifa? kondisi keluarga ifa ini ya kaya gini mas "
aku: " memangnya kenapa to bu? keluarga saya juga keluarga susah, , , "
bu umi: " lha siapa tau nanti mas tiyo malu "
aku: " malu sama siapa bu? yang ada ifa yang malu "
bu umi: " malu kenapa mas? "
aku: " nggak tau, lha itu dari tadi wajahnya merah, , "
ifa: " aa, , mas tiyo apaan sii ah, , "
ifa yang sadar sedang kugoda langsung menjawab perlahan sambil menutupkan wajahnya ke bahu ibunya.
aku masih sempat melihat senyumnya.
senyum yang manis dengan hiasan gigi gingsul.
dari seorang gadis desa yang polos lagi pemalu, ,
dan malam itu,
setelah mengungkapkan perasaanku didepan sang ibunda,
aku memulai hubungan dengan ifa,
seorang gadis desa manis dan sederhana. . .
==
sheryl menjeda ceritanya. . .
dia menarik nafas agak dalam, ,
lalu dihembuskan.
mungkin ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya.
aku: " kamu bales apa dek? "
sheryl hanya menatap layar laptop, ,
aku jadi penasaran dengan kelanjutan ceritanya.
sheryl: " ya aku bales, dimaafkan "
aku melongo mendengar jawaban sheryl.
aku: " kapan kamu balesnya? aku nggak menerima pesan itu kayaknya "
sheryl melirikku,
sheryl: " aku bales dua hari setelah pesan terakhir mas tiyo, dan gagal "
aku hanya membatin, , " pantesan "
aku: " kamu bales dua hari setelah pesan terakhir yo jelas ae gagal dek, hapeku wes amblas "
sheryl diam, tidak meneruskan percakapan lagi dan hanya kembali membuka buka folder filmku yang memang sangat banyak.
aku jadi tidak enak hendak meneruskan.
namun aku sama sekali belum menemukan jawaban dari pertanyaan yang terus bergelayut di hatiku.
aku: " tapi sekarang kamu sudah mengerti kan kenapa waktu itu aku berkata seperti itu dek? "
sheryl: " udah "
aku: " jadi? "
sheryl: " apanya mas? "
sheryl berkata sambil menatap ke arahku.
aku: " aku sudah mengungkapkan perasaanku melalui pesan itu, , , "
sheryl diam
aku: " dan setelahnya aku selalu memilih untuk menutup diri dek, , "
aku nggak bisa lagi meneruskan kata kataku.
kupikir kata kata tadi sudah mewakili apa yang seharusnya kukatakan.
sekarang, aku mau menatap mata sheryl pun nggak berani. .
rasanya malu,
perempuan yang dulu pernah kutolak, saat ini malahan kutunggu tunggu jawabannya.
walau sebenarnya ini hanya untuk meyakinkan diriku sendiri dalam mengambil sikap berikutnya.
sheryl: " mas tiyo ngerti nggak. . .? "
sheryl membuka pembicaraan lagi sambil menatap jalanan.
aku: " apa dek? "
sheryl: " hati itu tempatnya bukan di kepala mas, , , nggk bisa disamakan seperti hitungan matematika "
suasana kembali hening.
jawaban barusan sudah benar benar membuatku tidak berani bertanya lebih jauh.
aku sadar posisiku dan tidak ingin suasana yang sudah kembali harmonis akan kembali canggung karena masalah perasaan.
aku: " ha ha, , iya dek, , maaf deh udah bikin kamu mengingat apa yang nggak ingin kamu ingat2 "
sheryl tidak menjawab.
dia hanya terus menatap jalanan.
aku melirik kepadanya, , ,
barulah aku menyadari apa yang sudah kulewatkan sejauh ini, ,
seorang gadis cantik nan baik yang sudah dikecewakan.
aku: " ya udah dek, , nggk usah dipikirkan lagi, terimakasih ya udah mau cerita "
aku berniat mengakhiri percakapan ini.
dari jawaban barusan, aku bisa mengerti.
keputusannya hingga sampai hari ini pasti sudah diambil setelah melalui hari hari yang berat.
hari hari yang dipenuhi ketidakpastian.
sheryl: " em, , , iya mas, nggak papa "
aku bangun dari dudukku.
entah mengapa rasanya bercampur campur.
sedih, menyesal, malu, , bercampur jadi satu.
sheryl: " mau kemana mas? "
aku: " mau istirahat duluan ya dek, besok mau balik pagi pagi soalnya "
sheryl: " ini laptopnya, , , "
aku: " pake aja dulu nggak papa "
sheryl: " oh, iya mas "
aku masuk kedalam dan pamit istirahat duluan kepada ayah yang masih nonton TV.
sekali lagi aku menginap di kamar almarhumah yang tidak terlalu banyak berubah.
hanya cat biru mudanya yang diperbaharui dan juga penataan ulang perabot di dalamnya.
aku berjalan menghampiri meja belajar yang terlihat sudah tua.
tempelan tempelan foto khas anak 90an masih melekat walau gambarnya memudar dan hampir tidak terlihat.
seingatku dulu itu adalah foto shita dengan dua orang perempuan lain yang masih berseragam SMA.
foto berbingkai dimana aku dan shita di malioboro dan jatim park pun sudah tidak ada.
aku duduk di bangku kecil yang terbuat dari kayu.
sambungannya sudah longgar sehingga ketika kududuki, kursi tersebut goyah, ,
ada suara berdecit . . .
aku kembali bangkit dari kursi kecil tersebut.
takut jika aku merusaknya.
karena setelah kembali masuk kekamar ini setelah sekian lama,
aku merasa ayah dan mamah membiarkan kamar ini tetap seperti semula,
beliau berdua ingin tetap memelihara kenangan tentang almarhumah didalam sini.
kurebahkan diriku di kasur.
sepreinya berbau wangi.
nampaknya mamah mengganti seprei dan sarung bantalnya tadi.
bau wangi yang sedikit mengingatkanku akan sesuatu.
aku memandang langit langit kamar,
pikiranku melayang. . .
setengah tahun ini berlalu dengan damai.
aku tidak merasakan konflik yang berarti sejauh ini.
setelah empat tahun berada di titik nadir,
setengah tahun ini aku merasa mulai bisa bangkit perlahan lahan dari segala keterpurukan.
bangkit dari keterpurukan ekonomi, ,
lalu bangkit dari masa masa pencarian jatidiri, ,
dan juga aku berhasil bangkit dari kesedihan mendalam sepeninggal shita.
sejujurnya dari ketiga hal tadi,
aku paling besar merasakan perubahan pada sisi jatidiri dan juga hati yang perlahan lahan kembali terbuka.
sebab, dari sisi ekonomi,
kehidupanku selalu naik dan turun semenjak aku kecil.
aku tidak terlalu merasakan perubahan berarti. .
dian sudah menyelesaikan sekolahnya.
dan tinggal tersisa si kecil ardi yang masih kelas 4. .
dari sisi pencarian jatidiri,
aku sudah mulai bisa menatap kedepan dengan jelas.
aku bisa membedakan apa yang kubutuhkan dan apa yang kuinginkan.
didalam benakku, akupun sudah membayangkan menjadi pribadi seperti apa aku kelak.
aku belajar, hidup adalah pilihan. .
kita dibekali akal agar bisa membedakan baik dan buruk beserta konsekuensinya masing masing.
kemudian kita akan dihadapkan pada kondisi yang mengharuskan kita memilih,
menjadi baik?
atau masih menuruti dorongan nafsu. . .
pilihan ditangan kita sendiri.
terakhir kembali kepada masalah hati.
empat tahun adalah waktu yang tidak sebentar.
selama empat tahun itu aku bereaksi dengan menutup diri.
perasaan sedih ditinggalkan almarhumah shita membawa trauma mendalam.
aku sama sekali tidak memberikan kesempatan kepada siapapun untuk masuk kedalamnya.
sekalipun itu sheryl.
sheryl,
ah, , tadi sheryl kira kira tersinggung nggak ya?
niatku tadi bertanya hanya untuk memastikan tentang perasaannya.
dan dari jawabannya,
aku menebak sheryl sudah mengubur perasaan suka itu.
walau sebenarnya pernyataan sheryl tadi masih terdengar mengambang.
jika memang seperti ini,
berarti aku sudah mantap untuk mencoba membuka hatiku untuk ifa.
walau jelas, sosok ifa berbeda dari shita dan sheryl,
" tok tok tok "
suara pintu diketok membuyarkan lamunanku.
aku: " buka aja nggak dikunci "
pintu dibuka sedikit dan aku melihat wajah sheryl menyembul dari balik pintu.
sheryl: " mas, ini laptopnya "
aku: " oiya dek "
aku bangun dan menghampiri sheryl di pintu.
sheryl: " makasih mas, koleksi filmnya banyak, , aku jadi punya kegiatan kalau lagi senggang, , hehe "
aku: " iya dek, sama sama "
laptop kuterima dari tangan sheryl.
aku: " oiya dek, kayaknya dulu diatas meja itu ada foto foto mbak shita ya? "
sheryl: " yang mana mas? "
aku: " yang ditaro didalam bingkai itu "
sheryl: " oh, ada mas, tak ambil, tak simpen di kamarku, kenapa mas? "
aku: " nggak papa dek, nanya aja kok "
sheryl: " mas tiyo masih inget aja ya? padahal nginep sini kan terakhir kan udah lama banget "
aku: " aku terbiasa mengingat detil dari hal hal yang berkesan dek "
sheryl: " pantesan, , , "
aku: " pantesan apa dek? "
sheryl: " pantesan susah move on, , hihihi, , piss mas "

aku: " iya juga ya dek, , hehe "
sheryl: " yo wes mas, silahkan dilanjutkan istirahatnya, , sory ya tak gangguin bentar, , "
aku: " gak popo, , jarang jarang kan kamu gangguin aku gini "
sheryl: " makanya sering2 kesini biar tak ganggu
, yo wes ah, met istirahat mas tiyo "aku: " met istirahat dek "
sheryl nyengir kepadaku dan berbalik menuju kamarnya.
kututup pintu kamar, kemudian kusimpan laptop di dalam tas.
setelah itu, kumatikan lampu kamar.
aku pergi tidur.
keesokan paginya aku kembali ke tulungagung dengan menggunakan bus.
sheryl mengantarku ke terminal sekaligus berangkat kuliah.
dalam perjalanan itu, kami bisa kembali ngobrol dengan normal.
tidak nampak lagi kecanggungan akibat dari percakapan kami semalam.
kuanggap ini sudah selesai dan aku tidak perlu menunggu jawaban apa apa lagi.
aku bisa berfokus memulai hal lainnya.
==
setelah hari itu,
aku berusaha lebih serius dalam mendekati ifa.
dalam hatiku, aku memang berniat untuk mengenal sosok ifa lebih jauh sebelum membuat keputusan.
walau sebenarnya aku bisa membaca jelas sinyal sinyal balasan dari ifa,
aku ingin lebih dulu mengenal dia dengan benar.
seiring berjalannya waktu,
aku dan ifa jadi semakin dekat.
aku mulai memahami sedikit tentang karakter ifa ini.
ifa adalah gambaran dari gadis pedesaan kebanyakan yang masih polos.
hanya saja, dia memiliki kelebihan yang tidak dialami oleh anak perempuan kebanyakan.
ifa pernah berada pada fase masa anak anak yang keras.
bu umi, ibu ifa,
sudah bercerai dengan ayahnya ketika ifa dan adiknya yang hanya berselisih satu tahun masih sangat kecil.
perceraian ini dipicu karena sifat ayah ifa yang suka bermain perempuan.
bahkan ifa tidak pernah tahu siapa ayahnya sampai dia menginjak bangku SMA.
ifa kecil hidup bersama kakek dan neneknya karena bu umi harus banting tulang bekerja sebagai TKW.
( bu umi sempat pulang ketika ifa berusia 5 tahun untuk menikah lagi, namun ternyata suami kedua beliaupun perangainya tidak jauh berbeda, bu umi jadi korban KDRT sehingga memutuskan kembali bercerai setelah memiliki seorang anak laki laki.
beliau kembali pergi menjadi TKW untuk membiayai ketiga anaknya )
masa kecil ifa dipenuhi dengan hal hal menyedihkan karena kondisi keuangan kakek dan neneknya pun serba terbatas.
ifa kecil sering dihina teman temannya karena tidak memiliki ayah dan ibu ( karena ifa tinggal dengan kakek dan neneknya )
selain itu para tetangga bukannya simpati, malah ikut menghina ifa dan juga si adik.
mereka berkata jika ifa dan adiknya sudah dibuang oleh orang tua mereka.
adik ifa yang bernama levi ( nama samaran ), sering menangis karena tidak tahan dihina dan dikucilkan.
jika sudah begini, ifa kecil lah yang berusaha membesarkan hati adiknya agar tidak menangis.
ifa yang kala itu masih SD berkata kepada levi jika ibu mereka saat ini bekerja jauh,
supaya mereka bisa sekolah, karena itu levi tidak boleh menangis dan harus kuat.
( adik laki laki mereka yang masih kecil dititipkan di keluarga dari suami kedua atas permintaan mertua bu umi.
mertua bu umi memang lebih sayang kepada menantunya daripada anak laki lakinya yang memang tempramental )
seiring bertambahnya usia,
ifa dan levi tumbuh menjadi gadis yang cantik dan menarik.
ifa menjadi sosok yang pendiam.
dia lebih banyak menyimpan segala masalahnya di dalam hati.
sedangkan levi tumbuh menjadi pribadi yang keras & blak2kan.
levi tidak akan sungkan sungkan melabarak orang yang tidak dia suka.
ketika ifa dan levi sudah masuk masa SMA,
bu umi memutuskan untuk pulang.
beliau merasa petualangannya bekerja di negeri orang sudah cukup,
toh anak anaknya sudah mulai tumbuh besar.
beliau ingin mencari rizki di rumah saja sambil mendampingi kedua putrinya dan putra bungsunya.
aku mendengarkan cerita ifa dengan seksama.
hatiku merasa sedih sekaligus simpatik.
pantas saja selama ini ifa lebih banyak diam,
berbeda dengan sheryl yang ( sebenarnya ) cerewet.
cerita inipun dia tuturkan setelah dia mempercayaiku sepenuhnya.
sebuah pesan moral bagi kita para laki laki,
bersikaplah baik kepada perempuan,
seburuk apapun pasangan kita, itu tak lepas dari kita sebagai laki laki.
sebab laki laki adalah al qowwam ( pemimpin ).
kita harus mengerti dan paham bagaimana cara menjadi pemimpin yang baik dan tidak sewenang wenang.
selalu mengayomi, namun tetap tegas diatas segala prinsip kita tanpa harus merendahkan diri untuk mengemis.
jika sampai terjadi perpisahan,
imbas paling besar adalah kepada anak anak.
seorang ayah dan seorang ibu yang berpisah tetap bisa melanjutkan kehidupannya walau terasa sulit,
namun bagi anak anak korban perceraian,
masa kecil yang seharusnya indah dan hangat sudah hancur.
ifa juga akhirnya bercerita kepadaku tentang angan angannya,
sebuah angan angan yang tidak pernah dia ceritakan kepada orang lain. .
dia ingin berubah, berubah menjadi lebih baik.
namun tidak tau dengan cara apa. . .
ifa: " mas, sebenernya aku juga berangan angan suatu hari nanti aku bisa seperti mereka, perempuan perempuan terhormat itu "
aku: " lho? kamu juga perempuan terhormat lho fa "
ifa: " maksudku mereka yang berasal dari kalangan berada, , yang mana orang tidak memandang rendah "
aku terdiam,
angan angan yang sederhana itu membuat dadaku sesak.
aku: " nggak harus jadi orang berada untuk jadi terhormat fa, "
ifa: " maksudnya mas? "
aku: " cukup kamu menjadi pribadi baik yang berguna bagi orang lain itu sudah mengangkat kehormatanmu "
ifa: " em, , aku ingin jadi seperti itu mas, tapi aku nggak yakin bisa "
aku: " mulailah dari hal hal sederhana agar terbiasa "
ifa: " contohnya mas? "
aku: " maafkan mereka yang selama ini sudah merendahkanmu, tunjukan kalau kamu perempuan berjiwa besar "
ifa terdiam.
ifa: " kayaknya sulit mas "
aku: " udah dicoba? "
ifa: " em, belum si, , , "
aku: " kok tau sulit darimana? "
aku tersenyum kepadanya.
ifa menarik nafas agak dalam dan menatap arah lain.
mungkin dia sedang berusaha berdamai dengan dirinya sendiri.
dirinya yang masih marah oleh hinaan dan celaan orang, ,
dan nanti setelah hatinya bisa damai, mungkin ifa bisa berdamai dengan orang orang yang dia tidak suka.
aku: " nggak usah terlalu dipikirkan, cukup dicoba saja dulu "
ifa: " iya mas, mungkin karena selama ini nggak ada sosok yang membimbing, jadi aku selalu bingung "
aku menangkap suatu kode lain dari ifa, ,
namun aku tidak mampu meneruskan, ,
sehingga percakapan kami kali ini berhenti begitu saja sampai akhirnya aku pulang. .
//
beberapa hari berlalu setelah percakapan terakhir kami tentang angan angan ifa untuk berubah.
aku jadi semakin menaruh perhatian kepada tekadnya,
jujur aku salut dengan perjuangannya selama ini untuk bisa bangkit dari kondisi sulit.
ketertarikanku kali ini rasanya berbeda dengan ketertarikanku yang sebelum sebelumnya.
suatu hari selepas maghrib di akhir bulan desember ketika kebanyakan orang sedang menikmati libur natal dan tahun baru,
aku yang tidak pulang karena kedapatan roster kerja pada pagi hari, berkunjung ke rumah bu umi.
aku: " assalamu'alaikum "
bu umi: " wa'alaikumsalam, , mas tiyo, monggo masuk, , "
aku: " terimakasih bu umi "
aku masuk kedalam rumah bu umi.
bu umi: " mas tiyo nggk pulang? kan liburan ini "
aku: " saya libur bersama orang orang hanya mitos bu, , hehe "
bu umi: " ealah, , kasian banget to njenengan mas, mau minum apa ini? "
aku: " ndak usah repot repot bu, "
aku menolak penawaran bu umi karena takut merepotkan beliau.
namun bu umi nampak memaksa dan masuk ke dalam.
tak lama beliau keluar dengan membawa segelas teh hangat.
aku berterimakasih kepada beliau.
bu umi: " monggo mas tiyo, , "
aku: " terimakasih bu "
bu umi: " ini tumben ada apa kok malam malam njenengan main kesini? "
aku: " e, anu, mau ngobrol sesuatu dengan njenengan "
bu umi: " ngobrol apa to? "
aku menarik nafas terlebih dahulu.
sebab apa yang ingin kutanyakan kepada bu umi ini adalah hal hal yang cukup serius.
aku: " bu, maaf ya sebelumnya, saya mau bertanya ini "
bu umi: " silahkan mas tiyo, mau nanya apa? "
aku: " saya mau nanya tentang putri njenengan, ifa "
bu umi: " ifa? lha emangnya kenapa mas? "
aku: " ifa itu pripun to bu anaknya? "
bu umi mengerutkan dahinya,
bu umi: " ifa ya kaya seperti yang mas tiyo liat, kaya gitu mas "
aku: " maksudnya karakternya itu seperti apa? "
bu umi nampak mulai paham arah pembicaraanku.
bu umi: " ifa ya gitu mas, anaknya pendiam, jarang ngomong, tapi banyak berpikir "
aku: " oh, gitu ya bu, makanya kemarin sempat ngobrol banyak hal dengan saya "
bu umi: " saya juga heran, sama njenengan kok mau terbuka, padahal sama saya yang ibunya aja nggak trlalu banyak ngobrol "
aku: " masa to bu? "
bu umi: " iya mas, mungkin karena saya lama nggak nyanding "
aku: " ealah, , lha terus selama ini dia ceritanya sama siapa kalau punya masalah? "
bu umi: " disimpen sendiri mas, makanya sering sakit dia, , kemarin tak suruh keluar dari tempat kerjanya di kota kan gara gara sering sakit "
aku: " ealah, gitu to bu "
bu umi: " lha mas tiyo kok nanya tentang ifa ada apa? "
aku terkejut langsung ditanya seperti itu.
bingung juga mau jawab apa, ,
aku: " aa, , , anu bu, , saya. . . "
" assalamu'alaikuum "
belum sempat aku menjawab,
dari luar sudah terdengar salam.
itu suara ifa.
benar saja, tak lama, ifa muncul di ambang pintu dengan wajah heran karena ada aku didalam.
ifa: " eh, ada mas tiyo, udah lama mas? "
aku: " ee, , belum fa, paling lima menitan yang lalu "
ifa masuk dan duduk disebelah ibunya.
rupanya dia baru saja datang dari rumah lama,
dia ingin menemani ibunya malam ini.
aku jadi agak canggung, ,
bu umi: " nah, mumpung ada orangnya mas tiyo, nanya sendiri monggo "
deg,
aku jadi benar benar bingung mau bilang apa.
padahal barusan dikepalaku sudah tersusun kata kata yang pas.
aku berusaha fokus lagi agar tidak berantakan dalam berbicara.
aku: " bu umi, ifa. . . "
mereka: " iya mas? "
aku menahan pembicaraanku sesaat.
otakku memastikan kata kata yang akan keluar sudah tepat.
aku: " saya mau bertanya satu hal "
ifa: " iya mas, tanya apa? "
aku: " em, apakah kamu masih sendiri fa? "
sesaat ruangan hening setelah aku selesai bertanya.
bu umi dan ifa terkejut.
terutama ifa, wajahnya langsung memerah.
aku: " fa? bu? kok diam? "
bu umi: " itu lho fa, ditanyain mas tiyo "
bu umi menepuk pundak ifa.
ifa menunduk,
ifa: " masih mas "
aku: " kalau kamu masih sendiri, bagaimana menurutmu jika aku maju jadi pendampingmu "
ifa semakin menunduk.
dia tidak berani menatap wajahku.
sedangkan bu umi yang duduk disebelah ifa hanya memperhatikan kami.
aku: " gimana bu umi? "
bu umi tersenyum,
bu umi: " tu nduk, ditanyain mas tiyo lagi lho, , "
ifa masih menunduk,
kini dia menyembunyikan wajahnya dibalik punggung ibunya.
bu umi: " mas tiyo ini sebelum kenal kamu sudah kenal ibu, ibu tau mas tiyo ini orang yang baik, nggak neko neko, yo bagus, , heh, kamu kok malah ngumpet koyo anak kecil sih, berat tau, kamu sama ibu itu gedean kamu "
ifa: " malu bu "
ifa masih menarik pundak ibunya agar bisa bersembunyi dibalik tubuh sang bunda.
aku jadi geli melihat sikapnya yang salah tingkah.
bu umi: " ayo duduk yang bener, "
ifa keluar dari balik punggung ibunya.
sesekali matanya mencuri curi pandang kepadaku.
namun langsung menunduk lagi.
aku: " gimana fa? kamu mau? nanti kita bisa belajar jadi baik bersama sama. katamu kan kamu sering bingung. aku siap mendengarkan kebingunganmu kok "
ifa masih menunduk.
wajahnya keliatan sekali memerah.
bibirnya berusaha menyembunyikan senyuman yang sedari tadi sudah mendesak untuk merekah.
ifa: " iya mas, "
suara ifa terdengar sangat pelan.
aku: " apa fa? aku nggak dengar? "
tanyaku meyakinkan.
ifa: " iya mas "
kali ini jawabannya agak keras,
aku tersenyum lega.
alhamdulillah, , , ,
bu umi: " mas tiyo beneran mau dengan ifa? kondisi keluarga ifa ini ya kaya gini mas "
aku: " memangnya kenapa to bu? keluarga saya juga keluarga susah, , , "
bu umi: " lha siapa tau nanti mas tiyo malu "
aku: " malu sama siapa bu? yang ada ifa yang malu "
bu umi: " malu kenapa mas? "
aku: " nggak tau, lha itu dari tadi wajahnya merah, , "
ifa: " aa, , mas tiyo apaan sii ah, , "
ifa yang sadar sedang kugoda langsung menjawab perlahan sambil menutupkan wajahnya ke bahu ibunya.
aku masih sempat melihat senyumnya.
senyum yang manis dengan hiasan gigi gingsul.
dari seorang gadis desa yang polos lagi pemalu, ,
dan malam itu,
setelah mengungkapkan perasaanku didepan sang ibunda,
aku memulai hubungan dengan ifa,
seorang gadis desa manis dan sederhana. . .
==
symoel08 dan 10 lainnya memberi reputasi
11