- Beranda
- Stories from the Heart
Patahan Salib Bidadari
...
TS
setiawanari
Patahan Salib Bidadari
In the name of Allah, the beneficient, the merciful
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Terimakasih untuk gambar sampulnya awayeye
Terimakasih Kaskus, khususnya untuk sub forum SFTH yang telah menyediakan tempat menampilkan sebuah cerita. Sebuah fasilitas yang akan saya gunakan untuk menulis dimulai dari hari ini hingga di hari-hari selanjutnya.
Terlepas dari nyata atau tidaknya cerita ini, adalah tidak terlalu penting karena sebagian dari kisah nyata dan sebagian dari imaginasi saya. Harapan saya tokoh-tokoh dalam cerita ini dapat menjadi inspirasi untuk para pembaca cerita yang saya tulis ini dapat menjadikan saya untuk terus berkreatifitas.
Mohon maaf jika materi dalam cerita ini nantinya ada kesalahan dan menyinggung pihak-pihak tertentu sekiranya nasihat, kritik dan saran dari agan/sista yang lebih berpengalaman selalu sangat saya harapkan.
Menemani istirahat untuk menghilangkan lelah setelah pulang kerja/sekolah/kuliah, atau saat sedang menunggu sesuatu mari kita baca ceritanya. Ditemani alunan musik dan segelas kopi/cokelat/susu/teh hangat kita kembali ke beberapa tahun yang lalu!!!.
PEMBUKA CERITA
Terpaku di dalam rasa cinta yang tak mungkin pudar, menanti cinta datang membawa arti sampai segenap organ ini berhenti.
Sore itu saat cuaca cerah di lantai 6 gedung akademisi yang melahirkan sarjana ekonomi terbaik aku termenung. Melamunkan manis, asam, asin dan pahitnya segala kehendak Tuhan yang dianugerahkan kepada salah satu ciptaanNya.
Manusia diberikan otak untuk berfikir dan menggunakan logika lalu diberikan hati untuk merasakan. Hati adalah malaikat sedangkan otak kadang menjadi iblis dan sangat sulit untuk mengontrolnya menjadi malaikat. Hati menjerit saat kita berbuat salah sedangkan otak adalah penyebab semua kesalahan yang dilakukan manusia. Malaikat dan iblis adalah gambaran dari manusia, sebagai simbol antara kebaikan dan kejahatan. Kebaikan tidak akan bersanding dengan kejahatan dan sebaliknya.
“Permisi Mas! Bisa pindah duduknya, lantainya mau di bersihkan!” Sapa seorang petugas cleaning service membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya mas”. Jawabku sambil berlalu pergi menuju tempat parkir motor tepatnya dihalaman depan kampus.
Karamnya cinta ini
Tenggelamkanku diduka yang terdalam
Hampa hati terasa
Kau tinggalkanku meski ku tak rela
Salahkah diriku hingga saat ini
Kumasih mengharap
Kau tuk kembali………
Sore itu gerimis turun saat aku pulang, tak terasa sampai ditempat kos yang kebetulan hanya berjarak 10 menit dari kampus air hujan membasahi jaket jeans yang ku kenakan. Segera aku mengambil handuk dan membersihkan diri, bersiap untuk mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Dengan ritual sholat Ashar aku merasakan kedamaian yang tidak ada bandingannya, sebagai bentuk kepatuhan dan rasa syukur atas semua yang diberikan Tuhan baik itu berkah yang membuat hati senang maupun musibah sebagai ujian kepada hambanya agar menjadi sosok yang lebih kuat.
Waktunya istirahat, kurebahkan badan ini di kasur busa sebagai surga dunia yang paling indah, sambil memutar lagu menemaniku melepas lelah. Secangkir kopi hitam telah kusiapkan untuk menghangatkan suasana karena diluar hujan turun semakin deras. Kupandangi sebuah kalung berwarna emas berliontin salib yang bersanding dengan sebuah kalung perak berliontin lafaz Allah, tergantung dibawah poster foto Ibu Sundari Sukotjo tepat di tengah-tengah dinding kamar kosku. Masih menampakkan kilaunya meski kalung-kalung itu sudah hampir 4 tahun lamanya. Aku bangkit dari tempat tidur, meminum sedikit kopi hitam, sambil menarik nafas dalam sedalam yang aku mampu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu di sore ini, ya aku merasakan suatu kerinduan yang luar biasa dengan pemilik kalung salib yang tergantung dikamarku, seorang yang sangat suka musik klasik, seseorang pecinta sepakbola, seseorang yang suka kopi hitam dan mungkin pernah mencintaiku walaupun tak pernah mengungkapkan sepatah katapun.
“Ya Tuhan hari ini aku kangen banget sama dia, meski tak sebesar kangen ku kepadaMu, tapi sungguh seolah-olah aku merasa sangat lemah dan sangat kehilangan. Hari ini tepat 4 bulan yang lalu dia beranjak pergi dari tempat ini, dia pergi untuk cita-citanya, untuk impiannya dan bodohnya aku belum sempat mengutarakan seluruh perasaanku kepadanya. Perbedaan keyakinanlah yang menghalangi, aku bahkan hanya bisa diam membisu saat ku ingin mengucapkan seluruh rasa cinta ini aku takut rasa cinta kepada makhluk ciptaanMu melebihi rasa cintaku padaMu. Tak kuasa air mata ini menetes, berusaha ku tahan tapi tak sanggup karena mungkin ini air mata rindu yang mencapai puncaknya.
Aku bukan seorang penulis tetapi hari ini tiba-tiba ingin sekali aku ingin sekali memainkan jariku di keyboard yang biasanya hanya kupakai untuk membuat tugas. Aku ingin menulis tentang dirimu tentang cerita kita, walaupun mungkin tidak berujung bahagia tidak apa karena mungkin dengan tulisan ini aku bisa mencurahkan segala isi hati dan kerinduanku kepada mu. Kenangan indah tentang hari-hari yang pernah kulalui dengan seorang bidadari yang telah merubah seluruh hidupku, meski meninggalkan perasaan yang terus menggantung entah sampai kapan. Bidadari yang datang di hidupku, menemaniku sejenak lalu pergi meninggalkan patahan salibnya di hidupku.
Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu
Sekilas Gambar Tentang Aku
Harapan Sesuai dengan Kenyataan
Kerikil Kecil dan Awan yang Jauh
Pertemuan dengan Sahabat
Sepatu Mengawali Sebuah Impian
Dunia Kampus dan Teman Baru
Keluarga Kecil Bernama HALTE
Sesuatu Mengganggu Pesta Akhir Smester
Diantara Rasa Kagum dan Penasaran
Meluapnya Sebuah Emosi
Hubungan yang Semakin Dekat
Kegelisahan Menghadapi Perasaan yang Berbeda
Siang Menjadi Malam dan Sebaliknya
Perjalanan yang Semakin Indah
Momen Menggelikan dan Warna Kehidupan
Dilema Menghadapi Ungkapan Perasaan
Tetangga di Sekitar Kami
Liontin Salib untuk Leher yang Indah
Kepedihan Cerita di Masa Lalu
Senyuman untuk Hati yang Terluka
Sosok yang Menjadi Pertanyaan
Mencoba Menghilangkan Trauma
Pelangi yang Hilang Bersama Turunnya Hujan
Malam Kebahagiaan Bersama Keluarga Kecil
Bidadari Kecil Kini Telah Dewasa
Kebahagiaan Kini Tinggal Prasasti
Semua Terjadi Sangat Cepat
Sebuah Cinta yang Salah
Surga yang Tak Layak untuk Dilihat
Rumput Dingin Di Bawah Bangku Taman
Pahitnya Sebuah Ucapan
Air Mata Menepis Kerasnya Kata-kata
Satu Langkah ke Arah Normal
Bertahan Hanya dalam Waktu Singkat
Semakin Tenggelam dalam Kedekatan
Lilin Kecil di Malam Penuh Kebahagiaan
Selamat Datang Kemarau
Kerinduan yang Teramat Dalam
Hembusan Angin Masa Lalu
Sayap yang Kuat Untuk Bidadari Kecil
Tinta Biru Menorehkan Luka
Berusaha Menyembunyikan Luka
Hilangnya Rasa Segan
Keberhasilan Tanpa Perayaan
Berharap Hanya Andai Saja
Serpihan Kenangan yang Menyiksa
Tempat Baru
Berita Baik Bersama Undangan
Selamat Menempuh Hidup Baru
Kesan yang Baik di Hari Pertama
Insiden Kecil dan Masa yang Telah Terlewati
Menutup Momen 4 Tahun Kebersamaan
Kotak Makan Siang
Keberanian Untuk Memulai
Pahitnya Sambutan Selamat Datang
Seperti Kembali ke Waktu Itu
Teka Teki dari Perhatian Sederhana
Cerita di Ujung Sore
Peneduh Panasnya Amarah
Mengungungkapkan tak Semudah Membayangkan
Titik Terang yang Terasa Gelap
Patahan Salib Bidadari
Terimakasih Untuk Masa yang Terlewati
Apa yang Sebenarnya Terjadi
Kembali Terjatuh
Dunia Ciptakan Keindahan
Dan Kebahagiaan [TAMAT]
Kata Penutup (Q&A)
Diubah oleh setiawanari 10-07-2018 17:35
nona212 dan calebs12 memberi reputasi
3
111.2K
608
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
setiawanari
#97
Kebahagiaan Kini Tinggal Prasasti
Suatu kejutan atau hal yang datang tidak kita duga sebelumnya meski kadang juga ditunggu oleh seseorang. Momen kejutan menjadi hal yang sangat menyenangkan jika kejutan itu adalah hal yang baik dan sebaliknya.
Persepsi seseorang tentang sesuatu hal belum tentu benar adanya dan saat persepsi itu salah maka seseorang tersebut akan sangat terkejut. Merasa seolah-olah mendapatkan suatu jawaban yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya.
Jumat sore aku pulang kuliah, menyusuri jalan masih dengan motor klasikku. Tiba di tempat kos aku langsung merebahkan diri di spring bed tanpa melepas sepatuku karena kelelahan. Hampir saja mata terpejam, aku mendengar ada seseorang membuka pintu kamarku.
“Hei, lo tidur kok masih pakai sepatu," Kata Ninda sambil duduk dan tiba-tiba melepas sepatuku.
“Eh elu Nin, kebiasaan masuk kamar orang gak ketok-ketok dulu.” Kataku beranjak duduk.
“Eh iya maaf abis gua buru-buru.” Kata Ninda meletakkan sepatuku di rak.
“Makasih Nin, tadi capek banget makanya gw langsung rebahan aja eh malah kebablasan tidur." Kataku
“Oooh, lo kayanya sakit Wan pucet banget, rada panas lagi badan lo.” Kata Ninda tangannya memegang keningku membuat perasaan ini sedikit aneh.
“ Gak papa biasa cuma capek doang kok tar juga baik lagi,"
“Bener gak papa tadinya gua mau ajak berangkat ke rumah sekarang, tapi kayanya lo capek banget mending lo istirahat aja.”
“Laaah gakpapa kok, beneran gw sehat capek ma wajar Nin namanya juga manusia, ayok mau berangkat sekarang?" Kataku.
“Serius gak apa apa? Hmmm yaudah mandi dulu lah.”
“Oke, lo tunggu sini aja ya.” Kataku bergegas mandi mengenakan baju kemudian memakai sepatu yang tadi dilepas Ninda.
“Gimana? Kita berangkat sekarang?" Kataku.
“Ayok, keburu macet tar," kata Ninda berjalan keluar kamarku terlebih dahulu. Kali ini dia menggunakan celana jeans biru dengan kaos putih dengan sedikit tulisan di bagian depannya.
“Lah lo gak pakai jaket Nin?" Kataku.
“Enggak lah, panas gini cuacanya." Jawab Ninda
“Yakin lo, lumayan jauh lho Jakarta ke Bekasi."
“Udah gak apa-apa, Awan." Kata Ninda berjalan ke luar gerbang Kos.
“Lha lo mau kemana, gak pakai helm emang?" Kataku mengikuti Ninda.
“Hahahahaha lo mau jadi orang gila naik mobil pakai helm wan, kocak banget ni anak.”
“Mobil siapa? Bukannya pakai motor Lo?” Kataku mengikuti Ninda dan menuju mobil sedan BM* hitam tahun 2002, terparkir di depan tempat kos. Mungkin mobil yang waktu itu pernah diceritakan Ninda. Kami masuk mobil, Ninda terlebih dahulu karena dia yang akan menyetir.
“Ini mobil peninggalan almarhum bokap lo? Masih terawat baik ya,?" Tanyaku.
“Iya, meski jarang dipakai w rutin service ke bengkel, sayang peninggalan orang tua kalau gak dirawat," Kata Ninda mengenakan kacamata hitam lalu menghidupkan mobil dan perlahan kami pun terbawa didalamnya menuju bekasi.
Selama ini aku tidak pernah menyangka wanita cantik di sekelilingku mampu mengendarai mobil, bahkan sampai punya mobil sendiri. Sherly, Laura, Lena, Viona, dan Ninda aku beruntung ada di sekeliling mereka. Hal ini tidak akan aku temui di kampung halamanku. Hanya anak-anak pejabat yang mungkin mampu melakukan hal yang dianggap biasa oleh wanita-wanita ini. Selama perjalanan aku dan Ninda tak banyak bicara hingga akhirnya aku tertidur. Aku baru terbangun saat mobil Sudah memasuki komplek rumah Ninda.
“Masih jauh Nin, hoioaaah.” Kataku terbangun.
“Ini udah mau sampai, lo tidurnya pules banget Wan?” Kata Ninda.
“Iya acnya dingin, jadi ngantuk.” Kataku membuka mata yang masih terasa berat.
Kamipun memasuki rumah 2 tingkat dengan desain minimalis didominasi cat warna putih, dengan list merah hati. Rumah dengan ukuran cukup besar, masih sangat terawat. Beberapa bunga dan tanaman tampak didepan rumah tersebut dengan kolam ikan kecil di sudut kanannya.
“Terimakasih Bu," kata Ninda kepada seorang ibu yang membukakan pintu gerbang rumah.
Kami turun dari mobil lalu masuk ke ruang tamu. Terdapat beberapa foto tertempel di dinding serta yang paling menonjol adalah lukisan abstrak tepat tertempel diatas meja televisi.
“Eh neng Ninda, sama siapa neng? Pacarnya ya? Biasanya kalau kerumah temennya cewek terus?" Kata ibu yang membukakan pintu gerbang membawakan 2 gelas air putih dingin.
“Iiih apaan sih Bu, temen Kos ku di Jakarta, kenalan dong.” Kata Ninda melangkah ke kamar mandi.
Akupun mengulurkan tangan ke ibu itu.
“Awan, Bu.” Kataku bersalaman.
“Oh iya saya ibu Parsi den, yang bantu-bantu neng Ninda, yuuuuuh asli Jakarta to den? Orang Jakarta ganteng-ganteng ya.” Tanya Bu Parsi.
“ Bukan Bu, saya perantau juga disana cuma kuliah saya aslinya Jawa Tengah.”
“Lho, Wong jowo? Jawa Tengah e mana, soale ibu juga orang Jawa?”
“Kulo Solo Bu, nggih leresipun Karanganyar, lha njenengan pundi?”
(Saya Solo bu, ya lebih tepatnya Karanganyar, kalau ibu mana?)
"Oaaalaah tonggo dewe jebul, aku Sragen den, lha tak kiro nek asli Jakarta, yowis dipenakne aku tak nyang mburi sek.”
(Yaampun ternyata tetangga, aku Sragen den, saya kira asli Jakarta, yaudah dikenalin aja saya tinggal kebelakang dulu)
“Nggih Bu.”
(Iya Bu)
Setelah meminum air dingin aku beranjak dari tempat duduk memperhatikan sekelilingku ruang tamu, beberapa foto aku lihat satu persatu.
“Hey, mandi sana wan, biar fresh," Kata Ninda memberikan handuk.
“Eh Nin ini foto-foto keluarga lo ya?" Kataku menunjuk beberapa foto.
“Iya, ini almarhum bokap sama nyokap, itu kakak cowo gw sama yang ini kakak cewek gw," kata Ninda memberikan penjelasan dengan menunjuk foto orang-orang yang dimaksud.
“Oooh.” Kataku merasa seperti agak sesak nafas ini melihat foto-foto itu, tampak kebahagiaan saat pengambilan gambarnya. Berbeda dengan kondisi saat ini, sangat berbeda jauh.
“Kok oooh doang.” Kata Ninda.
“Iya, lo mirip banget sama almarhum nyokap lo, Nin.”
“Ya iyalah namanya juga anaknya, yaudah sana mandi, biar gak bau, gw mau nyiapin barang-barang yang mau dibawa ke Jakarta.” Kata Ninda mendorong badanku.
“Iya, iyaaaa.” Kataku berjalan ke kamar mandi.
Dinginnya air yang mengguyur tubuh ini sedikit melegakan rasa lelah meskipun tidak menghilangkan pusing yang kurasakan sebelum berangkat ke tempat ini.
“Wuiiih banyak banget gimana bawanya tar? Emang muat mobilnya.” Kataku melihat barang bawaan Ninda yang terdiri dari lemari, dispenser, beberapa bantal, boneka, dan koper baju.
“Tenang aja w udah pesen mobil barang kok buat bawanya tar bantuin angkat-angkatin aja, apa lagi yang kurang ya?"
“Yaudah diinget-inget lagi aja kalau lupa ya dibawa lain hari.”
“Sip, eh kok lo rada pucet wan? Sakit ya?," kata Ninda memegang keningku.
“Aaaah enggak, kalau sakit mana kuat berdiri begini.”
“Tapi rada panas badan lo, yakin gak papa? Ke dokter yuk.”
“Ya kalau dingin ma mayat kali Nin, gak usah lah tar gw minum obat warung aja. Yaudah ayo mana mobil barangnya masih lama gak?"
“Yaelaaah, kita ke Jakartanya besuk pagi aja laah, gw mau istirahat, cape?"
“Jadi kita nginep? Disini? Bedua doang?" Kataku kaget.
“Ya iyalah lagian kan kamar diatas ada dua di bawah ada 2 juga lo tinggal pilih, yaudah cari makan dulu yuk, laper nih.” Kata Ninda menarik tanganku.
“Ooooohhh, oke.” Kataku mengikuti langkah Ninda seperti orang terhipnotis.
Kami berjalan menikmati udara malam Kota Bekasi yang hampir tidak jauh berbeda dengan Jakarta. Menikmati ayam goreng yang tidak jauh dari rumah Ninda, ditemani candaan penjualnya dengan logat orang Jawa Timur.
Hampir tengah malam kami kembali ke rumah, dan bersiap untuk beristirahat. Kami pun duduk di sofa menyaksikan acara televisi, sambil berbicara tentang rumah, Ibu Parsi, dan semua hal. Pembicaraan kami terhenti karena bunyi telepon seluler milik Ninda. Ninda berdiri mengangkat telefon itu dan beranjak menuju kamar. Baru kembali hampir seperempat jam kemudian.
“Abis telepon kok cemberut gitu mukanya tadi sebelum telepon ketawa ketawa, siapa? pacar lo ya?” Kataku.
“Hhhmmmm, ya begitulah panjang ceritanya.” Kata Ninda kembali duduk disampingku.
“Ooooh yaudah kalau gak mau cerita, tapi jangan cemberut gitu dong, tar ujan lho kalau cemberut gitu.” Kataku mencoba menghibur.
“Apa hubungannya coba ujan sama cemberut.” Kata Ninda tiba-tiba menyandarkan kepalanya di dadaku. Hal ini membuat jatungku berdetak beberapa kali lipat dari biasanya.
“Wan, masih banyak hal yang lo belum tau dari gw Wan kalau tau juga tar mungkin lo bakal menjauh.” Kata Ninda tiba-tiba meneteskan air mata.
“Maksudnya gimana? Kok lo bisa tau sesuatu hal yang belum tentu terjadi?"
“Ya, gua ngrasa gak pernah diterima di masyarakat aja Wan karena sifat dan kebiasaan gua, semuanya menjauh, dan mungkin saat ini cuma lo satu-satunya orang yang care sama gua padahal lo belum tau semua hal.” Kata Ninda menyeka air matanya dengan tisu yang aku berikan.
“Yaelah yaudah siih, gini aja gua janji gak bakal jauhin lo apapun itu tentang lo, kita kan begini terus selamanya gw janji, yaudah dong jangan nangis kalau ada masalah cerita aja siapa tau gw bisa bantu.” Kataku secara reflek tanganku mengusap-usap kepala Ninda.
“Hmmmm, gak ada masalah kok cuma hari ini gua kangen nyokap, bokap sama keluarga gw. Setiap gw berada di rumah ini seakan-akan gw selalu teringat semuanya, semua kenangan yang dulu pernah gw alamin disini, makanya gw jarang banget pulang kesini.” Kata Ninda yang kemudian tangannya memelukku.
“Oooh, ya kita kan punya nasib yang sama Nin, jadi gw juga sering ngrasain hal yang lo rasain, tapi kita harus yakin disana mereka juga lihat kita kok, kalau kita sedih justru mereka juga akan sedih.” Kataku mencoba menahan sesuatu yang ikut merespon.
“Iya Wan bolehnya gw tidur disini, ngantuk.” Kata Ninda semakin erat memelukku semakin gemetar pula rasanya jantung ini.
“Iya, boleh tapi jangan ngiler ya, aaauuwww sakit.” Kataku terhenti karena Ninda menyubit perutku.
Tak berselang lama nampaknya Ninda benar benar tertidur, karena rasa lelah menopang berat badannya aku menindurkannya di sofa, menutupi badannya yang terlihat sangat lelah dengan selimut.
Aku pandangi sejenak wajahnya dikala terlelap, wajah cantik yang tidak berkurang meski sedang di alam mimpi, entah apa yg kurasakan aku seperti ingin ikut bersama dalam mimpinya. Aku seolah merasakan apa yang saat ini dia rasakan, rasa rindu yang teramat dalam terhadap orang yang paling dekat dengan kita memebesarkan kita memberikan kenangan indah dimasa kecil dengan cerita-cerita dan nasehatnya.
“Ya Tuhan akhirnya aku terlelap disamping dia bidadari cantik dengan sejuta pertanyaan mengapa, siapa, kenapa dan bagaimana melanjutkan kisah ini nantinya.”
Beralaskan kasur busa di ruang tamu rumah ini aku menyusulnya ke alam mimpi, berharap esuk pagi kita akan selalu bertemu dengan cerita yang indah tanpa ada air mata yang harus membasahi wajah kami.
Pukul 6 pagi aku terbangun dari tidurku, ternyata Ninda sudah tidak ada di sofa. Aku segera bangkit mencuci muka lalu mengambil segelas air putih, beberapa saat setelah aku duduk sofa Ninda muncul.
“Hey udah bangun lo, Wan?" Kata Ninda mengambil air putih lalu duduk di sampingku.
“Udah, lo dari mana kok gak bangunin gua?" Kataku
“Abis joging tadinya gw mau bangunin tapi tidur lo kayanya pules banget, yaudah gw diemin."
“Harusnya lo bangunin aja tadi, biar gw bisa temenin lo joging, oh iya kapan mau balik ke Jakarta Nin?”
“Tar jam sembilanan aja, tadi mobilnya udah gw telpon, yaudah gw mandi dulu yak," kata Ninda.
“Oke, gak bareng aja Nin mandinya,... Iya iya iya nggak nggak jadi awwww.” Kataku terhenti karena cubitan Ninda mendarat diperutku.
Dia pun beranjak ke kamar mandi membersihkan keringat yang menetes membasahi tubuhnya. Beberapa waktu kemudian mobil pick up yang dipesan Ninda untuk membawa barang-barangnya tiba. Kami pun membantu menata barang barang itu sampai akhirnya terangkut semua dan mobil berangkat menuju Jakarta. Kami pun segera bergegas menuju Jakarta kembali, kali ini aku yang menyetir. Lagu-lagu radio menemani perjalanan kami hingga tiba di Jakarta, kebetulan jalanan sangat lancar karena hari minggu.
Sampai di tempat Kos kami langsung menurunkan semua barang-barang lalu menatanya di kamar Ninda, rasa lelah mengakhiri aktivitas kami.
“Wan cari makan yuk, laper nih.” Kata Ninda menarik tanganku kembali turun dari kamar kos menuju mobil Ninda. Sampai di tanjung duren mobil berhenti kami pun masuk ke tempat makan dengan menu utama bebek goreng.
“Wah lama-lama bisa gemuk kalau begini ma Nin malem ayam, siang bebek.”
“Yaudah lo gak usah pakai bebek, lo makan nasi sama lalapannya aja, hahahahaha.” Kata Ninda mengejekku.
“Enak aja, emang gw kambing.”
Tidak perlu menunggu lama makanan kami pun datang, 2 potong bebek bagian dada yang cukup besar dengan sambal cabai hijau dan lalapan sebagai pelengkap nya. Karena perut lapar kami pun dengan cepat menyantapnya, dan terhenti setelah kenyang.
“Aaah kenyang, makasih ya Nin, udah ditraktir.”
“Apaan sih, gw yang makasih Wan lo udah bantuin.”
“Aaah biasa aja itu ma, lagian kita kan tidur hanya dibatasi tembok, kita juga senasib di Kota ini jadi wajarlah kita saling bantu.”
“Iya sih, hehehehehe tapi kan gak adil kalau gini ma, masa lo mulu yang bantu gua lo gak pernah minta bantuan sama gua.”
“Hehehehe ya bentar lah kalau ada kerjaan yg sulit baru w minta bantuan lo.”
“Iiih enak aja, masa gua suruh ngerjain yang sulit sulit.”
“Ya maksudnya kalau gua gak bisa ngerjain sendiri baru gua minta bantuan lo.”
“Ooohhhh kirain, hehehehehe yaudah tenang aja selama w bisa pasti gua bantu," kata Ninda menyodorkan jari kelingkingnya, aku sambut dengan mengaitkan jari kelingkingku, kami bertatap sejenak, sampai akhirnya kami melepaskan tangan kami.
“Eh Nin, balik yuk.” Kataku.
“Ayuk." Jawab Ninda.
Selama perjalanan kami hampir sedikit sekali bicara, tiba-tiba entah ada rasa canggung diantara kami. Sampai ditempat kos aku segera merebahkan diri di spring bed, memejamkan mata sejenak, melepaskan rasa lelah yang tidak seperti biasanya.
Persepsi seseorang tentang sesuatu hal belum tentu benar adanya dan saat persepsi itu salah maka seseorang tersebut akan sangat terkejut. Merasa seolah-olah mendapatkan suatu jawaban yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya.
Jumat sore aku pulang kuliah, menyusuri jalan masih dengan motor klasikku. Tiba di tempat kos aku langsung merebahkan diri di spring bed tanpa melepas sepatuku karena kelelahan. Hampir saja mata terpejam, aku mendengar ada seseorang membuka pintu kamarku.
“Hei, lo tidur kok masih pakai sepatu," Kata Ninda sambil duduk dan tiba-tiba melepas sepatuku.
“Eh elu Nin, kebiasaan masuk kamar orang gak ketok-ketok dulu.” Kataku beranjak duduk.
“Eh iya maaf abis gua buru-buru.” Kata Ninda meletakkan sepatuku di rak.
“Makasih Nin, tadi capek banget makanya gw langsung rebahan aja eh malah kebablasan tidur." Kataku
“Oooh, lo kayanya sakit Wan pucet banget, rada panas lagi badan lo.” Kata Ninda tangannya memegang keningku membuat perasaan ini sedikit aneh.
“ Gak papa biasa cuma capek doang kok tar juga baik lagi,"
“Bener gak papa tadinya gua mau ajak berangkat ke rumah sekarang, tapi kayanya lo capek banget mending lo istirahat aja.”
“Laaah gakpapa kok, beneran gw sehat capek ma wajar Nin namanya juga manusia, ayok mau berangkat sekarang?" Kataku.
“Serius gak apa apa? Hmmm yaudah mandi dulu lah.”
“Oke, lo tunggu sini aja ya.” Kataku bergegas mandi mengenakan baju kemudian memakai sepatu yang tadi dilepas Ninda.
“Gimana? Kita berangkat sekarang?" Kataku.
“Ayok, keburu macet tar," kata Ninda berjalan keluar kamarku terlebih dahulu. Kali ini dia menggunakan celana jeans biru dengan kaos putih dengan sedikit tulisan di bagian depannya.
“Lah lo gak pakai jaket Nin?" Kataku.
“Enggak lah, panas gini cuacanya." Jawab Ninda
“Yakin lo, lumayan jauh lho Jakarta ke Bekasi."
“Udah gak apa-apa, Awan." Kata Ninda berjalan ke luar gerbang Kos.
“Lha lo mau kemana, gak pakai helm emang?" Kataku mengikuti Ninda.
“Hahahahaha lo mau jadi orang gila naik mobil pakai helm wan, kocak banget ni anak.”
“Mobil siapa? Bukannya pakai motor Lo?” Kataku mengikuti Ninda dan menuju mobil sedan BM* hitam tahun 2002, terparkir di depan tempat kos. Mungkin mobil yang waktu itu pernah diceritakan Ninda. Kami masuk mobil, Ninda terlebih dahulu karena dia yang akan menyetir.
“Ini mobil peninggalan almarhum bokap lo? Masih terawat baik ya,?" Tanyaku.
“Iya, meski jarang dipakai w rutin service ke bengkel, sayang peninggalan orang tua kalau gak dirawat," Kata Ninda mengenakan kacamata hitam lalu menghidupkan mobil dan perlahan kami pun terbawa didalamnya menuju bekasi.
Selama ini aku tidak pernah menyangka wanita cantik di sekelilingku mampu mengendarai mobil, bahkan sampai punya mobil sendiri. Sherly, Laura, Lena, Viona, dan Ninda aku beruntung ada di sekeliling mereka. Hal ini tidak akan aku temui di kampung halamanku. Hanya anak-anak pejabat yang mungkin mampu melakukan hal yang dianggap biasa oleh wanita-wanita ini. Selama perjalanan aku dan Ninda tak banyak bicara hingga akhirnya aku tertidur. Aku baru terbangun saat mobil Sudah memasuki komplek rumah Ninda.
“Masih jauh Nin, hoioaaah.” Kataku terbangun.
“Ini udah mau sampai, lo tidurnya pules banget Wan?” Kata Ninda.
“Iya acnya dingin, jadi ngantuk.” Kataku membuka mata yang masih terasa berat.
Kamipun memasuki rumah 2 tingkat dengan desain minimalis didominasi cat warna putih, dengan list merah hati. Rumah dengan ukuran cukup besar, masih sangat terawat. Beberapa bunga dan tanaman tampak didepan rumah tersebut dengan kolam ikan kecil di sudut kanannya.
“Terimakasih Bu," kata Ninda kepada seorang ibu yang membukakan pintu gerbang rumah.
Kami turun dari mobil lalu masuk ke ruang tamu. Terdapat beberapa foto tertempel di dinding serta yang paling menonjol adalah lukisan abstrak tepat tertempel diatas meja televisi.
“Eh neng Ninda, sama siapa neng? Pacarnya ya? Biasanya kalau kerumah temennya cewek terus?" Kata ibu yang membukakan pintu gerbang membawakan 2 gelas air putih dingin.
“Iiih apaan sih Bu, temen Kos ku di Jakarta, kenalan dong.” Kata Ninda melangkah ke kamar mandi.
Akupun mengulurkan tangan ke ibu itu.
“Awan, Bu.” Kataku bersalaman.
“Oh iya saya ibu Parsi den, yang bantu-bantu neng Ninda, yuuuuuh asli Jakarta to den? Orang Jakarta ganteng-ganteng ya.” Tanya Bu Parsi.
“ Bukan Bu, saya perantau juga disana cuma kuliah saya aslinya Jawa Tengah.”
“Lho, Wong jowo? Jawa Tengah e mana, soale ibu juga orang Jawa?”
“Kulo Solo Bu, nggih leresipun Karanganyar, lha njenengan pundi?”
(Saya Solo bu, ya lebih tepatnya Karanganyar, kalau ibu mana?)
"Oaaalaah tonggo dewe jebul, aku Sragen den, lha tak kiro nek asli Jakarta, yowis dipenakne aku tak nyang mburi sek.”
(Yaampun ternyata tetangga, aku Sragen den, saya kira asli Jakarta, yaudah dikenalin aja saya tinggal kebelakang dulu)
“Nggih Bu.”
(Iya Bu)
Setelah meminum air dingin aku beranjak dari tempat duduk memperhatikan sekelilingku ruang tamu, beberapa foto aku lihat satu persatu.
“Hey, mandi sana wan, biar fresh," Kata Ninda memberikan handuk.
“Eh Nin ini foto-foto keluarga lo ya?" Kataku menunjuk beberapa foto.
“Iya, ini almarhum bokap sama nyokap, itu kakak cowo gw sama yang ini kakak cewek gw," kata Ninda memberikan penjelasan dengan menunjuk foto orang-orang yang dimaksud.
“Oooh.” Kataku merasa seperti agak sesak nafas ini melihat foto-foto itu, tampak kebahagiaan saat pengambilan gambarnya. Berbeda dengan kondisi saat ini, sangat berbeda jauh.
“Kok oooh doang.” Kata Ninda.
“Iya, lo mirip banget sama almarhum nyokap lo, Nin.”
“Ya iyalah namanya juga anaknya, yaudah sana mandi, biar gak bau, gw mau nyiapin barang-barang yang mau dibawa ke Jakarta.” Kata Ninda mendorong badanku.
“Iya, iyaaaa.” Kataku berjalan ke kamar mandi.
Dinginnya air yang mengguyur tubuh ini sedikit melegakan rasa lelah meskipun tidak menghilangkan pusing yang kurasakan sebelum berangkat ke tempat ini.
“Wuiiih banyak banget gimana bawanya tar? Emang muat mobilnya.” Kataku melihat barang bawaan Ninda yang terdiri dari lemari, dispenser, beberapa bantal, boneka, dan koper baju.
“Tenang aja w udah pesen mobil barang kok buat bawanya tar bantuin angkat-angkatin aja, apa lagi yang kurang ya?"
“Yaudah diinget-inget lagi aja kalau lupa ya dibawa lain hari.”
“Sip, eh kok lo rada pucet wan? Sakit ya?," kata Ninda memegang keningku.
“Aaaah enggak, kalau sakit mana kuat berdiri begini.”
“Tapi rada panas badan lo, yakin gak papa? Ke dokter yuk.”
“Ya kalau dingin ma mayat kali Nin, gak usah lah tar gw minum obat warung aja. Yaudah ayo mana mobil barangnya masih lama gak?"
“Yaelaaah, kita ke Jakartanya besuk pagi aja laah, gw mau istirahat, cape?"
“Jadi kita nginep? Disini? Bedua doang?" Kataku kaget.
“Ya iyalah lagian kan kamar diatas ada dua di bawah ada 2 juga lo tinggal pilih, yaudah cari makan dulu yuk, laper nih.” Kata Ninda menarik tanganku.
“Ooooohhh, oke.” Kataku mengikuti langkah Ninda seperti orang terhipnotis.
Kami berjalan menikmati udara malam Kota Bekasi yang hampir tidak jauh berbeda dengan Jakarta. Menikmati ayam goreng yang tidak jauh dari rumah Ninda, ditemani candaan penjualnya dengan logat orang Jawa Timur.
Hampir tengah malam kami kembali ke rumah, dan bersiap untuk beristirahat. Kami pun duduk di sofa menyaksikan acara televisi, sambil berbicara tentang rumah, Ibu Parsi, dan semua hal. Pembicaraan kami terhenti karena bunyi telepon seluler milik Ninda. Ninda berdiri mengangkat telefon itu dan beranjak menuju kamar. Baru kembali hampir seperempat jam kemudian.
“Abis telepon kok cemberut gitu mukanya tadi sebelum telepon ketawa ketawa, siapa? pacar lo ya?” Kataku.
“Hhhmmmm, ya begitulah panjang ceritanya.” Kata Ninda kembali duduk disampingku.
“Ooooh yaudah kalau gak mau cerita, tapi jangan cemberut gitu dong, tar ujan lho kalau cemberut gitu.” Kataku mencoba menghibur.
“Apa hubungannya coba ujan sama cemberut.” Kata Ninda tiba-tiba menyandarkan kepalanya di dadaku. Hal ini membuat jatungku berdetak beberapa kali lipat dari biasanya.
“Wan, masih banyak hal yang lo belum tau dari gw Wan kalau tau juga tar mungkin lo bakal menjauh.” Kata Ninda tiba-tiba meneteskan air mata.
“Maksudnya gimana? Kok lo bisa tau sesuatu hal yang belum tentu terjadi?"
“Ya, gua ngrasa gak pernah diterima di masyarakat aja Wan karena sifat dan kebiasaan gua, semuanya menjauh, dan mungkin saat ini cuma lo satu-satunya orang yang care sama gua padahal lo belum tau semua hal.” Kata Ninda menyeka air matanya dengan tisu yang aku berikan.
“Yaelah yaudah siih, gini aja gua janji gak bakal jauhin lo apapun itu tentang lo, kita kan begini terus selamanya gw janji, yaudah dong jangan nangis kalau ada masalah cerita aja siapa tau gw bisa bantu.” Kataku secara reflek tanganku mengusap-usap kepala Ninda.
“Hmmmm, gak ada masalah kok cuma hari ini gua kangen nyokap, bokap sama keluarga gw. Setiap gw berada di rumah ini seakan-akan gw selalu teringat semuanya, semua kenangan yang dulu pernah gw alamin disini, makanya gw jarang banget pulang kesini.” Kata Ninda yang kemudian tangannya memelukku.
“Oooh, ya kita kan punya nasib yang sama Nin, jadi gw juga sering ngrasain hal yang lo rasain, tapi kita harus yakin disana mereka juga lihat kita kok, kalau kita sedih justru mereka juga akan sedih.” Kataku mencoba menahan sesuatu yang ikut merespon.
“Iya Wan bolehnya gw tidur disini, ngantuk.” Kata Ninda semakin erat memelukku semakin gemetar pula rasanya jantung ini.
“Iya, boleh tapi jangan ngiler ya, aaauuwww sakit.” Kataku terhenti karena Ninda menyubit perutku.
Tak berselang lama nampaknya Ninda benar benar tertidur, karena rasa lelah menopang berat badannya aku menindurkannya di sofa, menutupi badannya yang terlihat sangat lelah dengan selimut.
Aku pandangi sejenak wajahnya dikala terlelap, wajah cantik yang tidak berkurang meski sedang di alam mimpi, entah apa yg kurasakan aku seperti ingin ikut bersama dalam mimpinya. Aku seolah merasakan apa yang saat ini dia rasakan, rasa rindu yang teramat dalam terhadap orang yang paling dekat dengan kita memebesarkan kita memberikan kenangan indah dimasa kecil dengan cerita-cerita dan nasehatnya.
“Ya Tuhan akhirnya aku terlelap disamping dia bidadari cantik dengan sejuta pertanyaan mengapa, siapa, kenapa dan bagaimana melanjutkan kisah ini nantinya.”
Beralaskan kasur busa di ruang tamu rumah ini aku menyusulnya ke alam mimpi, berharap esuk pagi kita akan selalu bertemu dengan cerita yang indah tanpa ada air mata yang harus membasahi wajah kami.
Pukul 6 pagi aku terbangun dari tidurku, ternyata Ninda sudah tidak ada di sofa. Aku segera bangkit mencuci muka lalu mengambil segelas air putih, beberapa saat setelah aku duduk sofa Ninda muncul.
“Hey udah bangun lo, Wan?" Kata Ninda mengambil air putih lalu duduk di sampingku.
“Udah, lo dari mana kok gak bangunin gua?" Kataku
“Abis joging tadinya gw mau bangunin tapi tidur lo kayanya pules banget, yaudah gw diemin."
“Harusnya lo bangunin aja tadi, biar gw bisa temenin lo joging, oh iya kapan mau balik ke Jakarta Nin?”
“Tar jam sembilanan aja, tadi mobilnya udah gw telpon, yaudah gw mandi dulu yak," kata Ninda.
“Oke, gak bareng aja Nin mandinya,... Iya iya iya nggak nggak jadi awwww.” Kataku terhenti karena cubitan Ninda mendarat diperutku.
Dia pun beranjak ke kamar mandi membersihkan keringat yang menetes membasahi tubuhnya. Beberapa waktu kemudian mobil pick up yang dipesan Ninda untuk membawa barang-barangnya tiba. Kami pun membantu menata barang barang itu sampai akhirnya terangkut semua dan mobil berangkat menuju Jakarta. Kami pun segera bergegas menuju Jakarta kembali, kali ini aku yang menyetir. Lagu-lagu radio menemani perjalanan kami hingga tiba di Jakarta, kebetulan jalanan sangat lancar karena hari minggu.
Sampai di tempat Kos kami langsung menurunkan semua barang-barang lalu menatanya di kamar Ninda, rasa lelah mengakhiri aktivitas kami.
“Wan cari makan yuk, laper nih.” Kata Ninda menarik tanganku kembali turun dari kamar kos menuju mobil Ninda. Sampai di tanjung duren mobil berhenti kami pun masuk ke tempat makan dengan menu utama bebek goreng.
“Wah lama-lama bisa gemuk kalau begini ma Nin malem ayam, siang bebek.”
“Yaudah lo gak usah pakai bebek, lo makan nasi sama lalapannya aja, hahahahaha.” Kata Ninda mengejekku.
“Enak aja, emang gw kambing.”
Tidak perlu menunggu lama makanan kami pun datang, 2 potong bebek bagian dada yang cukup besar dengan sambal cabai hijau dan lalapan sebagai pelengkap nya. Karena perut lapar kami pun dengan cepat menyantapnya, dan terhenti setelah kenyang.
“Aaah kenyang, makasih ya Nin, udah ditraktir.”
“Apaan sih, gw yang makasih Wan lo udah bantuin.”
“Aaah biasa aja itu ma, lagian kita kan tidur hanya dibatasi tembok, kita juga senasib di Kota ini jadi wajarlah kita saling bantu.”
“Iya sih, hehehehehe tapi kan gak adil kalau gini ma, masa lo mulu yang bantu gua lo gak pernah minta bantuan sama gua.”
“Hehehehe ya bentar lah kalau ada kerjaan yg sulit baru w minta bantuan lo.”
“Iiih enak aja, masa gua suruh ngerjain yang sulit sulit.”
“Ya maksudnya kalau gua gak bisa ngerjain sendiri baru gua minta bantuan lo.”
“Ooohhhh kirain, hehehehehe yaudah tenang aja selama w bisa pasti gua bantu," kata Ninda menyodorkan jari kelingkingnya, aku sambut dengan mengaitkan jari kelingkingku, kami bertatap sejenak, sampai akhirnya kami melepaskan tangan kami.
“Eh Nin, balik yuk.” Kataku.
“Ayuk." Jawab Ninda.
Selama perjalanan kami hampir sedikit sekali bicara, tiba-tiba entah ada rasa canggung diantara kami. Sampai ditempat kos aku segera merebahkan diri di spring bed, memejamkan mata sejenak, melepaskan rasa lelah yang tidak seperti biasanya.
Diubah oleh setiawanari 18-09-2017 23:13
g.gowang memberi reputasi
1