Kaskus

Story

setiawanariAvatar border
TS
setiawanari
Patahan Salib Bidadari
In the name of Allah, the beneficient, the merciful
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Patahan Salib Bidadari
Terimakasih untuk gambar sampulnya awayeye

Terimakasih Kaskus, khususnya untuk sub forum SFTH yang telah menyediakan tempat menampilkan sebuah cerita. Sebuah fasilitas yang akan saya gunakan untuk menulis dimulai dari hari ini hingga di hari-hari selanjutnya.

Terlepas dari nyata atau tidaknya cerita ini, adalah tidak terlalu penting karena sebagian dari kisah nyata dan sebagian dari imaginasi saya. Harapan saya tokoh-tokoh dalam cerita ini dapat menjadi inspirasi untuk para pembaca cerita yang saya tulis ini dapat menjadikan saya untuk terus berkreatifitas.

Mohon maaf jika materi dalam cerita ini nantinya ada kesalahan dan menyinggung pihak-pihak tertentu sekiranya nasihat, kritik dan saran dari agan/sista yang lebih berpengalaman selalu sangat saya harapkan.

Menemani istirahat untuk menghilangkan lelah setelah pulang kerja/sekolah/kuliah, atau saat sedang menunggu sesuatu mari kita baca ceritanya. Ditemani alunan musik dan segelas kopi/cokelat/susu/teh hangat kita kembali ke beberapa tahun yang lalu!!!.


PEMBUKA CERITA

Terpaku di dalam rasa cinta yang tak mungkin pudar, menanti cinta datang membawa arti sampai segenap organ ini berhenti.

Sore itu saat cuaca cerah di lantai 6 gedung akademisi yang melahirkan sarjana ekonomi terbaik aku termenung. Melamunkan manis, asam, asin dan pahitnya segala kehendak Tuhan yang dianugerahkan kepada salah satu ciptaanNya.

Manusia diberikan otak untuk berfikir dan menggunakan logika lalu diberikan hati untuk merasakan. Hati adalah malaikat sedangkan otak kadang menjadi iblis dan sangat sulit untuk mengontrolnya menjadi malaikat. Hati menjerit saat kita berbuat salah sedangkan otak adalah penyebab semua kesalahan yang dilakukan manusia. Malaikat dan iblis adalah gambaran dari manusia, sebagai simbol antara kebaikan dan kejahatan. Kebaikan tidak akan bersanding dengan kejahatan dan sebaliknya.

“Permisi Mas! Bisa pindah duduknya, lantainya mau di bersihkan!” Sapa seorang petugas cleaning service membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya mas”. Jawabku sambil berlalu pergi menuju tempat parkir motor tepatnya dihalaman depan kampus.

Karamnya cinta ini
Tenggelamkanku diduka yang terdalam
Hampa hati terasa
Kau tinggalkanku meski ku tak rela
Salahkah diriku hingga saat ini
Kumasih mengharap
Kau tuk kembali………


Sore itu gerimis turun saat aku pulang, tak terasa sampai ditempat kos yang kebetulan hanya berjarak 10 menit dari kampus air hujan membasahi jaket jeans yang ku kenakan. Segera aku mengambil handuk dan membersihkan diri, bersiap untuk mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Dengan ritual sholat Ashar aku merasakan kedamaian yang tidak ada bandingannya, sebagai bentuk kepatuhan dan rasa syukur atas semua yang diberikan Tuhan baik itu berkah yang membuat hati senang maupun musibah sebagai ujian kepada hambanya agar menjadi sosok yang lebih kuat.

Waktunya istirahat, kurebahkan badan ini di kasur busa sebagai surga dunia yang paling indah, sambil memutar lagu menemaniku melepas lelah. Secangkir kopi hitam telah kusiapkan untuk menghangatkan suasana karena diluar hujan turun semakin deras. Kupandangi sebuah kalung berwarna emas berliontin salib yang bersanding dengan sebuah kalung perak berliontin lafaz Allah, tergantung dibawah poster foto Ibu Sundari Sukotjo tepat di tengah-tengah dinding kamar kosku. Masih menampakkan kilaunya meski kalung-kalung itu sudah hampir 4 tahun lamanya. Aku bangkit dari tempat tidur, meminum sedikit kopi hitam, sambil menarik nafas dalam sedalam yang aku mampu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu di sore ini, ya aku merasakan suatu kerinduan yang luar biasa dengan pemilik kalung salib yang tergantung dikamarku, seorang yang sangat suka musik klasik, seseorang pecinta sepakbola, seseorang yang suka kopi hitam dan mungkin pernah mencintaiku walaupun tak pernah mengungkapkan sepatah katapun.

“Ya Tuhan hari ini aku kangen banget sama dia, meski tak sebesar kangen ku kepadaMu, tapi sungguh seolah-olah aku merasa sangat lemah dan sangat kehilangan. Hari ini tepat 4 bulan yang lalu dia beranjak pergi dari tempat ini, dia pergi untuk cita-citanya, untuk impiannya dan bodohnya aku belum sempat mengutarakan seluruh perasaanku kepadanya. Perbedaan keyakinanlah yang menghalangi, aku bahkan hanya bisa diam membisu saat ku ingin mengucapkan seluruh rasa cinta ini aku takut rasa cinta kepada makhluk ciptaanMu melebihi rasa cintaku padaMu. Tak kuasa air mata ini menetes, berusaha ku tahan tapi tak sanggup karena mungkin ini air mata rindu yang mencapai puncaknya.

Aku bukan seorang penulis tetapi hari ini tiba-tiba ingin sekali aku ingin sekali memainkan jariku di keyboard yang biasanya hanya kupakai untuk membuat tugas. Aku ingin menulis tentang dirimu tentang cerita kita, walaupun mungkin tidak berujung bahagia tidak apa karena mungkin dengan tulisan ini aku bisa mencurahkan segala isi hati dan kerinduanku kepada mu. Kenangan indah tentang hari-hari yang pernah kulalui dengan seorang bidadari yang telah merubah seluruh hidupku, meski meninggalkan perasaan yang terus menggantung entah sampai kapan. Bidadari yang datang di hidupku, menemaniku sejenak lalu pergi meninggalkan patahan salibnya di hidupku.


Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu


Sekilas Gambar Tentang Aku
Harapan Sesuai dengan Kenyataan
Kerikil Kecil dan Awan yang Jauh
Pertemuan dengan Sahabat
Sepatu Mengawali Sebuah Impian
Dunia Kampus dan Teman Baru
Keluarga Kecil Bernama HALTE
Sesuatu Mengganggu Pesta Akhir Smester
Diantara Rasa Kagum dan Penasaran
Meluapnya Sebuah Emosi
Hubungan yang Semakin Dekat
Kegelisahan Menghadapi Perasaan yang Berbeda
Siang Menjadi Malam dan Sebaliknya
Perjalanan yang Semakin Indah

Momen Menggelikan dan Warna Kehidupan
Dilema Menghadapi Ungkapan Perasaan
Tetangga di Sekitar Kami
Liontin Salib untuk Leher yang Indah
Kepedihan Cerita di Masa Lalu
Senyuman untuk Hati yang Terluka
Sosok yang Menjadi Pertanyaan
Mencoba Menghilangkan Trauma
Pelangi yang Hilang Bersama Turunnya Hujan
Malam Kebahagiaan Bersama Keluarga Kecil
Bidadari Kecil Kini Telah Dewasa
Kebahagiaan Kini Tinggal Prasasti
Semua Terjadi Sangat Cepat
Sebuah Cinta yang Salah
Surga yang Tak Layak untuk Dilihat
Rumput Dingin Di Bawah Bangku Taman
Pahitnya Sebuah Ucapan
Air Mata Menepis Kerasnya Kata-kata
Satu Langkah ke Arah Normal
Bertahan Hanya dalam Waktu Singkat
Semakin Tenggelam dalam Kedekatan
Lilin Kecil di Malam Penuh Kebahagiaan
Selamat Datang Kemarau
Kerinduan yang Teramat Dalam
Hembusan Angin Masa Lalu
Sayap yang Kuat Untuk Bidadari Kecil
Tinta Biru Menorehkan Luka
Berusaha Menyembunyikan Luka
Hilangnya Rasa Segan
Keberhasilan Tanpa Perayaan
Berharap Hanya Andai Saja
Serpihan Kenangan yang Menyiksa
Tempat Baru
Berita Baik Bersama Undangan
Selamat Menempuh Hidup Baru
Kesan yang Baik di Hari Pertama
Insiden Kecil dan Masa yang Telah Terlewati
Menutup Momen 4 Tahun Kebersamaan
Kotak Makan Siang
Keberanian Untuk Memulai
Pahitnya Sambutan Selamat Datang
Seperti Kembali ke Waktu Itu
Teka Teki dari Perhatian Sederhana
Cerita di Ujung Sore
Peneduh Panasnya Amarah
Mengungungkapkan tak Semudah Membayangkan
Titik Terang yang Terasa Gelap
Patahan Salib Bidadari
Terimakasih Untuk Masa yang Terlewati
Apa yang Sebenarnya Terjadi
Kembali Terjatuh
Dunia Ciptakan Keindahan
Dan Kebahagiaan [TAMAT]

Kata Penutup (Q&A)
Diubah oleh setiawanari 10-07-2018 17:35
calebs12Avatar border
nona212Avatar border
nona212 dan calebs12 memberi reputasi
3
111.2K
608
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.7KAnggota
Tampilkan semua post
setiawanariAvatar border
TS
setiawanari
#78
Pelangi yang Hilang Bersama Turunnya Hujan.




Esok paginya aku bangun masih menyisakan sedikit rasa pusing. Aku pun berangkat ke kampus mengikuti satu mata kuliah yang berakhir setengah jam setelah azan zuhur. Sandro telah menunggu di halte, saat aku sampai disana.

“Berangkat sekarang San?" Tanyaku ke Sandro
“Bentar lah ngopi dulu, masih panas nih, ngademin otak baru juga kelar kelas.”
“Sip.” Kataku duduk memesan kopi, lalu meminum sedikit demi sedikit sebagai pelengkap menghisap rokok.

Halte tampak tidak terlalu ramai siang ini mungkin karena kesibukan persiapan UAS.

“Eh udah setengah dua ni, berangkat yuk.” Kata Sandro berdiri.
“Ayok, pakai mobil lo aja ya.”
“Yaudah lo ke kos dulu naruh motor, gua ambil mobil tar gua nyusul kesana.”Jawab Sandro.

Kami berpisah dihalte, aku menuju tempat kos sementara Sandro menuju parkiran kampus untuk mengambil mobilnya. Tak lama kemudian Sandro tiba di tempat Kos, aku masuk mobil dan akhirnya beranjak menuju Kelapa Gading.

Jalanan ibukota yang macet disana-sini menghabiskan waktu satu jam untuk kami sampai di lokasi. Sesampai disana kami langsung menuju toko dan membeli tas yang diinginkan Sandro.

“Wan lo gak mau sekalian beli sepatu futsal disini ada gerai ad*das gede, siapa tau ada yang lo cari?" Kata Sandro.
“Oh, boleh tu San liat yuk," Jawabku
“Liat doang tapi beli gak?”
“Yaudah liat dulu aja, kalau ada yang sreg gua beli.”

Kami berjalan ke tempat yang dimaksud Sandro yang letaknya tidak terlalu jauh dengan tempat kami sekarang. Semuanya tidak sia-sia karena sepatu yang selama ini aku cari masih tersedia sesuai dengan ukuran kakiku. dengan uang yang cukup aku membelinya, kemudian rasa lapar menuntun kami mencari tempat makan.

Saat melewati salah satu tempat makan Sandro menarik tanganku.

“ Wan, itu bukannya Sherly ya?" Kata Sandro menunjukkan sosok yang memang benar dia sebutkan.
“ Ah bukan kali San, tapi.....!” Jawabku tertahan karena melihat pemandangan di depan mataku yang membuat dada ini sedikit sesak.

Aku melihat Sherly dengan seorang lelaki yang mungkin usianya seumuran denganku. Mereka duduk berhadap-hadapan dengan dibatasi meja kecil yang diatasnya terdapat minuman dingin dan makanan ringan.

“Wah sama siapa tu anak, Wan samperin yuk.” Ajak Sandro ingin melangkah ke arah Sherly tapi terhenti karena ku pegang tangannya.
“Jangan San, kita lihat dari sini aja sebentar.” Jawabku sambil memperhatikan Sherly dari kejauhan.

Kali ini kulihat lelaki itu memperlihatkan sesuatu yang dikeluarkan dari tasnya. Sebuah kotak cincin, lalu tangan nya meraih tangan Sherly dan memakaikan cincin di jari manisnya. Sherly tampak sangat bahagia bahkan sempat kulihat meneteskan air mata yang dengan sigap di usap lelaki itu. Kemudian menggeser duduknya merapat di samping Sherly. Aku merasa sedikit cemburu melihat kebahagiaan yang mereka rasakan.

“Ooh jadi ini yang namanya Arfan yang telponnya membangunkanmu saat tidur di mobil waktu itu, sepertinya dia cowok baik, Sher dan kelihatan cocok denganmu.” Batinku menahan perasaan yang aneh.

Disatu sisi aku merasakan sakit karena disaat aku mulai jatuh cinta dan merasa semakin dekat dengannya tiba-tiba harus kuterima kenyataan didepan mata ini. Tetapi disisi lain aku merasa bahagia karena Sherly ternyata telah menemukan cinta jauh sebelum mengenalku dan berusaha menyembunyikannya karena mungkin dia takut aku menjauh. Dia telah menemukan lelaki yang bisa menjaganya, terlihat lebih serius dalam menjalani hubungan cintanya dengan Sherly.

“Udah ngapain lo malah nunggu disini udah ayo kita samperin.” Kata Sandro.

Akupun mengajak Sandro menjauh menuju tempat makan, lalu duduk dan memesan makanan.

“Lho kok lo malah diem aja sih Wan emang lo udah gak jalan sama Sherly? Perasaan kemarin lo masih beduaan mulu.”Tanya Sandro dengan nada kesal dan kebingungan.
“Ya udah waktunya lah San.”
“Maksudnya?"
“Ya udah waktunya gua tahu dan lo juga tau semuanya.”
“Bentar, bentar! gua masih belum paham,"
“Jadi hari ini gua juga baru tau kalau Sherly ternyata udah punya cowok, dan lo juga harus tau kalau selama ini gua sama Sherly cuma pura-pura pacaran aja, ya awalnya cuma hindarin dia dari Randy aja tapi ternyata kami melanjutkan sampai saat ini.”
“YaTuhan Jesus, jadi selama ini Lo sama Sherly?"
“Ya gak ada hubungan apa-apa cuma sebatas temen aja, makanya waktu lo liat gua tidur sama dia di kosan itu gak terjadi apa-apa.” Kataku membuat Sandro bergeleng-geleng kepala.

“Terus sekarang gimana, kok dia gak pernah cerita sama lo, sama aja lo dimain-mainin sama dia Wan?”Kata Sandro.
“Mungkin dia menunggu waktu yang pas aja San. Lo mau tau kan Sherly itu cewek kaya gimana? Bentar gua telpon dia, kalau dia cewek baik dia gak bakalan boong.” Kataku menelpon Sherly tidak lupa aku aktifkan loudspeaker.

Tuuuuuutttt. Tuuuuuutttt.

“Hallo, assalamualaikum.” Suara Sherly mengangkat telpon.
“Walaikumsalam, Sher lagi dimana?”
“Ooh, lagi makan Wan di Kelapa Gading.”
“Makan aja jauh amat, gak ngajak-ajak nih? Lo sendirian?”
“Hahahahaha sesekali lah, maaf gua gak bisa ngajak lo, gua lagi sama seseorang yang jauh-jauh dateng ke Jakarta, tar gua kenalin deh tapi gak bisa sekarang Wan.”
“Hhmmm, oke kalau begitu, met makan Sher, salam buat temen makannya, pulangnya hati-hati ya.”
“Iya, makasih ya Wan, assalamualaikum."
“Walaikum salam." Kataku mematikan telepon dan kembali melanjutkan pembicaraanku dengan Sandro.

“Gimana dia gak boong kan? Berarti dia hargain gua sebagai sahabatnya.” Kataku puas dapat membuktikan ke Sandro.
“Puji Tuhan tapi kok lo bisa ya?”
“Aah sudahlah makanya kalau ngomong disaring, lo udah koar-koar ternyata ini semua cuma permainan kan?”
Iya-iya sial jadi selama ini gua ketipu sama kalian,"
“Ya begitulah, sorry ya tapi sekali lagi jangan bilang sama yang lainnya dulu biar gua sama sherly yang kasih tau perlahan-lahan,"
“Oke, udah jam setengah 6 nih cabut yuk," kata Sandro dan kami pun meninggalkan Mall menuju tempat kos.

Meskipun aku bersikap seolah tidak terjadi apa-apa di hadapan Sandro tapi hatiku sedikit kecewa, melihat kenyataan ini. Hatiku merasakan sakit justru melebihi rasa sakit saat aku harus kehilangan Laura. Aku takut Sherly menjauh dan aku kehilangan kenyamanan yang selalu ia berikan. Disaat aku mulai menikmati dan rasa cinta ini terus tumbuh aku harus membuang perasaan itu jauh-jauh. Ini semua permainan dan ini aku malah tenggelam ke dalam perasaan yang harusnya tidak terjadi. Aku berharap dapat segera menekan tombol restart.

Tit... Tiiiit....tiiittt...

“Wan Lagi sibuk gak?” SMS dari Sherly.
“Ooh, gak Sher ada apa? Balasku
“Kalau gak sibuk, temuin gw di St*rbucks Tomang ada yang mau gw omongin sekaligus gua kenalin.”
“Oke, gua kesana sekarang ya.”
“Sip, tak tunggu ya!!!!” Balas Sherly.

Aku bergegas menyalakan motor dan menuju ke lokasi yang hanya membutuhkan waktu 15 menit sampai disana. Selama di perjalanan pikiran ku tidak karuan ada perasaan canggung membayangkan bertemu dengan Sherly dan tentu saja dengan sosok yang bernama Arfan. Entah aku sendiri tidak mengerti dengan perasaan yang tiba-tiba muncul seperti ini.

“Assalamualaikum, Hay Sher." Sapaku saat menemui mereka.
“Walaikumsallam salam." Jawab Sherly dan Arfan hampir bersamaan, mereka berdiri sambil mengulurkan tangannya.
“Awan.” Kataku menyalami tangan Arfan sambil meletakkan segelas expreso hitam.
“Arfan… Ayo silahkan duduk mas.” Balas Arfan.

“Makasih ya Wan udah mau dateng, oh iya cepet banget emang gak macet?”Kata Sherly.
“Macet dikit sih tapi biasa lah kan bawa motor jadi bisa nyelap nyelip.” Jawabku.
“Oh iya Wan, ini Arfan orang yang waktu itu mau gua kasih tau ke Lo, ini calon suamiku kami sama-sama dari Magelang, cuma kebetulan mas Arfan kuliahnya di Jogja.” Kata Sherly membuat hati ini sedikit terkuka
“Ooh iya, iya salam kenal ya Mas.” Jawabku.
“Iya sama-sama Mas, oh iya setiap telpon Sherly sering cerita ke saya Lho mas mengenai mas Awan ini.” Jawab Arfan.
“Ooh begitu to, hahahaha waah yowis Ndak usah panggil mas panggil wae Awan wong kita sepantar to seoertinya!” Kataku.
“Oke2 mas eh Awan Yo, hahahaha.” Jawab Arfan.

Tanpa waktu lama kami pun cepat akrab karena Arfan tipikal orang yang mudah bergaul. Mempunyai materi obrolan yang sangat nyambung denganku.

“Oh iya Wan aku Ndak bisa lama-lama soal e ada janji sama temen di hotel tempatku nginep harus balik sekarang, aku tak balik duluan ya nitip Sherly tar pulangnya bareng kamu ya Wan.” Kata Arfan.
“Ooh gak apa2 ni Fan, gak takut tar Sherly nya gw bawa kabur, hahahahahaha.” Jawabku.
“Aaah aku udah percaya kamu sama Sherly, hahahahaha.”
“Oke siap, laksana kan, hati-hati dijalan ya.” kataku menyalami Arfan.
“Yaudah Lo disini dulu ya Wan, gua anter mas Arfan dulu ke taksi.” Kata Sherly beranjak mengantarkan Arfan.

Aku memperhatikan dari kejauhan mereka nampak seperti pasangan yang nyaris sempurna. Sepertinya mereka saling menyayangi dan mencintai dari cara bicara, tatapan mata dan raut wajah mereka, meskipun harus terpisah oleh jarak.

“Wan, kok bengong mikirin apa.” Kata Sherly duduk di depanku setelah mengantar Arfan menuju taksi.
“Oh, gak mikirin apa-apa Sher, cuma salut aja sama Arfan percaya banget sepertinya sama Lo.” Jawabku sedikit berbohong karena masih tidak percaya dengan kejadian ini.
“Oooh iya lah gw udah cerita banyak ke dia tentang Lo, dan dia udah anggap Lo itu sebagai kakak gw Wan.” Jawab Sherly.
“Hahahaha akhirnya semuanya udah jelas sekarang Sher.”
“Maksudnya Wan?" Kata Sherly.
“Iya sekarang gw udah tau pacar Lo Sher, dan kedepannya gimana, udah saatnya kita jujur sama anak-anak tentang semua ini.” Kataku.
“Iya Wan udah waktunya, terimakasih ya Wan atas semuanya atas waktu dan pengorbanannya. Padahal gua dateng sebagai orang lain datang sebagai bukan siapa-siapa Lo dan udah banyak bikin repot Lo.”
“Iya Sher sama-sama Lo bukan orang lain kok Lo dateng sebagai temen sebagai tempat gw berkeluh kesah, dan gak mudah bagi gw seorang pecandu alkohol bisa punya temen sebaik Lo.”

“Wan, ada satu pertanyaan yang harus Lo jawab secara jujur Wan, kenapa sih Lo mau ngelakuin ini semua bahkan sampai Lo ngorbanin perasaan Lo ke Laura waktu itu?" Pertanyaan Sherly yang membut aku gugup.

“Hhmm kenapa ya? Jujur Sher setiap waktu gua deket sama Lo semakin nyaman dan mungkin timbul juga rasa suka, sayang sama Lo Sher...” Jawabku.
“Suka, jadi.....," Kata Sherly kaget.

“Maksudnya bukan suka dan sayang pengen jadi kekasih, mungkin seperti hubungan Jack Sparrow dan Elizabeth Turner. Mereka sering berselisih paham tapi dalam hati mereka tetep saling menjaga. Jack selalu ada, melakukan semuanya karena hubungan sebagai teman dan untuk Will Turner. Lagian cowok yang hampir setiap saat mendampingi bidadari secantik dan sebaik pasti timbul rasa suka, dan gw juga cowok normal Sher. Tapi semuanya hanya sebatas itu tidak akan pernah rasa itu maju ke arah yang lebih jauh karena ada suatu hal yang gua sendiri pun gak tau jawabannya, Sher sampai kapanpun elu, Laura perasaan gw sama kalian sejujurnya suka tapi hanya sebatas suka tidak pernah ada keinginan untuk memiliki,"

“Iya Wan gua ngerti, gua juga awalnya kagum sama Lo, Lo itu cowok yang baik meskipun kelihatannya dari luar Lo itu cowok gak bener tapi hati Lo dan sikap Lo itu seorang cowok dewasa dan pekerja keras,"
“Hahahaha iya Sher, eh ngomong-ngomong udah lama pacaran dengan Arfan?"
“Udah 3 tahun sejak gw kelas 3 SMA Wan."
“Lho kok malah murung gitu?" Tanyaku
“Ooh gak apa-apa Wan lagi mikirin sesuatu aja sebelum gw kenal sama Arfan gua sempet salah bergaul, sampai akhirnya dia yang terus kasih semangat ke gua hingga akhirnya sampai seperti ini."
“Yaudahlah intinya sekarang yang lalu lalu gak usah dipikirin Sher, boleh diinget sebagai pelajaran ke depannya.”
“Iya Wan sekali lagi makasih ya dan kedepannya kita kaya biasanya aja ya Wan jalan bareng, ngopi bareng belajar bareng,"
“Siap tuan putri, gak mandi bareng kan tapi?”
“Iiih enak aja, yaudah pulang yuk udah sore, anterin sampai apartemen yak? Hehehehe" ajak Sherly.
“Lha emang Lo gak bawa mobil?”
“Enggak tadi gw naik taksi, pulang kuliah langsung ke kelapa gading.”
“ Oh yaudah, untung tadi bawa helm 2 gw yuk.” Kataku beranjak dari kafe.

Kami pun meninggalkan lokasi menuju apartemen Sherly,dalam perjalanan kami berbincang seperti biasanya tidak ada yang berubah. Meskipun ada sedikit perasaan sedih di dalam hatiku karena aku harus merelakan pelangiku pergi bersama derasnya hujan malam ini tepat 10 menit setelah aku sampai di tempat kos.
Diubah oleh setiawanari 10-06-2018 12:51
g.gowang
g.gowang memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.