- Beranda
- Stories from the Heart
ALL I ASK OF YOU
...
TS
gagalrampage
ALL I ASK OF YOU
Quote:

Kata Pengantar
Sedikit pengenalan, gua mahasiswa semester 6 disebuah PTS daerah Kabupaten Bogor. Selain kuliah, gua juga kerja disebuah perusahaan yang bergerak dibidang penjualan dan jasa. Saat ini gua baru 1 tahun kerja, karena terlalu banyak waktu luang di kantor kadang gua bingung mau ngapain. Jadi, izinkan gua menulis untuk mengisi waktu santai saat jam kerja (dari pada bengong).
Jika ada kata salah atau yang kurang dimengerti dalam penulisan, mohon untuk keritik dan sarannya agar lebih baik kedepannya.
Terima kasih, dan selamat membaca.
Quote:
Diubah oleh gagalrampage 15-09-2017 11:42
anasabila memberi reputasi
1
3.8K
Kutip
24
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gagalrampage
#20
Quote:
Bagian 4
Setelah jadian di rumah pagi itu, gua jadi sering ngajak Disa makan di luar. Selain untuk menghindari kemungkinan besar kami akan melakukannya saat di rumah juga gua takut kalau nanti keterusan dan kebiasaan karena kami sesekali melakukannya. Entah itu di rumah gua, rumah Disa, bagian dapur, kamar, hotel, yang pasti gua gak pernah di kebun.
Disa orangnya curigaan tapi dia gak suka dicurigai, gua sepakat menuruti permintaannya bertukar hp begitu juga dengan nomor hp dan semua akun sosmed. Baru dua hari gua dibuat malu dengan kelakuan Disa yang suka ngata-ngatain perempuan yang komen status atau foto gua pedahal itu sepupu. Gua sering melihatnya merespon komen dari lelaki lain disosmednya, kadang digoda atau bahkan yang gak enak dibaca. Sekalipun gak pernah gua permasalahkan, tapi setiap kali ada lawan jenis yang mengomentari postingan di sosmed gua pasti dia kata-katain.
Berantem, caci maki dan ngediemin itu udah gak asing lagi dalam hubungan, gua sering denger kata-kata kasar dan kotor dari mulutnya walau pun kadang hanya masalah kecil yang dibesar-besarkan. Kata Dosen, golongan darah B itu egois dan suka berlebihan. Gua langsung percaya, karena dia memiliki dua sikap kampret tersebut.
Perkuliahan dimulai pukul 18:30 WB, tapi gua hanya hari pertama datang tepat waktu selanjutnya datang jam 19:00 lebih bahkan pernah hampir jam 20:00 baru datang, tentu gua beralasan kuat seperti ‘ada kerjaan tambahan’. Sebenarnya hampir mirip, namun lebih tepatnya dikerjain bukan kerjaan.
Disa kerja sampai jam 18:00, kalau ada lemburan maka jam 19:00 harus kembali ke pabrik. Lembur itu jarang, tapi dia setiap kali gua jemput selalu gak mau langsung pulang. Makanlah, anter beli ini itu sampai akhirnya gua jadi punya reputasi buruk di kelas karena datang selalu telat.
‘Datang telat, pulang lebih awal’
Itulah yang dinilai tentang gua di kelas, selain datang yang selalu telat juga gua pulang selalu lebih awal. Menjelang puasa pabrik jadi sering lembur, katanya sih untuk menutupi libur panjang nanti. Disa lembur sampai jam 20:30 sedangkan gua kuliah sampai jam 20:30 - 21:00.
Jarak kampus ke pabrik itu dapat ditempuh sekitar 10-15 menit dengan kecepatan penuh, dan gak ada kata maaf jika telat. Pernah beberarapa kali telat hanya itungan detik, tapi saat sampai depan gerbang pabrik harus melihatnya dengan bibir manyun dan puluhan pesan dengan kata-kata kotor dan kasar. Dia gak mau kalau sampai gua belum ada di luar gerbang saat dia keluar, sikapnya makin berlebihan dan begonya gua masih nurutin karena gua juga khawatir dengan orang gila yang suka ada di depan pabrik. Disa takut orang gila, tapi kenapa gak nunggu di dalam gerbang pabrik ? ah entalah, gua gak ngerti dengan jalan pikirannya.
Oce sepupu gua pernah menasehati untuk gak terlalu menurutinya, jangan terlalu memanjakannya karena akan semakin melunjak. Gua menurutinya hanya dengan alasan pernah janji bakalan trus manjain dia, walau pun gua gak pernah kepikiran bakalan seburuk ini keadaannya.
Pernah suatu hari Disa menyuruh gua melakukan hal-hal yang seharusnya bisa dia lakukan sendiri di depan Elis sepupu perempuan gua, hasilnya setelah itu jadi banyak sodara gua yang gak setuju dan gak suka dengan hubungan kami. Banyak yang nyuruh gua untuk meninggalkannya, tapi gak gua lakuin. Mereka menilai gua bego masih mertahanin, tapi mendingan gua dibilang bego dari pada ngasih tahu alasan yang sebenarnya.
Mungkin mendapatkan keperawanan itu menjadi suatu kebanggaan untuk sebagian orang, tapi bagi gua itu kutukan. Seperti sekarang, Disa jadi semakin ngelunjak karena dia tahu gua udah terikat jadi gak akan meninggalkannya.
Hari libur di minggu pertama bulan puasa, gua mengajak Disa untuk buka puasa di sebuah rumah makan di daerah Depok tapi dia milih yang di Bogor kota. Jarak rumah kami ke Bogor kota itu sekitar 45 Menit – 1 Jam (Tanpa macet), dan hanya butuh waktu 5-10 menit ke Depok (Jalan pintas anti macet). Bukannya gua perhitungan jarak, tapi Bogor kota itu saat sore hari macet parah sedangkan Disa orangnya gak sabaran.
Sekitar jam 22:00 kami sampai dibelakang rumah Disa, selama jalan tadi rasanya begitu aneh. Disa jadi pendiam, gak petakilan seperti biasanya, gak cerewet dan gak marah-marah saat terjebak macet. Kami hanya duduk dibangku belakang rumah, saling diam. Gua coba menebak kenapa malam ini begitu terasa dingin, angin yang berhembus terasa dingin tapi sikap Disa lebih terasa dingin.
Waktu hampir tengah malam, gua mulai ngantuk dan gak bisa pulang. Disa akan marah kalau gua pulang sebelum dia izinkan pulang, jadi gua hanya pasrah menunggu dia bicara.
“Ka...” Disa mulai bicara tanpa menatap gua
“Iya, kamu kenapa ?”
“Kaka siap ngontrak ?”
“Tahun kemaren juga ngontrak kan 2 bulan, kenapa ? pengen kaka mandiri ?”
“Bukan..”
“Terus ?”
“Aku telat 2 bulan”
“.........”
Seketika jantung gua seperti berhenti berdetak.
Setelah jadian di rumah pagi itu, gua jadi sering ngajak Disa makan di luar. Selain untuk menghindari kemungkinan besar kami akan melakukannya saat di rumah juga gua takut kalau nanti keterusan dan kebiasaan karena kami sesekali melakukannya. Entah itu di rumah gua, rumah Disa, bagian dapur, kamar, hotel, yang pasti gua gak pernah di kebun.
Disa orangnya curigaan tapi dia gak suka dicurigai, gua sepakat menuruti permintaannya bertukar hp begitu juga dengan nomor hp dan semua akun sosmed. Baru dua hari gua dibuat malu dengan kelakuan Disa yang suka ngata-ngatain perempuan yang komen status atau foto gua pedahal itu sepupu. Gua sering melihatnya merespon komen dari lelaki lain disosmednya, kadang digoda atau bahkan yang gak enak dibaca. Sekalipun gak pernah gua permasalahkan, tapi setiap kali ada lawan jenis yang mengomentari postingan di sosmed gua pasti dia kata-katain.
Berantem, caci maki dan ngediemin itu udah gak asing lagi dalam hubungan, gua sering denger kata-kata kasar dan kotor dari mulutnya walau pun kadang hanya masalah kecil yang dibesar-besarkan. Kata Dosen, golongan darah B itu egois dan suka berlebihan. Gua langsung percaya, karena dia memiliki dua sikap kampret tersebut.
Perkuliahan dimulai pukul 18:30 WB, tapi gua hanya hari pertama datang tepat waktu selanjutnya datang jam 19:00 lebih bahkan pernah hampir jam 20:00 baru datang, tentu gua beralasan kuat seperti ‘ada kerjaan tambahan’. Sebenarnya hampir mirip, namun lebih tepatnya dikerjain bukan kerjaan.
Disa kerja sampai jam 18:00, kalau ada lemburan maka jam 19:00 harus kembali ke pabrik. Lembur itu jarang, tapi dia setiap kali gua jemput selalu gak mau langsung pulang. Makanlah, anter beli ini itu sampai akhirnya gua jadi punya reputasi buruk di kelas karena datang selalu telat.
‘Datang telat, pulang lebih awal’
Itulah yang dinilai tentang gua di kelas, selain datang yang selalu telat juga gua pulang selalu lebih awal. Menjelang puasa pabrik jadi sering lembur, katanya sih untuk menutupi libur panjang nanti. Disa lembur sampai jam 20:30 sedangkan gua kuliah sampai jam 20:30 - 21:00.
Jarak kampus ke pabrik itu dapat ditempuh sekitar 10-15 menit dengan kecepatan penuh, dan gak ada kata maaf jika telat. Pernah beberarapa kali telat hanya itungan detik, tapi saat sampai depan gerbang pabrik harus melihatnya dengan bibir manyun dan puluhan pesan dengan kata-kata kotor dan kasar. Dia gak mau kalau sampai gua belum ada di luar gerbang saat dia keluar, sikapnya makin berlebihan dan begonya gua masih nurutin karena gua juga khawatir dengan orang gila yang suka ada di depan pabrik. Disa takut orang gila, tapi kenapa gak nunggu di dalam gerbang pabrik ? ah entalah, gua gak ngerti dengan jalan pikirannya.
Oce sepupu gua pernah menasehati untuk gak terlalu menurutinya, jangan terlalu memanjakannya karena akan semakin melunjak. Gua menurutinya hanya dengan alasan pernah janji bakalan trus manjain dia, walau pun gua gak pernah kepikiran bakalan seburuk ini keadaannya.
Pernah suatu hari Disa menyuruh gua melakukan hal-hal yang seharusnya bisa dia lakukan sendiri di depan Elis sepupu perempuan gua, hasilnya setelah itu jadi banyak sodara gua yang gak setuju dan gak suka dengan hubungan kami. Banyak yang nyuruh gua untuk meninggalkannya, tapi gak gua lakuin. Mereka menilai gua bego masih mertahanin, tapi mendingan gua dibilang bego dari pada ngasih tahu alasan yang sebenarnya.
Mungkin mendapatkan keperawanan itu menjadi suatu kebanggaan untuk sebagian orang, tapi bagi gua itu kutukan. Seperti sekarang, Disa jadi semakin ngelunjak karena dia tahu gua udah terikat jadi gak akan meninggalkannya.
Hari libur di minggu pertama bulan puasa, gua mengajak Disa untuk buka puasa di sebuah rumah makan di daerah Depok tapi dia milih yang di Bogor kota. Jarak rumah kami ke Bogor kota itu sekitar 45 Menit – 1 Jam (Tanpa macet), dan hanya butuh waktu 5-10 menit ke Depok (Jalan pintas anti macet). Bukannya gua perhitungan jarak, tapi Bogor kota itu saat sore hari macet parah sedangkan Disa orangnya gak sabaran.
Sekitar jam 22:00 kami sampai dibelakang rumah Disa, selama jalan tadi rasanya begitu aneh. Disa jadi pendiam, gak petakilan seperti biasanya, gak cerewet dan gak marah-marah saat terjebak macet. Kami hanya duduk dibangku belakang rumah, saling diam. Gua coba menebak kenapa malam ini begitu terasa dingin, angin yang berhembus terasa dingin tapi sikap Disa lebih terasa dingin.
Waktu hampir tengah malam, gua mulai ngantuk dan gak bisa pulang. Disa akan marah kalau gua pulang sebelum dia izinkan pulang, jadi gua hanya pasrah menunggu dia bicara.
“Ka...” Disa mulai bicara tanpa menatap gua
“Iya, kamu kenapa ?”
“Kaka siap ngontrak ?”
“Tahun kemaren juga ngontrak kan 2 bulan, kenapa ? pengen kaka mandiri ?”
“Bukan..”
“Terus ?”
“Aku telat 2 bulan”
“.........”
Seketika jantung gua seperti berhenti berdetak.
0
Kutip
Balas