- Beranda
- Stories from the Heart
ALL I ASK OF YOU
...
TS
gagalrampage
ALL I ASK OF YOU
Quote:

Kata Pengantar
Sedikit pengenalan, gua mahasiswa semester 6 disebuah PTS daerah Kabupaten Bogor. Selain kuliah, gua juga kerja disebuah perusahaan yang bergerak dibidang penjualan dan jasa. Saat ini gua baru 1 tahun kerja, karena terlalu banyak waktu luang di kantor kadang gua bingung mau ngapain. Jadi, izinkan gua menulis untuk mengisi waktu santai saat jam kerja (dari pada bengong).
Jika ada kata salah atau yang kurang dimengerti dalam penulisan, mohon untuk keritik dan sarannya agar lebih baik kedepannya.
Terima kasih, dan selamat membaca.
Quote:
Diubah oleh gagalrampage 15-09-2017 11:42
anasabila memberi reputasi
1
3.8K
Kutip
24
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gagalrampage
#14
Quote:
Bagian 2
Ada yang bilang kalau firasat perempuan itu kuat, tapi itu gak berlaku dalam hubungan gua. Disa orangnya curigaan, saat lagi boker jadi lama balas pesan darinya pun gua dikira lagi sama perempuan lain. Apa gua harus selalu bawa hp kemanapun termasuk lagi boker? atau harus selalu laporan setiap mau ngelakuin sesuatu ? kan namanya kebelet gak sempat. Kadang gua gak ngerti dengan perempuan yang punya pikiran seperti ini.
: “Lagi liatin punggung orang-orang asing yang baru pada masuk kelas” gua bales pesannya ngasal
: “Ooohhhh liatin punggung, pasti tali BH nya keliatan”
: “Gak bakalan engas Cuma liat tali BH doang”
Kenapa dia berpikir gua liatin tali BH ? kenapa gak nanya gini aja “Kok liatin punggung ? duduk dibelakang ya ?” Seandainya dia bisa berpikir positif dengan yang gua lakukan, mungkin gua bakalan sangat bahagia.
Seperti pada semester lalu, semester pertama diisi oleh Dosen berpengalaman untuk menarik minat dan memberi motivasi mahasiswa baru. Gak ada yang mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan dari dosen, kecuali gua yang berani menjawab beberapa kali dengan jawaban yang benar tentunya.
Stttttttt
Ssssttttt
“Heh” Kata perempuan disebelah kanan sambil mencolek pundak gua
“.....” Gua hanya diam menatapnya
“Lo pinter sih, ajarin gua lah”
“Cuma pernah denger, bukan pinter”
“Dimana ?”
“Semester sebelumnya”
“Ngulang ?”
“Iya”
“Ooooo berati bego dong kalo ngulang”
“.....”
Gua lagi males debat jadi jawabnya juga asal, gak ada yang istimewa hari pertama kuliah lagi selain jadi tahu beberapa nama saat perkenalan diri tadi.
3 orang yang menarik perhatian sebelumnya ternyata benar bekerja di tempat yang sama walau beda bagian, yang semok bernama Ara, yang tomboy bernama Mita, dan yang terlihat lebih pendiam bernama Dini. Begitu juga dengan perempuan yang duduk di depan gua, namanya Shela. Dia ketua komunitas hijab yang cukup besar dan juga top model hijab.
20:30
Dosen meninggalkan ruangan diikuti beberapa mahasiswa dibelakangnya. Sebagian besar penghuni ruang F9 masih tetap di dalam sambil berbincang-bincang dengan teman baru.
“eh” Pundak gua kembali dicolek
“...?”
“Marah ya ? sorry kalo tadi kasar, gua becanda kok jangan kesinggung ya”
“Iya”
“Jutek banget sih”
“Ada masalah ?”
“Iyalah, kita ini satu kelas. Harusnya akrabkan bukan jutek gitu”
“Pengen akrab tapi manggil aja bukan nama”
“Sorry, sorry. Gua gak terlalu merhatiin waktu perkenalan”
“..........”
“Namanya siapa atuh, abdi teh teu nyaho (Saya tuh gak tau)”
“.........” Gua diam lalu membuka buku dan pada halaman bagian akhir menuliskan 2 huruf ‘IM’
“M ?”
“I.. eM atau Iim atau terserah dah enaknya apa, gua biasa dipanggil gitu”
“Iim ? kaya nama cewe ya, Aku Imas” Kata dia sambil tersenyum
“........”
“Tuh kan jutek lagi, Kamu serem kalo lagi jutek gitu”
“Gua dari sananya gini”
“Hehe, yaudah Aku duluan ya, daahh....”
Namanya Imas, logat bicaranya yang halus dan ramah dengan sesekali mengucapkan kalimat yang gak gua paham artinya karena itu sunda lemes sedangkan gua ngertinya sunda kasar. Saat Imas sedang berjalan menuju pintu ruangan, dari jauh gua memperhatikan dan memperkirakan tinggi dia 165 cm, Berat 55 kg, dan 38 D.
Ada yang bilang kalau firasat perempuan itu kuat, tapi itu gak berlaku dalam hubungan gua. Disa orangnya curigaan, saat lagi boker jadi lama balas pesan darinya pun gua dikira lagi sama perempuan lain. Apa gua harus selalu bawa hp kemanapun termasuk lagi boker? atau harus selalu laporan setiap mau ngelakuin sesuatu ? kan namanya kebelet gak sempat. Kadang gua gak ngerti dengan perempuan yang punya pikiran seperti ini.
: “Lagi liatin punggung orang-orang asing yang baru pada masuk kelas” gua bales pesannya ngasal
: “Ooohhhh liatin punggung, pasti tali BH nya keliatan”
: “Gak bakalan engas Cuma liat tali BH doang”Kenapa dia berpikir gua liatin tali BH ? kenapa gak nanya gini aja “Kok liatin punggung ? duduk dibelakang ya ?” Seandainya dia bisa berpikir positif dengan yang gua lakukan, mungkin gua bakalan sangat bahagia.
Seperti pada semester lalu, semester pertama diisi oleh Dosen berpengalaman untuk menarik minat dan memberi motivasi mahasiswa baru. Gak ada yang mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan dari dosen, kecuali gua yang berani menjawab beberapa kali dengan jawaban yang benar tentunya.
Stttttttt
Ssssttttt
“Heh” Kata perempuan disebelah kanan sambil mencolek pundak gua
“.....” Gua hanya diam menatapnya
“Lo pinter sih, ajarin gua lah”
“Cuma pernah denger, bukan pinter”
“Dimana ?”
“Semester sebelumnya”
“Ngulang ?”
“Iya”
“Ooooo berati bego dong kalo ngulang”
“.....”
Gua lagi males debat jadi jawabnya juga asal, gak ada yang istimewa hari pertama kuliah lagi selain jadi tahu beberapa nama saat perkenalan diri tadi.
3 orang yang menarik perhatian sebelumnya ternyata benar bekerja di tempat yang sama walau beda bagian, yang semok bernama Ara, yang tomboy bernama Mita, dan yang terlihat lebih pendiam bernama Dini. Begitu juga dengan perempuan yang duduk di depan gua, namanya Shela. Dia ketua komunitas hijab yang cukup besar dan juga top model hijab.
20:30
Dosen meninggalkan ruangan diikuti beberapa mahasiswa dibelakangnya. Sebagian besar penghuni ruang F9 masih tetap di dalam sambil berbincang-bincang dengan teman baru.
“eh” Pundak gua kembali dicolek
“...?”
“Marah ya ? sorry kalo tadi kasar, gua becanda kok jangan kesinggung ya”
“Iya”
“Jutek banget sih”
“Ada masalah ?”
“Iyalah, kita ini satu kelas. Harusnya akrabkan bukan jutek gitu”
“Pengen akrab tapi manggil aja bukan nama”
“Sorry, sorry. Gua gak terlalu merhatiin waktu perkenalan”
“..........”
“Namanya siapa atuh, abdi teh teu nyaho (Saya tuh gak tau)”
“.........” Gua diam lalu membuka buku dan pada halaman bagian akhir menuliskan 2 huruf ‘IM’
“M ?”
“I.. eM atau Iim atau terserah dah enaknya apa, gua biasa dipanggil gitu”
“Iim ? kaya nama cewe ya, Aku Imas” Kata dia sambil tersenyum
“........”
“Tuh kan jutek lagi, Kamu serem kalo lagi jutek gitu”
“Gua dari sananya gini”
“Hehe, yaudah Aku duluan ya, daahh....”
Namanya Imas, logat bicaranya yang halus dan ramah dengan sesekali mengucapkan kalimat yang gak gua paham artinya karena itu sunda lemes sedangkan gua ngertinya sunda kasar. Saat Imas sedang berjalan menuju pintu ruangan, dari jauh gua memperhatikan dan memperkirakan tinggi dia 165 cm, Berat 55 kg, dan 38 D.
0
Kutip
Balas