Kaskus

Story

setiawanariAvatar border
TS
setiawanari
Patahan Salib Bidadari
In the name of Allah, the beneficient, the merciful
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Patahan Salib Bidadari
Terimakasih untuk gambar sampulnya awayeye

Terimakasih Kaskus, khususnya untuk sub forum SFTH yang telah menyediakan tempat menampilkan sebuah cerita. Sebuah fasilitas yang akan saya gunakan untuk menulis dimulai dari hari ini hingga di hari-hari selanjutnya.

Terlepas dari nyata atau tidaknya cerita ini, adalah tidak terlalu penting karena sebagian dari kisah nyata dan sebagian dari imaginasi saya. Harapan saya tokoh-tokoh dalam cerita ini dapat menjadi inspirasi untuk para pembaca cerita yang saya tulis ini dapat menjadikan saya untuk terus berkreatifitas.

Mohon maaf jika materi dalam cerita ini nantinya ada kesalahan dan menyinggung pihak-pihak tertentu sekiranya nasihat, kritik dan saran dari agan/sista yang lebih berpengalaman selalu sangat saya harapkan.

Menemani istirahat untuk menghilangkan lelah setelah pulang kerja/sekolah/kuliah, atau saat sedang menunggu sesuatu mari kita baca ceritanya. Ditemani alunan musik dan segelas kopi/cokelat/susu/teh hangat kita kembali ke beberapa tahun yang lalu!!!.


PEMBUKA CERITA

Terpaku di dalam rasa cinta yang tak mungkin pudar, menanti cinta datang membawa arti sampai segenap organ ini berhenti.

Sore itu saat cuaca cerah di lantai 6 gedung akademisi yang melahirkan sarjana ekonomi terbaik aku termenung. Melamunkan manis, asam, asin dan pahitnya segala kehendak Tuhan yang dianugerahkan kepada salah satu ciptaanNya.

Manusia diberikan otak untuk berfikir dan menggunakan logika lalu diberikan hati untuk merasakan. Hati adalah malaikat sedangkan otak kadang menjadi iblis dan sangat sulit untuk mengontrolnya menjadi malaikat. Hati menjerit saat kita berbuat salah sedangkan otak adalah penyebab semua kesalahan yang dilakukan manusia. Malaikat dan iblis adalah gambaran dari manusia, sebagai simbol antara kebaikan dan kejahatan. Kebaikan tidak akan bersanding dengan kejahatan dan sebaliknya.

“Permisi Mas! Bisa pindah duduknya, lantainya mau di bersihkan!” Sapa seorang petugas cleaning service membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya mas”. Jawabku sambil berlalu pergi menuju tempat parkir motor tepatnya dihalaman depan kampus.

Karamnya cinta ini
Tenggelamkanku diduka yang terdalam
Hampa hati terasa
Kau tinggalkanku meski ku tak rela
Salahkah diriku hingga saat ini
Kumasih mengharap
Kau tuk kembali………


Sore itu gerimis turun saat aku pulang, tak terasa sampai ditempat kos yang kebetulan hanya berjarak 10 menit dari kampus air hujan membasahi jaket jeans yang ku kenakan. Segera aku mengambil handuk dan membersihkan diri, bersiap untuk mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Dengan ritual sholat Ashar aku merasakan kedamaian yang tidak ada bandingannya, sebagai bentuk kepatuhan dan rasa syukur atas semua yang diberikan Tuhan baik itu berkah yang membuat hati senang maupun musibah sebagai ujian kepada hambanya agar menjadi sosok yang lebih kuat.

Waktunya istirahat, kurebahkan badan ini di kasur busa sebagai surga dunia yang paling indah, sambil memutar lagu menemaniku melepas lelah. Secangkir kopi hitam telah kusiapkan untuk menghangatkan suasana karena diluar hujan turun semakin deras. Kupandangi sebuah kalung berwarna emas berliontin salib yang bersanding dengan sebuah kalung perak berliontin lafaz Allah, tergantung dibawah poster foto Ibu Sundari Sukotjo tepat di tengah-tengah dinding kamar kosku. Masih menampakkan kilaunya meski kalung-kalung itu sudah hampir 4 tahun lamanya. Aku bangkit dari tempat tidur, meminum sedikit kopi hitam, sambil menarik nafas dalam sedalam yang aku mampu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu di sore ini, ya aku merasakan suatu kerinduan yang luar biasa dengan pemilik kalung salib yang tergantung dikamarku, seorang yang sangat suka musik klasik, seseorang pecinta sepakbola, seseorang yang suka kopi hitam dan mungkin pernah mencintaiku walaupun tak pernah mengungkapkan sepatah katapun.

“Ya Tuhan hari ini aku kangen banget sama dia, meski tak sebesar kangen ku kepadaMu, tapi sungguh seolah-olah aku merasa sangat lemah dan sangat kehilangan. Hari ini tepat 4 bulan yang lalu dia beranjak pergi dari tempat ini, dia pergi untuk cita-citanya, untuk impiannya dan bodohnya aku belum sempat mengutarakan seluruh perasaanku kepadanya. Perbedaan keyakinanlah yang menghalangi, aku bahkan hanya bisa diam membisu saat ku ingin mengucapkan seluruh rasa cinta ini aku takut rasa cinta kepada makhluk ciptaanMu melebihi rasa cintaku padaMu. Tak kuasa air mata ini menetes, berusaha ku tahan tapi tak sanggup karena mungkin ini air mata rindu yang mencapai puncaknya.

Aku bukan seorang penulis tetapi hari ini tiba-tiba ingin sekali aku ingin sekali memainkan jariku di keyboard yang biasanya hanya kupakai untuk membuat tugas. Aku ingin menulis tentang dirimu tentang cerita kita, walaupun mungkin tidak berujung bahagia tidak apa karena mungkin dengan tulisan ini aku bisa mencurahkan segala isi hati dan kerinduanku kepada mu. Kenangan indah tentang hari-hari yang pernah kulalui dengan seorang bidadari yang telah merubah seluruh hidupku, meski meninggalkan perasaan yang terus menggantung entah sampai kapan. Bidadari yang datang di hidupku, menemaniku sejenak lalu pergi meninggalkan patahan salibnya di hidupku.


Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu


Sekilas Gambar Tentang Aku
Harapan Sesuai dengan Kenyataan
Kerikil Kecil dan Awan yang Jauh
Pertemuan dengan Sahabat
Sepatu Mengawali Sebuah Impian
Dunia Kampus dan Teman Baru
Keluarga Kecil Bernama HALTE
Sesuatu Mengganggu Pesta Akhir Smester
Diantara Rasa Kagum dan Penasaran
Meluapnya Sebuah Emosi
Hubungan yang Semakin Dekat
Kegelisahan Menghadapi Perasaan yang Berbeda
Siang Menjadi Malam dan Sebaliknya
Perjalanan yang Semakin Indah

Momen Menggelikan dan Warna Kehidupan
Dilema Menghadapi Ungkapan Perasaan
Tetangga di Sekitar Kami
Liontin Salib untuk Leher yang Indah
Kepedihan Cerita di Masa Lalu
Senyuman untuk Hati yang Terluka
Sosok yang Menjadi Pertanyaan
Mencoba Menghilangkan Trauma
Pelangi yang Hilang Bersama Turunnya Hujan
Malam Kebahagiaan Bersama Keluarga Kecil
Bidadari Kecil Kini Telah Dewasa
Kebahagiaan Kini Tinggal Prasasti
Semua Terjadi Sangat Cepat
Sebuah Cinta yang Salah
Surga yang Tak Layak untuk Dilihat
Rumput Dingin Di Bawah Bangku Taman
Pahitnya Sebuah Ucapan
Air Mata Menepis Kerasnya Kata-kata
Satu Langkah ke Arah Normal
Bertahan Hanya dalam Waktu Singkat
Semakin Tenggelam dalam Kedekatan
Lilin Kecil di Malam Penuh Kebahagiaan
Selamat Datang Kemarau
Kerinduan yang Teramat Dalam
Hembusan Angin Masa Lalu
Sayap yang Kuat Untuk Bidadari Kecil
Tinta Biru Menorehkan Luka
Berusaha Menyembunyikan Luka
Hilangnya Rasa Segan
Keberhasilan Tanpa Perayaan
Berharap Hanya Andai Saja
Serpihan Kenangan yang Menyiksa
Tempat Baru
Berita Baik Bersama Undangan
Selamat Menempuh Hidup Baru
Kesan yang Baik di Hari Pertama
Insiden Kecil dan Masa yang Telah Terlewati
Menutup Momen 4 Tahun Kebersamaan
Kotak Makan Siang
Keberanian Untuk Memulai
Pahitnya Sambutan Selamat Datang
Seperti Kembali ke Waktu Itu
Teka Teki dari Perhatian Sederhana
Cerita di Ujung Sore
Peneduh Panasnya Amarah
Mengungungkapkan tak Semudah Membayangkan
Titik Terang yang Terasa Gelap
Patahan Salib Bidadari
Terimakasih Untuk Masa yang Terlewati
Apa yang Sebenarnya Terjadi
Kembali Terjatuh
Dunia Ciptakan Keindahan
Dan Kebahagiaan [TAMAT]

Kata Penutup (Q&A)
Diubah oleh setiawanari 10-07-2018 17:35
calebs12Avatar border
nona212Avatar border
nona212 dan calebs12 memberi reputasi
3
111.1K
608
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
setiawanariAvatar border
TS
setiawanari
#54
Senyuman untuk Hati yang Terluka
Manusia mempunyai beberapa sifat buruk salah satu diantaranya adalah sifat serakah. Ingin menguasai sesuatu bahkan yang bukan menjadi haknya. Kadang kita lupa jika berusaha menguasai apa yang bukan menjadi hak kita justru bisa menghancurkan semua hal yang telah kita miliki.

Memasuki perkuliahan semester 2 ditandai dengan ujian akhir semester minggu depan. Semua mahasiswa sibuk mencari bahan dan soal-soal latihan. Setelah memberikan kisi-kisi soal yang akan keluar kelas manajemen keuangan pun selesai. Sandro Riski Dan Ari keluar terlebih dahulu karena ingin mengembalikan buku ke perpustakaan.
Sampai di depan kelas Laura memanggilku.

“Wan, lo udah dapet contoh soal-soal soal UAS manajemen keuangan?"
“Udah Ra, gua udah fotokopi nah lo sendiri gimana,?"
“Yee lo lagi nanya gua, lo aja udah apalagi gua,"
“Oh iya ya, lo kan paling rajin kalau urusan begini,"
“Oh iya gua duluan ya, mau makan dikantin tapi ngajak lo juga percuma lo kan anti makan di kantin hehehehehe," kata Laura melangkah pergi.

Seiring berjalannya waktu aku lihat Laura semakin cantik dan mempesona. Aku sendiri juga masih sering memikirkannya, semua ini terjadi karena aku merasa jika dia mencintaiku dan masih mencintaiku. Seandainya saja waktu itu dia tidak menyatakan cintanya, hari ini perasaanku mungkin akan berbeda.

“Kenapa ya Ra, perasaan gua setiap lihat lo masih ada keinginan buat milikin lo, apa gua udah ngrasa menang karena gua juga tau lo cinta sama gua, tapi apakah ini cukup Ra, untuk kita menjalani kisah cinta sampai kita tua nanti.” Batinku.

Aku berjalan menuju Halte dan berusaha menepis apa yang aku pikirkan.

“Awan,...... Tunggu!” Suara Sherly memanggilku.
“Iya.” Kataku menghentikan langkah melihat Sherly berlari menuruni anak tangga ke arahku, keteduhan dan kecantikan wajahnya sejenak melupakan pikiranku tentang Laura.

“Ayo ikut gua ada yang mau gua omongin.” Kata Sherly menarik tanganku menuju lantai 7 dan duduk di sofa depan ruang kelas paling ujung.

“Ada apa sih Sher, kok serius amat.” Kataku.
“Bentar gua nafas dulu capek juga naik tangga 2 lantai.” Jawab Sherly dengan nafas ngos-ngosan lalu meminum air putih.

“Udah capeknya.” Kataku.
“Udah, Wan ada yang lo sembunyiin ya dari gua?”
“Sembunyiin apaan Sher, duit atau buku atau apa?”
“Iiih serius Wan, becanda aja, soal hubungan lo sama Laura soal perasaan lo sama dia Wan.”
“Maksudnya gimana Sher gua gak ngerti.”
“Udah lah Wan jangan pura-pura bego, pura-pura gak tau, Laura pernah kan nyatain perasaannya ke elo, tapi Laura sadar jika dia gak mungkin milikin lo karena dia mikir lo pacar gua, Dan lo cinta gua? Wan kenapa lo gak bilang ke dia kalau kita cuma pura-pura Wan kenapa? Kenapa lo gak cerita sama gua Wan?” KataKata sherly wajahnya tampak sedih.
“Hhhmmmm, kok lo bisa tau emang siapa yang ngomong, Laura?"
“Udah itu ma gak penting yang jelas bukan Laura yang bilang.”
“Iya Sher semua yang lo bilang itu bener, dia nyatain perasaannya, gua mau jelasin hubungan kita yang sebenernya tapi gua udah janji sama lo bakal jaga rahasia ini. Gua pengen ada lo di samping gw waktu gua jelasin ini ke orang lain termasuk dia Sher.”
“Terus kenapa lo gak pernah cerita sama gua?”
“Ya gua gak tau kalau masalahnya bakal kaya gini.”
“Aduuuuh Wan, kok lo gak ngerti sih, sekarang masalahnya gua dimata Laura jadi penghalang cinta dia sama lo Wan padahal kita kan cuma, aaaarrrggghhhh ya Sudah lah, terus sekarang jawab pertanyaan gua jujur ya wan, lo cinta gak sama Laura?” Kata Sherly

Lagi-lagi pertanyaan yang membuatku bingung untuk menjawab. Disatu sisi memang benar aku cinta dengan Laura disisi lain aku juga mulai jatuh cinta dengan wanita didepanku ini.
Tetapi untunglah pertanyaannya bukan (Lo cinta gak sama gua Wan?) mungkin akan membuatku lebih sulit menjawabnya.

“Hhhmmmm dari semester satu gua juga punya perasaan yang sama, Sher.”
“Terus Laura sekarang dimana?”
“Tadi katanya mau ke kantin.”
“Yaudah ayo kesana.” Kata Sherly menarik tanganku.
“Mau ngapain Sher?”
“Jelasin semuanya, lo bilang kalau lo juga cinta sama dia, dan kita cuma pura-pura.”
“Ooh, kalau itu gak bisa Sher.”
“Kenapa?”
“Karena... Karena…….” Kataku terhenti.
“Apa mungkin kalau gua harus bilang karena gua jatuh cinta beneran sama lo Sher, Aah tidak mungkin.” Batinku.

“Karena apa Wan?”
“Ya karena gua gak bisa aja jalan sama dia Sher dan alasannya gua sendiri juga gak tau.”
“Oooh yaudah temenin gua kesana Wan, gua mau bilang soal hubungan kita.”
“Tapi Sher.”
Udah ayoook.” Kata Sherly menarik tanganku dan kami memasuki lift, 7,6,5,4,3,2,....kami tiba di lantai satu berjalan ke arah kantin.

Sampai di depan kantin kami melihat Laura sedang makan tapi dia tidak sendiri, dia bersama dengan lelaki yang gua kenal. Dia bersama Rudi kakak kelasku yang waktu itu menjadi mentor kelompok ungu pada saat pengenalan kampus. Kulihat sesekali mereka tertawa bersama, sesekali Rudi mencubit pipi Laura hal yang selama ini hanya bisa kubayangkan.

“Jadi ini Ra yang lo bilang langkah maju lo, gua paham Ra sekarang rasa sesak lo karena mencintai dia sosok. Dan lo kebingungan, mungkin lo takut salah memilih. Malam itu rasa sesak lo hilang karena loe udah tau perasaan gua dan lo bisa memilih. Sekarang lo udah mendapatkan sosok yang tepat, selamat ya Ra.” Batinku dengan perasaan sedih.

Akukupun menatap wajah Sherly.

“Lo udah tau kan jawabannya Sher, gak usah cerita sekarang mungkin waktunya belum pas, ayok kita makan siang sayang, dihalte, kalau di kantin gak boleh hutang.” Kataku menarik tangan Sherly.
“Sayang pala lo peyang.” Jawab Sherly.
“Yaelah ama pacar romantis dikit napa.”
“Ni romantis.” Sherly bersiap menyubit pinggangku.
“Iyaa, enggak,enggak maaf maaf.”
Dan cubitan itu gagal mendarat.

“Kenapa rasa sakit itu masih kurasakan saat aku melihat Laura yang jelas-jelas aku tolak cintanya bermesraan dengan orang lain. Kenapa ada perasaan tidak rela? Ini namanya egois awal dari keserakahan, aku harus berusaha melawannya.” Batinku.
Aku dan Sherly segera meninggalkan kantin menuju halte.

“Widih pasangan of the year kita tumben makan di Halte biasanya ma di tempat mewah.” Teriak Sandro ke anak-anak menyambut kedatanganku.
“Gak usah dengerin suara monyet ya sayang meskipun kita makan di pinggir huta.” Kata ku membalas kata-kata Sandro. SherlySherly hanya tersenyum seperti menahan tawa.
“Anjaaaayyyyy sayang manggilnya sekarang, nih kalau di film sinetron judulnya noktah merah perkimpoian, yang pemerannya Matias Mucus sebagai Awan dan Ayu Azhari sebagai Sherly.” Kata Sandro melanjutkan.
“Iiih jadul banget itu ma, hahahahaha.” Jawab Sherly tertawa.
“Udah gak usah ditanggepin dia ma orang saraf, anak ini juga kalau main film paling judulnya Pendekar Mesum dari Lembah Hitam.” Kataku.
“Lha kan kita satu perguruan Wan? Berarti sama dong?” Kata Sandro.
“Beda lah gw kan murid durhaka yang memilih ke jalan yang lurus.” Balasku.
Tetep aja Wan, di ujung cerita kita reunian.” Jawab Sandro yang tak pernah bisa ditaklukkan jika sudah meledek orang.
Anak-anak pun tertawa

Brisik baget sih, pada laper kan? yaudah pesen makanan gih satu-satu.” Kataku.
“Asiik dibayarin nih?” Jawab Riski.
“Ya kagak gua ma nyuruh pesen doang bayar ma masing-masing kaya bayar SKS.” Kataku.
Disambut sorakan anak-anak dan candaan mereka mengiringi satu demi satu sendok nasi yang masuk perut kami hingga akhirnya aku dan Sherly selesai makan.

“Sher lo ada jam lagi?”
“Ada tapi nanti jam 4.”
“Ooh, temenin gua dulu yuk.”
“Yah, gak bisa Wan gua mau belajar sama Anis.”
“Ooh, yaudah deh.”
“Hehehehehe iya bisa, gua becanda kali, gua juga bete nunggu jeda jam kuliah.”
“Sial, kirain beneran yaudah yuks.”

Aku Dan Sherly pun meninggalkan Halte menuju cafe jus yang ada di belakang kampus

“Asiiik dibayarin.” Kata Sherly lalu duduk di kursi sampingku.
“Yah sekali-kali lah bodiguard bayarin kliennya, terlebih kliennya itu bidadari yang turun dari aaaauuuuw....” Kataku terhenti karena tangan Sherly memukul kepalaku.

“Lagian ngomongnya mulai gak jelas lagi, sukurin.”
“Jahatnya, hiks.”
“Wan, kok tadi muka lo kelihatan sedih waktu lihat Laura dikantin, cemburu ya?”
“Ya begitulah masih ada perasaan yang sama soalnya, dan kalau gua melangkah maju cinta gua bakal tersambut hangat karena gua tau jawabannya Sher.”
“Semua ini gara-gara gua Wan, gua juga gak nyangka permainan kita malah bikin orang lain kecewa, kita akhiri aja ya wan.” Kata Sherly tiba-tiba mukanya sedih.

“Adduuuhhh tu kan liatnya gitu lagi, akhiri gimana? Gua seneng kok bisa selalu deket lo, jaga lo meski gua cuma temen.”
“Tapi wan, gua jadi gak enak.......” Kata Sherly yang langsung ku potong.
“Udah sih.... Lagian setelah Laura pergi, gua gak ingin lo jauh ntar gak ada temen curhat gua, masa kalau mau cerita-cerita gua harus pulang kampung.”
“Hahahahaha iya-iya, Wan kita disini gak main hati kan?"
“Sedikit Sher, hehehehe gak papakan siapa tau dengan sedikit lama lama jadi banyak terus kita pacaran beneran.”
“Hhhmmmm, bisa juga sih tapi kalau seandainya gua kaya Laura gimana, atau seandainya di Luar sana gua punya cowok?" Pertanyaan Sherly yang kemungkinan membuat ku berbohong dengan perasaan ini, karena aku tak mungkin jujur menjawabnya.

“Yaah, gua gak terima.”
“Maksudnya Wan?”
“Aduuh gimana jelasinnya ya? Maksudnya gua gak terima kalau tiba-tiba lo kaya Laura terus lo pergi gak mau dengerin curhat gua lagi, gak mau jalan lagi sama gua, Sher meskipun suatu saat nanti ada cowok yang jadi pilihan lo, jangan pernah berubah sama gua ya," jawabku berbohong padahal aku ingin berkata (gua bakal sakit, Sher).

“Hehehehehe iya-iya, tenang aja gua akan menjadi sahabat terbaik lo Wan.” Kata Sherly meminum jus kesukaannya berbagai buah yang di campur jadi satu. Seperti pelangi yang terlihat indah terdiri dari kumpulan berbagai warna yang menjadi satu.

“Itulah kamu Sher, pelangi yang akan selalu indah dimataku, dan selalu dapat kulihat di siang dan malam, tanpa harus menunggu jatuhnya titik-titik air menerpa sinar matahari.” Batinku.

Tidak terasa kebersamaan kita harus dipisahkan oleh jadwal kuliah Sherly. Dia masuk kelas sementara aku kembali ke halte karena malas pulang. Aku menghabiskan beberapa batang rokok dengan anak-anak halte hingga hari menjelang petang. Tiba-tiba terdengar suara keributan dari jalan kecil menuju belakang kampus, kebetulan Riski datang dari arah yang sama.

“Wo, ada orang ribut lagi bro, kayanya anak-anak Tetris.” Teriak Riski yang berlari ke arah kami.
Sandro dan beberapa anak yang lain pun berlari ke arah keributan.

“Wan lo gak ikut.” Tanya Ari.
“Males lah belum kelar liat Fajar sama Ambon main catur ni.” Kataku padahal aku sendiri gak pernah suka permainan catur hanya suka menonton dan sesekali iseng ikut membantu. Justru membuat pemain kesal.

“Oh yaudah gua lihat dulu ya.” Kata Ari pergi menyusul Sandro dan yang lainnya yang sudah melihat ke lokasi terlebih dahulu. Tinggal, Fajar, Ambon dan sedikit anak-anak yang ada di Halte.
Lalu Ari kembali.
“Siapa yang ribut Ri?” Tanya Fajar.
“Itu bro anak Tetris gak tau siapa namanya sama Rudi angkatan 2006.” Jawab Ari.
“Lha bukannya Rudi juga sering nongkrong di basecamp Tetris ya, yang kebanyakan angkatan 2006?” Tanya Fajar.
“Ya gak tau ada masalah apa katanya cewek gitu.” Jawaban Ari membuatku kaget dan Fajar melihat ke arahku saat aku berdiri.
“Mau kemana Wan?” Tanya Fajar.
“Mau lihat.” Jawabku.
“Udahlah gak usah ikut campur.” Kata Fajar.
“Enggak mau liat doang.” Kataku.
“Yaudah gua ikut.” Kataku Fajar lalu berdiri.
“Terus bagaimana kelanjutanya kita bermain catur ini Bos Kopi? 4 langkah lagi kau akan kalah.” Teriak Ambon
“Yaudah lanjutin tar lagi, lo ikut gak? Apa mau jagain pion?” Jawab Fajar.
“Enak saja kau berbicara, aku ikut ayooo.” Kata Ambon dengan wajah paling seram tapi memiliki hati selembut kapas.

Kami datang ke lokasi aku yang berjalan paling depan sementara di belakangku Fajar dan Ambon mengikuti. Fajar dengan gayanya yang dingin dan Ambon dengan wajah yang cukup sangar. Semua orang justru melihat kedatangan kami mungkin karena tampang kedua temanku ini.
Ternyata perkelahian sudah dipisahkan.
Kulihat wajah Rudi memar, bibirnya berdarah disampingnya ada Laura yang menenangkan nya. Sementara anak Tetris juga berkumpul menenangkan anak yang berkelahi dengan Rudi.

“Oooh ternyata anak ini buang resenya.” Batinku saat tau siapa yang berkelahi dengan Rudi. Anak itu bernama Johan, dan aku mengenalnya karena waktu itu Laura pernah memberi tau.

“Jar, itukan BD kampus ini abisin aja sekalian apa.” Kataku ke Fajar.
“Biar gua yang urus kali ini Wan, Itu anak juga yang sering gangguin Anissa.” Kata Fajar membuatku bingung kenapa menyebut Anissa.

Johan masih berteriak-teriak, meskipun sudah dipisahkan.

“B*ngsat lo ya Rud, gua gak nyangka ternyata cewek gebetan temen lo sendiri lo embat, nyesel gua gua temenan sama lo!” Teriak Johan.
“Terus kenapa masalahnya? Gua kenal dia lebih dulu dari lo, lo belum tau apa-apa,? Ini masalah hati bro, harusnya lo yang ngaca.” Jawab Rudy.
“Udah, udah gak usah di ladenin Kak.” Kata Laura pelan menenangkan Rudy.
“Bangs*t apa lo bilang,? Gua suruh ngaca? Sini muka lo gua bengepin dulu.” Bentak Johan lalu melangkah kearah Rudi.

Plok…..
Plok…
Plok….

Fajar menepuk-nepuk kan kedua tangannya tangan pelan dan melangkah ke arah Johan.

“Eh, lo siapa? Ooh lo kacungnya Halte ya? Mau sok jagoan? Gak usah ikut campur bos, bukan masalah lo.” Bentak Johan.

Fajar membalas ocehan Johan dengan tersenyum.

“Hati-hati bos kalau ngomong mulut dijaga kalau masih kepakai buat makan ma, kecuali kalau mulut lo udah gak ada gunanya.” Kata Fajar.
“Woi, pedes juga omongan Lo belum gua siapa?” Bentak Johan.
“Belum Bos, tapi 10 orang kaya Lo merem gua ngatasinnya.” Jawab Fajar tenang.

“Wah anj*ng nih anak belum ada setahun aja udah nyolot.” Jawab Johan melangkah ke arah tetapi terhenti karena tangannya di tarik oleh Bara yang setau aku di tokoh paling dihormati di Tetris. Hampir semua anak Tetris memanggilnya "Bang" karena dia angkatan 2005 Dan sebentar lagi akan Lulus.

“Lo Fajar kan? Sebelumnya mohon maaf tapi gua harap lo gak ikut campur karena ini masalah mereka biar saja mereka menyelesaikan.” Kata Bara.

“Bukannya ikut campur brother, tapi kalau di lihat sih gak adil aja, Rudi sendirian sedangkan lo dan temen-temen lo ada di belakang anak anak l*nthe itu.” Kataku menghampiri Fajar menunjuk Johan.
“Bukan seperti yang lo lihat kawan, kita hanya menengahi saja, mereka berdua juga teman, kita disini semuanya teman.” Jawab Bara.
“Hebat juga menengahi tapi tapi ngumpul disatu pihak, emang kaya gini kelakuan anak Tetris setiap ada masalah?” Kata Fajar.
“Hei, bos jaga bicaranya dong ini masalah pribadi, jangan bawa-bawa kelompok, kalau cara ente seperti ini, banyak orang yang bisa gak terima bos?” Kata Bara.
“Gimana ya Jar, gak habis fikir aja Rudi sama orang itu tu sering nongkrong di Tetris tapi, ah sudahlah, dan gua tanya sama lo brother sebagai orang yang paling senior disini emang anak Tetris rata-rata pemakai ya.” Kataku.
“Hei bos makin jelas aja bicara ente ngajakin perang, gua yang paling tau disini anak-anak Tetris bersih boss, kita gak main begituan, kita juga punya masa depan bos, jadi sekali lagi ente ngomong begitu, gua gak bisa nahan kesabaran gua.” Jawab Bara mulai geram.
“Tenang brother kita kan teman, hehehehe kalau yang lain gua percaya, kalau si Johan anak anj*ng itu gua gak yakin kalau dia bersih, waktu itu gua pernah lihat dia ngambil SB ke daerah Biak.” Kataku membuat wajah Bara agak kebingungan dan mungkin tidak percaya.

“Bohong, gak bener itu bang.” Teriak Johan ke Bara.
“Diam kau, kalau emang kata-kata orang ini gak bener biar gua yang urus.” Bentak Bara.

“Eh anak anj*ng lo kenal Bang Edo kan? BD yang lo cepuin buat gantiin lo di penjara,? Lo punya uang buat nebus tapi dia? Sekarang hidupnya enak no di sel dan hidup nya gak bakal tenang bro, sebelum lo nyusul, mending kalau sempet nyusul, kalau ditusuk ditempat kan repot kasihan orang tua lo.” Teriakku.
“Eh, gua gak kenal yang lo maksud ya lo jangan fitnah orang b*ngsat.” Jawab Johan emosi.

“Udah lah gua anak malam bro, gua juga doyan minum tapi gua anti kalau udah masuk ke drug. Gua tau beberapa anak sini yang make terlebih ngedarin. Kalau cuma sekali lo ke daerah Biak buat ngambil, mungkin gua gak tau tapi lo sering jadi gua apal muka lo, terlebih cepu kaya lo.” Kataku.
“Hahahahaha eh anak kampung yang sok-sok an sekarang percuma mulut lo ngoceh tapi gak ada bukti, percuma.....! emang orang bisa lo bego in apa?” Kata Johan
“Udahlah mending lo ngaku lo tobat kasihan orang tua lo, gua tau mereka masih hidup, tapi kalau lo masih ngeyel ayo kita ke lab, kita tes urin, kalau sampai lo bersih, gua bakal cabut dari kampus ini selamanya, tapi kalau lo terbukti gua cuma minta lo tengok Bang Edo di Cipinang, gimana?” Kataku membuat Johan panik.
“Oke kali ini Lo menang, tapi inget gua gak ada urusan sama Bandar G*blog itu, dan gua bakal buat perhitungan sama lo?” Kata Johan.
“Ooh ngancem nih? Pengecut amat lo, kenapa gak sekarang aja? mau bawa masa oke gua tunggu lo colek gua, hidup lo gak tenang!” Kataku.
Tanpa menjawab Johan pun pergi, meninggalkan tempat keributan. Lalu disusul anak-anak Tetris. Bara menepuk pundakku lalu pergi.
“Lo gak papa Rud?” Tanyaku mendekati Rudi.
“Iya gak papa Wan, thanks ya.” Jawab Rudi.
“Sip, resiko punya cewe cantik ya begini harus siap mental, hahahaha.” Kataku.
“Apaan sih lo Wan, orang mukanya memar gini malah dibecandain.” Kata Laura
“Udah gak papa say, tapi gua juga udah curiga sama anak itu kalau dia make, cuma mau ngingetin gak enak takut tersinggung.” Kata Rudi.
“Udah biarin aja mungkin ini momen nya pas aja buat kita tau anak itu pemakai.” Jawab Fajar.

Aku kaget karena mobil Sherly lewat didepanku tetapi kali ini tidak berhenti sejenak hanya untuk menyapaku.
Diubah oleh setiawanari 17-09-2017 09:11
g.gowang
g.gowang memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.