- Beranda
- Stories from the Heart
Patahan Salib Bidadari
...
TS
setiawanari
Patahan Salib Bidadari
In the name of Allah, the beneficient, the merciful
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Terimakasih untuk gambar sampulnya awayeye
Terimakasih Kaskus, khususnya untuk sub forum SFTH yang telah menyediakan tempat menampilkan sebuah cerita. Sebuah fasilitas yang akan saya gunakan untuk menulis dimulai dari hari ini hingga di hari-hari selanjutnya.
Terlepas dari nyata atau tidaknya cerita ini, adalah tidak terlalu penting karena sebagian dari kisah nyata dan sebagian dari imaginasi saya. Harapan saya tokoh-tokoh dalam cerita ini dapat menjadi inspirasi untuk para pembaca cerita yang saya tulis ini dapat menjadikan saya untuk terus berkreatifitas.
Mohon maaf jika materi dalam cerita ini nantinya ada kesalahan dan menyinggung pihak-pihak tertentu sekiranya nasihat, kritik dan saran dari agan/sista yang lebih berpengalaman selalu sangat saya harapkan.
Menemani istirahat untuk menghilangkan lelah setelah pulang kerja/sekolah/kuliah, atau saat sedang menunggu sesuatu mari kita baca ceritanya. Ditemani alunan musik dan segelas kopi/cokelat/susu/teh hangat kita kembali ke beberapa tahun yang lalu!!!.
PEMBUKA CERITA
Terpaku di dalam rasa cinta yang tak mungkin pudar, menanti cinta datang membawa arti sampai segenap organ ini berhenti.
Sore itu saat cuaca cerah di lantai 6 gedung akademisi yang melahirkan sarjana ekonomi terbaik aku termenung. Melamunkan manis, asam, asin dan pahitnya segala kehendak Tuhan yang dianugerahkan kepada salah satu ciptaanNya.
Manusia diberikan otak untuk berfikir dan menggunakan logika lalu diberikan hati untuk merasakan. Hati adalah malaikat sedangkan otak kadang menjadi iblis dan sangat sulit untuk mengontrolnya menjadi malaikat. Hati menjerit saat kita berbuat salah sedangkan otak adalah penyebab semua kesalahan yang dilakukan manusia. Malaikat dan iblis adalah gambaran dari manusia, sebagai simbol antara kebaikan dan kejahatan. Kebaikan tidak akan bersanding dengan kejahatan dan sebaliknya.
“Permisi Mas! Bisa pindah duduknya, lantainya mau di bersihkan!” Sapa seorang petugas cleaning service membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya mas”. Jawabku sambil berlalu pergi menuju tempat parkir motor tepatnya dihalaman depan kampus.
Karamnya cinta ini
Tenggelamkanku diduka yang terdalam
Hampa hati terasa
Kau tinggalkanku meski ku tak rela
Salahkah diriku hingga saat ini
Kumasih mengharap
Kau tuk kembali………
Sore itu gerimis turun saat aku pulang, tak terasa sampai ditempat kos yang kebetulan hanya berjarak 10 menit dari kampus air hujan membasahi jaket jeans yang ku kenakan. Segera aku mengambil handuk dan membersihkan diri, bersiap untuk mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Dengan ritual sholat Ashar aku merasakan kedamaian yang tidak ada bandingannya, sebagai bentuk kepatuhan dan rasa syukur atas semua yang diberikan Tuhan baik itu berkah yang membuat hati senang maupun musibah sebagai ujian kepada hambanya agar menjadi sosok yang lebih kuat.
Waktunya istirahat, kurebahkan badan ini di kasur busa sebagai surga dunia yang paling indah, sambil memutar lagu menemaniku melepas lelah. Secangkir kopi hitam telah kusiapkan untuk menghangatkan suasana karena diluar hujan turun semakin deras. Kupandangi sebuah kalung berwarna emas berliontin salib yang bersanding dengan sebuah kalung perak berliontin lafaz Allah, tergantung dibawah poster foto Ibu Sundari Sukotjo tepat di tengah-tengah dinding kamar kosku. Masih menampakkan kilaunya meski kalung-kalung itu sudah hampir 4 tahun lamanya. Aku bangkit dari tempat tidur, meminum sedikit kopi hitam, sambil menarik nafas dalam sedalam yang aku mampu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu di sore ini, ya aku merasakan suatu kerinduan yang luar biasa dengan pemilik kalung salib yang tergantung dikamarku, seorang yang sangat suka musik klasik, seseorang pecinta sepakbola, seseorang yang suka kopi hitam dan mungkin pernah mencintaiku walaupun tak pernah mengungkapkan sepatah katapun.
“Ya Tuhan hari ini aku kangen banget sama dia, meski tak sebesar kangen ku kepadaMu, tapi sungguh seolah-olah aku merasa sangat lemah dan sangat kehilangan. Hari ini tepat 4 bulan yang lalu dia beranjak pergi dari tempat ini, dia pergi untuk cita-citanya, untuk impiannya dan bodohnya aku belum sempat mengutarakan seluruh perasaanku kepadanya. Perbedaan keyakinanlah yang menghalangi, aku bahkan hanya bisa diam membisu saat ku ingin mengucapkan seluruh rasa cinta ini aku takut rasa cinta kepada makhluk ciptaanMu melebihi rasa cintaku padaMu. Tak kuasa air mata ini menetes, berusaha ku tahan tapi tak sanggup karena mungkin ini air mata rindu yang mencapai puncaknya.
Aku bukan seorang penulis tetapi hari ini tiba-tiba ingin sekali aku ingin sekali memainkan jariku di keyboard yang biasanya hanya kupakai untuk membuat tugas. Aku ingin menulis tentang dirimu tentang cerita kita, walaupun mungkin tidak berujung bahagia tidak apa karena mungkin dengan tulisan ini aku bisa mencurahkan segala isi hati dan kerinduanku kepada mu. Kenangan indah tentang hari-hari yang pernah kulalui dengan seorang bidadari yang telah merubah seluruh hidupku, meski meninggalkan perasaan yang terus menggantung entah sampai kapan. Bidadari yang datang di hidupku, menemaniku sejenak lalu pergi meninggalkan patahan salibnya di hidupku.
Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu
Sekilas Gambar Tentang Aku
Harapan Sesuai dengan Kenyataan
Kerikil Kecil dan Awan yang Jauh
Pertemuan dengan Sahabat
Sepatu Mengawali Sebuah Impian
Dunia Kampus dan Teman Baru
Keluarga Kecil Bernama HALTE
Sesuatu Mengganggu Pesta Akhir Smester
Diantara Rasa Kagum dan Penasaran
Meluapnya Sebuah Emosi
Hubungan yang Semakin Dekat
Kegelisahan Menghadapi Perasaan yang Berbeda
Siang Menjadi Malam dan Sebaliknya
Perjalanan yang Semakin Indah
Momen Menggelikan dan Warna Kehidupan
Dilema Menghadapi Ungkapan Perasaan
Tetangga di Sekitar Kami
Liontin Salib untuk Leher yang Indah
Kepedihan Cerita di Masa Lalu
Senyuman untuk Hati yang Terluka
Sosok yang Menjadi Pertanyaan
Mencoba Menghilangkan Trauma
Pelangi yang Hilang Bersama Turunnya Hujan
Malam Kebahagiaan Bersama Keluarga Kecil
Bidadari Kecil Kini Telah Dewasa
Kebahagiaan Kini Tinggal Prasasti
Semua Terjadi Sangat Cepat
Sebuah Cinta yang Salah
Surga yang Tak Layak untuk Dilihat
Rumput Dingin Di Bawah Bangku Taman
Pahitnya Sebuah Ucapan
Air Mata Menepis Kerasnya Kata-kata
Satu Langkah ke Arah Normal
Bertahan Hanya dalam Waktu Singkat
Semakin Tenggelam dalam Kedekatan
Lilin Kecil di Malam Penuh Kebahagiaan
Selamat Datang Kemarau
Kerinduan yang Teramat Dalam
Hembusan Angin Masa Lalu
Sayap yang Kuat Untuk Bidadari Kecil
Tinta Biru Menorehkan Luka
Berusaha Menyembunyikan Luka
Hilangnya Rasa Segan
Keberhasilan Tanpa Perayaan
Berharap Hanya Andai Saja
Serpihan Kenangan yang Menyiksa
Tempat Baru
Berita Baik Bersama Undangan
Selamat Menempuh Hidup Baru
Kesan yang Baik di Hari Pertama
Insiden Kecil dan Masa yang Telah Terlewati
Menutup Momen 4 Tahun Kebersamaan
Kotak Makan Siang
Keberanian Untuk Memulai
Pahitnya Sambutan Selamat Datang
Seperti Kembali ke Waktu Itu
Teka Teki dari Perhatian Sederhana
Cerita di Ujung Sore
Peneduh Panasnya Amarah
Mengungungkapkan tak Semudah Membayangkan
Titik Terang yang Terasa Gelap
Patahan Salib Bidadari
Terimakasih Untuk Masa yang Terlewati
Apa yang Sebenarnya Terjadi
Kembali Terjatuh
Dunia Ciptakan Keindahan
Dan Kebahagiaan [TAMAT]
Kata Penutup (Q&A)
Diubah oleh setiawanari 10-07-2018 17:35
nona212 dan calebs12 memberi reputasi
3
111.2K
608
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
setiawanari
#46
Tetangga di Sekitar Kami
Kebahagiaan dan kesedihan datang silih berganti. Disaat bahagia aku ingin bercerita dengan kedua orang tuaku, disaat sedihpun aku ingin mereka mengelus kepalaku agar dapat melupakan kesedihan. Tetapi sekarang aku sendiri dan hanya merasakan kehadiran mereka dalam hati. Nasihat mereka, cerita mereka disaat mereka masih disini akan selalu teringat di dalam pikiranku. Dengan mengingatnya aku selalu merasakan kehadiran mereka, hanya nasihat-nasihat dalam ingatanku yang selalu mengelus kepalaku agar aku tetap kuat menghadapi hidup ini dalam kesendirian.
Hujan saat selesai jam kuliah, menunggu reda aku duduk di teras lantai 4 kampus.
“Kemarau tapi kok hujannya deres banget.” Batinku sambil melihat milyaran tetes air hujan yang ukurannnya kali ini cukup besar.
“Wan, masih disini gak pulang?" Kata Laura yang tadi sekelas denganku
“Pulang gimana, orang masih deres begini, bisa meriang badan gua.” Jawabku.
“Hahahahaha, oh iya ya kirain lo demen ujan-ujanan, yaudah gua ke kantin dulu ya, mai ikut gak, oh enggak yaudah kalau gitu.” Kata Laura
“Ih nanya dijawab sendiri, belum laper gua lagian gua gak pernah makan dikantin, makan sekali aja sakit perut.” Kataku.
“Aah, bilang aja kalau makan di kantin nasinya gak bisa nambah, sekalinya nambah bayar lagi.” Kata Laura.
“Lha sok tau, emang tau dari mana?” Kataku.
“Noh, yang kasih tau, yaudah gua duluan ya?" Kata Laura menunjuk Sherly yang berjalan kearahku.
"Pantesan, selama ini kan yang tau kebiasaanku makan hanya Sherly, jangan-jangan.......” Batinku.
Laura pun pergi, aku melihat dia menunggu lift, sampai akhirnya masuk ke dalam lift dan menghilang.
“Kenapa sepertinya perasaan ini masih ada, kenapa keinginan untuk menggenggam tangannya belum bisa aku hapuskan,? Hhhhhhhhhhhhaaahhh lupakan, lupakan.” Batinku.
Kulihat Sherly berhenti menyapa teman-temannya berbincang sebentar lalu kembali jalan ke arahku.
“Hey, Awan, ujan ya?" Kata Sherly duduk disampingku.
Akupun berdiri dan melihat langit, lalu duduk lagi.
“Gak kelihatan Sher, enggak kayanya.” Kataku.
“Iih ditanya beneran, malah jawabnya gitu.” Kata Sherly mengangkat tangannya bersiap memukul kepalaku.
“Eit, eit iya-iya ujan, lagian udah tau deres begini masih nanya.” Kataku.
“Ya, kan maksudnya tadi pertanyaan gak untuk dijawab, masih aja! Wan gua bawa makanan ni yang gua masak sendiri mau gak?" Kata Sherly mengeluarkan bekalnya yang berisi sosis, nuget dan daging asap yang digoreng.
“Hahahahaha masak sendiri,? Ini ma tinggal goreng Sherly.” Kataku mengambil nuget lalu memakannya.
“Ih ih, main comot aja yg bawa aja belum makan, walau tinggal goreng tapi ini penuh perjuangan wan, jalan dulu ke supermarket, beli dulu, baru digoreng, gorengnya pun harus pakai perasaan biar gak gosong, enak aja tinggal goreng.”
“Tapi enak, satu lagi dong.” Kataku ingin mengambil sosis tapi Sherly malah menjauhkan kotak bekalnya.
“Jorok, ini pakai garpu.” Kata Sherly yang ternyata dia membawa 2 garpu.
Kami pun menghabiskan bekal menunggu hujan reda, dan aku yang memakan lebih banyak potongan bekal Sherly.
“Sher, emang lo kenal sama Laura?" Kataku.
“Laura? Ya kenal laah waktu perkenalan kampus kan satu kelompok sama gua, terus kita kan satu UKM bahasa Mandarin, kenapa suka yaaaa?” Kata Sherly.
“Baru juga nanya main suka-suka aja, ya bingung aja masa dia bisa tau kebiasaan makan gua yang banyak, yang taukan lo doang, jangan-jangan loe ceritain kebiasaan-kebiasaan gua ke temen-temen lo ya Sher?" Kataku.
“Hahahahaha ya enggak lah cuma waktu itu aja keceplosan pas gua kumpul makan sama temen-temen gua, Anisa, Laura dan yang lainnya. Pas makan di De c*st nasinya gak abis, terus gua bilang kalau ada lo ma pasti abis nasinya, gitu.”
“Wah lo sher, mulutnya kecil tapi bawel, gua kan jadi malu kalau ketemu temen-temen lo yang ada mereka pada ngetawain gua lagi.”
“Ya enggak lah mereka malah pada heran tau lo makannya banyak tapi gak gendut, perut lo juga gak buncit, terus aku bilang aja kalau lo ngegym hahahahahaha.”
“Ngegym? Hahahahaha buat aktivitas aja udah capek masih harus ngangkatin barbel.”
“Ya biarin aja lagian mereka juga percaya aja, capek kok masih main futsal.”
“Itu ma hobi, dengan futsal gua bisa jaga berat badan gua, lo liat dong anak-anak yang tergabung di Halte Futsal mana ada yang buncit, buncit dikit dicengin abis, Sandro, Fajar sama Ari aja sampai dibela-belain gym sama diet biar perutnya keluar batanya.”
“Hahahahaha cowok ma aneh perut malah diurusin, mending perawatan wajah.”
“Ya itu kan cewek Sher.”
“Iya ya, kalau cowok perawatan wajah jadi cantik lagi tar, hahahahaha, eh lo masih suka berantem ya wan?” KataKata sherly
“Berantem, ya enggak lah," kataku bingung
“Tadi kata Sandro hari senin lo berantem di Pluit.” Kata Sherly.
Iiih polos amat sih ni anak.” Batinku.
“Hahahahaha kalau denger omongannya Sandro lo cerna dulu maksudnya, di Pluit emang berantem tapi latihan jujitsu Sher, olahraga.” Kataku menjelaskan.
“Ooh kirain, sial tu anak boongin gua, iya gua lupa waktu itu pernah jemput lo disana ya, hehehehehe.”
“IPK aja tunggi masa gitu aja gak paham.”
“Biarin, eh udah reda ni gua ke perpus dulu ya udah di tunggu Anisa.” Kata Sherly.
“Eh, Sher tapi lo gak cerita apa-apa kan tentang hubungan kita yang sebenernya sama Laura?” Kataku.
“Enggak, belum waktunya, yaudah gua duluan ya.” Kata Sherly berlalu karena pintu lift sudah terbuka.
“Bagus lah berarti kita sehati Sher.” Batinku.
Kamis ini aku hanya ada satu mata kuliah. Aku berjalan melewati halaman kampus yang basah beberapa sudut tergenang air. Langkahku terhenti di halte karena ini suasana yang pas untuk menikmati segelas kopi. Halte tidak terlalu ramai mungkin karena hujan baru saja berhenti.
“Hei, Jar lo udah dimari ada jam kuliah?” Kataku duduk di sampingnya.
“Tar jam 2 Wan, lo udah kelar?”
“Udah satu doang gua hari ini.”
Disaat kami sedang asik berbincang datanglah penghuni halte yang lain, Sandro, Ambon, Riski, Ari, dan hampir semua penghuni berdatangan. Halte penuh, banyak yang mengambil jam kuliah di hari ini. Suasana menjadi ramai karena bertepatan dengan jam makan siang sementara langit mulai cerah kembali.
“Wan, ikut gua ada yang mau gua omongin bentar.” Kata Fajar lalu berjalan, duduk di kursi menjauh dari anak-anak. Akupun mengikutinya.
“Apaan sih Jar pakai kemari segala.” Kataku duduk.
Fajar adalah orang yang paling serius diantara kami sekaligus paling dewasa pemikirannya, orangnya sangat dingin dan tenang. Rambutnya selalu tertata rapih, terlihat basah, bekas jerawat tidak mengurangi ketampanannya. Tatapan dan tingkah lakunya selalu ku lihat seperti bos mafia dalam film action.
“Woi loe bedua mojok-mojok, homoan lo ya.” Teriak Sandro yang tidak kami hiraukan.
“Wan, semalem gua liat lo nemuin Laura di Pantai M*tiara?" Kata Fajar.
“Siapa yang bilang? Wah pasti si Batak itu ya.” Kataku sambil melihat Sandro.
“Iya makannya sekarang gua mau mastiin langsung dari lo.” Kata Fajar.
“Iya semalem gua jalan sama dia, tapi bukan yang seperti Sandro maksud, dia kan anaknya tau sendiri lo Jar.”
“Iya, masalahnya gini Wan, lagi itu lo pernah cerita ke gua tentang Laura, tapi-tiba lo jadian sama Sherly, dan Laura ngilang gitu aja, gua takut kejadian waktu itu itu terulang lagi soalnya gua denger anak TETRIS yang kebanyakan angkatan 2007 ada yang suka, dan yang jadi masalah lo tau sendiri kan Halte sama Tetris itu selalu perang urat syaraf.” Kata Fajar menjelaskan seperti boss besar yang sedang memberi arahan kepada anak buahnya.
“Hahahahaha ya iya lah Jar orang secantik Laura ma banyak yang suka gak cuma anak Tetris aja Jar.” Kataku
“Ya lo dengerin gua dulu Wan, kalau yang lain gak masalah tapi kalau anak Tetris yang suka sama Laura, gua yakin mereka bakal cari masalah, lo gak inget cerita Babe kalau 2 tahun lalu Halte sama Tetris tawuran gara-gara turnamen futsal internal kampus, dan sekarang belum akur, makannya gua gak mau kita yang nyalain api duluan.” Kata Fajar.
“Yaelah bahasa lo Jar tinggi banget, hahahahaha yaudah tenang aja gua gak ada hubungan apa-apa sama Laura lagian kan gua udah punya Sherly.” Kataku lagi lagi berbohong.
“Yaudah kalau lo paham.” Kata Fajar berdiri berjalan ke arah Sandro dan anak-anak.
“Woi Jar mau ngomong ini doang, yaelah kirain apaan.” Kataku mengikuti orang yang paling aku segani di kampus ini. Seseorang lebih muda dariku memiliki kelebihan yang tidak aku miliki.
“Woi coy ini dia playboy baru kita, lokit dong komuknya ganteng banget dah.” Kata Sandro disertai tawa anak-anak. “Yaelahh masih aja kelakuan sendiri di lempar ke orang lain, awas tu burung jagain jangan sampai suruh gua nganter...................” Kataku terhenti Karena Sandro menutup mulutku. Mungkin dia malu karena pernah memintaku mengantarnya ke dokter akibat gejala sifilis. Walapun sebenarnya hal ini sudah diketahui anak-anak karena dia sendiri yang bercerita.
Lama kelamaan Halte semakin sepi satu persatu anak-anak masuk kelasnya masing-masing sesuai dengan jamnya. Begitu juga dengan tempat ngumpul anak Tetris sudah mulai sepi.
Di depan kampusku terbagi 4 basecamp dari 4 gerombolan yang aku sendiri tidak tahu sejak kapan. Mereka adalah Tetris, Manda, circle, dan Halte.
Markas Tetris berada di samping kanan gerbang kampus tepat di bawah pohon besar dan disitu ada warung kopi Mak Ginem. Tetris adalah singkatan dari terlindung pohon yang kata pohonya di ganti dengan tris mungkin maksudnya bahasa inggris dari pohon. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak dengan hobi modif mobil, naik gunung, selera music dan style mereka tinggi, bisa dikatakan mereka anak-anak dari golongan menengah ke atas.
Sementara Circle tidak ada singkatannya hanya memiliki arti roda yang terus berputar. Markasnya tepat di depan Halte hanya dibatasi beberapa pedagang. Ditandai oleh gerobak Bang Beni untuk berjualan kopi dan minuman dingin. Kebanyakan dari mereka adalah anak motor, music reage, dan dari kaum pecinta Vespa . di kampus ini. Circle dan Halte adalah yang paling akrab, disaat hujan turun anak-anak circle berlarian neduh di halte kerena markas circle yang tak beratap.
Sedangkan Manda markasnya ada di jalan kecil menuju belakang kampus satu deretan dengan fotokopian. Manda singkatan dari mabuk janda entah apa artinya tetapi mereka berkumpul di warung kopi milik Teh Elis dan berstatus janda anak anak satu. Dipenuhi anak-anak yang hobi clubing, judi online, fasion terupdate, segala jenis hiburan malam.
Dan Halte markas yang paling besar dengan masa paling banyak. Terdiri dari manusia yang berasal dari berbagai golongan. Hanya tempat ini yang disetiap sabtu pagi dipenuhi kulit kacang berserakan dimana-mana.
Sampai di tempat kos aku lihat hal biasa, Ninda tidak di kamarnya. Aku langsung tiduran sambil memikirkan kata-kata Fajar. Ada perasaan tertantang untuk memancing anak-anak Tetris dengan memainkan emosi mereka. Aku penasaran siapa anak Tetris yang suka dengan Laura.
“Kenapa aku masih merasa tidak senang jika ada yang suka dengan Laura, ah tetapi aku sudah berjanji dengan Sherly untuk tidak mengulang kejadian yang sama.” Batinku dengan mata semakin berat untuk ku tahan.
Hujan saat selesai jam kuliah, menunggu reda aku duduk di teras lantai 4 kampus.
“Kemarau tapi kok hujannya deres banget.” Batinku sambil melihat milyaran tetes air hujan yang ukurannnya kali ini cukup besar.
“Wan, masih disini gak pulang?" Kata Laura yang tadi sekelas denganku
“Pulang gimana, orang masih deres begini, bisa meriang badan gua.” Jawabku.
“Hahahahaha, oh iya ya kirain lo demen ujan-ujanan, yaudah gua ke kantin dulu ya, mai ikut gak, oh enggak yaudah kalau gitu.” Kata Laura
“Ih nanya dijawab sendiri, belum laper gua lagian gua gak pernah makan dikantin, makan sekali aja sakit perut.” Kataku.
“Aah, bilang aja kalau makan di kantin nasinya gak bisa nambah, sekalinya nambah bayar lagi.” Kata Laura.
“Lha sok tau, emang tau dari mana?” Kataku.
“Noh, yang kasih tau, yaudah gua duluan ya?" Kata Laura menunjuk Sherly yang berjalan kearahku.
"Pantesan, selama ini kan yang tau kebiasaanku makan hanya Sherly, jangan-jangan.......” Batinku.
Laura pun pergi, aku melihat dia menunggu lift, sampai akhirnya masuk ke dalam lift dan menghilang.
“Kenapa sepertinya perasaan ini masih ada, kenapa keinginan untuk menggenggam tangannya belum bisa aku hapuskan,? Hhhhhhhhhhhhaaahhh lupakan, lupakan.” Batinku.
Kulihat Sherly berhenti menyapa teman-temannya berbincang sebentar lalu kembali jalan ke arahku.
“Hey, Awan, ujan ya?" Kata Sherly duduk disampingku.
Akupun berdiri dan melihat langit, lalu duduk lagi.
“Gak kelihatan Sher, enggak kayanya.” Kataku.
“Iih ditanya beneran, malah jawabnya gitu.” Kata Sherly mengangkat tangannya bersiap memukul kepalaku.
“Eit, eit iya-iya ujan, lagian udah tau deres begini masih nanya.” Kataku.
“Ya, kan maksudnya tadi pertanyaan gak untuk dijawab, masih aja! Wan gua bawa makanan ni yang gua masak sendiri mau gak?" Kata Sherly mengeluarkan bekalnya yang berisi sosis, nuget dan daging asap yang digoreng.
“Hahahahaha masak sendiri,? Ini ma tinggal goreng Sherly.” Kataku mengambil nuget lalu memakannya.
“Ih ih, main comot aja yg bawa aja belum makan, walau tinggal goreng tapi ini penuh perjuangan wan, jalan dulu ke supermarket, beli dulu, baru digoreng, gorengnya pun harus pakai perasaan biar gak gosong, enak aja tinggal goreng.”
“Tapi enak, satu lagi dong.” Kataku ingin mengambil sosis tapi Sherly malah menjauhkan kotak bekalnya.
“Jorok, ini pakai garpu.” Kata Sherly yang ternyata dia membawa 2 garpu.
Kami pun menghabiskan bekal menunggu hujan reda, dan aku yang memakan lebih banyak potongan bekal Sherly.
“Sher, emang lo kenal sama Laura?" Kataku.
“Laura? Ya kenal laah waktu perkenalan kampus kan satu kelompok sama gua, terus kita kan satu UKM bahasa Mandarin, kenapa suka yaaaa?” Kata Sherly.
“Baru juga nanya main suka-suka aja, ya bingung aja masa dia bisa tau kebiasaan makan gua yang banyak, yang taukan lo doang, jangan-jangan loe ceritain kebiasaan-kebiasaan gua ke temen-temen lo ya Sher?" Kataku.
“Hahahahaha ya enggak lah cuma waktu itu aja keceplosan pas gua kumpul makan sama temen-temen gua, Anisa, Laura dan yang lainnya. Pas makan di De c*st nasinya gak abis, terus gua bilang kalau ada lo ma pasti abis nasinya, gitu.”
“Wah lo sher, mulutnya kecil tapi bawel, gua kan jadi malu kalau ketemu temen-temen lo yang ada mereka pada ngetawain gua lagi.”
“Ya enggak lah mereka malah pada heran tau lo makannya banyak tapi gak gendut, perut lo juga gak buncit, terus aku bilang aja kalau lo ngegym hahahahahaha.”
“Ngegym? Hahahahaha buat aktivitas aja udah capek masih harus ngangkatin barbel.”
“Ya biarin aja lagian mereka juga percaya aja, capek kok masih main futsal.”
“Itu ma hobi, dengan futsal gua bisa jaga berat badan gua, lo liat dong anak-anak yang tergabung di Halte Futsal mana ada yang buncit, buncit dikit dicengin abis, Sandro, Fajar sama Ari aja sampai dibela-belain gym sama diet biar perutnya keluar batanya.”
“Hahahahaha cowok ma aneh perut malah diurusin, mending perawatan wajah.”
“Ya itu kan cewek Sher.”
“Iya ya, kalau cowok perawatan wajah jadi cantik lagi tar, hahahahaha, eh lo masih suka berantem ya wan?” KataKata sherly
“Berantem, ya enggak lah," kataku bingung
“Tadi kata Sandro hari senin lo berantem di Pluit.” Kata Sherly.
Iiih polos amat sih ni anak.” Batinku.
“Hahahahaha kalau denger omongannya Sandro lo cerna dulu maksudnya, di Pluit emang berantem tapi latihan jujitsu Sher, olahraga.” Kataku menjelaskan.
“Ooh kirain, sial tu anak boongin gua, iya gua lupa waktu itu pernah jemput lo disana ya, hehehehehe.”
“IPK aja tunggi masa gitu aja gak paham.”
“Biarin, eh udah reda ni gua ke perpus dulu ya udah di tunggu Anisa.” Kata Sherly.
“Eh, Sher tapi lo gak cerita apa-apa kan tentang hubungan kita yang sebenernya sama Laura?” Kataku.
“Enggak, belum waktunya, yaudah gua duluan ya.” Kata Sherly berlalu karena pintu lift sudah terbuka.
“Bagus lah berarti kita sehati Sher.” Batinku.
Kamis ini aku hanya ada satu mata kuliah. Aku berjalan melewati halaman kampus yang basah beberapa sudut tergenang air. Langkahku terhenti di halte karena ini suasana yang pas untuk menikmati segelas kopi. Halte tidak terlalu ramai mungkin karena hujan baru saja berhenti.
“Hei, Jar lo udah dimari ada jam kuliah?” Kataku duduk di sampingnya.
“Tar jam 2 Wan, lo udah kelar?”
“Udah satu doang gua hari ini.”
Disaat kami sedang asik berbincang datanglah penghuni halte yang lain, Sandro, Ambon, Riski, Ari, dan hampir semua penghuni berdatangan. Halte penuh, banyak yang mengambil jam kuliah di hari ini. Suasana menjadi ramai karena bertepatan dengan jam makan siang sementara langit mulai cerah kembali.
“Wan, ikut gua ada yang mau gua omongin bentar.” Kata Fajar lalu berjalan, duduk di kursi menjauh dari anak-anak. Akupun mengikutinya.
“Apaan sih Jar pakai kemari segala.” Kataku duduk.
Fajar adalah orang yang paling serius diantara kami sekaligus paling dewasa pemikirannya, orangnya sangat dingin dan tenang. Rambutnya selalu tertata rapih, terlihat basah, bekas jerawat tidak mengurangi ketampanannya. Tatapan dan tingkah lakunya selalu ku lihat seperti bos mafia dalam film action.
“Woi loe bedua mojok-mojok, homoan lo ya.” Teriak Sandro yang tidak kami hiraukan.
“Wan, semalem gua liat lo nemuin Laura di Pantai M*tiara?" Kata Fajar.
“Siapa yang bilang? Wah pasti si Batak itu ya.” Kataku sambil melihat Sandro.
“Iya makannya sekarang gua mau mastiin langsung dari lo.” Kata Fajar.
“Iya semalem gua jalan sama dia, tapi bukan yang seperti Sandro maksud, dia kan anaknya tau sendiri lo Jar.”
“Iya, masalahnya gini Wan, lagi itu lo pernah cerita ke gua tentang Laura, tapi-tiba lo jadian sama Sherly, dan Laura ngilang gitu aja, gua takut kejadian waktu itu itu terulang lagi soalnya gua denger anak TETRIS yang kebanyakan angkatan 2007 ada yang suka, dan yang jadi masalah lo tau sendiri kan Halte sama Tetris itu selalu perang urat syaraf.” Kata Fajar menjelaskan seperti boss besar yang sedang memberi arahan kepada anak buahnya.
“Hahahahaha ya iya lah Jar orang secantik Laura ma banyak yang suka gak cuma anak Tetris aja Jar.” Kataku
“Ya lo dengerin gua dulu Wan, kalau yang lain gak masalah tapi kalau anak Tetris yang suka sama Laura, gua yakin mereka bakal cari masalah, lo gak inget cerita Babe kalau 2 tahun lalu Halte sama Tetris tawuran gara-gara turnamen futsal internal kampus, dan sekarang belum akur, makannya gua gak mau kita yang nyalain api duluan.” Kata Fajar.
“Yaelah bahasa lo Jar tinggi banget, hahahahaha yaudah tenang aja gua gak ada hubungan apa-apa sama Laura lagian kan gua udah punya Sherly.” Kataku lagi lagi berbohong.
“Yaudah kalau lo paham.” Kata Fajar berdiri berjalan ke arah Sandro dan anak-anak.
“Woi Jar mau ngomong ini doang, yaelah kirain apaan.” Kataku mengikuti orang yang paling aku segani di kampus ini. Seseorang lebih muda dariku memiliki kelebihan yang tidak aku miliki.
“Woi coy ini dia playboy baru kita, lokit dong komuknya ganteng banget dah.” Kata Sandro disertai tawa anak-anak. “Yaelahh masih aja kelakuan sendiri di lempar ke orang lain, awas tu burung jagain jangan sampai suruh gua nganter...................” Kataku terhenti Karena Sandro menutup mulutku. Mungkin dia malu karena pernah memintaku mengantarnya ke dokter akibat gejala sifilis. Walapun sebenarnya hal ini sudah diketahui anak-anak karena dia sendiri yang bercerita.
Lama kelamaan Halte semakin sepi satu persatu anak-anak masuk kelasnya masing-masing sesuai dengan jamnya. Begitu juga dengan tempat ngumpul anak Tetris sudah mulai sepi.
Di depan kampusku terbagi 4 basecamp dari 4 gerombolan yang aku sendiri tidak tahu sejak kapan. Mereka adalah Tetris, Manda, circle, dan Halte.
Markas Tetris berada di samping kanan gerbang kampus tepat di bawah pohon besar dan disitu ada warung kopi Mak Ginem. Tetris adalah singkatan dari terlindung pohon yang kata pohonya di ganti dengan tris mungkin maksudnya bahasa inggris dari pohon. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak dengan hobi modif mobil, naik gunung, selera music dan style mereka tinggi, bisa dikatakan mereka anak-anak dari golongan menengah ke atas.
Sementara Circle tidak ada singkatannya hanya memiliki arti roda yang terus berputar. Markasnya tepat di depan Halte hanya dibatasi beberapa pedagang. Ditandai oleh gerobak Bang Beni untuk berjualan kopi dan minuman dingin. Kebanyakan dari mereka adalah anak motor, music reage, dan dari kaum pecinta Vespa . di kampus ini. Circle dan Halte adalah yang paling akrab, disaat hujan turun anak-anak circle berlarian neduh di halte kerena markas circle yang tak beratap.
Sedangkan Manda markasnya ada di jalan kecil menuju belakang kampus satu deretan dengan fotokopian. Manda singkatan dari mabuk janda entah apa artinya tetapi mereka berkumpul di warung kopi milik Teh Elis dan berstatus janda anak anak satu. Dipenuhi anak-anak yang hobi clubing, judi online, fasion terupdate, segala jenis hiburan malam.
Dan Halte markas yang paling besar dengan masa paling banyak. Terdiri dari manusia yang berasal dari berbagai golongan. Hanya tempat ini yang disetiap sabtu pagi dipenuhi kulit kacang berserakan dimana-mana.
Sampai di tempat kos aku lihat hal biasa, Ninda tidak di kamarnya. Aku langsung tiduran sambil memikirkan kata-kata Fajar. Ada perasaan tertantang untuk memancing anak-anak Tetris dengan memainkan emosi mereka. Aku penasaran siapa anak Tetris yang suka dengan Laura.
“Kenapa aku masih merasa tidak senang jika ada yang suka dengan Laura, ah tetapi aku sudah berjanji dengan Sherly untuk tidak mengulang kejadian yang sama.” Batinku dengan mata semakin berat untuk ku tahan.
Diubah oleh setiawanari 10-09-2017 10:55
g.gowang memberi reputasi
1