- Beranda
- Stories from the Heart
Patahan Salib Bidadari
...
TS
setiawanari
Patahan Salib Bidadari
In the name of Allah, the beneficient, the merciful
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Terimakasih untuk gambar sampulnya awayeye
Terimakasih Kaskus, khususnya untuk sub forum SFTH yang telah menyediakan tempat menampilkan sebuah cerita. Sebuah fasilitas yang akan saya gunakan untuk menulis dimulai dari hari ini hingga di hari-hari selanjutnya.
Terlepas dari nyata atau tidaknya cerita ini, adalah tidak terlalu penting karena sebagian dari kisah nyata dan sebagian dari imaginasi saya. Harapan saya tokoh-tokoh dalam cerita ini dapat menjadi inspirasi untuk para pembaca cerita yang saya tulis ini dapat menjadikan saya untuk terus berkreatifitas.
Mohon maaf jika materi dalam cerita ini nantinya ada kesalahan dan menyinggung pihak-pihak tertentu sekiranya nasihat, kritik dan saran dari agan/sista yang lebih berpengalaman selalu sangat saya harapkan.
Menemani istirahat untuk menghilangkan lelah setelah pulang kerja/sekolah/kuliah, atau saat sedang menunggu sesuatu mari kita baca ceritanya. Ditemani alunan musik dan segelas kopi/cokelat/susu/teh hangat kita kembali ke beberapa tahun yang lalu!!!.
PEMBUKA CERITA
Terpaku di dalam rasa cinta yang tak mungkin pudar, menanti cinta datang membawa arti sampai segenap organ ini berhenti.
Sore itu saat cuaca cerah di lantai 6 gedung akademisi yang melahirkan sarjana ekonomi terbaik aku termenung. Melamunkan manis, asam, asin dan pahitnya segala kehendak Tuhan yang dianugerahkan kepada salah satu ciptaanNya.
Manusia diberikan otak untuk berfikir dan menggunakan logika lalu diberikan hati untuk merasakan. Hati adalah malaikat sedangkan otak kadang menjadi iblis dan sangat sulit untuk mengontrolnya menjadi malaikat. Hati menjerit saat kita berbuat salah sedangkan otak adalah penyebab semua kesalahan yang dilakukan manusia. Malaikat dan iblis adalah gambaran dari manusia, sebagai simbol antara kebaikan dan kejahatan. Kebaikan tidak akan bersanding dengan kejahatan dan sebaliknya.
“Permisi Mas! Bisa pindah duduknya, lantainya mau di bersihkan!” Sapa seorang petugas cleaning service membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya mas”. Jawabku sambil berlalu pergi menuju tempat parkir motor tepatnya dihalaman depan kampus.
Karamnya cinta ini
Tenggelamkanku diduka yang terdalam
Hampa hati terasa
Kau tinggalkanku meski ku tak rela
Salahkah diriku hingga saat ini
Kumasih mengharap
Kau tuk kembali………
Sore itu gerimis turun saat aku pulang, tak terasa sampai ditempat kos yang kebetulan hanya berjarak 10 menit dari kampus air hujan membasahi jaket jeans yang ku kenakan. Segera aku mengambil handuk dan membersihkan diri, bersiap untuk mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Dengan ritual sholat Ashar aku merasakan kedamaian yang tidak ada bandingannya, sebagai bentuk kepatuhan dan rasa syukur atas semua yang diberikan Tuhan baik itu berkah yang membuat hati senang maupun musibah sebagai ujian kepada hambanya agar menjadi sosok yang lebih kuat.
Waktunya istirahat, kurebahkan badan ini di kasur busa sebagai surga dunia yang paling indah, sambil memutar lagu menemaniku melepas lelah. Secangkir kopi hitam telah kusiapkan untuk menghangatkan suasana karena diluar hujan turun semakin deras. Kupandangi sebuah kalung berwarna emas berliontin salib yang bersanding dengan sebuah kalung perak berliontin lafaz Allah, tergantung dibawah poster foto Ibu Sundari Sukotjo tepat di tengah-tengah dinding kamar kosku. Masih menampakkan kilaunya meski kalung-kalung itu sudah hampir 4 tahun lamanya. Aku bangkit dari tempat tidur, meminum sedikit kopi hitam, sambil menarik nafas dalam sedalam yang aku mampu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu di sore ini, ya aku merasakan suatu kerinduan yang luar biasa dengan pemilik kalung salib yang tergantung dikamarku, seorang yang sangat suka musik klasik, seseorang pecinta sepakbola, seseorang yang suka kopi hitam dan mungkin pernah mencintaiku walaupun tak pernah mengungkapkan sepatah katapun.
“Ya Tuhan hari ini aku kangen banget sama dia, meski tak sebesar kangen ku kepadaMu, tapi sungguh seolah-olah aku merasa sangat lemah dan sangat kehilangan. Hari ini tepat 4 bulan yang lalu dia beranjak pergi dari tempat ini, dia pergi untuk cita-citanya, untuk impiannya dan bodohnya aku belum sempat mengutarakan seluruh perasaanku kepadanya. Perbedaan keyakinanlah yang menghalangi, aku bahkan hanya bisa diam membisu saat ku ingin mengucapkan seluruh rasa cinta ini aku takut rasa cinta kepada makhluk ciptaanMu melebihi rasa cintaku padaMu. Tak kuasa air mata ini menetes, berusaha ku tahan tapi tak sanggup karena mungkin ini air mata rindu yang mencapai puncaknya.
Aku bukan seorang penulis tetapi hari ini tiba-tiba ingin sekali aku ingin sekali memainkan jariku di keyboard yang biasanya hanya kupakai untuk membuat tugas. Aku ingin menulis tentang dirimu tentang cerita kita, walaupun mungkin tidak berujung bahagia tidak apa karena mungkin dengan tulisan ini aku bisa mencurahkan segala isi hati dan kerinduanku kepada mu. Kenangan indah tentang hari-hari yang pernah kulalui dengan seorang bidadari yang telah merubah seluruh hidupku, meski meninggalkan perasaan yang terus menggantung entah sampai kapan. Bidadari yang datang di hidupku, menemaniku sejenak lalu pergi meninggalkan patahan salibnya di hidupku.
Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu
Sekilas Gambar Tentang Aku
Harapan Sesuai dengan Kenyataan
Kerikil Kecil dan Awan yang Jauh
Pertemuan dengan Sahabat
Sepatu Mengawali Sebuah Impian
Dunia Kampus dan Teman Baru
Keluarga Kecil Bernama HALTE
Sesuatu Mengganggu Pesta Akhir Smester
Diantara Rasa Kagum dan Penasaran
Meluapnya Sebuah Emosi
Hubungan yang Semakin Dekat
Kegelisahan Menghadapi Perasaan yang Berbeda
Siang Menjadi Malam dan Sebaliknya
Perjalanan yang Semakin Indah
Momen Menggelikan dan Warna Kehidupan
Dilema Menghadapi Ungkapan Perasaan
Tetangga di Sekitar Kami
Liontin Salib untuk Leher yang Indah
Kepedihan Cerita di Masa Lalu
Senyuman untuk Hati yang Terluka
Sosok yang Menjadi Pertanyaan
Mencoba Menghilangkan Trauma
Pelangi yang Hilang Bersama Turunnya Hujan
Malam Kebahagiaan Bersama Keluarga Kecil
Bidadari Kecil Kini Telah Dewasa
Kebahagiaan Kini Tinggal Prasasti
Semua Terjadi Sangat Cepat
Sebuah Cinta yang Salah
Surga yang Tak Layak untuk Dilihat
Rumput Dingin Di Bawah Bangku Taman
Pahitnya Sebuah Ucapan
Air Mata Menepis Kerasnya Kata-kata
Satu Langkah ke Arah Normal
Bertahan Hanya dalam Waktu Singkat
Semakin Tenggelam dalam Kedekatan
Lilin Kecil di Malam Penuh Kebahagiaan
Selamat Datang Kemarau
Kerinduan yang Teramat Dalam
Hembusan Angin Masa Lalu
Sayap yang Kuat Untuk Bidadari Kecil
Tinta Biru Menorehkan Luka
Berusaha Menyembunyikan Luka
Hilangnya Rasa Segan
Keberhasilan Tanpa Perayaan
Berharap Hanya Andai Saja
Serpihan Kenangan yang Menyiksa
Tempat Baru
Berita Baik Bersama Undangan
Selamat Menempuh Hidup Baru
Kesan yang Baik di Hari Pertama
Insiden Kecil dan Masa yang Telah Terlewati
Menutup Momen 4 Tahun Kebersamaan
Kotak Makan Siang
Keberanian Untuk Memulai
Pahitnya Sambutan Selamat Datang
Seperti Kembali ke Waktu Itu
Teka Teki dari Perhatian Sederhana
Cerita di Ujung Sore
Peneduh Panasnya Amarah
Mengungungkapkan tak Semudah Membayangkan
Titik Terang yang Terasa Gelap
Patahan Salib Bidadari
Terimakasih Untuk Masa yang Terlewati
Apa yang Sebenarnya Terjadi
Kembali Terjatuh
Dunia Ciptakan Keindahan
Dan Kebahagiaan [TAMAT]
Kata Penutup (Q&A)
Diubah oleh setiawanari 10-07-2018 17:35
nona212 dan calebs12 memberi reputasi
3
111.2K
608
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
setiawanari
#38
Momen Menggelikan dan Warna Kehidupan
Tok, tok, tok Awan,.....!!!!
Suara orang mengetok pintu membangunkan ku
“Awan, bangun woi.” Suara itu semakin jelas terdengar.
Aku lihat Sherly masih tertidur dengan rok mukenah belum sempat dilepaskan, mungkin sehabis sembahyang subuh dia tidur lagi. Posisi tidurnya masih sama seperti semalam tetapi kini mengadap kearahku. Aku mengintip ke jendela ternyata Sandro yang datang.
“Ngapain minggu-minggu jam 7 pagi dia dateng kemari ni anak, bisa kacau urusannya ini.” Batinku bingung.
“Iya bentar.” Kataku membukakan pintu
“Eh Wan sory gua mau ngambil sepatu futsal yang kemarin gua tinggal disini, ada latihan jam 9 gua sama anak daerah.” Kata .
“Oke-oke, yaudah lo tunggu disofa ya tar gua cariin dulu.” Kataku sambil menarik Sandro duduk di sofa.
“Lha lo kenapa sih kok aneh banget, nyawa lo belum kumpul ya?” Kata Sandro.
“Iya, iya hoooaah mungkin masih ngantuk gua, yaudah gua cari dulu ya lo tunggu sini aja.” Kataku sambil berdiri melangkah ke kamar baru tiga langkah berjalan tiba-tiba Sherly.......
“Siapa wan pagi-pagi yang dateng?” Kata Sherly membuka pintu kamar.
“Gawat urusannya kalau udah begini, abis sudah.” Batinku.
“Lho, Sherly kok lo, oooh yaudah maaf, maaf gua gak bermaksud….” Kata Sandro terhenti.
“San ini gak seperti yang lo liat San Sumpah Demi Allah San lo jangan mikir kaya gitu, kita gak ngapa-ngapain kan Sher?” Kataku. Kulihat Sherly berjalan keluar dengan muka ketakutan dan sangat malu.
“Iya, gua sama Awan gak ngapa-ngapain San, beneran, semalem gua jalan sama dia terus pulangnya kepagian jadi gua nginep disini.” Kata Sherly lemah.
“Hahahahaha yaudah sih lagian kalian juga udah pada gede tau mana yang baik mana yang buruk, dan udah bisa tanggung jawab untuk diri kalian, yaudah mana sepatu futsal gua.” Kata Sandro. Aku kembali ke dalam kamar lalu keluar memberikan sepatunya.
“Bener San, lo jangan mikir yang enggak-enggak San.” Kataku
“Iya-iya yaudah gua cabut dulu ya, Sher nitip awan jangan digigit ya, hahahahaha.” Kata Sandro sambil berlari meninggalkan kami.
Aku hanya terdiam begitu juga dengan Sherly, Lalu aku kembali ke kamar disusul Sherly, kami duduk di tepi spring bed.
“Aduh gimana ni Wan, pasti Sandro mikir macem-macem lagi.” Kata Sherly.
“Lo sih tadi main keluar aja, jadi kacau dah urusannya.”
“Dih, gua kan gak tau kalau ada dia.”
“Yaudah, tar coba gua jelasin sama dia lagi kalau ketemu.”
“Gua takut nyebar aja, dia kan mulutnya kaya ember aduuuh kalau sampai Anisa tau, terus yang lain juga.” Kata Sherly ketakutan dengan wajah tertunduk lesu.
“Udah tenang aja, gampang dia ma orangnya, kalau tetang gua gak bakal macem-macem Sher.” Kataku berusaha menenangkan Sherly.
Sherly bangkit dari duduknya lalu ke kamar mandi, mencuci muka, lalu keluar dengan wajah cantik alami tanpa make up.
“Awan, gua balik ya, jangan lupa bilangin Sandro.” Kata Sherly sambil memakai sepatu.
“Iya-iya, eh gua anterin aja ya, tar biar gw naik ojek dari sana.” Kataku.
“Aah gak usah lah orang deket ini, lagian udah gak ngantuk gw.” Kata Sherly berdiri dan berjalan menuju mobil aku berjalan mengikuti di belakangnya
“Yaudah, kalau gitu hati-hati ya Sher.”
“Iya-iya, eh makasih ya udah nemenin gua, Kata Sherly masuk ke dalam mobil.
“Iya sama-sama.” Jawabku.
Mobil pun berlalu dari hadapanku, aku kembali kekamar, duduk diatas springbed bersandar di tembok.
“Kok, nyaman banget ya kalau lagi sama Sherly, tawanya, candanya, kok ada perasaan dia pengen disini terus” Batinku mulai tidak jelas.
“Apa mungkin, ah tidak mungkin, rasa nyaman, rasa kagum, rasa kasihan, rasa kesepian saat dia pergi itu semua belum tentu cinta, tetapi cinta kan bisa bermulai dari hal itu?” Batinku masih bergejolak.
Lalu aku berdiri untuk menyiram kepala dan tubuh ini dengan air dingin, menghilangkan rasa lengket akibat keringat yang mengering.
“Hallo, San lo udah kelar main futsal?” Kataku menelpon Sandro.
“Udah Sob, ini gua udah mau pulang, Sherly masih disitu?" Jawab Sandro.
“Udah, lo kemari dulu ya ada yang mau gua omongin.”
“Wih penting nih kayanya, mau beli obat kuat tah hahahaha?”
“Anjir, kalau ngomong udah buruan.”
“Oke-oke, meluncur gua.”
“Eh, eh, sekalian nitip makanan, laper gua belum sarapan.”
“Aah nitip-nitip diganti juga kagak, bilang aja suruh beliin.”
“Hehehehehe iya-iya yaudah gua tunggu.” Kataku sambil mematikan telepon lalu kubuka laptopku untuk sekedar membaca berita online dari internet.
“Hei, Awan.” Kata Ninda yang tiba-tiba masuk kamarku karena menang pintu kamar aku biarkan terbuka setengah.
“Eh elu Nin, ada apa.”
“Hmmm, Wan boleh minjem laptopnya bentar gak, laptop gua ketinggalan di rumah temen, ini mau kirim email, penting.” Kata Ninda sambil mengeluarkan flash disk.
“Oh yaudah, nih lo langsung colok aja, scan dulu tapi ya.” Kataku menyodorkan laptop, Ninda pun duduk disampingku diatas springbed lalu mencolokkan flashdisknya.
“Tumben pagi-pagi udah nongol, dari mana?" Kataku berbasa-basi.
“Emang dari baju gua gak kelihatan gua dari mana Wan, dari gym Wan masa dari pasar," Jawab Ninda sambil menggerak-gerakkan mouse laptop. Aku perhatikan Ninda menggunakan pakaian olahraga, celana panjang training abu-abu yang sangat ketat, dengan kaos warna yang memamerkan ketiaknya dan tato panda di bawah pundak kirinya. Pakaiannya masih terlihat basah oleh keringat dibeberapa bagian.
“Ooh pantesan aja, eh nyeplak banget itu, Nin." Kataku.
Ninda melihat ke arahku dengan tatapan marah lalu meletakkan laptopku mencabut flashdisknya.
“Dasar cowok, semuanya sama, makasih laptopnya.” Kata Ninda berdiri keluar kamar.
“Ada yang salah dengan kata-kataku?” kok kayanya Ninda marah.” Batinku.
“Lho, kok...Lo wah hebat lo Wan lo emang pria tangguh diem-diem satu kali dayung kau lewati dua dayang sekaligus, cantik-cantik pula mereka.” Kata Sandro berdiri di depan pintu.
“Eh elo, kapan dateng nya, tunggu-tunggu, maksudnya apaan San?” Kataku mengajaknya bicara di sofa.
“Baru aja, udah sih wan gak apa-apa rahasia lo aman sama gua, lagian ternyata temen gua yang satu ini gak cuma nyali berantemnya doang yg gede tapi nyali buat naklukin cewek juga besar.” Kata Sandro tertawa.
“Wah lo ma San, gua tau maksud pikiran lo, dan semua ini gak seperti yang lo liat San, gua gak seperti itu, tapi terserah lah kalau lo gak percaya tapi gua minta tolong sama lo San, jangan sampai anak-anak tau kejadian ini, kasihan Sherly bakal malu, yang tau cuma Tuhan sama lo San, jadi tolong lo jangan cerita masalah ini ke yang lain.” Kataku.
“Hahahahaha emang gua ibu-ibu yang suka ngrumpi, udah tenang aja gua percaya sama lo. Masalah ini aman lagian apa untungnya gua certain ke yang lain, udah makan dulu nasinya, ada air kan di dalem?”
“Oke thanks sob, ada mau pakai ember apa gayung.”
“Alamak, Eh dasar kau ini, kau Kira teman kau ini onta apa kau suruh minum air ledeng?” Kata Sandro, lalu aku ambil air ke dalam kamar, dan kami pun makan.
“Eh Awan, siapa cewek di kamar sebelah itu? Wajahnya cantik, bodinya alamak, tak tahan aku melihatnya, sempurna.” Kata Sandro.
“Ssssttt, lo apaan sih kalau ngomong gak ada saringannya, aku sendiri belum lama mengenalnya, lo ngomongnya jangan pakai logat batak sih, pengen ketawa gua.”
“Ooh abis kalau liat cewek cantik, originalitas gua keluar, hahhahaha.”
Kami pun berbincang hingga siang hari, sampai akhirnya Sandro berpamitan pulang. Lalu aku memanaskan motor bersiap mengambil sepatu di tempat bos aku berangkat.
Malam yang cerah, udara tidak begitu panas, langit bersih tanpa mendung yang menghalangi. Bintang bertebaran dilangit, meski sinarnya tidak terlihat dari sini karena di cahaya lampu kota.
Seperti biasa malam ini aku habiskan untuk bermain gitar, meluapkan perasaan mensyukuri hidup yang penuh misterius.
Aku berhenti, saat Ninda keluar kamarnya duduk disampingku, matanya sembam seperti habis menangis. Lalu dia menyalakan rokok, bungkus dan koreknya diletakkan di meja kecil.
“Hei, kok mata lo, kenapa? Abis... Eh maaf ya tadi pagi kalau ada kata-kata yang bikin lo marah.” Kataku sambil meletakkan gitar.
“Iya gakpapa.” Kata Ninda datar.
“Sorry, bukannya mau ikut campur, kalau boleh tau ada masalah apa, lo sering nangis, hari ini juga.” Tanyaku.
Ninda menghisap asap rokok dan menarik nafas sangat dalam.
“Masalah gua? Banyak Wan, kalau gua ceritain juga percuma, gak bakal nyelesaiin semuanya, lebih baik gua hadapi terus disaat gua lelah mungkin dengan menangis dapat melegakan semuanya.” Kata Ninda.
Ooh, yaudah kalau gak mau cerita, ya siapa tau gua bisa membantu, Nin mau gua bikinin kopi.” Kataku.
“Hmm, boleh tapi gulanya dikit aja.” Kata Ninda.
Aku pergi ke kamar menyeduh kopi, ku dengar suara gitar sedang dimainkan diiringi suara wanita bernyanyi.
When I see you smile, I can face the world
Oh, oh
You know I can do anything
When I see you smile, I see a ray of light
Oh, oh
Aku keluar membawa dua gelas kopi hitam, dan ikut bernyanyi meskipun hanya hapal reffnya saja.
Ninda berhenti bernyanyi.
“Kok berhenti, nih kopinya, ayo dong nyanyi lagi, ternyata lo bisa main gitar.” Kataku meletakkan kopi di meja lalu kembali duduk di sofa.
“Hahahahaha malu gua, udah ni lo aja yang main gitar gua yang nyanyi.” Kata Ninda memberikan gitar kepadaku.
“Oke, mau lagu apa, lokal aja jangan barat.” Kataku
“Sheila on Seven.” Kata Ninda
“Oke.” Jawabku kemudian mulai memainkan gitar.
Melihat tawamu
Mendengar senandungmu
Terlihat jelas dimataku
Warna - warna indahmu
Menatap langkahmu
Meratapi kisah hidupmu
Terlihat jelas bahwa hatimu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki
Ternyata suara Ninda sangat bagus, mengikuti alunan gitar, tinggi rendahnya nada pun sesuai dengan suara gitar. Aku berfikir sepertinya dia sudah sering bernyanyi. Akhirnya kami bernyanyi hingga satu jam sebelum tengah malam.
“Wan, minggu sore temenin gua jalan yuk, sekalian lari ke senayan.”
“Kok sore kenapa gak pagi aja.”
“Paginya kan lo jualan, terus rame kalau pagi ma gak asik.”
“Oh iya ya, yaudah bisa gua.”
Ninda melihat arloji di tangan kirinya.
“Eh udah jam 11 Wan, gua tinggal dulu ya.”
Oh, lho emang malem-melem gini mau kemana?”
“Hhmm biasa, ada tugas penting.” Jawab Ninda lalu menuju ke kamarnya, tak berapa lama lalu keluar dengan baju yang aku lihat di malam sebelum dia mabuk parah. Namun kali ini berbeda dia memberikan senyum kepadaku.
Ninda berjalan kebawah dan masuk ke mobil N*san X-tr*il hitam yang telah menunggunya dibawah.
“Kemana dia malam-malam begini, tugas penting kok hampir hampir tiap hari?” Batinku.
Aku kembali ke kamar. Kulihat hp yang sejak sore tadi aku isi baterainya. Ternyata ada beberapa SMS masuk.
Sherly:
“God night, temenku yang paling baik, tadi Sandro telpon gua dan dia janji masalah kita aman, thanks ya Wan, met istirahat.”
Fajar:
“Pak, abis UAS anak-anak mau ngadain acara di Puncak, lo ikut ya, tenang aja no alkhohol karena ladies halte banyak yang ikut.”
Putri
“Jangan lupa makan, Mas Awan jaga kesehatan, salam kangen dari Putri Dan Indri, met bubu.”
Dan yang terakhir yang membuatku kaget.
Laura:
“Disaat kita terjatuh, merasa kalah kadang kita lupa menjadi diri kita. Berusaha menjadi orang lain agar kita menang, tapi aku tetaplah aku dan bukan orang lain, met malam Awan, temui gua di D*rmaga C*ffe hari rabu jam 10 malam, gua tunggu lo dateng.”
Ya Tuhan ada apa dengan Laura, kok semakin rumit seperti ini.” Batinku.
Malam ini sulit sekali mataku terpejam memikirkan sesuatu hal yang telah terjadi dan tak pernah terbayangkan. Malam ini aku merasakan suatu kebingungan.
Aku mulai jatuh cinta dengan Sherly karena dia yang memberiku rasa nyaman, memberikan tawa dengan candanya, memberikan nasihat dengan kedewasaannya. Aku tidak bisa tidak bisa membohongi perasaanku malam ini. Aku merasakan sepi saat dia pulang setelah kita jalan berdua. Tetapi aku sangat takut jika seandainya engkaupun mencintaiku, aku belum siap untuk menjagamu. Sherly, Kamu adalah warna pelangi di hidupku saat ini.
Dan Laura, salah satu wanita cantik yang sering aku impikan, gadis sunda yang dengan kecantikan wajah dan kelembutan perilaku. Selalu ada disaat aku membutuhkannya. Dengan pandangan lembut dia selalu menatapku, bahkan disaat diam pun dia ternyata memperhatikanku, memberikan bantuan mengerjakan berbagai tugas melalui nama orang lain. Saat ini kau sangat kecewa dengan keputusanku. Setiap kau menatapku aku tak sanggup melihat wajahmu. Bening kedua matamu justru semakin menarikku ke dalam berbagai perasaan. Dan kamu adalah warna putih di hidupku
Sedangkan Ninda, kenapa aku semakin penasaran denganmu? Kamu misterius, sampai sejauh ini aku hanya tahu namamu, sedikit kebiasaanmu, tanpa tahu siapa kamu, dari mana kamu dan tentang kehidupanmu. Seperti nya aku ingin sekali menyelam lebih dalam untuk tau kamu lebih dari hari ini. Yang aku tau kita sama Nin! sama-sama peminum alkhohol dan kenapa aku tidak suka kamu seperti ini? Padahal aku sendiri melakukannya? Ninda kamu adalah warna hitam yang datang dengan berjuta pertanyaan.
Malam ini ketiga wanita ini silih berganti datang dalam pikiranku, membuatku sulit terlelap. Miring, tengkurap, terlentang, menyalakan musik, mematikan nya, menyalakan TV, mematikannya duduk terus tidur lagi tetap aku tak bisa tidur.
“Putri, kenapa dengan kakakmu ini, kenapa bagian ini belum pernah kamu ajarkan Putri? Apa yang harus aku lakukan Put.” Teriakku dalam hati.
Aku berdiri menuang air putih, lalu keluar kamar duduk di sofa kulihat jam Sudah menunjukkan pukul 02.30. Kudengar suara mobil datang, ternyata mobil yang membawa Ninda waktu pergi tadi. Kuperhatikan dari atas, Ninda turun dari mobil membuka gerbang lalu masuk berjalan agak sedikit sempoyongan mobil itu pun berlalu pergi.
“Eh lo belum tidur?" Kata Ninda sampai di depan kamarnya, kali ini dia memakai baju seperti saat dia berangkat, lengkap dengan tasnya.
“Belum, nungguin lo takut kaya kemarin lagi.” Jawabku spontan.
“Hahahahaha so sweat banget, ya enggak lah kemaren ma badan gua lagi gak fit terus minumnya kebanyakan.” Kata Ninda sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
“Gua tidur duluan ya Wan, ni buat lo.” kata Ninda memberikan sebotol Sm*rnoff kepadaku lalu kembali ke kamarnya.
“Eh, ini buat gua? makasih Nin.” Kataku
“Iya.” Jawab Ninda dari dalam kamar dengan sedikit sempoyongan.
Aku bergegas masuk ke dalam kamarku, merebahkan diri dan rasa kantuk mulai datang, akhirnya bisa juga aku terlelap.
Ya Tuhan bantu aku melewati ini semua, berikan kekuatan kepadaku melewati ujian perasaan yang menggagu pikiranku ini, selamat malam Tuhan.
Suara orang mengetok pintu membangunkan ku
“Awan, bangun woi.” Suara itu semakin jelas terdengar.
Aku lihat Sherly masih tertidur dengan rok mukenah belum sempat dilepaskan, mungkin sehabis sembahyang subuh dia tidur lagi. Posisi tidurnya masih sama seperti semalam tetapi kini mengadap kearahku. Aku mengintip ke jendela ternyata Sandro yang datang.
“Ngapain minggu-minggu jam 7 pagi dia dateng kemari ni anak, bisa kacau urusannya ini.” Batinku bingung.
“Iya bentar.” Kataku membukakan pintu
“Eh Wan sory gua mau ngambil sepatu futsal yang kemarin gua tinggal disini, ada latihan jam 9 gua sama anak daerah.” Kata .
“Oke-oke, yaudah lo tunggu disofa ya tar gua cariin dulu.” Kataku sambil menarik Sandro duduk di sofa.
“Lha lo kenapa sih kok aneh banget, nyawa lo belum kumpul ya?” Kata Sandro.
“Iya, iya hoooaah mungkin masih ngantuk gua, yaudah gua cari dulu ya lo tunggu sini aja.” Kataku sambil berdiri melangkah ke kamar baru tiga langkah berjalan tiba-tiba Sherly.......
“Siapa wan pagi-pagi yang dateng?” Kata Sherly membuka pintu kamar.
“Gawat urusannya kalau udah begini, abis sudah.” Batinku.
“Lho, Sherly kok lo, oooh yaudah maaf, maaf gua gak bermaksud….” Kata Sandro terhenti.
“San ini gak seperti yang lo liat San Sumpah Demi Allah San lo jangan mikir kaya gitu, kita gak ngapa-ngapain kan Sher?” Kataku. Kulihat Sherly berjalan keluar dengan muka ketakutan dan sangat malu.
“Iya, gua sama Awan gak ngapa-ngapain San, beneran, semalem gua jalan sama dia terus pulangnya kepagian jadi gua nginep disini.” Kata Sherly lemah.
“Hahahahaha yaudah sih lagian kalian juga udah pada gede tau mana yang baik mana yang buruk, dan udah bisa tanggung jawab untuk diri kalian, yaudah mana sepatu futsal gua.” Kata Sandro. Aku kembali ke dalam kamar lalu keluar memberikan sepatunya.
“Bener San, lo jangan mikir yang enggak-enggak San.” Kataku
“Iya-iya yaudah gua cabut dulu ya, Sher nitip awan jangan digigit ya, hahahahaha.” Kata Sandro sambil berlari meninggalkan kami.
Aku hanya terdiam begitu juga dengan Sherly, Lalu aku kembali ke kamar disusul Sherly, kami duduk di tepi spring bed.
“Aduh gimana ni Wan, pasti Sandro mikir macem-macem lagi.” Kata Sherly.
“Lo sih tadi main keluar aja, jadi kacau dah urusannya.”
“Dih, gua kan gak tau kalau ada dia.”
“Yaudah, tar coba gua jelasin sama dia lagi kalau ketemu.”
“Gua takut nyebar aja, dia kan mulutnya kaya ember aduuuh kalau sampai Anisa tau, terus yang lain juga.” Kata Sherly ketakutan dengan wajah tertunduk lesu.
“Udah tenang aja, gampang dia ma orangnya, kalau tetang gua gak bakal macem-macem Sher.” Kataku berusaha menenangkan Sherly.
Sherly bangkit dari duduknya lalu ke kamar mandi, mencuci muka, lalu keluar dengan wajah cantik alami tanpa make up.
“Awan, gua balik ya, jangan lupa bilangin Sandro.” Kata Sherly sambil memakai sepatu.
“Iya-iya, eh gua anterin aja ya, tar biar gw naik ojek dari sana.” Kataku.
“Aah gak usah lah orang deket ini, lagian udah gak ngantuk gw.” Kata Sherly berdiri dan berjalan menuju mobil aku berjalan mengikuti di belakangnya
“Yaudah, kalau gitu hati-hati ya Sher.”
“Iya-iya, eh makasih ya udah nemenin gua, Kata Sherly masuk ke dalam mobil.
“Iya sama-sama.” Jawabku.
Mobil pun berlalu dari hadapanku, aku kembali kekamar, duduk diatas springbed bersandar di tembok.
“Kok, nyaman banget ya kalau lagi sama Sherly, tawanya, candanya, kok ada perasaan dia pengen disini terus” Batinku mulai tidak jelas.
“Apa mungkin, ah tidak mungkin, rasa nyaman, rasa kagum, rasa kasihan, rasa kesepian saat dia pergi itu semua belum tentu cinta, tetapi cinta kan bisa bermulai dari hal itu?” Batinku masih bergejolak.
Lalu aku berdiri untuk menyiram kepala dan tubuh ini dengan air dingin, menghilangkan rasa lengket akibat keringat yang mengering.
“Hallo, San lo udah kelar main futsal?” Kataku menelpon Sandro.
“Udah Sob, ini gua udah mau pulang, Sherly masih disitu?" Jawab Sandro.
“Udah, lo kemari dulu ya ada yang mau gua omongin.”
“Wih penting nih kayanya, mau beli obat kuat tah hahahaha?”
“Anjir, kalau ngomong udah buruan.”
“Oke-oke, meluncur gua.”
“Eh, eh, sekalian nitip makanan, laper gua belum sarapan.”
“Aah nitip-nitip diganti juga kagak, bilang aja suruh beliin.”
“Hehehehehe iya-iya yaudah gua tunggu.” Kataku sambil mematikan telepon lalu kubuka laptopku untuk sekedar membaca berita online dari internet.
“Hei, Awan.” Kata Ninda yang tiba-tiba masuk kamarku karena menang pintu kamar aku biarkan terbuka setengah.
“Eh elu Nin, ada apa.”
“Hmmm, Wan boleh minjem laptopnya bentar gak, laptop gua ketinggalan di rumah temen, ini mau kirim email, penting.” Kata Ninda sambil mengeluarkan flash disk.
“Oh yaudah, nih lo langsung colok aja, scan dulu tapi ya.” Kataku menyodorkan laptop, Ninda pun duduk disampingku diatas springbed lalu mencolokkan flashdisknya.
“Tumben pagi-pagi udah nongol, dari mana?" Kataku berbasa-basi.
“Emang dari baju gua gak kelihatan gua dari mana Wan, dari gym Wan masa dari pasar," Jawab Ninda sambil menggerak-gerakkan mouse laptop. Aku perhatikan Ninda menggunakan pakaian olahraga, celana panjang training abu-abu yang sangat ketat, dengan kaos warna yang memamerkan ketiaknya dan tato panda di bawah pundak kirinya. Pakaiannya masih terlihat basah oleh keringat dibeberapa bagian.
“Ooh pantesan aja, eh nyeplak banget itu, Nin." Kataku.
Ninda melihat ke arahku dengan tatapan marah lalu meletakkan laptopku mencabut flashdisknya.
“Dasar cowok, semuanya sama, makasih laptopnya.” Kata Ninda berdiri keluar kamar.
“Ada yang salah dengan kata-kataku?” kok kayanya Ninda marah.” Batinku.
“Lho, kok...Lo wah hebat lo Wan lo emang pria tangguh diem-diem satu kali dayung kau lewati dua dayang sekaligus, cantik-cantik pula mereka.” Kata Sandro berdiri di depan pintu.
“Eh elo, kapan dateng nya, tunggu-tunggu, maksudnya apaan San?” Kataku mengajaknya bicara di sofa.
“Baru aja, udah sih wan gak apa-apa rahasia lo aman sama gua, lagian ternyata temen gua yang satu ini gak cuma nyali berantemnya doang yg gede tapi nyali buat naklukin cewek juga besar.” Kata Sandro tertawa.
“Wah lo ma San, gua tau maksud pikiran lo, dan semua ini gak seperti yang lo liat San, gua gak seperti itu, tapi terserah lah kalau lo gak percaya tapi gua minta tolong sama lo San, jangan sampai anak-anak tau kejadian ini, kasihan Sherly bakal malu, yang tau cuma Tuhan sama lo San, jadi tolong lo jangan cerita masalah ini ke yang lain.” Kataku.
“Hahahahaha emang gua ibu-ibu yang suka ngrumpi, udah tenang aja gua percaya sama lo. Masalah ini aman lagian apa untungnya gua certain ke yang lain, udah makan dulu nasinya, ada air kan di dalem?”
“Oke thanks sob, ada mau pakai ember apa gayung.”
“Alamak, Eh dasar kau ini, kau Kira teman kau ini onta apa kau suruh minum air ledeng?” Kata Sandro, lalu aku ambil air ke dalam kamar, dan kami pun makan.
“Eh Awan, siapa cewek di kamar sebelah itu? Wajahnya cantik, bodinya alamak, tak tahan aku melihatnya, sempurna.” Kata Sandro.
“Ssssttt, lo apaan sih kalau ngomong gak ada saringannya, aku sendiri belum lama mengenalnya, lo ngomongnya jangan pakai logat batak sih, pengen ketawa gua.”
“Ooh abis kalau liat cewek cantik, originalitas gua keluar, hahhahaha.”
Kami pun berbincang hingga siang hari, sampai akhirnya Sandro berpamitan pulang. Lalu aku memanaskan motor bersiap mengambil sepatu di tempat bos aku berangkat.
Malam yang cerah, udara tidak begitu panas, langit bersih tanpa mendung yang menghalangi. Bintang bertebaran dilangit, meski sinarnya tidak terlihat dari sini karena di cahaya lampu kota.
Seperti biasa malam ini aku habiskan untuk bermain gitar, meluapkan perasaan mensyukuri hidup yang penuh misterius.
Aku berhenti, saat Ninda keluar kamarnya duduk disampingku, matanya sembam seperti habis menangis. Lalu dia menyalakan rokok, bungkus dan koreknya diletakkan di meja kecil.
“Hei, kok mata lo, kenapa? Abis... Eh maaf ya tadi pagi kalau ada kata-kata yang bikin lo marah.” Kataku sambil meletakkan gitar.
“Iya gakpapa.” Kata Ninda datar.
“Sorry, bukannya mau ikut campur, kalau boleh tau ada masalah apa, lo sering nangis, hari ini juga.” Tanyaku.
Ninda menghisap asap rokok dan menarik nafas sangat dalam.
“Masalah gua? Banyak Wan, kalau gua ceritain juga percuma, gak bakal nyelesaiin semuanya, lebih baik gua hadapi terus disaat gua lelah mungkin dengan menangis dapat melegakan semuanya.” Kata Ninda.
Ooh, yaudah kalau gak mau cerita, ya siapa tau gua bisa membantu, Nin mau gua bikinin kopi.” Kataku.
“Hmm, boleh tapi gulanya dikit aja.” Kata Ninda.
Aku pergi ke kamar menyeduh kopi, ku dengar suara gitar sedang dimainkan diiringi suara wanita bernyanyi.
When I see you smile, I can face the world
Oh, oh
You know I can do anything
When I see you smile, I see a ray of light
Oh, oh
Aku keluar membawa dua gelas kopi hitam, dan ikut bernyanyi meskipun hanya hapal reffnya saja.
Ninda berhenti bernyanyi.
“Kok berhenti, nih kopinya, ayo dong nyanyi lagi, ternyata lo bisa main gitar.” Kataku meletakkan kopi di meja lalu kembali duduk di sofa.
“Hahahahaha malu gua, udah ni lo aja yang main gitar gua yang nyanyi.” Kata Ninda memberikan gitar kepadaku.
“Oke, mau lagu apa, lokal aja jangan barat.” Kataku
“Sheila on Seven.” Kata Ninda
“Oke.” Jawabku kemudian mulai memainkan gitar.
Melihat tawamu
Mendengar senandungmu
Terlihat jelas dimataku
Warna - warna indahmu
Menatap langkahmu
Meratapi kisah hidupmu
Terlihat jelas bahwa hatimu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki
Ternyata suara Ninda sangat bagus, mengikuti alunan gitar, tinggi rendahnya nada pun sesuai dengan suara gitar. Aku berfikir sepertinya dia sudah sering bernyanyi. Akhirnya kami bernyanyi hingga satu jam sebelum tengah malam.
“Wan, minggu sore temenin gua jalan yuk, sekalian lari ke senayan.”
“Kok sore kenapa gak pagi aja.”
“Paginya kan lo jualan, terus rame kalau pagi ma gak asik.”
“Oh iya ya, yaudah bisa gua.”
Ninda melihat arloji di tangan kirinya.
“Eh udah jam 11 Wan, gua tinggal dulu ya.”
Oh, lho emang malem-melem gini mau kemana?”
“Hhmm biasa, ada tugas penting.” Jawab Ninda lalu menuju ke kamarnya, tak berapa lama lalu keluar dengan baju yang aku lihat di malam sebelum dia mabuk parah. Namun kali ini berbeda dia memberikan senyum kepadaku.
Ninda berjalan kebawah dan masuk ke mobil N*san X-tr*il hitam yang telah menunggunya dibawah.
“Kemana dia malam-malam begini, tugas penting kok hampir hampir tiap hari?” Batinku.
Aku kembali ke kamar. Kulihat hp yang sejak sore tadi aku isi baterainya. Ternyata ada beberapa SMS masuk.
Sherly:
“God night, temenku yang paling baik, tadi Sandro telpon gua dan dia janji masalah kita aman, thanks ya Wan, met istirahat.”
Fajar:
“Pak, abis UAS anak-anak mau ngadain acara di Puncak, lo ikut ya, tenang aja no alkhohol karena ladies halte banyak yang ikut.”
Putri
“Jangan lupa makan, Mas Awan jaga kesehatan, salam kangen dari Putri Dan Indri, met bubu.”
Dan yang terakhir yang membuatku kaget.
Laura:
“Disaat kita terjatuh, merasa kalah kadang kita lupa menjadi diri kita. Berusaha menjadi orang lain agar kita menang, tapi aku tetaplah aku dan bukan orang lain, met malam Awan, temui gua di D*rmaga C*ffe hari rabu jam 10 malam, gua tunggu lo dateng.”
Ya Tuhan ada apa dengan Laura, kok semakin rumit seperti ini.” Batinku.
Malam ini sulit sekali mataku terpejam memikirkan sesuatu hal yang telah terjadi dan tak pernah terbayangkan. Malam ini aku merasakan suatu kebingungan.
Aku mulai jatuh cinta dengan Sherly karena dia yang memberiku rasa nyaman, memberikan tawa dengan candanya, memberikan nasihat dengan kedewasaannya. Aku tidak bisa tidak bisa membohongi perasaanku malam ini. Aku merasakan sepi saat dia pulang setelah kita jalan berdua. Tetapi aku sangat takut jika seandainya engkaupun mencintaiku, aku belum siap untuk menjagamu. Sherly, Kamu adalah warna pelangi di hidupku saat ini.
Dan Laura, salah satu wanita cantik yang sering aku impikan, gadis sunda yang dengan kecantikan wajah dan kelembutan perilaku. Selalu ada disaat aku membutuhkannya. Dengan pandangan lembut dia selalu menatapku, bahkan disaat diam pun dia ternyata memperhatikanku, memberikan bantuan mengerjakan berbagai tugas melalui nama orang lain. Saat ini kau sangat kecewa dengan keputusanku. Setiap kau menatapku aku tak sanggup melihat wajahmu. Bening kedua matamu justru semakin menarikku ke dalam berbagai perasaan. Dan kamu adalah warna putih di hidupku
Sedangkan Ninda, kenapa aku semakin penasaran denganmu? Kamu misterius, sampai sejauh ini aku hanya tahu namamu, sedikit kebiasaanmu, tanpa tahu siapa kamu, dari mana kamu dan tentang kehidupanmu. Seperti nya aku ingin sekali menyelam lebih dalam untuk tau kamu lebih dari hari ini. Yang aku tau kita sama Nin! sama-sama peminum alkhohol dan kenapa aku tidak suka kamu seperti ini? Padahal aku sendiri melakukannya? Ninda kamu adalah warna hitam yang datang dengan berjuta pertanyaan.
Malam ini ketiga wanita ini silih berganti datang dalam pikiranku, membuatku sulit terlelap. Miring, tengkurap, terlentang, menyalakan musik, mematikan nya, menyalakan TV, mematikannya duduk terus tidur lagi tetap aku tak bisa tidur.
“Putri, kenapa dengan kakakmu ini, kenapa bagian ini belum pernah kamu ajarkan Putri? Apa yang harus aku lakukan Put.” Teriakku dalam hati.
Aku berdiri menuang air putih, lalu keluar kamar duduk di sofa kulihat jam Sudah menunjukkan pukul 02.30. Kudengar suara mobil datang, ternyata mobil yang membawa Ninda waktu pergi tadi. Kuperhatikan dari atas, Ninda turun dari mobil membuka gerbang lalu masuk berjalan agak sedikit sempoyongan mobil itu pun berlalu pergi.
“Eh lo belum tidur?" Kata Ninda sampai di depan kamarnya, kali ini dia memakai baju seperti saat dia berangkat, lengkap dengan tasnya.
“Belum, nungguin lo takut kaya kemarin lagi.” Jawabku spontan.
“Hahahahaha so sweat banget, ya enggak lah kemaren ma badan gua lagi gak fit terus minumnya kebanyakan.” Kata Ninda sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
“Gua tidur duluan ya Wan, ni buat lo.” kata Ninda memberikan sebotol Sm*rnoff kepadaku lalu kembali ke kamarnya.
“Eh, ini buat gua? makasih Nin.” Kataku
“Iya.” Jawab Ninda dari dalam kamar dengan sedikit sempoyongan.
Aku bergegas masuk ke dalam kamarku, merebahkan diri dan rasa kantuk mulai datang, akhirnya bisa juga aku terlelap.
Ya Tuhan bantu aku melewati ini semua, berikan kekuatan kepadaku melewati ujian perasaan yang menggagu pikiranku ini, selamat malam Tuhan.
Diubah oleh setiawanari 04-01-2018 20:22
g.gowang memberi reputasi
1