- Beranda
- Stories from the Heart
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
...
TS
pakdhegober
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
Assalamualaikum, semoga agan dan aganwati semua sehat, punya pacar dan enggak kehabisan uang.
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Spoiler for Prolog:
Quote:
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 112 suara
Part bagusnya pake foto ilustrasi apa nggak?
Pake, biar makin ngefeel
42%
nggak usah, ane penakut
11%
terserah TS, yang penting gak kentang
47%
Diubah oleh pakdhegober 14-05-2022 11:55
bebyzha dan 141 lainnya memberi reputasi
128
1.2M
3.4K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pakdhegober
#908
Part 27: Pembicaraan Rahasia
Mereka menyebutku sudah gila, ya, mereka itu, Moris dan Wina. Kedua-duanya kompak berkata tidak ada listrik padam, sehingga aku dikira kurang waras karena mau repot-repot membuat lilin ala anak kos dari kapas dan minyak sayur.
“Waktu kami masuk, lampu nyala kok,” kata Wina.
“Apa salahnya lampu nyala, kalian juga dari tadi di luar,” Aku mengelak.
Mereka ini terang-terangan ingin menakutiku. Mungkin itu rencana yang terlintas saja tiba-tiba, dan mereka kompak mengerjaiku seketika. Aku tidak sebodoh itu juga, kan?
“Jadi apa yang kalian bawa?” tanyaku sekaligus mencari pembicaraan baru.
Namun kusadari pertanyaanku itu suatu kebodohan. Dari kardusnya pun aku sudah tahu Wina membawa pizza, dan kami sebelumnya sudah bersepakat soal ini.
Kemudian mulailah kami menyantap makan malam tersebut. Aku sedikit kecewa karena tidak ada salad. Bahkan tidak ada yang lain-lain kecuali pizza.
“Cuma ini?” kataku tak puas.
“Sudah, makan saja, sampai perut juga sama rasanya,” balas Wina.
Wina benar. Beberapa jam sebelumnya aku belum pasti bisa makan malam. Jadi sudah semestinya makanan ini disambut dengan syukur tak terhingga.
Mulut kami mengunyah cepat, tetapi pandanganku berhenti pada jejak-jejak hitam yang sedari tadi urung dibersihkan. Bercak itu amat mengganggu sekaligus menurunkan derajat nafsu makanku. Segera kusudahi makan kemudian keluar untuk menyiapkan alat pel. Biasanya benda itu ada di depan kamar mandi, hanya malam ini tak terlihat di tempatnya.
Aku turun, tujuannya meminjam pel ubin. Di kursi makan, Mbak Fani duduk sambil menyuapi bayinya dengan bubur sayur. Si parlente masih betah menempel di sisinya. Kusampaikan maksudku dan ia pun menunjukkan barang yang kubutuhkan. Ternyata pel ini ada yang membawa ke bawah.
“Alvin,” wanita itu memanggil saat kakiku baru menapak sebuah anak tangga.
“Ada apa, Mbak?”
Ia terdiam beberapa saat seperti ada yang enggan dikatakan. Sedangkan pria yang sejak tadi menemaninya tiba-tiba saja angkat kaki, masuk ke kamar Mbak Fani.
“Ada apa, Mbak Fani?” kuulang sekali lagi supaya lenyap keraguannya.
“Tadi aku lihat kamu membuat lilin di dapur.”
Aku segera sadar diri. Sekali-kali aku telah berbuat tidak sopan. Bahkan aku tidak meminta izin untuk beberapa sendok minyak sayur pada sang empunya rumah ini. Tanpa menunggu-nunggu kuminta maaf dengan rasa menyesal seraya menyebutkan listrik padam sebagai alasannya. Perbuatanku sungguh tidak pantas, meskipun dia seorang yang pemurah.
Akan tetapi Mbak Fani malah mengherankan sikapku dan menyatakan tak perlu meminta maaf. Lalu keluar kata-katanya yang kemudian lebih baik tidak kudengar.
“Itu hanya perasaan kamu saja, dari tadi listrik di rumah ini baik-baik saja.”
Setelah ucapan itu, biji jakunku naik turun karena menelan liur yang tak kering-kering. Sebenarnya ia sedang mengerjaiku atau apa?
“Aku baru tahu mbak bisa bercanda begini.”
“Alvin....”
“Seandainya padaku mbak mengatakan yang lebih-lebih, bagaimana aku percaya?”
Mbak Fani saat itu pula meraih Blackberry yang tengah memutar nada Twinkle Twinkle untuk menyenangkan anaknya. Ibu jarinya bergerak cekatan di atas trackball hitam itu. Sebentar kemudian dia menunjukkan sesuatu, yaitu video. Aku belum tahu maksudnya, sedang ia segera memutar film itu untukku. Dalam rekaman tersebut Tampak diriku berjalan dengan pemantik api di tangan kanan. Kedua kakiku sempat sedikit gemetar, seperti orang yang ragu pada penglihatan, padahal ruangan itu diterangi lampu.
“Aku nggak sengaja merekam, kebetulan saja buat ngetes kamera video,” jelas Mbak Fani.
“Itu aku?”
“Persis yang kamu lihat sendiri.”
Video itu membuatku diam. Tidak bisa dipercaya. Namun aku percaya pada kesaksianku terhadap rekaman itu.
Aku beringsut dari kursi, berjalan ke atas, dan langkahku niscaya semakin jauh melainkan suara Mbak Fani kembali menghentikanku.
Sekarang aku berhenti di tengah tangga, dan dia menghampiriku.
“Aku akan bicara pada Pak Wi.”
“Untuk apa?” tanyaku memancing.
Lantas ia tampak kebingungan menjawab.
“Mungkin mbak mau bercerita tentang sejarah di sini?”
Mbak Fani hanya membuang pandangannya untuk pertanyaanku yang terakhir. Kutinggalkan dirinya, namun ia sekali lagi menyebut namaku, mengingatkan alat pel yang tertinggal di bawah.
Sebelum masuk ke kamar, kubereskan dulu jejak hitam yang membekas di sepanjang koridor. Aku termasuk orang yang ringan melakukan pekerjaan rumah dan tidak kerasan melihat sesuatu kotor atau berantakan. Ditambah yang kubersihkan sekarang bukanlah kekotoran yang dibuat manusia.
Lantas aku masuk ke kamar membawa ember dan alat pel, tetapi sebelumnya terlihat Pak Wi muncul menaiki tangga. Ia membawa kotak perkakas. Tidak diketahui tujuannya dengan peralatan itu karena aku lebih dulu masuk.
Di dalam, dua muda-mudi tertawa-tawa, bergembira satu sama lain, sekali-kali tidak mempedulikan apa pun kecuali pembicaraan yang mereka buat.
“Kamu mau apa? Rajin banget,” celetuk Wina.
“Gimana ceritanya kalian bisa tertawa nyaman, padahal ada jejak setan di antara kalian.”
Ucapanku telah membuat gelak tawa mereka berkurang, hanya Wina tampak tidak senang mendengarnya.
“Yaelah, lebay banget kamu. Itu bukan jejak setan kali.”
“Kalau gitu jejaknya teman setan.”
“Setan atau jin atau apapun yang gaib itu katanya nggak bisa menapak tanah, mereka anti gravitasi,” oceh Wina berteori.
“Itulah makhluk gaib. Kamu tahu apa itu gaib?” aku bertanya dengan niat mendebat.
“Mereka gaib karena nggak bisa tertangkap panca indera, bang,” sahut Moris.
“Tapi buktinya banyak orang yang mengaku melihat wujud atau mendengar suara mereka, kan?”
Tidak ada lagi suara yang terdengar melainkan kedua anak ini beranjak ke kasur untuk memudahkan pekerjaanku. Cukup beberapa menit lantai kamar ini sudah bersih seperti awalnya. Sayangnya, antara Moris dan Wina sudah gagal mengembalikan percakapan seru yang sebelumnya, sehingga mereka hanya berdiam-diam sambil memainkan ponsel.
Aku keluar dari kamar untuk menuntaskan pekerjaanku, membilas ember dan kain pel yang sudah kehitaman. Gemericik air dari pancurannya selalu memberi kesan berbeda di pendengaran ini. Aku belum bisa menemukan alasan agar merasa nyaman setiap kali memasuki ruangan ini, padahal hidupku tak bisa lepas dari kamar mandi.
Sayup-sayup aku menangkapi suara manusia, sepertinya dua orang yang bicara. Segera kuatur keran agar lebih kecil supayan suara itu lebih jelas.
Rupanya suara Pak Wi dan seorang lagi perempuan. Itu Lis, pasti! Demi Tuhan itu suara Lis, dan telingaku hampir merapat ke dinding kamar mandi.
“Bagaimana akhir-akhir ini?” suara Pak Wi.
“Baru saja saya mendengar lengkingan,” kata Lis.
“Di kamar kamu?”
“Dari kamar yang paling besar di lantai ini.”
Pak Wi mendehem, mengeluarkan seraknya beberapa kali. Sesaat kedua-duanya tidak berkata-kata, sebelum Pak Wi melanjutkan.
“Itu Alvin.”
“Pacarnya Wina?” sahut Lis.
“Anak itu hidup dalam ketakutannya sendiri.”
“Tapi itu bukan suara laki-laki.”
“Ada sesuatu yang sangat jahat dalam tubuhnya.”
“Bapak maksud, seperti saya, diikuti?”
“Dia sudah lama bersama Alvin, sejak kanak-kanak, dan makhluk jahat itu menemukan kegembiraannya di sini. Dia tidak akan pergi dari rumah ini.”
“Apakah nasibnya akan sama seperti saya dulu?”
“Celakanya, dia berpikir bahwa ketakutannya selalu berasal dari luar, padahal nyatanya kekuatan jahat hidup di dalam badannya.”
“Kenapa Pak Wi tidak mengusirnya?”
“Bagaimana saya mengusir tamu, sedang tuan rumahnya suka terhadap tamunya?”
“Kalau begitu saya akan coba menjelaskan padanya, supaya dia tidak menderita.”
“Jangan! Biarkan dia sadar sendiri!”
Ucapan Pak Wi yang terakhir berlipat-lipat lebih keras dari sebelumnya. Namun dari situ aku menemukan keganjilan. Suara itu berasal bukan dari koridor kamar...
Kumundurkan langkah lalu kembali menguping lebih rapat. Sekarang suara mereka terdengar kian jelas. Alangkah giatnya dua orang itu masih membicarakan diriku. Hingga sebuah kalimat dari Pak Wi...
“Kita lanjutkan nanti, dia sedang mencuri dari balik dinding ini.”
Pak Wi dan Lis sedang berdua di kamar kosong itu!
Tak ingin membuang waktu, aku bergegas keluar untuk melabrak dua orang yang bersekongkol itu. Saat aku membuka pintu kamar mandi, Pak Wi pun melakukan hal yang sama dari kamar sebelah. Sial!
“Saya sudah dengar! Saya mendengar semuanya!” kataku setengah berbisik.
Pak Wi tampak tercengang dengan mulut sedikit terbuka.
“Mas Alvin...”
“Mana Lis, mana!?”
Aku tak hanya berucap, juga memaksa masuk ke kamar kosong itu. Pak Wi berupaya menahan, sayang tenaga mudaku bisa membungkam otot uzurnya dengan cepat. Pintu itu pun terbuka, wewangian kembang menyerbak seperti ditiup angin.
Tidak masuk akal. Lis tidak ada di sana. Seorang pun tidak ada di kamar itu.
“Kata Pak Wi kamar ini ada penyewanya?”
“Masih ada.” Pak Wi menutup pintu kamar itu lalu menggemboknya. “Saya diserahi untuk membersihkan kamar ini. Kalau Mbak Wina mau juga bisa, tapi ada tambahannya.”
“Demi Tuhan, saya mendengar semuanya!”
Pak Wi tetap diam dalam ketenangannya, menatapku, bahkan ia mampu melakukannya tanpa berkedip.
“Mas Alvin mencari Mbak Lis?” tanpa menunggu aku menjawab, Pak Wi melanjutkan, “Dia ada di bawah.”
Entah bagaimana aku menurut saja pada ucapannya, bergerak beberapa langkah menjauh untuk memeriksa ruangan bawah. Tidak ada siapa-siapa lagi di sana.
Tetapi beberapa saat kemudian Lis muncul dari balik pintu di bawah. Dari caranya bergegas serta pakaiannya, wanita itu baru saja pulang bekerja. Mengapa Pak Wi bisa tahu Lis akan tiba, apakah ia seorang yang mampu mengeatahui masa depan, dan sungguh yang sedang berjalan di bawah ini manusia. Dugaan demi dugaan mencabik-cabik nalarku. Aku disibukkan pikiran yang sedemikian runyam, sehingga tidak menyadari Pak Wi sudah berdiri sementara aku membelakanginya.
Ia berkata lirih, “Aku Winarto, tidak perlu berbohong pada orang sepertimu. Itu Mbak Lis, orang yang kamu inginkan sudah datang.”
Sejentik pun leherku tidak bergerak untuk menoleh orang tua itu. Ia meneruskan jalannya lalu berpapasan dengan Lis di tengah-tengah tangga. Mereka berdua saling melempar senyum, Lis menyalami Pak Wi dengan mencium tangannya seperti murid pada guru. Bagiku pemandangan yang sedang berlangsung ini sangat memuakkan.
Pada akhirnya Lis akan berjalan melewatiku. Semakin dekat sosoknya serta pakaiannya bertambah nyata. Melihat seragamnya, jelas-jelas Lis bekerja di sebuah bank milik negara. Dan aku membaca bros nama di bawah bahu kanannya; Lis Winarto. Ia terus berjalan, menimbulkan bunyi hak sepatu berdepak di lantai.
Membaca namanya, barangkali dua orang tersebut punya ikatan darah yang sangat dekat.
(Tunggu lanjutannya ya gan)
Mereka menyebutku sudah gila, ya, mereka itu, Moris dan Wina. Kedua-duanya kompak berkata tidak ada listrik padam, sehingga aku dikira kurang waras karena mau repot-repot membuat lilin ala anak kos dari kapas dan minyak sayur.
“Waktu kami masuk, lampu nyala kok,” kata Wina.
“Apa salahnya lampu nyala, kalian juga dari tadi di luar,” Aku mengelak.
Mereka ini terang-terangan ingin menakutiku. Mungkin itu rencana yang terlintas saja tiba-tiba, dan mereka kompak mengerjaiku seketika. Aku tidak sebodoh itu juga, kan?
“Jadi apa yang kalian bawa?” tanyaku sekaligus mencari pembicaraan baru.
Namun kusadari pertanyaanku itu suatu kebodohan. Dari kardusnya pun aku sudah tahu Wina membawa pizza, dan kami sebelumnya sudah bersepakat soal ini.
Kemudian mulailah kami menyantap makan malam tersebut. Aku sedikit kecewa karena tidak ada salad. Bahkan tidak ada yang lain-lain kecuali pizza.
“Cuma ini?” kataku tak puas.
“Sudah, makan saja, sampai perut juga sama rasanya,” balas Wina.
Wina benar. Beberapa jam sebelumnya aku belum pasti bisa makan malam. Jadi sudah semestinya makanan ini disambut dengan syukur tak terhingga.
Mulut kami mengunyah cepat, tetapi pandanganku berhenti pada jejak-jejak hitam yang sedari tadi urung dibersihkan. Bercak itu amat mengganggu sekaligus menurunkan derajat nafsu makanku. Segera kusudahi makan kemudian keluar untuk menyiapkan alat pel. Biasanya benda itu ada di depan kamar mandi, hanya malam ini tak terlihat di tempatnya.
Aku turun, tujuannya meminjam pel ubin. Di kursi makan, Mbak Fani duduk sambil menyuapi bayinya dengan bubur sayur. Si parlente masih betah menempel di sisinya. Kusampaikan maksudku dan ia pun menunjukkan barang yang kubutuhkan. Ternyata pel ini ada yang membawa ke bawah.
“Alvin,” wanita itu memanggil saat kakiku baru menapak sebuah anak tangga.
“Ada apa, Mbak?”
Ia terdiam beberapa saat seperti ada yang enggan dikatakan. Sedangkan pria yang sejak tadi menemaninya tiba-tiba saja angkat kaki, masuk ke kamar Mbak Fani.
“Ada apa, Mbak Fani?” kuulang sekali lagi supaya lenyap keraguannya.
“Tadi aku lihat kamu membuat lilin di dapur.”
Aku segera sadar diri. Sekali-kali aku telah berbuat tidak sopan. Bahkan aku tidak meminta izin untuk beberapa sendok minyak sayur pada sang empunya rumah ini. Tanpa menunggu-nunggu kuminta maaf dengan rasa menyesal seraya menyebutkan listrik padam sebagai alasannya. Perbuatanku sungguh tidak pantas, meskipun dia seorang yang pemurah.
Akan tetapi Mbak Fani malah mengherankan sikapku dan menyatakan tak perlu meminta maaf. Lalu keluar kata-katanya yang kemudian lebih baik tidak kudengar.
“Itu hanya perasaan kamu saja, dari tadi listrik di rumah ini baik-baik saja.”
Setelah ucapan itu, biji jakunku naik turun karena menelan liur yang tak kering-kering. Sebenarnya ia sedang mengerjaiku atau apa?
“Aku baru tahu mbak bisa bercanda begini.”
“Alvin....”
“Seandainya padaku mbak mengatakan yang lebih-lebih, bagaimana aku percaya?”
Mbak Fani saat itu pula meraih Blackberry yang tengah memutar nada Twinkle Twinkle untuk menyenangkan anaknya. Ibu jarinya bergerak cekatan di atas trackball hitam itu. Sebentar kemudian dia menunjukkan sesuatu, yaitu video. Aku belum tahu maksudnya, sedang ia segera memutar film itu untukku. Dalam rekaman tersebut Tampak diriku berjalan dengan pemantik api di tangan kanan. Kedua kakiku sempat sedikit gemetar, seperti orang yang ragu pada penglihatan, padahal ruangan itu diterangi lampu.
“Aku nggak sengaja merekam, kebetulan saja buat ngetes kamera video,” jelas Mbak Fani.
“Itu aku?”
“Persis yang kamu lihat sendiri.”
Video itu membuatku diam. Tidak bisa dipercaya. Namun aku percaya pada kesaksianku terhadap rekaman itu.
Aku beringsut dari kursi, berjalan ke atas, dan langkahku niscaya semakin jauh melainkan suara Mbak Fani kembali menghentikanku.
Sekarang aku berhenti di tengah tangga, dan dia menghampiriku.
“Aku akan bicara pada Pak Wi.”
“Untuk apa?” tanyaku memancing.
Lantas ia tampak kebingungan menjawab.
“Mungkin mbak mau bercerita tentang sejarah di sini?”
Mbak Fani hanya membuang pandangannya untuk pertanyaanku yang terakhir. Kutinggalkan dirinya, namun ia sekali lagi menyebut namaku, mengingatkan alat pel yang tertinggal di bawah.
Sebelum masuk ke kamar, kubereskan dulu jejak hitam yang membekas di sepanjang koridor. Aku termasuk orang yang ringan melakukan pekerjaan rumah dan tidak kerasan melihat sesuatu kotor atau berantakan. Ditambah yang kubersihkan sekarang bukanlah kekotoran yang dibuat manusia.
Lantas aku masuk ke kamar membawa ember dan alat pel, tetapi sebelumnya terlihat Pak Wi muncul menaiki tangga. Ia membawa kotak perkakas. Tidak diketahui tujuannya dengan peralatan itu karena aku lebih dulu masuk.
Di dalam, dua muda-mudi tertawa-tawa, bergembira satu sama lain, sekali-kali tidak mempedulikan apa pun kecuali pembicaraan yang mereka buat.
“Kamu mau apa? Rajin banget,” celetuk Wina.
“Gimana ceritanya kalian bisa tertawa nyaman, padahal ada jejak setan di antara kalian.”
Ucapanku telah membuat gelak tawa mereka berkurang, hanya Wina tampak tidak senang mendengarnya.
“Yaelah, lebay banget kamu. Itu bukan jejak setan kali.”
“Kalau gitu jejaknya teman setan.”
“Setan atau jin atau apapun yang gaib itu katanya nggak bisa menapak tanah, mereka anti gravitasi,” oceh Wina berteori.
“Itulah makhluk gaib. Kamu tahu apa itu gaib?” aku bertanya dengan niat mendebat.
“Mereka gaib karena nggak bisa tertangkap panca indera, bang,” sahut Moris.
“Tapi buktinya banyak orang yang mengaku melihat wujud atau mendengar suara mereka, kan?”
Tidak ada lagi suara yang terdengar melainkan kedua anak ini beranjak ke kasur untuk memudahkan pekerjaanku. Cukup beberapa menit lantai kamar ini sudah bersih seperti awalnya. Sayangnya, antara Moris dan Wina sudah gagal mengembalikan percakapan seru yang sebelumnya, sehingga mereka hanya berdiam-diam sambil memainkan ponsel.
Aku keluar dari kamar untuk menuntaskan pekerjaanku, membilas ember dan kain pel yang sudah kehitaman. Gemericik air dari pancurannya selalu memberi kesan berbeda di pendengaran ini. Aku belum bisa menemukan alasan agar merasa nyaman setiap kali memasuki ruangan ini, padahal hidupku tak bisa lepas dari kamar mandi.
Sayup-sayup aku menangkapi suara manusia, sepertinya dua orang yang bicara. Segera kuatur keran agar lebih kecil supayan suara itu lebih jelas.
Rupanya suara Pak Wi dan seorang lagi perempuan. Itu Lis, pasti! Demi Tuhan itu suara Lis, dan telingaku hampir merapat ke dinding kamar mandi.
“Bagaimana akhir-akhir ini?” suara Pak Wi.
“Baru saja saya mendengar lengkingan,” kata Lis.
“Di kamar kamu?”
“Dari kamar yang paling besar di lantai ini.”
Pak Wi mendehem, mengeluarkan seraknya beberapa kali. Sesaat kedua-duanya tidak berkata-kata, sebelum Pak Wi melanjutkan.
“Itu Alvin.”
“Pacarnya Wina?” sahut Lis.
“Anak itu hidup dalam ketakutannya sendiri.”
“Tapi itu bukan suara laki-laki.”
“Ada sesuatu yang sangat jahat dalam tubuhnya.”
“Bapak maksud, seperti saya, diikuti?”
“Dia sudah lama bersama Alvin, sejak kanak-kanak, dan makhluk jahat itu menemukan kegembiraannya di sini. Dia tidak akan pergi dari rumah ini.”
“Apakah nasibnya akan sama seperti saya dulu?”
“Celakanya, dia berpikir bahwa ketakutannya selalu berasal dari luar, padahal nyatanya kekuatan jahat hidup di dalam badannya.”
“Kenapa Pak Wi tidak mengusirnya?”
“Bagaimana saya mengusir tamu, sedang tuan rumahnya suka terhadap tamunya?”
“Kalau begitu saya akan coba menjelaskan padanya, supaya dia tidak menderita.”
“Jangan! Biarkan dia sadar sendiri!”
Ucapan Pak Wi yang terakhir berlipat-lipat lebih keras dari sebelumnya. Namun dari situ aku menemukan keganjilan. Suara itu berasal bukan dari koridor kamar...
Kumundurkan langkah lalu kembali menguping lebih rapat. Sekarang suara mereka terdengar kian jelas. Alangkah giatnya dua orang itu masih membicarakan diriku. Hingga sebuah kalimat dari Pak Wi...
“Kita lanjutkan nanti, dia sedang mencuri dari balik dinding ini.”
Pak Wi dan Lis sedang berdua di kamar kosong itu!
Tak ingin membuang waktu, aku bergegas keluar untuk melabrak dua orang yang bersekongkol itu. Saat aku membuka pintu kamar mandi, Pak Wi pun melakukan hal yang sama dari kamar sebelah. Sial!
“Saya sudah dengar! Saya mendengar semuanya!” kataku setengah berbisik.
Pak Wi tampak tercengang dengan mulut sedikit terbuka.
“Mas Alvin...”
“Mana Lis, mana!?”
Aku tak hanya berucap, juga memaksa masuk ke kamar kosong itu. Pak Wi berupaya menahan, sayang tenaga mudaku bisa membungkam otot uzurnya dengan cepat. Pintu itu pun terbuka, wewangian kembang menyerbak seperti ditiup angin.
Tidak masuk akal. Lis tidak ada di sana. Seorang pun tidak ada di kamar itu.
“Kata Pak Wi kamar ini ada penyewanya?”
“Masih ada.” Pak Wi menutup pintu kamar itu lalu menggemboknya. “Saya diserahi untuk membersihkan kamar ini. Kalau Mbak Wina mau juga bisa, tapi ada tambahannya.”
“Demi Tuhan, saya mendengar semuanya!”
Pak Wi tetap diam dalam ketenangannya, menatapku, bahkan ia mampu melakukannya tanpa berkedip.
“Mas Alvin mencari Mbak Lis?” tanpa menunggu aku menjawab, Pak Wi melanjutkan, “Dia ada di bawah.”
Entah bagaimana aku menurut saja pada ucapannya, bergerak beberapa langkah menjauh untuk memeriksa ruangan bawah. Tidak ada siapa-siapa lagi di sana.
Tetapi beberapa saat kemudian Lis muncul dari balik pintu di bawah. Dari caranya bergegas serta pakaiannya, wanita itu baru saja pulang bekerja. Mengapa Pak Wi bisa tahu Lis akan tiba, apakah ia seorang yang mampu mengeatahui masa depan, dan sungguh yang sedang berjalan di bawah ini manusia. Dugaan demi dugaan mencabik-cabik nalarku. Aku disibukkan pikiran yang sedemikian runyam, sehingga tidak menyadari Pak Wi sudah berdiri sementara aku membelakanginya.
Ia berkata lirih, “Aku Winarto, tidak perlu berbohong pada orang sepertimu. Itu Mbak Lis, orang yang kamu inginkan sudah datang.”
Sejentik pun leherku tidak bergerak untuk menoleh orang tua itu. Ia meneruskan jalannya lalu berpapasan dengan Lis di tengah-tengah tangga. Mereka berdua saling melempar senyum, Lis menyalami Pak Wi dengan mencium tangannya seperti murid pada guru. Bagiku pemandangan yang sedang berlangsung ini sangat memuakkan.
Pada akhirnya Lis akan berjalan melewatiku. Semakin dekat sosoknya serta pakaiannya bertambah nyata. Melihat seragamnya, jelas-jelas Lis bekerja di sebuah bank milik negara. Dan aku membaca bros nama di bawah bahu kanannya; Lis Winarto. Ia terus berjalan, menimbulkan bunyi hak sepatu berdepak di lantai.
Membaca namanya, barangkali dua orang tersebut punya ikatan darah yang sangat dekat.
(Tunggu lanjutannya ya gan)
Diubah oleh pakdhegober 15-08-2019 18:16
bebyzha dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Tutup