- Beranda
- Stories from the Heart
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
...
TS
pakdhegober
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
Assalamualaikum, semoga agan dan aganwati semua sehat, punya pacar dan enggak kehabisan uang.
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Spoiler for Prolog:
Quote:
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 112 suara
Part bagusnya pake foto ilustrasi apa nggak?
Pake, biar makin ngefeel
42%
nggak usah, ane penakut
11%
terserah TS, yang penting gak kentang
47%
Diubah oleh pakdhegober 14-05-2022 11:55
bebyzha dan 141 lainnya memberi reputasi
128
1.2M
3.4K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pakdhegober
#907
Part 26: Siapa yang Mencarimu?
Moris hampir-hampir pulang begitu diganggu penampakan jejak kaki. Menurutku keinginan itu tak perlu ditahan-tahan. Aku sudah tahu dari sebelumnya, nyali anak ini tak sekeras bentuk rupanya.
Akan tetapi sesuatu yang lebih menggiurkan dapat menahan niatnya. Aku mengetahui hal itu ketika mendengar Wina berbicara usai menelepon seseorang.
“Temanku, Anton yang barusan telepon. Katanya ada yang berani angkat bayi kamu.”
“Siapa?” tanyaku.
“Teman bokapnya.”
Moris tengah berdiri beberapa jengkal dari pintu. Kelihatan pada mulanya dia cuek bersama pandangan tanpa arti. Kalau pun ia sedang berpikir, barangkali memikirkan bagaimana caranya membuka pintu rumahnya.
Aku meneruskan pertanyaan dengan yang paling mendasar. “Berapa nawarnya?”
“Dia mau lihat dulu, kalau bagus berani 80 juta.”
Bola mataku langsung berpijar-pijar begitu mendengar angka begitu tinggi. Memang belum apa-apa dibanding banderol yang beredar di internet. Tetapi jika diukur penawaran omong kosong sore tadi, rasanya ini tidak pantas ditolak.
“Tapi kamu tahu sendiri, kertas labelnya sudah lapuk, pasti harganya bakal merosot, bukan?”
“Sudah kuberitahu soal itu juga, nggak masalah katanya.”
Dari yang sebelumnya diam-diam, Moris masuk ke dalam pembicaraan. Namun sinis nadanya.
“Sudah sering aku dengar yang macam gitu, ujung-ujungnya juga gigit jari.”
Wina mengalihkan perhatiannya pada Moris, tatapannya tidak senang. “Namanya juga usaha, Lae!”
“Kalau lu bilang usaha, gua lebih usaha. Mendingan yang jelas aja lah!”
“Emang lo ada yang jelas? Sorry ya, gue cuma bantuin kalian doang kok!”
Moris mendengus sambil melirik padaku sepintas. Nyata bagiku sekarang, itu adalah ekspresi yang jujur. Moris baru saja menyinggungku, tentu ada hubungannya dengan penawaran temannya sore tadi. Ya, kebutuhan manusia memang siapa yang menyangka. Bisa saja dia sekarang berharap-harap ada pemasukan untuk membeli atau membayar suatu keperluan. Di luar dugaan, aku merasa bersalah, sekecil-kecilnya karena sudah terlalu kaku membela kehendak sendiri.
Walau demikian aku tidak berpikir mengubah pendirian. Hanya perlu lebih bersabar lagi, saranku untuk diri sendiri. Akan tetapi dalam sebentar aku meragukan sikapku. Terlalu kejam rasanya jika sama sekali menghiraukan kepentingan orang lain.
“Oke, begini saja,” kataku mengacarai, “Kita harus pasang harga mulai sekarang.”
“Maksud abang?” tanya Moris.
“Wina,” aku memalingkan kalimat padanya, “Kamu segera cari tahu kapan penawarannya.”
“Betul, jangan lama-lama, kalau bisa malam ini!” serobot Moris.
“Memang malam ini!” timpal Wina lantang.
“Serius malam ini?” Moris memastikan.
“Malam ini! Jam 11.”
Aku tak punya bahan lagi untuk bertanya, kupikir Moris juga begitu. Kami berdiam-diam membawa pikiran sendiri.
Senyampang waktu kemudian, Moris kembali ke kasur dan duduk di situ. Hanya mukanya saja yang tampak resah. Ia memeriksa kotak rokok, sayangnya tiada satu pun yang isi.
“Bang, sudah islam?”
“Belumlah, kan dari tadi kau sama aku.”
“Islamlah! Macam orang susah kalian,” ujar Wina.
Moris tersulut mendengar ucapan Wina. “Ngomong sih gampang, nasib yang susah!”
Wina tergelak panjang karena ucapan penuh penyesalan hidup itu. Tetapi ia tak menanggapi lagi, beranjak menuju meja rias. Tasnya ada di sana, mengambil sesuatu dari dalamnya, lalu kembali dengan membawa beberapa lembar uang kertas merah campur biru. Menurut penglihatanku itu cukup tebal.
“Dari siapa?” tanyaku di saat Wina masih menghitung lembar demi lembar uang tersebut.
“Ini, 2,1 juta rupiah,” kata Wina, dan uang itu berpindah tangan. Wina menyebutkan nama-nama yang telah membayar tugas makalah, outline skripsi, hingga pesanan copywriting brosur dan buku kampanye pemilihan ketua senat fakultas.
“Semuanya 2,8 juta, bukan?” kataku tak puas.
“Yaelah, alhamdulillah aja dulu!” tukas Wina seraya menjawil kupingku.
Di antara pembicaraan aku dan Wina, rupanya, ada Moris yang bersenyum-senyum sendiri. Aku melirik wajah kotak itu, dan senyumannya semakin lebar. Pasti ia sudah menahan lapar bukan main sejak siang tadi. Tentu saja aku akan mengajak Moris menikmati hasil pikiran dan keringat kami. Namun, kalau ada setan lewat, biasanya uang berapa pun mudah saja habis dalam semalam. Semoga itu tidak terjadi.
“Bang, itu diputar aja, pasti dapat banyak.”
Brengsek, baru sekian detik aku berdoa tidak ada setan, faktanya setan sedang duduk di sampingku. Aku tahu Moris hapal jadwal pertandingan sepakbola, bahkan sampai liga atau kompetisi yang tidak terjamah penggemar bola. Moris tahu kapan mulainya pertandingan Liga Estonia, Liga Maroko, dan selagi ada kesempatan memasang taruhan, ia tidak pernah takut. Terkadang ia menangguk untung, terkadang nasibnya buntung. Selama ada rupiah di saku atau rekeningnya, Moris berani menyerahkan nasibnya pada keberuntungan. Kalau tidak ada, ia bakal mencari-cari yang ada.
“Bang, pake lah sikit. Pelit kali!”
“Udah sih, judi bola mulu hidup lo!” sergah Wina.
“Bukan bola ini, kita beli chip poker Facebook aja.”
“Nggak! Chip sekarang udah murah,” Wina lagi.
Apapun yang ia usulkan bagiku tak perlu diladeni. Semakin dijawab, akalnya kian tumbuh. Moris akan merayu-rayu layaknya calo investor demi mendapat kucuran modal. Sebetulnya aku dan Wina juga beberapa kali pernah makan keuntungannya dari judi. Tetapi kami bukan orang yang tertarik mengadu nasib dengan cara begitu.
Benar saja, Moris kemudian menawarkan permainan kartu qiu-qiu, taruhan billiard, mahjong, sampai apa saja yang tidak pernah kupikirkan. Semua permainan itu diceritakan sebagus-bagusnya, sebab anak ini memang handal menyelipkan iming-iming manis.
Pada akhirnya Moris menyerah. Kuserahkan uang itu lagi pada Wina agar ia yang mengatur. Lantas Wina memastikan hanya ada makan malam berupa satu loyang pizza large, sebotol cola, dan rokok. Moris suka tidak suka tak lagi membantah.
“Nggak apa-apalah, islam juga alhamdulillah, ayo kita jalan!”
“Aku ikut,” sambut Wina.
Aku setuju saja. Keduanya bersiap-siap pergi membeli pizza demi menuntaskan keislamannya. Islam adalah akronim yang kerap diucapkan Moris ketika lapar, artinya tak lain isi lambung alias makan.
“Oh ya, jangan lupa outline punya Rara,” Wina mengingatkanku sebelum meninggalkan kamar.
“Sip!”
Seperginya dua anak itu aku langsung membuka notebook untuk mengerjakan pesanan yang dimaksud Wina. Aku tidak tahu siapa Rara, katanya dia mahasiswa jurusan public relation. Skripsinya akan membahas kegiatan tanggung jawab sosial sebuah perusahaan kosmetika asal Prancis. Public relation sama sekali baru untukku. Karena itu, sebagai permulaan, lebih baik mencari referensi pustaka pendukung sekaligus memahami ilmu ini.
Tidak sulit juga mencari bahan pustaka ilmu humas. Internet dan Google telah mengubah banyak hal seperti seseorang yang hanya perlu memalingkan wajah. Apa yang Anda butuhkan? Novel terbaru, panduan sholat, berita terhangat, paranormal, riwayat-riwayat penjahat, mobil bekas, hingga mencari teman lama dapat dilakukan. Mudah sekali caranya, ketik sesuatu dan semuanya terpampang di hadapan Anda layaknya hadiah. Huh, bahkan saat aku remaja dan tergila-gila memainkan gitar, aku harus ke loper koran untuk membeli majalah musik berisi banyak chord lagu. Sekarang majalah-majalah itu kuharap segera tutup edisi, sebab internet begitu lugas dan mudah.
Hanya, tidak semuanya gratis di internet. Beberapa layanan terkunci, butuh akses, tentu bayar atau mengikuti sistem keanggotaan yang terbatas. Sepeti perpustakaan digital milik Universitas Indonesia yang menyimpan puluhan ribu bahan akademik, dari buku, jurnal, sampai skripsi yang sudah-sudah. Untungnya aku punya teman yang berbaik hati meminjamkan akses. Seburuk-buruknya, akses itu bisa digunakan hingga dia lulus. Kuharap ia tidak terburu-buru menyelesaikan kuliah.
Aku mendapatkan makalah pengantar public relation setebal 20 halaman, ditulis oleh....ah, itu tidak penting. Lebih efektif jika aku meluangkan sedikit memoriku untuk mengingat teori-teori dan nama-nama pakar yang pasti akan terdengar baru. Siapa pula Scott Cutlip, Abraham Maslow, atau Allen H. Center. Orang-orang ini mungkin tidak begitu peduli pada pelajaran fisika, tetapi mengambil keuntungan besar dari zaman yang terus berkembang.
Perkenalanku dengan cabang ilmu komunikasi ini diawali dengan kata-kata yang konon adalah ucapan Bill Gates. Manusia yang terbuat dari uang ini berkata, “Jika hartaku tinggal 1 dolar, akan kuhabiskan itu untuk public relation.” Oh, bagaimana bisa pria sekaya Gates mengatakan itu. Mungkin ucapan itu dilontarkan saat sedang bergurau, sebab ia tidak mungkin jatuh miskin, bukan?
Tetapi ucapan orang besar pada akhirnya tetap bermakna besar. Dan sebaris kalimat saja telah membuat diriku tertarik membaca pengantar humas. Hingga saatnya selintas bunyi buku bergeser di lantai sepertinya akan merusak segalanya.
Baru kuingat, buku catatan itu masih berada di tempatnya sejak peristiwa yang lalu.
Haruskah kuladeni percakapan kertas itu?
“Ya, tak usah bertanya lagi. Aku baru membaca tentang humas. Betapa pentingnya berkomunikasi dengan publik, termasuk publik gaib!” timpalku pada diri sendiri.
Yang terjadi kemudian, kutinggalkan notebook lalu berjongkok di depan lemari. Semestinya aku merasa ini suatu kelakuan yang menyimpang. Tetapi aku malah nyaman melakukan itu. Kuraih buku tersebut dari kolong, tampaklah debu tipis mulai menyelimuti benda itu.
Sebuah halaman terbuka, tulisannya besar-besar.
“Si pendusta telah berdiam di sini sore tadi. Jangan mau tertipu.”
Karena ukuran tulisannya tidak wajar, ia bersambung ke halaman berikutnya...
“Jejaknya hitam seperti perbuatannya yang dahulu.”
Kalimat itu rupanya belum selesai...
“Dia akan merenggutmu dengan banyak cara, segera keluar dari sini!”
Dan bersambung lagi...
“Seandainya aku bisa menolongmu, tetapi aku hanya bisa memberitahu.”
Dan lagi...
“Kenyataannya, kami diciptakan dengan kemampuan yang berbeda-beda.”
Masih ada lagi di halaman belakangnya, tetapi kupastikan ini yang terakhir. Katanya...
“Tak perlu kau balas, musnahkan kertas ini, kembalilah mencari uang.”
Halaman-halaman itu kubolak-balik sambil membaca ulang. Kenapa pemilik tulisan ini tidak berkata terus terang saja. Siapa dia pun juga aku tidak tahu. Bisa saja kan dia sedang membuat fitnah. Bisa juga dia sendiri si pembohong yang menyamar.
Kalau begitu kutulis sebaiknya yang ada di dalam pikiranku.
“Aku tidak begitu percaya kau. Tolong katakan langsung maksudmu,” buku itu kutaruh lagi di bawah lemari.
Beberapa saat selanjutnya kuambil lagi binder itu. Kosong. Kutaruh lagi dan kuulang sampai beberapa kali, tidak juga ada tanggapan.
Dengan agak kesal kulempar binder kembali ke kolong lemari. Benar katanya, lebih berguna bagiku membaca makalah humas. Sekarang aku sudah duduk di depan notebook.
Namun tanpa perkiraan sebelumnya, ada yang melempar binder itu dari dalam sana dan menyentuh pergelangan kakiku. Lemparan itu kasar dan seperti orang yang sedang terburu-buru. Kubuka segera, isinya begini...
“Aku akan pergi sekarang. Bakar kertas ini. Keluarlah kau juga!”
Belum lagi aku menutup bukuku, lampu kamar tiba-tiba padam. Barat hingga timur gelap gulita kurasa. PLN sialan! Kataku sambil mendengus kasar. Tetapi rasa takut mulai merambat dengan cepat. Merinding serempak bulu halus di manapun ia tumbuh.
Lilin, lilin, gumamku seraya mencari-cari di laci meja rias. Tidak ketemu atau memang tidak ada. Tetapi aku melihat kapas. Kucabut segumpal dari bungkusnya lalu beranjak keluar. Masih baiknya, aku punya korek api, cahayanya cukup membimbingku hingga dapur.
Tangga kayu kulewati dengan mengendap-endap, hati-hati supaya tidak terpeleset. Sekelibat tampak Mbak Fani duduk sendirian di kursi makan dengan ponsel di telinganya.
Akhirnya sampai dapur, tujuanku mengambil sedikit minyak sayur dan cawan. Aku dapat menemukan mereka dengan cepat. Tetapi justru kini ragu menyergap. Bukannya aku lebih baik di sini.
Sekelibat lagi terlihat pria parlente duduk di sisi Mbak Fani. Pintar juga dia, membuka kesempatan dalam gelap begini. Lebih baik memang aku keluar dari rumah ini. Bertahan di kamar, sesuatu yang tidak enak mungkin bakal terjadi. Berada di bawah, mengamati dua orang bermesraan, tentu lebih buruk. Tetapi uang, rokok, dan ponsel di atas. Aku perlu ke atas.
Pintu kamar Wina terbuka lebar. Tidak ada guna membuang-buang waktu sekarang, segera aku mencari benda-benda yang kuperlukan. Itu semua terletak berdekatan dengan notebook.
Namun yang kucari sama sekali lenyap dari tempatnya. Tentu aku sudah dibutakan, atau sebaliknya, barang-barang itu dipindahkan oleh sesuatu. Kedua-duanya bisa sama benar. Korek api terus menyala untuk membantu pencarianku. Terlihat gas pemantik itu hampir luap seluruhnya. Maka kunyalakan kapas yang sudah dilumuri minyak sayur sehingga apinya menerangi seruangan ini.
Ponsel, dompet, dan rokokku belum juga nampak. Yang ada, aku mendegar pintu kamar tertutup. Dadaku seketika berdetak tidak karuan, kupikir daging di dalamnya sudah membengkak.
Lalu suara yang pelan dan mengerikan membisik, seakan ia berada di belakang daun telingaku. Suara itu sungguh seperti wanita berumur 300 tahun, berat dan terpatah-patah.
“Kamu mencari aku?”
Aku melompat reflek untuk kemudian terpeleset dan terhempas. Arghh! Dengkulku baru saja beradu dengan lantai.
Di tengah menahan ngilu yang meresapi tulang, aku mendengar wanita melengking dari jarak yang amat jauh. Seperti ia sedang mendekat, bersama suara yang mengiringinya semakin jelas.
Aku menyerah dalam ketakutan, hanya bisa tengkurap dan menutup mata. Namun suara tersebut berhenti pada akhirnya. Dan cahaya terang menerpa kelopak mata yang tertutup ini.
“Bang, Abang kenapa!?” Itu suara Moris.
Kubuka mata yang masih lemas ini. Wina menjatuhkan kotak pizza ke lantai untuk langsung melihat keadaanku.
“Kamu kenapa?” Wina agaknya mengamati cawan berisi kapas yang masih menyala. “Untuk apa itu?”
Aku bangkit pelan-pelan sambil menahan sisa ngilu. “Tadi listrik mati.”
“Listrik mati?” ujar Moris dengan tatapan tidak percaya. (Masih ada lagi...)
Moris hampir-hampir pulang begitu diganggu penampakan jejak kaki. Menurutku keinginan itu tak perlu ditahan-tahan. Aku sudah tahu dari sebelumnya, nyali anak ini tak sekeras bentuk rupanya.
Akan tetapi sesuatu yang lebih menggiurkan dapat menahan niatnya. Aku mengetahui hal itu ketika mendengar Wina berbicara usai menelepon seseorang.
“Temanku, Anton yang barusan telepon. Katanya ada yang berani angkat bayi kamu.”
“Siapa?” tanyaku.
“Teman bokapnya.”
Moris tengah berdiri beberapa jengkal dari pintu. Kelihatan pada mulanya dia cuek bersama pandangan tanpa arti. Kalau pun ia sedang berpikir, barangkali memikirkan bagaimana caranya membuka pintu rumahnya.
Aku meneruskan pertanyaan dengan yang paling mendasar. “Berapa nawarnya?”
“Dia mau lihat dulu, kalau bagus berani 80 juta.”
Bola mataku langsung berpijar-pijar begitu mendengar angka begitu tinggi. Memang belum apa-apa dibanding banderol yang beredar di internet. Tetapi jika diukur penawaran omong kosong sore tadi, rasanya ini tidak pantas ditolak.
“Tapi kamu tahu sendiri, kertas labelnya sudah lapuk, pasti harganya bakal merosot, bukan?”
“Sudah kuberitahu soal itu juga, nggak masalah katanya.”
Dari yang sebelumnya diam-diam, Moris masuk ke dalam pembicaraan. Namun sinis nadanya.
“Sudah sering aku dengar yang macam gitu, ujung-ujungnya juga gigit jari.”
Wina mengalihkan perhatiannya pada Moris, tatapannya tidak senang. “Namanya juga usaha, Lae!”
“Kalau lu bilang usaha, gua lebih usaha. Mendingan yang jelas aja lah!”
“Emang lo ada yang jelas? Sorry ya, gue cuma bantuin kalian doang kok!”
Moris mendengus sambil melirik padaku sepintas. Nyata bagiku sekarang, itu adalah ekspresi yang jujur. Moris baru saja menyinggungku, tentu ada hubungannya dengan penawaran temannya sore tadi. Ya, kebutuhan manusia memang siapa yang menyangka. Bisa saja dia sekarang berharap-harap ada pemasukan untuk membeli atau membayar suatu keperluan. Di luar dugaan, aku merasa bersalah, sekecil-kecilnya karena sudah terlalu kaku membela kehendak sendiri.
Walau demikian aku tidak berpikir mengubah pendirian. Hanya perlu lebih bersabar lagi, saranku untuk diri sendiri. Akan tetapi dalam sebentar aku meragukan sikapku. Terlalu kejam rasanya jika sama sekali menghiraukan kepentingan orang lain.
“Oke, begini saja,” kataku mengacarai, “Kita harus pasang harga mulai sekarang.”
“Maksud abang?” tanya Moris.
“Wina,” aku memalingkan kalimat padanya, “Kamu segera cari tahu kapan penawarannya.”
“Betul, jangan lama-lama, kalau bisa malam ini!” serobot Moris.
“Memang malam ini!” timpal Wina lantang.
“Serius malam ini?” Moris memastikan.
“Malam ini! Jam 11.”
Aku tak punya bahan lagi untuk bertanya, kupikir Moris juga begitu. Kami berdiam-diam membawa pikiran sendiri.
Senyampang waktu kemudian, Moris kembali ke kasur dan duduk di situ. Hanya mukanya saja yang tampak resah. Ia memeriksa kotak rokok, sayangnya tiada satu pun yang isi.
“Bang, sudah islam?”
“Belumlah, kan dari tadi kau sama aku.”
“Islamlah! Macam orang susah kalian,” ujar Wina.
Moris tersulut mendengar ucapan Wina. “Ngomong sih gampang, nasib yang susah!”
Wina tergelak panjang karena ucapan penuh penyesalan hidup itu. Tetapi ia tak menanggapi lagi, beranjak menuju meja rias. Tasnya ada di sana, mengambil sesuatu dari dalamnya, lalu kembali dengan membawa beberapa lembar uang kertas merah campur biru. Menurut penglihatanku itu cukup tebal.
“Dari siapa?” tanyaku di saat Wina masih menghitung lembar demi lembar uang tersebut.
“Ini, 2,1 juta rupiah,” kata Wina, dan uang itu berpindah tangan. Wina menyebutkan nama-nama yang telah membayar tugas makalah, outline skripsi, hingga pesanan copywriting brosur dan buku kampanye pemilihan ketua senat fakultas.
“Semuanya 2,8 juta, bukan?” kataku tak puas.
“Yaelah, alhamdulillah aja dulu!” tukas Wina seraya menjawil kupingku.
Di antara pembicaraan aku dan Wina, rupanya, ada Moris yang bersenyum-senyum sendiri. Aku melirik wajah kotak itu, dan senyumannya semakin lebar. Pasti ia sudah menahan lapar bukan main sejak siang tadi. Tentu saja aku akan mengajak Moris menikmati hasil pikiran dan keringat kami. Namun, kalau ada setan lewat, biasanya uang berapa pun mudah saja habis dalam semalam. Semoga itu tidak terjadi.
“Bang, itu diputar aja, pasti dapat banyak.”
Brengsek, baru sekian detik aku berdoa tidak ada setan, faktanya setan sedang duduk di sampingku. Aku tahu Moris hapal jadwal pertandingan sepakbola, bahkan sampai liga atau kompetisi yang tidak terjamah penggemar bola. Moris tahu kapan mulainya pertandingan Liga Estonia, Liga Maroko, dan selagi ada kesempatan memasang taruhan, ia tidak pernah takut. Terkadang ia menangguk untung, terkadang nasibnya buntung. Selama ada rupiah di saku atau rekeningnya, Moris berani menyerahkan nasibnya pada keberuntungan. Kalau tidak ada, ia bakal mencari-cari yang ada.
“Bang, pake lah sikit. Pelit kali!”
“Udah sih, judi bola mulu hidup lo!” sergah Wina.
“Bukan bola ini, kita beli chip poker Facebook aja.”
“Nggak! Chip sekarang udah murah,” Wina lagi.
Apapun yang ia usulkan bagiku tak perlu diladeni. Semakin dijawab, akalnya kian tumbuh. Moris akan merayu-rayu layaknya calo investor demi mendapat kucuran modal. Sebetulnya aku dan Wina juga beberapa kali pernah makan keuntungannya dari judi. Tetapi kami bukan orang yang tertarik mengadu nasib dengan cara begitu.
Benar saja, Moris kemudian menawarkan permainan kartu qiu-qiu, taruhan billiard, mahjong, sampai apa saja yang tidak pernah kupikirkan. Semua permainan itu diceritakan sebagus-bagusnya, sebab anak ini memang handal menyelipkan iming-iming manis.
Pada akhirnya Moris menyerah. Kuserahkan uang itu lagi pada Wina agar ia yang mengatur. Lantas Wina memastikan hanya ada makan malam berupa satu loyang pizza large, sebotol cola, dan rokok. Moris suka tidak suka tak lagi membantah.
“Nggak apa-apalah, islam juga alhamdulillah, ayo kita jalan!”
“Aku ikut,” sambut Wina.
Aku setuju saja. Keduanya bersiap-siap pergi membeli pizza demi menuntaskan keislamannya. Islam adalah akronim yang kerap diucapkan Moris ketika lapar, artinya tak lain isi lambung alias makan.
“Oh ya, jangan lupa outline punya Rara,” Wina mengingatkanku sebelum meninggalkan kamar.
“Sip!”
Seperginya dua anak itu aku langsung membuka notebook untuk mengerjakan pesanan yang dimaksud Wina. Aku tidak tahu siapa Rara, katanya dia mahasiswa jurusan public relation. Skripsinya akan membahas kegiatan tanggung jawab sosial sebuah perusahaan kosmetika asal Prancis. Public relation sama sekali baru untukku. Karena itu, sebagai permulaan, lebih baik mencari referensi pustaka pendukung sekaligus memahami ilmu ini.
Tidak sulit juga mencari bahan pustaka ilmu humas. Internet dan Google telah mengubah banyak hal seperti seseorang yang hanya perlu memalingkan wajah. Apa yang Anda butuhkan? Novel terbaru, panduan sholat, berita terhangat, paranormal, riwayat-riwayat penjahat, mobil bekas, hingga mencari teman lama dapat dilakukan. Mudah sekali caranya, ketik sesuatu dan semuanya terpampang di hadapan Anda layaknya hadiah. Huh, bahkan saat aku remaja dan tergila-gila memainkan gitar, aku harus ke loper koran untuk membeli majalah musik berisi banyak chord lagu. Sekarang majalah-majalah itu kuharap segera tutup edisi, sebab internet begitu lugas dan mudah.
Hanya, tidak semuanya gratis di internet. Beberapa layanan terkunci, butuh akses, tentu bayar atau mengikuti sistem keanggotaan yang terbatas. Sepeti perpustakaan digital milik Universitas Indonesia yang menyimpan puluhan ribu bahan akademik, dari buku, jurnal, sampai skripsi yang sudah-sudah. Untungnya aku punya teman yang berbaik hati meminjamkan akses. Seburuk-buruknya, akses itu bisa digunakan hingga dia lulus. Kuharap ia tidak terburu-buru menyelesaikan kuliah.
Aku mendapatkan makalah pengantar public relation setebal 20 halaman, ditulis oleh....ah, itu tidak penting. Lebih efektif jika aku meluangkan sedikit memoriku untuk mengingat teori-teori dan nama-nama pakar yang pasti akan terdengar baru. Siapa pula Scott Cutlip, Abraham Maslow, atau Allen H. Center. Orang-orang ini mungkin tidak begitu peduli pada pelajaran fisika, tetapi mengambil keuntungan besar dari zaman yang terus berkembang.
Perkenalanku dengan cabang ilmu komunikasi ini diawali dengan kata-kata yang konon adalah ucapan Bill Gates. Manusia yang terbuat dari uang ini berkata, “Jika hartaku tinggal 1 dolar, akan kuhabiskan itu untuk public relation.” Oh, bagaimana bisa pria sekaya Gates mengatakan itu. Mungkin ucapan itu dilontarkan saat sedang bergurau, sebab ia tidak mungkin jatuh miskin, bukan?
Tetapi ucapan orang besar pada akhirnya tetap bermakna besar. Dan sebaris kalimat saja telah membuat diriku tertarik membaca pengantar humas. Hingga saatnya selintas bunyi buku bergeser di lantai sepertinya akan merusak segalanya.
Baru kuingat, buku catatan itu masih berada di tempatnya sejak peristiwa yang lalu.
Haruskah kuladeni percakapan kertas itu?
“Ya, tak usah bertanya lagi. Aku baru membaca tentang humas. Betapa pentingnya berkomunikasi dengan publik, termasuk publik gaib!” timpalku pada diri sendiri.
Yang terjadi kemudian, kutinggalkan notebook lalu berjongkok di depan lemari. Semestinya aku merasa ini suatu kelakuan yang menyimpang. Tetapi aku malah nyaman melakukan itu. Kuraih buku tersebut dari kolong, tampaklah debu tipis mulai menyelimuti benda itu.
Sebuah halaman terbuka, tulisannya besar-besar.
“Si pendusta telah berdiam di sini sore tadi. Jangan mau tertipu.”
Karena ukuran tulisannya tidak wajar, ia bersambung ke halaman berikutnya...
“Jejaknya hitam seperti perbuatannya yang dahulu.”
Kalimat itu rupanya belum selesai...
“Dia akan merenggutmu dengan banyak cara, segera keluar dari sini!”
Dan bersambung lagi...
“Seandainya aku bisa menolongmu, tetapi aku hanya bisa memberitahu.”
Dan lagi...
“Kenyataannya, kami diciptakan dengan kemampuan yang berbeda-beda.”
Masih ada lagi di halaman belakangnya, tetapi kupastikan ini yang terakhir. Katanya...
“Tak perlu kau balas, musnahkan kertas ini, kembalilah mencari uang.”
Halaman-halaman itu kubolak-balik sambil membaca ulang. Kenapa pemilik tulisan ini tidak berkata terus terang saja. Siapa dia pun juga aku tidak tahu. Bisa saja kan dia sedang membuat fitnah. Bisa juga dia sendiri si pembohong yang menyamar.
Kalau begitu kutulis sebaiknya yang ada di dalam pikiranku.
“Aku tidak begitu percaya kau. Tolong katakan langsung maksudmu,” buku itu kutaruh lagi di bawah lemari.
Beberapa saat selanjutnya kuambil lagi binder itu. Kosong. Kutaruh lagi dan kuulang sampai beberapa kali, tidak juga ada tanggapan.
Dengan agak kesal kulempar binder kembali ke kolong lemari. Benar katanya, lebih berguna bagiku membaca makalah humas. Sekarang aku sudah duduk di depan notebook.
Namun tanpa perkiraan sebelumnya, ada yang melempar binder itu dari dalam sana dan menyentuh pergelangan kakiku. Lemparan itu kasar dan seperti orang yang sedang terburu-buru. Kubuka segera, isinya begini...
“Aku akan pergi sekarang. Bakar kertas ini. Keluarlah kau juga!”
Belum lagi aku menutup bukuku, lampu kamar tiba-tiba padam. Barat hingga timur gelap gulita kurasa. PLN sialan! Kataku sambil mendengus kasar. Tetapi rasa takut mulai merambat dengan cepat. Merinding serempak bulu halus di manapun ia tumbuh.
Lilin, lilin, gumamku seraya mencari-cari di laci meja rias. Tidak ketemu atau memang tidak ada. Tetapi aku melihat kapas. Kucabut segumpal dari bungkusnya lalu beranjak keluar. Masih baiknya, aku punya korek api, cahayanya cukup membimbingku hingga dapur.
Tangga kayu kulewati dengan mengendap-endap, hati-hati supaya tidak terpeleset. Sekelibat tampak Mbak Fani duduk sendirian di kursi makan dengan ponsel di telinganya.
Akhirnya sampai dapur, tujuanku mengambil sedikit minyak sayur dan cawan. Aku dapat menemukan mereka dengan cepat. Tetapi justru kini ragu menyergap. Bukannya aku lebih baik di sini.
Sekelibat lagi terlihat pria parlente duduk di sisi Mbak Fani. Pintar juga dia, membuka kesempatan dalam gelap begini. Lebih baik memang aku keluar dari rumah ini. Bertahan di kamar, sesuatu yang tidak enak mungkin bakal terjadi. Berada di bawah, mengamati dua orang bermesraan, tentu lebih buruk. Tetapi uang, rokok, dan ponsel di atas. Aku perlu ke atas.
Pintu kamar Wina terbuka lebar. Tidak ada guna membuang-buang waktu sekarang, segera aku mencari benda-benda yang kuperlukan. Itu semua terletak berdekatan dengan notebook.
Namun yang kucari sama sekali lenyap dari tempatnya. Tentu aku sudah dibutakan, atau sebaliknya, barang-barang itu dipindahkan oleh sesuatu. Kedua-duanya bisa sama benar. Korek api terus menyala untuk membantu pencarianku. Terlihat gas pemantik itu hampir luap seluruhnya. Maka kunyalakan kapas yang sudah dilumuri minyak sayur sehingga apinya menerangi seruangan ini.
Ponsel, dompet, dan rokokku belum juga nampak. Yang ada, aku mendegar pintu kamar tertutup. Dadaku seketika berdetak tidak karuan, kupikir daging di dalamnya sudah membengkak.
Lalu suara yang pelan dan mengerikan membisik, seakan ia berada di belakang daun telingaku. Suara itu sungguh seperti wanita berumur 300 tahun, berat dan terpatah-patah.
“Kamu mencari aku?”
Aku melompat reflek untuk kemudian terpeleset dan terhempas. Arghh! Dengkulku baru saja beradu dengan lantai.
Di tengah menahan ngilu yang meresapi tulang, aku mendengar wanita melengking dari jarak yang amat jauh. Seperti ia sedang mendekat, bersama suara yang mengiringinya semakin jelas.
Aku menyerah dalam ketakutan, hanya bisa tengkurap dan menutup mata. Namun suara tersebut berhenti pada akhirnya. Dan cahaya terang menerpa kelopak mata yang tertutup ini.
“Bang, Abang kenapa!?” Itu suara Moris.
Kubuka mata yang masih lemas ini. Wina menjatuhkan kotak pizza ke lantai untuk langsung melihat keadaanku.
“Kamu kenapa?” Wina agaknya mengamati cawan berisi kapas yang masih menyala. “Untuk apa itu?”
Aku bangkit pelan-pelan sambil menahan sisa ngilu. “Tadi listrik mati.”
“Listrik mati?” ujar Moris dengan tatapan tidak percaya. (Masih ada lagi...)
Diubah oleh pakdhegober 15-08-2019 18:14
bebyzha dan 7 lainnya memberi reputasi
8