- Beranda
- Stories from the Heart
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
...
TS
pakdhegober
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
Assalamualaikum, semoga agan dan aganwati semua sehat, punya pacar dan enggak kehabisan uang.
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Spoiler for Prolog:
Quote:
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 112 suara
Part bagusnya pake foto ilustrasi apa nggak?
Pake, biar makin ngefeel
42%
nggak usah, ane penakut
11%
terserah TS, yang penting gak kentang
47%
Diubah oleh pakdhegober 14-05-2022 11:55
bebyzha dan 141 lainnya memberi reputasi
128
1.2M
3.4K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pakdhegober
#906
Part 25: Jejak Kaki
Kepuasan bermain bola harus dibayar dengan hal-hal merepotkan. Aku, Moris juga, basah kuyup dan tercemar tanah. Kami bermain hanya 20 menit tapi menanggung risiko sama dengan pemain lainnya.
Lantas aku ingat, celana dalam yang membungkus bokongku adalah benda pamungkas, sedangkan isi kantongku sudah mulai berdarah-darah. Maka dengan terpaksa kupinjam punya Moris. Sudah tentu ia menolak sambil mengejek.
“Mana pula cukup? Paling sampai lutut sudah robek.”
Ucapannya benar. Kaliber tubuh kami cukup berlawanan. Aku tinggi, Moris nyaris ala kadarnya. Pakaian dalam yang ia kenakan mungkin seukuran ketika aku masih SMA. Kalau begitu pinjam uangnya juga tak masalah.
“Yah, tinggal 20 ribu,” jawabnya menyesal. Namun aku punya uang untuk menambahnya.
“Beli di pasar saja Bang, lebih murah,” katanya bersaran.
Tanpa mendebat kuarahkan kendaraan ke Pasar Minggu. Dalam kedinginan kami mencari-cari toko yang masih buka. Untungnya masih ada. Aku memilih satu kotak celana dalam isi dua, lalu tawar menawar terjadilah, hingga aku sepakat membayar Rp 55 ribu. Moris sedikit heran ketika aku meminta ukuran L. Tapi memang pinggang ini kecil, mau apa dia?
Tetapi rupa-rupanya anak ini punya rencana lain. Sebelum meninggalkan toko ia minta satu lembar celana dalam.
“Lho kok?” sahutku heran.
“Punya gua juga habis bang, masih di laundry,” alasannya.
“Ini kan jelas-jelas kebesaran?”
“Nggak masalah sedikit besar, Bang, daripada kesempitan.”
Pendek kata, ia berhasil mengerjaiku. Kalau begini sama artinya aku mensubsidi pakaian dalamnya. Diiringi menggerutu kuberikan satu untuknya. Dan lagi-lagi ia menuntut.
“Yang hitam saja.”
“Apa sih bedanya!?”
“Supaya nggak cepat kotor lah. Maklum anak kos,” jawabnya sambil terkekeh.
Meninggalkan pasar, aku melihat hujan tinggal benang-benang tipis. Sepeda motor berpacu ke rumah Moris. Ia turun dan langsung berlari masuk ke rumah sekaligus kantor, tetapi sebentar kemudian anak itu memanggilku.
“Bang, kunci gua hilang!”
***
Sepertinya malam ini sudah jadi ketentuan; aku punya tanggungan, yaitu seorang Moris. Di kamar Wina tidak ada baju seukurannya, juga tidak ada celana. Namun pemuda Batak ini mengatakan tidak masalah mengenakan apa saja, asal ada yang bisa digunakan buat membungkus badan. Lebih dari itu, persediaan uang yang tipis harus dicukup-cukupi untuk berdua, mungkin juga bertiga. Yang demikian ini memang kerap terjadi dalam pertemanan, sebab tidak ada manfaat dalam pertemanan melainkan untuk saling menyusahkan.
“Boy, kenapa enggak ke rumah abang kau saja, pinjam kunci serep?” aku bertanya sesaat setelah memarkir kendaraan.
“Gimana ceritanya ke rumah abang gua lagi begini,” jawabnya dengan badan menggigil, “Lagi pula jauh.”
“Tapi kau pakai sarung enggak apa-apa?”
“Pakai karung juga boleh, Bang!”
“Tapi kamar Wina angker, enggak takut?”
“Bah! Sepele itu! Yang penting ada tante yang manis itu kan?”
“Siapa?” tersengat aku karena apa yang diujarnya. Yang dimaksud Moris nyata-nyata Mbak Fani.
“Itulah, yang punya kos.”
“O,” aku pura-pura baru menangkap arahnya, “Lagi kerja dia.”
“Ah, nggak mungkin, ini ada motornya.”
Sial! Dia sudah memperhatikan sejauh itu? Dalam hati aku mengecam, Moris tak berhak menanyakan Mbak Fani. Huh, kenapa aku ini?
Aku berjalan masuk melalui jalur satu-satunya. Namun karena sandalku masih berlumur tanah, aku mencopotnya di depan ruang utama, lalu berjalan dengan cara berjinjit. Tiba-tiba dadaku berdenyut-denyut manakala melihat Mbak Fani mengenakan gaun rumah berwarna biru sedang menimang bayinya. Sungguh, pesonanya berlipat ganda saat ia menjadi ibu.
Dan si brengsek di belakangku itu turut menatap Mbak Fani sampai berlama-lama. Moris bersifat tidak peduli apapun jika itu menyangkut kesenangannya. Namun akhirnya..., agaknya kami berdua menahan gondok, lelaki parlente yang ada sejak sore tadi keluar dari kamar Mbak Fani, dan mereka langsung bertingkah mesra.
Kupikir kami berdua baru saja menelan bola billiard.
“Pantas abang betah di rumah angker ini,” sentil Moris di tangga.
“Apa maksud lu?” ujarku dalam suara pelan.
“Ah, lagak berak abang ini, sama-samanya kita ini! Berapa nomor tante itu, Bang?”
“Mintalah kau sendiri,” jawabku culas. Kenyataannya aku sendiri tidak punya.
“Pelit kali bang? Tahu sendirilah aku ini takut anjing.”
Kurang ajar, Moris berani-berani menghardik lelaki parlente itu di belakang. Yang tidak pernah disadari anak ini, ia punya suara pekak. Tentu saja semua yang sudah diucapkannya terdengar jelas sampai bawah. Aku dibuat menggaruk-garuk pipi karena tingkah Moris, tetapi kemudian kubisikkan sesuatu padanya.
“Moris, kau tahu bunyi klakson bus?”
“Kenapa?”
“Macam itulah suaramu!”
Tiba-tiba Moris menoleh ke bawah, tersenyum polos tanpa ada rasa kikuk. Mungkin dia sudah pasrah terlahir ke dunia dengan suara begitu berat dan kencang.
Sampai di kamar kupinjamkan handuk dan kaus seadanya untuk Moris. Dia segera mandi, dan kira-kira tiga menit kemudian selesai. Kegiatan ini dapat dilakukannya dengan singkat. Sebagai orang yang pernah tinggal di asrama, aku tahu caranya mandi cepat. Namun yang dikerjakan Moris bisa disebut ajaib. Sedang kebanyakan orang yang kukenal mandi dalam 15 menit, teman-temanku di asrama dulu rata-rata memerlukan 8-10 menit. Entah bagaimana Moris dapat melakukan itu.
Setelah Moris selesai, giliranku mandi. Mandi di rumah kos Wina selalu kubereskan lebih cepat daripada di manapun. Aku terus menerus curiga setiap masuk ruangan lembab ini. Seperti...beberapa pasang mata rasanya tengah memperhatikan ketelanjanganku. Terkadang aku sangat yakin, makhluk-makhluk yang tak terlihat sedang melihatku. Jarak antara aku dan mereka barangkali hanya tersekat dimensi.
Baru saja memulai menghandukkan badan, pintu kamar mandi digedor-gedor dari luar. Terdengar suara Wina memanggil namaku berulang-ulang. Gelagat yang tidak biasa. Segeralah aku keluar.
“Kamu baru main bola sama Moris?” tanya Wina, tetapi suaranya lebih mirip pemeriksaan.
“Ada apa?”
“Kamu nggak sopan banget, sih! Kira-kira dong kalau punya tingkah!”
Aku hendak memprotes ucapan Wina, tapi dia lebih cepat menarik tanganku, mendikteku sampai hampir ke ujung tangga.
Kulihat jejak-jejak kaki manusia berderet hingga ke kamar Wina. Warnanya hitam, kuyakin itu bukan kaki yang baru keluar dari kubangan lumpur, bukan pula akibat menginjak aspal basah. Jejak itu lebih kering sepertinya.
“Jangan begitu lah! Kamu tahu kan, bagaimanapun kita ini numpang di sini!”
Wina sesungguhnya tak begitu kudengarkan. Pikiranku terpusat pada cetakan kaki itu. Itu bukan milikku, tetapi Wina terus megoceh, menuduhkan sebagai pelaku.
“Pokoknya kamu harus bersihin sekarang!”
Kutinggalkan perempuan yang sedang kesal itu dan mulai merunut arah jejak tersebut. Ternyata lebih-lebih dari dugaanku, bekas kaki itu sampai ke kamar Wina dan berakhir persis di sebelah kaki Moris yang tengah duduk di kasur sambil menikmati musik. Agaknya Moris memang sengaja tidak mau ikut campur urusan kami.
Aku jongkok untuk mencolek jejak hitam itu. Dugaanku tidak keliru, ini bukan lumpur, sama sekali tidak basah maupun lembab. Dari tekstur dan hitamnya, aku berpikir beberapa saat...,ini seperti arang.
Boleh jadi rasa penasaran yang sama mendorong Wina untuk diam, lantas dia ikut berjongkok dan memperhatikan jejak aneh itu.
“Ini arang,” kataku pada Wina.
Wina tak menyahut, kecuali tatapannya yang terkesan mulai tidak nyaman.
“Kamu belum lihat ini?”
Ia menggeleng.
Akhirnya Moris ingin tahu juga apa yang sedang terjadi. Ia melepaskan perangkat di telinganya. “Ada apa sih kalian berdua?”
Wina langsung menunjukkan pemandangan aneh itu. Bukan main Moris terkejut, dan reflek mendorong tubuhnya.
“Astaga, siapa itu?!”
“Ini kaya jejak kaki perempuan,” kataku, maksudnya pada Wina. Tetapi Moris ikut menyimak.
“Iya sih, bentuk kaki cewek,” Wina setuju. Dia berdiri lalu berkata pada Moris, “Lu nggak ngeh dari tadi dia duduk di sebelah lu?”
“Ah ada-ada aja lu!”
Wina tidak sedang membual. Posisi jejak kaki itu layaknya kaki Moris yang menghadap ke dinding. Tapi....
“Bang, kok aneh gini bentuknya?”
Moris ternyata menangkap keganjilannya. Dari jejak ini, ukuran jemarinya lebih panjang dari telapak kaki normal, bahkan sangat jelas lebih panjang. Kami bertiga mengamati objek tersebut beberapa waktu lamanya.
“Sayang, ayolah segera kita cari kosan lagi,” ucap Wina.
Lagi-lagi tak kuhiraukan Wina. Aku berdiri, berjalan ke luar, sehingga aku mendapat pengetahuan lebih dulu. Bekas tapak kaki itu sampai pula di kamar mandi. Bulu-bulu halus di tengkuk dan lenganku bersamaan bangkit dari tidurnya. Tetapi pengetahuan ini belum berakhir. Lebih dari itu, jejak kaki ini juga sampai di kamar kosong.
Tiba-tiba aku ingin mengulang ke awal. Ujung tangga itu! Aku kembali ke sana, lalu mendapati bahwa cap telapak kaki yang mula-mula itu sebetulnya cenderung menghadap ke bibir tangga, baru kemudian menyamping. Jika benar demikian, ini semua berawal dari dalam dinding. Atau yang sebenarnya dari lukisan, dan ia berakhir di kamar kosong itu!?
Sejenak kusempatkan diri menatap lukisan tersebut. Tetapi lama-kelamaan hanya menjadikan bulu kuduk semakin tegang. (Lanjut gan..)
Kepuasan bermain bola harus dibayar dengan hal-hal merepotkan. Aku, Moris juga, basah kuyup dan tercemar tanah. Kami bermain hanya 20 menit tapi menanggung risiko sama dengan pemain lainnya.
Lantas aku ingat, celana dalam yang membungkus bokongku adalah benda pamungkas, sedangkan isi kantongku sudah mulai berdarah-darah. Maka dengan terpaksa kupinjam punya Moris. Sudah tentu ia menolak sambil mengejek.
“Mana pula cukup? Paling sampai lutut sudah robek.”
Ucapannya benar. Kaliber tubuh kami cukup berlawanan. Aku tinggi, Moris nyaris ala kadarnya. Pakaian dalam yang ia kenakan mungkin seukuran ketika aku masih SMA. Kalau begitu pinjam uangnya juga tak masalah.
“Yah, tinggal 20 ribu,” jawabnya menyesal. Namun aku punya uang untuk menambahnya.
“Beli di pasar saja Bang, lebih murah,” katanya bersaran.
Tanpa mendebat kuarahkan kendaraan ke Pasar Minggu. Dalam kedinginan kami mencari-cari toko yang masih buka. Untungnya masih ada. Aku memilih satu kotak celana dalam isi dua, lalu tawar menawar terjadilah, hingga aku sepakat membayar Rp 55 ribu. Moris sedikit heran ketika aku meminta ukuran L. Tapi memang pinggang ini kecil, mau apa dia?
Tetapi rupa-rupanya anak ini punya rencana lain. Sebelum meninggalkan toko ia minta satu lembar celana dalam.
“Lho kok?” sahutku heran.
“Punya gua juga habis bang, masih di laundry,” alasannya.
“Ini kan jelas-jelas kebesaran?”
“Nggak masalah sedikit besar, Bang, daripada kesempitan.”
Pendek kata, ia berhasil mengerjaiku. Kalau begini sama artinya aku mensubsidi pakaian dalamnya. Diiringi menggerutu kuberikan satu untuknya. Dan lagi-lagi ia menuntut.
“Yang hitam saja.”
“Apa sih bedanya!?”
“Supaya nggak cepat kotor lah. Maklum anak kos,” jawabnya sambil terkekeh.
Meninggalkan pasar, aku melihat hujan tinggal benang-benang tipis. Sepeda motor berpacu ke rumah Moris. Ia turun dan langsung berlari masuk ke rumah sekaligus kantor, tetapi sebentar kemudian anak itu memanggilku.
“Bang, kunci gua hilang!”
***
Sepertinya malam ini sudah jadi ketentuan; aku punya tanggungan, yaitu seorang Moris. Di kamar Wina tidak ada baju seukurannya, juga tidak ada celana. Namun pemuda Batak ini mengatakan tidak masalah mengenakan apa saja, asal ada yang bisa digunakan buat membungkus badan. Lebih dari itu, persediaan uang yang tipis harus dicukup-cukupi untuk berdua, mungkin juga bertiga. Yang demikian ini memang kerap terjadi dalam pertemanan, sebab tidak ada manfaat dalam pertemanan melainkan untuk saling menyusahkan.
“Boy, kenapa enggak ke rumah abang kau saja, pinjam kunci serep?” aku bertanya sesaat setelah memarkir kendaraan.
“Gimana ceritanya ke rumah abang gua lagi begini,” jawabnya dengan badan menggigil, “Lagi pula jauh.”
“Tapi kau pakai sarung enggak apa-apa?”
“Pakai karung juga boleh, Bang!”
“Tapi kamar Wina angker, enggak takut?”
“Bah! Sepele itu! Yang penting ada tante yang manis itu kan?”
“Siapa?” tersengat aku karena apa yang diujarnya. Yang dimaksud Moris nyata-nyata Mbak Fani.
“Itulah, yang punya kos.”
“O,” aku pura-pura baru menangkap arahnya, “Lagi kerja dia.”
“Ah, nggak mungkin, ini ada motornya.”
Sial! Dia sudah memperhatikan sejauh itu? Dalam hati aku mengecam, Moris tak berhak menanyakan Mbak Fani. Huh, kenapa aku ini?
Aku berjalan masuk melalui jalur satu-satunya. Namun karena sandalku masih berlumur tanah, aku mencopotnya di depan ruang utama, lalu berjalan dengan cara berjinjit. Tiba-tiba dadaku berdenyut-denyut manakala melihat Mbak Fani mengenakan gaun rumah berwarna biru sedang menimang bayinya. Sungguh, pesonanya berlipat ganda saat ia menjadi ibu.
Dan si brengsek di belakangku itu turut menatap Mbak Fani sampai berlama-lama. Moris bersifat tidak peduli apapun jika itu menyangkut kesenangannya. Namun akhirnya..., agaknya kami berdua menahan gondok, lelaki parlente yang ada sejak sore tadi keluar dari kamar Mbak Fani, dan mereka langsung bertingkah mesra.
Kupikir kami berdua baru saja menelan bola billiard.
“Pantas abang betah di rumah angker ini,” sentil Moris di tangga.
“Apa maksud lu?” ujarku dalam suara pelan.
“Ah, lagak berak abang ini, sama-samanya kita ini! Berapa nomor tante itu, Bang?”
“Mintalah kau sendiri,” jawabku culas. Kenyataannya aku sendiri tidak punya.
“Pelit kali bang? Tahu sendirilah aku ini takut anjing.”
Kurang ajar, Moris berani-berani menghardik lelaki parlente itu di belakang. Yang tidak pernah disadari anak ini, ia punya suara pekak. Tentu saja semua yang sudah diucapkannya terdengar jelas sampai bawah. Aku dibuat menggaruk-garuk pipi karena tingkah Moris, tetapi kemudian kubisikkan sesuatu padanya.
“Moris, kau tahu bunyi klakson bus?”
“Kenapa?”
“Macam itulah suaramu!”
Tiba-tiba Moris menoleh ke bawah, tersenyum polos tanpa ada rasa kikuk. Mungkin dia sudah pasrah terlahir ke dunia dengan suara begitu berat dan kencang.
Sampai di kamar kupinjamkan handuk dan kaus seadanya untuk Moris. Dia segera mandi, dan kira-kira tiga menit kemudian selesai. Kegiatan ini dapat dilakukannya dengan singkat. Sebagai orang yang pernah tinggal di asrama, aku tahu caranya mandi cepat. Namun yang dikerjakan Moris bisa disebut ajaib. Sedang kebanyakan orang yang kukenal mandi dalam 15 menit, teman-temanku di asrama dulu rata-rata memerlukan 8-10 menit. Entah bagaimana Moris dapat melakukan itu.
Setelah Moris selesai, giliranku mandi. Mandi di rumah kos Wina selalu kubereskan lebih cepat daripada di manapun. Aku terus menerus curiga setiap masuk ruangan lembab ini. Seperti...beberapa pasang mata rasanya tengah memperhatikan ketelanjanganku. Terkadang aku sangat yakin, makhluk-makhluk yang tak terlihat sedang melihatku. Jarak antara aku dan mereka barangkali hanya tersekat dimensi.
Baru saja memulai menghandukkan badan, pintu kamar mandi digedor-gedor dari luar. Terdengar suara Wina memanggil namaku berulang-ulang. Gelagat yang tidak biasa. Segeralah aku keluar.
“Kamu baru main bola sama Moris?” tanya Wina, tetapi suaranya lebih mirip pemeriksaan.
“Ada apa?”
“Kamu nggak sopan banget, sih! Kira-kira dong kalau punya tingkah!”
Aku hendak memprotes ucapan Wina, tapi dia lebih cepat menarik tanganku, mendikteku sampai hampir ke ujung tangga.
Kulihat jejak-jejak kaki manusia berderet hingga ke kamar Wina. Warnanya hitam, kuyakin itu bukan kaki yang baru keluar dari kubangan lumpur, bukan pula akibat menginjak aspal basah. Jejak itu lebih kering sepertinya.
“Jangan begitu lah! Kamu tahu kan, bagaimanapun kita ini numpang di sini!”
Wina sesungguhnya tak begitu kudengarkan. Pikiranku terpusat pada cetakan kaki itu. Itu bukan milikku, tetapi Wina terus megoceh, menuduhkan sebagai pelaku.
“Pokoknya kamu harus bersihin sekarang!”
Kutinggalkan perempuan yang sedang kesal itu dan mulai merunut arah jejak tersebut. Ternyata lebih-lebih dari dugaanku, bekas kaki itu sampai ke kamar Wina dan berakhir persis di sebelah kaki Moris yang tengah duduk di kasur sambil menikmati musik. Agaknya Moris memang sengaja tidak mau ikut campur urusan kami.
Aku jongkok untuk mencolek jejak hitam itu. Dugaanku tidak keliru, ini bukan lumpur, sama sekali tidak basah maupun lembab. Dari tekstur dan hitamnya, aku berpikir beberapa saat...,ini seperti arang.
Boleh jadi rasa penasaran yang sama mendorong Wina untuk diam, lantas dia ikut berjongkok dan memperhatikan jejak aneh itu.
“Ini arang,” kataku pada Wina.
Wina tak menyahut, kecuali tatapannya yang terkesan mulai tidak nyaman.
“Kamu belum lihat ini?”
Ia menggeleng.
Akhirnya Moris ingin tahu juga apa yang sedang terjadi. Ia melepaskan perangkat di telinganya. “Ada apa sih kalian berdua?”
Wina langsung menunjukkan pemandangan aneh itu. Bukan main Moris terkejut, dan reflek mendorong tubuhnya.
“Astaga, siapa itu?!”
“Ini kaya jejak kaki perempuan,” kataku, maksudnya pada Wina. Tetapi Moris ikut menyimak.
“Iya sih, bentuk kaki cewek,” Wina setuju. Dia berdiri lalu berkata pada Moris, “Lu nggak ngeh dari tadi dia duduk di sebelah lu?”
“Ah ada-ada aja lu!”
Wina tidak sedang membual. Posisi jejak kaki itu layaknya kaki Moris yang menghadap ke dinding. Tapi....
“Bang, kok aneh gini bentuknya?”
Moris ternyata menangkap keganjilannya. Dari jejak ini, ukuran jemarinya lebih panjang dari telapak kaki normal, bahkan sangat jelas lebih panjang. Kami bertiga mengamati objek tersebut beberapa waktu lamanya.
“Sayang, ayolah segera kita cari kosan lagi,” ucap Wina.
Lagi-lagi tak kuhiraukan Wina. Aku berdiri, berjalan ke luar, sehingga aku mendapat pengetahuan lebih dulu. Bekas tapak kaki itu sampai pula di kamar mandi. Bulu-bulu halus di tengkuk dan lenganku bersamaan bangkit dari tidurnya. Tetapi pengetahuan ini belum berakhir. Lebih dari itu, jejak kaki ini juga sampai di kamar kosong.
Tiba-tiba aku ingin mengulang ke awal. Ujung tangga itu! Aku kembali ke sana, lalu mendapati bahwa cap telapak kaki yang mula-mula itu sebetulnya cenderung menghadap ke bibir tangga, baru kemudian menyamping. Jika benar demikian, ini semua berawal dari dalam dinding. Atau yang sebenarnya dari lukisan, dan ia berakhir di kamar kosong itu!?
Sejenak kusempatkan diri menatap lukisan tersebut. Tetapi lama-kelamaan hanya menjadikan bulu kuduk semakin tegang. (Lanjut gan..)
Diubah oleh pakdhegober 15-08-2019 18:11
bebyzha dan 9 lainnya memberi reputasi
10