- Beranda
- Stories from the Heart
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
...
TS
pakdhegober
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
Assalamualaikum, semoga agan dan aganwati semua sehat, punya pacar dan enggak kehabisan uang.
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Spoiler for Prolog:
Quote:
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 112 suara
Part bagusnya pake foto ilustrasi apa nggak?
Pake, biar makin ngefeel
42%
nggak usah, ane penakut
11%
terserah TS, yang penting gak kentang
47%
Diubah oleh pakdhegober 14-05-2022 11:55
bebyzha dan 141 lainnya memberi reputasi
128
1.2M
3.4K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pakdhegober
#905
Part 24: Bermain Bola
Sungguh, aku ragu pada apa yang kudengar. Tadi Mbak Fani mengatakan, “Pergi!” Dan anjing mini pom itu langsung diam tanpa melawan. Kepada siapa perintah itu ia katakan?
Kamar menjadi takdirku sekarang. Aku memikirkan potongan kejadian yang singkat itu. Mbak Fani tahu ada kekuatan astral yang membuat unyil resah. Tetapi dia tidak langsung mengusirnya. Ia menunggu dengan sabar, menunggu yang tidak terlihat itu insyaf sendirinya, hingga kesabarannya habis.
Sebaiknya kutanyakan perihal itu sekarang juga. Ya, sekarang, tak perlu nanti-nanti. Lantas aku bergegas keluar dari kamar untuk membuat semuanya jelas.
Akan tetapi tekadku dihentikan karena melihat sosok seorang pria. Ini pria yang sama sekali baru kulihat. Perawakannya tinggi proporsional, berwajah bersih, parlente, dan yaa...secara fisik ia lebih baik dariku.
Pria itu merangkul Mbak Fani, mengecupnya pada kening wanita itu dan berbalas kecupan yang sama hangat.
Kemudian dua orang itu masuk ke kamar Mbak Fani dengan tangan saling menuntun.
Sialan!
***
Sejak pemandangan yang aneh tadi waktu begitu pelit bergerak. Sekarang aku punya waktu begitu banyak. Sendiri lagi bercampur pikiran yang tidak jelas.
Beruntunglah aku punya Moris. Ia menghubungiku di saat yang tepat. Langsung kuangkat panggilannya.
“Bang, ayo kita main bola!”
Eeee, bisa-bisanya anak ini mengajak olahraga, bahkan main bola! Jujur saja, bagiku mustahil ia berkata begitu. Moris pemalas dalam banyak hal, kecuali melakukan kesenangan. Dan bermain sepakbola tidak pernah ada dalam daftar kesenangannya, kecuali berjudi bola.
“Bang, aku di depan kos ni, ayo main sekarang!”
“Kau bilang main bola?”
Ia tertawa panjang berkali-kali, mungkin sadar bahwa tak sepantasnya dirinya mengajak berolahraga.
“Sudahlah, bilang terus terang, kau mau apa?”
“Main bola, Bang,” katanya sambil masih tertawa.
“Kok bisa?”
“Aku ini dulu striker, Bang.”
“Ah, cakap kancil kaulah! Cepat bilang ada apa?”
“Aaah! Banyak cakap abang ini, cepat keluar, kita main bola.”
“Di mana?”
“Lapangan Palapa.”
“Serius?”
“Serius ini, sama anak-anak juga.”
Aku mulai sedikit percaya ketika ia membawa nama teman-teman kami. Namun tetap saja aneh mendengar Moris mengajak olahraga.
“Tapi aku enggak ada sepatu.”
“Macam Messi aja pakai alas kaki, ayo jalan sekarang. Yang lain sudah duluan.”
Diam-diam sebetulnya aku berterima kasih dengan ajakan Moris. Segera kuperiksa lemari Wina. Hasshh, untung masih ada satu celana pendek di sini. Baiklah, saatnya membuang keringat sore ini. Tak perlu memikirkan yang terjadi sebelumnya, juga tak penting membayangkan Mbak Fani dan kekasihnya. Masa bodoh, toh dia juga berminat padaku, cepat atau lambat pasti dapat.
Berjalan meninggalkan kamar, tapi baru beberapa hitung langkah aku mendengar bunyi gedebuk dari dalam. Itu binderku! Ia mengajakku berkomunikasi lagi sore ini.
Namun akhirnya kuhiraukan bunyi itu. Sepakbola lebih seksi kali ini.
***
Lapangan Palapa terletak di balik denyut kehidupan kawasan Pasar Minggu. Petang ini banyak orang yang ingin membugarkan badan. Tua, muda, sampai yang baru bisa berjalan bisa kutemukan. Sepeda motor kuparkir di sisi selatan, kemudian aku mengikuti Moris ke sebuah lapangan yang paling besar.
Dalam perjalanan yang singkat dari kos Wina ke sini, Moris menyebut beberapa nama temanku, yang mana mustahil mereka bermain bola. Jadi aku sudah bersiap melontarkan ledekan pada mereka.
Tetapi aku justru tidak melihat seorang pun yang kukenal, kecuali Moris.
“Ke mana yang lain?”
Moris malah terkikik, alhasil kini aku ditipu olehnya. Aku dibuat seperti anak pindahan baru yang belum punya teman, sehingga harus menumpang bermain bola dengan orang lain. Sedang Moris sendiri tampak mengedarkan pandangannya ke kerumunan orang-orang yang bergerak lincah di lapangan. Aku harus memasang curiga, pasti ada akal yang tersembunyi di balik ulahnya ini.
Seorang pria melambaikan tangan, sepertinya ke arah kami. Jelas kulihat Moris tersenyum lebar. Pria itu kerjanya menjaga gawang, dari kejauhan badannya tampak lebih lebar dari pemain lain. Tetapi permainan masih berlanjut. Kami duduk saja kemudian di pinggir lapangan. Dalam pengamatanku, permainan kedua tim ini cukup bagus. Banyak pemain lincah dan rajin mencari posisi, kecuali si badan lebar yang melambaikan tangannya pada Moris. Dialah yang paling pemalas, karena mungkin badannya berat. Maka bukan salah pria itu jika gawangnya dua kali dikoyak pemain lawan kurang dari 10 menit. Setelahnya mudah ditebak, rekan setimnya tidak menghendakinya berdiri di bawah mistar lagi. Dia pun meninggalkan lapangan tanpa memprotes.
Penjaga gawang yang baru dieliminasi itu berjalan menghampiri kami dan langsung duduk di sebelah Moris. Sepintas kubaca nama punggungnya, Sukis. Barangkali itu seragam milik orang lain. Tetapi kemudian ia segera memperkenalkan diri, “Sukis.”
Terus terang aku sudah lama sekali tidak melihat orang bernama Sukis. Orang ini membawa sebotol besar air putih dan minum sangat banyak, melebihi keringat yang baru ia pompa.
“Moris nawarin brandy ke gue, dengar-dengar itu milik bersama?”
O, ini maksudnya Moris menipuku. Sungguh, kupikir ia tidak perlu berbohong.
“Iya, betul, barangnya masih mulus banget.”
Sukis menyingsing senyum, “Iya, gue sudah lihat. Tapi sayang labelnya rusak parah.”
Sudah pasti yang barusan ia katakan adalah caranya menjatuhkan harga. Kalau begitu tak perlu berlama-lama.
“Minat bru?”
“Lebih tepatnya bos gue yang mau angkat. Waktu itu sudah gue tawar, katanya Moris sudah bilang juga sama lo?”
Jadi orang ini yang tempo hari menawar Rp 15 juta. Seketika aku merasa malas. Tapi tidak! Barangkali ia sudah punya proposal baru.
“Berani angkat berapa?”
“Dua belas ribu.”
“Dua belas juta?”
Sukis mengangguk tanpa perasaan.
Brengsek! Pikirku. Sekarang aku mulas berada di situasi yang tidak penting ini. Rp 15 juta bahkan tidak bakal kulepas, kini ada orang yang datang seperti badut.
“Jangan bercanda, ini koleksi klasik,” kataku serius.
“Gue serius. Itu memang klasik, tapi bos gue ragu penyimpanannya.”
“Coba bawa dulu ke bos lo bru.”
“Dia juga sudah periksa barangnya.”
“Dia ragu kualitasnya?”
“Ya.”
“Tapi dia tertarik?”
“Dia tertarik banget.”
“Kalau begitu dia yakin.”
Huftt, negosiasi macam apa ini, pikirku. Waktu sudah terbuang nihil demi meladeni manusia macam ini. Menurutku lebih baik aku berdiam diri di kamar Wina sambil berkomunikasi dengan setan binder.
Lantas aku mengajak Moris pulang. Sebetulnya pulang sendiri pun tak masalah, Moris juga bisa berjalan kaki.
“Kalo lo tertarik bos gue bakal transfer sekarang juga, gimana?” tawar Sukis terakhir kalinya.
Tiba-tiba aku memikirkan nominal tersebut. Memang kedengarannya kurang ajar, tetapi kalau sudah nyata di hadapan mata menggiurkan juga. Bagianku Rp 6 juta, selebihnya Moris. Demi jumlah tersebut, paling tidak aku harus mengerjakan 80 makalah atau dua skripsi atau sebuah tesis ilmu sosial.
Ayolah! Jangan kelewat tahan harga, bisik diriku bernafsu.
Tunggu dulu, kata bisikan yang lain. Uangku kan sudah cukup untuk makan dan sedikit bersenang-senang. Aku tidak membutuhkan Rp 6 juta sekarang, aku hanyalah lajang yang tidak ditunggu anak-istri di rumah.
Kesimpulannya, tawaran murahan itu kumentahkan. Sebenarnya aku berharap ia menaikkan harga, sayangnya itu tidak terwujud.
Ketika kami hendak pulang, seorang pemain tahu-tahu saja mengajak bermain. “Ayo, Bang, gabung aja!”
Daripada sore ini sia-sia, ajakan itu kami terima. Lantas aku mulai percaya Moris dahulu pemain bola, meski badannya irit. Ia cepat dan efektif sehingga bisa mencetak sebuah gol. Sedang aku sendiri sejujurnya hampir lupa cara menggiring bola. Bertahun-tahun sudah aku tidak turun ke lapangan, mulanya setelah suatu kecelakaan yang mematahkan tulang di bawah lutut. Walau begitu kami terus bermain meski langit mulai gelap dan bergemuruh.
Sungguh, aku ragu pada apa yang kudengar. Tadi Mbak Fani mengatakan, “Pergi!” Dan anjing mini pom itu langsung diam tanpa melawan. Kepada siapa perintah itu ia katakan?
Kamar menjadi takdirku sekarang. Aku memikirkan potongan kejadian yang singkat itu. Mbak Fani tahu ada kekuatan astral yang membuat unyil resah. Tetapi dia tidak langsung mengusirnya. Ia menunggu dengan sabar, menunggu yang tidak terlihat itu insyaf sendirinya, hingga kesabarannya habis.
Sebaiknya kutanyakan perihal itu sekarang juga. Ya, sekarang, tak perlu nanti-nanti. Lantas aku bergegas keluar dari kamar untuk membuat semuanya jelas.
Akan tetapi tekadku dihentikan karena melihat sosok seorang pria. Ini pria yang sama sekali baru kulihat. Perawakannya tinggi proporsional, berwajah bersih, parlente, dan yaa...secara fisik ia lebih baik dariku.
Pria itu merangkul Mbak Fani, mengecupnya pada kening wanita itu dan berbalas kecupan yang sama hangat.
Kemudian dua orang itu masuk ke kamar Mbak Fani dengan tangan saling menuntun.
Sialan!
***
Sejak pemandangan yang aneh tadi waktu begitu pelit bergerak. Sekarang aku punya waktu begitu banyak. Sendiri lagi bercampur pikiran yang tidak jelas.
Beruntunglah aku punya Moris. Ia menghubungiku di saat yang tepat. Langsung kuangkat panggilannya.
“Bang, ayo kita main bola!”
Eeee, bisa-bisanya anak ini mengajak olahraga, bahkan main bola! Jujur saja, bagiku mustahil ia berkata begitu. Moris pemalas dalam banyak hal, kecuali melakukan kesenangan. Dan bermain sepakbola tidak pernah ada dalam daftar kesenangannya, kecuali berjudi bola.
“Bang, aku di depan kos ni, ayo main sekarang!”
“Kau bilang main bola?”
Ia tertawa panjang berkali-kali, mungkin sadar bahwa tak sepantasnya dirinya mengajak berolahraga.
“Sudahlah, bilang terus terang, kau mau apa?”
“Main bola, Bang,” katanya sambil masih tertawa.
“Kok bisa?”
“Aku ini dulu striker, Bang.”
“Ah, cakap kancil kaulah! Cepat bilang ada apa?”
“Aaah! Banyak cakap abang ini, cepat keluar, kita main bola.”
“Di mana?”
“Lapangan Palapa.”
“Serius?”
“Serius ini, sama anak-anak juga.”
Aku mulai sedikit percaya ketika ia membawa nama teman-teman kami. Namun tetap saja aneh mendengar Moris mengajak olahraga.
“Tapi aku enggak ada sepatu.”
“Macam Messi aja pakai alas kaki, ayo jalan sekarang. Yang lain sudah duluan.”
Diam-diam sebetulnya aku berterima kasih dengan ajakan Moris. Segera kuperiksa lemari Wina. Hasshh, untung masih ada satu celana pendek di sini. Baiklah, saatnya membuang keringat sore ini. Tak perlu memikirkan yang terjadi sebelumnya, juga tak penting membayangkan Mbak Fani dan kekasihnya. Masa bodoh, toh dia juga berminat padaku, cepat atau lambat pasti dapat.
Berjalan meninggalkan kamar, tapi baru beberapa hitung langkah aku mendengar bunyi gedebuk dari dalam. Itu binderku! Ia mengajakku berkomunikasi lagi sore ini.
Namun akhirnya kuhiraukan bunyi itu. Sepakbola lebih seksi kali ini.
***
Lapangan Palapa terletak di balik denyut kehidupan kawasan Pasar Minggu. Petang ini banyak orang yang ingin membugarkan badan. Tua, muda, sampai yang baru bisa berjalan bisa kutemukan. Sepeda motor kuparkir di sisi selatan, kemudian aku mengikuti Moris ke sebuah lapangan yang paling besar.
Dalam perjalanan yang singkat dari kos Wina ke sini, Moris menyebut beberapa nama temanku, yang mana mustahil mereka bermain bola. Jadi aku sudah bersiap melontarkan ledekan pada mereka.
Tetapi aku justru tidak melihat seorang pun yang kukenal, kecuali Moris.
“Ke mana yang lain?”
Moris malah terkikik, alhasil kini aku ditipu olehnya. Aku dibuat seperti anak pindahan baru yang belum punya teman, sehingga harus menumpang bermain bola dengan orang lain. Sedang Moris sendiri tampak mengedarkan pandangannya ke kerumunan orang-orang yang bergerak lincah di lapangan. Aku harus memasang curiga, pasti ada akal yang tersembunyi di balik ulahnya ini.
Seorang pria melambaikan tangan, sepertinya ke arah kami. Jelas kulihat Moris tersenyum lebar. Pria itu kerjanya menjaga gawang, dari kejauhan badannya tampak lebih lebar dari pemain lain. Tetapi permainan masih berlanjut. Kami duduk saja kemudian di pinggir lapangan. Dalam pengamatanku, permainan kedua tim ini cukup bagus. Banyak pemain lincah dan rajin mencari posisi, kecuali si badan lebar yang melambaikan tangannya pada Moris. Dialah yang paling pemalas, karena mungkin badannya berat. Maka bukan salah pria itu jika gawangnya dua kali dikoyak pemain lawan kurang dari 10 menit. Setelahnya mudah ditebak, rekan setimnya tidak menghendakinya berdiri di bawah mistar lagi. Dia pun meninggalkan lapangan tanpa memprotes.
Penjaga gawang yang baru dieliminasi itu berjalan menghampiri kami dan langsung duduk di sebelah Moris. Sepintas kubaca nama punggungnya, Sukis. Barangkali itu seragam milik orang lain. Tetapi kemudian ia segera memperkenalkan diri, “Sukis.”
Terus terang aku sudah lama sekali tidak melihat orang bernama Sukis. Orang ini membawa sebotol besar air putih dan minum sangat banyak, melebihi keringat yang baru ia pompa.
“Moris nawarin brandy ke gue, dengar-dengar itu milik bersama?”
O, ini maksudnya Moris menipuku. Sungguh, kupikir ia tidak perlu berbohong.
“Iya, betul, barangnya masih mulus banget.”
Sukis menyingsing senyum, “Iya, gue sudah lihat. Tapi sayang labelnya rusak parah.”
Sudah pasti yang barusan ia katakan adalah caranya menjatuhkan harga. Kalau begitu tak perlu berlama-lama.
“Minat bru?”
“Lebih tepatnya bos gue yang mau angkat. Waktu itu sudah gue tawar, katanya Moris sudah bilang juga sama lo?”
Jadi orang ini yang tempo hari menawar Rp 15 juta. Seketika aku merasa malas. Tapi tidak! Barangkali ia sudah punya proposal baru.
“Berani angkat berapa?”
“Dua belas ribu.”
“Dua belas juta?”
Sukis mengangguk tanpa perasaan.
Brengsek! Pikirku. Sekarang aku mulas berada di situasi yang tidak penting ini. Rp 15 juta bahkan tidak bakal kulepas, kini ada orang yang datang seperti badut.
“Jangan bercanda, ini koleksi klasik,” kataku serius.
“Gue serius. Itu memang klasik, tapi bos gue ragu penyimpanannya.”
“Coba bawa dulu ke bos lo bru.”
“Dia juga sudah periksa barangnya.”
“Dia ragu kualitasnya?”
“Ya.”
“Tapi dia tertarik?”
“Dia tertarik banget.”
“Kalau begitu dia yakin.”
Huftt, negosiasi macam apa ini, pikirku. Waktu sudah terbuang nihil demi meladeni manusia macam ini. Menurutku lebih baik aku berdiam diri di kamar Wina sambil berkomunikasi dengan setan binder.
Lantas aku mengajak Moris pulang. Sebetulnya pulang sendiri pun tak masalah, Moris juga bisa berjalan kaki.
“Kalo lo tertarik bos gue bakal transfer sekarang juga, gimana?” tawar Sukis terakhir kalinya.
Tiba-tiba aku memikirkan nominal tersebut. Memang kedengarannya kurang ajar, tetapi kalau sudah nyata di hadapan mata menggiurkan juga. Bagianku Rp 6 juta, selebihnya Moris. Demi jumlah tersebut, paling tidak aku harus mengerjakan 80 makalah atau dua skripsi atau sebuah tesis ilmu sosial.
Ayolah! Jangan kelewat tahan harga, bisik diriku bernafsu.
Tunggu dulu, kata bisikan yang lain. Uangku kan sudah cukup untuk makan dan sedikit bersenang-senang. Aku tidak membutuhkan Rp 6 juta sekarang, aku hanyalah lajang yang tidak ditunggu anak-istri di rumah.
Kesimpulannya, tawaran murahan itu kumentahkan. Sebenarnya aku berharap ia menaikkan harga, sayangnya itu tidak terwujud.
Ketika kami hendak pulang, seorang pemain tahu-tahu saja mengajak bermain. “Ayo, Bang, gabung aja!”
Daripada sore ini sia-sia, ajakan itu kami terima. Lantas aku mulai percaya Moris dahulu pemain bola, meski badannya irit. Ia cepat dan efektif sehingga bisa mencetak sebuah gol. Sedang aku sendiri sejujurnya hampir lupa cara menggiring bola. Bertahun-tahun sudah aku tidak turun ke lapangan, mulanya setelah suatu kecelakaan yang mematahkan tulang di bawah lutut. Walau begitu kami terus bermain meski langit mulai gelap dan bergemuruh.
Diubah oleh pakdhegober 15-08-2019 18:10
bebyzha dan 7 lainnya memberi reputasi
8