- Beranda
- Stories from the Heart
(HORROR) Kisah Untuk Malam Seratus Lilin - (Diary Gadis Bermata Indigo return)
...
TS
ayanorei
(HORROR) Kisah Untuk Malam Seratus Lilin - (Diary Gadis Bermata Indigo return)
Hallo All,
We come back!!

thanks all for HT
Setelah sekian lama vakum di Kaskus dan hanya menulis di tempat lain. Akhirnya kami memutuskan kembali. Yap, Ayano dan Elisa kembali akan membagikan kisah kami di Kaskus.
Tadinya, kami tidak berpikir untuk kembali ke Kaskus, tapi ternyata banyak Inbox ke ID ini maupun ke ID Ayanokouji (yang sayangnya sedang bermasalah untuk Login) supaya kami mau kembali melanjutkan cerita di Kaskus ini. Jadi, here we are, we came back.
Post #1 ini akan khusus untuk INDEX. Cerita akan dimulai di Post selanjutnya.
Yang mau baca season 1 nya ada di sini
INDEX
Kisah Pertama - Hantu Pembawa Janin
Kisah Kedua - Mereka Mengawasiku?
Kisah Ketiga - Lily (Bagian Pertama)
Kisah keempat - Lily (bagian kedua)
Kisah Kelima - Penguntit (bagian pertama)
Kisah Keenam - Penguntit (Bagian Kedua)
Kisah Ketujuh - Possession (part 1)
Kisah Kedelapan - Possession (part 2)
Kisah Kesembilan - Mahluk di langit-langit
Kisah Kesepuluh - Susahnya kalau yang ngefans 'mereka'
Kisah Kesebelas - Hantu di gedung tua
Kisah Keduabelas - Ternyata
Kisah Ketigabelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (Bag pertama)
Kisah Keempatbelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (bag kedua)
Kisah Kelimabelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (1)
Kisah Keenambelas - Kisah hantu di sekolah - Sri (2)
Kisah Ketujuhbelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (3)
Kisah Kedelapanbelas - Kisah hantu di sekolah - Belum berakhir
Kisah Kesembilanbelas - Kisah hantu di sekolah - Cerita dari Bi Sumi (1)
Kisah Keduapuluh - Kisah Hantu Disekolah - Cerita dari Bi Sumi (2)
Kisah Keduapuluhsatu - Kisah hantu disekolah - Gangguan Dimulai Lagi
Kisah Keduapuluhdua - Kisah Hantu Disekolah - Terkuak
Kisah KeduapuluhTiga - Kisah Hantu Di Kantor - Prologue
Kisah KeduapuluhEmpat - Kisah Hantu Di Kantor - Putih, Hitam dan Ungu
Kisah KeduapuluhLima - Kisah Hantu di Kantor - Sidestory
Kisah Keduapuluhenam - Kisah hantu di Kantor - Resign
Kisah Keduapuluhtujuh - Kisah Hantu di Kantor - Kembali Bekerja (1)

We come back!!

thanks all for HT
Setelah sekian lama vakum di Kaskus dan hanya menulis di tempat lain. Akhirnya kami memutuskan kembali. Yap, Ayano dan Elisa kembali akan membagikan kisah kami di Kaskus.
Tadinya, kami tidak berpikir untuk kembali ke Kaskus, tapi ternyata banyak Inbox ke ID ini maupun ke ID Ayanokouji (yang sayangnya sedang bermasalah untuk Login) supaya kami mau kembali melanjutkan cerita di Kaskus ini. Jadi, here we are, we came back.
Post #1 ini akan khusus untuk INDEX. Cerita akan dimulai di Post selanjutnya.
Yang mau baca season 1 nya ada di sini
Quote:
INDEX
Kisah Pertama - Hantu Pembawa Janin
Kisah Kedua - Mereka Mengawasiku?
Kisah Ketiga - Lily (Bagian Pertama)
Kisah keempat - Lily (bagian kedua)
Kisah Kelima - Penguntit (bagian pertama)
Kisah Keenam - Penguntit (Bagian Kedua)
Kisah Ketujuh - Possession (part 1)
Kisah Kedelapan - Possession (part 2)
Kisah Kesembilan - Mahluk di langit-langit
Kisah Kesepuluh - Susahnya kalau yang ngefans 'mereka'
Kisah Kesebelas - Hantu di gedung tua
Kisah Keduabelas - Ternyata
Kisah Ketigabelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (Bag pertama)
Kisah Keempatbelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (bag kedua)
Kisah Kelimabelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (1)
Kisah Keenambelas - Kisah hantu di sekolah - Sri (2)
Kisah Ketujuhbelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (3)
Kisah Kedelapanbelas - Kisah hantu di sekolah - Belum berakhir
Kisah Kesembilanbelas - Kisah hantu di sekolah - Cerita dari Bi Sumi (1)
Kisah Keduapuluh - Kisah Hantu Disekolah - Cerita dari Bi Sumi (2)
Kisah Keduapuluhsatu - Kisah hantu disekolah - Gangguan Dimulai Lagi
Kisah Keduapuluhdua - Kisah Hantu Disekolah - Terkuak
Kisah KeduapuluhTiga - Kisah Hantu Di Kantor - Prologue
Kisah KeduapuluhEmpat - Kisah Hantu Di Kantor - Putih, Hitam dan Ungu
Kisah KeduapuluhLima - Kisah Hantu di Kantor - Sidestory
Kisah Keduapuluhenam - Kisah hantu di Kantor - Resign
Kisah Keduapuluhtujuh - Kisah Hantu di Kantor - Kembali Bekerja (1)

Diubah oleh ayanorei 20-10-2017 13:04
scorpiolama dan 15 lainnya memberi reputasi
16
119.7K
Kutip
380
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanorei
#293
Kisah Keduapuluhsatu - Kisah Hantu di Sekolah - Gangguan dimulai lagi
Aku terbangun di UKS sekolah setelah penampakan sebelumnya.
Cindy menungguiku dengan ekspresi khawatir.
"Eh? udah sadar ya?" tanya siswa penjaga UKS yang sedang duduk di meja yang memang disiapkan untuk petugas jaga.
"Ada yang kerasa nggak enak? tadi bu Ningsih bilang kalau ada yang nggak enak aku akan panggilin beliau di ruang guru"
Bu Ningsih adalah guru PPKN sekolah ini sekaligus juga guru yang diserahkan tanggung jawab untuk menjaga UKS.
"Nggak.. aku nggak apa kok" kataku.
"Kalau nggak apa kenapa bisa pingsan?" tanya siswa petugas UKS bingung.
"Mungkin karena lupa makan siang?" jawabku sambil berharap siswa ini tidak menanyakan lebih jauh lagi. Khawatir kalau aku tidak akan bisa menjawab pertanyaannya.
Untungnya dia melakukannya "Ya udah, kalau gitu aku tinggal dulu. Mau kasih tau bu Ningsih kalau kamu udah sadar"
"Iya, terimakasih ya" jawabku saat siswa itu keluar dari ruangan.
"Elisa, jujur sama gue" tiba-tiba Cindy berkata dari sebelahku.
"Eh? kenapa, Cin?" tanyaku terkejut karena nada bicara Cindy yang sedikit terdengar marah.
"Lu pasti diganggu sama 'mereka' kan? nggak mungkin lu pingsan karena alasan konyol 'lupa makan siang', lu malah kayaknya bisa tahan seharian nggak makan dan baik-baik aja tuh" semburnya.
"Eh.. itu..."
"Elisa! kenapa lu nggak ada sedikitpun cerita ke gue?" tanya Cindy kesal "Kita ini teman bukan sih?"
"......... maaf..."
"Bukan itu yang mau gue denger dari lu, Lisa!! sekarang ceritain ke gue, SEMUANYA!"
"............ Oke..."
Lalu akupun mulai bercerita. Dari awal.. dari masalah 'Sri' kepada Cindy.
Cindy mendengarkan ceritaku dengan terperangah.
"Kenapa lu sembunyiin hal sepenting itu ke gue?" tanya Cindy dengan nada kecewa.
"Aku... nggak maksud sembunyiin, Cin..... tapi, beberapa kali itu, kayaknya kamu nggak bisa ngelihat 'Sri' itu..." kataku.
"Jujur, sebenernya gue bingung kenapa bisa gue nggak ngelihat mahluk yang namanya 'Sri' itu" kata Cindy "Tapi setau gue, emang beberapa 'mahluk' yang kuat, kayaknya emang bisa ngumpet dari orang-orang kayak kita"
Aku mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan dari Cindy.
"Tapi, intinya gini, Lis. Lu bisa tumbang beneran kalau coba ngadepin seorang diri. Mulai sekarang lu harus cerita ke gue. Lagipula, gue kan emang bisa ngelihat juga" kata Cindy lagi.
Aku mengangguk "... iya"
"Janji ya?" tanya Cindy memastikan.
Aku mengangguk sekali lagi "Iya, janji kok"
Aku merasa berterimakasih dengan persahabatan dari Cindy yang begitu besar memberikan perhatiannya padaku. Dan bahkan memberikanku sedikit keberanian untuk menghadapi 'mereka'.
Sayangnya... aku sama sekali tidak tau di saat itu. Kalau ternyata perjuanganku setelahnya, adalah pertarungan yang harus kuhadapi sendirian....
===
Aku sedang bersama-sama dengan murid-murid kelasku, berada di halaman sekolah untuk mengikuti pelajaran olahraga.
Seperti biasanya, tubuhku memang tidak terlalu kuat untuk bisa dipaksa berolahraga terlalu keras. Akibatnya, aku adalah satu dari beberapa murid lainnya yang sedang beristirahat di pinggiran lapangan olahraga itu sementara murid lainnya sedang bermain basket untuk pria dan bola Volley untuk wanita.
Pada saat itulah tiba-tiba guru penjaskesku menunjukku "Kamu, yang lagi duduk itu. Coba sini sebentar" panggilnya.
"Ya pak?" aku berdiri dengan bingung dan berjalan menghampiri guru itu.
"Tolong kamu ke gudang peralatan ya, ambilkan dua gulung pita. Ada di dalam lemari peralatan harusnya" kata bapak itu.
Uhh....
Dengan malas aku berjalan ke gudang peralatan itu, kemudian dengan ragu melangkah ke lemari tempat dimana pernak-pernik yang berhubungan dengan olahraga di simpan.
'BLAMMM!!!!'
Tiba-tiba saja pintu gudang olahraga tertutup dengan kencangnya.
"AHH!!!" teriakku terkejut.
Kini aku terkurung dalam kegelapan total. Sialnya memang gudang ini sama sekali tidak dipasangi lampu.
"Tolong!!!" teriakku sekencang-kencangnya.
Teriakanku menggema dalam ruangan yang gelap itu.
Aku menunggu sampai gema teriakanku yang pertama menghilang, kemudian kembali berteriak meminta tolong sekali lagi..
Namun kali ini berbeda...
Teriakanku...
Gema dari teriakanku itu...
Aneh...
Gema yang dihasilkan berbeda dari yang pertama... kali ini...
Bagaikan banyak orang yang berteriak berbarengan... dan entah pendengaranku yang salah atau bagaimana.. tapi sepertinya bahkan aku mendengar suara lelaki tercampur dalam gema itu..
Aku mulai gemetar, merasakan dingin yang merayap perlahan dari kakiku.
Mataku mulai terbiasa pada kegelapan...
"Ahhh....!!"
Aku mulai melihat samar-samar sosok-sosok berwarna hitam berada di sekitarku...
Sosok-sosok itu jumlahnya puluhan.. dan memenuhi gudang gelap ini..
Dan salah satunya.. sepertinya menyentuh tanganku..
Rasanya begitu dingin menyengat, membuatku berteriak...
Kemudian terdengar bisikan... awalnya seperti gumaman yang tidak kumengerti..
Namun perlahan-lahan aku bisa mengartikan bisikan-bisikan itu..
"Tolong... tolong.... tolong... tolong.... tolong...."
Aku jatuh terduduk.. kakiku benar-benar terasa lemas..
Kemudian terdengar bisikan lagi.. sangat dekat..
"Tolong..."
Datangnya bisikan itu..
Tepat di sebelah telingaku...
Aku bahkan bisa merasakan getaran suara itu di permukaan telingaku...
"Ahhh!!!!"
Aku sudah tidak peduli lagi...
Aku melompat berdiri dan menerjang sosok-sosok bayangan yang berkerumun di hadapanku..
Menyingkirkan mereka dengan kedua tanganku yang terasa dingin setiap kali aku merasa menyentuh mereka..
'BRAKK!'
Aku menabrak dinding cukup keras, namun aku tidak memperdulikan rasa sakit itu melainkan dengan panik meraba-raba dinding itu dan mencoba mencari pintu gudang itu.
Seharusnya tidak jauh.. karena tadi saat pintu tertutup aku sedang menatap ke arah pintu keluar.
Tapi dimana pintu itu sekarang?
Dengan panik aku meraba-raba dinding itu, sementara terdengar bisikan "Tolong... tolong..." yang terdengar semakin mendekat di belakangku.
Ketemu!!!
Aku merasakan permukaan kayu yang kasar.
Dengan panik aku menggedor-gedor pintu itu "TOLONG!!!" teriakku sekuat tenaga.
Sementara aku merasakan sesuatu menarik-narik bajuku, dan suara "Tolong... tolong... tolong... tolong..." terdengar bagaikan mengalun di belakangku...
Sebenarnya apa yang sedang terjadi... begitulah kalimat yang terlintas di kepalaku.
Namun aku terus-menerus menggedor pintu dengan panik..
"Lisa!?" terdengar sebuah suara dari luar yang sangat kukenal.
Cindy!
"Cindy!!! tolong.... tolong aku!!!" pintaku berteriak putus asa.
"Sebentar, gue bukain pintunya!" kata Cindy.
Aku mendengar bunyi 'Klek-Klek-Klek!!' pertanda gadis itu sedang berusaha membuka pintu gudang ini.
"Sial!! kekunci!!" kudengar Cindy mengumpat.
"Cin... tolong aku... please..." kataku memohon.. sementara suara sayup-sayup di belakangku terdengar sangat dekat.. sepertinya aku bisa merasakan hembusan angin di tengkukku...
Tidak lama terdengar bunyi ribut-ribut dari luar.
Dan terdengar suara keras.
'BRAKK!!'
Sebuah lubang kecil terbentuk dari bukaan pintu..
Cindy mengintip ke dalam dari celah yang terbentuk itu "Lisa!!" teriaknya.
Dia melihatku, namun aku menyadari matanya sepertinya kemudian melihat ke sekelilingku dengan terkejut.
"Lis.. lu mundur dikit ya dari pintu. Kayaknya pintu ini rusak, kita orang mau dobrak aja" kata Cindy padaku.
Aku mengangguk ragu...
Tapi aku tetap berdiri dan beranjak mundur dengan takut...
"!!!!" aku merasakannya!
Tanganku menyentuh sesuatu yang dingin.. aku kini berada di tengah-tengah 'mereka'...
Please cepetan, Cin..... pintaku dalam hati.
'BRAKKK!!!' terdengar bunyi keras dan seketika pintu gudang itu terbuka lebar.
Cindy berada di antara para murid lelaki dan guru olahragaku. Sesaat kemudian dia berlari ke arahku dan memelukku.
"Lisa!!" teriaknya "Sorry aku terlambat sadar!!" lanjutnya.
"Iya... nggak apa..." kataku menepuk pundaknya.
"Kamu nggak apa-apa, Elisa?" tanya guru olahragaku "Maaf ya, bapak nggak tau pintu gudang ini bisa rusak begitu.."
"Iya pak... nggak apa.." jawabku.
Kemudian pak Guru itu celingukan "Loh, kamu sendirian?" tanyanya.
"Eh? i-- iya pak? kenapa memangnya?" tanyaku takut.
"Ohh.. berarti saya salah denger kali ya.. saya pikir ada orang lain di dalem. Soalnya suara minta tolongnya kayaknya ada dua" katanya sambil menggaruk kepalanya.
"!!!"
"Lis..." bisik Cindy.
"Ya?"
"Sebenarnya... gimana.. kok bisa sebanyak itu 'mereka' yang ada di sini?" bisiknya dengan nada ketakutan.
"Kamu liat?"
Cindy mengangguk "Gua malah kaget lu bisa tahan.."
"Eh?"
"Lu nggak sadar? kalau lu itu udah dipanjat beberapa dari 'mereka' pas gua liat tadi?"
"!!!!!!!"
![kaskus-image]()
Spoiler for Gangguan dimulai lagi:
Aku terbangun di UKS sekolah setelah penampakan sebelumnya.
Cindy menungguiku dengan ekspresi khawatir.
"Eh? udah sadar ya?" tanya siswa penjaga UKS yang sedang duduk di meja yang memang disiapkan untuk petugas jaga.
"Ada yang kerasa nggak enak? tadi bu Ningsih bilang kalau ada yang nggak enak aku akan panggilin beliau di ruang guru"
Bu Ningsih adalah guru PPKN sekolah ini sekaligus juga guru yang diserahkan tanggung jawab untuk menjaga UKS.
"Nggak.. aku nggak apa kok" kataku.
"Kalau nggak apa kenapa bisa pingsan?" tanya siswa petugas UKS bingung.
"Mungkin karena lupa makan siang?" jawabku sambil berharap siswa ini tidak menanyakan lebih jauh lagi. Khawatir kalau aku tidak akan bisa menjawab pertanyaannya.
Untungnya dia melakukannya "Ya udah, kalau gitu aku tinggal dulu. Mau kasih tau bu Ningsih kalau kamu udah sadar"
"Iya, terimakasih ya" jawabku saat siswa itu keluar dari ruangan.
"Elisa, jujur sama gue" tiba-tiba Cindy berkata dari sebelahku.
"Eh? kenapa, Cin?" tanyaku terkejut karena nada bicara Cindy yang sedikit terdengar marah.
"Lu pasti diganggu sama 'mereka' kan? nggak mungkin lu pingsan karena alasan konyol 'lupa makan siang', lu malah kayaknya bisa tahan seharian nggak makan dan baik-baik aja tuh" semburnya.
"Eh.. itu..."
"Elisa! kenapa lu nggak ada sedikitpun cerita ke gue?" tanya Cindy kesal "Kita ini teman bukan sih?"
"......... maaf..."
"Bukan itu yang mau gue denger dari lu, Lisa!! sekarang ceritain ke gue, SEMUANYA!"
"............ Oke..."
Lalu akupun mulai bercerita. Dari awal.. dari masalah 'Sri' kepada Cindy.
Cindy mendengarkan ceritaku dengan terperangah.
"Kenapa lu sembunyiin hal sepenting itu ke gue?" tanya Cindy dengan nada kecewa.
"Aku... nggak maksud sembunyiin, Cin..... tapi, beberapa kali itu, kayaknya kamu nggak bisa ngelihat 'Sri' itu..." kataku.
"Jujur, sebenernya gue bingung kenapa bisa gue nggak ngelihat mahluk yang namanya 'Sri' itu" kata Cindy "Tapi setau gue, emang beberapa 'mahluk' yang kuat, kayaknya emang bisa ngumpet dari orang-orang kayak kita"
Aku mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan dari Cindy.
"Tapi, intinya gini, Lis. Lu bisa tumbang beneran kalau coba ngadepin seorang diri. Mulai sekarang lu harus cerita ke gue. Lagipula, gue kan emang bisa ngelihat juga" kata Cindy lagi.
Aku mengangguk "... iya"
"Janji ya?" tanya Cindy memastikan.
Aku mengangguk sekali lagi "Iya, janji kok"
Aku merasa berterimakasih dengan persahabatan dari Cindy yang begitu besar memberikan perhatiannya padaku. Dan bahkan memberikanku sedikit keberanian untuk menghadapi 'mereka'.
Sayangnya... aku sama sekali tidak tau di saat itu. Kalau ternyata perjuanganku setelahnya, adalah pertarungan yang harus kuhadapi sendirian....
===
Aku sedang bersama-sama dengan murid-murid kelasku, berada di halaman sekolah untuk mengikuti pelajaran olahraga.
Seperti biasanya, tubuhku memang tidak terlalu kuat untuk bisa dipaksa berolahraga terlalu keras. Akibatnya, aku adalah satu dari beberapa murid lainnya yang sedang beristirahat di pinggiran lapangan olahraga itu sementara murid lainnya sedang bermain basket untuk pria dan bola Volley untuk wanita.
Pada saat itulah tiba-tiba guru penjaskesku menunjukku "Kamu, yang lagi duduk itu. Coba sini sebentar" panggilnya.
"Ya pak?" aku berdiri dengan bingung dan berjalan menghampiri guru itu.
"Tolong kamu ke gudang peralatan ya, ambilkan dua gulung pita. Ada di dalam lemari peralatan harusnya" kata bapak itu.
Uhh....
Dengan malas aku berjalan ke gudang peralatan itu, kemudian dengan ragu melangkah ke lemari tempat dimana pernak-pernik yang berhubungan dengan olahraga di simpan.
'BLAMMM!!!!'
Tiba-tiba saja pintu gudang olahraga tertutup dengan kencangnya.
"AHH!!!" teriakku terkejut.
Kini aku terkurung dalam kegelapan total. Sialnya memang gudang ini sama sekali tidak dipasangi lampu.
"Tolong!!!" teriakku sekencang-kencangnya.
Teriakanku menggema dalam ruangan yang gelap itu.
Aku menunggu sampai gema teriakanku yang pertama menghilang, kemudian kembali berteriak meminta tolong sekali lagi..
Namun kali ini berbeda...
Teriakanku...
Gema dari teriakanku itu...
Aneh...
Gema yang dihasilkan berbeda dari yang pertama... kali ini...
Bagaikan banyak orang yang berteriak berbarengan... dan entah pendengaranku yang salah atau bagaimana.. tapi sepertinya bahkan aku mendengar suara lelaki tercampur dalam gema itu..
Aku mulai gemetar, merasakan dingin yang merayap perlahan dari kakiku.
Mataku mulai terbiasa pada kegelapan...
"Ahhh....!!"
Aku mulai melihat samar-samar sosok-sosok berwarna hitam berada di sekitarku...
Sosok-sosok itu jumlahnya puluhan.. dan memenuhi gudang gelap ini..
Dan salah satunya.. sepertinya menyentuh tanganku..
Rasanya begitu dingin menyengat, membuatku berteriak...
Kemudian terdengar bisikan... awalnya seperti gumaman yang tidak kumengerti..
Namun perlahan-lahan aku bisa mengartikan bisikan-bisikan itu..
"Tolong... tolong.... tolong... tolong.... tolong...."
Aku jatuh terduduk.. kakiku benar-benar terasa lemas..
Kemudian terdengar bisikan lagi.. sangat dekat..
"Tolong..."
Datangnya bisikan itu..
Tepat di sebelah telingaku...
Aku bahkan bisa merasakan getaran suara itu di permukaan telingaku...
"Ahhh!!!!"
Aku sudah tidak peduli lagi...
Aku melompat berdiri dan menerjang sosok-sosok bayangan yang berkerumun di hadapanku..
Menyingkirkan mereka dengan kedua tanganku yang terasa dingin setiap kali aku merasa menyentuh mereka..
'BRAKK!'
Aku menabrak dinding cukup keras, namun aku tidak memperdulikan rasa sakit itu melainkan dengan panik meraba-raba dinding itu dan mencoba mencari pintu gudang itu.
Seharusnya tidak jauh.. karena tadi saat pintu tertutup aku sedang menatap ke arah pintu keluar.
Tapi dimana pintu itu sekarang?
Dengan panik aku meraba-raba dinding itu, sementara terdengar bisikan "Tolong... tolong..." yang terdengar semakin mendekat di belakangku.
Ketemu!!!
Aku merasakan permukaan kayu yang kasar.
Dengan panik aku menggedor-gedor pintu itu "TOLONG!!!" teriakku sekuat tenaga.
Sementara aku merasakan sesuatu menarik-narik bajuku, dan suara "Tolong... tolong... tolong... tolong..." terdengar bagaikan mengalun di belakangku...
Sebenarnya apa yang sedang terjadi... begitulah kalimat yang terlintas di kepalaku.
Namun aku terus-menerus menggedor pintu dengan panik..
"Lisa!?" terdengar sebuah suara dari luar yang sangat kukenal.
Cindy!
"Cindy!!! tolong.... tolong aku!!!" pintaku berteriak putus asa.
"Sebentar, gue bukain pintunya!" kata Cindy.
Aku mendengar bunyi 'Klek-Klek-Klek!!' pertanda gadis itu sedang berusaha membuka pintu gudang ini.
"Sial!! kekunci!!" kudengar Cindy mengumpat.
"Cin... tolong aku... please..." kataku memohon.. sementara suara sayup-sayup di belakangku terdengar sangat dekat.. sepertinya aku bisa merasakan hembusan angin di tengkukku...
Tidak lama terdengar bunyi ribut-ribut dari luar.
Dan terdengar suara keras.
'BRAKK!!'
Sebuah lubang kecil terbentuk dari bukaan pintu..
Cindy mengintip ke dalam dari celah yang terbentuk itu "Lisa!!" teriaknya.
Dia melihatku, namun aku menyadari matanya sepertinya kemudian melihat ke sekelilingku dengan terkejut.
"Lis.. lu mundur dikit ya dari pintu. Kayaknya pintu ini rusak, kita orang mau dobrak aja" kata Cindy padaku.
Aku mengangguk ragu...
Tapi aku tetap berdiri dan beranjak mundur dengan takut...
"!!!!" aku merasakannya!
Tanganku menyentuh sesuatu yang dingin.. aku kini berada di tengah-tengah 'mereka'...
Please cepetan, Cin..... pintaku dalam hati.
'BRAKKK!!!' terdengar bunyi keras dan seketika pintu gudang itu terbuka lebar.
Cindy berada di antara para murid lelaki dan guru olahragaku. Sesaat kemudian dia berlari ke arahku dan memelukku.
"Lisa!!" teriaknya "Sorry aku terlambat sadar!!" lanjutnya.
"Iya... nggak apa..." kataku menepuk pundaknya.
"Kamu nggak apa-apa, Elisa?" tanya guru olahragaku "Maaf ya, bapak nggak tau pintu gudang ini bisa rusak begitu.."
"Iya pak... nggak apa.." jawabku.
Kemudian pak Guru itu celingukan "Loh, kamu sendirian?" tanyanya.
"Eh? i-- iya pak? kenapa memangnya?" tanyaku takut.
"Ohh.. berarti saya salah denger kali ya.. saya pikir ada orang lain di dalem. Soalnya suara minta tolongnya kayaknya ada dua" katanya sambil menggaruk kepalanya.
"!!!"
"Lis..." bisik Cindy.
"Ya?"
"Sebenarnya... gimana.. kok bisa sebanyak itu 'mereka' yang ada di sini?" bisiknya dengan nada ketakutan.
"Kamu liat?"
Cindy mengangguk "Gua malah kaget lu bisa tahan.."
"Eh?"
"Lu nggak sadar? kalau lu itu udah dipanjat beberapa dari 'mereka' pas gua liat tadi?"
"!!!!!!!"
jemvrot dan oldmanpapa memberi reputasi
4
Kutip
Balas