Kaskus

Story

mr.pujanggaAvatar border
TS
mr.pujangga
Belum nemu judulnya (Cerbung)
huuuffttt akhirnya ane coba beraniin diri buat thread disini.

sadar diri sih, karna masih pemula.

belum lagi nggak bisa janji bakal update cepat, dikarenakan kesibukan ane yang nggak jelas sebagai ketua teater di organisasi kampus ane.emoticon-surprised

jadi....

niat ane nulis disini, pure emang pengen nulis aja. kalo menghibur syukur, kalo nggak menghibur jangan di usir yah. hahahaha

maafin cara penyampaian newbie ini......emoticon-Big Kiss

dimohon kritik dan saran yang membangun dari suhu-suhu disini.

jangan lupa tinggalkan emoticon-Cendol Gan hehehe

thread ini bakal super slow update...

oke tanpa basa-basi lagi, silahkan masuk, jgn lupa buka sendalnya yah.


Spoiler for Update:
Diubah oleh mr.pujangga 13-09-2017 03:31
anasabilaAvatar border
inginmenghilangAvatar border
inginmenghilang dan anasabila memberi reputasi
2
5.4K
32
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.8KAnggota
Tampilkan semua post
mr.pujanggaAvatar border
TS
mr.pujangga
#24
3 : Hari pertama

Pemuda itu berbeda pagi ini. Kaki kanan dan kiri saling melangkah penuh pesona, berjingkat-jingkat sedikit penuh eforia. Senandung riang mengiringi langkahnya. Raffi yang biasa nya datang ke kampus setelah ayam jantan kembali tidur, hari ini datang lebih awal. Dan penuh semangat tentu saja. Ia menyapa semua yang ditemuinya pagi ini.

Cleaning service kampus, “Pagi mang Didin.”

Ibu kantin yang bohay, “Pagi mbak Ayu.”

Tukang cuci piring mbak Ayu, “Pagi Asep.”

Wali dosennya, “Pagi pak Budi.”

Dosen Bahasa Inggris, “Morning miss Ratna.”

Dosen matematika, “Pagi pak Alam” dan seluruh penghuni kampus itu disapanya pagi ini. Bahkan semua benda mati yang dilewati tak luput darinya.

Ia memasuki kelas dengan sangat riang dan mendapati sekumpulan gadis-gadis di kelasnya. Gadis-gadis yang sedang berkumpul itu menatapnya tajam penuh pengawasan. Apa yang akan dilakukannya pagi ini? Benak mereka masing-masing. Mereka semua tahu, pemuda itu, sang maestro jomblo level 5 ini, selalu tidak suka saat mereka merumpi seperti ini. Dan pemuda itu pastilah kembali melakukan hal gila seperti biasanya.

“Pagi para ladies yang begitu cantik hari ini. Aa’ mau lewat dulu yah, permisi” Raffi melewati sekumpulan gadis-gadis itu dan memberikan senyum terhangatnya.

Gadis-gadis itu mendelik tak percaya dan mulut terbuka lebar, mereka tak percaya dengan apa yang barusan mereka lihat.

Pemuda itu berjalan ke tempat duduknya. Menghirup napas dalam-dalam seraya menikmati suasana pagi ini dan duduk di kursinya. Dilemparkannya senyum pada seisi kelas dan mengeluarkan buku.

Belajar? Iya belajar!!! suatu pemandangan yang mampu membuat seisi kelas mendelik tak percaya dengan apa yang mereka lihat dari sosok itu. Jangankan belajar, ada catatan saja di bukunya sudah keajaiban yang luar biasa. Sungguh moment yang sanggup membuat semua orang memandangnya penuh tanda tanya.

Rahmat sahabat Raffi yang baru saja masuk kelas pun mengucek-ngucek matanya tak percaya melihat kawannya pagi ini.
“Hey kancut, kesurupan setan kau yah?” tanya Rahmat yang sudah di depan Raffi yang sedang serius dengan bukunya itu.

Raffi menunjukkan wajahnya dari balik buku dan tersenyum, “Pagi Rahmat. Bagaimana harimu pagi ini?”

“Aihhh.....gawat kau bray! Dari SMP kita berteman, tak pernah kau panggil aku Rahmat. Sakit kau yah?” Rahmat memegang dahi Raffi.

Pemuda itu menyingkirkan tangan kawannya itu lembut, “Enggak kok Mat. Aku sehat-sehat aja” Kembali tersenyum dan meneruskan bacaanya lagi.

Rahmat menatap dalam-dalam kawannya itu dan dengan sigap dikepitkan tangannya ke dalam baju pas di ketiak, lalu menyorongkannya ke hidung kawannya itu.

Pemuda itu langsung mual seakan hendak mengeluarkan isi perutnya, “Kampret kau ubur-ubur! Gila kau yah?” umpatnya lalu menoyor kepala Rahmat.

“Ha ini baru kau kawanku. Yang tadi kurasa setan martabak” Rahmat tertawa melihat respon kawannya itu.

“Sialan kau Mat!” umpatnya ketus.

“Hahahaha, kau juga. Aneh kali kutengok hari ini. Kesambet setan apa lah coba kau? Pagi-pagi belajar, udah gitu ngucapin selamat pagi pula itu. Lagi senang kau yah?” Rahmat menggeser kursinya di sebelah Raffi. Pemuda itu tersenyum dan mengangguk meng iya kan.

“Ada apa rupanya? Si Lia nerima kau?” Rahmat semakin kepo dengan tingkah kawannya itu.

Raffi menggelengkan kepala, “Kali ini bukan tentang Lia bray. Lia udah lembaran lama. Udah capek juga kukejar-kejar tak dapatku.”

Rahmat mengernyitkan kedua alisnya, “Lalu siapa?”

Pemuda itu terdiam sejenak dan menatap Rahmat dalam-dalam. Tatapan yang menunjukkan keseriusan si pemilik. Rahmat menelan ludah menunggu kata-kata yang keluar dari mulut Raffi. Dan...

PRUUTTTT

Semua mata melotot ke arah Raffi saat itu dan mengumpat pemuda itu dengan sumpah serapah.

RAFFI!!!!!!!!!!! Cewek-cewek di kelas itu melemparkan semua benda ke arah Raffi dan Rahmat. Raffi mengelak dan tertawa girang diikuti Rahmat juga, yang merasa dikibuli kawannya ini. Si pemilik kentut itu malah senang dengan perlakuan itu semua. Pagi ini begitu ramai untuknya. Dan dia suka moment ini.

***


“Jadi siapa nama cewek itu bray?” tanya Rahmat dengan mulut penuh makanan.

“Nah itu dia yang mau kucari tahu” jawab Raffi mengisap rokok yang terselip di ruas jarinya.

Rahmat menatapnya heran, “Aih, nama nya pun kau gak tau?”

Dia cengengesan mendapati pertanyaan klise dari kawannya itu. “Hehehe, iya lupa aku. Abis cantik banget doi bray” jawabnya.

Rahmat mengambil sebatang rokok lalu menyalakannya juga. “Jadi kau mau naik angkot biar bisa ketemu ama tuh cewek gitu? Apa bisa ketemu lagi?” tanya Rahmat.

Raffi melempar rokok ke tanah dan membusungkan dadanya penuh percaya diri, “Kalo jodoh pasti bertemu.”

Rahmat hanya menggelengkan kepalanya melihat kawannya itu. Yang kau pikir ini kayak di novel romance, batinnya.

***

Jam 9 malam

Malam semakin larut. Satu persatu pelajar itu meninggalkan kampus. Tersisa tinggal seorang pemuda yang sedari tadi berdiri disana. 10 angkot sudah disetop nya, namun mengurungkan untuk naik setelah melihat ke dalam angkot itu. Pemuda itu berulang kalimelihat jam di tangannya. Sudah larut, gumamnya. Tapi kenapa dia tidak muncul juga yah?

emoticon-clockemoticon-clock emoticon-clock emoticon-clock emoticon-clock

Waktu terus berlalu dan malam semakin gelap. Pemuda itu semakin gelisah tak menentu. Kembali dilihat jam di tangannya, hari semakin larut.
Hingga tiba angkot yang ke 20, pemuda itu akhirnya menyerah. Ia memutuskan untuk menyudahi perburuan hari ini. Masih ada hari esok pikirnya, mencoba menghibur dirinya yang pulang tanpa hasil apa-apa. emoticon-Mewek
Diubah oleh mr.pujangga 07-09-2017 22:24
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.