- Beranda
- Stories from the Heart
Serigala Berbulu Mata Anti Badai
...
TS
mugumogu
Serigala Berbulu Mata Anti Badai
Bagian 1 - Tidak Seindah Kisah FTv
Sejak tadi, otak kiri dan kanan bersinkronisasi, coba mencari solusi, mungkinkah duduk berlama-lama disini akan mengurangi sedikit gundah didalam hati???, sedikit mengurangi resah didalam dada???, dan sedikit mengurangi pening didalam kepala???. Ternyata nihil. Karena, aura positif yang sejak tadi saya yakini akan mengerubungi, perlahan raib termakan sepi. Saya hadapkan wajah ke udara, mulai berharap hujan, berharap Tuhan mau datangkan ratusan awan hitam. Setidaknya, hujan bisa mengelabuhi segala kesedihan yang sejak tadi menghadang. Seketika sirna juga, setelah dianalisis bahwa kemungkinan besoknya menjadi demam, atau mungkin, dapat mengakibatkan panas dalam sangat mungkin bisa saya rasakan. Selain itu, sudah bertahun-tahun lamanya saya tidak bermain air hujan, takut nervous, takut salah tingkah karena sudah terlalu lama tidak dilakukan. Menurut hasil penelitian, entah siapa penelitinya, yang rela berhujan-hujan ria demi sebuah kebenaran yang sangat bermanfaat bagi kita semua, hujan merupakan hasil Kondensasi Uap menjadi Senyawa H2O berfasa Liquid dan bereaksi dengan sekian mol kenangan indah masa lalu yang tidak begitu saja mudah untuk saya lupakan… #laahhh
Lelah berharap, dan juga karena lelah menghadapkan wajah keatas, saya hadapkan wajah kedepan, disana ada sebuah jalan, tidak kecil, dan juga tidak terlalu besar. Banyak manusia yang bergerak dinamis diatasnya. Berbagai orang berlalu lalang, perlahan, diam-diam saya perhatikan. Pengendara motor dengan penumpangnya dibelakang, para manusia yang berjalan dengan kakinya, kiri dan kanan, dan terakhir, yang membuat luka dihati yang sebentar lagi kering, seperti kembali terguyur air cuka, yaitu, dua insan beda kelamin yang berjalan pelan sambil bergandengan tangan penuh penghayatan, memancing gelak tawa dusta dari sekitaran. Seakan mereka tahu, kalo sangat banyak pasang mata yang melempar pandang kearah mereka. Semakin membuat mereka beranggapan, bahwa para manusia memandang iri pada mereka berdua yang sedang mengumbar kemesraan.
...
Seorang Pria datang entah dari mana, tidak terdengar langkah kakinya, hanya bentuk fisiknya yang tiba-tiba duduk di kursi seberang saya. Bungkusan rokok berwarna hitam dikeluarkannya, asap putih pekat dia hembuskan keudara, sesaat setelah sebuah korek membakar salah satu ujung batang rokoknya. Dia tersenyum kearah saya sesudahnya.
“Hey… engga ikut ngerubung didalem?” ramah nada suaranya
Hanya gelengan kepala yang menjadi respon saya kepadanya. Takut, walaupun dia sebenarnya tampan, tapi penampilannya cukup menyeramkan. Rambut gondrong yang tidak diikatnya menjadi alasan, terlebih celana jeans belel dan kaos hitam tanpa lengan, bertuliskan, I'M GONNA KILL YOU.
Kita selalu berpikiran bahwa rambut hanyalah tentang penampilan. Terutama bagi Perempuan, yang mampu menghabiskan jutaan rupiah demi menjaga rambutnya yang panjang layaknya sebuah mahkota kerajaan. Namun untuk sebagian kaum Pria, rambut lebih dari sekedar mode. Kaum pria mempunyai pandangan yang lebih Filosofis terhadap rambut panjang. Rambut adalah salah satu bentuk dari cara mereka untuk menginterpretasikan karakter seseorang. Kadang status kehidupan seorang Pria dapat terlihat dari jenis rambutnya. Contohnya, Pria berambut pendek sering dipandang sebagai seseorang yang senang berada di bawah aturan, pekerja harian atau karyawan. Sedangkan Pria berambut panjang dipandang sebagai seseorang yang senang membelot, seniman atau memiliki pandangan di luar semesta pada umumnya. Tetapi perbedaan pandangan itu hanyalah gambaran sempit saja, karena persepsi setiap orang akan suatu hal pastilah berbeda. Ditambah, gambaran dari diri saya sendiri yang lebih banyak sok taunya.
Selanjutnya, saya hanya terdiam, tetapi, bukan tidak melakukan apa-apa, saya masih bernafas, kedua lubang hidung dan mulut masih dinamis menjadi media keluar masuknya udara, yang menyebabkan kembang kempisnya dada, juga dengan beberapa kedipan kelopak mata. Bosan sebenarnya, tetapi tidak berani melanjutkan pembicaraan. Kemudian, saya menggerakkan tangan, Telepon Genggam saya keluarkan, dari saku Almamater sebelah kanan. Mendadak autis. Bermain Telepon Genggam dan berlagak sok artis. Buka kunci Telepon Genggam, tekan tombol Menu kemudian tekan tombol Home, berulang-ulang, saya lupa, sejak pagi, Telepon Genggam tidak saya beri makan, tidak ada kuota Internet, miris.
“Eh, tapi, sorry yah, gue sambil ngerokok, lo... engga ada riwayat penyakit yang diakibatkan asap rokok kan??? Atau semacam alergi yang berhubungan dengan asap juga kan???”
Kalimat yang diucapkannya di 10 menit terakhir.
“Iya.” senyum saya lemparkan kepadanya.
“Eh, lo udah bikin proker apa aja selama KKN?” lanjutnya berbicara.
“Bakti sosial, ehm, udah itu aja, selebihnya aku jadi Sekertaris.” Emang dia nanya saya jadi apa???
“Emang dari jurusan mana lo?”
“Fisip.”
“Yaa… paling engga, rada nyambung sih, nah kalo Mahasiswa Jurusan Teknik Geologi kaya gue??? Gimana??? Dimana Korelasinya coba??? Ketika gue cuma belajar seputaran Bumi dan isinya, dan semua itu adalah benda mati, dan disini, gue harus berinteraksi dan bersosialisai dengan makhluk hidup yang bernama masyarakat??? Kecuali, ketika gue kuliah, ada Mata Kuliah tentang, Dinamika Pertumbuhan penduduk yang seiring dengan Pergerakan Lempeng Tektonik, atau mungkin, Laju Migrasi Penduduk Desa akibat Peningkatan Aktifitas Vulkanik."
Saya mengangguk, memaksa otak ini untuk mengerti, walaupun saya tidak memahami semua perkataannya secara pasti, inti dari jawabannya sama seperti yang di ucapkan Ijal, temen sekelompok KKN saya yang juga berasal dari Teknik Geologi, hanya saja, cara penyampaian dari Pria Tampan berwajah sangar diseberang saya ini lebih berkelas.
“Padahal, tujuan utama KKN itu adalah penerapan Disiplin Ilmu masing-masing Mahasiswanya yang telah disesuaikan dengan Sosiokultural masing-masing Desanya, kalo dikampus gue belajar tentang segala hal tentang Eksplorasi, dan Pemetaan lahan Pertambangan Mineral, Minyak dan Gas Bumi, dan, apa yang bisa gue eksplor dan gue tambang disini coba?, kalo adanya Lahan Pertanian, Perikanan sama Perkumpulan Ibu-Ibu Arisan Kelurahan.” Pria Tampan berwajah sangar dihadapan saya ini masih berorasi
“Iya bener, dominasi Program Kerja, kebanyakan dari Pertanian, Peternakan, Perikanan dan juga Kedokteran, aku aja cuma bisa sumbang sebagian kecil.” engga tau kesambet apaan saya, mendadak saya jadi bisa nyambung sama obrolannya.
“Mungkin, Program Gabungan se-Kecamatan kaya gini ini, termasuk dalam kategori Program Kerja Urgensi aja menurut gue, karena Desa yang menjadi sasaran utama para Mahasiswanya perlahan berubah jadi Kota.” Pria Tampan dihadapan saya masih berorasi.
“Iyah, mungkin, sebagai bentuk dari bingung mau ngapain.”
“Nah itu dia, itu kenapa kayaknya, menurut gue, Program KKN kaya gini sih harusnya engga ada, bikin bingung Mahasiswa yang engga bisa sumbangsih apa-apa, yang gue pelajarin di kampus itu cuma ngerusak alam, atau yang tidak ada hubungannya sama sekali sama yang hidup, makanya, seringnya gue keluar duduk duduk doang, kaya sekarang ini.”
“Heeh, sama kok, aku juga mikir kaya gitu.” saya latah.
Entahlah, manusia dari jenis apa Pria Tampan berwajah sangar dihadapan saya ini, dengan gamblang merubah rasa kesepian ini jadi nyaman. Prasangka buruk pikiran, tidak sesuai dengan kenyataan. Dia yang sangar, ternyata mampu berkomunikasi dengan pintar, dan mampu membuat saya, yang notabene anak Jurusan Ilmu Komunikasi, merasa gagal.
Profesor Amy Cuddy dari Harvard Business School mengatakan impresi pertama bisa sangat mempengaruhi penilaian orang terhadap diri kita.
Tapi untuk meninggalkan kesan baik tidak cukup hanya dengan menjaga bahasa tubuh atau kontak mata saja. Untuk bisa dipercaya orang, tampilkan pula sisi hangat dan kompetensi.
"Dilihat dari perspektif yang evolusioner, kehangatan lebih penting untuk pertahanan kita untuk mengetahui apakah seseorang berhak menerima kepercayaan." Kata Amy yang sudah lama mempelajari impresi orang dalam bukunya Presence.
…
Selanjutnya.
“Kalo Gunung Slamet meletus, lo mau ngapain?.” Menurut saya, dan mungkin juga, menurut sebagian penduduk alam semesta, pertanyaan ini terdengar aneh.
“Menyelamatkan diri atuh, gimana kamu teh, nah... kalo kamu?” Malah saya tanya balik. Sebenernya mah, saya cuma engga enak, masa cuma dia yang dikira aneh sendiri.
“Engga tau, belom pernah ngerasain soalnya, pengen ngerasain sih sebenernya, kali aja seru, tapi, kalo bisa mah jangan kaya Sinabung atau kaya Merapi, lah itu mah serem, eh… hehehee.”
Sumpah jawabannya.
“Kalo lo ketemu Monyet yang ngomong pake bahasa manusia gimana?” saya mencoba untuk membiasakan diri, walaupun, pertanyaan ini masih saya masukkan dalam kategori pertanyaan aneh.
“Kaya di Film Apes gitu yah?” dibacanya sesuai Pronounce Bahasa Inggris, jangan tabrak aja kaya lagi ngebaca tulisan Bahasa Indonesia.
“Heeh…” Pria Tampan berwajag sangar kemudian mengangguk.
“Engga tau atuh, meni serem da aku mah kalo ketemu Monyet ngomong bahasa manusia, nah kamu, sok, mau ngapain?”
“Gue ajakin ngomong bahasa Monyet biar dia bingung, hehehe…”
#speechless
...
Pembicaraan normal sebenarnya, namun berkesan. Tidak pernah ada obrolan semacam ini sepanjang sejarah kisah Pria yang begitu saja datang kehadapan saya. Saling bertukar informasi tentang dunia kita berdua, hingga ke objek pembicaraan yang menjadi luber ke arah yang tak terduga, kegilaan semacam inilah yang kadang membuat saya pribadi tidak mudah bergaul dengan orang lain, ketika orang lain, khususnya Pria memulai perkenalan, dan mulai mengajak berbicara seputar hal yang itu-itu saja, sehingga, bentuk kesaltingan saya terhadap orang yang baru saya kenal biasanya terwujud dengan ngobrol sekenanya, seperlunya, hingga semalas-malasnya, baik dengan Perempuan terlebih dengan para Pria.
“Hey, nama kamu siapa??? Atau, kamu engga mau tau namaku???” Dalam hati saya berbicara.
Asking Alexandria dengan lagu Move On nya berdendang dari HP milik Pria Tampan berwajah sangar. Saya hafal betul warna suaranya, warna suara khas dari Danny Worsnop.
“Yoo… udahan?”
“Wewewewee…” (ini adalah bentuk dialog dari seseorang diseberang sana, diseberang sambungan telepon sang Pria Tampan berwajah sangar disebelah saya, saya memang tidak memperhatikan, namun masih mampu untuk mendengarkan, jarak telinga saya dan suara yang keluar dari sepasang bibirnya tidak lebih dari 3 meter…)
“Kamfrait, giliran angkat-angkat bangku gue dicariin, bayar mahal mahal disini gue cuma difungsikan sebagai Seksi Perlengkapan doang?”
“Wewewewee…”
“Hanif dah noh klo urusan ngepel sama nyapu, dan angkat-angkat bangku, gue bagian anter-anter Bu Dokter Gigi aja.”
“Wewewewee…”
“Iyeee…”
“Wewewewee…”
“Wa’alaikumsalam…”
Seketika saya memerintahkan telinga sebelah kanan untuk berhenti “menguping” pembicaraan sang Pria Tampan, dan mengalihkan pandangan ke sebuah tempat yang paling tidak saya sukai dari semua bagian tubuh yang terdapat dalam diri saya, sepasang flat shoes putih yang membalut sepasang kaki yang semakin hari semakin tidak terlihat, dari posisi duduk seperti ini, pandangan kedua mata saya terhalang oleh sepasang paha maha besar dan maha lebar yang tumbuh kembangnya tidak mampu saya kendalikan.
Sang Pria Tampan berdiri dari duduknya,
“Eh, gue cabut duluan.”
“Heh?” saya tatap wajahnya,
“Beresin ruangan, hehehe… duluan yaa, thanks buat 2 jam waktunya buat ngobrol, Assalamualaikum Cantik…” Pria Tampan berwajah sangar berlalu pergi sambil tersenyum setelah melambaikan tangan.
“Waalaikumsalam…”
Selanjutnya, sang Pria Tampan berwajah sangar menuju sedan hitam yang saya tebak itu adalah miliknya di ujung lapangan, entah apa yang dilakukannya, sebentar, setelah itu dia kembali berjalan, menuju ke dalam ruangan.
...
Masih banyak cerita yang akan tersampaikan jika kebersamaan ini terus menjalar. Namun, terjadi di waktu dan tempat yang tidak wajar. Mungkin, suatu saat, saya akan diajaknya berkeliling, bercerita, duduk bersampingan didalam sedan hitam miliknya, mungkin. Maaf, angan saya terlampau jauh keluar. Sejenak saya tidak sadar.
Gaung suara samar terlontar dari dalam otak, bernada jahat,
“Paling juga besok dia udah lupa, namanya juga cowok, kebanyakan basa-basinya aja.”
Selanjutnya, Tujuh orang lainnya yang sama sekali bukan rombongan Ashabul Kahfi datang, mereka adalah teman sekelompok KKN saya, mengajak saya pulang bersama. Saya duduk dibelakang Fajar, diatas jok motornya. Tidak bisa mengendarai motor dan terlebih mobil adalah alasannya. Ijal ada disalah satunya.
...
Kenapa sang Pria Tampan berwajah sangar tidak menanyakan nomer HP saya???.
Kenapa sang Pria Tampan berwajah sangar tidak mengajak saya berkenalan???.
INDEX :
Bagian 2 - Ku Tak Kan Lari, Karena Kau Pun Tak Mengejar
Bagian 3 - Gundukan Indah Didepan Saya
Bagian 4 - Serius Yang Tidak Sebercanda Itu
Bagian 5 - Kata Pria Bermotor : Imam Itu Didepan, Bukan Disamping
Bagian 6 - Ketika Jantung dan Hati, Memiliki Terjemahan Yang Sama Dalam Bahasa Inggris
Bagian 7 - Jikalau Seporsi Mie Goreng Tidak Mengenyangkan, Bisa Tambah Nasi
Bagian 8 - Nikmatnya Isi Buah Durian, Tanpa Berusaha Membuka Sendiri Kulitnya
Bagian 9 - Masuk Angin Lebih Baik Daripada Masuk TNI Angkatan Laut
Bagian 10 - Nonton Live Concert Lewat HP, Sekalian Ngerekam??? Cerdas!?!!
Bagian 11 - Serigala Berbulu Mata Anti Badai
Bagian 12 - Pendaki Gunung, Penikmat Gundukan, Menuju Puncak Kenikmatan
Bagian 13 - Jangan Pake HT, Harusnya Diakhiri Salam / Kata Sayang, Malahan, Ganti!!!
Bagian 14 - The Tallest Dwarf Ever
Bagian 15 - Dering Teleponmu Membuatku Mendengus Di Pagi Hari
Bagian 16 - Sedia Payung Walau Sepanjang Tahun Musim Kemarau
Bagian 17 - Calon Suami Idaman Semua Orang? Ralat!?!! Saya Doang!?!!
Bagian 18 - Memantaskan Diri, Tidak Seperti Ekspektasi, Tidak Semudah Kisah FTv
Bagian 19 - Sendiri Itu, Tidak Melulu Sepi. Bola Voli pun Bisa Jadi Tambatan Hati.
Bagian 20 - "Hantam Mereka." Joe Taslim
Bagian 21 - Wahai Jarum Timbangan Berat Badan, Janganlah Kamu Bergerak Kearah Kanan
Bagian 22 - Indomie Itu Enak, Walaupun Isinya, Tidak Semeriah Gambar Dibungkusnya.
Bagian 23 - Dokter Cinta Lulusan S3, Expert Luar Biasa.
Bagian 24 - Every Woman, Has Its Special Love, for a Special Men.
Bagian 25 - Do You Bleed??? Oh... You Wil!!!
Bagian 26 - Paling Tidak, Sempurna Menurut Saya. Selain Itu Mah... Biasa Aja!!!
Bagian 27 - Yang Tak Pernah Lelah, Memikat Wanita.
Bagian 28 - Cinta, Melihat Dengan Kacamata Kuda.
Bagian 29 - Bahkan, Seorang Superman pun Punya Satu Kelemahan Didalam Dirinya
Bagian 30 - burjo ketemu Angkringan
Sejak tadi, otak kiri dan kanan bersinkronisasi, coba mencari solusi, mungkinkah duduk berlama-lama disini akan mengurangi sedikit gundah didalam hati???, sedikit mengurangi resah didalam dada???, dan sedikit mengurangi pening didalam kepala???. Ternyata nihil. Karena, aura positif yang sejak tadi saya yakini akan mengerubungi, perlahan raib termakan sepi. Saya hadapkan wajah ke udara, mulai berharap hujan, berharap Tuhan mau datangkan ratusan awan hitam. Setidaknya, hujan bisa mengelabuhi segala kesedihan yang sejak tadi menghadang. Seketika sirna juga, setelah dianalisis bahwa kemungkinan besoknya menjadi demam, atau mungkin, dapat mengakibatkan panas dalam sangat mungkin bisa saya rasakan. Selain itu, sudah bertahun-tahun lamanya saya tidak bermain air hujan, takut nervous, takut salah tingkah karena sudah terlalu lama tidak dilakukan. Menurut hasil penelitian, entah siapa penelitinya, yang rela berhujan-hujan ria demi sebuah kebenaran yang sangat bermanfaat bagi kita semua, hujan merupakan hasil Kondensasi Uap menjadi Senyawa H2O berfasa Liquid dan bereaksi dengan sekian mol kenangan indah masa lalu yang tidak begitu saja mudah untuk saya lupakan… #laahhh
Lelah berharap, dan juga karena lelah menghadapkan wajah keatas, saya hadapkan wajah kedepan, disana ada sebuah jalan, tidak kecil, dan juga tidak terlalu besar. Banyak manusia yang bergerak dinamis diatasnya. Berbagai orang berlalu lalang, perlahan, diam-diam saya perhatikan. Pengendara motor dengan penumpangnya dibelakang, para manusia yang berjalan dengan kakinya, kiri dan kanan, dan terakhir, yang membuat luka dihati yang sebentar lagi kering, seperti kembali terguyur air cuka, yaitu, dua insan beda kelamin yang berjalan pelan sambil bergandengan tangan penuh penghayatan, memancing gelak tawa dusta dari sekitaran. Seakan mereka tahu, kalo sangat banyak pasang mata yang melempar pandang kearah mereka. Semakin membuat mereka beranggapan, bahwa para manusia memandang iri pada mereka berdua yang sedang mengumbar kemesraan.
...
Seorang Pria datang entah dari mana, tidak terdengar langkah kakinya, hanya bentuk fisiknya yang tiba-tiba duduk di kursi seberang saya. Bungkusan rokok berwarna hitam dikeluarkannya, asap putih pekat dia hembuskan keudara, sesaat setelah sebuah korek membakar salah satu ujung batang rokoknya. Dia tersenyum kearah saya sesudahnya.
“Hey… engga ikut ngerubung didalem?” ramah nada suaranya
Hanya gelengan kepala yang menjadi respon saya kepadanya. Takut, walaupun dia sebenarnya tampan, tapi penampilannya cukup menyeramkan. Rambut gondrong yang tidak diikatnya menjadi alasan, terlebih celana jeans belel dan kaos hitam tanpa lengan, bertuliskan, I'M GONNA KILL YOU.
Kita selalu berpikiran bahwa rambut hanyalah tentang penampilan. Terutama bagi Perempuan, yang mampu menghabiskan jutaan rupiah demi menjaga rambutnya yang panjang layaknya sebuah mahkota kerajaan. Namun untuk sebagian kaum Pria, rambut lebih dari sekedar mode. Kaum pria mempunyai pandangan yang lebih Filosofis terhadap rambut panjang. Rambut adalah salah satu bentuk dari cara mereka untuk menginterpretasikan karakter seseorang. Kadang status kehidupan seorang Pria dapat terlihat dari jenis rambutnya. Contohnya, Pria berambut pendek sering dipandang sebagai seseorang yang senang berada di bawah aturan, pekerja harian atau karyawan. Sedangkan Pria berambut panjang dipandang sebagai seseorang yang senang membelot, seniman atau memiliki pandangan di luar semesta pada umumnya. Tetapi perbedaan pandangan itu hanyalah gambaran sempit saja, karena persepsi setiap orang akan suatu hal pastilah berbeda. Ditambah, gambaran dari diri saya sendiri yang lebih banyak sok taunya.
Selanjutnya, saya hanya terdiam, tetapi, bukan tidak melakukan apa-apa, saya masih bernafas, kedua lubang hidung dan mulut masih dinamis menjadi media keluar masuknya udara, yang menyebabkan kembang kempisnya dada, juga dengan beberapa kedipan kelopak mata. Bosan sebenarnya, tetapi tidak berani melanjutkan pembicaraan. Kemudian, saya menggerakkan tangan, Telepon Genggam saya keluarkan, dari saku Almamater sebelah kanan. Mendadak autis. Bermain Telepon Genggam dan berlagak sok artis. Buka kunci Telepon Genggam, tekan tombol Menu kemudian tekan tombol Home, berulang-ulang, saya lupa, sejak pagi, Telepon Genggam tidak saya beri makan, tidak ada kuota Internet, miris.
“Eh, tapi, sorry yah, gue sambil ngerokok, lo... engga ada riwayat penyakit yang diakibatkan asap rokok kan??? Atau semacam alergi yang berhubungan dengan asap juga kan???”
Kalimat yang diucapkannya di 10 menit terakhir.
“Iya.” senyum saya lemparkan kepadanya.
“Eh, lo udah bikin proker apa aja selama KKN?” lanjutnya berbicara.
“Bakti sosial, ehm, udah itu aja, selebihnya aku jadi Sekertaris.” Emang dia nanya saya jadi apa???
“Emang dari jurusan mana lo?”
“Fisip.”
“Yaa… paling engga, rada nyambung sih, nah kalo Mahasiswa Jurusan Teknik Geologi kaya gue??? Gimana??? Dimana Korelasinya coba??? Ketika gue cuma belajar seputaran Bumi dan isinya, dan semua itu adalah benda mati, dan disini, gue harus berinteraksi dan bersosialisai dengan makhluk hidup yang bernama masyarakat??? Kecuali, ketika gue kuliah, ada Mata Kuliah tentang, Dinamika Pertumbuhan penduduk yang seiring dengan Pergerakan Lempeng Tektonik, atau mungkin, Laju Migrasi Penduduk Desa akibat Peningkatan Aktifitas Vulkanik."
Saya mengangguk, memaksa otak ini untuk mengerti, walaupun saya tidak memahami semua perkataannya secara pasti, inti dari jawabannya sama seperti yang di ucapkan Ijal, temen sekelompok KKN saya yang juga berasal dari Teknik Geologi, hanya saja, cara penyampaian dari Pria Tampan berwajah sangar diseberang saya ini lebih berkelas.
“Padahal, tujuan utama KKN itu adalah penerapan Disiplin Ilmu masing-masing Mahasiswanya yang telah disesuaikan dengan Sosiokultural masing-masing Desanya, kalo dikampus gue belajar tentang segala hal tentang Eksplorasi, dan Pemetaan lahan Pertambangan Mineral, Minyak dan Gas Bumi, dan, apa yang bisa gue eksplor dan gue tambang disini coba?, kalo adanya Lahan Pertanian, Perikanan sama Perkumpulan Ibu-Ibu Arisan Kelurahan.” Pria Tampan berwajah sangar dihadapan saya ini masih berorasi
“Iya bener, dominasi Program Kerja, kebanyakan dari Pertanian, Peternakan, Perikanan dan juga Kedokteran, aku aja cuma bisa sumbang sebagian kecil.” engga tau kesambet apaan saya, mendadak saya jadi bisa nyambung sama obrolannya.
“Mungkin, Program Gabungan se-Kecamatan kaya gini ini, termasuk dalam kategori Program Kerja Urgensi aja menurut gue, karena Desa yang menjadi sasaran utama para Mahasiswanya perlahan berubah jadi Kota.” Pria Tampan dihadapan saya masih berorasi.
“Iyah, mungkin, sebagai bentuk dari bingung mau ngapain.”
“Nah itu dia, itu kenapa kayaknya, menurut gue, Program KKN kaya gini sih harusnya engga ada, bikin bingung Mahasiswa yang engga bisa sumbangsih apa-apa, yang gue pelajarin di kampus itu cuma ngerusak alam, atau yang tidak ada hubungannya sama sekali sama yang hidup, makanya, seringnya gue keluar duduk duduk doang, kaya sekarang ini.”
“Heeh, sama kok, aku juga mikir kaya gitu.” saya latah.
Entahlah, manusia dari jenis apa Pria Tampan berwajah sangar dihadapan saya ini, dengan gamblang merubah rasa kesepian ini jadi nyaman. Prasangka buruk pikiran, tidak sesuai dengan kenyataan. Dia yang sangar, ternyata mampu berkomunikasi dengan pintar, dan mampu membuat saya, yang notabene anak Jurusan Ilmu Komunikasi, merasa gagal.
Profesor Amy Cuddy dari Harvard Business School mengatakan impresi pertama bisa sangat mempengaruhi penilaian orang terhadap diri kita.
Tapi untuk meninggalkan kesan baik tidak cukup hanya dengan menjaga bahasa tubuh atau kontak mata saja. Untuk bisa dipercaya orang, tampilkan pula sisi hangat dan kompetensi.
"Dilihat dari perspektif yang evolusioner, kehangatan lebih penting untuk pertahanan kita untuk mengetahui apakah seseorang berhak menerima kepercayaan." Kata Amy yang sudah lama mempelajari impresi orang dalam bukunya Presence.
…
Selanjutnya.
“Kalo Gunung Slamet meletus, lo mau ngapain?.” Menurut saya, dan mungkin juga, menurut sebagian penduduk alam semesta, pertanyaan ini terdengar aneh.
“Menyelamatkan diri atuh, gimana kamu teh, nah... kalo kamu?” Malah saya tanya balik. Sebenernya mah, saya cuma engga enak, masa cuma dia yang dikira aneh sendiri.
“Engga tau, belom pernah ngerasain soalnya, pengen ngerasain sih sebenernya, kali aja seru, tapi, kalo bisa mah jangan kaya Sinabung atau kaya Merapi, lah itu mah serem, eh… hehehee.”
Sumpah jawabannya.
“Kalo lo ketemu Monyet yang ngomong pake bahasa manusia gimana?” saya mencoba untuk membiasakan diri, walaupun, pertanyaan ini masih saya masukkan dalam kategori pertanyaan aneh.
“Kaya di Film Apes gitu yah?” dibacanya sesuai Pronounce Bahasa Inggris, jangan tabrak aja kaya lagi ngebaca tulisan Bahasa Indonesia.
“Heeh…” Pria Tampan berwajag sangar kemudian mengangguk.
“Engga tau atuh, meni serem da aku mah kalo ketemu Monyet ngomong bahasa manusia, nah kamu, sok, mau ngapain?”
“Gue ajakin ngomong bahasa Monyet biar dia bingung, hehehe…”
#speechless
...
Pembicaraan normal sebenarnya, namun berkesan. Tidak pernah ada obrolan semacam ini sepanjang sejarah kisah Pria yang begitu saja datang kehadapan saya. Saling bertukar informasi tentang dunia kita berdua, hingga ke objek pembicaraan yang menjadi luber ke arah yang tak terduga, kegilaan semacam inilah yang kadang membuat saya pribadi tidak mudah bergaul dengan orang lain, ketika orang lain, khususnya Pria memulai perkenalan, dan mulai mengajak berbicara seputar hal yang itu-itu saja, sehingga, bentuk kesaltingan saya terhadap orang yang baru saya kenal biasanya terwujud dengan ngobrol sekenanya, seperlunya, hingga semalas-malasnya, baik dengan Perempuan terlebih dengan para Pria.
“Hey, nama kamu siapa??? Atau, kamu engga mau tau namaku???” Dalam hati saya berbicara.
Asking Alexandria dengan lagu Move On nya berdendang dari HP milik Pria Tampan berwajah sangar. Saya hafal betul warna suaranya, warna suara khas dari Danny Worsnop.
“Yoo… udahan?”
“Wewewewee…” (ini adalah bentuk dialog dari seseorang diseberang sana, diseberang sambungan telepon sang Pria Tampan berwajah sangar disebelah saya, saya memang tidak memperhatikan, namun masih mampu untuk mendengarkan, jarak telinga saya dan suara yang keluar dari sepasang bibirnya tidak lebih dari 3 meter…)
“Kamfrait, giliran angkat-angkat bangku gue dicariin, bayar mahal mahal disini gue cuma difungsikan sebagai Seksi Perlengkapan doang?”
“Wewewewee…”
“Hanif dah noh klo urusan ngepel sama nyapu, dan angkat-angkat bangku, gue bagian anter-anter Bu Dokter Gigi aja.”
“Wewewewee…”
“Iyeee…”
“Wewewewee…”
“Wa’alaikumsalam…”
Seketika saya memerintahkan telinga sebelah kanan untuk berhenti “menguping” pembicaraan sang Pria Tampan, dan mengalihkan pandangan ke sebuah tempat yang paling tidak saya sukai dari semua bagian tubuh yang terdapat dalam diri saya, sepasang flat shoes putih yang membalut sepasang kaki yang semakin hari semakin tidak terlihat, dari posisi duduk seperti ini, pandangan kedua mata saya terhalang oleh sepasang paha maha besar dan maha lebar yang tumbuh kembangnya tidak mampu saya kendalikan.
Sang Pria Tampan berdiri dari duduknya,
“Eh, gue cabut duluan.”
“Heh?” saya tatap wajahnya,
“Beresin ruangan, hehehe… duluan yaa, thanks buat 2 jam waktunya buat ngobrol, Assalamualaikum Cantik…” Pria Tampan berwajah sangar berlalu pergi sambil tersenyum setelah melambaikan tangan.
“Waalaikumsalam…”
Selanjutnya, sang Pria Tampan berwajah sangar menuju sedan hitam yang saya tebak itu adalah miliknya di ujung lapangan, entah apa yang dilakukannya, sebentar, setelah itu dia kembali berjalan, menuju ke dalam ruangan.
...
Masih banyak cerita yang akan tersampaikan jika kebersamaan ini terus menjalar. Namun, terjadi di waktu dan tempat yang tidak wajar. Mungkin, suatu saat, saya akan diajaknya berkeliling, bercerita, duduk bersampingan didalam sedan hitam miliknya, mungkin. Maaf, angan saya terlampau jauh keluar. Sejenak saya tidak sadar.
Gaung suara samar terlontar dari dalam otak, bernada jahat,
“Paling juga besok dia udah lupa, namanya juga cowok, kebanyakan basa-basinya aja.”
Selanjutnya, Tujuh orang lainnya yang sama sekali bukan rombongan Ashabul Kahfi datang, mereka adalah teman sekelompok KKN saya, mengajak saya pulang bersama. Saya duduk dibelakang Fajar, diatas jok motornya. Tidak bisa mengendarai motor dan terlebih mobil adalah alasannya. Ijal ada disalah satunya.
...
Kenapa sang Pria Tampan berwajah sangar tidak menanyakan nomer HP saya???.
Kenapa sang Pria Tampan berwajah sangar tidak mengajak saya berkenalan???.
INDEX :
Bagian 2 - Ku Tak Kan Lari, Karena Kau Pun Tak Mengejar
Bagian 3 - Gundukan Indah Didepan Saya
Bagian 4 - Serius Yang Tidak Sebercanda Itu
Bagian 5 - Kata Pria Bermotor : Imam Itu Didepan, Bukan Disamping
Bagian 6 - Ketika Jantung dan Hati, Memiliki Terjemahan Yang Sama Dalam Bahasa Inggris
Bagian 7 - Jikalau Seporsi Mie Goreng Tidak Mengenyangkan, Bisa Tambah Nasi
Bagian 8 - Nikmatnya Isi Buah Durian, Tanpa Berusaha Membuka Sendiri Kulitnya
Bagian 9 - Masuk Angin Lebih Baik Daripada Masuk TNI Angkatan Laut
Bagian 10 - Nonton Live Concert Lewat HP, Sekalian Ngerekam??? Cerdas!?!!
Bagian 11 - Serigala Berbulu Mata Anti Badai
Bagian 12 - Pendaki Gunung, Penikmat Gundukan, Menuju Puncak Kenikmatan
Bagian 13 - Jangan Pake HT, Harusnya Diakhiri Salam / Kata Sayang, Malahan, Ganti!!!
Bagian 14 - The Tallest Dwarf Ever
Bagian 15 - Dering Teleponmu Membuatku Mendengus Di Pagi Hari
Bagian 16 - Sedia Payung Walau Sepanjang Tahun Musim Kemarau
Bagian 17 - Calon Suami Idaman Semua Orang? Ralat!?!! Saya Doang!?!!
Bagian 18 - Memantaskan Diri, Tidak Seperti Ekspektasi, Tidak Semudah Kisah FTv
Bagian 19 - Sendiri Itu, Tidak Melulu Sepi. Bola Voli pun Bisa Jadi Tambatan Hati.
Bagian 20 - "Hantam Mereka." Joe Taslim
Bagian 21 - Wahai Jarum Timbangan Berat Badan, Janganlah Kamu Bergerak Kearah Kanan
Bagian 22 - Indomie Itu Enak, Walaupun Isinya, Tidak Semeriah Gambar Dibungkusnya.
Bagian 23 - Dokter Cinta Lulusan S3, Expert Luar Biasa.
Bagian 24 - Every Woman, Has Its Special Love, for a Special Men.
Bagian 25 - Do You Bleed??? Oh... You Wil!!!
Bagian 26 - Paling Tidak, Sempurna Menurut Saya. Selain Itu Mah... Biasa Aja!!!
Bagian 27 - Yang Tak Pernah Lelah, Memikat Wanita.
Bagian 28 - Cinta, Melihat Dengan Kacamata Kuda.
Bagian 29 - Bahkan, Seorang Superman pun Punya Satu Kelemahan Didalam Dirinya
Bagian 30 - burjo ketemu Angkringan
Diubah oleh mugumogu 26-11-2017 11:58
asmaranggaditha dan anasabila memberi reputasi
2
49.4K
384
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mugumogu
#130
Bagian 25 - Do You Bleed??? Oh... You Will.
Terduduk saya sekarang, ketika langit berubah merah kelam, Matahari memang perlahan menghilang, namun, masih menghangatkan, saya, masih terlihat cantik di kursi depan kosan, sendirian, hanya angin sepoi-sepoi yang sejak tadi berkumandang, memanjakan rambut indah saya yang hitam mengkilap, dan juga panjang, jikalau ada Talent Artist Shampoo Pantene yang berlalu didepan, seketika saya akan berlari pelan, menghampirinya, dan mengibaskan rambut saya, tersenyum, seraya mengatakan “Mbak, saya siap menggantikan Anggun C. Sasmi, jadi model Iklan.”
…
Dua insan beda kelamin datang menghampiri, mengisi ruang kosong bangku panjang, yang sejak tadi, hanya berisi saya sendiri, bidadari cantik jelita penyejuk hati.
Raut wajah sang Perempuan yang tidak bersahabat, tersenyum kecut sejentikan jari kepada diri ini, sepertinya, telah terjadi Perang Badar diantara mereka berdua belum benar-benar terhenti.
“Sana kamu pulang!?!! Gak usah repot-repot juga nganter aku sampe kosan, aku masih punya kaki, dan aku masih bisa kemana-kemana jalan sendiri, anter aja noh cewek cantik yang selalu kamu bela dengan dalih cuma sebatas teman doang.” Terduduk sang Perempuan, berdampingan dengan saya, dirinya disebelah kanan.
Saya bengong, memperhatikan diam-diam, sambil juga memperhatikan Download-an.
“Jangan gitu dong sayang, harus berapa kali sih aku bilang ke kamu? Kalo aku sama dia cuma sebatas temen doang? Kita gak ada apa-apa!?!! Masa iya cuma kedapetan nganter pulang, terus kamu nuduh aku selingkuh dari kamu sih sayang???” Sang Pria membungkuk, memohon ampunan kepada sang Perempuan. Nada bicara penuh lemah lembutnya, penuh penghayatan, entah dirinya benar-benar tidak seperti yang pasangannya tuduhkan, atau hanya sedang mencari pembelaan.
Yang jelas, saya mendengar semuanya, jarak saya dan juga mereka, tidak sejauh jarak Banda Aceh-Pekalongan, karena memang, sang Perempuan dan juga saya, duduk sebelahan, kami berdua saling berhimpitan.
“Aduh, ini downloadnya masih lama pula, kalo ditinggal kedalem, ilang sinyalnya, downloadnya berenti juga pastinya.” Gumam saya pelan, sambil bolak-balik memperhatikan, antara pasangan muda-mudi yang sedang perang, dan juga download-an, dengan WiFi gratisan, yang sinyalnya tidak sampai kedalam.
Diam cukup lama setelahnya. Tapi, ternyata ada lanjutannya, walaupun lagi berantem, ada istirahatnya juga yaa ternyata.
“Kamu, aku pikir, kamu baik dan juga setia, kaya yang selama ini aku kira, aku diem aja, bukan berarti aku ngebiarin kamu gitu aja, aku yang selalu bilang gak apa-apa, malah kamu manfaatin juga, mau kamu tuh sebenernya apa??? Kalo gak cukup satu, jangan sama aku pacarannya, cari cewek laen yang emang siap mendua!?!!” Kedua tangan sang Perempuan masih dilipat didepan dada, nada bicaranya melemah, seiring dengan ditahannya air mata yang sejak tadi dipaksa marah untuk keluar dari sarangnya. Kalimat yang diucapkannya diakhirannya, bersamaan dengan wajahnya yang menoleh kearah saya.
Kedua alis saya naik bersamaan, kedua mata pun melotor tajam. "Eh, saya juga engga mao kali Mbak, nengoknya kearah laen emang engga bisa?" Gumam saya saya didalam hati, pelan.
Sang Pria hanya menghembuskan nafasnya.
Saya alihkan otak dan hati untuk sebisa mungkin tidak mendengar lanjutannya. Ah, mungkin, mikirin Genderuwo aja kali ya? Kemudian, Otak dan Hati saya bergetar, seketika itu juga bersuara, mengeluarkan nada, seakan-akan mereka mampu berbicara, “Makanya Mbak, milih cowo, jangan kaya milih Indomie, cuma terpukau karena bungkusannya doang. Atau, kaya lagi ngeliat Diskonan. Kaya saya dong kalo milih pasangan, yang sekarang, namanya Ian, orang sih Amburadul engga karuan, isinya dong, beuuhhh… situ, rela kayaknya dijadiin yang kedua.” Sambil saya senyum-senyum sendiri.
Tetapi, ternyata, peperangan diantara mereka, belum kunjung selesai juga, dan pada akhirnya, saya pilih masuk kedalam saja, download-an, dengan berat hati saya hentikan, kedua pasangan itu, saya tinggalkan.
Sejenak melihat diri sendiri di kaca besar ruang tamu. Maklum, Perempuan, suka engga tahan ngeliat kaca nganggur tanpa ngetem sebentar.
“Yeeuuhhhh, pantes itu Pria ngeliatin saya terus-terusan, ternyata, ini belahan keliatan.” Sejenak menundukkan kepala, melihat kearah dada. “Untung pake daleman.” Selanjutnya, berlalu pergi meninggalkan kaca, mengambil kunci, membuka pintunya, dan masuk kedalam kamarnya.
Mungkin, jika saya masih bertahan disana, diantara pasangan yang masih beradu senjata, sang Perempuan mungkin akan berkata, “Liatin aja terus tete cewek laen!?!! Punya aku kurang gede???”
...
Teringat saya, akan ekspresi Ian, setelah menonton Film, di Bioskop waktu itu. Film yang sudah dinantinya sejak dulu, dan ternyata, menurutnya, tidak sesuai dengan yang ditampilkan, yang diharapkan, tidak sesuai dengan judul yang dituliskan.
Tentang film Batman v Superman.
Dua tahun sejak pertarungan antara Superman dan Jenderal Zod berakhir, Superman dianggap sebagai Pahlawan di Kota Metropolis. Namun ternyata, ada satu orang yang tidak menyukainya, Batman, yang menganggap Superman adalah ancaman yang sangat berbahaya jika dibiarkan begitu saja. Kekuatan tanpa batasnya, pertarungan yang terlalu merusak alam sekitarannya, dan kematian penduduk yang tidak terduga setelahnya. Berbeda jauh dengan Batman, yang cenderung “kalem”, dengan keahliannya, perencanaan matangnya, membuat semua pertarungannya tidak harus meninggalkan jejak kehancuran, kematian yang hanya berfokus kepada sang lawannya saja, itu juga sepertinya tidak ada, mengingat Batman yang tidak punya insting membunuh, sekalipun jahatnya sang lawan yang sedang dihadapinya.
Porsi cerita yang tidak sesuai dengan judulnya, membuat sang pecinta, kecewa berat dibuatnya, jikalau memang diberi label Batman v Superman, mengapa harus muncul sosok Wonder Woman diantara mereka berdua? Mengapa harus tercipta Doomsday diakhirnya? Dan kenapa, mereka berdua, seketika menjadi teman, menjadi sekutu, menjadi sosok yang sibuk tentang bagaimana memusnahkan sang Doomsday ciptaan Lex Luthor?
Tapi, setidaknya, para penonton dialihkan dengan Efek Visual yang luar biasa, menjadikan film yamg harusnya mengecewakan berubah menjadi luar biasa, bukan karena jalan ceritanya, melainkan dengan efek visualnya, kehancuran luar biasa yang mampu diciptakan diakhrinya. Dengan asumsi asal itulah, saya berpikiran, mengapa film ini tidak diberi judul The Raise of Doomsday? Atau The Death of Superman saja? Jikalau perseteruan antara Batman dan juga Superman, bukan menjadi sajian utamanya.
Itu hanya anggapan ngawur saya, dari seorang pecinta DC comics dadakan, semenjak saya menjalin cinta dengan Ian. Dirinya yang mengetahui betul, seluk beluk DC comics dan segala hal yang ada didalamnya, tentu sangat mengetahui kebobrokan dari film yang saat itu ditontonnya. Berbeda dengan diri saya, yang hanya mengangguk-angguk, mengiyakan semua argumen kekecewaannya, mencari cara agar Ian tidak meminta kembali uang tiket dari film “jelek” yang baru saja ditontonnya.
…
Semuanya, memang tidak bisa tersaji secara sempurna, jika hanya memandang, atau menilai, bahkan menuduh, dari satu kejelekan yang dikeluarkan, yang mampu membuat semua kebaikan yang selama ini dibuat, seakan otomatis tersisihkan. Padahal, belum tentu itu semua memang sadar dilakukan olehnya, bisa saja dirinya terpengaruh setan jahat yang menuntunnya kepada keburukan.
Entah itu sebuah film, ataupun seorang pasangan, semuanya sama saja. Tetap akan ada satu atau dua kebaikan yang dia punya. Jangan terpengaruh akan sedikitnya kejahatan ataupun keburukan dan bahkan kekurangan yang dikeluarkannya, membuat kita, seakan-akan rela dibuat tuli, atau bahkan buta, oleh kebaikan yang selama ini dengan Ikhlas mereka lakukan, rela diberikannya kepada kita.
Memaafkan, sekaligus memaklumi, mungkin adalah cara termudah dan terbaik, jika kita, memang tidak punya kemampuan untuk menegurnya, mengarahkannya kepada jalan kebaikan yang seharusnya.
Namun, jangan sekali-sekali mengatakan “Kamu sudah dewasa, harusnya, kamu tahu, mana benar dan mana yang salah.” Karena memang, kalimat seklise itu, adalah cara bodoh, dari seseorang yang mungkin lelah, tidak tahu, tentang cara apalagi yang seharusnya dilakukan, mungkin bukan dengan respon kepada kesalahan yang sama, tapi, dengan kesalahan kecil yang menurut kita membuat semua tidak terlihat sempurna. Padahal, keburukan dan kejahatan itu, tidak terhitung banyaknya, tidak kita duga datangnya, semua, pasti akan selalu kita alami dan juga rasakan, selama Allah SWT masih mengijinkan Iblis dan juga Setan berkeliaran.
Jikalau lelah menghadapi keburukan yang tidak henti datang, sebaiknya, pilih mati saja sebagai opsinya, toh, untuk apa terus-terusan hidup, jikalau lelah menghadapi semua keburukan yang bentangannya, seluas dunia yang kedua kakimu pijakkan.
#ngomongapasihkamuNda
…
Satu minggu sudah, sejak Ian berpamitan ke pulau seberang. Ian, menepati janjinya, untuk tidak pernah lupa memberi kabar kepada saya lewat Telepon Genggamnya, ataupun, dengan apapun bentuk yang akan dikirimkannya dari sana. Deretan kata yang dikirimkannya kepada saya, entah itu panjang ataupun pendek, lembut atau kerasnya nada yang dia ucapkan lewat sambungan teleponnya kepada saya, itu semua saya butuhkan, saya inginkan, tatkala jarak menjadi penghambat kita berdua, seperti sekarang ini.
Telepon saya berdering, diantara Ashar dan Maghribnya saat itu.
“Assalamu’alaikum Neng.” Ian, suaranya, tumben bagus.
“Wa’alaikumsalam ganteng, lagi ngapain? Udah makan apa belom? Udah makan berapa kali? Seharian ngapain aja? Kamu baik-baik aja kan disana? Capek engga hari ini?”
“Neng, itu, tadi, omongan lo, apa rekaman?”
“Heh? Maksudnya?”
“Satu-satu bisa kali nanyanya.”
“Eh… hehehee, yaudah, How was your day?”
“Intinya mah gue baik-baik aja sayang, lo gimana? Skripsi lo?”
“Ehm… itu, ehm…” Seperti biasa, kalo saya lagi bingung, “Masih bikin Outline sayang, kamu gimana?”
“Lusa mulai Mapping, lebih cepet dari perkiraan.”
“Lebih cepet juga dong pulangnya?”
“Gak tau kalo pulangnya mah.”
“Iihhh Geuleuh dia mah.”
“Hehehee.” Genderuwo malah cengengesan.
Sabar menanti, sembari membenahi diri, adalah opsi terbaik, jika ingin bersanding dengan pasangan yang akan membawamu kepada keberkahan dan juga kebahagiaan hati. Asalkan, berdiri, dengan satu tujuan hati, berjalan, dengan tidak mendadak belok karena penasaran, dan memantapkan hati, dengan tidak melulu terjebak dalam harap yang selalu disimpan dalam mimpi.
…
Dua insan beda kelamin datang menghampiri, mengisi ruang kosong bangku panjang, yang sejak tadi, hanya berisi saya sendiri, bidadari cantik jelita penyejuk hati.
Raut wajah sang Perempuan yang tidak bersahabat, tersenyum kecut sejentikan jari kepada diri ini, sepertinya, telah terjadi Perang Badar diantara mereka berdua belum benar-benar terhenti.
“Sana kamu pulang!?!! Gak usah repot-repot juga nganter aku sampe kosan, aku masih punya kaki, dan aku masih bisa kemana-kemana jalan sendiri, anter aja noh cewek cantik yang selalu kamu bela dengan dalih cuma sebatas teman doang.” Terduduk sang Perempuan, berdampingan dengan saya, dirinya disebelah kanan.
Saya bengong, memperhatikan diam-diam, sambil juga memperhatikan Download-an.
“Jangan gitu dong sayang, harus berapa kali sih aku bilang ke kamu? Kalo aku sama dia cuma sebatas temen doang? Kita gak ada apa-apa!?!! Masa iya cuma kedapetan nganter pulang, terus kamu nuduh aku selingkuh dari kamu sih sayang???” Sang Pria membungkuk, memohon ampunan kepada sang Perempuan. Nada bicara penuh lemah lembutnya, penuh penghayatan, entah dirinya benar-benar tidak seperti yang pasangannya tuduhkan, atau hanya sedang mencari pembelaan.
Yang jelas, saya mendengar semuanya, jarak saya dan juga mereka, tidak sejauh jarak Banda Aceh-Pekalongan, karena memang, sang Perempuan dan juga saya, duduk sebelahan, kami berdua saling berhimpitan.
“Aduh, ini downloadnya masih lama pula, kalo ditinggal kedalem, ilang sinyalnya, downloadnya berenti juga pastinya.” Gumam saya pelan, sambil bolak-balik memperhatikan, antara pasangan muda-mudi yang sedang perang, dan juga download-an, dengan WiFi gratisan, yang sinyalnya tidak sampai kedalam.
Diam cukup lama setelahnya. Tapi, ternyata ada lanjutannya, walaupun lagi berantem, ada istirahatnya juga yaa ternyata.
“Kamu, aku pikir, kamu baik dan juga setia, kaya yang selama ini aku kira, aku diem aja, bukan berarti aku ngebiarin kamu gitu aja, aku yang selalu bilang gak apa-apa, malah kamu manfaatin juga, mau kamu tuh sebenernya apa??? Kalo gak cukup satu, jangan sama aku pacarannya, cari cewek laen yang emang siap mendua!?!!” Kedua tangan sang Perempuan masih dilipat didepan dada, nada bicaranya melemah, seiring dengan ditahannya air mata yang sejak tadi dipaksa marah untuk keluar dari sarangnya. Kalimat yang diucapkannya diakhirannya, bersamaan dengan wajahnya yang menoleh kearah saya.
Kedua alis saya naik bersamaan, kedua mata pun melotor tajam. "Eh, saya juga engga mao kali Mbak, nengoknya kearah laen emang engga bisa?" Gumam saya saya didalam hati, pelan.
Sang Pria hanya menghembuskan nafasnya.
Saya alihkan otak dan hati untuk sebisa mungkin tidak mendengar lanjutannya. Ah, mungkin, mikirin Genderuwo aja kali ya? Kemudian, Otak dan Hati saya bergetar, seketika itu juga bersuara, mengeluarkan nada, seakan-akan mereka mampu berbicara, “Makanya Mbak, milih cowo, jangan kaya milih Indomie, cuma terpukau karena bungkusannya doang. Atau, kaya lagi ngeliat Diskonan. Kaya saya dong kalo milih pasangan, yang sekarang, namanya Ian, orang sih Amburadul engga karuan, isinya dong, beuuhhh… situ, rela kayaknya dijadiin yang kedua.” Sambil saya senyum-senyum sendiri.
Tetapi, ternyata, peperangan diantara mereka, belum kunjung selesai juga, dan pada akhirnya, saya pilih masuk kedalam saja, download-an, dengan berat hati saya hentikan, kedua pasangan itu, saya tinggalkan.
Sejenak melihat diri sendiri di kaca besar ruang tamu. Maklum, Perempuan, suka engga tahan ngeliat kaca nganggur tanpa ngetem sebentar.
“Yeeuuhhhh, pantes itu Pria ngeliatin saya terus-terusan, ternyata, ini belahan keliatan.” Sejenak menundukkan kepala, melihat kearah dada. “Untung pake daleman.” Selanjutnya, berlalu pergi meninggalkan kaca, mengambil kunci, membuka pintunya, dan masuk kedalam kamarnya.
Mungkin, jika saya masih bertahan disana, diantara pasangan yang masih beradu senjata, sang Perempuan mungkin akan berkata, “Liatin aja terus tete cewek laen!?!! Punya aku kurang gede???”
...
Teringat saya, akan ekspresi Ian, setelah menonton Film, di Bioskop waktu itu. Film yang sudah dinantinya sejak dulu, dan ternyata, menurutnya, tidak sesuai dengan yang ditampilkan, yang diharapkan, tidak sesuai dengan judul yang dituliskan.
Tentang film Batman v Superman.
Dua tahun sejak pertarungan antara Superman dan Jenderal Zod berakhir, Superman dianggap sebagai Pahlawan di Kota Metropolis. Namun ternyata, ada satu orang yang tidak menyukainya, Batman, yang menganggap Superman adalah ancaman yang sangat berbahaya jika dibiarkan begitu saja. Kekuatan tanpa batasnya, pertarungan yang terlalu merusak alam sekitarannya, dan kematian penduduk yang tidak terduga setelahnya. Berbeda jauh dengan Batman, yang cenderung “kalem”, dengan keahliannya, perencanaan matangnya, membuat semua pertarungannya tidak harus meninggalkan jejak kehancuran, kematian yang hanya berfokus kepada sang lawannya saja, itu juga sepertinya tidak ada, mengingat Batman yang tidak punya insting membunuh, sekalipun jahatnya sang lawan yang sedang dihadapinya.
Porsi cerita yang tidak sesuai dengan judulnya, membuat sang pecinta, kecewa berat dibuatnya, jikalau memang diberi label Batman v Superman, mengapa harus muncul sosok Wonder Woman diantara mereka berdua? Mengapa harus tercipta Doomsday diakhirnya? Dan kenapa, mereka berdua, seketika menjadi teman, menjadi sekutu, menjadi sosok yang sibuk tentang bagaimana memusnahkan sang Doomsday ciptaan Lex Luthor?
Tapi, setidaknya, para penonton dialihkan dengan Efek Visual yang luar biasa, menjadikan film yamg harusnya mengecewakan berubah menjadi luar biasa, bukan karena jalan ceritanya, melainkan dengan efek visualnya, kehancuran luar biasa yang mampu diciptakan diakhrinya. Dengan asumsi asal itulah, saya berpikiran, mengapa film ini tidak diberi judul The Raise of Doomsday? Atau The Death of Superman saja? Jikalau perseteruan antara Batman dan juga Superman, bukan menjadi sajian utamanya.
Itu hanya anggapan ngawur saya, dari seorang pecinta DC comics dadakan, semenjak saya menjalin cinta dengan Ian. Dirinya yang mengetahui betul, seluk beluk DC comics dan segala hal yang ada didalamnya, tentu sangat mengetahui kebobrokan dari film yang saat itu ditontonnya. Berbeda dengan diri saya, yang hanya mengangguk-angguk, mengiyakan semua argumen kekecewaannya, mencari cara agar Ian tidak meminta kembali uang tiket dari film “jelek” yang baru saja ditontonnya.
…
Semuanya, memang tidak bisa tersaji secara sempurna, jika hanya memandang, atau menilai, bahkan menuduh, dari satu kejelekan yang dikeluarkan, yang mampu membuat semua kebaikan yang selama ini dibuat, seakan otomatis tersisihkan. Padahal, belum tentu itu semua memang sadar dilakukan olehnya, bisa saja dirinya terpengaruh setan jahat yang menuntunnya kepada keburukan.
Entah itu sebuah film, ataupun seorang pasangan, semuanya sama saja. Tetap akan ada satu atau dua kebaikan yang dia punya. Jangan terpengaruh akan sedikitnya kejahatan ataupun keburukan dan bahkan kekurangan yang dikeluarkannya, membuat kita, seakan-akan rela dibuat tuli, atau bahkan buta, oleh kebaikan yang selama ini dengan Ikhlas mereka lakukan, rela diberikannya kepada kita.
Memaafkan, sekaligus memaklumi, mungkin adalah cara termudah dan terbaik, jika kita, memang tidak punya kemampuan untuk menegurnya, mengarahkannya kepada jalan kebaikan yang seharusnya.
Namun, jangan sekali-sekali mengatakan “Kamu sudah dewasa, harusnya, kamu tahu, mana benar dan mana yang salah.” Karena memang, kalimat seklise itu, adalah cara bodoh, dari seseorang yang mungkin lelah, tidak tahu, tentang cara apalagi yang seharusnya dilakukan, mungkin bukan dengan respon kepada kesalahan yang sama, tapi, dengan kesalahan kecil yang menurut kita membuat semua tidak terlihat sempurna. Padahal, keburukan dan kejahatan itu, tidak terhitung banyaknya, tidak kita duga datangnya, semua, pasti akan selalu kita alami dan juga rasakan, selama Allah SWT masih mengijinkan Iblis dan juga Setan berkeliaran.
Jikalau lelah menghadapi keburukan yang tidak henti datang, sebaiknya, pilih mati saja sebagai opsinya, toh, untuk apa terus-terusan hidup, jikalau lelah menghadapi semua keburukan yang bentangannya, seluas dunia yang kedua kakimu pijakkan.
#ngomongapasihkamuNda
…
Satu minggu sudah, sejak Ian berpamitan ke pulau seberang. Ian, menepati janjinya, untuk tidak pernah lupa memberi kabar kepada saya lewat Telepon Genggamnya, ataupun, dengan apapun bentuk yang akan dikirimkannya dari sana. Deretan kata yang dikirimkannya kepada saya, entah itu panjang ataupun pendek, lembut atau kerasnya nada yang dia ucapkan lewat sambungan teleponnya kepada saya, itu semua saya butuhkan, saya inginkan, tatkala jarak menjadi penghambat kita berdua, seperti sekarang ini.
Telepon saya berdering, diantara Ashar dan Maghribnya saat itu.
“Assalamu’alaikum Neng.” Ian, suaranya, tumben bagus.
“Wa’alaikumsalam ganteng, lagi ngapain? Udah makan apa belom? Udah makan berapa kali? Seharian ngapain aja? Kamu baik-baik aja kan disana? Capek engga hari ini?”
“Neng, itu, tadi, omongan lo, apa rekaman?”
“Heh? Maksudnya?”
“Satu-satu bisa kali nanyanya.”
“Eh… hehehee, yaudah, How was your day?”
“Intinya mah gue baik-baik aja sayang, lo gimana? Skripsi lo?”
“Ehm… itu, ehm…” Seperti biasa, kalo saya lagi bingung, “Masih bikin Outline sayang, kamu gimana?”
“Lusa mulai Mapping, lebih cepet dari perkiraan.”
“Lebih cepet juga dong pulangnya?”
“Gak tau kalo pulangnya mah.”
“Iihhh Geuleuh dia mah.”
“Hehehee.” Genderuwo malah cengengesan.
Sabar menanti, sembari membenahi diri, adalah opsi terbaik, jika ingin bersanding dengan pasangan yang akan membawamu kepada keberkahan dan juga kebahagiaan hati. Asalkan, berdiri, dengan satu tujuan hati, berjalan, dengan tidak mendadak belok karena penasaran, dan memantapkan hati, dengan tidak melulu terjebak dalam harap yang selalu disimpan dalam mimpi.
0