- Beranda
- Stories from the Heart
Patahan Salib Bidadari
...
TS
setiawanari
Patahan Salib Bidadari
In the name of Allah, the beneficient, the merciful
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Terimakasih untuk gambar sampulnya awayeye
Terimakasih Kaskus, khususnya untuk sub forum SFTH yang telah menyediakan tempat menampilkan sebuah cerita. Sebuah fasilitas yang akan saya gunakan untuk menulis dimulai dari hari ini hingga di hari-hari selanjutnya.
Terlepas dari nyata atau tidaknya cerita ini, adalah tidak terlalu penting karena sebagian dari kisah nyata dan sebagian dari imaginasi saya. Harapan saya tokoh-tokoh dalam cerita ini dapat menjadi inspirasi untuk para pembaca cerita yang saya tulis ini dapat menjadikan saya untuk terus berkreatifitas.
Mohon maaf jika materi dalam cerita ini nantinya ada kesalahan dan menyinggung pihak-pihak tertentu sekiranya nasihat, kritik dan saran dari agan/sista yang lebih berpengalaman selalu sangat saya harapkan.
Menemani istirahat untuk menghilangkan lelah setelah pulang kerja/sekolah/kuliah, atau saat sedang menunggu sesuatu mari kita baca ceritanya. Ditemani alunan musik dan segelas kopi/cokelat/susu/teh hangat kita kembali ke beberapa tahun yang lalu!!!.
PEMBUKA CERITA
Terpaku di dalam rasa cinta yang tak mungkin pudar, menanti cinta datang membawa arti sampai segenap organ ini berhenti.
Sore itu saat cuaca cerah di lantai 6 gedung akademisi yang melahirkan sarjana ekonomi terbaik aku termenung. Melamunkan manis, asam, asin dan pahitnya segala kehendak Tuhan yang dianugerahkan kepada salah satu ciptaanNya.
Manusia diberikan otak untuk berfikir dan menggunakan logika lalu diberikan hati untuk merasakan. Hati adalah malaikat sedangkan otak kadang menjadi iblis dan sangat sulit untuk mengontrolnya menjadi malaikat. Hati menjerit saat kita berbuat salah sedangkan otak adalah penyebab semua kesalahan yang dilakukan manusia. Malaikat dan iblis adalah gambaran dari manusia, sebagai simbol antara kebaikan dan kejahatan. Kebaikan tidak akan bersanding dengan kejahatan dan sebaliknya.
“Permisi Mas! Bisa pindah duduknya, lantainya mau di bersihkan!” Sapa seorang petugas cleaning service membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya mas”. Jawabku sambil berlalu pergi menuju tempat parkir motor tepatnya dihalaman depan kampus.
Karamnya cinta ini
Tenggelamkanku diduka yang terdalam
Hampa hati terasa
Kau tinggalkanku meski ku tak rela
Salahkah diriku hingga saat ini
Kumasih mengharap
Kau tuk kembali………
Sore itu gerimis turun saat aku pulang, tak terasa sampai ditempat kos yang kebetulan hanya berjarak 10 menit dari kampus air hujan membasahi jaket jeans yang ku kenakan. Segera aku mengambil handuk dan membersihkan diri, bersiap untuk mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Dengan ritual sholat Ashar aku merasakan kedamaian yang tidak ada bandingannya, sebagai bentuk kepatuhan dan rasa syukur atas semua yang diberikan Tuhan baik itu berkah yang membuat hati senang maupun musibah sebagai ujian kepada hambanya agar menjadi sosok yang lebih kuat.
Waktunya istirahat, kurebahkan badan ini di kasur busa sebagai surga dunia yang paling indah, sambil memutar lagu menemaniku melepas lelah. Secangkir kopi hitam telah kusiapkan untuk menghangatkan suasana karena diluar hujan turun semakin deras. Kupandangi sebuah kalung berwarna emas berliontin salib yang bersanding dengan sebuah kalung perak berliontin lafaz Allah, tergantung dibawah poster foto Ibu Sundari Sukotjo tepat di tengah-tengah dinding kamar kosku. Masih menampakkan kilaunya meski kalung-kalung itu sudah hampir 4 tahun lamanya. Aku bangkit dari tempat tidur, meminum sedikit kopi hitam, sambil menarik nafas dalam sedalam yang aku mampu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu di sore ini, ya aku merasakan suatu kerinduan yang luar biasa dengan pemilik kalung salib yang tergantung dikamarku, seorang yang sangat suka musik klasik, seseorang pecinta sepakbola, seseorang yang suka kopi hitam dan mungkin pernah mencintaiku walaupun tak pernah mengungkapkan sepatah katapun.
“Ya Tuhan hari ini aku kangen banget sama dia, meski tak sebesar kangen ku kepadaMu, tapi sungguh seolah-olah aku merasa sangat lemah dan sangat kehilangan. Hari ini tepat 4 bulan yang lalu dia beranjak pergi dari tempat ini, dia pergi untuk cita-citanya, untuk impiannya dan bodohnya aku belum sempat mengutarakan seluruh perasaanku kepadanya. Perbedaan keyakinanlah yang menghalangi, aku bahkan hanya bisa diam membisu saat ku ingin mengucapkan seluruh rasa cinta ini aku takut rasa cinta kepada makhluk ciptaanMu melebihi rasa cintaku padaMu. Tak kuasa air mata ini menetes, berusaha ku tahan tapi tak sanggup karena mungkin ini air mata rindu yang mencapai puncaknya.
Aku bukan seorang penulis tetapi hari ini tiba-tiba ingin sekali aku ingin sekali memainkan jariku di keyboard yang biasanya hanya kupakai untuk membuat tugas. Aku ingin menulis tentang dirimu tentang cerita kita, walaupun mungkin tidak berujung bahagia tidak apa karena mungkin dengan tulisan ini aku bisa mencurahkan segala isi hati dan kerinduanku kepada mu. Kenangan indah tentang hari-hari yang pernah kulalui dengan seorang bidadari yang telah merubah seluruh hidupku, meski meninggalkan perasaan yang terus menggantung entah sampai kapan. Bidadari yang datang di hidupku, menemaniku sejenak lalu pergi meninggalkan patahan salibnya di hidupku.
Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu
Sekilas Gambar Tentang Aku
Harapan Sesuai dengan Kenyataan
Kerikil Kecil dan Awan yang Jauh
Pertemuan dengan Sahabat
Sepatu Mengawali Sebuah Impian
Dunia Kampus dan Teman Baru
Keluarga Kecil Bernama HALTE
Sesuatu Mengganggu Pesta Akhir Smester
Diantara Rasa Kagum dan Penasaran
Meluapnya Sebuah Emosi
Hubungan yang Semakin Dekat
Kegelisahan Menghadapi Perasaan yang Berbeda
Siang Menjadi Malam dan Sebaliknya
Perjalanan yang Semakin Indah
Momen Menggelikan dan Warna Kehidupan
Dilema Menghadapi Ungkapan Perasaan
Tetangga di Sekitar Kami
Liontin Salib untuk Leher yang Indah
Kepedihan Cerita di Masa Lalu
Senyuman untuk Hati yang Terluka
Sosok yang Menjadi Pertanyaan
Mencoba Menghilangkan Trauma
Pelangi yang Hilang Bersama Turunnya Hujan
Malam Kebahagiaan Bersama Keluarga Kecil
Bidadari Kecil Kini Telah Dewasa
Kebahagiaan Kini Tinggal Prasasti
Semua Terjadi Sangat Cepat
Sebuah Cinta yang Salah
Surga yang Tak Layak untuk Dilihat
Rumput Dingin Di Bawah Bangku Taman
Pahitnya Sebuah Ucapan
Air Mata Menepis Kerasnya Kata-kata
Satu Langkah ke Arah Normal
Bertahan Hanya dalam Waktu Singkat
Semakin Tenggelam dalam Kedekatan
Lilin Kecil di Malam Penuh Kebahagiaan
Selamat Datang Kemarau
Kerinduan yang Teramat Dalam
Hembusan Angin Masa Lalu
Sayap yang Kuat Untuk Bidadari Kecil
Tinta Biru Menorehkan Luka
Berusaha Menyembunyikan Luka
Hilangnya Rasa Segan
Keberhasilan Tanpa Perayaan
Berharap Hanya Andai Saja
Serpihan Kenangan yang Menyiksa
Tempat Baru
Berita Baik Bersama Undangan
Selamat Menempuh Hidup Baru
Kesan yang Baik di Hari Pertama
Insiden Kecil dan Masa yang Telah Terlewati
Menutup Momen 4 Tahun Kebersamaan
Kotak Makan Siang
Keberanian Untuk Memulai
Pahitnya Sambutan Selamat Datang
Seperti Kembali ke Waktu Itu
Teka Teki dari Perhatian Sederhana
Cerita di Ujung Sore
Peneduh Panasnya Amarah
Mengungungkapkan tak Semudah Membayangkan
Titik Terang yang Terasa Gelap
Patahan Salib Bidadari
Terimakasih Untuk Masa yang Terlewati
Apa yang Sebenarnya Terjadi
Kembali Terjatuh
Dunia Ciptakan Keindahan
Dan Kebahagiaan [TAMAT]
Kata Penutup (Q&A)
Diubah oleh setiawanari 10-07-2018 17:35
nona212 dan calebs12 memberi reputasi
3
111.2K
608
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
setiawanari
#22
Meluapnya Sebuah Emosi
Kesan pertama saat melihat sesuatu akan menjadi sesuatu hal yang sulit untuk dilupakan. Kesan pertama yang baik akan menimbulkan rasa kagum, suka bahkan rasa cinta. Kesan pertama yang buruk akan menimbulkan rasa benci meskipun ada rasa penasaran.
Minggu, adalah hari yang paling di nantikan karena di hari ini lah seseorang libur dari pekerjaannya. Hari yang bisa digunakan untuk bercengkerama dengan berkeluarga. Tetapi itu berbeda bagiku, di pagi buta selepas subuh aku harus mempersiapkan diri untuk kembali mencari sedikit rejeki demi mencukupi biaya hidup. Kunyalakan sepeda motor ku pacu menuju pasar yang tidak terlalu jauh dari tempatku berada. Sambil menunggu pembeli datang biasanya ku habiskan untuk berbincang-bincang dengan pedagang lain disana mulai dari pedagang makanan, aksesoris, baju dan lain-lainnya. Kami disini memiliki tujauan yang sama menunggu pembeli datang, membeli dagangan kami dan dari para pembeli itulah kami dapat bertahan hidup. Pasar berakhir dikala matahari telah mencapai seperempat langit.
Trrrrrrrrr.trrrrrrrrr.ttrrrrrrrrrrrr
“Iya halo assalamualikum Putri, bentar mas naruh sepatu-sepatu dulu ya!” Kataku mengangkat telepon.
“Walaikum salam Putri??? Siapa cewek lo Wan? Sorry ini gua Sherly!” Jawab suara telepon itu.
“Oooh maaf-maaf Sher, gua kira adik yg telpon tadi langsung aku angkat soalnya gak liat layar hp, sorry Sher.” Kataku menahan rasa malu.
“Ooh lo masih sibuk ya!?”
“Iya bentar tak beresin sepatu-sepatu dulu tar gua telpon balik ya.”
“Oke-oke maaf ya Wan.”
“Iya-iya gakpapa.” Kataku mematikan telepon.
Aku segera merapikan sepatu-sepatu sisa jualan hari ini, cuci muka, membuat kopi lalu seperti biasa menyalakan rokok di tempat kesukaanku dan bersiap menelpon Sherly.
Tuuutttttt. Tuuuuuutttt. Tuuuuuutttt.
“Iya, udah beres Wan?'' Kata Sherly.
“Udah Sher, eh sorry tadi salah nama, abis yang telpon jam segini biasanya adik gua doang.” Kataku.
“Ohh yaudah gapapa, oh ya Wan gimana tugasnya lo udah bikin belum, yang lain udah email ke gua.”
“Udah Sher tapi belum sempet gua email, masih minggu depannya lagi kan kelompok kita?”
“Iya tapi kan, lebih cepet lebih baik lagian kan tugas gak cuma statistik doang ada yang lain juga, hehehhehe oh iya gak usah diemail wan lo save di FD aja tar kasih gua.”
“Kasih lo? Kapan besuk pas masuk? Gua Senin gak ada jam Sher.”
“Ehmmmm, kalau hari ini bisa gak? Lo gak sibuk kan? Sekalian bantu gua nyatuin tugasnya Wan, gimana?”
“Hmmm bisa-bisa yaudah mau ketemu dimana?”
“Widih semangat amat kayanya mau ketemu orang cantik ya!? Hahahahaha di St*rbucks GM aja Wan tapi tar lo jemput gua ya!” Kata Sherly
“Hahahahaha iya kapan lagi gua bisa jalan sama cewek cantik wkwkwkwkwkk, jemput lo dimana?”
“Waduh jadi terbang gua, hahahahaha, di apartemen medit, tar jam 2 an aja berangkatnya.”
“Eh bentar tapi, gua pakai motor lho Sher.”
“Iya, gua tau pakai motor butut kan? Hahahahaha motor lo classic banget wan, yaudah gua tunggu ya, assalamualaikum.” Kata Sherly.
"Walaikumsalam,'' Jawabku mengakhiri pembicaraan.
Belum pernah aku berjalan dengan wanita, kalaupun pernah itupun beramai-ramai. Sekalinya jalan berdua mungkin hanya dengan Putri atau Indri. Hari ini hari pertama aku jalan dengan wanita. Wanita yang istimewa menurut para mahasiswa kampus. Tidak ada perasaan canggung, aku anggap saja Sherly itu Putri jadi nanti kalau bertemu bisa nyambung pembicaraannya.
“Lagi Pula hanya membahas tugas kelompok bukan yang lain.” Pikirku
Triiiiing...Triiiiing..Triiiiing
Dering jam weker membangunkanku, kulihat sudah nenunjukkan pukul 13.00.
Segera aku mandi ganti baju, lalu bersiap berangkat, sebelumnya aku memberitahu Sherly melalui pesan singkat. Tidak lupa ku bawa flashdisk berisi tugas presentasi.
Sesampai di depan ap*rtemen m*d*terania, aku menelpon Sherly, dan tak perlu waktu lama akhirnya dia muncul. Menggunakan sepatu converse cokelat, celana jeans hitam yang tidak terlalu ketat, kaos putih ditutup oleh flanel kotak-kotak cokelat dengan jilbab hitam berjalan menghampiriku,.
“Iiiiih kok warna kemejanya sama-sama cokelat sih!? Biasanya lo pakai jaket jeans.” Kata Sherly.
“Oh iya jodoh kali kita Sher, tau dari mana gua sering pakai jaket jeans, wah lo sering merhatiin gua ya?” Kataku.
“Enak aja, namanya satu kampus ya gua apal lah beberapa orang apalagi anak-anak halte tiap hari ya itu-itu aja.”
“Oh kirain, hehehhehe yaudah ni helmnya Sher, gapapa ni lo naik motor?” Kataku memberikan helm untuk Sherly.
“Yaelah, gapapa kali, tapi joknya kecil, lo majuan dong.”
“Hehehehehe siap tuan putri.”
Kami pun menuju Gajahmada, tempat tujuan kita untuk membahas tugas.
"Disini aja Sher, sekalian bisa nyolok laptop, dan gua bisa ngrokok.” Kataku sambil mempersilahkan Sherly duduk.
“Yaudah gua pesen dulu sekalian lo mau pesen apa?” Kata Sherly sambil menaruh tas laptopnya.
“Aku expreso hitam tanpa gula, large ya, ini uangnya.”
“Udah pakai uang gua aja, lo nyalain dulu laptopnya didalam tas Wan.” Jawab Sherly berjalan ke arah barista.
Akupun membuka tas, mengeluarkan laptop dan menyalakannya. Setelah menyala kulihat home screen laptop tersebut menampakkan foto Sherly dengan keluarganya. Ayah, Ibu , Seorang wanita lebih tua dan laki-laki kira-kira kelas 6 SD.
“Ni kopinya Wan, udah nyala laptopnya? Uh haus banget, enak juga naik motor, bisa kena angin muka gw.” Kata sherly sambil menyedot segelas capucino.
“Iya lah kalau naik mobil ma paling kena angin AC, ini flashdisknya langsung colokin ya.”
“Yaudah sini gua aja yang colokin.” Jawab Sherly sambil berpindah duduknya disamping kanan ku. Setelah scan virus akhirnya data tugas berhasil dikopi.
“Sher bagian gua bener kan kasih penjelasan tentang skala pengukuran? Coba lo baca dulu, sesuai gak sama case nya?” Kataku.
“Iya bener tapi lo kebanyakan ini yang teknik statistik bagian si Anis, harusnya bagian lo sampai skala rasio aja?” Jawab sherly.
“Ooh yaudah gapapa, kemaren gua kerjain semua takutnya kurang.”
Kuperhatikan wajah Sherly tepat disamping kananku sangat dekat, wajah cantik yang sangat menyejukkan hati. Sambil membuat power point presentasi sesekali aku melirik ke arahnya. Senyumnya, ekspresi wajahnya memancarkan kecantikan wanita sesungguhnya. Ada kalanya kami saling tatap lalu teralihkan dengan cepat.
“Haah akhirnya kelar juga, tinggal dipresentasiin 2 minggu lagi.” Kata Sherly sambil kembali meminum capicinonya sementara aku entah berapa batang rokok telah kuhabiskan.
“Sher, word nya kopiin ke fd gua tar biar gua sekalian print, terus di tinggal dikumpul.”
“Oh, iya-iya gua taruh di new folder aja ya, ni gua namain statistik1 foldernya biar gampang cari.”
“Oke, itu fd lama jadi udah hampir penuh, isinya lagu lagu sama backup foto keluarga.”
“Emmm boleh lihat gak playlist lagu-lagunya?”
“Oh gimana ya malu gua tapi, hehehehehe yaudah liat aja tapi jangan ketawa ya.”
“Emang kenapa sih? Oooohh ya ampun kok playlistnya kebanyakan genre keroncong? Lo suka music keroncong?” Kata Sherly sambil membuka- buka folder laguku.
“Ya begitulah, lagu pengantar tidur sama nemenin minum kopi.”
“Wih keren, selain keroncong ini juga ada lagu-lagunya jazznya, ternyata selera musik lo boleh juga hahahhahaha.” Kata Sherly tertawa.
“Tau, habis yang enak didengerin di kuping gua ya lagu-lagu itu.” Kataku.
“Naah ini gua kopi ya!” kata Sherly mengkopy beberapa album keroncong.
“Emang lo suka lagu2nya Ibu Sundari juga?” Tanyaku.
“Enggak.”
“Lah terus buat apa?”
“Buat bokap, dia suka lagu-lagu keroncong selera orang tua, hahahahaha.” Kata Sherly mengejekku.
“Enak aja, keroncong itu musik jazznya Indonesia tau. Yaudah kopi aja, kalau mau di laptop gw masih banyak video live konsernya, tar gua kopiin.”
“Mau-mau, biar bokap awet muda, Eh ini folder apa Wan?” Kata sherly saat melihat folder dengan nama Always Miss You.
“Oh itu ma foto-foto keluarga gua dikampung.”
“Ini adik - adik lo, ihhhh cantik-cantik banget, oh ini yang namanya Putri yang kemarin waktu gua telpon lo sangkain dia.” Kata Sherly menunjuk salah satu foto.
“Iya Sher adik gw yang pertama, ya cantiklah abangnya juga ganteng hahahahaha.”
“Ganteng kaya tukang ledeng hahahahahaha terus kok ini foldernya in memoriam, foto nya jadul lagi.” Tanya sherly.
“Itu foto almarhum ayah sama ibu gua Sher udah lama meninggal.”
“Yaampun maaf ya Wan maaf gua gak bermaksud buat ngingetin gw turut berduka ya Wan sekali lagi maaf.”
“Gapapa Sher, lagian kejadiannya juga udah lama kok.”
“Terus adik-adikmu tinggal sama siapa?”
“Sama Paman dan Bibi di kampung, yang sekarang udah kami anggap sebagai pengganti ayah sama ibu.”
Tiba tiba terjadi keheningan diantara kami.
“Hebat ya lo dan adik-adikmu lo, bisa tumbuh jadi orang yang mandiri, kalau gua seperti kalian gak tau apa yang bakal terjadi.” Kata Sherly.
“Yah namanya juga hidup kita hanya bisa berharap Sher, meski harapan itu gak sesuai kenyataan tapi kita harus terus jalani dan terus syukuri, eh ngomong-ngomong di Jakarta lo tinggal ma siapa?”
“Sendiri Wan, lo mau nemenin? Hahahahaha!” Jawab Sherly
“Ditanya serius juga, malah ketawa mulu,”
“Abis nanya nya kaya mau nemenin aja, iya gua kos sendiri di Jakarta, orang tua gua di Magelang, kalau kakakku udah tinggal di Malang sama suaminya.” Kata Sherly menjelaskan.
“Oh lo orang Jogja, pantesan kalau ngomong jawanya masih sering keluar, hahahahaha awalnya gua Kira lo orang Palembang atau Aceh Sher.”
“Aceh? Jauh banget, kalau nenek dari nyokap emang aslinya Chinese tapi udah campuran.”
“Pantesan, kulit lo putih banget, sampai silau liatnya kalau kena sinar matahari.”
“Ih, emang lampu, oh iya kalau lo asli mana Wan? Kayanya dari jawa juga ya.” Tanya Sherly.
“Gua dari Karang Anyar, Solo, ya kalau dari Jogja paling 4 jam. Jawabku.
“Ooh orang Solo, pantesan sukanya lagu-lagu keroncong, terus lo kos dimana?”
“Keroncong ma bukan karena gua orang Solo Sher, tetapi itu karena taste di kuping. Koos di belakang kampus, Jl. Tawak*al 3 paling 5 menit kalau Naik motor dari kampus.”
“Gayamu taste taste kaya tau aja, udah sore ni Wan cabut yuk.”
“Eh, tunggu Sher kok kita kerjain berdua doang tugasnya yang lain gimana? Tanyaku.
“Yang lain kan udah kirim via email Wan, jadi kita ngerjain tar pertemuan minggu depan baru disatuin, kalau lo tadi gua suruh kasih langsung karena sekalian gua suruh nemenin ngobrol abis lagi bete di kosan.”
“ Oh gitu? sering sering aja Sher, oh ya makasih tadi kopinya.”
“Enak aja sering-sering, lain kali gantian lo yang bayar, hehehhehe.”
“Iya, iya yaudah cabut yuk.” Kataku.
Sore menjelang petang kami mengakhiri pertemuan, aku mengantarkan Sherly pulang, lalu kembali menuju tempat kos. Sesampai di tempat kos aku merebahkan badan sejenak, sambil memikirkan kejadian hari ini.
“Kok bisa ya cewek cantik, tajir ngajak gua jalan, padahal anggota kelompok lain cuma suruh kirim email. Ah, kenapa jadi mikirin Sherly.” Batinku.
Sesuatu yang wajar jika seseorang mengalami kejadian yang pertama kali dalam hidupnya lalu kemudian dia memikirkannya. Selama ini yang aku pikirkan hanya bagaimana agar bisa terus menjalani hari-hariku selalu bahagia, tetapi hari ini dia muncul dan menambah sesuatu hal baru yang masuk ke dalam pikiranku.
Petani menanam lalu akan memanen apa yang di tanam, meskipun kadang ada kalanya petani menanam jagung justru malah akan memanen rumput. Ditunggu jagung berbuah, waktu panen bungapun tak kunjung keluar akhirnya batang jagung yang lebat hanya akan menjadi rumput untuk makanan sapi.
Sejak kejadian mengerjakan tugas bersama 2 minggu yang lalu hubungan ku dengan Sherly menjadi semakin dekat. Kami lebih sering ketemu di kampus, makan bareng atau hanya sekedar ngobrolin tugas.
Kedekatan ini menimbulkan banyak persepsi diantara teman-temanku dan juga teman-teman Sherly. Mereka banyak yang mengira kami menjalin sesuatu hubungan khusus alias pacaran. Tetapi persepsi inilah yang akhirnya menimbulkan masalah yang tak pernah kuduga.
Sore itu seperti biasa aku berkumpul dengan anak-anak di Halte. Hari ini kami berniat akan bermain futsal sparing dengan karyawan Bank di samping kampus. Disaat kami sedang asik berbincang Sherly dan Anisa datang an langsung ikut bergabung. Di tempat ini juga sudah ada, Lena, Cindy, Laura, Dina, Dewi dan Rani. Mereka sudah saling mengenal karena bertemu mata kuliah yang sama. Terlihat kontras Sherly dan Anisa wanita terlihat alim sedangkan Lena dan teman-temannya terlihat urakan yang tidak lepas dari rokok dengan pakaian yang serba minim. Mereka berniat ikut kami bermain futsal, meski hanya sebagai pemandu sorak.
“Ooh jadi lo yang namanya Awan? Hebat juga ya baru anak kemarin sore aja udah mau bikin masalah.” Kata Randy senior angkatan 2006 tiba-tiba datang menghampiriku bersama dengan 3 orang temannya. Badannya lebih tinggi dariku, orangnya putih dengan rambut gondrong tanggung satu senti dibawah telinga.
“Iya, bener gua Awan, ada apa bro dateng-dateng nada bicara lo kaya gini?'' Jawabku sedikit kaget. Semua orang di halte, melihat ke arah kami mungkin penasaran dengan apa yang terjadi, terlebih suara Randy yang agak keras.
“Wah pura-pura g*blog lagi, lo gak tau kesalahan lo? Lo gak tau Sherly itu siapa? Gara-gara lo dia kabur dari gua. Lagi itu lo juga sok jagoan ngancem senior lo si Budi udah gua diemin. Sekarang malah tambah nglunjak, tingkah lo disini gua perhatiin juga nyolot, kayanya lo doang yang manggil senior pakai panggilan nama, Lo udah gak mau lama disini.” Bentak Randy
“Ooh, itu masalahnya, Sherly gak pernah cerita sama gua kalau udah punya pacar. Masalah kelakuan gua disini lo gak usah ngurusin. Tanya orang-orang disini apa ada yang ngrasa gua rugiin?” Jawabku masih datar meski darah sudah memenuhi pembuluh di kepala.
Aku lihat Sherly tampak sangat tegang dia menatapku, seperti ada yang mau dikatakan.
“Wah bener-bener gak bisa dibilangin pakai mulut lo.” Bentak Randy tangannya mendorong badanku yang masih duduk hingga hampir membuatku terjatuh. Aku mencium bau alkhohol dari mulut Randy.
“Woi bro, santai aja gak usah main dorong gini, kita bicarain baik-baik.” Kataku mulai terpancing emosi.
“Ooh, lo gak seneng, bangun kalau gak seneng.” Kata Randy sambil membentak dan mendorongku sampai terjatuh dari kursi.
“Bangun Lo! Lagak doang kaya jagoan, ngancem orang jalan songong kaya preman. Gua pengen tau aja nyali lo, jangan cuma biasanya ganggu hubungan orang, ternyata cowo pilihan Sherly begini doang.” Bentak Randy yang mulai di tenangkan oleh teman-temannya.
Mendapat perlakuan seperti ini darahku mendidih, kutarik nafas dalam-dalam masih dalam keadaan terduduk berusaha menahan, tapi sangat sulit.
Sandro menatapku mengedipkan mata sambil menggeleng-gelengkan kepala mungkin dia ingin berkata "Jangan". Fajar berusaha menenangkan Randy, tetapi emosi ini mengalahkan segalanya, aku berdiri perlahan lalu mendorong Randy, dia jatuh tersungkur.
Tak butuh waktu lama, dia kembali berdiri dan melayangkan pukulannya ke arah wajahku tetapi aku lebih cepat menangkap tangannya, lalu ku tendang kakinya hingga dia kembali terjatuh.
“B*ngsat lo a*jing!!! Gua disini gak ngrasa jagoan, gua disini cari temen bukan cari musuh, dan Sherly sekarang emang pacar gua jadi kalau lo berani ganggu dia, gua matiin lo b*ngsat, disini gua gak pernah nyolek orang, gua hargai semuanya. Hari ini gua lo colek nj*ng, ayo gua ladenin.” Bentakku disaat emosi memuncak.
“Hah, pacar lo? Mana mau Sherly jadi pacar cowok kampungan kaya lo? Lo ngaca bro ngaca!” Jawab Randy kembali terbangun lalu menyerangku kami pun terjatuh dengan posisi aku di bawah.
Randy yang posisinya menindih tubuhku berusaha menyerang dan pukulannya tangan kirinya melayang tepat di alis mata kananku. Akupun berusaha menangkis serangannya yang membabi buta, akhirnya saat dia lengah aku berhasil melepaskan diri. Aku pun segera berdiri, disusul Randy sebelum sempat berdiri kutendang perutnya hingga dia tersungkur lalu memegang perutnya.
Aku mengambil tas mengeluarkan badik yang hampir kubawa setiap hari dan berniat menghabisinya atau paling tidak memberikan dia pelajaran. Dengan badik ditangan aku berjalan ke arah Randy, semua orang histeris, begitu juga dengan Randy wajahnya sangat ketakutan.
Baru berjalan dua langkah, ada orang yang menarikku dari belakang dan memegang tanganku.
Udah, Wan jangan kau terusin Wan, urusannya bisa panjang Wan, dengerin gua Wan.” Kata Sandro menarik tanganku.
“Lo diem aja San, biar gua habisin b*ngsat ini, percuma juga dia berhenti sekarang bisa aja di tempat lain dia nusuk gua.” Kataku sambil melepaskan tanganku dari tarikan sandro.
Namun dengan cepat Babe mendekap badanku dari depan, diikuti Riski memegang tangan ku dan aku merasa sudah dipegang oleh 4 orang.
“Udah Wan, udah Le cukup inget Wan nyebut, gua orang tua disini tolong hargai Le, istighfar Wan, istighfar,'' kata Babe sambil mendekap erat badanku dari depan dan menahanku yang terus memberontak, sementara Sandro berusaha mengambil badik yang aku pegang.
“Bang Randy, mending lo pergi Bang, biar gak makin besar masalahnya.” Teriak Fajar. Randy pun kemudian pergi ditarik teman-temannya ke dalam kampus.
“Woi, b*ngsat jangan kabur lo percuma lo lari hari besuk-besuk mulut lo bakal gua jejelin badik, woi b*ngsat ayo kemari pukul gua, udah Be lepasin Be, Ki lepasin Ki biar gua kelarin urusan hari ini juga, gua gak pernah nyolek orang tapi hari ini a*njing itu udah gigit gua, b*ngsat!” Kata ku berteriak sambil terus meronta dengan nafas yang cepat. Aku terus memberontak tidak perduli apa yang merka ucapkan.
“Awan, udah cukup Wan, lo kenapa sih Wan? Gua takut Wan, liat-liat gua Wan liat, lo seperti bukan Awan, lo siapa? Hah siapa? Kalau lo Awan liat gua Wan, bayangin kalau gua itu Putri terus liat kakaknya begini, gimana perasaan nya Wan? Gimana?” Kata sherly menangis sambil kedua tangannya memegang pipi ku berusaha mengarahkan pandanganku ke wajahnya.
Ternyata berhasil, badanku mulai lemas, pandanganku kembali terang, nafasku berangsur-angsur mulai teratur, badik aku lepaskan entah siapa yang mengambilnya. Akhirnya Babe melepaskan dekapannya, Sandro, Riski dan Ambon pun juga mengendurkan pegangannya. Lalu Sherly menarik tanganku, aku seperti terhipnotis mengikuti langkahnya menuju parkiran kampus, Kulihat orang-orang ramai dan semua mata melihat kejadian ini. Kami pun masuk ke mobil dan kami pergi meninggalkan kampus. Tidak ada pembicaraan selama di dalam mobil, hingga aku sadar jika mobil sherly mengarah ke klinik.
“Turun, Lo berobat dulu.” Kata Sherly.
“Hah? Berobat? Gua gak kenapa-kenapa kok berobat.” Jawabku.
“Udah jangan ngeyel.” Sata sherly menarik tanganku turun dari mobil. Sesampai di klinik aku baru sadar pada saat melihat cermin besar ternyata bajuku robek, celana kotor, rambut berantakan, bibir bawah kiri berdarah, alis kananku ternyata robek. Separuh wajahku ditutup darah yang telah mengerang.
“Pantesan gua tadi kaya orang kesetanan, ternyata ini penyebabnya.” Batinku sambil memegang alis kanan yang robek.
“Sher, tas sama motor gua gimana ya tadi masih dihalte!”
“Udah tenang aja tadi gua udah sms Ambon buat beresin tas sama motor lo, kuncinya ada di Babe kan?”
“Iya gua titipin disana, makasih ya Sher.” Kataku memasuki ruang pengobatan.
“Kamu ini udah gak sekolah kok masih pada tawuran sih.” Kata dokter Murti, dokter yang bertugas di klinik itu, sambil membersihkan darah di alis dan pipiku.
“Bukan tawuran Dok, tapi digebukin akibat salah sasaran, auh pelan-pelan Dok sakit.” Kataku saat Dokter mulai menjahit lukaku.
Sementara Sherly duduk di samping kiriku, memperhatikan sambil sesekali menggigit bibir bawahnya, tangannya memegang erat lenganku.
Minggu, adalah hari yang paling di nantikan karena di hari ini lah seseorang libur dari pekerjaannya. Hari yang bisa digunakan untuk bercengkerama dengan berkeluarga. Tetapi itu berbeda bagiku, di pagi buta selepas subuh aku harus mempersiapkan diri untuk kembali mencari sedikit rejeki demi mencukupi biaya hidup. Kunyalakan sepeda motor ku pacu menuju pasar yang tidak terlalu jauh dari tempatku berada. Sambil menunggu pembeli datang biasanya ku habiskan untuk berbincang-bincang dengan pedagang lain disana mulai dari pedagang makanan, aksesoris, baju dan lain-lainnya. Kami disini memiliki tujauan yang sama menunggu pembeli datang, membeli dagangan kami dan dari para pembeli itulah kami dapat bertahan hidup. Pasar berakhir dikala matahari telah mencapai seperempat langit.
Trrrrrrrrr.trrrrrrrrr.ttrrrrrrrrrrrr
“Iya halo assalamualikum Putri, bentar mas naruh sepatu-sepatu dulu ya!” Kataku mengangkat telepon.
“Walaikum salam Putri??? Siapa cewek lo Wan? Sorry ini gua Sherly!” Jawab suara telepon itu.
“Oooh maaf-maaf Sher, gua kira adik yg telpon tadi langsung aku angkat soalnya gak liat layar hp, sorry Sher.” Kataku menahan rasa malu.
“Ooh lo masih sibuk ya!?”
“Iya bentar tak beresin sepatu-sepatu dulu tar gua telpon balik ya.”
“Oke-oke maaf ya Wan.”
“Iya-iya gakpapa.” Kataku mematikan telepon.
Aku segera merapikan sepatu-sepatu sisa jualan hari ini, cuci muka, membuat kopi lalu seperti biasa menyalakan rokok di tempat kesukaanku dan bersiap menelpon Sherly.
Tuuutttttt. Tuuuuuutttt. Tuuuuuutttt.
“Iya, udah beres Wan?'' Kata Sherly.
“Udah Sher, eh sorry tadi salah nama, abis yang telpon jam segini biasanya adik gua doang.” Kataku.
“Ohh yaudah gapapa, oh ya Wan gimana tugasnya lo udah bikin belum, yang lain udah email ke gua.”
“Udah Sher tapi belum sempet gua email, masih minggu depannya lagi kan kelompok kita?”
“Iya tapi kan, lebih cepet lebih baik lagian kan tugas gak cuma statistik doang ada yang lain juga, hehehhehe oh iya gak usah diemail wan lo save di FD aja tar kasih gua.”
“Kasih lo? Kapan besuk pas masuk? Gua Senin gak ada jam Sher.”
“Ehmmmm, kalau hari ini bisa gak? Lo gak sibuk kan? Sekalian bantu gua nyatuin tugasnya Wan, gimana?”
“Hmmm bisa-bisa yaudah mau ketemu dimana?”
“Widih semangat amat kayanya mau ketemu orang cantik ya!? Hahahahaha di St*rbucks GM aja Wan tapi tar lo jemput gua ya!” Kata Sherly
“Hahahahaha iya kapan lagi gua bisa jalan sama cewek cantik wkwkwkwkwkk, jemput lo dimana?”
“Waduh jadi terbang gua, hahahahaha, di apartemen medit, tar jam 2 an aja berangkatnya.”
“Eh bentar tapi, gua pakai motor lho Sher.”
“Iya, gua tau pakai motor butut kan? Hahahahaha motor lo classic banget wan, yaudah gua tunggu ya, assalamualaikum.” Kata Sherly.
"Walaikumsalam,'' Jawabku mengakhiri pembicaraan.
Belum pernah aku berjalan dengan wanita, kalaupun pernah itupun beramai-ramai. Sekalinya jalan berdua mungkin hanya dengan Putri atau Indri. Hari ini hari pertama aku jalan dengan wanita. Wanita yang istimewa menurut para mahasiswa kampus. Tidak ada perasaan canggung, aku anggap saja Sherly itu Putri jadi nanti kalau bertemu bisa nyambung pembicaraannya.
“Lagi Pula hanya membahas tugas kelompok bukan yang lain.” Pikirku
Triiiiing...Triiiiing..Triiiiing
Dering jam weker membangunkanku, kulihat sudah nenunjukkan pukul 13.00.
Segera aku mandi ganti baju, lalu bersiap berangkat, sebelumnya aku memberitahu Sherly melalui pesan singkat. Tidak lupa ku bawa flashdisk berisi tugas presentasi.
Sesampai di depan ap*rtemen m*d*terania, aku menelpon Sherly, dan tak perlu waktu lama akhirnya dia muncul. Menggunakan sepatu converse cokelat, celana jeans hitam yang tidak terlalu ketat, kaos putih ditutup oleh flanel kotak-kotak cokelat dengan jilbab hitam berjalan menghampiriku,.
“Iiiiih kok warna kemejanya sama-sama cokelat sih!? Biasanya lo pakai jaket jeans.” Kata Sherly.
“Oh iya jodoh kali kita Sher, tau dari mana gua sering pakai jaket jeans, wah lo sering merhatiin gua ya?” Kataku.
“Enak aja, namanya satu kampus ya gua apal lah beberapa orang apalagi anak-anak halte tiap hari ya itu-itu aja.”
“Oh kirain, hehehhehe yaudah ni helmnya Sher, gapapa ni lo naik motor?” Kataku memberikan helm untuk Sherly.
“Yaelah, gapapa kali, tapi joknya kecil, lo majuan dong.”
“Hehehehehe siap tuan putri.”
Kami pun menuju Gajahmada, tempat tujuan kita untuk membahas tugas.
"Disini aja Sher, sekalian bisa nyolok laptop, dan gua bisa ngrokok.” Kataku sambil mempersilahkan Sherly duduk.
“Yaudah gua pesen dulu sekalian lo mau pesen apa?” Kata Sherly sambil menaruh tas laptopnya.
“Aku expreso hitam tanpa gula, large ya, ini uangnya.”
“Udah pakai uang gua aja, lo nyalain dulu laptopnya didalam tas Wan.” Jawab Sherly berjalan ke arah barista.
Akupun membuka tas, mengeluarkan laptop dan menyalakannya. Setelah menyala kulihat home screen laptop tersebut menampakkan foto Sherly dengan keluarganya. Ayah, Ibu , Seorang wanita lebih tua dan laki-laki kira-kira kelas 6 SD.
“Ni kopinya Wan, udah nyala laptopnya? Uh haus banget, enak juga naik motor, bisa kena angin muka gw.” Kata sherly sambil menyedot segelas capucino.
“Iya lah kalau naik mobil ma paling kena angin AC, ini flashdisknya langsung colokin ya.”
“Yaudah sini gua aja yang colokin.” Jawab Sherly sambil berpindah duduknya disamping kanan ku. Setelah scan virus akhirnya data tugas berhasil dikopi.
“Sher bagian gua bener kan kasih penjelasan tentang skala pengukuran? Coba lo baca dulu, sesuai gak sama case nya?” Kataku.
“Iya bener tapi lo kebanyakan ini yang teknik statistik bagian si Anis, harusnya bagian lo sampai skala rasio aja?” Jawab sherly.
“Ooh yaudah gapapa, kemaren gua kerjain semua takutnya kurang.”
Kuperhatikan wajah Sherly tepat disamping kananku sangat dekat, wajah cantik yang sangat menyejukkan hati. Sambil membuat power point presentasi sesekali aku melirik ke arahnya. Senyumnya, ekspresi wajahnya memancarkan kecantikan wanita sesungguhnya. Ada kalanya kami saling tatap lalu teralihkan dengan cepat.
“Haah akhirnya kelar juga, tinggal dipresentasiin 2 minggu lagi.” Kata Sherly sambil kembali meminum capicinonya sementara aku entah berapa batang rokok telah kuhabiskan.
“Sher, word nya kopiin ke fd gua tar biar gua sekalian print, terus di tinggal dikumpul.”
“Oh, iya-iya gua taruh di new folder aja ya, ni gua namain statistik1 foldernya biar gampang cari.”
“Oke, itu fd lama jadi udah hampir penuh, isinya lagu lagu sama backup foto keluarga.”
“Emmm boleh lihat gak playlist lagu-lagunya?”
“Oh gimana ya malu gua tapi, hehehehehe yaudah liat aja tapi jangan ketawa ya.”
“Emang kenapa sih? Oooohh ya ampun kok playlistnya kebanyakan genre keroncong? Lo suka music keroncong?” Kata Sherly sambil membuka- buka folder laguku.
“Ya begitulah, lagu pengantar tidur sama nemenin minum kopi.”
“Wih keren, selain keroncong ini juga ada lagu-lagunya jazznya, ternyata selera musik lo boleh juga hahahhahaha.” Kata Sherly tertawa.
“Tau, habis yang enak didengerin di kuping gua ya lagu-lagu itu.” Kataku.
“Naah ini gua kopi ya!” kata Sherly mengkopy beberapa album keroncong.
“Emang lo suka lagu2nya Ibu Sundari juga?” Tanyaku.
“Enggak.”
“Lah terus buat apa?”
“Buat bokap, dia suka lagu-lagu keroncong selera orang tua, hahahahaha.” Kata Sherly mengejekku.
“Enak aja, keroncong itu musik jazznya Indonesia tau. Yaudah kopi aja, kalau mau di laptop gw masih banyak video live konsernya, tar gua kopiin.”
“Mau-mau, biar bokap awet muda, Eh ini folder apa Wan?” Kata sherly saat melihat folder dengan nama Always Miss You.
“Oh itu ma foto-foto keluarga gua dikampung.”
“Ini adik - adik lo, ihhhh cantik-cantik banget, oh ini yang namanya Putri yang kemarin waktu gua telpon lo sangkain dia.” Kata Sherly menunjuk salah satu foto.
“Iya Sher adik gw yang pertama, ya cantiklah abangnya juga ganteng hahahahaha.”
“Ganteng kaya tukang ledeng hahahahahaha terus kok ini foldernya in memoriam, foto nya jadul lagi.” Tanya sherly.
“Itu foto almarhum ayah sama ibu gua Sher udah lama meninggal.”
“Yaampun maaf ya Wan maaf gua gak bermaksud buat ngingetin gw turut berduka ya Wan sekali lagi maaf.”
“Gapapa Sher, lagian kejadiannya juga udah lama kok.”
“Terus adik-adikmu tinggal sama siapa?”
“Sama Paman dan Bibi di kampung, yang sekarang udah kami anggap sebagai pengganti ayah sama ibu.”
Tiba tiba terjadi keheningan diantara kami.
“Hebat ya lo dan adik-adikmu lo, bisa tumbuh jadi orang yang mandiri, kalau gua seperti kalian gak tau apa yang bakal terjadi.” Kata Sherly.
“Yah namanya juga hidup kita hanya bisa berharap Sher, meski harapan itu gak sesuai kenyataan tapi kita harus terus jalani dan terus syukuri, eh ngomong-ngomong di Jakarta lo tinggal ma siapa?”
“Sendiri Wan, lo mau nemenin? Hahahahaha!” Jawab Sherly
“Ditanya serius juga, malah ketawa mulu,”
“Abis nanya nya kaya mau nemenin aja, iya gua kos sendiri di Jakarta, orang tua gua di Magelang, kalau kakakku udah tinggal di Malang sama suaminya.” Kata Sherly menjelaskan.
“Oh lo orang Jogja, pantesan kalau ngomong jawanya masih sering keluar, hahahahaha awalnya gua Kira lo orang Palembang atau Aceh Sher.”
“Aceh? Jauh banget, kalau nenek dari nyokap emang aslinya Chinese tapi udah campuran.”
“Pantesan, kulit lo putih banget, sampai silau liatnya kalau kena sinar matahari.”
“Ih, emang lampu, oh iya kalau lo asli mana Wan? Kayanya dari jawa juga ya.” Tanya Sherly.
“Gua dari Karang Anyar, Solo, ya kalau dari Jogja paling 4 jam. Jawabku.
“Ooh orang Solo, pantesan sukanya lagu-lagu keroncong, terus lo kos dimana?”
“Keroncong ma bukan karena gua orang Solo Sher, tetapi itu karena taste di kuping. Koos di belakang kampus, Jl. Tawak*al 3 paling 5 menit kalau Naik motor dari kampus.”
“Gayamu taste taste kaya tau aja, udah sore ni Wan cabut yuk.”
“Eh, tunggu Sher kok kita kerjain berdua doang tugasnya yang lain gimana? Tanyaku.
“Yang lain kan udah kirim via email Wan, jadi kita ngerjain tar pertemuan minggu depan baru disatuin, kalau lo tadi gua suruh kasih langsung karena sekalian gua suruh nemenin ngobrol abis lagi bete di kosan.”
“ Oh gitu? sering sering aja Sher, oh ya makasih tadi kopinya.”
“Enak aja sering-sering, lain kali gantian lo yang bayar, hehehhehe.”
“Iya, iya yaudah cabut yuk.” Kataku.
Sore menjelang petang kami mengakhiri pertemuan, aku mengantarkan Sherly pulang, lalu kembali menuju tempat kos. Sesampai di tempat kos aku merebahkan badan sejenak, sambil memikirkan kejadian hari ini.
“Kok bisa ya cewek cantik, tajir ngajak gua jalan, padahal anggota kelompok lain cuma suruh kirim email. Ah, kenapa jadi mikirin Sherly.” Batinku.
Sesuatu yang wajar jika seseorang mengalami kejadian yang pertama kali dalam hidupnya lalu kemudian dia memikirkannya. Selama ini yang aku pikirkan hanya bagaimana agar bisa terus menjalani hari-hariku selalu bahagia, tetapi hari ini dia muncul dan menambah sesuatu hal baru yang masuk ke dalam pikiranku.
Petani menanam lalu akan memanen apa yang di tanam, meskipun kadang ada kalanya petani menanam jagung justru malah akan memanen rumput. Ditunggu jagung berbuah, waktu panen bungapun tak kunjung keluar akhirnya batang jagung yang lebat hanya akan menjadi rumput untuk makanan sapi.
Sejak kejadian mengerjakan tugas bersama 2 minggu yang lalu hubungan ku dengan Sherly menjadi semakin dekat. Kami lebih sering ketemu di kampus, makan bareng atau hanya sekedar ngobrolin tugas.
Kedekatan ini menimbulkan banyak persepsi diantara teman-temanku dan juga teman-teman Sherly. Mereka banyak yang mengira kami menjalin sesuatu hubungan khusus alias pacaran. Tetapi persepsi inilah yang akhirnya menimbulkan masalah yang tak pernah kuduga.
Sore itu seperti biasa aku berkumpul dengan anak-anak di Halte. Hari ini kami berniat akan bermain futsal sparing dengan karyawan Bank di samping kampus. Disaat kami sedang asik berbincang Sherly dan Anisa datang an langsung ikut bergabung. Di tempat ini juga sudah ada, Lena, Cindy, Laura, Dina, Dewi dan Rani. Mereka sudah saling mengenal karena bertemu mata kuliah yang sama. Terlihat kontras Sherly dan Anisa wanita terlihat alim sedangkan Lena dan teman-temannya terlihat urakan yang tidak lepas dari rokok dengan pakaian yang serba minim. Mereka berniat ikut kami bermain futsal, meski hanya sebagai pemandu sorak.
“Ooh jadi lo yang namanya Awan? Hebat juga ya baru anak kemarin sore aja udah mau bikin masalah.” Kata Randy senior angkatan 2006 tiba-tiba datang menghampiriku bersama dengan 3 orang temannya. Badannya lebih tinggi dariku, orangnya putih dengan rambut gondrong tanggung satu senti dibawah telinga.
“Iya, bener gua Awan, ada apa bro dateng-dateng nada bicara lo kaya gini?'' Jawabku sedikit kaget. Semua orang di halte, melihat ke arah kami mungkin penasaran dengan apa yang terjadi, terlebih suara Randy yang agak keras.
“Wah pura-pura g*blog lagi, lo gak tau kesalahan lo? Lo gak tau Sherly itu siapa? Gara-gara lo dia kabur dari gua. Lagi itu lo juga sok jagoan ngancem senior lo si Budi udah gua diemin. Sekarang malah tambah nglunjak, tingkah lo disini gua perhatiin juga nyolot, kayanya lo doang yang manggil senior pakai panggilan nama, Lo udah gak mau lama disini.” Bentak Randy
“Ooh, itu masalahnya, Sherly gak pernah cerita sama gua kalau udah punya pacar. Masalah kelakuan gua disini lo gak usah ngurusin. Tanya orang-orang disini apa ada yang ngrasa gua rugiin?” Jawabku masih datar meski darah sudah memenuhi pembuluh di kepala.
Aku lihat Sherly tampak sangat tegang dia menatapku, seperti ada yang mau dikatakan.
“Wah bener-bener gak bisa dibilangin pakai mulut lo.” Bentak Randy tangannya mendorong badanku yang masih duduk hingga hampir membuatku terjatuh. Aku mencium bau alkhohol dari mulut Randy.
“Woi bro, santai aja gak usah main dorong gini, kita bicarain baik-baik.” Kataku mulai terpancing emosi.
“Ooh, lo gak seneng, bangun kalau gak seneng.” Kata Randy sambil membentak dan mendorongku sampai terjatuh dari kursi.
“Bangun Lo! Lagak doang kaya jagoan, ngancem orang jalan songong kaya preman. Gua pengen tau aja nyali lo, jangan cuma biasanya ganggu hubungan orang, ternyata cowo pilihan Sherly begini doang.” Bentak Randy yang mulai di tenangkan oleh teman-temannya.
Mendapat perlakuan seperti ini darahku mendidih, kutarik nafas dalam-dalam masih dalam keadaan terduduk berusaha menahan, tapi sangat sulit.
Sandro menatapku mengedipkan mata sambil menggeleng-gelengkan kepala mungkin dia ingin berkata "Jangan". Fajar berusaha menenangkan Randy, tetapi emosi ini mengalahkan segalanya, aku berdiri perlahan lalu mendorong Randy, dia jatuh tersungkur.
Tak butuh waktu lama, dia kembali berdiri dan melayangkan pukulannya ke arah wajahku tetapi aku lebih cepat menangkap tangannya, lalu ku tendang kakinya hingga dia kembali terjatuh.
“B*ngsat lo a*jing!!! Gua disini gak ngrasa jagoan, gua disini cari temen bukan cari musuh, dan Sherly sekarang emang pacar gua jadi kalau lo berani ganggu dia, gua matiin lo b*ngsat, disini gua gak pernah nyolek orang, gua hargai semuanya. Hari ini gua lo colek nj*ng, ayo gua ladenin.” Bentakku disaat emosi memuncak.
“Hah, pacar lo? Mana mau Sherly jadi pacar cowok kampungan kaya lo? Lo ngaca bro ngaca!” Jawab Randy kembali terbangun lalu menyerangku kami pun terjatuh dengan posisi aku di bawah.
Randy yang posisinya menindih tubuhku berusaha menyerang dan pukulannya tangan kirinya melayang tepat di alis mata kananku. Akupun berusaha menangkis serangannya yang membabi buta, akhirnya saat dia lengah aku berhasil melepaskan diri. Aku pun segera berdiri, disusul Randy sebelum sempat berdiri kutendang perutnya hingga dia tersungkur lalu memegang perutnya.
Aku mengambil tas mengeluarkan badik yang hampir kubawa setiap hari dan berniat menghabisinya atau paling tidak memberikan dia pelajaran. Dengan badik ditangan aku berjalan ke arah Randy, semua orang histeris, begitu juga dengan Randy wajahnya sangat ketakutan.
Baru berjalan dua langkah, ada orang yang menarikku dari belakang dan memegang tanganku.
Udah, Wan jangan kau terusin Wan, urusannya bisa panjang Wan, dengerin gua Wan.” Kata Sandro menarik tanganku.
“Lo diem aja San, biar gua habisin b*ngsat ini, percuma juga dia berhenti sekarang bisa aja di tempat lain dia nusuk gua.” Kataku sambil melepaskan tanganku dari tarikan sandro.
Namun dengan cepat Babe mendekap badanku dari depan, diikuti Riski memegang tangan ku dan aku merasa sudah dipegang oleh 4 orang.
“Udah Wan, udah Le cukup inget Wan nyebut, gua orang tua disini tolong hargai Le, istighfar Wan, istighfar,'' kata Babe sambil mendekap erat badanku dari depan dan menahanku yang terus memberontak, sementara Sandro berusaha mengambil badik yang aku pegang.
“Bang Randy, mending lo pergi Bang, biar gak makin besar masalahnya.” Teriak Fajar. Randy pun kemudian pergi ditarik teman-temannya ke dalam kampus.
“Woi, b*ngsat jangan kabur lo percuma lo lari hari besuk-besuk mulut lo bakal gua jejelin badik, woi b*ngsat ayo kemari pukul gua, udah Be lepasin Be, Ki lepasin Ki biar gua kelarin urusan hari ini juga, gua gak pernah nyolek orang tapi hari ini a*njing itu udah gigit gua, b*ngsat!” Kata ku berteriak sambil terus meronta dengan nafas yang cepat. Aku terus memberontak tidak perduli apa yang merka ucapkan.
“Awan, udah cukup Wan, lo kenapa sih Wan? Gua takut Wan, liat-liat gua Wan liat, lo seperti bukan Awan, lo siapa? Hah siapa? Kalau lo Awan liat gua Wan, bayangin kalau gua itu Putri terus liat kakaknya begini, gimana perasaan nya Wan? Gimana?” Kata sherly menangis sambil kedua tangannya memegang pipi ku berusaha mengarahkan pandanganku ke wajahnya.
Ternyata berhasil, badanku mulai lemas, pandanganku kembali terang, nafasku berangsur-angsur mulai teratur, badik aku lepaskan entah siapa yang mengambilnya. Akhirnya Babe melepaskan dekapannya, Sandro, Riski dan Ambon pun juga mengendurkan pegangannya. Lalu Sherly menarik tanganku, aku seperti terhipnotis mengikuti langkahnya menuju parkiran kampus, Kulihat orang-orang ramai dan semua mata melihat kejadian ini. Kami pun masuk ke mobil dan kami pergi meninggalkan kampus. Tidak ada pembicaraan selama di dalam mobil, hingga aku sadar jika mobil sherly mengarah ke klinik.
“Turun, Lo berobat dulu.” Kata Sherly.
“Hah? Berobat? Gua gak kenapa-kenapa kok berobat.” Jawabku.
“Udah jangan ngeyel.” Sata sherly menarik tanganku turun dari mobil. Sesampai di klinik aku baru sadar pada saat melihat cermin besar ternyata bajuku robek, celana kotor, rambut berantakan, bibir bawah kiri berdarah, alis kananku ternyata robek. Separuh wajahku ditutup darah yang telah mengerang.
“Pantesan gua tadi kaya orang kesetanan, ternyata ini penyebabnya.” Batinku sambil memegang alis kanan yang robek.
“Sher, tas sama motor gua gimana ya tadi masih dihalte!”
“Udah tenang aja tadi gua udah sms Ambon buat beresin tas sama motor lo, kuncinya ada di Babe kan?”
“Iya gua titipin disana, makasih ya Sher.” Kataku memasuki ruang pengobatan.
“Kamu ini udah gak sekolah kok masih pada tawuran sih.” Kata dokter Murti, dokter yang bertugas di klinik itu, sambil membersihkan darah di alis dan pipiku.
“Bukan tawuran Dok, tapi digebukin akibat salah sasaran, auh pelan-pelan Dok sakit.” Kataku saat Dokter mulai menjahit lukaku.
Sementara Sherly duduk di samping kiriku, memperhatikan sambil sesekali menggigit bibir bawahnya, tangannya memegang erat lenganku.
Diubah oleh setiawanari 20-10-2017 11:58
g.gowang memberi reputasi
1