- Beranda
- Stories from the Heart
Patahan Salib Bidadari
...
TS
setiawanari
Patahan Salib Bidadari
In the name of Allah, the beneficient, the merciful
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Terimakasih untuk gambar sampulnya awayeye
Terimakasih Kaskus, khususnya untuk sub forum SFTH yang telah menyediakan tempat menampilkan sebuah cerita. Sebuah fasilitas yang akan saya gunakan untuk menulis dimulai dari hari ini hingga di hari-hari selanjutnya.
Terlepas dari nyata atau tidaknya cerita ini, adalah tidak terlalu penting karena sebagian dari kisah nyata dan sebagian dari imaginasi saya. Harapan saya tokoh-tokoh dalam cerita ini dapat menjadi inspirasi untuk para pembaca cerita yang saya tulis ini dapat menjadikan saya untuk terus berkreatifitas.
Mohon maaf jika materi dalam cerita ini nantinya ada kesalahan dan menyinggung pihak-pihak tertentu sekiranya nasihat, kritik dan saran dari agan/sista yang lebih berpengalaman selalu sangat saya harapkan.
Menemani istirahat untuk menghilangkan lelah setelah pulang kerja/sekolah/kuliah, atau saat sedang menunggu sesuatu mari kita baca ceritanya. Ditemani alunan musik dan segelas kopi/cokelat/susu/teh hangat kita kembali ke beberapa tahun yang lalu!!!.
PEMBUKA CERITA
Terpaku di dalam rasa cinta yang tak mungkin pudar, menanti cinta datang membawa arti sampai segenap organ ini berhenti.
Sore itu saat cuaca cerah di lantai 6 gedung akademisi yang melahirkan sarjana ekonomi terbaik aku termenung. Melamunkan manis, asam, asin dan pahitnya segala kehendak Tuhan yang dianugerahkan kepada salah satu ciptaanNya.
Manusia diberikan otak untuk berfikir dan menggunakan logika lalu diberikan hati untuk merasakan. Hati adalah malaikat sedangkan otak kadang menjadi iblis dan sangat sulit untuk mengontrolnya menjadi malaikat. Hati menjerit saat kita berbuat salah sedangkan otak adalah penyebab semua kesalahan yang dilakukan manusia. Malaikat dan iblis adalah gambaran dari manusia, sebagai simbol antara kebaikan dan kejahatan. Kebaikan tidak akan bersanding dengan kejahatan dan sebaliknya.
“Permisi Mas! Bisa pindah duduknya, lantainya mau di bersihkan!” Sapa seorang petugas cleaning service membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya mas”. Jawabku sambil berlalu pergi menuju tempat parkir motor tepatnya dihalaman depan kampus.
Karamnya cinta ini
Tenggelamkanku diduka yang terdalam
Hampa hati terasa
Kau tinggalkanku meski ku tak rela
Salahkah diriku hingga saat ini
Kumasih mengharap
Kau tuk kembali………
Sore itu gerimis turun saat aku pulang, tak terasa sampai ditempat kos yang kebetulan hanya berjarak 10 menit dari kampus air hujan membasahi jaket jeans yang ku kenakan. Segera aku mengambil handuk dan membersihkan diri, bersiap untuk mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Dengan ritual sholat Ashar aku merasakan kedamaian yang tidak ada bandingannya, sebagai bentuk kepatuhan dan rasa syukur atas semua yang diberikan Tuhan baik itu berkah yang membuat hati senang maupun musibah sebagai ujian kepada hambanya agar menjadi sosok yang lebih kuat.
Waktunya istirahat, kurebahkan badan ini di kasur busa sebagai surga dunia yang paling indah, sambil memutar lagu menemaniku melepas lelah. Secangkir kopi hitam telah kusiapkan untuk menghangatkan suasana karena diluar hujan turun semakin deras. Kupandangi sebuah kalung berwarna emas berliontin salib yang bersanding dengan sebuah kalung perak berliontin lafaz Allah, tergantung dibawah poster foto Ibu Sundari Sukotjo tepat di tengah-tengah dinding kamar kosku. Masih menampakkan kilaunya meski kalung-kalung itu sudah hampir 4 tahun lamanya. Aku bangkit dari tempat tidur, meminum sedikit kopi hitam, sambil menarik nafas dalam sedalam yang aku mampu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu di sore ini, ya aku merasakan suatu kerinduan yang luar biasa dengan pemilik kalung salib yang tergantung dikamarku, seorang yang sangat suka musik klasik, seseorang pecinta sepakbola, seseorang yang suka kopi hitam dan mungkin pernah mencintaiku walaupun tak pernah mengungkapkan sepatah katapun.
“Ya Tuhan hari ini aku kangen banget sama dia, meski tak sebesar kangen ku kepadaMu, tapi sungguh seolah-olah aku merasa sangat lemah dan sangat kehilangan. Hari ini tepat 4 bulan yang lalu dia beranjak pergi dari tempat ini, dia pergi untuk cita-citanya, untuk impiannya dan bodohnya aku belum sempat mengutarakan seluruh perasaanku kepadanya. Perbedaan keyakinanlah yang menghalangi, aku bahkan hanya bisa diam membisu saat ku ingin mengucapkan seluruh rasa cinta ini aku takut rasa cinta kepada makhluk ciptaanMu melebihi rasa cintaku padaMu. Tak kuasa air mata ini menetes, berusaha ku tahan tapi tak sanggup karena mungkin ini air mata rindu yang mencapai puncaknya.
Aku bukan seorang penulis tetapi hari ini tiba-tiba ingin sekali aku ingin sekali memainkan jariku di keyboard yang biasanya hanya kupakai untuk membuat tugas. Aku ingin menulis tentang dirimu tentang cerita kita, walaupun mungkin tidak berujung bahagia tidak apa karena mungkin dengan tulisan ini aku bisa mencurahkan segala isi hati dan kerinduanku kepada mu. Kenangan indah tentang hari-hari yang pernah kulalui dengan seorang bidadari yang telah merubah seluruh hidupku, meski meninggalkan perasaan yang terus menggantung entah sampai kapan. Bidadari yang datang di hidupku, menemaniku sejenak lalu pergi meninggalkan patahan salibnya di hidupku.
Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu
Sekilas Gambar Tentang Aku
Harapan Sesuai dengan Kenyataan
Kerikil Kecil dan Awan yang Jauh
Pertemuan dengan Sahabat
Sepatu Mengawali Sebuah Impian
Dunia Kampus dan Teman Baru
Keluarga Kecil Bernama HALTE
Sesuatu Mengganggu Pesta Akhir Smester
Diantara Rasa Kagum dan Penasaran
Meluapnya Sebuah Emosi
Hubungan yang Semakin Dekat
Kegelisahan Menghadapi Perasaan yang Berbeda
Siang Menjadi Malam dan Sebaliknya
Perjalanan yang Semakin Indah
Momen Menggelikan dan Warna Kehidupan
Dilema Menghadapi Ungkapan Perasaan
Tetangga di Sekitar Kami
Liontin Salib untuk Leher yang Indah
Kepedihan Cerita di Masa Lalu
Senyuman untuk Hati yang Terluka
Sosok yang Menjadi Pertanyaan
Mencoba Menghilangkan Trauma
Pelangi yang Hilang Bersama Turunnya Hujan
Malam Kebahagiaan Bersama Keluarga Kecil
Bidadari Kecil Kini Telah Dewasa
Kebahagiaan Kini Tinggal Prasasti
Semua Terjadi Sangat Cepat
Sebuah Cinta yang Salah
Surga yang Tak Layak untuk Dilihat
Rumput Dingin Di Bawah Bangku Taman
Pahitnya Sebuah Ucapan
Air Mata Menepis Kerasnya Kata-kata
Satu Langkah ke Arah Normal
Bertahan Hanya dalam Waktu Singkat
Semakin Tenggelam dalam Kedekatan
Lilin Kecil di Malam Penuh Kebahagiaan
Selamat Datang Kemarau
Kerinduan yang Teramat Dalam
Hembusan Angin Masa Lalu
Sayap yang Kuat Untuk Bidadari Kecil
Tinta Biru Menorehkan Luka
Berusaha Menyembunyikan Luka
Hilangnya Rasa Segan
Keberhasilan Tanpa Perayaan
Berharap Hanya Andai Saja
Serpihan Kenangan yang Menyiksa
Tempat Baru
Berita Baik Bersama Undangan
Selamat Menempuh Hidup Baru
Kesan yang Baik di Hari Pertama
Insiden Kecil dan Masa yang Telah Terlewati
Menutup Momen 4 Tahun Kebersamaan
Kotak Makan Siang
Keberanian Untuk Memulai
Pahitnya Sambutan Selamat Datang
Seperti Kembali ke Waktu Itu
Teka Teki dari Perhatian Sederhana
Cerita di Ujung Sore
Peneduh Panasnya Amarah
Mengungungkapkan tak Semudah Membayangkan
Titik Terang yang Terasa Gelap
Patahan Salib Bidadari
Terimakasih Untuk Masa yang Terlewati
Apa yang Sebenarnya Terjadi
Kembali Terjatuh
Dunia Ciptakan Keindahan
Dan Kebahagiaan [TAMAT]
Kata Penutup (Q&A)
Diubah oleh setiawanari 10-07-2018 17:35
nona212 dan calebs12 memberi reputasi
3
111.2K
608
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
setiawanari
#21
Diantara Rasa Kagum dan Penasaran
Nikmat yang diberikan oleh sang pencipta itu berbeda-beda dirasakan oleh mahkluknya. Bagi orang kaya berlibur ke luar negeri akan membuatnya bahagia tetapi bagi seorang dengan hidup pas-pasan bisa berkunjung ke Pantai Ancol sudah membuatnya bahagia. Jika kita punya banyak gunung, lalu diberikan satu gunung maka itu adalah hal yang biasa karena kita mengharapkan langit. Jika hanya banyak bukit yang kita punya lalu kita diberikan gunung kepuasan dan kebahagiaan akan sangat kita rasakan.
Kehidupan terus berputar seperti roda. Kita dapat merasakan sehat karena pernah merasakan sakit, merasakan tawa karena kita pernah menangis. Tanpa penderitaan kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan.
Perkuliahan telah dimulai, memasuki smester kedua dengan nilai pas-pasan. Beban SKS yang harus aku ambil pun tidak banyak karena indeks prestasi komulatif yang tidak maksimal. Ada beberapa mata kuliah yang harus ku ulang karena nilainya dibawah standar yang ditetapkan kampus. Kegiatan kuliah terjadi seperti biasa tidak jauh berbeda dengan smester pertama. Namun di smester dua ini jadwal perkuliahan kita yang menentukan. Kampus membuka beberapa kelas untuk setiap mata kuliah dengan hari dan kelas yang berbeda-beda. Hanya mata kuliah yang kita pilih yang harus kita ikuti pada satu semester ke depan dan dianggap tidak lulus apabila dalam satu mata kuliah kita tidak hadir selama empat kali.
Siang ini halte sepi, mungkin karena hari ini anak-anak tidak ada jadwal kuliah.
“Be kopi, satu Be. Putih sebungkus.” Kataku meminta kopi dan sebungkus rokok kepada Babe, Panggilan anak-anak untuk pemilik warung kopi di halte.
“Biasa kan kopinya, Wan?'' Jawab Babe.
“Biasa gimana Be?'' Kataku.
“Biasa utang hahahaha.'' Ledek Babe
“Hahahahaha tau aja lo Be, iya lah tulis tulis, sabtu lunasin cash, plus bunganya.'' Jawabku.
“Siap.'' Jawab Babe sambil membuatkan kopi.
Kunikmati segelas kopi hitam dengan sedikit gula sambil sesekali menghisap sebatang rokok. Rasanya nikmat sekali, pepaduan antara pekatnya cairan hitam dengan asap putih. Dua zat yang saling melengkapi antara nikotin dengan caffeine menimbulkan rasa nikmat.
“Hay, Awan.'' Suara wanita menepuk pundak ku dari belakang.
“Hmm eh iya gua.” Kataku menjawab sambil melihat ke belakang.
Ternyata suara itu adalah wanita teman satu kelasku saat mata kuliah statistik I tadi pagi. Menggunakan rok panjang, jilbab merah, dengan baju putih panjang garis-garis biru. Waktu dikelas aku tidak terlalu memperhatikan. Kebiasaanku yang cuek dan banyaknya mahasiswi di dalam kelas.
“Dia mukanya Chinese tapi pakai kerudung.” Batinku memikirkan hal yang jarang aku lihat.
“Kok malah bengong, eh gua Sherly sama ini temen gua Anissa, yang tadi sekelas sama lo.” Kata Sherly mengulurkan tangan berkenalan denganku. Lalu duduk di kursi panjang tepat didepanku memesan soto daging.
“Eh , gua fotokopi modul English I dulu ya, lo mau sekalian gak?'' Kata Anissa
“Iya sekalian Nis, pakai uang lo ya tar gua ganti, lo gak makan dulu?” Jawab Sherly
“Belum laper, tar aja abis fotokopi Sher.” Kata Anissa berlalu pergi menuju tempat fotokopi di samping kampus.
“Hhm masih panas kali, udah laper banget kayanya.” Kataku berbasa-basi.
“Iya masih panas, makanya ini sambil gua tiup-tiupin biar cepet dingin, hehehehehe. Eh Wan lo sering nongkrong disini?'' Tanya Sherly.
“Iya, ini udah kaya rumah kedua gua Sher, tiap jeda jam kuliah gua pasti disini, nah kalau lo kayanya gua baru lihat hari ini?”
“Aah lo aja yang merem, gua sering kok makan disini, gua juga sering liat lo, Sandro, Ambon disini. Masa sih lo ga merhatiin cewek secantik gua, hahahahahahahaha.”
“Pede amat lo.” Kataku sambil mendekatkan mukaku menatap wajah Sherly.
“Iih apain sih lo wan, orang makan di liatin kaya begitu.” Kata sherly mengalihkan wajahnya.
“Iya Sher loe cantik banget.”
“Hahahahaha telat lo sadarnya, tumben hari ini sepi biasanya kaya pasar, temen-temen lo pada kemana?”
“Gak ada jam, paling pada ambil jam sore.”
“Pantesan aja sepi, tadi statistik suruh bikin kelompok presentasi ya Wan? Loe udah dapet kelompok kah?”
“Belum, udah pada penuh, paling nunggu yang hari ini gak masuk, terus bikin kelompok baru.”
"Yaudah lo masuk kelompok gua aja, masih kurang satu kok.”
“Cewek semua gitu?”
“Ya enggak lah ceweknya cuma gua, Anissa sama Ika tiga lagi cowok kalau sama lo kan pas ber tujuh.”
“Ooh yaudah, gua masuk kelompok lo kalau begitu.”
“Iya tar gua masukin, tapi awas kalau gak kerja gua coret tar.”
“Iya-iya tenang aja, oh ya nomer hp lo masukin Sher, biar gampang kerjanya tar.” Kataku sambil meberikan HP.
“Awas tapi jangan iseng ya!” Kata Sherly lalu menyimpan nomernya di hpku.
“Emang kalau iseng kenapa?”
“Hahahahaha ya ngapain iseng-iseng mending beneran aja, kalau berani ma.”
“Maksudnya?”
“Maksudnya kalau mau telpon ya telpon jangan iseng-iseng cuma miscall, hahhahaha.”
“Ooh kirain.”
“Kirain apa?”
“Gakapapa.” Kataku sedikit malu karena belum pernah aku ngobrol dengan wanita, hanya berdua di halte ini. Biasanya selalu ramai dengan anak-anak, tapi hari ini berbeda.
“Udah makanya Sher, ini fotokopiannya.” Kata Anissa datang.
“Oh, udah Nis, cepet banget, thanks ya tar uang nya dikelas Nis.” Jawab Sherly.
“Cepet gimana, ngantri kali, lagi asyik sih makanya berasa cepet.” Kata Anissa.
“Ah elo Nis apaan sih, naik yuk.” Kata Sherly
“Ayoo.'' Jawab Anissa.
“Wan gua kelas dulu ya, jangan lupa bikin tugas presentasi statistik.” Kata Sherly.
“Siap, Bu laksanakan.”
“Sip, duluan Wan.” Kata Sherly sambil berjalan dengan Anissa memasuki gerbang kampus.
Dua dari sekian banyak mahkluk ciptaan Tuhan yang sangat indah, rasanya nenyejukkan mata saat melihatnya.
“Weit yg abis nglobi.” Kata Riski yang tiba-tiba datang entah dari mana arahnya.
“Ah, lo Ki, dari mana ?” Jawabku
“Dari smoking area, mau kemari takut ganggu tadi, hahahhahhahhaha, jarang-jarang kan temen gua yang satu ini doyan cewek biasanya kemana-mana sama laki, ngobrol juga sama laki.”
“Ah, biasa aja lah orang cuma ngomongin kelompok presentasi, cewek tadi sekelas sama gua kelas statistik.”
“Tadi Sherly kan bro, sama Anissa?”
“Iya, nah kok lo tau, Cuk?”
“Yaelah lo kemana aja wan, mata lo taruh dimana, Sherly itu kan cewe super dimari bro, cantik, putih, pinter, tajir, religius aah pokoknya perfect dah. Incaran anak-anak senior, angkatan kita juga banyak yang suka, noh dia jalan aja banyak yang liatin.”
“Ooh iya cantik, cantik banget malahan, tapi masalahnya apa?”
“Ah lo gak peka sama keadaan Bray, kayanya Sherly suka sama lo Wan, lo udah dapet nomernya?”
“Gluk. Uhuk.. Uhuk.. Hah jadi keselek kopi gua mana ada cewek cantik, pinter, suka sama orang kaya gua, banyakan nonton film Korea lo Ki, nomer hp ma udah dikasih.”
“Enak aja doyan kagak gua film Korea lo bilang, nah itu dia, tadi gua merhatiin dari smoking area dia yang nyamperin lo terus duduk lalu makan disini, depan komuk lo, ngobrol terus ngasih nomer hp pula, itu tandanya dia suka bro. Soalnya Sherly itu terkenal susah banget buat dideketin jangan kan minta nomer hp, baru dideketin aja pasti langsung kabur.”
“Hahahahaha tadi itu cuma buat kontek-kontek tugas kelompok bro, bukannya kaya yang lo pikirin, bukan masalah suka atau gak suka.”
“Oke, kita liat aja tar Wan bakalan banyak saingan lo berarti kalau sampai Sherly suka sama lo,”
“Ah, sudahlah mending ni lo ngopi dulu biar gak nglantur ngomongnya.” Kataku.
Kami pun melanjutkan pembicaraan, sampai sore menjelang halte tidak seramai hari biasanya. Riski pun akhirnya pulang. Aku menuju perpustakaan hendak meminjam buku untuk tugas presentasi statistik. Banyak mahasiswa disini yang meminjam buku untuk mengerjakan tugas karena jika harus membeli maka akan terasa berat. Harga buku wajib manajemen SDM dengan penulis Garry Dessler saja harganya diatas 500ribu itu hanya dipakai 2 Mata kuliah. Jika kita mengambil 7 mata kuliah maka sudah dipastikan uang untuk buku akan semakin besar. Alternatif pinjam perpustakaan ini lah akhirnya dipilih para mahasiswa karena gratis. Buku yang aku cari akhirnya kutemukan lalu aku beranjak pergi ke parkiran motor, bersiap pulang. Di perjalanan menuju parkiran motor tiba-tiba ada Mobil sedan berhenti disampingku.
“Hay, Awan jangan lupa tugasnya ya, nanti kabari gua, lo pulang kemana?” Kata sherly dari dalam Mobil.
“Eh, iya siap, ke kosan belakang kampus, lah lo udah pulang tadi katanya ada kelas, terus kok sendirian aja?”
“Dosennya gak dateng tadi, si Anis mau pulang belakangan, jadi ya sendiri, atau lo mau bareng?”
“Hmm, makasih Sher, gua bawa motor, mungkin lain kali aja.”
“OK deh, gua duluan ya.” kata Sherly.
“Iya hati-hati Sher.”
Sherly pun menutup kaca mobilnya lalu pergi meninggalkan kampus.
“Pantesan banyak yang suka, udah cantik, kaya lagi.” Batinku sambil menyalakan motor.
Sore itu kuakhiri waktuku dikampus dengan perasaan senang, bukan karena bertemu dengan Sherly tetapi aku mendapat kelompok dan juga buku untuk mengerjakan presentasi. Perasaan ku ke Sherly di pertemuan tadi tidak lebih hanya sekedar kagum. Mengingatkan aku dengan kedua adikku.
Sampai di tempat kos, aku langsung mengepak sepatu-sepatu dan bersiap untuk menjualnya di pasar malam. Ada rasa lelah memang tetapi ini lah yang harus aku jalani, dan aku menikmatinya.
Malam hampir menuju puncaknya, sebagai tanda aku harus segera beristirahat untuk aktivitas esuk hari. Selesai membereskan sepatu-sepatu dari kamar sebelah kudengar ada suara orang sedang marah-marah. Kupelankan suara lagu mp3ku, Karena penasaran dengan suara itu.
“Apa, terus apa lagi sekarang? Aku udah muak sama lo, bilang cuma aku tapi apa, kenyataannya?” Suara dari kamar sebelah.
Diam sejenak.
“Iya, gua tau lo udah kasih gua segalanya, uang pekerjaan, tapi kalau sikap lo kaya gini gua gak bisa, mending gua mundur.”
Diam.
“Asal lo tau aja ya, sampai kapanpun gua gak akan pernah maafin lo, gua pergi dengan rasa sakit, dan inget jangan pernah lo hubungin gua lagi.”
Diam.
Sepertinya telepon di tutup.
Trrrrrrrrr. Trrrrrrrrr. Trrrrrrrrr.
Terdengar bunyi hp, satu kali, dua kali, tiga kali tidak diangkat.
Diam,
Terdengar, suara orang menangis, tidak terlalu keras hanya sesekali terdengar. Akhirnya hilang suara itu, aku kembali menambah volume suara lagu. Hampir setengah jam aku berusaha untuk memejamkan mata tapi tak bisa, hingga lagu ku matikan. Tiba-tiba terdengar orang menutup pintu diikuti suara langkah orang berjalan, membuka gerbang, lalu suara motor meninggalkan tempat Kos. 10 menit kemudian seperti ada yang membuka gerbang, lalu suara orang berjalan menaiki tangga, membuka pintu dan menutupnya kembali.
“Aaah, kenapa gak bisa tidur malam ini.” Batinku sambil membuka pintu kamar, berjalan keluar, menuju sofa panjang dipojok teras.
Ternyata, wanita penghuni kos sebelah sedang duduk dikursi samping pintu kamarnya. Menggunakan tank top warna abu-abu, celana jeans pendek hampir satu jengkal diatas lutut, rambut bergelombang lebat diikat kebelakang hingga menampakkan bulu-bulu halus disekitar leher belakang. Memegang hp, menggunakan hadset warna putih, duduk dengan kaki kanan disilangkan diatas kaki kiri menutupi kemulusan kulit pahanya, sambil sesekali meminum c*ca c*la kemasan kaleng. Mukanya sembam, seperti orang habis menangis.
“Hei, kita udah bertetangga tapi masa gak saling sapa sih.” Kata ku berteriak dari tempatku duduk yang hanya berjarak 4 meter.
Dia hanya diam seolah-olah tidak ada orang disini, mungkin karena menggunakan hedset jadi tidak mendengar suara dari sekelilingnya.
“Hallo, sombong kali sepertinya tetangga kosku ini ya!” Teriakku lebih keras tapi lagi-lagi tidak ada respon dari wanita itu.
Akupun mendekat dan duduk di kursi sampingnya, sambil menyalakan rokok. Baru sebentar aku duduk dia malah berdiri lalu masuk ke kamarnya, pintu ditutup dan sepertinya dia langsung tidur tanpa menghiraukan keberadaanku. Saat dia melangkah kekamar aku lihat dibawah pundak sebelah kiri ada tato kecil motif binatang panda.
“Lucu, kenapa panda? Siapa sih, sombong amat, ah mungkin salah ku juga yang penasaran.” Batinku.
Aku kembali masuk ke kamar meskipun hampir satu jam aku belum bisa memejamkan mata. Dari kamar sebelah aku mendengar suara lagi tetapi kali ini seperti suara lagu-lagi clasic, tidak begitu jelas karena sangat pelan. Suara-suara ini akhirnya membuat rasa kantukku datang dan akhirnya aku tenggelam ke lautan mimpi.
Siang hari aku sampai di tempat kos lebih cepat karena jalanan yang cukup lengang. Hari ini aku tidak berjualan jadi aku putuskan untuk mengambil beberapa lusin sepatu dari boss Narto untuk dijual besuk pagi jika cuaca cerah. Sampai di depan gerbang ternyata genangan mulai surut, aku segera memasukkan motor kemudian membawa sepatu tersebut ke kamar.
Bruak..
Belum sampai melangkah hingga tiga anak tangga beberapa dus sepatu yang kubawa terjatuh.
“Sorry, sory gua buru-buru.” Ucap seorang wanita menggunakan celana training dengan jaket warna hitam. Telinga ditutup headset warna putih yang lari dari atas.
“Woy, pakai Mata dong kalau jalan, kuping yang ditutup mata yang meleng.” Teriakku kesal sambil membereskan sepatu-sepatu yang berantakan.
Seolah tidak terjadi sesuatu wanita itu terus melangkah menuju gerbang kos, pergi tanpa rasa bersalah.
“Pasti penghuni baru, belum lama aja udah bikin masalah apalagi kalau udah lama.” Batinku.
Dengan rasa kesal aku kembali ke kamar, merapikan sepatu-sepatu agar tidak memepersempit ruang gerak. Segelas kopi hitam yang aku seduh dengan air dispenser tidak seenak kopi hitam buatan mang Atang, tetapi di cuaca dingin seperti ini kopi panas jenis apapun akan terasa nikmat. Kubawa segelas kopi hitam, bersama gitar lusuh ke tempat kesukaanku. Sofa panjang tepat di pojok teras atas depan kamarku menjadi tempat menghabiskan waktu dikala kesuntukan datang ataupun untuk sekedar menikmati malam. Rasa kesal akibat kejadian di tangga tadi sedikit demi sedikit mulai reda seiring dengan mulai habisnya cairan hitam di dalam cangkir kaca.
Satu persatu lagu kunyanyikan.Telinga ini seakan-akan mendengar suara paling indah tetapi bagi telinga-telinga penghuni Kos mungkin mereka sedang mendengarkan spaker rusak saat aku bernyanyi. Tak masalah paling tidak dengan bernyanyi aku dapat menghilangkan rasa kesal ini, walaupun dalam pikiranku terus memikirkan siapa dia yang berlari menabrakku?
Terlalu manis untuk dilupakan
Kenangan yang indah bersamamu
Hanya didalam mimpi
Kehidupan terus berputar seperti roda. Kita dapat merasakan sehat karena pernah merasakan sakit, merasakan tawa karena kita pernah menangis. Tanpa penderitaan kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan.
Perkuliahan telah dimulai, memasuki smester kedua dengan nilai pas-pasan. Beban SKS yang harus aku ambil pun tidak banyak karena indeks prestasi komulatif yang tidak maksimal. Ada beberapa mata kuliah yang harus ku ulang karena nilainya dibawah standar yang ditetapkan kampus. Kegiatan kuliah terjadi seperti biasa tidak jauh berbeda dengan smester pertama. Namun di smester dua ini jadwal perkuliahan kita yang menentukan. Kampus membuka beberapa kelas untuk setiap mata kuliah dengan hari dan kelas yang berbeda-beda. Hanya mata kuliah yang kita pilih yang harus kita ikuti pada satu semester ke depan dan dianggap tidak lulus apabila dalam satu mata kuliah kita tidak hadir selama empat kali.
Siang ini halte sepi, mungkin karena hari ini anak-anak tidak ada jadwal kuliah.
“Be kopi, satu Be. Putih sebungkus.” Kataku meminta kopi dan sebungkus rokok kepada Babe, Panggilan anak-anak untuk pemilik warung kopi di halte.
“Biasa kan kopinya, Wan?'' Jawab Babe.
“Biasa gimana Be?'' Kataku.
“Biasa utang hahahaha.'' Ledek Babe
“Hahahahaha tau aja lo Be, iya lah tulis tulis, sabtu lunasin cash, plus bunganya.'' Jawabku.
“Siap.'' Jawab Babe sambil membuatkan kopi.
Kunikmati segelas kopi hitam dengan sedikit gula sambil sesekali menghisap sebatang rokok. Rasanya nikmat sekali, pepaduan antara pekatnya cairan hitam dengan asap putih. Dua zat yang saling melengkapi antara nikotin dengan caffeine menimbulkan rasa nikmat.
“Hay, Awan.'' Suara wanita menepuk pundak ku dari belakang.
“Hmm eh iya gua.” Kataku menjawab sambil melihat ke belakang.
Ternyata suara itu adalah wanita teman satu kelasku saat mata kuliah statistik I tadi pagi. Menggunakan rok panjang, jilbab merah, dengan baju putih panjang garis-garis biru. Waktu dikelas aku tidak terlalu memperhatikan. Kebiasaanku yang cuek dan banyaknya mahasiswi di dalam kelas.
“Dia mukanya Chinese tapi pakai kerudung.” Batinku memikirkan hal yang jarang aku lihat.
“Kok malah bengong, eh gua Sherly sama ini temen gua Anissa, yang tadi sekelas sama lo.” Kata Sherly mengulurkan tangan berkenalan denganku. Lalu duduk di kursi panjang tepat didepanku memesan soto daging.
“Eh , gua fotokopi modul English I dulu ya, lo mau sekalian gak?'' Kata Anissa
“Iya sekalian Nis, pakai uang lo ya tar gua ganti, lo gak makan dulu?” Jawab Sherly
“Belum laper, tar aja abis fotokopi Sher.” Kata Anissa berlalu pergi menuju tempat fotokopi di samping kampus.
“Hhm masih panas kali, udah laper banget kayanya.” Kataku berbasa-basi.
“Iya masih panas, makanya ini sambil gua tiup-tiupin biar cepet dingin, hehehehehe. Eh Wan lo sering nongkrong disini?'' Tanya Sherly.
“Iya, ini udah kaya rumah kedua gua Sher, tiap jeda jam kuliah gua pasti disini, nah kalau lo kayanya gua baru lihat hari ini?”
“Aah lo aja yang merem, gua sering kok makan disini, gua juga sering liat lo, Sandro, Ambon disini. Masa sih lo ga merhatiin cewek secantik gua, hahahahahahahaha.”
“Pede amat lo.” Kataku sambil mendekatkan mukaku menatap wajah Sherly.
“Iih apain sih lo wan, orang makan di liatin kaya begitu.” Kata sherly mengalihkan wajahnya.
“Iya Sher loe cantik banget.”
“Hahahahaha telat lo sadarnya, tumben hari ini sepi biasanya kaya pasar, temen-temen lo pada kemana?”
“Gak ada jam, paling pada ambil jam sore.”
“Pantesan aja sepi, tadi statistik suruh bikin kelompok presentasi ya Wan? Loe udah dapet kelompok kah?”
“Belum, udah pada penuh, paling nunggu yang hari ini gak masuk, terus bikin kelompok baru.”
"Yaudah lo masuk kelompok gua aja, masih kurang satu kok.”
“Cewek semua gitu?”
“Ya enggak lah ceweknya cuma gua, Anissa sama Ika tiga lagi cowok kalau sama lo kan pas ber tujuh.”
“Ooh yaudah, gua masuk kelompok lo kalau begitu.”
“Iya tar gua masukin, tapi awas kalau gak kerja gua coret tar.”
“Iya-iya tenang aja, oh ya nomer hp lo masukin Sher, biar gampang kerjanya tar.” Kataku sambil meberikan HP.
“Awas tapi jangan iseng ya!” Kata Sherly lalu menyimpan nomernya di hpku.
“Emang kalau iseng kenapa?”
“Hahahahaha ya ngapain iseng-iseng mending beneran aja, kalau berani ma.”
“Maksudnya?”
“Maksudnya kalau mau telpon ya telpon jangan iseng-iseng cuma miscall, hahhahaha.”
“Ooh kirain.”
“Kirain apa?”
“Gakapapa.” Kataku sedikit malu karena belum pernah aku ngobrol dengan wanita, hanya berdua di halte ini. Biasanya selalu ramai dengan anak-anak, tapi hari ini berbeda.
“Udah makanya Sher, ini fotokopiannya.” Kata Anissa datang.
“Oh, udah Nis, cepet banget, thanks ya tar uang nya dikelas Nis.” Jawab Sherly.
“Cepet gimana, ngantri kali, lagi asyik sih makanya berasa cepet.” Kata Anissa.
“Ah elo Nis apaan sih, naik yuk.” Kata Sherly
“Ayoo.'' Jawab Anissa.
“Wan gua kelas dulu ya, jangan lupa bikin tugas presentasi statistik.” Kata Sherly.
“Siap, Bu laksanakan.”
“Sip, duluan Wan.” Kata Sherly sambil berjalan dengan Anissa memasuki gerbang kampus.
Dua dari sekian banyak mahkluk ciptaan Tuhan yang sangat indah, rasanya nenyejukkan mata saat melihatnya.
“Weit yg abis nglobi.” Kata Riski yang tiba-tiba datang entah dari mana arahnya.
“Ah, lo Ki, dari mana ?” Jawabku
“Dari smoking area, mau kemari takut ganggu tadi, hahahhahhahhaha, jarang-jarang kan temen gua yang satu ini doyan cewek biasanya kemana-mana sama laki, ngobrol juga sama laki.”
“Ah, biasa aja lah orang cuma ngomongin kelompok presentasi, cewek tadi sekelas sama gua kelas statistik.”
“Tadi Sherly kan bro, sama Anissa?”
“Iya, nah kok lo tau, Cuk?”
“Yaelah lo kemana aja wan, mata lo taruh dimana, Sherly itu kan cewe super dimari bro, cantik, putih, pinter, tajir, religius aah pokoknya perfect dah. Incaran anak-anak senior, angkatan kita juga banyak yang suka, noh dia jalan aja banyak yang liatin.”
“Ooh iya cantik, cantik banget malahan, tapi masalahnya apa?”
“Ah lo gak peka sama keadaan Bray, kayanya Sherly suka sama lo Wan, lo udah dapet nomernya?”
“Gluk. Uhuk.. Uhuk.. Hah jadi keselek kopi gua mana ada cewek cantik, pinter, suka sama orang kaya gua, banyakan nonton film Korea lo Ki, nomer hp ma udah dikasih.”
“Enak aja doyan kagak gua film Korea lo bilang, nah itu dia, tadi gua merhatiin dari smoking area dia yang nyamperin lo terus duduk lalu makan disini, depan komuk lo, ngobrol terus ngasih nomer hp pula, itu tandanya dia suka bro. Soalnya Sherly itu terkenal susah banget buat dideketin jangan kan minta nomer hp, baru dideketin aja pasti langsung kabur.”
“Hahahahaha tadi itu cuma buat kontek-kontek tugas kelompok bro, bukannya kaya yang lo pikirin, bukan masalah suka atau gak suka.”
“Oke, kita liat aja tar Wan bakalan banyak saingan lo berarti kalau sampai Sherly suka sama lo,”
“Ah, sudahlah mending ni lo ngopi dulu biar gak nglantur ngomongnya.” Kataku.
Kami pun melanjutkan pembicaraan, sampai sore menjelang halte tidak seramai hari biasanya. Riski pun akhirnya pulang. Aku menuju perpustakaan hendak meminjam buku untuk tugas presentasi statistik. Banyak mahasiswa disini yang meminjam buku untuk mengerjakan tugas karena jika harus membeli maka akan terasa berat. Harga buku wajib manajemen SDM dengan penulis Garry Dessler saja harganya diatas 500ribu itu hanya dipakai 2 Mata kuliah. Jika kita mengambil 7 mata kuliah maka sudah dipastikan uang untuk buku akan semakin besar. Alternatif pinjam perpustakaan ini lah akhirnya dipilih para mahasiswa karena gratis. Buku yang aku cari akhirnya kutemukan lalu aku beranjak pergi ke parkiran motor, bersiap pulang. Di perjalanan menuju parkiran motor tiba-tiba ada Mobil sedan berhenti disampingku.
“Hay, Awan jangan lupa tugasnya ya, nanti kabari gua, lo pulang kemana?” Kata sherly dari dalam Mobil.
“Eh, iya siap, ke kosan belakang kampus, lah lo udah pulang tadi katanya ada kelas, terus kok sendirian aja?”
“Dosennya gak dateng tadi, si Anis mau pulang belakangan, jadi ya sendiri, atau lo mau bareng?”
“Hmm, makasih Sher, gua bawa motor, mungkin lain kali aja.”
“OK deh, gua duluan ya.” kata Sherly.
“Iya hati-hati Sher.”
Sherly pun menutup kaca mobilnya lalu pergi meninggalkan kampus.
“Pantesan banyak yang suka, udah cantik, kaya lagi.” Batinku sambil menyalakan motor.
Sore itu kuakhiri waktuku dikampus dengan perasaan senang, bukan karena bertemu dengan Sherly tetapi aku mendapat kelompok dan juga buku untuk mengerjakan presentasi. Perasaan ku ke Sherly di pertemuan tadi tidak lebih hanya sekedar kagum. Mengingatkan aku dengan kedua adikku.
Sampai di tempat kos, aku langsung mengepak sepatu-sepatu dan bersiap untuk menjualnya di pasar malam. Ada rasa lelah memang tetapi ini lah yang harus aku jalani, dan aku menikmatinya.
Malam hampir menuju puncaknya, sebagai tanda aku harus segera beristirahat untuk aktivitas esuk hari. Selesai membereskan sepatu-sepatu dari kamar sebelah kudengar ada suara orang sedang marah-marah. Kupelankan suara lagu mp3ku, Karena penasaran dengan suara itu.
“Apa, terus apa lagi sekarang? Aku udah muak sama lo, bilang cuma aku tapi apa, kenyataannya?” Suara dari kamar sebelah.
Diam sejenak.
“Iya, gua tau lo udah kasih gua segalanya, uang pekerjaan, tapi kalau sikap lo kaya gini gua gak bisa, mending gua mundur.”
Diam.
“Asal lo tau aja ya, sampai kapanpun gua gak akan pernah maafin lo, gua pergi dengan rasa sakit, dan inget jangan pernah lo hubungin gua lagi.”
Diam.
Sepertinya telepon di tutup.
Trrrrrrrrr. Trrrrrrrrr. Trrrrrrrrr.
Terdengar bunyi hp, satu kali, dua kali, tiga kali tidak diangkat.
Diam,
Terdengar, suara orang menangis, tidak terlalu keras hanya sesekali terdengar. Akhirnya hilang suara itu, aku kembali menambah volume suara lagu. Hampir setengah jam aku berusaha untuk memejamkan mata tapi tak bisa, hingga lagu ku matikan. Tiba-tiba terdengar orang menutup pintu diikuti suara langkah orang berjalan, membuka gerbang, lalu suara motor meninggalkan tempat Kos. 10 menit kemudian seperti ada yang membuka gerbang, lalu suara orang berjalan menaiki tangga, membuka pintu dan menutupnya kembali.
“Aaah, kenapa gak bisa tidur malam ini.” Batinku sambil membuka pintu kamar, berjalan keluar, menuju sofa panjang dipojok teras.
Ternyata, wanita penghuni kos sebelah sedang duduk dikursi samping pintu kamarnya. Menggunakan tank top warna abu-abu, celana jeans pendek hampir satu jengkal diatas lutut, rambut bergelombang lebat diikat kebelakang hingga menampakkan bulu-bulu halus disekitar leher belakang. Memegang hp, menggunakan hadset warna putih, duduk dengan kaki kanan disilangkan diatas kaki kiri menutupi kemulusan kulit pahanya, sambil sesekali meminum c*ca c*la kemasan kaleng. Mukanya sembam, seperti orang habis menangis.
“Hei, kita udah bertetangga tapi masa gak saling sapa sih.” Kata ku berteriak dari tempatku duduk yang hanya berjarak 4 meter.
Dia hanya diam seolah-olah tidak ada orang disini, mungkin karena menggunakan hedset jadi tidak mendengar suara dari sekelilingnya.
“Hallo, sombong kali sepertinya tetangga kosku ini ya!” Teriakku lebih keras tapi lagi-lagi tidak ada respon dari wanita itu.
Akupun mendekat dan duduk di kursi sampingnya, sambil menyalakan rokok. Baru sebentar aku duduk dia malah berdiri lalu masuk ke kamarnya, pintu ditutup dan sepertinya dia langsung tidur tanpa menghiraukan keberadaanku. Saat dia melangkah kekamar aku lihat dibawah pundak sebelah kiri ada tato kecil motif binatang panda.
“Lucu, kenapa panda? Siapa sih, sombong amat, ah mungkin salah ku juga yang penasaran.” Batinku.
Aku kembali masuk ke kamar meskipun hampir satu jam aku belum bisa memejamkan mata. Dari kamar sebelah aku mendengar suara lagi tetapi kali ini seperti suara lagu-lagi clasic, tidak begitu jelas karena sangat pelan. Suara-suara ini akhirnya membuat rasa kantukku datang dan akhirnya aku tenggelam ke lautan mimpi.
Siang hari aku sampai di tempat kos lebih cepat karena jalanan yang cukup lengang. Hari ini aku tidak berjualan jadi aku putuskan untuk mengambil beberapa lusin sepatu dari boss Narto untuk dijual besuk pagi jika cuaca cerah. Sampai di depan gerbang ternyata genangan mulai surut, aku segera memasukkan motor kemudian membawa sepatu tersebut ke kamar.
Bruak..
Belum sampai melangkah hingga tiga anak tangga beberapa dus sepatu yang kubawa terjatuh.
“Sorry, sory gua buru-buru.” Ucap seorang wanita menggunakan celana training dengan jaket warna hitam. Telinga ditutup headset warna putih yang lari dari atas.
“Woy, pakai Mata dong kalau jalan, kuping yang ditutup mata yang meleng.” Teriakku kesal sambil membereskan sepatu-sepatu yang berantakan.
Seolah tidak terjadi sesuatu wanita itu terus melangkah menuju gerbang kos, pergi tanpa rasa bersalah.
“Pasti penghuni baru, belum lama aja udah bikin masalah apalagi kalau udah lama.” Batinku.
Dengan rasa kesal aku kembali ke kamar, merapikan sepatu-sepatu agar tidak memepersempit ruang gerak. Segelas kopi hitam yang aku seduh dengan air dispenser tidak seenak kopi hitam buatan mang Atang, tetapi di cuaca dingin seperti ini kopi panas jenis apapun akan terasa nikmat. Kubawa segelas kopi hitam, bersama gitar lusuh ke tempat kesukaanku. Sofa panjang tepat di pojok teras atas depan kamarku menjadi tempat menghabiskan waktu dikala kesuntukan datang ataupun untuk sekedar menikmati malam. Rasa kesal akibat kejadian di tangga tadi sedikit demi sedikit mulai reda seiring dengan mulai habisnya cairan hitam di dalam cangkir kaca.
Satu persatu lagu kunyanyikan.Telinga ini seakan-akan mendengar suara paling indah tetapi bagi telinga-telinga penghuni Kos mungkin mereka sedang mendengarkan spaker rusak saat aku bernyanyi. Tak masalah paling tidak dengan bernyanyi aku dapat menghilangkan rasa kesal ini, walaupun dalam pikiranku terus memikirkan siapa dia yang berlari menabrakku?
Terlalu manis untuk dilupakan
Kenangan yang indah bersamamu
Hanya didalam mimpi
Diubah oleh setiawanari 20-10-2017 11:30
g.gowang memberi reputasi
1