- Beranda
- Stories from the Heart
Patahan Salib Bidadari
...
TS
setiawanari
Patahan Salib Bidadari
In the name of Allah, the beneficient, the merciful
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Terimakasih untuk gambar sampulnya awayeye
Terimakasih Kaskus, khususnya untuk sub forum SFTH yang telah menyediakan tempat menampilkan sebuah cerita. Sebuah fasilitas yang akan saya gunakan untuk menulis dimulai dari hari ini hingga di hari-hari selanjutnya.
Terlepas dari nyata atau tidaknya cerita ini, adalah tidak terlalu penting karena sebagian dari kisah nyata dan sebagian dari imaginasi saya. Harapan saya tokoh-tokoh dalam cerita ini dapat menjadi inspirasi untuk para pembaca cerita yang saya tulis ini dapat menjadikan saya untuk terus berkreatifitas.
Mohon maaf jika materi dalam cerita ini nantinya ada kesalahan dan menyinggung pihak-pihak tertentu sekiranya nasihat, kritik dan saran dari agan/sista yang lebih berpengalaman selalu sangat saya harapkan.
Menemani istirahat untuk menghilangkan lelah setelah pulang kerja/sekolah/kuliah, atau saat sedang menunggu sesuatu mari kita baca ceritanya. Ditemani alunan musik dan segelas kopi/cokelat/susu/teh hangat kita kembali ke beberapa tahun yang lalu!!!.
PEMBUKA CERITA
Terpaku di dalam rasa cinta yang tak mungkin pudar, menanti cinta datang membawa arti sampai segenap organ ini berhenti.
Sore itu saat cuaca cerah di lantai 6 gedung akademisi yang melahirkan sarjana ekonomi terbaik aku termenung. Melamunkan manis, asam, asin dan pahitnya segala kehendak Tuhan yang dianugerahkan kepada salah satu ciptaanNya.
Manusia diberikan otak untuk berfikir dan menggunakan logika lalu diberikan hati untuk merasakan. Hati adalah malaikat sedangkan otak kadang menjadi iblis dan sangat sulit untuk mengontrolnya menjadi malaikat. Hati menjerit saat kita berbuat salah sedangkan otak adalah penyebab semua kesalahan yang dilakukan manusia. Malaikat dan iblis adalah gambaran dari manusia, sebagai simbol antara kebaikan dan kejahatan. Kebaikan tidak akan bersanding dengan kejahatan dan sebaliknya.
“Permisi Mas! Bisa pindah duduknya, lantainya mau di bersihkan!” Sapa seorang petugas cleaning service membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya mas”. Jawabku sambil berlalu pergi menuju tempat parkir motor tepatnya dihalaman depan kampus.
Karamnya cinta ini
Tenggelamkanku diduka yang terdalam
Hampa hati terasa
Kau tinggalkanku meski ku tak rela
Salahkah diriku hingga saat ini
Kumasih mengharap
Kau tuk kembali………
Sore itu gerimis turun saat aku pulang, tak terasa sampai ditempat kos yang kebetulan hanya berjarak 10 menit dari kampus air hujan membasahi jaket jeans yang ku kenakan. Segera aku mengambil handuk dan membersihkan diri, bersiap untuk mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Dengan ritual sholat Ashar aku merasakan kedamaian yang tidak ada bandingannya, sebagai bentuk kepatuhan dan rasa syukur atas semua yang diberikan Tuhan baik itu berkah yang membuat hati senang maupun musibah sebagai ujian kepada hambanya agar menjadi sosok yang lebih kuat.
Waktunya istirahat, kurebahkan badan ini di kasur busa sebagai surga dunia yang paling indah, sambil memutar lagu menemaniku melepas lelah. Secangkir kopi hitam telah kusiapkan untuk menghangatkan suasana karena diluar hujan turun semakin deras. Kupandangi sebuah kalung berwarna emas berliontin salib yang bersanding dengan sebuah kalung perak berliontin lafaz Allah, tergantung dibawah poster foto Ibu Sundari Sukotjo tepat di tengah-tengah dinding kamar kosku. Masih menampakkan kilaunya meski kalung-kalung itu sudah hampir 4 tahun lamanya. Aku bangkit dari tempat tidur, meminum sedikit kopi hitam, sambil menarik nafas dalam sedalam yang aku mampu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu di sore ini, ya aku merasakan suatu kerinduan yang luar biasa dengan pemilik kalung salib yang tergantung dikamarku, seorang yang sangat suka musik klasik, seseorang pecinta sepakbola, seseorang yang suka kopi hitam dan mungkin pernah mencintaiku walaupun tak pernah mengungkapkan sepatah katapun.
“Ya Tuhan hari ini aku kangen banget sama dia, meski tak sebesar kangen ku kepadaMu, tapi sungguh seolah-olah aku merasa sangat lemah dan sangat kehilangan. Hari ini tepat 4 bulan yang lalu dia beranjak pergi dari tempat ini, dia pergi untuk cita-citanya, untuk impiannya dan bodohnya aku belum sempat mengutarakan seluruh perasaanku kepadanya. Perbedaan keyakinanlah yang menghalangi, aku bahkan hanya bisa diam membisu saat ku ingin mengucapkan seluruh rasa cinta ini aku takut rasa cinta kepada makhluk ciptaanMu melebihi rasa cintaku padaMu. Tak kuasa air mata ini menetes, berusaha ku tahan tapi tak sanggup karena mungkin ini air mata rindu yang mencapai puncaknya.
Aku bukan seorang penulis tetapi hari ini tiba-tiba ingin sekali aku ingin sekali memainkan jariku di keyboard yang biasanya hanya kupakai untuk membuat tugas. Aku ingin menulis tentang dirimu tentang cerita kita, walaupun mungkin tidak berujung bahagia tidak apa karena mungkin dengan tulisan ini aku bisa mencurahkan segala isi hati dan kerinduanku kepada mu. Kenangan indah tentang hari-hari yang pernah kulalui dengan seorang bidadari yang telah merubah seluruh hidupku, meski meninggalkan perasaan yang terus menggantung entah sampai kapan. Bidadari yang datang di hidupku, menemaniku sejenak lalu pergi meninggalkan patahan salibnya di hidupku.
Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu
Sekilas Gambar Tentang Aku
Harapan Sesuai dengan Kenyataan
Kerikil Kecil dan Awan yang Jauh
Pertemuan dengan Sahabat
Sepatu Mengawali Sebuah Impian
Dunia Kampus dan Teman Baru
Keluarga Kecil Bernama HALTE
Sesuatu Mengganggu Pesta Akhir Smester
Diantara Rasa Kagum dan Penasaran
Meluapnya Sebuah Emosi
Hubungan yang Semakin Dekat
Kegelisahan Menghadapi Perasaan yang Berbeda
Siang Menjadi Malam dan Sebaliknya
Perjalanan yang Semakin Indah
Momen Menggelikan dan Warna Kehidupan
Dilema Menghadapi Ungkapan Perasaan
Tetangga di Sekitar Kami
Liontin Salib untuk Leher yang Indah
Kepedihan Cerita di Masa Lalu
Senyuman untuk Hati yang Terluka
Sosok yang Menjadi Pertanyaan
Mencoba Menghilangkan Trauma
Pelangi yang Hilang Bersama Turunnya Hujan
Malam Kebahagiaan Bersama Keluarga Kecil
Bidadari Kecil Kini Telah Dewasa
Kebahagiaan Kini Tinggal Prasasti
Semua Terjadi Sangat Cepat
Sebuah Cinta yang Salah
Surga yang Tak Layak untuk Dilihat
Rumput Dingin Di Bawah Bangku Taman
Pahitnya Sebuah Ucapan
Air Mata Menepis Kerasnya Kata-kata
Satu Langkah ke Arah Normal
Bertahan Hanya dalam Waktu Singkat
Semakin Tenggelam dalam Kedekatan
Lilin Kecil di Malam Penuh Kebahagiaan
Selamat Datang Kemarau
Kerinduan yang Teramat Dalam
Hembusan Angin Masa Lalu
Sayap yang Kuat Untuk Bidadari Kecil
Tinta Biru Menorehkan Luka
Berusaha Menyembunyikan Luka
Hilangnya Rasa Segan
Keberhasilan Tanpa Perayaan
Berharap Hanya Andai Saja
Serpihan Kenangan yang Menyiksa
Tempat Baru
Berita Baik Bersama Undangan
Selamat Menempuh Hidup Baru
Kesan yang Baik di Hari Pertama
Insiden Kecil dan Masa yang Telah Terlewati
Menutup Momen 4 Tahun Kebersamaan
Kotak Makan Siang
Keberanian Untuk Memulai
Pahitnya Sambutan Selamat Datang
Seperti Kembali ke Waktu Itu
Teka Teki dari Perhatian Sederhana
Cerita di Ujung Sore
Peneduh Panasnya Amarah
Mengungungkapkan tak Semudah Membayangkan
Titik Terang yang Terasa Gelap
Patahan Salib Bidadari
Terimakasih Untuk Masa yang Terlewati
Apa yang Sebenarnya Terjadi
Kembali Terjatuh
Dunia Ciptakan Keindahan
Dan Kebahagiaan [TAMAT]
Kata Penutup (Q&A)
Diubah oleh setiawanari 10-07-2018 17:35
nona212 dan calebs12 memberi reputasi
3
111.2K
608
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
setiawanari
#16
Sesuatu Mengganggu Pesta Akhir Smester
Keburukan kadang menimbulkan kebencian tetapi kadang keburukan juga yang membawaku ke banyak teman. Hari untuk pesta perayaan selesainya UAS smester pertama pun tiba, sudah ada 8 orang berkumpul. Seperti biasa yang tidak pernah absen adalah Kelvin, Fajar, Ipang, Angga mereka hadir paling awal, kumpulan anak-anak pengusaha. Sedangkan aku menyusul di ikuti Ucup, Ari, dan Riski, sementara Sandro belum tampak mukanya. Setelah uang terkumpul akhirnya kami membeli 2 botol Abs*lute dan 3 botol G*lbeys entah KW keberapa. Kami ada chanel ke penjual barang tersebut. Meski awal Februari tetapi malam ini sangat cerah, mungkin langit mengijinkan pesta kecil kami.
Season are changing and wave are crossing
And star are falling all for us
Days grow longer and night grow shorter
I can show you ill be the one
Tanpa terasa 2 botol minuman telah kering dan malam semakin sepi, lalu lalang kendaraan mulai berkurang.
“Woi gantian dong main gitarnya, jari gua kapalan nih,” Kataku.
Pada saat bermain gitar aku orang yang mendapat tugas untuk memainkannya padahal diantara kami masih banyak yang lebih pandai memainkan gitar. Alasannya sederhana kebanyakan bermain gitar melody dan bass sedangkan untuk rhythm tidak ada yang hafal kunci dari berbagai lagu dan sekalinya ada yang hafal gencrengannya kurang power alias pelan.
“Udah lo aja Wan, kalo lagi kobam lo kan jago main gitarnya.” Jawab Fajar.
“Iya Wan, lo kan kalau lagi begini udah lempeng aja sampai gitar senarnya putus satu lagunya ma masih masuk aja, lanjut terus.” Lanjut Ucup.
“Tapi gua capek bro istirahat dulu lah, sambil cerita-cerita, ngomong-ngomong Sandro belum dateng, kemana anak itu ya?” Kataku.
“Gak, tau sms dari tadi belum dibalas, di telpon nomernya juga gak aktif, palingan ngumpet di cancut ceweknya.” Jawab ipang.
“Eh Wan disini kan lo yang paling tua, kemarin anak-anak 2007 ada yg nyolot ngajakin ikut gabung di acara peringatan 12 mei dan sedikit maksa, kayanya sih anak senat, enaknya diapain ya?” Kata Risky.
“Ooh si Budi, iya dia anak senat, emang gayanya sok-sok an, nongkrong di halte aja ga pernah masa tau tau ajakin demo, tapi kemarin udah ditegur Rudy, kalau masih nyolot kita gebukin aja.” Jawabku
“Nah gitu dong bang, ente kan harusnya angkatan 2006 tapi telat kuliah kalau ada yang macem-macem beri aja bang.” Kata Ari.
“Wah tua dong gua? Hahahhahahah tapi muka tua an lo Mbon.” Kataku kepada Kelvin.
“Abang yang satu ini bisa kali dia bicara, aku tidak tua tapi bermain layangan terus tiap hari dikampung sana jadi aku punya kulit ini hitam semua.” Jawab Kelvin.
“Terus gimana Wan?” Kata Riski.
“Gimana apanya? Ya kita lihat aja kalau masuk smester dua dan dia masih ngenges kita kerasin aja lagian anak-anak 2008 di halte lebih banyak, kalau masih kurang tar gua bawain orang-orang gua, kalau masih kurang gua bawa yg lebih keras lagi tetangganya ambon orang Flores.” Jawabku.
“Banyak juga pasukan lo Wan.” Kata Riski.
“Bukannya pasukan itu temen minum doang hahahahaha.” Kataku.
Waktu telah memasuki tengah malam, minuman hanya tinggal 2 botol ditengah-tengah pembicaraan kami Sandro datang membonceng seorang wanita, dan diikuti dua orang wanita berboncengan dengan motor matic.
“Wah dateng juga lo, minuman udah mau habis baru lo nongol, bawa anak orang lagi, gak dicariin emaknya tu.” Kata Ari.
“Sory bray, muter-muter dulu tadi, nih kenalin temen-temen gua.’’ Kata Sandro.
Akhirnya mereka pun bergabung setelah memperkenalkan diri. Ternyata mereka satu kampus dengan kami hanya jarang berkumpul di sini.
“Wah lo orang medan juga ya len? Medannya mana?” Kata Riski bertanya pada Lena.
“Iya, gua dari Brastagi masih satu marga sama Sandro, kalau Dina sama Dewi dari Surabaya.” Jawab Lena
“Wah satu kota dong sama gua.” Kata Ucup.
“Lo diem aja Wan? Masih kurang apa? Tenang tar gua tambahin, ayo lah mainkan lagi gitarnya.” Kata Sandro.
“Kagak, ehhhmmm gini hp gua ketinggalan di kos, penting!!! gua ambil dulu ya, tar gua balik lagi.” Kataku.
“Ah alesan aja, masa lo mau cabut duluan gak frend lo lah.” Jawab Sandro.
“Bener bro, adik gua yg dikampung mau kesini, ini mau gua telpon soalnya bis dari sana biasanya sampainya jam dua pagi, gua takut dia telepon tar.” Kataku sambil mengedipkan mata ke Fajar
“Ooh yaudah gua ikut, pakai motor lo ya Wan, kalau gak diikutin kabur ni anak.” Kata Fajar.
“Sip, awas lo bedua gak balik lagi.” Kata Sandro.
Aku dan Fajar meninggalkan halte, meninggalkan mereka menuju tempat kos.
“Lo tau kan Jar maksud gua.” Kataku ditengah-tengah perjalanan.
“Iya gua tau, tapi emang sampai segitunya ya Wan, w gak enak juga sama Sandro, ngamuk lagi tu anak tar dia kan orangnya nekat.” Jawab Fajar.
“Udah lo tenang aja bilang aja gua jemput adik gua, gak bakalan marah, walaupun orangnya keras adatnya dia ma menghormati yang lebih tua.” Kataku.
Kami pun tiba didepan pintu kos.
“Mau masuk dulu gak Jar? Oh ya lo kan bawa mobil tar motor lo suruh bawa Ambon aja.” Kataku
“Oh kos lo disini, yaudah gua langsung balik aja, tar anak-anak nyariin lagi.” Jawab Fajar.
“Oke thanks ya sob.” Kataku sambil membuka gembok kos kosan kemudian beranjak masuk.
Kepala sedikit pusing namun masih jelas pandanganku karena biasanya baru pulang kalau sudah muntah-muntah. Sampai di depan kamar, aku kaget melihat seorang wanita sedang berdiri sambil menelpon di teras samping kamarku. Dia memakai setelan jeans hitam dan kaos berwarna hitam sehingga sangat kontras tengan tembok dan keramik berwarna putih. Aku tidak begitu mengetahui apa yang dibicarakan, sepertinya dia memberi tau pacarnya tentang kepindahannya.
Ternyata samping kamar kosku telah diisi orang kembali setelah seminggu lalu ditinggal mas Ridwan, karena pindah tugas ke Sumatera. Ada perasaan sedih karena pada saat Mas Ridwan masih ada aku sering tidur dikamarnya yang ber AC. Kebiasaan ini karena dia sering sekali pergi keluar kota dan jarang pulang untuk pekerjaannya sebagai kameramen. Setiap keluar kota inilah Mas Ridwan sering menitipkan kunci kamarnya dan aku diijinkan tidur disana.
“Kapan datengnya? Perasaan tadi pagi masih kosong, gak bisa tidur di kamar AC lagi kalau begini ceritanya.” Batinku.
Akupun segera merebahkan diri di atas sping bed dengan kepala pusing ada perasaan kecewa dengan hal ini tetapi mungkin ini saatnya teman-temanku tau kebiasaanku selain Fajar dan Kelvin alias Ambon.
Esuk paginya aku terbangun agak siang, kulihat ada lebih dari 10 panggilan masuk di telepon selulerku.
“Ternyata baru jam 9,” Batinku.
Baru saja ingin melanjutkan tidur hp ku berbunyi.
“Iya haloo,'' Jawabku
“Woi, lo dimana gua depan Kos lo ni mau numpang tidur,'' Jawab suara di telpon itu ternyata Sandro.
“Sip.'' Kataku sambil mematikan telepon kemudian turun dan membukakan gerbang.
“Lo gak gak pulang San?”
“Aah tadi gua tidur di Kos cewe gua, ini saudaranya mau dateng, makanya gua kemari, masih pusing pala gua.'' Jawab sandro sambil ngeloyor ke kamar ku.
Kami pun tidur kembali sampai Azan Zuhur berkumandang, terbangun dengan perut terasa lapar. Setelah Mandi kami segera menuju warung nasi Pak Marno salah satu warung nasi terdekat dari tempat kos dengan masakan paling enak dan harga paling murah untuk mengisi perut.
“Wan, sorry semalem ya, gua gak tau kebiasaan lo, Fajar udah cerita sama gua sama anak-anak juga,'' Kata Sandro sambil menikmati makanan.
“Oh, gua yg harusnya minta maaf San, cabut gitu aja terus pakai boong segala, masalahnya kalau gua to the point gua takut nyinggung cewek-cewek yg lo ajak.”
“Hahahahaha awalnya mau gua samperin ke kosan, tapi Fajar nglarang dan jelasin masalahnya untung belum mabuk gua kalau udah bisa tonjok-tonjokan kita, lha kok bisa gitu Wan? Bukannya minum-minum paling enak kalau ada cewek-ceweknya.''
“Oh itu, masalahnya gua gak nyaman aja San, kalau lagi minum-minum diluar begitu terus ada ceweknya, apalagi cewek itu masih satu almamater sama kita,'' jawabku
“Aah gak mungkin cuma itu doang, Fajar bilangnya lain sama gua,'' kata Sandro.
“Hahahahaha iya sama ada trauma mendalam San, kejadiannya udah lama tapi sampai sekarang masih membekas aja. Hampir sama kejadiannya kaya semalem waktu itu gua sama temen-temen SMA abis tes smesteran ngadain minum-minum. Terus ada beberapa cewek adik kelas yang gabung, kami pun minum bersama. Hal itu menjadi kebiasaan bagi kami, hingga pada akhirnya saat udah pada mabuk terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.” Ceritaku
“Tidak diinginkan gimana?'' Jawab Sandro penasaran.
“Namanya orang mabuk pasti lepas kontrol San, waktu itu kami minum berdelapan cowok 6 dan 2 cewek, 4 orang cowok diantara kami udah mabuk parah, berniat melakukan tindakan gak senonoh sama kedua cewek, tindakan tersebut akhirnya membuat kami berselisih paham. akhirnya terjadi keributan.” Kataku melanjutkan cerita.
“Oh gitu, minum dulu tu, biar nasinya gak nyangkut,'' Kata Sandro sambil menyodorkan es teh manis.
“Ini bekasnya,'' kataku sambil memperlihatkan bekas luka di lengan kiriku.
“Wih kenapa tu? Bekas kesundut rokok?” Jawab Sandro
“Bekas kesundut rokok otak lo, ini bekas kena arit.”
“Arit apaan tu?'' Tanya Sandro
“Oh ya lo kan orang Medan jadi gak tau arit, hahahahaha itu alat buat motong padi bentuknya kaya celurit.'' Kataku menjelaskan
“Wah ngeri juga temen-temen kau disana bro,'' kata Sandro.
“Ya Karena keadaan emosi pengaruh alkhohol jadi diantara kami ada yang ambil arit terus mau dibacokkin ke temen gua, kebetulan gw masih sadar dan spontan aja gua halangin pakai tangan. Hasilnya ya tangan gua sobek, darah keluar tapi dengan keluarnya darah mereka sadar campur ketakutan. Waktu itu gua hanya bisa mengerang sambil megangin tangan. Warga berdatangan denger keributan. Anak-anak semua dibawa ke balai desa sementara gw dilarikan ke rumah sakit. Semua terjadi sangat cepat dan orang tua dari cewek tersebut nggak terima. Meskipun akhirnya diselesaikan dengan jalan kekeluargaan karena tindakan tidak senonoh belum terjadi.'' Lanjutku bercerita.
“Oh jadi ceritanya begitu? Kenapa gak bilang dari dulu-dulu, jadi kan gua tau kebiasaan lo, dan semalem gua gak bawa panlok-panlok itu.'' Kata Sandro
“Panlok apaan Bray? Tanyaku.
“Panda Lokal, hahahahahaha.'' Jawab Sandro.
Kami pun seselasai makan, menghabiskan beberapa batang rokok, dan tidak lupa membayar makanan.
“Wan gua cabut dulu ya, lo mau ngambil motor gak? gua anterin ke tempat Ambon ayok?” Kata Sandro
“Gak usah San tadi udah gua SMS tar dia mau kemari. Lo duluan aja.”
“Oke gua duluan kalau begitu.''
Sip, ati-ati San.''
Sandro pun pulang, tinggal aku, Pak Marno dan Wati anak Pak Marno yang membantu dia berjualan.
“Tumben sepi Pak, biasanya jam segini rame-ramenya.'' Tanyaku
“Ya begini, pelanggan warung ini kan cuma anak-anak kos, kalau abis UAS begini ya sepi rata-rata mereka pada balik ke daerah masing-masing.'' Jawab Pak marno.
“Terus yg utang-utang udah pada bayar belum tu?”
“Aah disini ma gak ada yg utang-utang Wan, cuma satu orang doang yang utang mana kadang-kadang lupa kalau gak diingetin,''
“Siapa itu pak, jangan dikasih itu ma kebiasaan.''
“Lha ini orangnya disini hahahahha.''
“Ooh saya ya hehehehehe yah maaf lah Pak E tau sendiri saya kan sebatangkara di Jakarta Pak E.'' Jawabku cengar cengir.
“Becanda wan, hehehehehe iya aku tau kok kondisi kamu lagian kamu juga udah saya anggap keluarga sendiri, kita kan sama-sama orang merantau, oh ya minggu depan bapak mau pulang wan.”
“Lho kok tumben Pak, biasanya balik kalau lebaran doang.”
“Ini ada keperluan mendadak, noh mau ngawinin Wati.”
“Oohhh hahahahaha lha bukannya belum lama dia pacarannya? Kok cepet amat?''
“Yaah tau sendiri anak muda sekarang kalau pacaran kaya gimana wan, liat gelap dikit langsung khilap.” Kata Pak Marno
“Jadi Wati udah.........'' Kataku sambil menunjuk perut Wati
“Ya begitulah,'' kata Pak Marno sambil menghisap rokok dalam-dalam.
“Wah hebat lo Wati, belum lama dijakarta udah laku.'' Teriakku ke Wati yang sedang memotong Tempe.
“Laku opo to mas, lha wong kelepasan jadinya ya begini.'' Jawab Wati
“Kalau pacaran makanya jangan ke pojokan mulu akhirnya jadi lah tu ponakan gua.'' Kataku mengejek.
Wati hanya tersenyum, sambil terus melanjutkan aktivitasnya. Ditengah pembicaraan kami Ambon dateng membawa motor ku. Setelah berpamitan ke Pak marno kami menuju tempat Kos Ambon, lalu aku langsung pulang.
Lega rasanya hari ini karena anak-anak anak tidak ada yang marah atas kejadiannya semalam, terlebih Sandro dan yang lainnya mengetahui kebiasaanku. Kebiasaan yang tidak tau entah sampai kapan harus tidak ada wanita saat kami pesta minuman. Aku masih takut, keringat dingin selalu keluar dan diiringi rasa gemetar disukujur tubuhku.
Tit...tit...tit...tit...tit. (sms masuk)
“Wan gua udah sampai rumah, itu ada Bl*ck L*bel gua taruh samping lemari, spesial buat lo dari cewe gua si Lena, semalem suruh nyisain.” SMS dari Sandro.
“Wah jadi ngrepotin aja, harusnya dihabisin aja. Jadi anak-anak tau semuanya semalem.? Wah jadi gak enak gua San.” Jawabku
“Tau lah, Fajar udah cerita semuanya, yaudah gakpapa biar clear aja jadi enak, oh ya lo dapet salam dari Dina sama Dewi mau diajak minum bareng, biar trauma lo ilang katanya wwkwkkwkwkwk.”
“Ah lo bisa aja, yaudah thanks bro.”
Aku pun segera membuka plastik hitam disamping kemari, Dan ternyata isinya 1 botol Bl*ck L*bel dan masih tersegel.
“Wah original ini, jadi harus diminum di waktu yang tepat.'' Batinku sambil menyimpannya didalam lemari baju.
Malam telah tiba, hujan mulai berhenti hanya gerimis kecil yang menggantikan derasnya hujan. Beberapa daerah mulai tergenang air termasuk jalanan komplek depan tempat kosku.
Tidak terlalu tinggi tapi genangannya cukup membuat jalanan menjadi sepi di malam minggu ini. Penghuni komplek yang mayoritas orang ngekos lebih memilih tinggal di dalam kamar. Ditambah ini libur semester jadi banyak para mahasiswa yang pulang ke daerahnya masing-masing.
Season are changing and wave are crossing
And star are falling all for us
Days grow longer and night grow shorter
I can show you ill be the one
Tanpa terasa 2 botol minuman telah kering dan malam semakin sepi, lalu lalang kendaraan mulai berkurang.
“Woi gantian dong main gitarnya, jari gua kapalan nih,” Kataku.
Pada saat bermain gitar aku orang yang mendapat tugas untuk memainkannya padahal diantara kami masih banyak yang lebih pandai memainkan gitar. Alasannya sederhana kebanyakan bermain gitar melody dan bass sedangkan untuk rhythm tidak ada yang hafal kunci dari berbagai lagu dan sekalinya ada yang hafal gencrengannya kurang power alias pelan.
“Udah lo aja Wan, kalo lagi kobam lo kan jago main gitarnya.” Jawab Fajar.
“Iya Wan, lo kan kalau lagi begini udah lempeng aja sampai gitar senarnya putus satu lagunya ma masih masuk aja, lanjut terus.” Lanjut Ucup.
“Tapi gua capek bro istirahat dulu lah, sambil cerita-cerita, ngomong-ngomong Sandro belum dateng, kemana anak itu ya?” Kataku.
“Gak, tau sms dari tadi belum dibalas, di telpon nomernya juga gak aktif, palingan ngumpet di cancut ceweknya.” Jawab ipang.
“Eh Wan disini kan lo yang paling tua, kemarin anak-anak 2007 ada yg nyolot ngajakin ikut gabung di acara peringatan 12 mei dan sedikit maksa, kayanya sih anak senat, enaknya diapain ya?” Kata Risky.
“Ooh si Budi, iya dia anak senat, emang gayanya sok-sok an, nongkrong di halte aja ga pernah masa tau tau ajakin demo, tapi kemarin udah ditegur Rudy, kalau masih nyolot kita gebukin aja.” Jawabku
“Nah gitu dong bang, ente kan harusnya angkatan 2006 tapi telat kuliah kalau ada yang macem-macem beri aja bang.” Kata Ari.
“Wah tua dong gua? Hahahhahahah tapi muka tua an lo Mbon.” Kataku kepada Kelvin.
“Abang yang satu ini bisa kali dia bicara, aku tidak tua tapi bermain layangan terus tiap hari dikampung sana jadi aku punya kulit ini hitam semua.” Jawab Kelvin.
“Terus gimana Wan?” Kata Riski.
“Gimana apanya? Ya kita lihat aja kalau masuk smester dua dan dia masih ngenges kita kerasin aja lagian anak-anak 2008 di halte lebih banyak, kalau masih kurang tar gua bawain orang-orang gua, kalau masih kurang gua bawa yg lebih keras lagi tetangganya ambon orang Flores.” Jawabku.
“Banyak juga pasukan lo Wan.” Kata Riski.
“Bukannya pasukan itu temen minum doang hahahahaha.” Kataku.
Waktu telah memasuki tengah malam, minuman hanya tinggal 2 botol ditengah-tengah pembicaraan kami Sandro datang membonceng seorang wanita, dan diikuti dua orang wanita berboncengan dengan motor matic.
“Wah dateng juga lo, minuman udah mau habis baru lo nongol, bawa anak orang lagi, gak dicariin emaknya tu.” Kata Ari.
“Sory bray, muter-muter dulu tadi, nih kenalin temen-temen gua.’’ Kata Sandro.
Akhirnya mereka pun bergabung setelah memperkenalkan diri. Ternyata mereka satu kampus dengan kami hanya jarang berkumpul di sini.
“Wah lo orang medan juga ya len? Medannya mana?” Kata Riski bertanya pada Lena.
“Iya, gua dari Brastagi masih satu marga sama Sandro, kalau Dina sama Dewi dari Surabaya.” Jawab Lena
“Wah satu kota dong sama gua.” Kata Ucup.
“Lo diem aja Wan? Masih kurang apa? Tenang tar gua tambahin, ayo lah mainkan lagi gitarnya.” Kata Sandro.
“Kagak, ehhhmmm gini hp gua ketinggalan di kos, penting!!! gua ambil dulu ya, tar gua balik lagi.” Kataku.
“Ah alesan aja, masa lo mau cabut duluan gak frend lo lah.” Jawab Sandro.
“Bener bro, adik gua yg dikampung mau kesini, ini mau gua telpon soalnya bis dari sana biasanya sampainya jam dua pagi, gua takut dia telepon tar.” Kataku sambil mengedipkan mata ke Fajar
“Ooh yaudah gua ikut, pakai motor lo ya Wan, kalau gak diikutin kabur ni anak.” Kata Fajar.
“Sip, awas lo bedua gak balik lagi.” Kata Sandro.
Aku dan Fajar meninggalkan halte, meninggalkan mereka menuju tempat kos.
“Lo tau kan Jar maksud gua.” Kataku ditengah-tengah perjalanan.
“Iya gua tau, tapi emang sampai segitunya ya Wan, w gak enak juga sama Sandro, ngamuk lagi tu anak tar dia kan orangnya nekat.” Jawab Fajar.
“Udah lo tenang aja bilang aja gua jemput adik gua, gak bakalan marah, walaupun orangnya keras adatnya dia ma menghormati yang lebih tua.” Kataku.
Kami pun tiba didepan pintu kos.
“Mau masuk dulu gak Jar? Oh ya lo kan bawa mobil tar motor lo suruh bawa Ambon aja.” Kataku
“Oh kos lo disini, yaudah gua langsung balik aja, tar anak-anak nyariin lagi.” Jawab Fajar.
“Oke thanks ya sob.” Kataku sambil membuka gembok kos kosan kemudian beranjak masuk.
Kepala sedikit pusing namun masih jelas pandanganku karena biasanya baru pulang kalau sudah muntah-muntah. Sampai di depan kamar, aku kaget melihat seorang wanita sedang berdiri sambil menelpon di teras samping kamarku. Dia memakai setelan jeans hitam dan kaos berwarna hitam sehingga sangat kontras tengan tembok dan keramik berwarna putih. Aku tidak begitu mengetahui apa yang dibicarakan, sepertinya dia memberi tau pacarnya tentang kepindahannya.
Ternyata samping kamar kosku telah diisi orang kembali setelah seminggu lalu ditinggal mas Ridwan, karena pindah tugas ke Sumatera. Ada perasaan sedih karena pada saat Mas Ridwan masih ada aku sering tidur dikamarnya yang ber AC. Kebiasaan ini karena dia sering sekali pergi keluar kota dan jarang pulang untuk pekerjaannya sebagai kameramen. Setiap keluar kota inilah Mas Ridwan sering menitipkan kunci kamarnya dan aku diijinkan tidur disana.
“Kapan datengnya? Perasaan tadi pagi masih kosong, gak bisa tidur di kamar AC lagi kalau begini ceritanya.” Batinku.
Akupun segera merebahkan diri di atas sping bed dengan kepala pusing ada perasaan kecewa dengan hal ini tetapi mungkin ini saatnya teman-temanku tau kebiasaanku selain Fajar dan Kelvin alias Ambon.
Esuk paginya aku terbangun agak siang, kulihat ada lebih dari 10 panggilan masuk di telepon selulerku.
“Ternyata baru jam 9,” Batinku.
Baru saja ingin melanjutkan tidur hp ku berbunyi.
“Iya haloo,'' Jawabku
“Woi, lo dimana gua depan Kos lo ni mau numpang tidur,'' Jawab suara di telpon itu ternyata Sandro.
“Sip.'' Kataku sambil mematikan telepon kemudian turun dan membukakan gerbang.
“Lo gak gak pulang San?”
“Aah tadi gua tidur di Kos cewe gua, ini saudaranya mau dateng, makanya gua kemari, masih pusing pala gua.'' Jawab sandro sambil ngeloyor ke kamar ku.
Kami pun tidur kembali sampai Azan Zuhur berkumandang, terbangun dengan perut terasa lapar. Setelah Mandi kami segera menuju warung nasi Pak Marno salah satu warung nasi terdekat dari tempat kos dengan masakan paling enak dan harga paling murah untuk mengisi perut.
“Wan, sorry semalem ya, gua gak tau kebiasaan lo, Fajar udah cerita sama gua sama anak-anak juga,'' Kata Sandro sambil menikmati makanan.
“Oh, gua yg harusnya minta maaf San, cabut gitu aja terus pakai boong segala, masalahnya kalau gua to the point gua takut nyinggung cewek-cewek yg lo ajak.”
“Hahahahaha awalnya mau gua samperin ke kosan, tapi Fajar nglarang dan jelasin masalahnya untung belum mabuk gua kalau udah bisa tonjok-tonjokan kita, lha kok bisa gitu Wan? Bukannya minum-minum paling enak kalau ada cewek-ceweknya.''
“Oh itu, masalahnya gua gak nyaman aja San, kalau lagi minum-minum diluar begitu terus ada ceweknya, apalagi cewek itu masih satu almamater sama kita,'' jawabku
“Aah gak mungkin cuma itu doang, Fajar bilangnya lain sama gua,'' kata Sandro.
“Hahahahaha iya sama ada trauma mendalam San, kejadiannya udah lama tapi sampai sekarang masih membekas aja. Hampir sama kejadiannya kaya semalem waktu itu gua sama temen-temen SMA abis tes smesteran ngadain minum-minum. Terus ada beberapa cewek adik kelas yang gabung, kami pun minum bersama. Hal itu menjadi kebiasaan bagi kami, hingga pada akhirnya saat udah pada mabuk terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.” Ceritaku
“Tidak diinginkan gimana?'' Jawab Sandro penasaran.
“Namanya orang mabuk pasti lepas kontrol San, waktu itu kami minum berdelapan cowok 6 dan 2 cewek, 4 orang cowok diantara kami udah mabuk parah, berniat melakukan tindakan gak senonoh sama kedua cewek, tindakan tersebut akhirnya membuat kami berselisih paham. akhirnya terjadi keributan.” Kataku melanjutkan cerita.
“Oh gitu, minum dulu tu, biar nasinya gak nyangkut,'' Kata Sandro sambil menyodorkan es teh manis.
“Ini bekasnya,'' kataku sambil memperlihatkan bekas luka di lengan kiriku.
“Wih kenapa tu? Bekas kesundut rokok?” Jawab Sandro
“Bekas kesundut rokok otak lo, ini bekas kena arit.”
“Arit apaan tu?'' Tanya Sandro
“Oh ya lo kan orang Medan jadi gak tau arit, hahahahaha itu alat buat motong padi bentuknya kaya celurit.'' Kataku menjelaskan
“Wah ngeri juga temen-temen kau disana bro,'' kata Sandro.
“Ya Karena keadaan emosi pengaruh alkhohol jadi diantara kami ada yang ambil arit terus mau dibacokkin ke temen gua, kebetulan gw masih sadar dan spontan aja gua halangin pakai tangan. Hasilnya ya tangan gua sobek, darah keluar tapi dengan keluarnya darah mereka sadar campur ketakutan. Waktu itu gua hanya bisa mengerang sambil megangin tangan. Warga berdatangan denger keributan. Anak-anak semua dibawa ke balai desa sementara gw dilarikan ke rumah sakit. Semua terjadi sangat cepat dan orang tua dari cewek tersebut nggak terima. Meskipun akhirnya diselesaikan dengan jalan kekeluargaan karena tindakan tidak senonoh belum terjadi.'' Lanjutku bercerita.
“Oh jadi ceritanya begitu? Kenapa gak bilang dari dulu-dulu, jadi kan gua tau kebiasaan lo, dan semalem gua gak bawa panlok-panlok itu.'' Kata Sandro
“Panlok apaan Bray? Tanyaku.
“Panda Lokal, hahahahahaha.'' Jawab Sandro.
Kami pun seselasai makan, menghabiskan beberapa batang rokok, dan tidak lupa membayar makanan.
“Wan gua cabut dulu ya, lo mau ngambil motor gak? gua anterin ke tempat Ambon ayok?” Kata Sandro
“Gak usah San tadi udah gua SMS tar dia mau kemari. Lo duluan aja.”
“Oke gua duluan kalau begitu.''
Sip, ati-ati San.''
Sandro pun pulang, tinggal aku, Pak Marno dan Wati anak Pak Marno yang membantu dia berjualan.
“Tumben sepi Pak, biasanya jam segini rame-ramenya.'' Tanyaku
“Ya begini, pelanggan warung ini kan cuma anak-anak kos, kalau abis UAS begini ya sepi rata-rata mereka pada balik ke daerah masing-masing.'' Jawab Pak marno.
“Terus yg utang-utang udah pada bayar belum tu?”
“Aah disini ma gak ada yg utang-utang Wan, cuma satu orang doang yang utang mana kadang-kadang lupa kalau gak diingetin,''
“Siapa itu pak, jangan dikasih itu ma kebiasaan.''
“Lha ini orangnya disini hahahahha.''
“Ooh saya ya hehehehehe yah maaf lah Pak E tau sendiri saya kan sebatangkara di Jakarta Pak E.'' Jawabku cengar cengir.
“Becanda wan, hehehehehe iya aku tau kok kondisi kamu lagian kamu juga udah saya anggap keluarga sendiri, kita kan sama-sama orang merantau, oh ya minggu depan bapak mau pulang wan.”
“Lho kok tumben Pak, biasanya balik kalau lebaran doang.”
“Ini ada keperluan mendadak, noh mau ngawinin Wati.”
“Oohhh hahahahaha lha bukannya belum lama dia pacarannya? Kok cepet amat?''
“Yaah tau sendiri anak muda sekarang kalau pacaran kaya gimana wan, liat gelap dikit langsung khilap.” Kata Pak Marno
“Jadi Wati udah.........'' Kataku sambil menunjuk perut Wati
“Ya begitulah,'' kata Pak Marno sambil menghisap rokok dalam-dalam.
“Wah hebat lo Wati, belum lama dijakarta udah laku.'' Teriakku ke Wati yang sedang memotong Tempe.
“Laku opo to mas, lha wong kelepasan jadinya ya begini.'' Jawab Wati
“Kalau pacaran makanya jangan ke pojokan mulu akhirnya jadi lah tu ponakan gua.'' Kataku mengejek.
Wati hanya tersenyum, sambil terus melanjutkan aktivitasnya. Ditengah pembicaraan kami Ambon dateng membawa motor ku. Setelah berpamitan ke Pak marno kami menuju tempat Kos Ambon, lalu aku langsung pulang.
Lega rasanya hari ini karena anak-anak anak tidak ada yang marah atas kejadiannya semalam, terlebih Sandro dan yang lainnya mengetahui kebiasaanku. Kebiasaan yang tidak tau entah sampai kapan harus tidak ada wanita saat kami pesta minuman. Aku masih takut, keringat dingin selalu keluar dan diiringi rasa gemetar disukujur tubuhku.
Tit...tit...tit...tit...tit. (sms masuk)
“Wan gua udah sampai rumah, itu ada Bl*ck L*bel gua taruh samping lemari, spesial buat lo dari cewe gua si Lena, semalem suruh nyisain.” SMS dari Sandro.
“Wah jadi ngrepotin aja, harusnya dihabisin aja. Jadi anak-anak tau semuanya semalem.? Wah jadi gak enak gua San.” Jawabku
“Tau lah, Fajar udah cerita semuanya, yaudah gakpapa biar clear aja jadi enak, oh ya lo dapet salam dari Dina sama Dewi mau diajak minum bareng, biar trauma lo ilang katanya wwkwkkwkwkwk.”
“Ah lo bisa aja, yaudah thanks bro.”
Aku pun segera membuka plastik hitam disamping kemari, Dan ternyata isinya 1 botol Bl*ck L*bel dan masih tersegel.
“Wah original ini, jadi harus diminum di waktu yang tepat.'' Batinku sambil menyimpannya didalam lemari baju.
Malam telah tiba, hujan mulai berhenti hanya gerimis kecil yang menggantikan derasnya hujan. Beberapa daerah mulai tergenang air termasuk jalanan komplek depan tempat kosku.
Tidak terlalu tinggi tapi genangannya cukup membuat jalanan menjadi sepi di malam minggu ini. Penghuni komplek yang mayoritas orang ngekos lebih memilih tinggal di dalam kamar. Ditambah ini libur semester jadi banyak para mahasiswa yang pulang ke daerahnya masing-masing.
Diubah oleh setiawanari 20-10-2017 11:13
g.gowang memberi reputasi
1