- Beranda
- Stories from the Heart
Patahan Salib Bidadari
...
TS
setiawanari
Patahan Salib Bidadari
In the name of Allah, the beneficient, the merciful
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Terimakasih untuk gambar sampulnya awayeye
Terimakasih Kaskus, khususnya untuk sub forum SFTH yang telah menyediakan tempat menampilkan sebuah cerita. Sebuah fasilitas yang akan saya gunakan untuk menulis dimulai dari hari ini hingga di hari-hari selanjutnya.
Terlepas dari nyata atau tidaknya cerita ini, adalah tidak terlalu penting karena sebagian dari kisah nyata dan sebagian dari imaginasi saya. Harapan saya tokoh-tokoh dalam cerita ini dapat menjadi inspirasi untuk para pembaca cerita yang saya tulis ini dapat menjadikan saya untuk terus berkreatifitas.
Mohon maaf jika materi dalam cerita ini nantinya ada kesalahan dan menyinggung pihak-pihak tertentu sekiranya nasihat, kritik dan saran dari agan/sista yang lebih berpengalaman selalu sangat saya harapkan.
Menemani istirahat untuk menghilangkan lelah setelah pulang kerja/sekolah/kuliah, atau saat sedang menunggu sesuatu mari kita baca ceritanya. Ditemani alunan musik dan segelas kopi/cokelat/susu/teh hangat kita kembali ke beberapa tahun yang lalu!!!.
PEMBUKA CERITA
Terpaku di dalam rasa cinta yang tak mungkin pudar, menanti cinta datang membawa arti sampai segenap organ ini berhenti.
Sore itu saat cuaca cerah di lantai 6 gedung akademisi yang melahirkan sarjana ekonomi terbaik aku termenung. Melamunkan manis, asam, asin dan pahitnya segala kehendak Tuhan yang dianugerahkan kepada salah satu ciptaanNya.
Manusia diberikan otak untuk berfikir dan menggunakan logika lalu diberikan hati untuk merasakan. Hati adalah malaikat sedangkan otak kadang menjadi iblis dan sangat sulit untuk mengontrolnya menjadi malaikat. Hati menjerit saat kita berbuat salah sedangkan otak adalah penyebab semua kesalahan yang dilakukan manusia. Malaikat dan iblis adalah gambaran dari manusia, sebagai simbol antara kebaikan dan kejahatan. Kebaikan tidak akan bersanding dengan kejahatan dan sebaliknya.
“Permisi Mas! Bisa pindah duduknya, lantainya mau di bersihkan!” Sapa seorang petugas cleaning service membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya mas”. Jawabku sambil berlalu pergi menuju tempat parkir motor tepatnya dihalaman depan kampus.
Karamnya cinta ini
Tenggelamkanku diduka yang terdalam
Hampa hati terasa
Kau tinggalkanku meski ku tak rela
Salahkah diriku hingga saat ini
Kumasih mengharap
Kau tuk kembali………
Sore itu gerimis turun saat aku pulang, tak terasa sampai ditempat kos yang kebetulan hanya berjarak 10 menit dari kampus air hujan membasahi jaket jeans yang ku kenakan. Segera aku mengambil handuk dan membersihkan diri, bersiap untuk mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Dengan ritual sholat Ashar aku merasakan kedamaian yang tidak ada bandingannya, sebagai bentuk kepatuhan dan rasa syukur atas semua yang diberikan Tuhan baik itu berkah yang membuat hati senang maupun musibah sebagai ujian kepada hambanya agar menjadi sosok yang lebih kuat.
Waktunya istirahat, kurebahkan badan ini di kasur busa sebagai surga dunia yang paling indah, sambil memutar lagu menemaniku melepas lelah. Secangkir kopi hitam telah kusiapkan untuk menghangatkan suasana karena diluar hujan turun semakin deras. Kupandangi sebuah kalung berwarna emas berliontin salib yang bersanding dengan sebuah kalung perak berliontin lafaz Allah, tergantung dibawah poster foto Ibu Sundari Sukotjo tepat di tengah-tengah dinding kamar kosku. Masih menampakkan kilaunya meski kalung-kalung itu sudah hampir 4 tahun lamanya. Aku bangkit dari tempat tidur, meminum sedikit kopi hitam, sambil menarik nafas dalam sedalam yang aku mampu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu di sore ini, ya aku merasakan suatu kerinduan yang luar biasa dengan pemilik kalung salib yang tergantung dikamarku, seorang yang sangat suka musik klasik, seseorang pecinta sepakbola, seseorang yang suka kopi hitam dan mungkin pernah mencintaiku walaupun tak pernah mengungkapkan sepatah katapun.
“Ya Tuhan hari ini aku kangen banget sama dia, meski tak sebesar kangen ku kepadaMu, tapi sungguh seolah-olah aku merasa sangat lemah dan sangat kehilangan. Hari ini tepat 4 bulan yang lalu dia beranjak pergi dari tempat ini, dia pergi untuk cita-citanya, untuk impiannya dan bodohnya aku belum sempat mengutarakan seluruh perasaanku kepadanya. Perbedaan keyakinanlah yang menghalangi, aku bahkan hanya bisa diam membisu saat ku ingin mengucapkan seluruh rasa cinta ini aku takut rasa cinta kepada makhluk ciptaanMu melebihi rasa cintaku padaMu. Tak kuasa air mata ini menetes, berusaha ku tahan tapi tak sanggup karena mungkin ini air mata rindu yang mencapai puncaknya.
Aku bukan seorang penulis tetapi hari ini tiba-tiba ingin sekali aku ingin sekali memainkan jariku di keyboard yang biasanya hanya kupakai untuk membuat tugas. Aku ingin menulis tentang dirimu tentang cerita kita, walaupun mungkin tidak berujung bahagia tidak apa karena mungkin dengan tulisan ini aku bisa mencurahkan segala isi hati dan kerinduanku kepada mu. Kenangan indah tentang hari-hari yang pernah kulalui dengan seorang bidadari yang telah merubah seluruh hidupku, meski meninggalkan perasaan yang terus menggantung entah sampai kapan. Bidadari yang datang di hidupku, menemaniku sejenak lalu pergi meninggalkan patahan salibnya di hidupku.
Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu
Sekilas Gambar Tentang Aku
Harapan Sesuai dengan Kenyataan
Kerikil Kecil dan Awan yang Jauh
Pertemuan dengan Sahabat
Sepatu Mengawali Sebuah Impian
Dunia Kampus dan Teman Baru
Keluarga Kecil Bernama HALTE
Sesuatu Mengganggu Pesta Akhir Smester
Diantara Rasa Kagum dan Penasaran
Meluapnya Sebuah Emosi
Hubungan yang Semakin Dekat
Kegelisahan Menghadapi Perasaan yang Berbeda
Siang Menjadi Malam dan Sebaliknya
Perjalanan yang Semakin Indah
Momen Menggelikan dan Warna Kehidupan
Dilema Menghadapi Ungkapan Perasaan
Tetangga di Sekitar Kami
Liontin Salib untuk Leher yang Indah
Kepedihan Cerita di Masa Lalu
Senyuman untuk Hati yang Terluka
Sosok yang Menjadi Pertanyaan
Mencoba Menghilangkan Trauma
Pelangi yang Hilang Bersama Turunnya Hujan
Malam Kebahagiaan Bersama Keluarga Kecil
Bidadari Kecil Kini Telah Dewasa
Kebahagiaan Kini Tinggal Prasasti
Semua Terjadi Sangat Cepat
Sebuah Cinta yang Salah
Surga yang Tak Layak untuk Dilihat
Rumput Dingin Di Bawah Bangku Taman
Pahitnya Sebuah Ucapan
Air Mata Menepis Kerasnya Kata-kata
Satu Langkah ke Arah Normal
Bertahan Hanya dalam Waktu Singkat
Semakin Tenggelam dalam Kedekatan
Lilin Kecil di Malam Penuh Kebahagiaan
Selamat Datang Kemarau
Kerinduan yang Teramat Dalam
Hembusan Angin Masa Lalu
Sayap yang Kuat Untuk Bidadari Kecil
Tinta Biru Menorehkan Luka
Berusaha Menyembunyikan Luka
Hilangnya Rasa Segan
Keberhasilan Tanpa Perayaan
Berharap Hanya Andai Saja
Serpihan Kenangan yang Menyiksa
Tempat Baru
Berita Baik Bersama Undangan
Selamat Menempuh Hidup Baru
Kesan yang Baik di Hari Pertama
Insiden Kecil dan Masa yang Telah Terlewati
Menutup Momen 4 Tahun Kebersamaan
Kotak Makan Siang
Keberanian Untuk Memulai
Pahitnya Sambutan Selamat Datang
Seperti Kembali ke Waktu Itu
Teka Teki dari Perhatian Sederhana
Cerita di Ujung Sore
Peneduh Panasnya Amarah
Mengungungkapkan tak Semudah Membayangkan
Titik Terang yang Terasa Gelap
Patahan Salib Bidadari
Terimakasih Untuk Masa yang Terlewati
Apa yang Sebenarnya Terjadi
Kembali Terjatuh
Dunia Ciptakan Keindahan
Dan Kebahagiaan [TAMAT]
Kata Penutup (Q&A)
Diubah oleh setiawanari 10-07-2018 17:35
nona212 dan calebs12 memberi reputasi
3
111.2K
608
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
setiawanari
#9
Sepatu Mengawali Sebuah Impian
Manusia terlahir, lalu tumbuh berkembang sebagai makhluk hidup yang paling sempurna diantara makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Kesempurnaan yang kemudian membuat manusia memiliki sifat baik seperti malaikat dan juga bisa jadi sangat kejam melebihi perilaku binatang. Kekejaman perilaku manusia biasanya ada sesuatu hal yang menjadi penyebabnya, salah satu diantaranya adalah impian manusia akan sesuatu. Untuk mencapai suatu impian kadang manusia menggunakan berbagai cara termasuk cara-cara yang tidak pantas dan merugikan manusia lainnya. Banyak orang yang menjilat atasan hanya untuk mendapatkan jabatan, mencuri, korupsi dan menipu karena ingin kaya secara cepat, merusak lingkungan untuk mendapatkan keuntungan yang besar.
Sebagian orang yang mencapai impian melalui proses sedikit demi sedikit dengan cara yang benar dan tidak merugikan orang lain. Tujuannya sama dan dengan cara baik ataupun buruk suatu impian pasti dapat tercapai. Tetapi mana yang akan bertahan lama? Dengan cara yang baik atau buruk? Mungkin dengan cara yang baik. Alasannya impian seseorang yang dicapai melalui proses yang tidak instan, penuh dengan usaha, keringat dan air mata serta cara-cara yang baik pula tidak akan mudah untuk di hancurkan. Hal ini karena proses tersebut adalah pondasi yang paling kuat, tidak ada orang lain yang dirugikan dan pada saat diatas manusia tersebut akan terus mendapat dukungan baik dari orang lain maupun lingkungan.
Hari ini hari pertama aku berjualan dipasar kaget, letaknya di depan gedung kolam renang bersebelahan dengan gelanggang olahraga yang beroprasi di siang hari. Aku berjualan di lapak yang bersebelahan dengan lapak Mang Ending, memang tempat ini beliau yang mencarikannya untukku. Aku mengambil jenis sepatu skate dan beberapa sepatu bahan kulit sintetis di tempat Pak Narto, saudaranya Aji. Tiga lusin sepatu pria dan tiga lusin sepatu wanita dengan model berbeda-beda setiap setengah lusinnya. Ukuran 37-40 untuk sepatu wanita dan 40-42 untuk ukuran pria.
Hari pertama satu lusin sepatu terjual dari 6 lusin sepatu yang aku bawa. Sepasang sepatu mendapat untung 10-15ribu jadi hari ini aku membawa untung 135ribu karena dipotong untuk sewa tempat dan keamanan. Syukurlah aku lihat dagangan mang Ending juga tinggal sedikit, berarti untungnya juga lumayan untuk menghidupi anak-anaknya. Setelah aku masukkan seluruh sepatu kedalam box plastik, akupun beranjak pergi menuju tempat kos. Dan ini akan menjadi kegiatanku setiap hari mungkin akan terhenti suatu saat nanti sampai aku mendapat hal baru yang lebih menarik dan bisa menghasilkan lebih banyak uang lagi.
“Ya Tuhan, semoga ini menjadi jalan menuju impianku menjadi Mahasiswa.” Batin dan doaku setiap selesai berjualan
Sebuah impianku, harapan dari almarhum Bapak dan Ibu yang menginginkan anak lelakinya menjadi sarjana kelak. Meskipun nanti saat aku memakai baju toga mereka hanya akan melihat dari atas sana, dari surga.
Pertengahan tahun 2008, aku mengahibiskan waktu menjadi penjual sepatu pasar kaget di Jakarta. Berpindah-pindah setiap malam mencari tempat dimana pasar kaget diadakan disitu aku menggelar dagangan. Semangatku ini tidak lepas dari Putri dan Indri, mereka yang selalu memberiku secerca dorongan dengan selalu menelpon atau mengirim sms hanya untuk sekedar mengingatkan hal-hal kecil seperti makan dan jaga kesehatan sebelum dan sesudah aku berjualan. Mereka tidak pernah memintaku mengirimkan uang, mungkin juga karena mereka dicukupi oleh Paman untuk makan, sekolah dan kebutuhan sehari-harinya. Hanya kadang kala minta dibelikan hadiah saat ulang tahun dan oleh-oleh disaat kepulanganku di Hari Raya. Setiap bulan aku menransfer uang ke rekening Putri untuk tambahan uang saku, beli pakaian dan keperluan lainnya. Walaupun hanya sedikit dan jauh dari cukup tapi mungkin sedikit membantu. Aku sadar saat ini kedua adikku telah tumbuh menjadi gadis remaja yang memiliki banyak kebutuhan.
Nasib orang berjualan kadang untung banyak kadang sedikit tetapi dibalik itu semua tanpa kusadari depositoku di salah satu bank swasta sudah melebihi cukup untuk membayar uang gedung, dan biaya smester (BPP dan SKS). Sangat cukup sampai semester 4 di salah satu kampus yang tak jauh dari tempat kosku.
Kampus ini sepertinya bagus, akreditasinya A untuk jurusan ekonomi dan biayanyapun relatif terjangkau.” Pikirku sambil membaca brosur dari kampus tersebut.
Drrrrrrrrr, derrrrrrrrr,drrrrrrrrr. Hpku berbunyi
“Hallo, assalamualaikum putri kecilku” Kataku sambil mengangkat telepon.
“Walaikumsallam Mas, udah pulang jualan Mas?” Jawab Putri.
“Udah Put, ini baru mau istirahat sambil baca baca brosur tempat kuliah, adikmu si tembem dah tidur?”
“Udah Mas, pules banget tidurnya kecapean kali tadi abis belajar masak sama Bu Lek.”
“Wih sekarang, adik-adikku udah jago masak jadi tambah kangen aku sama kalian, pengen tau rasa masakannya. Terus kamu kan udah lulus Put, gimana rencana kamu?”
“Tapi kadang masih keasinan Mas, hehehehe. Rencananya mau bantu Pak Lek sama Bu Lek jualan aja, sekarang jualan bibitnya rame lho mas terlebih kemarin Mas Wahyu dateng bawa bibit tanaman pakai sertifikasi IPB katanya, jadi banyak petani yang percaya, bibitnya bagus kata para petani sini!”
“Ooh bagus kalau begitu, Mas cuma khawatir kamu mau kerja di kota terus adikmu gak ada temennya, tadi kamu bilang Wahyu, emang dia udah lulus kuliah?”
Wahyu adalah teman kecilku dari SD, SMP hingga SMA beda desa denganku. Anak Pak Pramono pemilik toko matrial yang cukup besar. Lahir paling akhir alias bungsu dari 4 bersaudara.
“Ya enggak lah Mas masa Putri mau ninggalin Indri, lha wong makan aja kadang masih sepiring berdua, katanya dua tahun lagi dia lulus.” Kata Putri menjelaskan.
“Lha emang kamu tau dari mana?”
“Ya dari orangnya langsung lah kemarin kan sempet pulang 2 minggu katanya libur smester, terus main ke sini sambil nganterin bibit, dari situ aku aku taunya!”
“Ooohhh gitu!”
“Kok gitu doang? Kenapa mas Awan marah, Mas Awan gak suka to kalau kemarin aku ngobrol sama mas Wahyu?” Kata putri dengan nada sedikit kesal
“Hahahaha, ya gak marah lah orang Wahyu itu orang baik temen ku dulu cari belut. Tapi nada kamu bicara gak seperti biasanya jangan jangan kamu lagi jatuh cinta ya Put, suka kamu sama Wahyu?” Kataku meledek.
“Jatuh cinta, kaya Mas Awan pernah aja hehehehe, ya suka sih enggak cuma betah aja liatin wajahnya abis ganteng terus suaranya juga alon hehehehehe.”
“Wah itu awal jatuh cinta Put, tapi sama masmu ini gantengan mana?”
“Ehhhhhmmm sama kayanya, tapi Mas Wahyu rada item dikit, mungkin emang calon petani kali ya Mas, kalau badannya tinggian Mas Wahyu, suaranya juga Mas Wahyu lebih pelan hahahahaha gak kaya suara Mas Awan sekalinya ngomong dah kaya toa kenceng banget.”
“Wah udah mulai banding-bandingin sama kakaknya sendiri berarti bener lagi kasmaran kamu, hehehehehe yowis orapopo lagian emang seumur kamu udah waktunya punya pacar, terus cari suami.”
“Iih kok suami jauh amat masih lama kali, eh mas awan udah dapet tempat kuliah?” Tanya putri
“Udah put, deket dari tempat kos sekarang, deket juga dari tempat Mas Anto, ini besuk pagi mas mau daftar kesana!”
“Cie cie yang mau jadi mahasiswa, semangat ya Mas, Putri doain semoga semuanya baik ya Mas.”
“Iya Put makasih. Kamu sama Indri nurut kata Pak Lek ya, biar Mas seneng. Yowis udah malem kamu tidur sana susul adikmu mas juga mau istirahat.”
“Iya mas, baik-baik disana ya mas. Assalamualaikum.”
“Iya, Walaikumsalam.” Jawabku sambil menutup telpon.
Sebuah semangat dan dukungan dari adikku tercinta yang tidak pernah berhenti inilah yang membuatku selalu ingin terus melangkah maju mencapai semua impianku. Meskipun demikian kadang aku juga merasa kasihan dan ingin melihat mereka melanjutkan pendidikan, tetapi keadaanlah yang tidak memungkinkan. Bukan masalah materi tetapi di kampung tempat kuliah terlampau jauh jaraknya. Jika Putri melanjutkan kuliah maka sudah pasti harus kos, berpisah dengan Indri yang masih butuh teman dan kasih sayang dari kakaknya.
Aktivitas kesibukan penghuni kos menyambut ku membuka mata menatap dunia pagi ini. Ada Koh Hendrik yang sudah duduk di depan kamar kosnya sambil membaca Koran, sementara kamar Mas Ridwan samping kamar kosku belum ada-tanda-tanda kehidupan. Mungkin karena kerjanya sebagai kameramen televisi swasta jadi tidak diharuskan berangkat pagi. Sebagian besar kamar kos sudah kosong ditinggal penhuninya untuk beraktivitas ada yang bekerja dan kuliah. Akupun mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk registrasi masuk kuliah, fotocopy rapor, ijazah, akte kelahiran, dan beberapa lembar foto semua kupersiapkan dengan menaruhnya di map. Kampus yang akan aku masuki ini tidak mengharuskan test bagi calon mahasiswa dengan nilai rata-rata tujuh persemester dari kelas satu sampai kelas tiga SMA. Syarat tersebut telah kupenuhi jadi aku termasuk calon mahasiswa yang bisa masuk tanpa jalur tes internal. Setelah semuanya beres akupun beranjak menuju kampus.
Sesampai di kampus aku disambut oleh mahasiswa yang berada di ruang humas. Ruangan dingin dan di sekeliling ruangan dipenuhi piala dan sertifikat. Sekilas kebanyakan dari piala tersebut tertulis juara lomba Akuntansi, dari berbagai instansi dan tahun piala itu didapatkan. Setelah mengisi formulir pendaftaran dan menyerahkan dokumen yang diperlukan aku segera menuju ke lantai lima gedung kampus tersebut untuk cek kesehatan. Kemudian kembali ke ruang humas untuk dijelaskan mengenai administrasi perkuliahan, dan semua hal yang harus dipersiapkan sebelum perkuliahan di mulai.
“Sangat mudah, dan sesuai dengan yang tertera di brosur.” Pikirku
Tanpa berlama-lama di gedung kampus aku segera menyalakan motor. Diliputi hati yang teramat senang meninggalkan parkiran kampus menuju tempat kos. Senang karena akhirnya impianku menjadi mahasiswa sebagai langkah menuju sarjana akan segera tercapai. Pasti Bapak dan Ibu sangat senang disana melihat kenyataan ini. Aku tidak dapat melihatnya mereka mengucapkan selamat paling tidak aku telah berusaha memenuhi harapannya. Hidup akan terus berjalan sampai Tuhan merindukan hambanya untuk kembali padaNya.
Sebagian orang yang mencapai impian melalui proses sedikit demi sedikit dengan cara yang benar dan tidak merugikan orang lain. Tujuannya sama dan dengan cara baik ataupun buruk suatu impian pasti dapat tercapai. Tetapi mana yang akan bertahan lama? Dengan cara yang baik atau buruk? Mungkin dengan cara yang baik. Alasannya impian seseorang yang dicapai melalui proses yang tidak instan, penuh dengan usaha, keringat dan air mata serta cara-cara yang baik pula tidak akan mudah untuk di hancurkan. Hal ini karena proses tersebut adalah pondasi yang paling kuat, tidak ada orang lain yang dirugikan dan pada saat diatas manusia tersebut akan terus mendapat dukungan baik dari orang lain maupun lingkungan.
Hari ini hari pertama aku berjualan dipasar kaget, letaknya di depan gedung kolam renang bersebelahan dengan gelanggang olahraga yang beroprasi di siang hari. Aku berjualan di lapak yang bersebelahan dengan lapak Mang Ending, memang tempat ini beliau yang mencarikannya untukku. Aku mengambil jenis sepatu skate dan beberapa sepatu bahan kulit sintetis di tempat Pak Narto, saudaranya Aji. Tiga lusin sepatu pria dan tiga lusin sepatu wanita dengan model berbeda-beda setiap setengah lusinnya. Ukuran 37-40 untuk sepatu wanita dan 40-42 untuk ukuran pria.
Hari pertama satu lusin sepatu terjual dari 6 lusin sepatu yang aku bawa. Sepasang sepatu mendapat untung 10-15ribu jadi hari ini aku membawa untung 135ribu karena dipotong untuk sewa tempat dan keamanan. Syukurlah aku lihat dagangan mang Ending juga tinggal sedikit, berarti untungnya juga lumayan untuk menghidupi anak-anaknya. Setelah aku masukkan seluruh sepatu kedalam box plastik, akupun beranjak pergi menuju tempat kos. Dan ini akan menjadi kegiatanku setiap hari mungkin akan terhenti suatu saat nanti sampai aku mendapat hal baru yang lebih menarik dan bisa menghasilkan lebih banyak uang lagi.
“Ya Tuhan, semoga ini menjadi jalan menuju impianku menjadi Mahasiswa.” Batin dan doaku setiap selesai berjualan
Sebuah impianku, harapan dari almarhum Bapak dan Ibu yang menginginkan anak lelakinya menjadi sarjana kelak. Meskipun nanti saat aku memakai baju toga mereka hanya akan melihat dari atas sana, dari surga.
Pertengahan tahun 2008, aku mengahibiskan waktu menjadi penjual sepatu pasar kaget di Jakarta. Berpindah-pindah setiap malam mencari tempat dimana pasar kaget diadakan disitu aku menggelar dagangan. Semangatku ini tidak lepas dari Putri dan Indri, mereka yang selalu memberiku secerca dorongan dengan selalu menelpon atau mengirim sms hanya untuk sekedar mengingatkan hal-hal kecil seperti makan dan jaga kesehatan sebelum dan sesudah aku berjualan. Mereka tidak pernah memintaku mengirimkan uang, mungkin juga karena mereka dicukupi oleh Paman untuk makan, sekolah dan kebutuhan sehari-harinya. Hanya kadang kala minta dibelikan hadiah saat ulang tahun dan oleh-oleh disaat kepulanganku di Hari Raya. Setiap bulan aku menransfer uang ke rekening Putri untuk tambahan uang saku, beli pakaian dan keperluan lainnya. Walaupun hanya sedikit dan jauh dari cukup tapi mungkin sedikit membantu. Aku sadar saat ini kedua adikku telah tumbuh menjadi gadis remaja yang memiliki banyak kebutuhan.
Nasib orang berjualan kadang untung banyak kadang sedikit tetapi dibalik itu semua tanpa kusadari depositoku di salah satu bank swasta sudah melebihi cukup untuk membayar uang gedung, dan biaya smester (BPP dan SKS). Sangat cukup sampai semester 4 di salah satu kampus yang tak jauh dari tempat kosku.
Kampus ini sepertinya bagus, akreditasinya A untuk jurusan ekonomi dan biayanyapun relatif terjangkau.” Pikirku sambil membaca brosur dari kampus tersebut.
Drrrrrrrrr, derrrrrrrrr,drrrrrrrrr. Hpku berbunyi
“Hallo, assalamualaikum putri kecilku” Kataku sambil mengangkat telepon.
“Walaikumsallam Mas, udah pulang jualan Mas?” Jawab Putri.
“Udah Put, ini baru mau istirahat sambil baca baca brosur tempat kuliah, adikmu si tembem dah tidur?”
“Udah Mas, pules banget tidurnya kecapean kali tadi abis belajar masak sama Bu Lek.”
“Wih sekarang, adik-adikku udah jago masak jadi tambah kangen aku sama kalian, pengen tau rasa masakannya. Terus kamu kan udah lulus Put, gimana rencana kamu?”
“Tapi kadang masih keasinan Mas, hehehehe. Rencananya mau bantu Pak Lek sama Bu Lek jualan aja, sekarang jualan bibitnya rame lho mas terlebih kemarin Mas Wahyu dateng bawa bibit tanaman pakai sertifikasi IPB katanya, jadi banyak petani yang percaya, bibitnya bagus kata para petani sini!”
“Ooh bagus kalau begitu, Mas cuma khawatir kamu mau kerja di kota terus adikmu gak ada temennya, tadi kamu bilang Wahyu, emang dia udah lulus kuliah?”
Wahyu adalah teman kecilku dari SD, SMP hingga SMA beda desa denganku. Anak Pak Pramono pemilik toko matrial yang cukup besar. Lahir paling akhir alias bungsu dari 4 bersaudara.
“Ya enggak lah Mas masa Putri mau ninggalin Indri, lha wong makan aja kadang masih sepiring berdua, katanya dua tahun lagi dia lulus.” Kata Putri menjelaskan.
“Lha emang kamu tau dari mana?”
“Ya dari orangnya langsung lah kemarin kan sempet pulang 2 minggu katanya libur smester, terus main ke sini sambil nganterin bibit, dari situ aku aku taunya!”
“Ooohhh gitu!”
“Kok gitu doang? Kenapa mas Awan marah, Mas Awan gak suka to kalau kemarin aku ngobrol sama mas Wahyu?” Kata putri dengan nada sedikit kesal
“Hahahaha, ya gak marah lah orang Wahyu itu orang baik temen ku dulu cari belut. Tapi nada kamu bicara gak seperti biasanya jangan jangan kamu lagi jatuh cinta ya Put, suka kamu sama Wahyu?” Kataku meledek.
“Jatuh cinta, kaya Mas Awan pernah aja hehehehe, ya suka sih enggak cuma betah aja liatin wajahnya abis ganteng terus suaranya juga alon hehehehehe.”
“Wah itu awal jatuh cinta Put, tapi sama masmu ini gantengan mana?”
“Ehhhhhmmm sama kayanya, tapi Mas Wahyu rada item dikit, mungkin emang calon petani kali ya Mas, kalau badannya tinggian Mas Wahyu, suaranya juga Mas Wahyu lebih pelan hahahahaha gak kaya suara Mas Awan sekalinya ngomong dah kaya toa kenceng banget.”
“Wah udah mulai banding-bandingin sama kakaknya sendiri berarti bener lagi kasmaran kamu, hehehehehe yowis orapopo lagian emang seumur kamu udah waktunya punya pacar, terus cari suami.”
“Iih kok suami jauh amat masih lama kali, eh mas awan udah dapet tempat kuliah?” Tanya putri
“Udah put, deket dari tempat kos sekarang, deket juga dari tempat Mas Anto, ini besuk pagi mas mau daftar kesana!”
“Cie cie yang mau jadi mahasiswa, semangat ya Mas, Putri doain semoga semuanya baik ya Mas.”
“Iya Put makasih. Kamu sama Indri nurut kata Pak Lek ya, biar Mas seneng. Yowis udah malem kamu tidur sana susul adikmu mas juga mau istirahat.”
“Iya mas, baik-baik disana ya mas. Assalamualaikum.”
“Iya, Walaikumsalam.” Jawabku sambil menutup telpon.
Sebuah semangat dan dukungan dari adikku tercinta yang tidak pernah berhenti inilah yang membuatku selalu ingin terus melangkah maju mencapai semua impianku. Meskipun demikian kadang aku juga merasa kasihan dan ingin melihat mereka melanjutkan pendidikan, tetapi keadaanlah yang tidak memungkinkan. Bukan masalah materi tetapi di kampung tempat kuliah terlampau jauh jaraknya. Jika Putri melanjutkan kuliah maka sudah pasti harus kos, berpisah dengan Indri yang masih butuh teman dan kasih sayang dari kakaknya.
Aktivitas kesibukan penghuni kos menyambut ku membuka mata menatap dunia pagi ini. Ada Koh Hendrik yang sudah duduk di depan kamar kosnya sambil membaca Koran, sementara kamar Mas Ridwan samping kamar kosku belum ada-tanda-tanda kehidupan. Mungkin karena kerjanya sebagai kameramen televisi swasta jadi tidak diharuskan berangkat pagi. Sebagian besar kamar kos sudah kosong ditinggal penhuninya untuk beraktivitas ada yang bekerja dan kuliah. Akupun mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk registrasi masuk kuliah, fotocopy rapor, ijazah, akte kelahiran, dan beberapa lembar foto semua kupersiapkan dengan menaruhnya di map. Kampus yang akan aku masuki ini tidak mengharuskan test bagi calon mahasiswa dengan nilai rata-rata tujuh persemester dari kelas satu sampai kelas tiga SMA. Syarat tersebut telah kupenuhi jadi aku termasuk calon mahasiswa yang bisa masuk tanpa jalur tes internal. Setelah semuanya beres akupun beranjak menuju kampus.
Sesampai di kampus aku disambut oleh mahasiswa yang berada di ruang humas. Ruangan dingin dan di sekeliling ruangan dipenuhi piala dan sertifikat. Sekilas kebanyakan dari piala tersebut tertulis juara lomba Akuntansi, dari berbagai instansi dan tahun piala itu didapatkan. Setelah mengisi formulir pendaftaran dan menyerahkan dokumen yang diperlukan aku segera menuju ke lantai lima gedung kampus tersebut untuk cek kesehatan. Kemudian kembali ke ruang humas untuk dijelaskan mengenai administrasi perkuliahan, dan semua hal yang harus dipersiapkan sebelum perkuliahan di mulai.
“Sangat mudah, dan sesuai dengan yang tertera di brosur.” Pikirku
Tanpa berlama-lama di gedung kampus aku segera menyalakan motor. Diliputi hati yang teramat senang meninggalkan parkiran kampus menuju tempat kos. Senang karena akhirnya impianku menjadi mahasiswa sebagai langkah menuju sarjana akan segera tercapai. Pasti Bapak dan Ibu sangat senang disana melihat kenyataan ini. Aku tidak dapat melihatnya mereka mengucapkan selamat paling tidak aku telah berusaha memenuhi harapannya. Hidup akan terus berjalan sampai Tuhan merindukan hambanya untuk kembali padaNya.
Diubah oleh setiawanari 05-09-2017 17:31
g.gowang memberi reputasi
1