- Beranda
- Stories from the Heart
(HORROR) Kisah Untuk Malam Seratus Lilin - (Diary Gadis Bermata Indigo return)
...
TS
ayanorei
(HORROR) Kisah Untuk Malam Seratus Lilin - (Diary Gadis Bermata Indigo return)
Hallo All,
We come back!!

thanks all for HT
Setelah sekian lama vakum di Kaskus dan hanya menulis di tempat lain. Akhirnya kami memutuskan kembali. Yap, Ayano dan Elisa kembali akan membagikan kisah kami di Kaskus.
Tadinya, kami tidak berpikir untuk kembali ke Kaskus, tapi ternyata banyak Inbox ke ID ini maupun ke ID Ayanokouji (yang sayangnya sedang bermasalah untuk Login) supaya kami mau kembali melanjutkan cerita di Kaskus ini. Jadi, here we are, we came back.
Post #1 ini akan khusus untuk INDEX. Cerita akan dimulai di Post selanjutnya.
Yang mau baca season 1 nya ada di sini
INDEX
Kisah Pertama - Hantu Pembawa Janin
Kisah Kedua - Mereka Mengawasiku?
Kisah Ketiga - Lily (Bagian Pertama)
Kisah keempat - Lily (bagian kedua)
Kisah Kelima - Penguntit (bagian pertama)
Kisah Keenam - Penguntit (Bagian Kedua)
Kisah Ketujuh - Possession (part 1)
Kisah Kedelapan - Possession (part 2)
Kisah Kesembilan - Mahluk di langit-langit
Kisah Kesepuluh - Susahnya kalau yang ngefans 'mereka'
Kisah Kesebelas - Hantu di gedung tua
Kisah Keduabelas - Ternyata
Kisah Ketigabelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (Bag pertama)
Kisah Keempatbelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (bag kedua)
Kisah Kelimabelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (1)
Kisah Keenambelas - Kisah hantu di sekolah - Sri (2)
Kisah Ketujuhbelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (3)
Kisah Kedelapanbelas - Kisah hantu di sekolah - Belum berakhir
Kisah Kesembilanbelas - Kisah hantu di sekolah - Cerita dari Bi Sumi (1)
Kisah Keduapuluh - Kisah Hantu Disekolah - Cerita dari Bi Sumi (2)
Kisah Keduapuluhsatu - Kisah hantu disekolah - Gangguan Dimulai Lagi
Kisah Keduapuluhdua - Kisah Hantu Disekolah - Terkuak
Kisah KeduapuluhTiga - Kisah Hantu Di Kantor - Prologue
Kisah KeduapuluhEmpat - Kisah Hantu Di Kantor - Putih, Hitam dan Ungu
Kisah KeduapuluhLima - Kisah Hantu di Kantor - Sidestory
Kisah Keduapuluhenam - Kisah hantu di Kantor - Resign
Kisah Keduapuluhtujuh - Kisah Hantu di Kantor - Kembali Bekerja (1)

We come back!!

thanks all for HT
Setelah sekian lama vakum di Kaskus dan hanya menulis di tempat lain. Akhirnya kami memutuskan kembali. Yap, Ayano dan Elisa kembali akan membagikan kisah kami di Kaskus.
Tadinya, kami tidak berpikir untuk kembali ke Kaskus, tapi ternyata banyak Inbox ke ID ini maupun ke ID Ayanokouji (yang sayangnya sedang bermasalah untuk Login) supaya kami mau kembali melanjutkan cerita di Kaskus ini. Jadi, here we are, we came back.
Post #1 ini akan khusus untuk INDEX. Cerita akan dimulai di Post selanjutnya.
Yang mau baca season 1 nya ada di sini
Quote:
INDEX
Kisah Pertama - Hantu Pembawa Janin
Kisah Kedua - Mereka Mengawasiku?
Kisah Ketiga - Lily (Bagian Pertama)
Kisah keempat - Lily (bagian kedua)
Kisah Kelima - Penguntit (bagian pertama)
Kisah Keenam - Penguntit (Bagian Kedua)
Kisah Ketujuh - Possession (part 1)
Kisah Kedelapan - Possession (part 2)
Kisah Kesembilan - Mahluk di langit-langit
Kisah Kesepuluh - Susahnya kalau yang ngefans 'mereka'
Kisah Kesebelas - Hantu di gedung tua
Kisah Keduabelas - Ternyata
Kisah Ketigabelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (Bag pertama)
Kisah Keempatbelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (bag kedua)
Kisah Kelimabelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (1)
Kisah Keenambelas - Kisah hantu di sekolah - Sri (2)
Kisah Ketujuhbelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (3)
Kisah Kedelapanbelas - Kisah hantu di sekolah - Belum berakhir
Kisah Kesembilanbelas - Kisah hantu di sekolah - Cerita dari Bi Sumi (1)
Kisah Keduapuluh - Kisah Hantu Disekolah - Cerita dari Bi Sumi (2)
Kisah Keduapuluhsatu - Kisah hantu disekolah - Gangguan Dimulai Lagi
Kisah Keduapuluhdua - Kisah Hantu Disekolah - Terkuak
Kisah KeduapuluhTiga - Kisah Hantu Di Kantor - Prologue
Kisah KeduapuluhEmpat - Kisah Hantu Di Kantor - Putih, Hitam dan Ungu
Kisah KeduapuluhLima - Kisah Hantu di Kantor - Sidestory
Kisah Keduapuluhenam - Kisah hantu di Kantor - Resign
Kisah Keduapuluhtujuh - Kisah Hantu di Kantor - Kembali Bekerja (1)

Diubah oleh ayanorei 20-10-2017 13:04
scorpiolama dan 15 lainnya memberi reputasi
16
119.7K
Kutip
380
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanorei
#284
Kisah Keduapuluh - Kisah Hantu Disekolah - Cerita dari Bi Sumi (2)
"Du... dua puluh, bi?" tanyaku dengan lemas.
Bi Sumi mengangguk prihatin "Iya non... dari yang bibi dengar sih kurang lebih ada segituan" katanya.
Ya ampun... itu mah banyak sekali..... pikirku ngeri.
Sejenak, aku sempat mempertimbangkan apakah sebaiknya aku pindah sekolah saja?
Tapi... bisa-bisa nanti tanteku berpikiran yang tidak-tidak lagi...
Aku tidak tinggal dengan kedua orangtuaku karena untuk berbagai alasan, aku tidak ikut keluargaku untuk tinggal di luar negeri. Aku memilih untuk tinggal di Indonesia.
Awalnya sih karena aku tidak ingin berpisah jauh dari nenekku yang sangat kusayangi. Meskipun beliau berada nun jauh di seberang pulau di kampung halamanku. Namun, setidaknya masih berada di dalam satu negara yang sama.
Sekarang aku tinggal dengan adik ibuku yang luar biasa baik, namun selalu mengkhawatirkanku.
Masalahnya lagi, tanteku ini tidak percaya sama sekali pada 'mereka'. Karena itu, tentu saja tanteku lebih percaya kalau aku terkena bully di sekolahku ketimbang karena banyak hantu yang berseliweran di sini apabila aku mengatakan ingin pindah sekolah.
Dan membuatnya khawatir adalah ide yang buruk....
Aku pernah setengah mati menahannya untuk tidak menghadap ke kepala sekolah SD-ku hanya karena tanteku menyangka aku dikucilkan oleh teman-temanku pada waktu pentas sekolah. Hal itu terjadi karena tidak ada satupun temanku yang menyapaku atau mengajakku mengobrol. Aku hanya duduk diam dan membaca komik di samping tanteku itu.
Padahal... memang aku yang menarik diri dari teman-temanku setelah ada sedikit kejadian yang membuat temanku ketakutan setengah mati karena aku...
Yahh... ceritanya panjang...
Tapi, kurang lebih karena itulah aku tidak akan bisa untuk mengatakan pada tanteku untuk pindah sekolah. Apalagi aku memang sengaja memilih sekolah ini karena uang sekolahnya yang ringan bagi tanteku yang bersikeras pada mamaku untuk membayarkan uang sekolahku karena dia tidak membiayai anaknya. Tanteku itu berstatus janda yang tidak memiliki anak, dan sama sekali tidak ingin menikah lagi.
Karena itulah, dia menyayangiku seperti anaknya sendiri, dan bahkan berlaku selayaknya kakak perempuanku ketimbang sebagai tanteku karena gayanya yang benar-benar seperti anak muda.
Sayangnya... aku tidak akan bisa meyakinkan dia akan adanya 'mereka'....
Kembali ke masalah yang kuhadapi saat ini....
Dua puluh dari 'mereka'.... ini adalah jumlah paling banyak mungkin yang pernah kualami sampai saat ini.
Terkecuali ketika dulu tersesat di hutan ya.... itu sih... aku hanya diganggu oleh beberapa, tapi kalau ditanya berapa totalnya penunggu hutan itu, sih... kurasa akan sangat banyak juga. Tapi itu akan kuceritakan lain kali saja...
"Bi... mereka itu... sebenarnya apa saja? kenapa banyak begitu?" tanyaku pada bi Sumi.
Bi Sumi mendesah, kemudian mulai bercerita "Begini non... dulunya sekolah ini tuh nggak ada. Dulunya, lapangan ini penuh dengan galian-galian tempat berlindung orang-orang dari bom pas perang sama Jepang dulu...
Lapangan itu, juga yang jadi tempat orang-orang yang kurang beruntung terkubur di dalamnya, kalau misalnya ada bom jatuh tepat di atas mereka. Karena kan pembuatan lubang-lubang galian itu nggak pakai penyangga macem-macem, non... paling kayu seadanya. Jadi pasti nggak terlalu kuat...
Karena itulah non, sekolah ini dari awal dibangun dulu itu udah angker. Banyak sekali penampakan-penampakan di sini.
Lalu, orang-orang Jepang dateng, mengambil lapangan ini dan membangun semacam tempat untuk nampung pekerja-pekerja paksa Romusa (disebut dengan cara penyebutan khas bi Sumi) mereka"
Bi Sumi menatapku yang masih berusaha untuk mencerna perkataan dari bi Sumi.
Kemudian beliau melanjutkan lagi "Soal 'Sri'...."
Nama itu membuat tubuhku menegang.
"Kemunculan awal 'Sri' itu, sepertinya dimulai dari gedung Romusa itu kena bom sampai hancur. Yang kalau bibi dengar, nggak ada seorangpun orang Indonesia yang selamat, non..." kata bi Sumi.
"Eh?... jadi... 'Sri' itu udah dari jaman penjajahan?" tanyaku.
Bi Sumi mengangguk "Benar, non... jadi pas dulu awalnya dibangun sekolahan... udah ada gangguan dari 'Sri' itu.."
Ohh....
"Jadi... maksudnya bibi, yang ada di sekolah itu apa saja? sekarang kan 'Sri' udah nggak ada..." tanyaku.
Bi Sumi menghela nafas "Justru menurut bibi, karena 'Sri' udah nggak ada, makanya sekarang yang lain-lainnya bisa muncul, non. Dulu, 'mereka' kan nggak muncul karena takut sama 'Sri'..."
"Oh...." aku menggumam lemas.
Sepertinya tidak ada cara lain kalau begitu..
"Non.." bi Sumi memanggilku.
"Ada apa bi?"
"Non, kok bisa melihat 'mereka' ya?" tanya bi Sumi "Apa non punya nama Sri juga? ah.. tapi nggak mungkin ya, karena non kan diterima di sini.. kalau begitu, apa non punya kemampuan lebih ya?"
Pertanyaan bi Sumi itu membuatku terkesiap karena tidak menyangka sebelumnya.
"Ah.. i-iya..."
"Sudah bibi duga.. makanya non yang jadi sasaran gangguan 'mereka' " kata bi Sumi menarik kesimpulan.
"Apa?"
"Iya, non. Menurut bibi, karena non punya kelebihan bisa melihat 'mereka', makanya sekarang 'mereka' ganggunya ke non"
Mati aku.....
---
Aku keluar dari warung roti bi Sumi dengan linglung..
Pikiranku berkecamuk dengan berbagai macam kekhawatiran dan ketakutan..
Pada saat itulah... saat aku hendak melangkah kembali ke dalam gedung sekolahku itu, aku mencium bau amis yang memuakkan...
"Hoekk!..." aku benar-benar hampir muntah mencium bau tidak sedap itu.
Aku menengok ke sekelilingku.. namun tidak ada satupun sosok yang dapat kulihat.
Bau amis itu semakin parah dan kepalaku menjadi pusing karenanya.
"Uhh....." gumamku lemas sambil memegangi mulutku dengan erat, menahan muntah yang sudah hampir keluar.
Aku berjalan dengan terhuyung-huyung sampai ke depan kelasku.
Tanpa sengaja aku melihat Cindy.
Aku hendak memanggil gadis itu, tapi mulutku hanya bisa mengeluarkan gumaman-gumanan tidak jelas saja karena mual.
Cindy sepertinya menyadariku dan menengok ke arahku...
Namun, gadis itu tampak sangat terkejut dan beringsut mundur... menjauh dariku..
Aku berusaha mendekatinya dengan bingung dan terhuyung-huyung.
Tapi kemudian, Cindy mengeluarkan ponselnya yang sudah memiliki fitur kamera dan memotretku dengan kameranya.
Kemudian, aku melihat dia memeriksa ponselnya, mungkin memeriksa fotoku yang baru saja dia ambil... matanya melirikku sekilas, aku menangkap nada khawatir dari pandangannya itu.
Dan sesaat kemudian, ponselku berbunyi.
Aku mengambilnya dari kantong rokku dan melihatnya.
1 pesan, dari Cindy.
MMS..
Sepertinya foto yang baru saja dia ambil tadi.
Kenapa Cindy mengirimkanku foto? apa menurutnya penampilanku yang sedang mual ini lucu?
Aku membuka foto yang dikirimkan Cindy lewat MMS itu.
"!!!!!!"
Di foto itu, aku sedang berdiri dengan wajah pucat, tapi tepat di belakangku, foto itu menangkap sebentuk asap tebal berwarna hitam..
Sosok asap hitam itu dengan sangat jelas membentuk sosok manusia....
'aaaakkk... aaaaaaaaakkkkkk!!'
Dari belakang telingaku, terdengar amat sangat dekat.. suara sesuatu yang sangat serak dan bergetar terdengar bagaikan tertawa.
Perlahan-lahan... aku melirik ke belakang punggungku tanpa menggerakkan badanku.
"AAHH!!!"
Sesosok wajah yang hangus parah hingga separuhnya bagaikan arang sedang menatap padaku, senyum dengan kulit koyak terbakarnya tampak sangat mengerikan, gigi-giginya yang tidak tertutup karena pipi koyak itu tampak sedang tersenyum lebar padaku.
Rambutnya terbakar habis sehingga hampir tidak tersisa lagi kecuali sisa-sisa rambut yang masih mencuat dari kulit kepalanya yang sudah menyatu dengan tengkoraknya. Namun, dari wajah mahluk itu yang tersisa, sepertinya sosok itu tadinya adalah wanita.
Aku melompat mundur karena terkejut.
Dan mahluk itu berteriak melengking dan menerjang ke diriku.
Hal terakhir yang kuingat sebelum pingsan adalah bagaimana aku merasakan tangan mahluk itu melingkar di bahuku dan wajahnya yang berada tepat di depan wajahku...
===
bersambung lagi ya, hehehe
- Elisa -
Spoiler for Cerita dari Bi Sumi (2):
"Du... dua puluh, bi?" tanyaku dengan lemas.
Bi Sumi mengangguk prihatin "Iya non... dari yang bibi dengar sih kurang lebih ada segituan" katanya.
Ya ampun... itu mah banyak sekali..... pikirku ngeri.
Sejenak, aku sempat mempertimbangkan apakah sebaiknya aku pindah sekolah saja?
Tapi... bisa-bisa nanti tanteku berpikiran yang tidak-tidak lagi...
Aku tidak tinggal dengan kedua orangtuaku karena untuk berbagai alasan, aku tidak ikut keluargaku untuk tinggal di luar negeri. Aku memilih untuk tinggal di Indonesia.
Awalnya sih karena aku tidak ingin berpisah jauh dari nenekku yang sangat kusayangi. Meskipun beliau berada nun jauh di seberang pulau di kampung halamanku. Namun, setidaknya masih berada di dalam satu negara yang sama.
Sekarang aku tinggal dengan adik ibuku yang luar biasa baik, namun selalu mengkhawatirkanku.
Masalahnya lagi, tanteku ini tidak percaya sama sekali pada 'mereka'. Karena itu, tentu saja tanteku lebih percaya kalau aku terkena bully di sekolahku ketimbang karena banyak hantu yang berseliweran di sini apabila aku mengatakan ingin pindah sekolah.
Dan membuatnya khawatir adalah ide yang buruk....
Aku pernah setengah mati menahannya untuk tidak menghadap ke kepala sekolah SD-ku hanya karena tanteku menyangka aku dikucilkan oleh teman-temanku pada waktu pentas sekolah. Hal itu terjadi karena tidak ada satupun temanku yang menyapaku atau mengajakku mengobrol. Aku hanya duduk diam dan membaca komik di samping tanteku itu.
Padahal... memang aku yang menarik diri dari teman-temanku setelah ada sedikit kejadian yang membuat temanku ketakutan setengah mati karena aku...
Yahh... ceritanya panjang...
Tapi, kurang lebih karena itulah aku tidak akan bisa untuk mengatakan pada tanteku untuk pindah sekolah. Apalagi aku memang sengaja memilih sekolah ini karena uang sekolahnya yang ringan bagi tanteku yang bersikeras pada mamaku untuk membayarkan uang sekolahku karena dia tidak membiayai anaknya. Tanteku itu berstatus janda yang tidak memiliki anak, dan sama sekali tidak ingin menikah lagi.
Karena itulah, dia menyayangiku seperti anaknya sendiri, dan bahkan berlaku selayaknya kakak perempuanku ketimbang sebagai tanteku karena gayanya yang benar-benar seperti anak muda.
Sayangnya... aku tidak akan bisa meyakinkan dia akan adanya 'mereka'....
Kembali ke masalah yang kuhadapi saat ini....
Dua puluh dari 'mereka'.... ini adalah jumlah paling banyak mungkin yang pernah kualami sampai saat ini.
Terkecuali ketika dulu tersesat di hutan ya.... itu sih... aku hanya diganggu oleh beberapa, tapi kalau ditanya berapa totalnya penunggu hutan itu, sih... kurasa akan sangat banyak juga. Tapi itu akan kuceritakan lain kali saja...
"Bi... mereka itu... sebenarnya apa saja? kenapa banyak begitu?" tanyaku pada bi Sumi.
Bi Sumi mendesah, kemudian mulai bercerita "Begini non... dulunya sekolah ini tuh nggak ada. Dulunya, lapangan ini penuh dengan galian-galian tempat berlindung orang-orang dari bom pas perang sama Jepang dulu...
Lapangan itu, juga yang jadi tempat orang-orang yang kurang beruntung terkubur di dalamnya, kalau misalnya ada bom jatuh tepat di atas mereka. Karena kan pembuatan lubang-lubang galian itu nggak pakai penyangga macem-macem, non... paling kayu seadanya. Jadi pasti nggak terlalu kuat...
Karena itulah non, sekolah ini dari awal dibangun dulu itu udah angker. Banyak sekali penampakan-penampakan di sini.
Lalu, orang-orang Jepang dateng, mengambil lapangan ini dan membangun semacam tempat untuk nampung pekerja-pekerja paksa Romusa (disebut dengan cara penyebutan khas bi Sumi) mereka"
Bi Sumi menatapku yang masih berusaha untuk mencerna perkataan dari bi Sumi.
Kemudian beliau melanjutkan lagi "Soal 'Sri'...."
Nama itu membuat tubuhku menegang.
"Kemunculan awal 'Sri' itu, sepertinya dimulai dari gedung Romusa itu kena bom sampai hancur. Yang kalau bibi dengar, nggak ada seorangpun orang Indonesia yang selamat, non..." kata bi Sumi.
"Eh?... jadi... 'Sri' itu udah dari jaman penjajahan?" tanyaku.
Bi Sumi mengangguk "Benar, non... jadi pas dulu awalnya dibangun sekolahan... udah ada gangguan dari 'Sri' itu.."
Ohh....
"Jadi... maksudnya bibi, yang ada di sekolah itu apa saja? sekarang kan 'Sri' udah nggak ada..." tanyaku.
Bi Sumi menghela nafas "Justru menurut bibi, karena 'Sri' udah nggak ada, makanya sekarang yang lain-lainnya bisa muncul, non. Dulu, 'mereka' kan nggak muncul karena takut sama 'Sri'..."
"Oh...." aku menggumam lemas.
Sepertinya tidak ada cara lain kalau begitu..
"Non.." bi Sumi memanggilku.
"Ada apa bi?"
"Non, kok bisa melihat 'mereka' ya?" tanya bi Sumi "Apa non punya nama Sri juga? ah.. tapi nggak mungkin ya, karena non kan diterima di sini.. kalau begitu, apa non punya kemampuan lebih ya?"
Pertanyaan bi Sumi itu membuatku terkesiap karena tidak menyangka sebelumnya.
"Ah.. i-iya..."
"Sudah bibi duga.. makanya non yang jadi sasaran gangguan 'mereka' " kata bi Sumi menarik kesimpulan.
"Apa?"
"Iya, non. Menurut bibi, karena non punya kelebihan bisa melihat 'mereka', makanya sekarang 'mereka' ganggunya ke non"
Mati aku.....
---
Aku keluar dari warung roti bi Sumi dengan linglung..
Pikiranku berkecamuk dengan berbagai macam kekhawatiran dan ketakutan..
Pada saat itulah... saat aku hendak melangkah kembali ke dalam gedung sekolahku itu, aku mencium bau amis yang memuakkan...
"Hoekk!..." aku benar-benar hampir muntah mencium bau tidak sedap itu.
Aku menengok ke sekelilingku.. namun tidak ada satupun sosok yang dapat kulihat.
Bau amis itu semakin parah dan kepalaku menjadi pusing karenanya.
"Uhh....." gumamku lemas sambil memegangi mulutku dengan erat, menahan muntah yang sudah hampir keluar.
Aku berjalan dengan terhuyung-huyung sampai ke depan kelasku.
Tanpa sengaja aku melihat Cindy.
Aku hendak memanggil gadis itu, tapi mulutku hanya bisa mengeluarkan gumaman-gumanan tidak jelas saja karena mual.
Cindy sepertinya menyadariku dan menengok ke arahku...
Namun, gadis itu tampak sangat terkejut dan beringsut mundur... menjauh dariku..
Aku berusaha mendekatinya dengan bingung dan terhuyung-huyung.
Tapi kemudian, Cindy mengeluarkan ponselnya yang sudah memiliki fitur kamera dan memotretku dengan kameranya.
Kemudian, aku melihat dia memeriksa ponselnya, mungkin memeriksa fotoku yang baru saja dia ambil... matanya melirikku sekilas, aku menangkap nada khawatir dari pandangannya itu.
Dan sesaat kemudian, ponselku berbunyi.
Aku mengambilnya dari kantong rokku dan melihatnya.
1 pesan, dari Cindy.
MMS..
Sepertinya foto yang baru saja dia ambil tadi.
Kenapa Cindy mengirimkanku foto? apa menurutnya penampilanku yang sedang mual ini lucu?
Aku membuka foto yang dikirimkan Cindy lewat MMS itu.
"!!!!!!"
Di foto itu, aku sedang berdiri dengan wajah pucat, tapi tepat di belakangku, foto itu menangkap sebentuk asap tebal berwarna hitam..
Sosok asap hitam itu dengan sangat jelas membentuk sosok manusia....
'aaaakkk... aaaaaaaaakkkkkk!!'
Dari belakang telingaku, terdengar amat sangat dekat.. suara sesuatu yang sangat serak dan bergetar terdengar bagaikan tertawa.
Perlahan-lahan... aku melirik ke belakang punggungku tanpa menggerakkan badanku.
"AAHH!!!"
Sesosok wajah yang hangus parah hingga separuhnya bagaikan arang sedang menatap padaku, senyum dengan kulit koyak terbakarnya tampak sangat mengerikan, gigi-giginya yang tidak tertutup karena pipi koyak itu tampak sedang tersenyum lebar padaku.
Rambutnya terbakar habis sehingga hampir tidak tersisa lagi kecuali sisa-sisa rambut yang masih mencuat dari kulit kepalanya yang sudah menyatu dengan tengkoraknya. Namun, dari wajah mahluk itu yang tersisa, sepertinya sosok itu tadinya adalah wanita.
Aku melompat mundur karena terkejut.
Dan mahluk itu berteriak melengking dan menerjang ke diriku.
Hal terakhir yang kuingat sebelum pingsan adalah bagaimana aku merasakan tangan mahluk itu melingkar di bahuku dan wajahnya yang berada tepat di depan wajahku...
===
bersambung lagi ya, hehehe
- Elisa -
oldmanpapa memberi reputasi
2
Kutip
Balas