- Beranda
- Stories from the Heart
(HORROR) Kisah Untuk Malam Seratus Lilin - (Diary Gadis Bermata Indigo return)
...
TS
ayanorei
(HORROR) Kisah Untuk Malam Seratus Lilin - (Diary Gadis Bermata Indigo return)
Hallo All,
We come back!!

thanks all for HT
Setelah sekian lama vakum di Kaskus dan hanya menulis di tempat lain. Akhirnya kami memutuskan kembali. Yap, Ayano dan Elisa kembali akan membagikan kisah kami di Kaskus.
Tadinya, kami tidak berpikir untuk kembali ke Kaskus, tapi ternyata banyak Inbox ke ID ini maupun ke ID Ayanokouji (yang sayangnya sedang bermasalah untuk Login) supaya kami mau kembali melanjutkan cerita di Kaskus ini. Jadi, here we are, we came back.
Post #1 ini akan khusus untuk INDEX. Cerita akan dimulai di Post selanjutnya.
Yang mau baca season 1 nya ada di sini
INDEX
Kisah Pertama - Hantu Pembawa Janin
Kisah Kedua - Mereka Mengawasiku?
Kisah Ketiga - Lily (Bagian Pertama)
Kisah keempat - Lily (bagian kedua)
Kisah Kelima - Penguntit (bagian pertama)
Kisah Keenam - Penguntit (Bagian Kedua)
Kisah Ketujuh - Possession (part 1)
Kisah Kedelapan - Possession (part 2)
Kisah Kesembilan - Mahluk di langit-langit
Kisah Kesepuluh - Susahnya kalau yang ngefans 'mereka'
Kisah Kesebelas - Hantu di gedung tua
Kisah Keduabelas - Ternyata
Kisah Ketigabelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (Bag pertama)
Kisah Keempatbelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (bag kedua)
Kisah Kelimabelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (1)
Kisah Keenambelas - Kisah hantu di sekolah - Sri (2)
Kisah Ketujuhbelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (3)
Kisah Kedelapanbelas - Kisah hantu di sekolah - Belum berakhir
Kisah Kesembilanbelas - Kisah hantu di sekolah - Cerita dari Bi Sumi (1)
Kisah Keduapuluh - Kisah Hantu Disekolah - Cerita dari Bi Sumi (2)
Kisah Keduapuluhsatu - Kisah hantu disekolah - Gangguan Dimulai Lagi
Kisah Keduapuluhdua - Kisah Hantu Disekolah - Terkuak
Kisah KeduapuluhTiga - Kisah Hantu Di Kantor - Prologue
Kisah KeduapuluhEmpat - Kisah Hantu Di Kantor - Putih, Hitam dan Ungu
Kisah KeduapuluhLima - Kisah Hantu di Kantor - Sidestory
Kisah Keduapuluhenam - Kisah hantu di Kantor - Resign
Kisah Keduapuluhtujuh - Kisah Hantu di Kantor - Kembali Bekerja (1)

We come back!!

thanks all for HT
Setelah sekian lama vakum di Kaskus dan hanya menulis di tempat lain. Akhirnya kami memutuskan kembali. Yap, Ayano dan Elisa kembali akan membagikan kisah kami di Kaskus.
Tadinya, kami tidak berpikir untuk kembali ke Kaskus, tapi ternyata banyak Inbox ke ID ini maupun ke ID Ayanokouji (yang sayangnya sedang bermasalah untuk Login) supaya kami mau kembali melanjutkan cerita di Kaskus ini. Jadi, here we are, we came back.
Post #1 ini akan khusus untuk INDEX. Cerita akan dimulai di Post selanjutnya.
Yang mau baca season 1 nya ada di sini
Quote:
INDEX
Kisah Pertama - Hantu Pembawa Janin
Kisah Kedua - Mereka Mengawasiku?
Kisah Ketiga - Lily (Bagian Pertama)
Kisah keempat - Lily (bagian kedua)
Kisah Kelima - Penguntit (bagian pertama)
Kisah Keenam - Penguntit (Bagian Kedua)
Kisah Ketujuh - Possession (part 1)
Kisah Kedelapan - Possession (part 2)
Kisah Kesembilan - Mahluk di langit-langit
Kisah Kesepuluh - Susahnya kalau yang ngefans 'mereka'
Kisah Kesebelas - Hantu di gedung tua
Kisah Keduabelas - Ternyata
Kisah Ketigabelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (Bag pertama)
Kisah Keempatbelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (bag kedua)
Kisah Kelimabelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (1)
Kisah Keenambelas - Kisah hantu di sekolah - Sri (2)
Kisah Ketujuhbelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (3)
Kisah Kedelapanbelas - Kisah hantu di sekolah - Belum berakhir
Kisah Kesembilanbelas - Kisah hantu di sekolah - Cerita dari Bi Sumi (1)
Kisah Keduapuluh - Kisah Hantu Disekolah - Cerita dari Bi Sumi (2)
Kisah Keduapuluhsatu - Kisah hantu disekolah - Gangguan Dimulai Lagi
Kisah Keduapuluhdua - Kisah Hantu Disekolah - Terkuak
Kisah KeduapuluhTiga - Kisah Hantu Di Kantor - Prologue
Kisah KeduapuluhEmpat - Kisah Hantu Di Kantor - Putih, Hitam dan Ungu
Kisah KeduapuluhLima - Kisah Hantu di Kantor - Sidestory
Kisah Keduapuluhenam - Kisah hantu di Kantor - Resign
Kisah Keduapuluhtujuh - Kisah Hantu di Kantor - Kembali Bekerja (1)

Diubah oleh ayanorei 20-10-2017 13:04
scorpiolama dan 15 lainnya memberi reputasi
16
119.8K
Kutip
380
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanorei
#283
Kisah KesembilanBelas - Kisah Hantu Di Sekolah - Cerita dari Bi Sumi
Halo semua..
Untuk part kali ini, aku akan menceritakan ulang kisah yang bukan kualami sendiri. Tapi kisah yang dulu pernah bi Sumi ceritakan padaku. Mengenai sekolahku yang ternyata angker sekali... (Hiiyy... merinding kalau diingat-ingat).
Jadi, cerita kali ini mungkin tidak terlalu seram (bagiku sih tetap seram), tapi penting untuk aku ceritakan, karena besar sangkut pautnya dengan misteri dari SMU-ku itu.
Salam
-Elisa-
===
Aku lelah....
Kali ini sepertinya kesehatan jiwaku mulai terganggu lagi..
Sudah lama aku tidak diganggu terus menerus seperti ini..
Memang sih.. gangguan itu bukan bersifat frontal, tapi cukup mengganggu apabila kau mengetahui kalau dimanapun kau berada di sekolah ini, tidak ada tempat aman bagimu dari 'mereka'.
Iya... 'mereka'... bukan hanya satu atau dua lagi, tapi banyak sosok-sosok baru..
Dan anehnya.. sebagian besar dari mereka itu.. bersosok remaja... dan hampir semuanya tampil dengan wujud penuh darah..
Aku bisa menghitung sosok 'mereka' yang bukan bersosok anak-anak remaja... Tapi, kebanyakan adalah remaja seumuranku atau seumuran SMP, namun tidak ada satupun yang tampil tanpa ada darah di tubuh mereka.. semuanya berlumuran darah..
Kadang-kadang seorang dari 'mereka' menampakkan diri di sudut kelasku. Menatapku dengan mata mereka yang menatap tajam dibalik sosok tubuh mereka yang hancur dan berceceran darah.
Pernah juga seorang dari 'mereka' mengintip tepat di balik tubuh guruku yang berdiri hanya sekitar tiga meja dari tempatku duduk.
Kali lain, seorang dari 'mereka' memegang betisku, dan meninggalkan bercak darah berbentuk tangan yang kubersihkan menggunakan tissue dengan panik karena takut terlihat oleh teman sekelasku yang lain...
Kemudian pernah juga, pada saat aku berada di lorong sendirian, hendak pulang setelah lab Biologi, aku mendengar langkah kaki mendekat dari belakang dengan irama yang sama denganku. Aku merasakan rasa dingin di tengkukku bersamaan dengan bau amis darah yang pekat. Seketika itu juga aku langsung tau.. kalau yang sedang berada di belakangku adalah salah satu dari 'mereka'. Aku berlari.. namun langkah itu juga mengikuti cepatnya langkahku, dan bahkan terdengar semakin lama semakin dekat.
Aku bahkan bisa merasakan hembusan nafas berbau ikan busuk tepat berhembus di sampingku pas kakiku melangkah ke luar gedung sekolah... nyaris... benar-benar nyaris...
Dan masih banyak gangguan serupa yang berulang-ulang dan sering.
Satu minggu lewat sedikit... itulah waktu yang kuperlukan sampai dengan tiba saatku berpikir kalau aku sudah tidak tahan lagi.
Kemudian... terpikir olehku mengenai bi Sumi...
Sepertinya beliau tau banyak mengenai sekolah ini.. mungkin, aku bisa bertanya sesuatu mengenai keanehan sekolah ini pada beliau.
Semoga saja bi Sumi mau bercerita padaku... sepertinya beliau takut sekali ketika membicarakan soal 'Sri' kemarin... Jangan-jangan bi Sumi tidak akan mau bercerita padaku...
Ternyata dugaanku salah..
Ketika aku menghampiri bi Sumi, beliau tampak begitu bersemangat dan separuh menyeretku masuk ke warung rotinya.
"Noon!!! waduuuh, bibi nunggu-nunggu lho, Non dateng beli roti bibi lagi. Soalnya bibi mau ngomong sama Non!!" sampai sekarang, kalimat bersemangat dari ibu ramah itu masih terngiang di ingatanku.
"Eh..? ada apa memangnya, bi?"
Bi Sumi tersenyum ramah padaku "Aduhhh, nggak usah merendah, non. Bibi tau, pasti non yang bikin arwah Sri akhirnya bisa tenang, kan?"
"Eh? maksud bibi?"
"Ahh, non ini.. pura-pura aja" kata bi Sumi sambil mengusap lenganku ramah "Non udah bantu supaya jenazah dari Sri ketemu, kan? makanya Sri udah tenang sekarang" kata bi Sumi.
"Kenapa bibi bilang begitu? kan kebetulan aja kemarin sekolahnya rubuh, bi? kalau nggak kan, mungkin sampai sekarang jenazah itu belum ketemu.." kataku. Dalam hatiku berpikir, ternyata itu benar.... jenazah dari Sri... pantas sosok gadis itu sudah menghilang sekarang..
Aku sebenarnya sudah mengetahuinya secara insting dan secara penglihatan terakhirku akan sosok Sri. Tapi kata-kata bi Sumi ini akhirnya menguatkannya.
"Ahh, tapi bibi yakin itu karena Non. Karena, cuma Non aja yang meskipun bibi udah larang, tapi masih berani deket-deket sama Sri" kata bi Sumi.
"Apa? berani deket-deket?"
"Iya, Non kan selalu diikutin sama Sri kemana-mana? bibi emang bisa lihat gituan dikit-dikit Non.. dan bibi tuh ngeliat, kalau Non selalu bawa-bawa Sri kemana-mana dulu."
"Hah?!" baiklah.. berita itu sukses membuatku menjadi sangat takut sekarang... aku merasa kepalaku berputar pusing dan perutku menjadi mual..
"Iya, kan? malah bibi pernah liat non gendong-gendong Sri" kata bibi itu sambil menunjukkan ekspresi takut namun penasaran.
Aku? aku sudah gemetaran sekarang.. namun aku berusaha untuk mengatur nafasku. Tidak lucu kalau aku sampai pingsan di sini, sekarang...
"Ya-yang penting Sri-nya udah tenang sekarang..." kataku dengan suara bergetar.
"Ya, ya!!" bi Sumi mengangguk-angguk setuju. "Lalu, non ada perlu apa? sepertinya mau cari bibi, kan? bukan untuk beli roti?" tanya bi Sumi.
Aku jadi ingat tujuanku kemari. Setelah menarik nafas dan menenangkan diriku, aku mulai bertanya pada bi Sumi. "Bi... kalau boleh aku tanya... sebenarnya ada cerita apa sih, di sekolah ini?" tanyaku pada bi Sumi.
Ekspresi beliau mengeras bersamaan dengan tubuhnya yang menegang.
"Jangan non.." bisik bi Sumi.
"Hah? apa maksudnya jangan bi Sumi? jangan apa?" tanyaku khawatir.
"Non memang sudah nolong Sri. Itu udah bagus, Non. Tapi kalau non mau nolong mereka semua... nanti Non yang dalam bahaya.." nasehat bi Sumi.
Apa???!! menolong mereka semua!!?
"Eh? mereka? maksud bi Sumi? mereka ada berapa banyak?" tanyaku kaget.
"Banyak non..." bisik bi Sumi. "Non ingat, bibi pernah bilang sekolah ini nggak pernah lagi terima anak yang namanya 'Sri' ?"
Aku mengangguk.
"Itu ada ceritanya, non.." kata bi Sumi.
Lalu bi Sumi pun mulai bercerita..
"Dulu, kalau nggak salah letak gedung sekolah sama lapangannya ini berbeda, non" bi Sumi mulai membuka cerita.
"Dulu, gedungnya itu justru ada di lapangan sekarang ini, dan lapangan itu dulu gedung sekolahnya..
Nah, lapangannya yang sekarang kan non tau? kecil kan, non? justru itulah sebabnya dulu gedung itu dipindahin. Gedung sekolah dulu itu terlalu kecil, dan dibangun dari masa kemerdekaan dulu...
Kemudian, gedung itu dirubuhin dan dibangun gedung sekolah baru di lapangan yang dulunya itu bisa untuk main bola, jadi gedung sekolah yang luas seperti sekarang...
Ada cerita, Non, mengenai sekolah ini dari dulu. Katanya sih, dulunya sering ada penampakan arwah di lapangan sekolah kalau malam-malam..."
"Sri..." bisikku.
Bi Sumi mengangguk dan melanjutkan ceritanya "Lalu, semenjak gedung itu pindah, jadilah penampakan itu jadi sering muncul di gedung sekolah, bukan di lapangan lagi...
Mulai dari saat itulah, sering ada murid yang kesurupan, atau ngeliat penampakan-penampakan selagi di sekolah. Dan nggak lama kemudian, mulai muncul murid-murid yang sakit yang aneh, Non, karena menurut dokter, mereka tuh nggak sakit apa-apa, tapi bisa ada yang panas tinggi dan bahkan sampai ada yang keluar darah dari mulut dan hidungnya..."
Aku terperangah mendengarnya "Separah itu, bi?" tanyaku.
"Iya, non. Dan beberapa yang sakit itu, semuanya mengingau satu nama yang sama"
"Sri.." putusku.
"Bener, Non.. dan lama-lama, semua orang sadar, kalau semua korban yang sakit, kesurupan, liat-liat penampakan itu, semuanya ada nama Sri, di namanya..."
"Ahh...." gumamku, bingung untuk berkata apapun.
"Non lihat ada tulisan di pinggir jalan sana?" tanya bi Sumi sambil menunjuk ke arah jalan di depan sekolahku.
"Nggak.. tulisan apa, bi?" tanyaku yang memang belum pernah melewati jalan itu karena bukan jalan ruteku untuk pulang.
"Di sana ada tulisan, hati-hati, sering ada kecelakaan.. gitu, Non" kata bi Sumi kemudian.
"Itu, di jalan itu sering banget ada anak-anak sekolah ini yang kecelakaan karena ketabrak mobil..
Dan, Non tau? anehnya kecelakaan itu apa?"
"Semuanya... namanya Sri?" bisikku takut-takut.
"Tepat, Non" kata bu Sumi sambil mengangguk serius.
"Ta-tapi.. kalau begitu pasti kan ramai masuk koran, bi?"
"Lah, memang iya Non. Sampai masuk tabloid misteri loh.. dua puluh tahun yang lalu, sekolah ini sampai ramai mendatangkan orang pintar untuk 'mendoakan' jalanan angker itu"
"Du..dua puluh tahun? ohh..... lalu? berhasil, bi?"
"Iya Non, itu tuh, lihat kan? ada tempat sesajen di situ, disuruh orang-orang pintar itu. Pas abis itu sih, selama puluhan tahun nggak ada kejadian, Non.."
"Kayaknya bibi mau ngomong kalau ada kejadian lagi?"
"Lima tahun lalu, Non" kata bi Sumi dengan ekspresi sedih.
"Ada apa, bi?" tanyaku.
"Waktu itu kejadiannya ada anak SD, Non..
Baru aja pulang dari Ebtanas waktu itu... bibi ngeliat jelas, dengan mata kepala bibi sendiri, kalau anak itu... seperti ada yang narik kakinya sampai dia jatuh"
"Ahh...."
"Bibi masih inget jelas... nama anak itu, soalnya orang tuanya nangis sambil berlutut di tengah jalan situ.. sampai orang-orang sekitar rame bujuk ibu itu untuk ke pinggir"
"Namanya...?"
"Iya, Non. Bibi inget... namanya ***lita *****Sri...."
Lita!!! pikirku langsung mengarah pada sosok gadis kecil yang menghilang bersamaan dengan menghilangnya sosok Sri...
Mata rantai semakin terhubung...
"Lalu... bagaimana dengan gadis itu, bi?"
"Meninggal langsung, Non..." kata bi Sumi dengan wajah sedih.
Aku merasakan sedih yang menyayat mendengarnya.
Lita...
Pantas saja dia mengatakan kalau dia tidak akan pernah lulus sekolah... sangat tragis.. meninggal saat menunaikan Ebtanas...
"Lalu bi.... selain Sri... apa masih ada lagi yang lainnya?"
"Ohh... mungkin ada, Non... Karena sekolah ini memang dari dulu banyak penunggunya."
"Penunggu...?
Umm... bi? kalau setau bibi... berapa banyak kira-kira mahluk di sekolah ini?"
Bi Sumi menatapku dengan heran, kemudian terlihat sedang menghitung-hitung di kepalanya "Kalau termasuk yang anak-anak yang meninggal penasaran... bisa sampai dua puluh, Non"
Aku langsung merasakan dingin naik sampai ke tengkukku.....
Spoiler for Cerita Dari Bi Sumi (1):
Halo semua..
Untuk part kali ini, aku akan menceritakan ulang kisah yang bukan kualami sendiri. Tapi kisah yang dulu pernah bi Sumi ceritakan padaku. Mengenai sekolahku yang ternyata angker sekali... (Hiiyy... merinding kalau diingat-ingat).
Jadi, cerita kali ini mungkin tidak terlalu seram (bagiku sih tetap seram), tapi penting untuk aku ceritakan, karena besar sangkut pautnya dengan misteri dari SMU-ku itu.
Salam
-Elisa-
===
Aku lelah....
Kali ini sepertinya kesehatan jiwaku mulai terganggu lagi..
Sudah lama aku tidak diganggu terus menerus seperti ini..
Memang sih.. gangguan itu bukan bersifat frontal, tapi cukup mengganggu apabila kau mengetahui kalau dimanapun kau berada di sekolah ini, tidak ada tempat aman bagimu dari 'mereka'.
Iya... 'mereka'... bukan hanya satu atau dua lagi, tapi banyak sosok-sosok baru..
Dan anehnya.. sebagian besar dari mereka itu.. bersosok remaja... dan hampir semuanya tampil dengan wujud penuh darah..
Aku bisa menghitung sosok 'mereka' yang bukan bersosok anak-anak remaja... Tapi, kebanyakan adalah remaja seumuranku atau seumuran SMP, namun tidak ada satupun yang tampil tanpa ada darah di tubuh mereka.. semuanya berlumuran darah..
Kadang-kadang seorang dari 'mereka' menampakkan diri di sudut kelasku. Menatapku dengan mata mereka yang menatap tajam dibalik sosok tubuh mereka yang hancur dan berceceran darah.
Pernah juga seorang dari 'mereka' mengintip tepat di balik tubuh guruku yang berdiri hanya sekitar tiga meja dari tempatku duduk.
Kali lain, seorang dari 'mereka' memegang betisku, dan meninggalkan bercak darah berbentuk tangan yang kubersihkan menggunakan tissue dengan panik karena takut terlihat oleh teman sekelasku yang lain...
Kemudian pernah juga, pada saat aku berada di lorong sendirian, hendak pulang setelah lab Biologi, aku mendengar langkah kaki mendekat dari belakang dengan irama yang sama denganku. Aku merasakan rasa dingin di tengkukku bersamaan dengan bau amis darah yang pekat. Seketika itu juga aku langsung tau.. kalau yang sedang berada di belakangku adalah salah satu dari 'mereka'. Aku berlari.. namun langkah itu juga mengikuti cepatnya langkahku, dan bahkan terdengar semakin lama semakin dekat.
Aku bahkan bisa merasakan hembusan nafas berbau ikan busuk tepat berhembus di sampingku pas kakiku melangkah ke luar gedung sekolah... nyaris... benar-benar nyaris...
Dan masih banyak gangguan serupa yang berulang-ulang dan sering.
Satu minggu lewat sedikit... itulah waktu yang kuperlukan sampai dengan tiba saatku berpikir kalau aku sudah tidak tahan lagi.
Kemudian... terpikir olehku mengenai bi Sumi...
Sepertinya beliau tau banyak mengenai sekolah ini.. mungkin, aku bisa bertanya sesuatu mengenai keanehan sekolah ini pada beliau.
Semoga saja bi Sumi mau bercerita padaku... sepertinya beliau takut sekali ketika membicarakan soal 'Sri' kemarin... Jangan-jangan bi Sumi tidak akan mau bercerita padaku...
Ternyata dugaanku salah..
Ketika aku menghampiri bi Sumi, beliau tampak begitu bersemangat dan separuh menyeretku masuk ke warung rotinya.
"Noon!!! waduuuh, bibi nunggu-nunggu lho, Non dateng beli roti bibi lagi. Soalnya bibi mau ngomong sama Non!!" sampai sekarang, kalimat bersemangat dari ibu ramah itu masih terngiang di ingatanku.
"Eh..? ada apa memangnya, bi?"
Bi Sumi tersenyum ramah padaku "Aduhhh, nggak usah merendah, non. Bibi tau, pasti non yang bikin arwah Sri akhirnya bisa tenang, kan?"
"Eh? maksud bibi?"
"Ahh, non ini.. pura-pura aja" kata bi Sumi sambil mengusap lenganku ramah "Non udah bantu supaya jenazah dari Sri ketemu, kan? makanya Sri udah tenang sekarang" kata bi Sumi.
"Kenapa bibi bilang begitu? kan kebetulan aja kemarin sekolahnya rubuh, bi? kalau nggak kan, mungkin sampai sekarang jenazah itu belum ketemu.." kataku. Dalam hatiku berpikir, ternyata itu benar.... jenazah dari Sri... pantas sosok gadis itu sudah menghilang sekarang..
Aku sebenarnya sudah mengetahuinya secara insting dan secara penglihatan terakhirku akan sosok Sri. Tapi kata-kata bi Sumi ini akhirnya menguatkannya.
"Ahh, tapi bibi yakin itu karena Non. Karena, cuma Non aja yang meskipun bibi udah larang, tapi masih berani deket-deket sama Sri" kata bi Sumi.
"Apa? berani deket-deket?"
"Iya, Non kan selalu diikutin sama Sri kemana-mana? bibi emang bisa lihat gituan dikit-dikit Non.. dan bibi tuh ngeliat, kalau Non selalu bawa-bawa Sri kemana-mana dulu."
"Hah?!" baiklah.. berita itu sukses membuatku menjadi sangat takut sekarang... aku merasa kepalaku berputar pusing dan perutku menjadi mual..
"Iya, kan? malah bibi pernah liat non gendong-gendong Sri" kata bibi itu sambil menunjukkan ekspresi takut namun penasaran.
Aku? aku sudah gemetaran sekarang.. namun aku berusaha untuk mengatur nafasku. Tidak lucu kalau aku sampai pingsan di sini, sekarang...
"Ya-yang penting Sri-nya udah tenang sekarang..." kataku dengan suara bergetar.
"Ya, ya!!" bi Sumi mengangguk-angguk setuju. "Lalu, non ada perlu apa? sepertinya mau cari bibi, kan? bukan untuk beli roti?" tanya bi Sumi.
Aku jadi ingat tujuanku kemari. Setelah menarik nafas dan menenangkan diriku, aku mulai bertanya pada bi Sumi. "Bi... kalau boleh aku tanya... sebenarnya ada cerita apa sih, di sekolah ini?" tanyaku pada bi Sumi.
Ekspresi beliau mengeras bersamaan dengan tubuhnya yang menegang.
"Jangan non.." bisik bi Sumi.
"Hah? apa maksudnya jangan bi Sumi? jangan apa?" tanyaku khawatir.
"Non memang sudah nolong Sri. Itu udah bagus, Non. Tapi kalau non mau nolong mereka semua... nanti Non yang dalam bahaya.." nasehat bi Sumi.
Apa???!! menolong mereka semua!!?
"Eh? mereka? maksud bi Sumi? mereka ada berapa banyak?" tanyaku kaget.
"Banyak non..." bisik bi Sumi. "Non ingat, bibi pernah bilang sekolah ini nggak pernah lagi terima anak yang namanya 'Sri' ?"
Aku mengangguk.
"Itu ada ceritanya, non.." kata bi Sumi.
Lalu bi Sumi pun mulai bercerita..
"Dulu, kalau nggak salah letak gedung sekolah sama lapangannya ini berbeda, non" bi Sumi mulai membuka cerita.
"Dulu, gedungnya itu justru ada di lapangan sekarang ini, dan lapangan itu dulu gedung sekolahnya..
Nah, lapangannya yang sekarang kan non tau? kecil kan, non? justru itulah sebabnya dulu gedung itu dipindahin. Gedung sekolah dulu itu terlalu kecil, dan dibangun dari masa kemerdekaan dulu...
Kemudian, gedung itu dirubuhin dan dibangun gedung sekolah baru di lapangan yang dulunya itu bisa untuk main bola, jadi gedung sekolah yang luas seperti sekarang...
Ada cerita, Non, mengenai sekolah ini dari dulu. Katanya sih, dulunya sering ada penampakan arwah di lapangan sekolah kalau malam-malam..."
"Sri..." bisikku.
Bi Sumi mengangguk dan melanjutkan ceritanya "Lalu, semenjak gedung itu pindah, jadilah penampakan itu jadi sering muncul di gedung sekolah, bukan di lapangan lagi...
Mulai dari saat itulah, sering ada murid yang kesurupan, atau ngeliat penampakan-penampakan selagi di sekolah. Dan nggak lama kemudian, mulai muncul murid-murid yang sakit yang aneh, Non, karena menurut dokter, mereka tuh nggak sakit apa-apa, tapi bisa ada yang panas tinggi dan bahkan sampai ada yang keluar darah dari mulut dan hidungnya..."
Aku terperangah mendengarnya "Separah itu, bi?" tanyaku.
"Iya, non. Dan beberapa yang sakit itu, semuanya mengingau satu nama yang sama"
"Sri.." putusku.
"Bener, Non.. dan lama-lama, semua orang sadar, kalau semua korban yang sakit, kesurupan, liat-liat penampakan itu, semuanya ada nama Sri, di namanya..."
"Ahh...." gumamku, bingung untuk berkata apapun.
"Non lihat ada tulisan di pinggir jalan sana?" tanya bi Sumi sambil menunjuk ke arah jalan di depan sekolahku.
"Nggak.. tulisan apa, bi?" tanyaku yang memang belum pernah melewati jalan itu karena bukan jalan ruteku untuk pulang.
"Di sana ada tulisan, hati-hati, sering ada kecelakaan.. gitu, Non" kata bi Sumi kemudian.
"Itu, di jalan itu sering banget ada anak-anak sekolah ini yang kecelakaan karena ketabrak mobil..
Dan, Non tau? anehnya kecelakaan itu apa?"
"Semuanya... namanya Sri?" bisikku takut-takut.
"Tepat, Non" kata bu Sumi sambil mengangguk serius.
"Ta-tapi.. kalau begitu pasti kan ramai masuk koran, bi?"
"Lah, memang iya Non. Sampai masuk tabloid misteri loh.. dua puluh tahun yang lalu, sekolah ini sampai ramai mendatangkan orang pintar untuk 'mendoakan' jalanan angker itu"
"Du..dua puluh tahun? ohh..... lalu? berhasil, bi?"
"Iya Non, itu tuh, lihat kan? ada tempat sesajen di situ, disuruh orang-orang pintar itu. Pas abis itu sih, selama puluhan tahun nggak ada kejadian, Non.."
"Kayaknya bibi mau ngomong kalau ada kejadian lagi?"
"Lima tahun lalu, Non" kata bi Sumi dengan ekspresi sedih.
"Ada apa, bi?" tanyaku.
"Waktu itu kejadiannya ada anak SD, Non..
Baru aja pulang dari Ebtanas waktu itu... bibi ngeliat jelas, dengan mata kepala bibi sendiri, kalau anak itu... seperti ada yang narik kakinya sampai dia jatuh"
"Ahh...."
"Bibi masih inget jelas... nama anak itu, soalnya orang tuanya nangis sambil berlutut di tengah jalan situ.. sampai orang-orang sekitar rame bujuk ibu itu untuk ke pinggir"
"Namanya...?"
"Iya, Non. Bibi inget... namanya ***lita *****Sri...."
Lita!!! pikirku langsung mengarah pada sosok gadis kecil yang menghilang bersamaan dengan menghilangnya sosok Sri...
Mata rantai semakin terhubung...
"Lalu... bagaimana dengan gadis itu, bi?"
"Meninggal langsung, Non..." kata bi Sumi dengan wajah sedih.
Aku merasakan sedih yang menyayat mendengarnya.
Lita...
Pantas saja dia mengatakan kalau dia tidak akan pernah lulus sekolah... sangat tragis.. meninggal saat menunaikan Ebtanas...
"Lalu bi.... selain Sri... apa masih ada lagi yang lainnya?"
"Ohh... mungkin ada, Non... Karena sekolah ini memang dari dulu banyak penunggunya."
"Penunggu...?
Umm... bi? kalau setau bibi... berapa banyak kira-kira mahluk di sekolah ini?"
Bi Sumi menatapku dengan heran, kemudian terlihat sedang menghitung-hitung di kepalanya "Kalau termasuk yang anak-anak yang meninggal penasaran... bisa sampai dua puluh, Non"
Aku langsung merasakan dingin naik sampai ke tengkukku.....
oldmanpapa memberi reputasi
2
Kutip
Balas