- Beranda
- Stories from the Heart
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
...
TS
Shadowroad
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ane mau share novel buatan ane sendiri gan
Novel ane bergenre action, horror, romance, school-life dan supranatural
Inspirasi dapat dari alur game, film, anime, kehidupan, komik, mitologi, legenda dan novel yang pernah ane amati
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Spoiler for Begini gan ceritanya::
Cerita ini tentang seorang remaja dari Jakarta yang keluarganya terbunuh karena kaum vampire. Cowok remaja ini bernama Erik Calendula. Setelah selamat dari bencana yang dibuat kaum vampire, dia lalu memohon pada Arthur Pendragon. Arthur adalah salah satu dari beberapa pemburu vampire yang menyelamatkan Erik. Dibakar oleh tangisan, amarah dan dendam atas kematian keluarganya, Erik meminta Arthur untuk mendidiknya agar menjadi seorang pemburu vampire. Erik berniat menghancurkan organisasi vampire penebar bencana yang menjadi penyebab kematian orang tuanya.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Spoiler for Daftar Isi:
Prolog: Hotel Indonesia
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Gan, setelah baca mohon komennya, ya
Ane sangat menerima kritik dan saran
Pertanyaan juga sangat dianjurkan, supaya agan2 dapat lebih memahami cerita yang rumit ini
Kalau terjadi kesalahan seperti tanda baca, kurang jelas, ketidak konsistenan cerita mohon diingatkan ya gan
Terima kasih gan
Diubah oleh Shadowroad 26-11-2017 06:31
2
87.1K
Kutip
544
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Shadowroad
#500
Part 54: Elektrokimia
Spoiler for Part 54: Elektrokimia:
Sambil menunggu kelas dimulai, Erik duduk di taman sekolah bersama Amanda dan Dietrich. Mereka duduk di meja batu dekat kolam ikan yang dikelilingi kumpulan bunga tulip. Erik menceritakan marga Asakura yang ternyata disandang oleh Andika. Cerita yang seharusnya sudah diceritakan sehari setelah misi di Pluit’s Boat. Erik dan Amanda duduk santai sambil selonjoran kaki. Sementara Dietrich melempari ikan-ikan dengan batu-batu kecil. Setelah membicarakan marga Asakura, mereka membicarakan kisah tentang Emmy Merah dan Emmy Putih.
“Kami langsung terdiam setelah mengetahui siapa dalangnya,” cerita Erik pada Dietrich, “Cain Asclepios ... penjahat internasional yang akan menyulut Black Banquet War.”
Suasana di antara mereka bertiga hening kembali. Reputasi Cain Asclepios tidak hanya terkenal di kalangan manipulator Indonesia tapi juga internasional. Cukup untuk membuat bulu kuduk manipulator junior berdiri. Dietrich dan Amanda sudah mengetahui sejak dulu. Tapi Erik baru mengetahui ketika dia main ke rumah Elsa beberapa waktu yang lalu.
“Lalu apa rencana Kak Sandra?” tanya Dietrich.
“Begini, awalnya Kak Sandra akan menyelidiki hingga ke akarnya,” kata Amanda, “Namun setelah tahu siapa dalangnya, mereka memutusukan untuk menangkap Lady in the Black saja. Tidak sampai Cain. Karena mereka tahu mustahil menghadapi Cain. Dia penjahat gila yang luar biasa kuat.”
“Teman-teman, kalau aku boleh jujur,” kata Erik yang berusaha mengalihkan pembicaraan, “Aku baru tahu tentang marga Asakura ini.”
“Serius, Rik? Kau baru tahu marga Asakura?” tanya Amanda. Dirinya tidak mengira ketidaktahuan Erik tentang dunia bawah lebih parah dari dugaannya.
Erik mengangguk, “Kau sudah tahu sendiri, kan, bahwa aku terlalu fokus pada pelatihanku? Satu-satunya hal baru yang kuketahui hanyalah vampire, werewolf dan cara bertarung.”
“Lalu setelah mendengar keberadaan unicorn, apa kau menyangkalnya?” tanya Dietrich.
“Mentalku sudah siap pada hal-hal aneh sejak aku tahu istilah Immortal dan bahwa Arthur adalah Immortal. Jadi, ya, aku mengakui keberadaan unicorn.”
“Seperti kata Arthur, aku dan Amanda perlu mengajakmu berjalan-jalan ke departemen-departemen di Paladin,” kata Dietrich.
“Kapan terakhir kali kau berjalan-jalan ke Paladin?” tanya Erik sambil menyeruput tehnya. Teh botol dingin. Cukup membuat gigi Erik ngilu.
“Sehari sebelum misi kita di Pluit’s Boat,” jawab Dietrich, “Kak Leon melatihku menggunakan pengendalian api.”
“Oh, iya, Dietrich,” kata Amanda, “Pengendalian apimu semakin meningkat, ya.”
Lemparan Dietrich membentur kepala ikan. Dia bersorak dan mengomentari pernyataan Amanda, “Syukurlah, meningkat sedikit. Sejak masuk di tim ini, aku yang awalnya petarung dengan tipe support-defensif kini berubah menjadi support-offensif. Jadinya aku harus mengimbanginya dengan pengendalian bertipe offensif.”
“Maaf, Dietrich,” Amanda tertawa, “Kami bertiga secara tidak langsung memaksamu mengubah cara bertarung.”
“Tak apa. Mungkin aku bisa lebih kuat dengan cara seperti ini,” jawab Dietrich yang melemparkan batu kerikilnya. Dia mengerang karena bidikannya meleset.
“Hei, hei, hentikan,” kata Erik, “Kasihan ikan-ikan itu.”
Bel sekolah akhirnya terdengar. Erik, Amanda dan Dietrich berjalan menuju kelas. Mereka berpisah di depan kelas Amanda. Pelajaran pertama Erik dan Dietrich adalah kimia yang diajar oleh Pak Nicholas. Ketika Erik dan Dietrich memasuki kelas kimia, Pak Nicholas sudah duduk di meja guru. Dia sedang sibuk bereskperimen terhadap kimianya. Asap berwarna biru keluar dari labu erlenmeyer.
“Baiklah, anak-anak,” kata Nicholas setelah semua siswa duduk, “Kali ini kita akan mempelajari elektrokimia. Kalian sudah kusuruh membaca, kan? Sebutkan contoh penerapannya!”
“Aki!” seru salah seorang anak.
“Baterai!”
“Sel Volta!” seru Erik.
“Nah! Volta!” seru Nicholas, “Siapakah pelopor benda penemuan ini?”
“Alessandro Volta dan Luigi Galvani!” jawab seorang siswa.
“Bagus. Ah, aku jadi teringat dua orang itu,” kata Nicholas sambil menggaruk-garuk kepalanya, “Sebutkan deret volta!”
“Lithium, Natrium, Kalium, Barium ...,” Erik berhenti karena lupa. Isi otaknya campur aduk antara unsur-unsur kimia, vampire dan unicorn.
“Kau mulai pikun, Erik?” tanya Nicholas yang pendangannya menyapu seluruh kelas, “Lanjutkan hafalannya Erik!!”
“Lithium, Kalium, Barium, Stronsium, Kalsium, Natrium, Magnesium, Alumunium, Mangan, Zink, Crom, Ferrum, Cadmium, Cobalt, Nikel, Timah, Timbal, Hidrogen, Antimon, Bismuth, Tembaga, Raksa, Perak, Platina dan Emas,” jawab Audrey.
Jawaban Audrey sangat lengkap dan tepat. Semua siswa melihat Audrey dengan mulut menganga. Tidak heran gadis sepintar ini menjadi ketua kelas dan menjadi kesayangan para guru. Nicholas sendiri tidak terkejut karena Audrey memang pintar sejak kelas 10. Guru kimia itu hanya menulis ulang unsur-unsur kimia yang disebut Audrey.
“Sekarang jelaskan bagaimana menurut kalian urutan zat-zat ini?” kata Nicholas seraya mengetuk rumus-rumus kimia yang ditulisnya.
Erik mengacungkan tangan dan menjawab, “Makin ke kanan, mudah direduksi makin sukar dioksidasi. Serta sebaliknya, makin ke kiri, mudah dioksidasi dan sukar direduksi.”
“Mantap!” jawab Nicholas seraya menggambar dua buah gelas kecil berisi air dan terdapat satu batang kecil aneh di tiap gelasnya, “Jelaskan padaku bagaimana sistem elektrokimia hubungan anoda dan katoda serta bagaimana alirannya!”
Dietrich menjawab, “Anoda terjadi reaksi oksidasi dan katoda terjadi reaksi reduksi. Arus elektron mengalir dari anoda ke katoda sedangkan arus listrik mengalir dari katoda ke anoda dan Jembatan garam: menyetimbangkan ion-ion dalam larutan.”
“Cukup basa-basinya,” kata Nicholas, “Sekarang kita akan melakukan percobaan langsung.”
Sambil menyiapkan alat-alatnya, Nicholas menunjukkan dan menyebutkan nama alat-alatnya. Saat ini guru kimia itu bagaikan seorang chef di acara memasak yang sedang menyiapkan bumbu dan bahan-bahan makanan. Awalnya, Nicholas menyiapkan dua gelas yang ukurannya sebesar telapak tangan. Dua gelas itu berisi cairan bening (Tembaga Sulfat dan Zink Sulfat) dan dihubungkan oleh sedotan aneh yang menurut buku teori disebut jembatan garam. Kemudian Nicholas menujukkan dua buah batang balok pipih yang keduanya dihubungkan dengan kabel dan lampu di bagian tengahnya. Batang yang ujung atasnya putih adalah katoda yang terbuat dari tembaga. Batang yang ujung atasnya biru adalah anoda yang terbuat dari zink. Masing-masing dari batang dimasukkan ke masing-masing gelas. Akhir eksperimen, lampunya pun menyala. Meski tidak seterang lampu rumah.
“Jelaskan apa yang terjadi di bagian zink!” tanya Nicholas.
“Zink melepaskan dua elektron dan aliran kation bergerak dari zink ke tembaga,” jawab seorang siswa.
Nicholas mengangguk, “Lalu bagian tembaga?”
“Tembaga menangkap dua elektron dan aliran anion bergerak ke tembaga ke zink,” jawab Rama.
Nicholas menyeringai dan berkata, “Tumben kau pintar,” yang disambut tawa oleh teman sekelasnya.
Nicholas kemudian masuk ke bagian belakang laboraturium. Tiga menit kemudian, dia muncul lagi dan membawa sebuah baterai, kabel dan apel. Dia lalu menunjukkan apelnya ke seluruh kelas.
“Sama seperti cairan sulfat tadi, apel ini bisa berfungsi sebagai sel volta,” kata Nicholas.
Eksperimen Nicholas saat ini akan menunjukkan bahwa baterai bekas masih bisa berfungsi. Asal bagian-bagian pentingnya terhubung dengan daging dan cairan apel. Bagian tengah baterai sudah dirobek dan dimasukkan ke bagian tengah apel. Dua kutub baterai dan intinya sudah basah oleh cairan apel. Kabel ditaruh di kedua kutub baterai sehingga lampunya menyala.
Nicholas menggosok-gosok dagunya, “Redup, ya. Tidak seterang kemarin.”
Guru kimia masuk kembali ke bagian belakang laboraturium. Dia segera kembali sambil membawa aki dan voltmeter. Dia melakukan eksperimen yang sama namun mengganti lampunya dengan voltmeter.
“Pantas saja ... cuma segini,” kata Nicholas.
Penasaran dengan eksperimennya sendiri, Nicholas mengkombinasikan semuanya. Antara aki, buah, baterai, voltmeter dan lampu. Selama lima menit dia mengotak-atik hingga rangkaian listriknya selesai. Bahkan nyaris lupa bahwa dirinya punya murid. Cahaya lampu malah lebih redup. Entah bagaimana caranya, Nicholas menaikkan tegangannya. Nyala lampu semakin terang. Karena menurutnya kurang terang, Nicholas menambah tegangannya lagi.
BUM!! BUM!! BUM!!
Tiga rentetan ledakan dalam selisih waktu yang hampir bersamaan. Baterai, voltmeter dan lampu meledak. Meja Nicholas berantakan dan beberapa bagian buku ada yang hangus. Kelas pun hening. Syok atas apa yang barusan terjadi. Erik dan Audrey menganga melihat kejutan barusan. Padahal sekarang bukan bulan puasa, tapi petasan sudah bersahut-sahutan.
“Yah, Hehehe,” tawa Nicholas, “Itu yang terjadi jika kelebihan listrik.”
Kelas masih hening. Satu-satunya yang berisik hanyalah suara Nicholas yang memberaskan akibat dari ulahnya sendiri.
Nicholas kemudian berkata pada siswa-siswanya, “Kenapa kalian diam? Oh, iya ... nanti tugasnya kukirim ke Audrey. Kumpulkan dua hari lagi. Kelas bubar.”
Kejadian barusan sangat menginspirasi Erik. Saat ini dia larut dalam pikirannya. Kombinasi antara tegangan listrik besar, buah dan baterai bekas bisa menghasilkan ledakan. Meski ledakan itu tidak besar, mungkin nanti Erik bisa memodifikasinya.
“Kami langsung terdiam setelah mengetahui siapa dalangnya,” cerita Erik pada Dietrich, “Cain Asclepios ... penjahat internasional yang akan menyulut Black Banquet War.”
Suasana di antara mereka bertiga hening kembali. Reputasi Cain Asclepios tidak hanya terkenal di kalangan manipulator Indonesia tapi juga internasional. Cukup untuk membuat bulu kuduk manipulator junior berdiri. Dietrich dan Amanda sudah mengetahui sejak dulu. Tapi Erik baru mengetahui ketika dia main ke rumah Elsa beberapa waktu yang lalu.
“Lalu apa rencana Kak Sandra?” tanya Dietrich.
“Begini, awalnya Kak Sandra akan menyelidiki hingga ke akarnya,” kata Amanda, “Namun setelah tahu siapa dalangnya, mereka memutusukan untuk menangkap Lady in the Black saja. Tidak sampai Cain. Karena mereka tahu mustahil menghadapi Cain. Dia penjahat gila yang luar biasa kuat.”
“Teman-teman, kalau aku boleh jujur,” kata Erik yang berusaha mengalihkan pembicaraan, “Aku baru tahu tentang marga Asakura ini.”
“Serius, Rik? Kau baru tahu marga Asakura?” tanya Amanda. Dirinya tidak mengira ketidaktahuan Erik tentang dunia bawah lebih parah dari dugaannya.
Erik mengangguk, “Kau sudah tahu sendiri, kan, bahwa aku terlalu fokus pada pelatihanku? Satu-satunya hal baru yang kuketahui hanyalah vampire, werewolf dan cara bertarung.”
“Lalu setelah mendengar keberadaan unicorn, apa kau menyangkalnya?” tanya Dietrich.
“Mentalku sudah siap pada hal-hal aneh sejak aku tahu istilah Immortal dan bahwa Arthur adalah Immortal. Jadi, ya, aku mengakui keberadaan unicorn.”
“Seperti kata Arthur, aku dan Amanda perlu mengajakmu berjalan-jalan ke departemen-departemen di Paladin,” kata Dietrich.
“Kapan terakhir kali kau berjalan-jalan ke Paladin?” tanya Erik sambil menyeruput tehnya. Teh botol dingin. Cukup membuat gigi Erik ngilu.
“Sehari sebelum misi kita di Pluit’s Boat,” jawab Dietrich, “Kak Leon melatihku menggunakan pengendalian api.”
“Oh, iya, Dietrich,” kata Amanda, “Pengendalian apimu semakin meningkat, ya.”
Lemparan Dietrich membentur kepala ikan. Dia bersorak dan mengomentari pernyataan Amanda, “Syukurlah, meningkat sedikit. Sejak masuk di tim ini, aku yang awalnya petarung dengan tipe support-defensif kini berubah menjadi support-offensif. Jadinya aku harus mengimbanginya dengan pengendalian bertipe offensif.”
“Maaf, Dietrich,” Amanda tertawa, “Kami bertiga secara tidak langsung memaksamu mengubah cara bertarung.”
“Tak apa. Mungkin aku bisa lebih kuat dengan cara seperti ini,” jawab Dietrich yang melemparkan batu kerikilnya. Dia mengerang karena bidikannya meleset.
“Hei, hei, hentikan,” kata Erik, “Kasihan ikan-ikan itu.”
Bel sekolah akhirnya terdengar. Erik, Amanda dan Dietrich berjalan menuju kelas. Mereka berpisah di depan kelas Amanda. Pelajaran pertama Erik dan Dietrich adalah kimia yang diajar oleh Pak Nicholas. Ketika Erik dan Dietrich memasuki kelas kimia, Pak Nicholas sudah duduk di meja guru. Dia sedang sibuk bereskperimen terhadap kimianya. Asap berwarna biru keluar dari labu erlenmeyer.
“Baiklah, anak-anak,” kata Nicholas setelah semua siswa duduk, “Kali ini kita akan mempelajari elektrokimia. Kalian sudah kusuruh membaca, kan? Sebutkan contoh penerapannya!”
“Aki!” seru salah seorang anak.
“Baterai!”
“Sel Volta!” seru Erik.
“Nah! Volta!” seru Nicholas, “Siapakah pelopor benda penemuan ini?”
“Alessandro Volta dan Luigi Galvani!” jawab seorang siswa.
“Bagus. Ah, aku jadi teringat dua orang itu,” kata Nicholas sambil menggaruk-garuk kepalanya, “Sebutkan deret volta!”
“Lithium, Natrium, Kalium, Barium ...,” Erik berhenti karena lupa. Isi otaknya campur aduk antara unsur-unsur kimia, vampire dan unicorn.
“Kau mulai pikun, Erik?” tanya Nicholas yang pendangannya menyapu seluruh kelas, “Lanjutkan hafalannya Erik!!”
“Lithium, Kalium, Barium, Stronsium, Kalsium, Natrium, Magnesium, Alumunium, Mangan, Zink, Crom, Ferrum, Cadmium, Cobalt, Nikel, Timah, Timbal, Hidrogen, Antimon, Bismuth, Tembaga, Raksa, Perak, Platina dan Emas,” jawab Audrey.
Jawaban Audrey sangat lengkap dan tepat. Semua siswa melihat Audrey dengan mulut menganga. Tidak heran gadis sepintar ini menjadi ketua kelas dan menjadi kesayangan para guru. Nicholas sendiri tidak terkejut karena Audrey memang pintar sejak kelas 10. Guru kimia itu hanya menulis ulang unsur-unsur kimia yang disebut Audrey.
“Sekarang jelaskan bagaimana menurut kalian urutan zat-zat ini?” kata Nicholas seraya mengetuk rumus-rumus kimia yang ditulisnya.
Erik mengacungkan tangan dan menjawab, “Makin ke kanan, mudah direduksi makin sukar dioksidasi. Serta sebaliknya, makin ke kiri, mudah dioksidasi dan sukar direduksi.”
“Mantap!” jawab Nicholas seraya menggambar dua buah gelas kecil berisi air dan terdapat satu batang kecil aneh di tiap gelasnya, “Jelaskan padaku bagaimana sistem elektrokimia hubungan anoda dan katoda serta bagaimana alirannya!”
Dietrich menjawab, “Anoda terjadi reaksi oksidasi dan katoda terjadi reaksi reduksi. Arus elektron mengalir dari anoda ke katoda sedangkan arus listrik mengalir dari katoda ke anoda dan Jembatan garam: menyetimbangkan ion-ion dalam larutan.”
“Cukup basa-basinya,” kata Nicholas, “Sekarang kita akan melakukan percobaan langsung.”
Sambil menyiapkan alat-alatnya, Nicholas menunjukkan dan menyebutkan nama alat-alatnya. Saat ini guru kimia itu bagaikan seorang chef di acara memasak yang sedang menyiapkan bumbu dan bahan-bahan makanan. Awalnya, Nicholas menyiapkan dua gelas yang ukurannya sebesar telapak tangan. Dua gelas itu berisi cairan bening (Tembaga Sulfat dan Zink Sulfat) dan dihubungkan oleh sedotan aneh yang menurut buku teori disebut jembatan garam. Kemudian Nicholas menujukkan dua buah batang balok pipih yang keduanya dihubungkan dengan kabel dan lampu di bagian tengahnya. Batang yang ujung atasnya putih adalah katoda yang terbuat dari tembaga. Batang yang ujung atasnya biru adalah anoda yang terbuat dari zink. Masing-masing dari batang dimasukkan ke masing-masing gelas. Akhir eksperimen, lampunya pun menyala. Meski tidak seterang lampu rumah.
“Jelaskan apa yang terjadi di bagian zink!” tanya Nicholas.
“Zink melepaskan dua elektron dan aliran kation bergerak dari zink ke tembaga,” jawab seorang siswa.
Nicholas mengangguk, “Lalu bagian tembaga?”
“Tembaga menangkap dua elektron dan aliran anion bergerak ke tembaga ke zink,” jawab Rama.
Nicholas menyeringai dan berkata, “Tumben kau pintar,” yang disambut tawa oleh teman sekelasnya.
Nicholas kemudian masuk ke bagian belakang laboraturium. Tiga menit kemudian, dia muncul lagi dan membawa sebuah baterai, kabel dan apel. Dia lalu menunjukkan apelnya ke seluruh kelas.
“Sama seperti cairan sulfat tadi, apel ini bisa berfungsi sebagai sel volta,” kata Nicholas.
Eksperimen Nicholas saat ini akan menunjukkan bahwa baterai bekas masih bisa berfungsi. Asal bagian-bagian pentingnya terhubung dengan daging dan cairan apel. Bagian tengah baterai sudah dirobek dan dimasukkan ke bagian tengah apel. Dua kutub baterai dan intinya sudah basah oleh cairan apel. Kabel ditaruh di kedua kutub baterai sehingga lampunya menyala.
Nicholas menggosok-gosok dagunya, “Redup, ya. Tidak seterang kemarin.”
Guru kimia masuk kembali ke bagian belakang laboraturium. Dia segera kembali sambil membawa aki dan voltmeter. Dia melakukan eksperimen yang sama namun mengganti lampunya dengan voltmeter.
“Pantas saja ... cuma segini,” kata Nicholas.
Penasaran dengan eksperimennya sendiri, Nicholas mengkombinasikan semuanya. Antara aki, buah, baterai, voltmeter dan lampu. Selama lima menit dia mengotak-atik hingga rangkaian listriknya selesai. Bahkan nyaris lupa bahwa dirinya punya murid. Cahaya lampu malah lebih redup. Entah bagaimana caranya, Nicholas menaikkan tegangannya. Nyala lampu semakin terang. Karena menurutnya kurang terang, Nicholas menambah tegangannya lagi.
BUM!! BUM!! BUM!!
Tiga rentetan ledakan dalam selisih waktu yang hampir bersamaan. Baterai, voltmeter dan lampu meledak. Meja Nicholas berantakan dan beberapa bagian buku ada yang hangus. Kelas pun hening. Syok atas apa yang barusan terjadi. Erik dan Audrey menganga melihat kejutan barusan. Padahal sekarang bukan bulan puasa, tapi petasan sudah bersahut-sahutan.
“Yah, Hehehe,” tawa Nicholas, “Itu yang terjadi jika kelebihan listrik.”
Kelas masih hening. Satu-satunya yang berisik hanyalah suara Nicholas yang memberaskan akibat dari ulahnya sendiri.
Nicholas kemudian berkata pada siswa-siswanya, “Kenapa kalian diam? Oh, iya ... nanti tugasnya kukirim ke Audrey. Kumpulkan dua hari lagi. Kelas bubar.”
Kejadian barusan sangat menginspirasi Erik. Saat ini dia larut dalam pikirannya. Kombinasi antara tegangan listrik besar, buah dan baterai bekas bisa menghasilkan ledakan. Meski ledakan itu tidak besar, mungkin nanti Erik bisa memodifikasinya.
0
Kutip
Balas