- Beranda
- Stories from the Heart
Life story: horor, drama, kisah seorang perantau (lanjutan) [TAMAT]
...
TS
prestant18
Life story: horor, drama, kisah seorang perantau (lanjutan) [TAMAT]
![Life story: horor, drama, kisah seorang perantau (lanjutan) [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2017/10/09/7213687_20171009032458.jpg)
CREDIT PICT: AGAN CATUR SAPUTRA
assalamualaikum
selamat siang kaskusers,
ane akan melanjutkan cerita dari thread ane sebelumnya.
untuk readers yang belum membaca kisah sebelumnya, silahkan baca di kisah keluarga perantau.
untuk cerita tentang perjalanan hidup dimana ane sudah mandiri,
cerita tersebut akan ane link dibawah,
selamat menikmati.... :
1. the beggining
2. tanah pertama
3. rumah pakdhe
4. kerja
5. belajar mengendalikan diri
6. desi
7. panggilan tes
8. Training
9. nilai dari sebuah perjalanan
10. misteri baung part 1
11. misteri baung part 2
12. misteri baung part 3
13. misteri baung part 4
14. mister baung part 5
15. misteri baung last part
16. perkenalan
17 teror
18. shita
19. shita 2
20. fighting
21. rendi
22. drama[belajar dewasa]
23. finally, we are. . .
24. another side from shita
25. moments
26. crash
27. about rendi
28. perpisahan 1
29. suasana baru
30. quality time 1
31. quality time 2
32. :'(
33. last memories of shita
34. TAKDIR
35. sisi gelapku
36. misteri mimpi nyata 1
37. misteri mimpi nyata 2
38. misteri mimpi nyata 3
39. resolusi
40. arah perubahan
41. rumah mas malik 1
42. rumah mas malik 2
43. rumah mas malik 3
44. rumah mas malik 4
45. maung dan mbah
46. rumah mas malik last chapter
47. sheryi 1
48. sheryl 2
49. djakarta; first impression
50. pemberitahuan
51. samapta
52. 2nd test
53. jangan sok
54. masa peralihan
55. tes kerja lagii
56. UPDATE SPESIAL TENTANG CV
57. indonesia
58. misteri divisi siang 1
59. misteri divisi siang 2 ( the story )
60. misteri divisi siang ( last part )
61. kematian itu pasti
62. PHK
63. adikku bernama dian 1
64. adikku bernama dian 2
65. titik balik
66. terus berjuang!!
67. SEMANGAT MERDEKA SAUDARAKU!
68. OJT 1
69. OJT 2
70. adek 1
71. adek 2
72. tulungagung, wecome to the jungle
73. pengalaman misteri baru
74. traveling with shita's family, [sakit]
75. she is. . .
76. hujan sore itu
77. aku ingin memastikan
78. sheryl's stories 1
79. sheryl's stories 2
80. sheryl's stories 3
81. my choice is, ,
82. teror 1; mabuk
83. alasanku memilih
84. teror 2, santet 1
85. teror 2, santet 2
86. karena kamu berbeda
87. teror 3, gangguan semakin berat
88. teror4, akhir
89. mimpi
90. hari yang dinanti nanti??
91. pertengkaran 1, fakta
92. pertengkaran 2, itu bukan kamu yang kukenal
93. PERTENGKARAN 3, AKHIR
94. SHERYL; FINAL CHAPTER
95. EPILOG
Diubah oleh prestant18 09-10-2017 03:30
zoekyvalkrye dan 65 lainnya memberi reputasi
62
1.3M
3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
prestant18
#1931
she is. . . .
satu bulan sudah berlalu dari hari raya idul fitri.
aku mulai bisa mengikhlaskan segala perasaan yang sudah terjadi tempo hari.
dan dari kejadian kemarin,
aku mendapatkan dua jawaban.
jawaban pertama, aku sudah bisa sepenuhnya membuka diri setelah empat setengah tahun memilih untuk menjadi pribadi yang tertutup karena besarnya perasaanku kepada shita,
perasaan yang dulu tidak pernah muncul sedikitpun kepada sheryl,
entah mengapa bisa ada dan membuatku merasakan pembalasan atas sikapku di masa lalu.
aku juga sudah bisa sepenuhnya melihat dia sebagai individu yang berbeda dari kakaknya, ,
yang kedua, tentu saja jelas,
kemungkinanku untuk mendapatkan perasaan yang sama dari sheryl sebagaimana perasaannya dulu kepadaku sudah tertutup.
sheryl sudah memutuskan untuk menganggapku sebagai kakaknya.
tepat dikala bibit bibit perasaan yang sudah dia semai bertahun tahun lalu malah mulai tumbuh, ,
sebuah kenyataan yang ironis, ,
benarlah pepatah,
segalanya akan terasa indah ketika kita sudah kehilangannya. . . .
disisi lain, ,
ada perubahan besar di dalam susunan penempatan bagi kami, siswa ojt angkatanku.
dari ketujuh belas orang peserta OJT yang di tempatkan di sektor malang,
kini hanya bersisa tujuh.
sepuluh orang lainnya harus berbesar hati menerima keputusan untuk di mutasikan ke luar pulau.
har, salah satu temanku yang juga sempat mengenyam masa masa orientasi di sini,
harus ikut berangkat ke kalimantan untuk mengisi sebuah PLTU baru di daerah kalteng.
kini di sini tinggal menyisakan aku dan firman.
sepeninggal har, aku firman dan khair memutuskan untuk keluar dari mess dan memilih untuk kost di daerah yang lebih ramai.
kami memang sudah bosan karena suasana di mess terlalu sunyi, dan juga ketika mencari makan terlalu jauh.
jadilah kami kost di sebuah kecamatan yang letaknya hanya berselang empat kilometer dari mess.
seiring dengan perubahan jarak,
maka aku, firman dan khair juga harus memiliki alat transportasi yang akan membawa kami pulang dan pergi kerja.
firman mengambil sepeda motor miliknya dari rumah untuk dibawa kemari,
sedangkan khair yang memang sudah lama disini,
sudah memiliki sepeda motor sendiri.
maka tersisalah aku yang harus menumpang khair untuk pulang dan pergi.
untungnya,
aku dan khair kini ditempatkan dalam satu tim.
jadi kami hampir pasti selalu pulang dan pergi bersama sama.
sayangnya, jika khair harus masuk double shift,
maka aku tidak memiliki pilihan lain selain menunggunya.
awalnya aku merasa santai saja,
kuanggap waktuku selama menunggu khair pulang bisa kumanfaatkan untuk belajar lebih mengenai pembangkitan,
sebab di akhir masa OJT, aku memiliki kewajiban untuk membuat laporan akhir plus sertifikasi.
sertifikasi dan laporan akhir adalah syarat mutlak kelulusan.
namun kendala mulai terasa ketika khair mengambil libur dan pulang kampung.
aku tidak memiliki teman yang bisa kutebengi.
tabungan yang kudapatkan dari tempat kerja sebelumnya sudah ludes,
uang saku selama OJT ini jumlahnya terlalu minim.
apalagi aku masih memiliki kewajiban membantu keuangan rumah setelah bapak tidak memiliki pekerjaan lagi.
alhamdulillah khair membantuku dengan meminjamkan sepeda gunungnya yang nganggur di mess sana.
maka jadilah aku menggunakan sepeda milik khair ketika kami tidak bisa berangkat bersama.
sampai pada suatu siang, ketika khair sedang pulang kampung,
aku sedang berangkat kerja menggunakan sepeda milik khair.
suasana siang itu cukup terik,
jam masih menunjukan pukul 14:03 , ,
sepeda kukayuh pelan pelan melintasi jalanan yang panas dan berdebu. .
tak beberapa jauh dari kost, aku melihat seorang ibu nampak kesusahan di tepi jalan.
aku berhenti dan bertanya kepadanya,
aku: " ada apa ya bu? "
ibu tsb: " anu mas, motorku mogok ini, nggak mau nyala "
aku: " mana coba saya liat "
aku turun dari sepeda dan memeriksa motor matic milik ibu tersebut.
rupanya aki motornya tekor, pengapiannya juga agak bermasalah, ,
mungkin lama tidak di servis, ,
aku mencoba menyalakannya melalui kick stater.
agak susah memang, ,
namun kemudian motor berhasil menyala. .
aku: " sudah bu, monggo "
ibu tsb: " terimakasih banyak mas ya "
aku: " iya bu, sama sama "
ibu itu menaikkan kembali barang belanjaannya ke atas motor.
aku: " kalau ibu senggang, motornya cepet dibawa ke bengkel saja bu, akinya tekor itu, , sekalin minta servis "
ibu tsb: " iya mas, memang sudah lama belum di servis "
aku: " iya, , kalo ndak sampean bawa ke bengkel nanti kalau mau menyalakan motor pasti susah "
ibu tsb: " pantesan mas, aku kalau mau pergi minta tolong nyalain sama tetangga, , "
aku: " nah, kalau di servis dan ganti aki nanti ibu bisa nyalakan sendiri lagi "
ibu tsb: " terimakasih banyak ya mas,, , lha ini sampean mau kemana? "
aku: " em, mau berangkat kerja bu "
ibu tsb: " oo? di PLTA ya? seragamnya kaya karyawan PLTA "
aku: " iya bu "
ibu tsb: " ayo mampir tempat saya, rumah saya di ****** , , kan searah, minum es dulu "
aku: " terimakasih banyak bu, mungkin lain kali nggih, , soalnya sudah mepet jamnya "
ibu tsb: " gitu? saya malah jadi nggak enak sudah merepotkan sampean "
aku: " nggak papa bu, , sudah seharusnya saling tolong menolong, , kalau gitu saya pamit duluan ya bu "
ibu tsb: " iya mas, , hati hati "
kami berpisah dan kugowes sepeda agak lebih cepat lagi karena jam sudah mepet.
//
beberapa hari kemudian, khair sudah kembali dari rumahnya.
aku memparkir sepeda di garasi dan membonceng khair lagi,
sebab medan pegunungan yang berat cukup menguras tenaga.
khair: " yo, nyari makan dulu yuk "
aku: " ayolah, , "
khair: " aku kemarin dikasih tau mas ayik warung makan yang katanya enak "
aku: " dimana? "
khair: " di daerah ****** "
aku: " yo wes, ayo berangkat "
aku dan khair segera berangkat untuk mencari makan sebelum masuk kerja siang itu.
tak beberapa lama, kami tiba di warung yang di maksud oleh khair,
kami turun dari motor dan masuk ke dalam warung.
warung tersebut kecil, namun suasananya cukup nyaman.
khair: " kulonuwun, tumbas " ( permisi, beli )
khair memanggil penjualnya.
tak lama keluarlah seorang wanita paruh baya.
aku: " lho? sampean to bu? "
aku terkejut karena ternyata penjualnya adalah ibu yang kutolong tempo hari.
ibu tsb: " lho? mas e sing wingi, , ealah "
aku: " ibu jualan disini? "
ibu tsb: " iya mas, ya saya jualannya disini, , "
khair: " lho? kamu kenal yo sama ibunya? "
aku: " kemarin ibu motornya mogok, trus kebetulan aku lewat, yo cuma mbantu nyalain "
khair: " ealahh, , "
aku: " motore sudah di benerin bu? "
ibu tsb: " sudah mas, langsung tak bawa bengkel besoknya "
aku: " alhamdulillah, , jadi penak sekarang "
ibu tsb: " ini mau makan apa mas? "
khair: " bungkus aja bu, dua ya pake ikan itu sama sayur ini "
aku: " saya juga bu, sama "
aku dan khair duduk di bangku sambil menunggu ibu tersebut selesai membungkus pesanan.
dan tak lama pesanan kami selesai.
khair hendak membayar pesananku juga tapi kutolak, akhirnya khair membayar pesanannya sendiri, kemudian menunggu di luar.
ketika tiba giliranku membayar, ternyata ibu tersebut menolak uangku.
beliau menyuruhku membawa begitu saja.
aku: " lho kok gitu bu? "
ibu tsb: " nggak papa mas, kemarin sudah bantu saya, terimakasih banyak "
aku: " tapi bu, njenengan kan jualan "
ibu tsb: " udah, nggak papa, bawa aja mas, terimakasih banyak ya yang kemarin "
aku berterimakasih dan pamit karena ibu tsb bersikeras tidak mau dibayar.
dan kemudian kelanjutkan perjalanan berangkat kerja bersama khair.
setelah hari itu, aku mengetahui jika ibu tersebut bernama bu umi.
aku mengetahuinya setelah beberapa kali membeli makan di sana lagi.
masakan beliau memang rasanya enak, ,
dan beberapa temanku juga jadi sering titip.
bu umi ini adalah seorang janda,
usianya sekitar 50 tahunan.
beliau tinggal sendiri di warung yang mana bagian belakangnya ada rumah kecil sebagai tempat tinggal.
aku merasa iba kepada bu umi.
karakternya mengingatkanku kepada ibu di rumah. .
jadi kadang kala aku mampir dan ngobrol dengan beliau ketika membeli makan.
beliau juga bersikap baik kepadaku.
hingga suatu hari di bulan oktober,
aku datang ke warung beliau untuk membeli makan siang.
kebetulan aku sedang libur, ,
" assalamu'alaikum, , bu umi "
sapaku,
" wa'alaikumsalam "
terdengar balasan dari rumah di belakang.
namun bukan suara bu umi.
aku mendatangi etalase yang berisi menu.
kulihat sambil menunggu bu umi keluar,
kupikir beliau sedang sibuk di dalam.
tak beberapa keluar seseorang,
" beli apa mas? "
tanyanya.
aku yang sedang asyik memandangi menu tidak terlalu memperhatikan siapa yang bertanya.
" kaya biasanya ya bu? "
jawabku.
" biasanya emang apa mas? "
tanyanya lagi.
aku menoleh dan terkejut karena ternyata disebelahku bukanlah bu umi.
dia adalah sosok seorang perempuan muda,
wajahnya cantik, berhidung mancung, dan nampak ada gingsul ketika dia berbicara.
kulitnya tidak terlalu putih, namun menjadikannya nampak manis.
aku terpana beberapa saat. .
" mas, biasanya apa? ibu sedang keluar "
gadis itu bertanya lagi.
membuatku sadar kembali. .
ada sedikit perasaan malu karena barusan aku sudah ke gap bengong.
aku: " eeh, , anu, biasanya saya pake ikan itu mbak " ( sambil menuding ikan didalam etalase )
gadis tsb: " makan di sini? "
aku: " enggak, di bungkus aja "
gadis tsb: " di bungkus mas? "
aku: " iya, dibungkus "
gadis tsb: " tapi aku nggak bisa mbungkuse lo mas "
aku: " ha? ya udah nggak papa, sampean kira kirain aja, nanti aku yang bungkus "
akhirnya gadis tersebut mengambil kertas bungkus dan mulai mengisi kertas dengan menu.
aku menatap gadis ini, ,
dia tidak terlalu tinggi, hanya setinggi pundakku, ,
rambutnya lurus sepunggung,
matanya yang jeli dengan bulu mata lentik,
hidungnya yang kecil namun mancung, ,
aah, , manis sekali dia. .
gadis tsb: " ini mas, sudah gini aja? "
aku: " eh, iya, , udah "
aku kembali salting karena sekali lagi ketahuan terpana. .
gadis tsb: " ya udah mas, tinggal bungkus, , aku nggak bisa lo "
aku menerima kertas bungkus berisi makanan dan membungkusnya.
gadis itu memperhatikanku yang membungkus nasi dengan cekatan.
gadis tsb: " kok bisa mbungkus si mas? "
aku: " eh? apa? "
gadis tsb: " sampean lho kok bisa bungkus, terampil gitu "
aku: " oh, maklum, ibuku di rumah sana juga jualan nasi, jadi aku sering bantu kalau pas di rumah "
gadis tsb: " emang rumahnya dimana mas? kok nggak bawa nasi dari ibunya aja? "
aku: " rumahku di jawa tengah sana, masak iya mau makan pulang dulu "
gadis itu tersenyum mendengar penuturanku.
ketika tersenyum, gingsulnya muncul menambah manis wajahnya.
aku: " lha sampean siapanya ibu umi? "
gadis tsb: " anaknya mas "
aku: " lho? anaknya bu umi? baru tau aku "
gadis tsb: " iya mas, aku nggak tinggal sama ibu "
aku: " eh, tapi kalau anak e bu umi kok nggak bisa mbungkus to? "
wajah gadis itu bersemu merah ketika aku tanpa sengaja menyindirnya.
gadis tsb: " aku jarang di warung bantuin ibu soalnya "
aku: " ealah, , gitu to "
aku tidak berkomentar lebih lanjut.
takutnya jika aku ngomong lagi, mengapa kok nggak bantuin ibunya, nanti salah paham jadinya.
aku: " ya sudah, ini berapa jadinya? "
gadis tsb: " aku nggak tau lo mas, ibu iki yo nggak pulang pulang "
dalam hatiku hanya membatin, ini anak model piye si?
ibunya jualan kok nggak tau apa apa.
sebenarnya aku tahu harganya karena sudah sering beli di sini, namun aku barusan tanpa sengaja bertanya lagi.
aku: " ya udah, ini tak tinggalin sepuluh ribu, nanti bilang sama ibunya, tiyo yang beli "
gadis tsb: " jangan o mas, bawa aja dulu uangnya, nanti kalau beli lagi baru dikasihkan ibuku "
aku: " enggak ah, aku nggak mau hutang "
gadis tsb: " ngga papa, bawa aja dulu mas, , aku soalnya nggak tau harganya "
aku: " kok sampean nyuruh aku bawa uangnya? kalau misalnya aku nggak jujur gimana? "
gadis tsb: " nggak papa mas, rejeki udah diatur kok sama Allah "
jleb, jawabannya tersebut langsung menjungkirkan persepsiku kepadanya yang sedari tadi sudah meremehkan.
aku: " udah, bawa aja uangnya dulu "
gadis tsb: " emoh aku mas, , takut salah "
aku: " enggak, harganya sepuluh ribu emang, ini diterima, trus nanti bilang ibunya aku yang beli, wes jangan ditolak "
gadis tsb: " bener mas ini? "
aku: " beneran "
gadis tsb menerima uangku,
gadis tsb: " siapa namae sampean tadi mas? "
aku: " tiyo, kalau nama kamu siapa? "
gadis tsb: " namaku ifa "
aku berjabat tangan dengannya.
ifa, ,
aku pamit kepada ifa dan bergegas keluar dari warung.
sekilas aku masih melihatnya memperhatikanku.
akupun masih berusaha mencuri pandang ke wajahnya yang manis.
namun ketika mata kami bertemu, ,
kami langsung sama sama buang muka. .
duh, malu lagi, , , ,
aku beranjak mengayuh sepeda dan pulang ke kost. .
==
semenjak hari itu,
ketika aku membeli makan di warung bu umi,
aku jadi sering bertemu ifa.
padahal sebelumnya, aku sama sekali tidak pernah bertemu dengan gadis tersebut.
karena intensitas pertemuan kami inilah aku jadi kenal dan sering meledeknya.
ifa ini ternyata adalah putri sulung ibu umi,
dia memiliki dua orang adik,
ifa dan kedua adiknya tinggal di rumah lama milik orang tua mereka dulu sebelum bercerai.
bapak mereka memutuskan menikah lagi dan tinggal di tempat berbeda,
sedangkan bu umi menempati rumah beserta warung kecil peninggalan milik ibu beliau
dulu usaha warung makan ini memang dikelola oleh ibu dari bu umi,
namun sepeninggal ibunya, bu umi lah yang berjualan.
bu umi berjualan setelah bertahun tahun menjadi TKW.
sebelum sering muncul di warung, ifa sempat bekerja menjadi seorang pramusaji di sebuah restoran
dia memang lulusan SMK boga,
jadi sebenarnya dia memang memiliki dasar pengetahuan di dunia kuliner.
kuperkirakan usia ifa ini seusia dengan sheryl atau setahun lebih tua.
aku: " fa, tolong bungkusin nasi ya? "
ifa: " buuu, mas tiyo bungkus nasiii "
ifa memanggil ibunya yang saat itu sedang memasak di dapur belakang.
rumah bu umi memang kecil, jadi jika ada yang memanggilnya dari warung,
bu umi bisa mendengar sekalipun sedang berada di dapur.
aku: " eeh, aku nggak mau dibungkusin ibu, maunya kamu "
ifa: " emang kenopo lo mas? "
aku: " biar kamu cpet pinter, moso bungkus nasi ae nggak bisa "
ifa: " ah, mas tiyo iki ada ada aja si "
aku: " nggak papa, cepet, tak ajarin sini, keburu aku masuk kerja "
anehnya ifa tidak menolak dan menuruti perkataanku.
dia membungkus nasi dengan arahan dariku.
aku: " naah, gampang to? wong cuma gini kok "
ifa: " nggih maaass "
aku: " berapa? "
ifa melotot kepadaku karena terus meledeknya.
aku hanya tertawa.
aku: " nih, sepuluh ya "
ifa: " kurang mas "
aku: " kurang apanya? "
ifa: " pokoknya ada yang kurang "
ifa berkata seperti itu sambil memalingkan wajah,
aku merogoh saku dan mengambil dua ribuan.
kupikir karena ikan sedang sulit didapatkan maka harganya naik.
aku: " ni fa, kurangnya berapa? "
ifa: " nggak, udah pas "
ifa berkata sambil meninggalkanku di warung sendirian.
ini anak kenapa si?
tanyaku dalam hati.
aku: " kurang beneran nggak fa? "
ifa: " nggak mas tiyoo " ( dari belakang warung )
aku pergi dari warung dengan garuk garuk kepala.
ada apakah gerangan dengan ifa?
( bersambung )
aku mulai bisa mengikhlaskan segala perasaan yang sudah terjadi tempo hari.
dan dari kejadian kemarin,
aku mendapatkan dua jawaban.
jawaban pertama, aku sudah bisa sepenuhnya membuka diri setelah empat setengah tahun memilih untuk menjadi pribadi yang tertutup karena besarnya perasaanku kepada shita,
perasaan yang dulu tidak pernah muncul sedikitpun kepada sheryl,
entah mengapa bisa ada dan membuatku merasakan pembalasan atas sikapku di masa lalu.
aku juga sudah bisa sepenuhnya melihat dia sebagai individu yang berbeda dari kakaknya, ,
yang kedua, tentu saja jelas,
kemungkinanku untuk mendapatkan perasaan yang sama dari sheryl sebagaimana perasaannya dulu kepadaku sudah tertutup.
sheryl sudah memutuskan untuk menganggapku sebagai kakaknya.
tepat dikala bibit bibit perasaan yang sudah dia semai bertahun tahun lalu malah mulai tumbuh, ,
sebuah kenyataan yang ironis, ,
benarlah pepatah,
segalanya akan terasa indah ketika kita sudah kehilangannya. . . .
disisi lain, ,
ada perubahan besar di dalam susunan penempatan bagi kami, siswa ojt angkatanku.
dari ketujuh belas orang peserta OJT yang di tempatkan di sektor malang,
kini hanya bersisa tujuh.
sepuluh orang lainnya harus berbesar hati menerima keputusan untuk di mutasikan ke luar pulau.
har, salah satu temanku yang juga sempat mengenyam masa masa orientasi di sini,
harus ikut berangkat ke kalimantan untuk mengisi sebuah PLTU baru di daerah kalteng.
kini di sini tinggal menyisakan aku dan firman.
sepeninggal har, aku firman dan khair memutuskan untuk keluar dari mess dan memilih untuk kost di daerah yang lebih ramai.
kami memang sudah bosan karena suasana di mess terlalu sunyi, dan juga ketika mencari makan terlalu jauh.
jadilah kami kost di sebuah kecamatan yang letaknya hanya berselang empat kilometer dari mess.
seiring dengan perubahan jarak,
maka aku, firman dan khair juga harus memiliki alat transportasi yang akan membawa kami pulang dan pergi kerja.
firman mengambil sepeda motor miliknya dari rumah untuk dibawa kemari,
sedangkan khair yang memang sudah lama disini,
sudah memiliki sepeda motor sendiri.
maka tersisalah aku yang harus menumpang khair untuk pulang dan pergi.
untungnya,
aku dan khair kini ditempatkan dalam satu tim.
jadi kami hampir pasti selalu pulang dan pergi bersama sama.
sayangnya, jika khair harus masuk double shift,
maka aku tidak memiliki pilihan lain selain menunggunya.
awalnya aku merasa santai saja,
kuanggap waktuku selama menunggu khair pulang bisa kumanfaatkan untuk belajar lebih mengenai pembangkitan,
sebab di akhir masa OJT, aku memiliki kewajiban untuk membuat laporan akhir plus sertifikasi.
sertifikasi dan laporan akhir adalah syarat mutlak kelulusan.
namun kendala mulai terasa ketika khair mengambil libur dan pulang kampung.
aku tidak memiliki teman yang bisa kutebengi.
tabungan yang kudapatkan dari tempat kerja sebelumnya sudah ludes,
uang saku selama OJT ini jumlahnya terlalu minim.
apalagi aku masih memiliki kewajiban membantu keuangan rumah setelah bapak tidak memiliki pekerjaan lagi.
alhamdulillah khair membantuku dengan meminjamkan sepeda gunungnya yang nganggur di mess sana.
maka jadilah aku menggunakan sepeda milik khair ketika kami tidak bisa berangkat bersama.
sampai pada suatu siang, ketika khair sedang pulang kampung,
aku sedang berangkat kerja menggunakan sepeda milik khair.
suasana siang itu cukup terik,
jam masih menunjukan pukul 14:03 , ,
sepeda kukayuh pelan pelan melintasi jalanan yang panas dan berdebu. .
tak beberapa jauh dari kost, aku melihat seorang ibu nampak kesusahan di tepi jalan.
aku berhenti dan bertanya kepadanya,
aku: " ada apa ya bu? "
ibu tsb: " anu mas, motorku mogok ini, nggak mau nyala "
aku: " mana coba saya liat "
aku turun dari sepeda dan memeriksa motor matic milik ibu tersebut.
rupanya aki motornya tekor, pengapiannya juga agak bermasalah, ,
mungkin lama tidak di servis, ,
aku mencoba menyalakannya melalui kick stater.
agak susah memang, ,
namun kemudian motor berhasil menyala. .
aku: " sudah bu, monggo "
ibu tsb: " terimakasih banyak mas ya "
aku: " iya bu, sama sama "
ibu itu menaikkan kembali barang belanjaannya ke atas motor.
aku: " kalau ibu senggang, motornya cepet dibawa ke bengkel saja bu, akinya tekor itu, , sekalin minta servis "
ibu tsb: " iya mas, memang sudah lama belum di servis "
aku: " iya, , kalo ndak sampean bawa ke bengkel nanti kalau mau menyalakan motor pasti susah "
ibu tsb: " pantesan mas, aku kalau mau pergi minta tolong nyalain sama tetangga, , "
aku: " nah, kalau di servis dan ganti aki nanti ibu bisa nyalakan sendiri lagi "
ibu tsb: " terimakasih banyak ya mas,, , lha ini sampean mau kemana? "
aku: " em, mau berangkat kerja bu "
ibu tsb: " oo? di PLTA ya? seragamnya kaya karyawan PLTA "
aku: " iya bu "
ibu tsb: " ayo mampir tempat saya, rumah saya di ****** , , kan searah, minum es dulu "
aku: " terimakasih banyak bu, mungkin lain kali nggih, , soalnya sudah mepet jamnya "
ibu tsb: " gitu? saya malah jadi nggak enak sudah merepotkan sampean "
aku: " nggak papa bu, , sudah seharusnya saling tolong menolong, , kalau gitu saya pamit duluan ya bu "
ibu tsb: " iya mas, , hati hati "
kami berpisah dan kugowes sepeda agak lebih cepat lagi karena jam sudah mepet.
//
beberapa hari kemudian, khair sudah kembali dari rumahnya.
aku memparkir sepeda di garasi dan membonceng khair lagi,
sebab medan pegunungan yang berat cukup menguras tenaga.
khair: " yo, nyari makan dulu yuk "
aku: " ayolah, , "
khair: " aku kemarin dikasih tau mas ayik warung makan yang katanya enak "
aku: " dimana? "
khair: " di daerah ****** "
aku: " yo wes, ayo berangkat "
aku dan khair segera berangkat untuk mencari makan sebelum masuk kerja siang itu.
tak beberapa lama, kami tiba di warung yang di maksud oleh khair,
kami turun dari motor dan masuk ke dalam warung.
warung tersebut kecil, namun suasananya cukup nyaman.
khair: " kulonuwun, tumbas " ( permisi, beli )
khair memanggil penjualnya.
tak lama keluarlah seorang wanita paruh baya.
aku: " lho? sampean to bu? "
aku terkejut karena ternyata penjualnya adalah ibu yang kutolong tempo hari.
ibu tsb: " lho? mas e sing wingi, , ealah "
aku: " ibu jualan disini? "
ibu tsb: " iya mas, ya saya jualannya disini, , "
khair: " lho? kamu kenal yo sama ibunya? "
aku: " kemarin ibu motornya mogok, trus kebetulan aku lewat, yo cuma mbantu nyalain "
khair: " ealahh, , "
aku: " motore sudah di benerin bu? "
ibu tsb: " sudah mas, langsung tak bawa bengkel besoknya "
aku: " alhamdulillah, , jadi penak sekarang "
ibu tsb: " ini mau makan apa mas? "
khair: " bungkus aja bu, dua ya pake ikan itu sama sayur ini "
aku: " saya juga bu, sama "
aku dan khair duduk di bangku sambil menunggu ibu tersebut selesai membungkus pesanan.
dan tak lama pesanan kami selesai.
khair hendak membayar pesananku juga tapi kutolak, akhirnya khair membayar pesanannya sendiri, kemudian menunggu di luar.
ketika tiba giliranku membayar, ternyata ibu tersebut menolak uangku.
beliau menyuruhku membawa begitu saja.
aku: " lho kok gitu bu? "
ibu tsb: " nggak papa mas, kemarin sudah bantu saya, terimakasih banyak "
aku: " tapi bu, njenengan kan jualan "
ibu tsb: " udah, nggak papa, bawa aja mas, terimakasih banyak ya yang kemarin "
aku berterimakasih dan pamit karena ibu tsb bersikeras tidak mau dibayar.
dan kemudian kelanjutkan perjalanan berangkat kerja bersama khair.
setelah hari itu, aku mengetahui jika ibu tersebut bernama bu umi.
aku mengetahuinya setelah beberapa kali membeli makan di sana lagi.
masakan beliau memang rasanya enak, ,
dan beberapa temanku juga jadi sering titip.
bu umi ini adalah seorang janda,
usianya sekitar 50 tahunan.
beliau tinggal sendiri di warung yang mana bagian belakangnya ada rumah kecil sebagai tempat tinggal.
aku merasa iba kepada bu umi.
karakternya mengingatkanku kepada ibu di rumah. .
jadi kadang kala aku mampir dan ngobrol dengan beliau ketika membeli makan.
beliau juga bersikap baik kepadaku.
hingga suatu hari di bulan oktober,
aku datang ke warung beliau untuk membeli makan siang.
kebetulan aku sedang libur, ,
" assalamu'alaikum, , bu umi "
sapaku,
" wa'alaikumsalam "
terdengar balasan dari rumah di belakang.
namun bukan suara bu umi.
aku mendatangi etalase yang berisi menu.
kulihat sambil menunggu bu umi keluar,
kupikir beliau sedang sibuk di dalam.
tak beberapa keluar seseorang,
" beli apa mas? "
tanyanya.
aku yang sedang asyik memandangi menu tidak terlalu memperhatikan siapa yang bertanya.
" kaya biasanya ya bu? "
jawabku.
" biasanya emang apa mas? "
tanyanya lagi.
aku menoleh dan terkejut karena ternyata disebelahku bukanlah bu umi.
dia adalah sosok seorang perempuan muda,
wajahnya cantik, berhidung mancung, dan nampak ada gingsul ketika dia berbicara.
kulitnya tidak terlalu putih, namun menjadikannya nampak manis.
aku terpana beberapa saat. .
" mas, biasanya apa? ibu sedang keluar "
gadis itu bertanya lagi.
membuatku sadar kembali. .
ada sedikit perasaan malu karena barusan aku sudah ke gap bengong.
aku: " eeh, , anu, biasanya saya pake ikan itu mbak " ( sambil menuding ikan didalam etalase )
gadis tsb: " makan di sini? "
aku: " enggak, di bungkus aja "
gadis tsb: " di bungkus mas? "
aku: " iya, dibungkus "
gadis tsb: " tapi aku nggak bisa mbungkuse lo mas "
aku: " ha? ya udah nggak papa, sampean kira kirain aja, nanti aku yang bungkus "
akhirnya gadis tersebut mengambil kertas bungkus dan mulai mengisi kertas dengan menu.
aku menatap gadis ini, ,
dia tidak terlalu tinggi, hanya setinggi pundakku, ,
rambutnya lurus sepunggung,
matanya yang jeli dengan bulu mata lentik,
hidungnya yang kecil namun mancung, ,
aah, , manis sekali dia. .
gadis tsb: " ini mas, sudah gini aja? "
aku: " eh, iya, , udah "
aku kembali salting karena sekali lagi ketahuan terpana. .
gadis tsb: " ya udah mas, tinggal bungkus, , aku nggak bisa lo "
aku menerima kertas bungkus berisi makanan dan membungkusnya.
gadis itu memperhatikanku yang membungkus nasi dengan cekatan.
gadis tsb: " kok bisa mbungkus si mas? "
aku: " eh? apa? "
gadis tsb: " sampean lho kok bisa bungkus, terampil gitu "
aku: " oh, maklum, ibuku di rumah sana juga jualan nasi, jadi aku sering bantu kalau pas di rumah "
gadis tsb: " emang rumahnya dimana mas? kok nggak bawa nasi dari ibunya aja? "
aku: " rumahku di jawa tengah sana, masak iya mau makan pulang dulu "
gadis itu tersenyum mendengar penuturanku.
ketika tersenyum, gingsulnya muncul menambah manis wajahnya.
aku: " lha sampean siapanya ibu umi? "
gadis tsb: " anaknya mas "
aku: " lho? anaknya bu umi? baru tau aku "
gadis tsb: " iya mas, aku nggak tinggal sama ibu "
aku: " eh, tapi kalau anak e bu umi kok nggak bisa mbungkus to? "
wajah gadis itu bersemu merah ketika aku tanpa sengaja menyindirnya.
gadis tsb: " aku jarang di warung bantuin ibu soalnya "
aku: " ealah, , gitu to "
aku tidak berkomentar lebih lanjut.
takutnya jika aku ngomong lagi, mengapa kok nggak bantuin ibunya, nanti salah paham jadinya.
aku: " ya sudah, ini berapa jadinya? "
gadis tsb: " aku nggak tau lo mas, ibu iki yo nggak pulang pulang "
dalam hatiku hanya membatin, ini anak model piye si?
ibunya jualan kok nggak tau apa apa.
sebenarnya aku tahu harganya karena sudah sering beli di sini, namun aku barusan tanpa sengaja bertanya lagi.
aku: " ya udah, ini tak tinggalin sepuluh ribu, nanti bilang sama ibunya, tiyo yang beli "
gadis tsb: " jangan o mas, bawa aja dulu uangnya, nanti kalau beli lagi baru dikasihkan ibuku "
aku: " enggak ah, aku nggak mau hutang "
gadis tsb: " ngga papa, bawa aja dulu mas, , aku soalnya nggak tau harganya "
aku: " kok sampean nyuruh aku bawa uangnya? kalau misalnya aku nggak jujur gimana? "
gadis tsb: " nggak papa mas, rejeki udah diatur kok sama Allah "
jleb, jawabannya tersebut langsung menjungkirkan persepsiku kepadanya yang sedari tadi sudah meremehkan.
aku: " udah, bawa aja uangnya dulu "
gadis tsb: " emoh aku mas, , takut salah "
aku: " enggak, harganya sepuluh ribu emang, ini diterima, trus nanti bilang ibunya aku yang beli, wes jangan ditolak "
gadis tsb: " bener mas ini? "
aku: " beneran "
gadis tsb menerima uangku,
gadis tsb: " siapa namae sampean tadi mas? "
aku: " tiyo, kalau nama kamu siapa? "
gadis tsb: " namaku ifa "
aku berjabat tangan dengannya.
ifa, ,
aku pamit kepada ifa dan bergegas keluar dari warung.
sekilas aku masih melihatnya memperhatikanku.
akupun masih berusaha mencuri pandang ke wajahnya yang manis.
namun ketika mata kami bertemu, ,
kami langsung sama sama buang muka. .
duh, malu lagi, , , ,
aku beranjak mengayuh sepeda dan pulang ke kost. .
==
semenjak hari itu,
ketika aku membeli makan di warung bu umi,
aku jadi sering bertemu ifa.
padahal sebelumnya, aku sama sekali tidak pernah bertemu dengan gadis tersebut.
karena intensitas pertemuan kami inilah aku jadi kenal dan sering meledeknya.
ifa ini ternyata adalah putri sulung ibu umi,
dia memiliki dua orang adik,
ifa dan kedua adiknya tinggal di rumah lama milik orang tua mereka dulu sebelum bercerai.
bapak mereka memutuskan menikah lagi dan tinggal di tempat berbeda,
sedangkan bu umi menempati rumah beserta warung kecil peninggalan milik ibu beliau
dulu usaha warung makan ini memang dikelola oleh ibu dari bu umi,
namun sepeninggal ibunya, bu umi lah yang berjualan.
bu umi berjualan setelah bertahun tahun menjadi TKW.
sebelum sering muncul di warung, ifa sempat bekerja menjadi seorang pramusaji di sebuah restoran
dia memang lulusan SMK boga,
jadi sebenarnya dia memang memiliki dasar pengetahuan di dunia kuliner.
kuperkirakan usia ifa ini seusia dengan sheryl atau setahun lebih tua.
aku: " fa, tolong bungkusin nasi ya? "
ifa: " buuu, mas tiyo bungkus nasiii "
ifa memanggil ibunya yang saat itu sedang memasak di dapur belakang.
rumah bu umi memang kecil, jadi jika ada yang memanggilnya dari warung,
bu umi bisa mendengar sekalipun sedang berada di dapur.
aku: " eeh, aku nggak mau dibungkusin ibu, maunya kamu "
ifa: " emang kenopo lo mas? "
aku: " biar kamu cpet pinter, moso bungkus nasi ae nggak bisa "
ifa: " ah, mas tiyo iki ada ada aja si "
aku: " nggak papa, cepet, tak ajarin sini, keburu aku masuk kerja "
anehnya ifa tidak menolak dan menuruti perkataanku.
dia membungkus nasi dengan arahan dariku.
aku: " naah, gampang to? wong cuma gini kok "
ifa: " nggih maaass "
aku: " berapa? "
ifa melotot kepadaku karena terus meledeknya.
aku hanya tertawa.
aku: " nih, sepuluh ya "
ifa: " kurang mas "
aku: " kurang apanya? "
ifa: " pokoknya ada yang kurang "
ifa berkata seperti itu sambil memalingkan wajah,
aku merogoh saku dan mengambil dua ribuan.
kupikir karena ikan sedang sulit didapatkan maka harganya naik.
aku: " ni fa, kurangnya berapa? "
ifa: " nggak, udah pas "
ifa berkata sambil meninggalkanku di warung sendirian.
ini anak kenapa si?
tanyaku dalam hati.
aku: " kurang beneran nggak fa? "
ifa: " nggak mas tiyoo " ( dari belakang warung )
aku pergi dari warung dengan garuk garuk kepala.
ada apakah gerangan dengan ifa?
( bersambung )
symoel08 dan 11 lainnya memberi reputasi
12