- Beranda
- Stories from the Heart
Ketidak Normalan Ku
...
TS
angela.aghastya
Ketidak Normalan Ku
Part 1 : Panggil saja Acel
Ku amati bayangan di depanku dari jendela kelas, samar-samar terlihat anak club basket sedang bermain basket di depanku. Aku memang lebih tertarik melihat anak laki-laki memperebutkan bola dari pada anak perempuan yang sibuk memikirkan dandanan mereka.
Namaku Angela Aghastya, panggil saja Acel. Aku memang sedikit tomboy kala itu. Aku punya pacar laki-laki saat aku kelas 2 SMA di sekolah kejuruan di Jakarta. Setelah 6 bulan kami berpacaran, aku memutuskan hubungan karna pacarku terlalu "lembek" pikir ku.
Saat libur sekolah kenaikan kelas 3 SMA, aku berlibur ke rumah kakak Ke 2 ku di Bandung. Disana aku bertemu dengan adik teman kakak ku, namanya Sherly.
Sherly kuliah di australia dan sedang berlibur sama sepertiku. Kami menghabiskan waktu berdua mengobrol dan bercanda. Aku senang sekali berteman dengan Sherly. Selain ia baik, ia juga pintar.
Tak terasa sudah seminggu kami berteman, hampir setiap hari Sherly menginap di rumah kakak ku. Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Badanku mulai lelah dan mataku mengantuk. Aku memeluk guling membelakangi Sherly,
"Cel, punya pacar ga?"
"Pernah punya, tapi udah ga, kalo sherly?" jawabku dengan mata berair hasil menguap
"Pernah punya juga"
Mataku terpejam sedikit demi sedikit. Badanku terasa ada yang memeluk dari belakang dengan erat dan makin erat. Seketika mataku terbuka lebar yang tadinya berat seperti ada batu dikelopaknya. Dadaku bergebu-gebu seperti jantungnya mau keluar dari tempatnya. Aku tak berani bergerak sedikit pun dan tak berani bicara sepatah katapun. Aku takut. Sampai ku sadari sudah berganti hari dan pelukan itu terlepas dengan sendirinya dan aku tertidur.
Pagi itu, matahari sudah menerangi rerumputan yang tertutup embun. Aku melihat sosok gadis berambut ikal duduk menyerong di bangku teras depan rumah. Mukanya samar tertutup rambut panjangnya yang tertiup angin dengan kulit sawo matang. Ya, itu Sherly.
Aku ingin sekali punya kulit agak gelap dari kulit asliku, karena mama keturunan belanda dan papa manado sepertinya mustahil. Sherly yang sadar aku sedang melihatnya, menyapa dan mengajak duduk disampingnya.
"Cel, sini duduk sama aku"
"Eh..."
Aku menghampirinya dan duduk di sampingnya
"Semalem acel bobo ya? Aku kan lagi cerita"
"hehe..." pasti wajah ku berubah menjadi aneh karena heran
Apa Sherly ketiduran dan tidak sadar ia memeluk ku erat semalam? Apa aku saja yang terlalu berlebih karena tidak pernah di peluk sesama teman wanita? Apa aku saja yang merasa gugup dan takut saat dipeluk erat oleh teman wanita?
Ah, anggap saja memang hanya aku yang terlalu berlebihan.
____________________________________________
Prolog
Oh, ya aku lupa memperkenalkan diri. Panggil saja Acel. Aku wanita dan usiaku saat ini masih belum di bilang tua. Ah, nanti kalian akan kenal aku seiring banyaknya Part di Thread ku ini.
Mohon maaf Thread ini masih sangat banyak kekurangan. Maklum baru pertama kali menjadi "Penulis" setelah sekian lama menjadi Silent Reader. Inipun terpaksa membuat ID karena tertarik ingin membagi sedikit perjalanan hidupku. Aku tau kalian sudah cukup bijak membedakan yang baik dan buruk dari Thread ini.
Mohon maaf sekali lagi. Dengan tidak bermaksud menyinggung apalagi menyudutkan salah satu pihak ataupun golongan. Jika dari kalian mengenal aku atau tokoh-tokoh dalam cerita ini. Mohon untuk tidak saling mengusik. Biarkan kami bahagia dengan jalan hidup masing-masing.
Terimakasih sebelumnya.
Part 2 : Sherly ke Jakarta
Part 3 : Pengakuan Sherly
Part 4 : Patah Hati
Part 5 : Hidup Baru
Part 6 : Tatto Pertama
Part 7 : Olive
Part 8 : Mulai Nyaman dengan Olive
Part 9 : Renda Ungu
Part 10 : Patah Hati 2
Part 11 : Penjelasan Olive
Part 12 : Ketulusan Mas Jerry
Part 13 : Pertama Kali Kerja
Part 14 : Paling Ku Takuti
Part 15 : Iqbal
Part 16 : Lumba-lumba
Part 17 : Lumba-lumba 2
Part 18 : Pertama
Part 19 : Langit Ke Tujuh
Part 20 : Menarik
Stay tuned ❤
Ku amati bayangan di depanku dari jendela kelas, samar-samar terlihat anak club basket sedang bermain basket di depanku. Aku memang lebih tertarik melihat anak laki-laki memperebutkan bola dari pada anak perempuan yang sibuk memikirkan dandanan mereka.
Namaku Angela Aghastya, panggil saja Acel. Aku memang sedikit tomboy kala itu. Aku punya pacar laki-laki saat aku kelas 2 SMA di sekolah kejuruan di Jakarta. Setelah 6 bulan kami berpacaran, aku memutuskan hubungan karna pacarku terlalu "lembek" pikir ku.
Saat libur sekolah kenaikan kelas 3 SMA, aku berlibur ke rumah kakak Ke 2 ku di Bandung. Disana aku bertemu dengan adik teman kakak ku, namanya Sherly.
Sherly kuliah di australia dan sedang berlibur sama sepertiku. Kami menghabiskan waktu berdua mengobrol dan bercanda. Aku senang sekali berteman dengan Sherly. Selain ia baik, ia juga pintar.
Tak terasa sudah seminggu kami berteman, hampir setiap hari Sherly menginap di rumah kakak ku. Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Badanku mulai lelah dan mataku mengantuk. Aku memeluk guling membelakangi Sherly,
"Cel, punya pacar ga?"
"Pernah punya, tapi udah ga, kalo sherly?" jawabku dengan mata berair hasil menguap
"Pernah punya juga"
Mataku terpejam sedikit demi sedikit. Badanku terasa ada yang memeluk dari belakang dengan erat dan makin erat. Seketika mataku terbuka lebar yang tadinya berat seperti ada batu dikelopaknya. Dadaku bergebu-gebu seperti jantungnya mau keluar dari tempatnya. Aku tak berani bergerak sedikit pun dan tak berani bicara sepatah katapun. Aku takut. Sampai ku sadari sudah berganti hari dan pelukan itu terlepas dengan sendirinya dan aku tertidur.
Pagi itu, matahari sudah menerangi rerumputan yang tertutup embun. Aku melihat sosok gadis berambut ikal duduk menyerong di bangku teras depan rumah. Mukanya samar tertutup rambut panjangnya yang tertiup angin dengan kulit sawo matang. Ya, itu Sherly.
Aku ingin sekali punya kulit agak gelap dari kulit asliku, karena mama keturunan belanda dan papa manado sepertinya mustahil. Sherly yang sadar aku sedang melihatnya, menyapa dan mengajak duduk disampingnya.
"Cel, sini duduk sama aku"
"Eh..."
Aku menghampirinya dan duduk di sampingnya
"Semalem acel bobo ya? Aku kan lagi cerita"
"hehe..." pasti wajah ku berubah menjadi aneh karena heran
Apa Sherly ketiduran dan tidak sadar ia memeluk ku erat semalam? Apa aku saja yang terlalu berlebih karena tidak pernah di peluk sesama teman wanita? Apa aku saja yang merasa gugup dan takut saat dipeluk erat oleh teman wanita?
Ah, anggap saja memang hanya aku yang terlalu berlebihan.
____________________________________________
Prolog
Oh, ya aku lupa memperkenalkan diri. Panggil saja Acel. Aku wanita dan usiaku saat ini masih belum di bilang tua. Ah, nanti kalian akan kenal aku seiring banyaknya Part di Thread ku ini.
Mohon maaf Thread ini masih sangat banyak kekurangan. Maklum baru pertama kali menjadi "Penulis" setelah sekian lama menjadi Silent Reader. Inipun terpaksa membuat ID karena tertarik ingin membagi sedikit perjalanan hidupku. Aku tau kalian sudah cukup bijak membedakan yang baik dan buruk dari Thread ini.
Mohon maaf sekali lagi. Dengan tidak bermaksud menyinggung apalagi menyudutkan salah satu pihak ataupun golongan. Jika dari kalian mengenal aku atau tokoh-tokoh dalam cerita ini. Mohon untuk tidak saling mengusik. Biarkan kami bahagia dengan jalan hidup masing-masing.
Terimakasih sebelumnya.
Part 2 : Sherly ke Jakarta
Part 3 : Pengakuan Sherly
Part 4 : Patah Hati
Part 5 : Hidup Baru
Part 6 : Tatto Pertama
Part 7 : Olive
Part 8 : Mulai Nyaman dengan Olive
Part 9 : Renda Ungu
Part 10 : Patah Hati 2
Part 11 : Penjelasan Olive
Part 12 : Ketulusan Mas Jerry
Part 13 : Pertama Kali Kerja
Part 14 : Paling Ku Takuti
Part 15 : Iqbal
Part 16 : Lumba-lumba
Part 17 : Lumba-lumba 2
Part 18 : Pertama
Part 19 : Langit Ke Tujuh
Part 20 : Menarik
Stay tuned ❤
Diubah oleh angela.aghastya 31-05-2018 22:47
anasabila memberi reputasi
1
15.7K
97
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
angela.aghastya
#60
Part 13 : Pertama Kali Kerja
Sang Fajar menyapa. Sang surya menampakkan sinarnya. Sang senja mengakhiri kisahnya.
Semakin hari semakin ku kuatkan kakiku untuk melangkah. Berbesar hati. Pikiran lebih terbuka. Tak semua yang ku mau akan dikabulkan. Tapi doa saja dulu, agar setidaknya aku tau apa yang harus ku capai.
Aku mulai belajar memegang kamera saat kuliah ku masuk semester 4. Makin ku tekuni dan ku pelajari. Belajar "memotret" kehidupan lain yang tak ku tau.
Aku jadi lebih sering hunting foto, duduk-duduk dikeramaian sekarang. Walaupun sebenarnya aku tak suka keramaian. Makanya di hatiku cuma ada satu orang haha... Itu gombalan andalanku.
Semula hanya ikut Desi yang bekerja di studio foto. Makin tertarik karena makin banyak kegiatan. Katanya angel ku bagus. Ya, rasa campuran antara wanita dan laki-laki. Tadinya aku tak paham. Saat aku menulis ini aku jadi paham.
Mulai dari hanya menemani Desi bekerja. Aku menabung untuk membeli kamera. Memfoto orang-orang terdekat. Aku suka sekali ajak jalan-jalan Mama dan Papa. Memfoto mereka yang sedang mesra. Kemudian di tawari Desi menggantikannya untuk memfoto sebuah acara rahatan wanita arab. Karena di satu ruangan itu tidak boleh laki-laki masuk. Jadilah mereka mencari photografer perempuan. Mereka tak tau saja kalau aku sekalian cuci mata.
Sejak saat itu, aku mulai bisa menghasilkan uang dari hobby ku ini. Sampai aku semakin sering pulang malam dan aku tak kuliah esok paginya. Sudah dengan beribu alasan yang ku berikan ke Mama dan Papa. Dari ada tugas sampai sakit yang ku buat-buat agar bisa tidur dirumah. Aku tau sifat orang tuaku. Mereka tak akan setuju bila ku bekerja karena takut mengganggu kuliahku, pasti mereka akan bilang "Papa masih mampu bayar kuliah km dan kasih jajan lebih" tapi aku tak suka diremehkan. Aku juga ingin tidak merepotkan. Jadilah ku jalani ini dengan sembunyi-sembunyi. Kecuali Alea, ia aku ceritakan.
Dengan alasan kuliah ku makin padat dan ada jam kuliah pagi aku berhasil mendapat izin ngekost oleh orang tuaku. Dengan catatan kuliahku akan lulus dengan waktu yang tepat. Aku setuju.
Aku berdua Bona mencari kostan. Bona setuju berbagi kamar denganku. Kami memilih di daerah pakubuwono. Dengan kamar yang lumayan besar. Terdapat tempat tidur 180x200, kamar mandi dalam, AC, TV dan lemari. Dibantu Bang Ozy aku pindahkan barang-barang seperlunya. Sekalian Bang Ozy mau tau dimana kostan baruku.
***
Malam ini Tante Bella ada acara di daerah SCBD. Kebetulan Tante Bella berulang tahun. Tante Bella itu kakak temanku. Umurnya sekitar 35 tahun. Simpanan pengusaha kaya. Sudah memiliki satu anak. Karena suaminya jarang pulang kerumah. Setiap ia bosan dirumah, Tante Bella selalu mengajak kami keluar. Ya, sekedar minum beer atau ke club menemaninya. Beruntungnya kami yang anak kuliahan pasti "kecipratan" senangnya. Ku anggap saja rejeki.
Aku minum terlalu banyak sampai kepalaku pusing dan perutku mual. Aku memang tak ahli dalam hal itu. Bona memapahku ke mobil. Aku hanya ingat Devia ikut mobil kami. Sesampainya di kostan aku hanya membuka celana jeansku. Seperti kebanyakan lelaki, aku memakai celana pendek terlebih dahulu sebelum memakai celana jeans. Aku membaringkan badan ke kasur menghadap tembok. Lalu ku tak ingat apa-apa lagi.
Aku terbangun. Aku merasa terganggu dengan gelisahnya kasurku. Aku mencoba membuka mata. Tapi berat sekali. Kepalaku masih pusing. Kasurku tak berhenti gelisah. Aku kesal. Aku membalikkan badan. Ternyata Bona dan Devia. Entah kemana baju mereka. Lampunya memang dimatikan tapi ada cahaya sedikit dr lampu tidur yang ku bawa dari rumah.
"Woy, pala gue pusing. Lu pada enak" aku sedikit membentak
"udah sih Cel, ah hmmm bobo aja hmmm" sepertinya suara Devia
"Ah Cel, jangan ganggu Cel hmm nanggung ah" sepertinya Bona.
"Anying, tega banget lu berdua. Etan! " Aku kesal. Tapi aku tak bisa bangun. Palaku makin pusing.
Akhirnya ku paksakan tidur.
Ada yang berubah dari sejak aku ngekost dengan Bona. Hampir setiap pagi Aku pasti terbangun karena suara TV yang keras. Kalau aku belum bangun. Bona akan menyalakan TV keras. Tapi Bona tidak menonton TV melainkan ke kamar mandi. Entah apa yang ia dilakukan di kamar mandi. Jika aku tanya alasannya. Bona hanya menjawab "iseng, Cel" padahal takut. Aku tau itu.
"Babs, TV kenapa gak lu pindahin ke kamar mandi sih? Gue masih mau tidur" keluhku
"Nanti basah Cel, gak bisa idup lagi haha... " suara tawanya menggema.
Setelah Bona keluar dari kamar mandi. Bona mengecilkan Volume TVnya.
Aku duduk dan melihat sekitar. Tak ku temui Devia
"Bon, bini lo mana? "
"Pulang tadi subuh. Ada Job katanya hari ini" jawab Bona sambil memainkan remote TV
"Lau percaya? "
"Percayain aja. Kayak gak pernah nakal aja deh Cel. Gaya pacaran gue cuma asas Sebab-Akibat. Apa yang lo lakuin diluar. Itu yang bakal gue lakuin juga" Bona menghentikan memaikan remotenya. Sepertinya ia serius
"Bon, enak semalem? " tanyaku penasaran
"Gimana ya? Kalo lo gak bangun mungkin enak. Pecah fokus gue gegara lo" Bona melemparkan bantal yang ada disebelahnya kearaku. Tepat mengenai mukaku. Malah ku peluk bantalnya.
"Lagian jahat cuma berdua. Aturan ngajak" aku tertawa
"Ye ngelunjak" Bona ikut tertawa.
***
Kuliah dan Kerja menyita hampir seluruh waktuku. Untuk istirahat saja aku mulai tak bisa membagi waktu dengan mengedit foto. Hari liburku habiskan separuh bekerja dan kumpul dengan teman-temanku. Makin jarang aku pulang dan makin jarang aku tau kondisi keluargaku.
Sore itu Bang Ozy menelponku. Aku berpikir akan ada kumpul keluarga seperti biasa. Biasanya Bang Ozy menelpon hanya untuk mencocokkan tanggal.
"Hallo bang ganteng"
"Cel, pulang sekarang. Gue tunggu dirumah"
Telpon langsung di tutup sepihak. Aku kaget. Pikiranku melayang, menggulang kejadian akhir-akhir ini. Aku berbuat nakal apa ya? Aku melakukan kesalahan apa ya? Setidaknya aku bisa mencari alasan terlebih dahulu jika nanti di interogasi.
Aku bergegas mandi dan merapihkan sedikit barang untuk kuliah besok. Aku akan berangkat kuliah dari rumah besok. Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan kesalahanku akhir-akhir ini. Tapi aku malah bingung kesalahan yang mana. Apa Mama Papa tau aku kerja? Atau kesalahan yang lain. Sudah masuk jam makan malam tepat dengan sampainya aku dirumah. Pintu depan tidak di tutup rupanya. Telihat sudah berkumpul keluargaku di ruang tamu. Lumayan lengkap. Bang Ozy tak membawa keluarga kecilnya. Kak Aucy tidak ada karena sudah tinggal di Thailand.
"Assalamu alaikum, para hadirin sudah menunggu ya? Maafkan daku, jalanannya kek Tokay macet bet" aku sedikit bercanda agar aku tak terlalu di hakimi nantinya.
"Yuk makan malam dulu. Sudah di siapkan sama Mamamu" Papa berdiri dari duduknya menuju meja makan. Semua mengikutinya.
Benar agak berbeda suasana rumah ini. Sedikit kaku dan tegang. Aku hanya melihat Bang Ozy tapi ia malah menunduk.
Makin kalut pikiranku.
Semakin hari semakin ku kuatkan kakiku untuk melangkah. Berbesar hati. Pikiran lebih terbuka. Tak semua yang ku mau akan dikabulkan. Tapi doa saja dulu, agar setidaknya aku tau apa yang harus ku capai.
Aku mulai belajar memegang kamera saat kuliah ku masuk semester 4. Makin ku tekuni dan ku pelajari. Belajar "memotret" kehidupan lain yang tak ku tau.
Aku jadi lebih sering hunting foto, duduk-duduk dikeramaian sekarang. Walaupun sebenarnya aku tak suka keramaian. Makanya di hatiku cuma ada satu orang haha... Itu gombalan andalanku.
Semula hanya ikut Desi yang bekerja di studio foto. Makin tertarik karena makin banyak kegiatan. Katanya angel ku bagus. Ya, rasa campuran antara wanita dan laki-laki. Tadinya aku tak paham. Saat aku menulis ini aku jadi paham.
Mulai dari hanya menemani Desi bekerja. Aku menabung untuk membeli kamera. Memfoto orang-orang terdekat. Aku suka sekali ajak jalan-jalan Mama dan Papa. Memfoto mereka yang sedang mesra. Kemudian di tawari Desi menggantikannya untuk memfoto sebuah acara rahatan wanita arab. Karena di satu ruangan itu tidak boleh laki-laki masuk. Jadilah mereka mencari photografer perempuan. Mereka tak tau saja kalau aku sekalian cuci mata.
Sejak saat itu, aku mulai bisa menghasilkan uang dari hobby ku ini. Sampai aku semakin sering pulang malam dan aku tak kuliah esok paginya. Sudah dengan beribu alasan yang ku berikan ke Mama dan Papa. Dari ada tugas sampai sakit yang ku buat-buat agar bisa tidur dirumah. Aku tau sifat orang tuaku. Mereka tak akan setuju bila ku bekerja karena takut mengganggu kuliahku, pasti mereka akan bilang "Papa masih mampu bayar kuliah km dan kasih jajan lebih" tapi aku tak suka diremehkan. Aku juga ingin tidak merepotkan. Jadilah ku jalani ini dengan sembunyi-sembunyi. Kecuali Alea, ia aku ceritakan.
Dengan alasan kuliah ku makin padat dan ada jam kuliah pagi aku berhasil mendapat izin ngekost oleh orang tuaku. Dengan catatan kuliahku akan lulus dengan waktu yang tepat. Aku setuju.
Aku berdua Bona mencari kostan. Bona setuju berbagi kamar denganku. Kami memilih di daerah pakubuwono. Dengan kamar yang lumayan besar. Terdapat tempat tidur 180x200, kamar mandi dalam, AC, TV dan lemari. Dibantu Bang Ozy aku pindahkan barang-barang seperlunya. Sekalian Bang Ozy mau tau dimana kostan baruku.
***
Malam ini Tante Bella ada acara di daerah SCBD. Kebetulan Tante Bella berulang tahun. Tante Bella itu kakak temanku. Umurnya sekitar 35 tahun. Simpanan pengusaha kaya. Sudah memiliki satu anak. Karena suaminya jarang pulang kerumah. Setiap ia bosan dirumah, Tante Bella selalu mengajak kami keluar. Ya, sekedar minum beer atau ke club menemaninya. Beruntungnya kami yang anak kuliahan pasti "kecipratan" senangnya. Ku anggap saja rejeki.
Aku minum terlalu banyak sampai kepalaku pusing dan perutku mual. Aku memang tak ahli dalam hal itu. Bona memapahku ke mobil. Aku hanya ingat Devia ikut mobil kami. Sesampainya di kostan aku hanya membuka celana jeansku. Seperti kebanyakan lelaki, aku memakai celana pendek terlebih dahulu sebelum memakai celana jeans. Aku membaringkan badan ke kasur menghadap tembok. Lalu ku tak ingat apa-apa lagi.
Aku terbangun. Aku merasa terganggu dengan gelisahnya kasurku. Aku mencoba membuka mata. Tapi berat sekali. Kepalaku masih pusing. Kasurku tak berhenti gelisah. Aku kesal. Aku membalikkan badan. Ternyata Bona dan Devia. Entah kemana baju mereka. Lampunya memang dimatikan tapi ada cahaya sedikit dr lampu tidur yang ku bawa dari rumah.
"Woy, pala gue pusing. Lu pada enak" aku sedikit membentak
"udah sih Cel, ah hmmm bobo aja hmmm" sepertinya suara Devia
"Ah Cel, jangan ganggu Cel hmm nanggung ah" sepertinya Bona.
"Anying, tega banget lu berdua. Etan! " Aku kesal. Tapi aku tak bisa bangun. Palaku makin pusing.
Akhirnya ku paksakan tidur.
Ada yang berubah dari sejak aku ngekost dengan Bona. Hampir setiap pagi Aku pasti terbangun karena suara TV yang keras. Kalau aku belum bangun. Bona akan menyalakan TV keras. Tapi Bona tidak menonton TV melainkan ke kamar mandi. Entah apa yang ia dilakukan di kamar mandi. Jika aku tanya alasannya. Bona hanya menjawab "iseng, Cel" padahal takut. Aku tau itu.
"Babs, TV kenapa gak lu pindahin ke kamar mandi sih? Gue masih mau tidur" keluhku
"Nanti basah Cel, gak bisa idup lagi haha... " suara tawanya menggema.
Setelah Bona keluar dari kamar mandi. Bona mengecilkan Volume TVnya.
Aku duduk dan melihat sekitar. Tak ku temui Devia
"Bon, bini lo mana? "
"Pulang tadi subuh. Ada Job katanya hari ini" jawab Bona sambil memainkan remote TV
"Lau percaya? "
"Percayain aja. Kayak gak pernah nakal aja deh Cel. Gaya pacaran gue cuma asas Sebab-Akibat. Apa yang lo lakuin diluar. Itu yang bakal gue lakuin juga" Bona menghentikan memaikan remotenya. Sepertinya ia serius
"Bon, enak semalem? " tanyaku penasaran
"Gimana ya? Kalo lo gak bangun mungkin enak. Pecah fokus gue gegara lo" Bona melemparkan bantal yang ada disebelahnya kearaku. Tepat mengenai mukaku. Malah ku peluk bantalnya.
"Lagian jahat cuma berdua. Aturan ngajak" aku tertawa
"Ye ngelunjak" Bona ikut tertawa.
***
Kuliah dan Kerja menyita hampir seluruh waktuku. Untuk istirahat saja aku mulai tak bisa membagi waktu dengan mengedit foto. Hari liburku habiskan separuh bekerja dan kumpul dengan teman-temanku. Makin jarang aku pulang dan makin jarang aku tau kondisi keluargaku.
Sore itu Bang Ozy menelponku. Aku berpikir akan ada kumpul keluarga seperti biasa. Biasanya Bang Ozy menelpon hanya untuk mencocokkan tanggal.
"Hallo bang ganteng"
"Cel, pulang sekarang. Gue tunggu dirumah"
Telpon langsung di tutup sepihak. Aku kaget. Pikiranku melayang, menggulang kejadian akhir-akhir ini. Aku berbuat nakal apa ya? Aku melakukan kesalahan apa ya? Setidaknya aku bisa mencari alasan terlebih dahulu jika nanti di interogasi.
Aku bergegas mandi dan merapihkan sedikit barang untuk kuliah besok. Aku akan berangkat kuliah dari rumah besok. Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan kesalahanku akhir-akhir ini. Tapi aku malah bingung kesalahan yang mana. Apa Mama Papa tau aku kerja? Atau kesalahan yang lain. Sudah masuk jam makan malam tepat dengan sampainya aku dirumah. Pintu depan tidak di tutup rupanya. Telihat sudah berkumpul keluargaku di ruang tamu. Lumayan lengkap. Bang Ozy tak membawa keluarga kecilnya. Kak Aucy tidak ada karena sudah tinggal di Thailand.
"Assalamu alaikum, para hadirin sudah menunggu ya? Maafkan daku, jalanannya kek Tokay macet bet" aku sedikit bercanda agar aku tak terlalu di hakimi nantinya.
"Yuk makan malam dulu. Sudah di siapkan sama Mamamu" Papa berdiri dari duduknya menuju meja makan. Semua mengikutinya.
Benar agak berbeda suasana rumah ini. Sedikit kaku dan tegang. Aku hanya melihat Bang Ozy tapi ia malah menunduk.
Makin kalut pikiranku.
0