- Beranda
- Sejarah & Xenology
Rumah Proklamasi (Pegangsaan Timur 56) - Bukti Persatuan Indonesia
...
TS
superbendot
Rumah Proklamasi (Pegangsaan Timur 56) - Bukti Persatuan Indonesia
Saudagar Keturunan Arab dan Rumah Proklamasi
Kurnia Illahi
Rabu, 18 Januari 2017 - 15:38 WIB


Rumah Proklamasi tempat Presiden Soekarno membacakan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia yang berlokasi di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta. Foto/Dok/Blogspot.co.id
PIDATO Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) PDIP ke-44 menjadi polemik. Beberapa isi pidato yang diucapkan Megawati dinilai telah menyinggung pihak tertentu.
Pidato Megawati Soekarnoputri ini sempat meramaikan sosial media. Banyak netizen yang menimpali pernyataan Megawati Soekarnoputri terkesan menafikan peran orang Arab dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.
Ucapan Megawati mengingatkan kembali tentang cerita mengenai seorang saudagar keturunan Arab yang tinggal di Indonesia bernama Faradj bin Said Awad Martak. Dia adalah saudagar sukses di Jakarta (dahulu bernama Batavia) di zaman kolinial Belanda. Dia juga tercatat sebagai Presiden Direktur N.V. Alegemeene Import-Export en Handel Marba.
Berdasarkan penelusuran SINDOnews yang dihimpun dari berbagai sumber menyebutkan, Faradj bin Said Awad Martak adalah pria kelahiran Hadramaut, Yaman Selatan. Putranya bernama Ali bin Fardj Martak dikenal sangat dekat dengan Bung Karno. Ali kemudian menjadi penerus usaha Faradj bin Said Awad Martak.
Beberapa ada yang menulis Faradj bin Said Awad Martak memiliki jasa dalam proses terciptanya kemerdekaan Indonesia. Rumah yang berlokasi di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini Jakarta adalah milik Faradj bin Said Awad Martak. Rumah itu dijadikan tempat tinggal Soekarno sekaligus pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Rumah tersebut sejak tahun 1962 sudah diratakan atas perintah Soekarno kemudian dibangun Gedung Pola, dan tempat Bung Karno berdiri bersama Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia itu lalu didirikan monumen Tugu Proklamasi. Sejak itulah Jalan Pegangsaan Timur berubah menjadi Jalan Proklamasi.
Cerita mengenai Faradj bin Said Awad Martak ini didukung adanya surat yang mengatasnamakan Menteri Pekerjaan Umum dan Perhubungan Republik Indonesia Ir HM Sitompul tertanggal 14 Agustus 1950.
Dalam surat itu menyatakan Pemerintah Indonesia menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada Faradj bin Said Awad Martak. Penghargaan diberikan kepadanya karena telah membantu Indonesia dalam hal beberapa usahanya membeli beberapa gedung di Jakarta, antara lain Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini Jakarta.
(kur)
Sumber:
https://www.google.co.id/amp/s/nasio...asi-1484728675
......
Kita semua satu.. Indonesia.. Tidak peduli asal dan suku, selama mengikrarkan sebagai WNI, punya KTP Indonesia, wajiblah saling menjaga, menghormati.. Hati2 oknum pemecah belah...
JAS MERAH!
Kurnia Illahi
Rabu, 18 Januari 2017 - 15:38 WIB


Rumah Proklamasi tempat Presiden Soekarno membacakan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia yang berlokasi di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta. Foto/Dok/Blogspot.co.id
PIDATO Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) PDIP ke-44 menjadi polemik. Beberapa isi pidato yang diucapkan Megawati dinilai telah menyinggung pihak tertentu.
Pidato Megawati Soekarnoputri ini sempat meramaikan sosial media. Banyak netizen yang menimpali pernyataan Megawati Soekarnoputri terkesan menafikan peran orang Arab dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.
Ucapan Megawati mengingatkan kembali tentang cerita mengenai seorang saudagar keturunan Arab yang tinggal di Indonesia bernama Faradj bin Said Awad Martak. Dia adalah saudagar sukses di Jakarta (dahulu bernama Batavia) di zaman kolinial Belanda. Dia juga tercatat sebagai Presiden Direktur N.V. Alegemeene Import-Export en Handel Marba.
Berdasarkan penelusuran SINDOnews yang dihimpun dari berbagai sumber menyebutkan, Faradj bin Said Awad Martak adalah pria kelahiran Hadramaut, Yaman Selatan. Putranya bernama Ali bin Fardj Martak dikenal sangat dekat dengan Bung Karno. Ali kemudian menjadi penerus usaha Faradj bin Said Awad Martak.
Beberapa ada yang menulis Faradj bin Said Awad Martak memiliki jasa dalam proses terciptanya kemerdekaan Indonesia. Rumah yang berlokasi di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini Jakarta adalah milik Faradj bin Said Awad Martak. Rumah itu dijadikan tempat tinggal Soekarno sekaligus pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Rumah tersebut sejak tahun 1962 sudah diratakan atas perintah Soekarno kemudian dibangun Gedung Pola, dan tempat Bung Karno berdiri bersama Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia itu lalu didirikan monumen Tugu Proklamasi. Sejak itulah Jalan Pegangsaan Timur berubah menjadi Jalan Proklamasi.
Cerita mengenai Faradj bin Said Awad Martak ini didukung adanya surat yang mengatasnamakan Menteri Pekerjaan Umum dan Perhubungan Republik Indonesia Ir HM Sitompul tertanggal 14 Agustus 1950.
Dalam surat itu menyatakan Pemerintah Indonesia menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada Faradj bin Said Awad Martak. Penghargaan diberikan kepadanya karena telah membantu Indonesia dalam hal beberapa usahanya membeli beberapa gedung di Jakarta, antara lain Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini Jakarta.
(kur)
Sumber:
https://www.google.co.id/amp/s/nasio...asi-1484728675
......
Kita semua satu.. Indonesia.. Tidak peduli asal dan suku, selama mengikrarkan sebagai WNI, punya KTP Indonesia, wajiblah saling menjaga, menghormati.. Hati2 oknum pemecah belah...
JAS MERAH!
Diubah oleh superbendot 29-07-2017 22:21
0
37.5K
109
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
6.5KThread•11.6KAnggota
Tampilkan semua post
f4u.corsair
#108
Quote:
dari 1 atau 2 artikel yang langka sekitar tahun 2010an sih masih gitu ceritanya.

Kisah Chaerul Basri Mencari Gedung Pegangsaan Timur 56
Akhirnya, disetujuilah pendirian pusat mobilisasi rakyat yang akan dipimpin “Empat Serangkai” dimotori Bung Karno dan Bung Hatta. Gerakan itu bernama Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA), yang berkantor di gedung bekas sekolah MULO, di Jalan Sunda.
Begitu persetujuan hampir mendekati realisasi, Jepang ingin menyediakan sebuah rumah dan mobil untuk Bung Karno. Mobil bekas Belanda memang banyak menumpuk di Gunseikanbu (Kantor Pertamina sekarang) dan untuk Bung Karno diberikan sebuah mobil Buick plus seorang sopir. Lalu, bagaimana dengan rumah untuk Bung Karno?
Pada suatu hari, Bung Karno datang ke Gunseikanbu bertemu Shimizu. Entah apa yang mereka bicarakan, tiba-tiba Chaerul Basri dipanggil Shimizu ke ruangannya. Bung Karno sedang duduk di belakang meja, sedang Shimizu mondar-mandir di depan Bung Karno. Ini adalah kebiasaannya. Ia tidak dapat duduk tenang di suatu tempat, tetapi selalu berjalan mondar-mandir kalau sedang berbicara.
Seingat Chaerul, Bung Karno waktu itu berpakaian mirip safari yang terbuat dari bahan yang waktu itu dikenal dengan nama merek kulit kayu. Shimizu memperkenalkan Chaerul pada Bung Karno. Memang, sebelumnya Chaerul sudah beberapa kali bertemu dengan Bung Karno, tetapi tidak bersifat resmi. Di kantor Shimizu itulah ia baru benar-benar berkenalan dengan Bung Karno.
“Pemuda", itulah panggilan Shimizu pada Chaerul, "bisakah cari rumah buat orang besar?" Yang dimaksud orang besar itu adalah Bung Karno. Sedangkan Shimizu sendiri menyebut dirinya: "saya jongos" atau "saya pelayan". Bung Karno sendiri tersenyum mendengar Shimizu berbicara.
Pada waktu itu Chaerul menjawab "bisa", karena ia kebetulan tahu banyak rumah yang baik, representatif, dan besar di daerah Menteng. Daerah Menteng dikenalnya karena waktu itu ia tinggal di Jalan Jawa No 112 (kini Jalan HOS Tjokroaminoto).
Pada saat saya hendak meninggalkan ruangan, tiba-tiba Bung Karno berkata, “Chaerul, kamu mengerti rumah macam apa yang aku inginkan.”
“Mengerti Bung, akan saya carikan rumah yang besar, mewah, dan cukup representatif,” jawab Chaerul.
Bung Karno tersenyum dan berkata lagi, ''Bukan, bukan itu yang saya maksud. Saya butuh rumah yang pekarangannya luas agar saya bisa menerima rakyat banyak!"
Chaerul terdiam dan tertegun. Pikirannya melayang ke mana-mana, karena baru sekali ini ia mendengar ucapan dari seseorang yang mengaitkan tempat kediamannya dengan rakyat banyak.
Chaerul telah beberapa kali mencarikan rumah untuk pemimpin-pemimpin lainnya dengan syarat yang sama: rumah yang representatif, besar, mewah, dan berada di jalan yang terkemuka. Persyaratan itu telah baku, tapi tidak buat Bung Karno. Dengan penuh pemikiran tentang persyaratan yang diajukan Bung Karno, Chaerul meninggalkan ruangan itu.
Hal ini diceritakan Chaerul pada Adel Sofyan, teman sekerjanya. Sore harinya, dengan berboncengan sepeda mereka berkeliling daerah Menteng. Ada rumah-rumah besar dan luas di sekitar Taman Suropati, tetapi semuanya telah ditempati pembesar Jepang. Akhirnya, mereka tiba di Jalan Pegangsaan Timur (Jalan Proklamasi sekarang), terlihat sebuah rumah yang cukup luas pekarangannya.

Rumah itu sederhana. Barangkali lebih cocok dikatakan seperti sebuah rumah yang terletak di tengah perkebunan. Serambi depan rumah itu terbuka, halamannya yang luas ditumbuhi pohon-pohon. Mereak berdiri di depan rumah, dan berkeliling memeriksanya dari samping. Akhirnya Chaerul berkata pada Adel bahwa mungkin rumah ini cocok dengan selera Bung Karno.
Esoknya, mereka melaporkan hasil penjajakan. Shimizu langsung menelepon Bung Karno. Terjadilah tanya jawab antara Shimizu dan Bung Karno mengenai rumah itu. Karena Shimizu tidak dapat menjelaskannya dalam bahasa Indonesia, maka ia menyerahkan telepon, dan Chaerul menceritakan tentang rumah itu. Ternyata, Bung Karno pernah lewat di depan rumah itu, dan juga tertarik. Alangkah gembiranya Chaerul.
Shimizu lalu menyuruh Chaerul untuk mengosongkan rumah tersebut. Sorenya, Chaerul dan Adel balik lagi ke rumah itu untuk berunding dengan pemilik rumah. Di sana mereka hanya diterima nyonya rumah (yang masih muda) dan anaknya yang berumur empat tahun, karena tuannya beberapa hari yang lalu diasingkan oleh Jepang.
Chaerul dan Adel menjelaskan maksud mereka dalam bahasa Belanda, dan menawarkan rumah lain yang lebih layak, walau tidak berhalaman luas. Serta-merta sang nyonya marah-marah dan mengatakan tidak akan keluar dari rumah itu apa pun yang terjadi. Mereka tidak melayani, karena maklum dengan kondisi kejiwaan sang nyonya: suami baru diasingkan, lalu rumah kesayangan mau diambil.
Saat melapor pada Shimizu, Chaerul mengusulkan agar pemindahan nyonya itu dilakukan melalui pemerintah, dan nyonya tersebut diberi ganti rugi rumah yang layak. Seminggu kemudian rumah itu berhasil dikosongkan, dan sang nyonya dipindahkan ke sebuah rumah bertingkat di Jalan Lembang. Semenjak itu, mulailah Bung Karno dan Ibu Fatmawati menempati rumah di Jalan Pegangsaan Timur 56 itu sebagai kediaman resmi.
Setelah berhasil mendapatkan rumah itu, hubungan Chaerul dengan Bung Karno dan Ibu Fatmawati menjadi semakin dekat. Chaerul kenal dengan Ibu Fatmawati pertama kali di atas feri yang membawanya dari Tanjung Karang menuju Merak. Perkenalan itu atas jasa sahabatnya, Semaun Bakri, yang ditugaskan Bung Karno untuk menjemput Ibu Fatmawati dari ke Tanjung Karang.
Waktu itu, Ibu Fatmawati belum memakai nama Fatmawati. Semaun berbisik pada Chaerul bahwa Fatmawati akan mendampingi Bung Karno di Jakarta setelah berpisah dengan Ibu Inggit. Fatmawati masih berkerudung dan memakai pakaian ala Sumatera.
Chaerul tercatat pernah menjalani kehidupan militer dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal (Purn). Selain itu, ia pernah menjabat Sekjen Departemen Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi (Depnakertranskop) tahun 1966-1979 dan sebagai Ketua Bidang Sosial Budaya dan Kesejahteraan di Markas Besar Legiun Veteran RI.
Sementara itu, seperti juga Chaerul, Adel Sofyan masuk ke dunia militer, mulai dari BKR (Badan Keamanan rakyat), TKR (Tentara Keamanan Rakyat), sampai menjadi TRI (Tentara Republik Indonesia). Karirnya di angkatan bersenjata tercatat sebagai Kepala Staf Resimen 6 Cikampek, Brigade Kiansantang, Divisi Siliwangi. Namun, konflik internal yang terjadi di tubuh angkatan bersenjata pada tahun 1946 sempat mengakibatkan pertumpahan darah.
Adel Sofyan beserta Komandan Resimen VI, Letkol Soeroto Kunto, hilang diculik pada November 1946, dan tidak pernah diketahui lagi nasibnya. Kecurigaan kuat, penculikan dilakukan oleh pihak Laskar Rakyat. Hal ini berbuntut panjang. Pada tahun 1947, tentara pemerintah menumpas Laskar Rakyat di Karawang.
artikel lengkap di http://forumpaskibraka.blogspot.co.i...iapa-yang.html
http://kabarinews.com/kisah-shimizu-...ul-basri/35251
0