- Beranda
- Stories from the Heart
Ketidak Normalan Ku
...
TS
angela.aghastya
Ketidak Normalan Ku
Part 1 : Panggil saja Acel
Ku amati bayangan di depanku dari jendela kelas, samar-samar terlihat anak club basket sedang bermain basket di depanku. Aku memang lebih tertarik melihat anak laki-laki memperebutkan bola dari pada anak perempuan yang sibuk memikirkan dandanan mereka.
Namaku Angela Aghastya, panggil saja Acel. Aku memang sedikit tomboy kala itu. Aku punya pacar laki-laki saat aku kelas 2 SMA di sekolah kejuruan di Jakarta. Setelah 6 bulan kami berpacaran, aku memutuskan hubungan karna pacarku terlalu "lembek" pikir ku.
Saat libur sekolah kenaikan kelas 3 SMA, aku berlibur ke rumah kakak Ke 2 ku di Bandung. Disana aku bertemu dengan adik teman kakak ku, namanya Sherly.
Sherly kuliah di australia dan sedang berlibur sama sepertiku. Kami menghabiskan waktu berdua mengobrol dan bercanda. Aku senang sekali berteman dengan Sherly. Selain ia baik, ia juga pintar.
Tak terasa sudah seminggu kami berteman, hampir setiap hari Sherly menginap di rumah kakak ku. Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Badanku mulai lelah dan mataku mengantuk. Aku memeluk guling membelakangi Sherly,
"Cel, punya pacar ga?"
"Pernah punya, tapi udah ga, kalo sherly?" jawabku dengan mata berair hasil menguap
"Pernah punya juga"
Mataku terpejam sedikit demi sedikit. Badanku terasa ada yang memeluk dari belakang dengan erat dan makin erat. Seketika mataku terbuka lebar yang tadinya berat seperti ada batu dikelopaknya. Dadaku bergebu-gebu seperti jantungnya mau keluar dari tempatnya. Aku tak berani bergerak sedikit pun dan tak berani bicara sepatah katapun. Aku takut. Sampai ku sadari sudah berganti hari dan pelukan itu terlepas dengan sendirinya dan aku tertidur.
Pagi itu, matahari sudah menerangi rerumputan yang tertutup embun. Aku melihat sosok gadis berambut ikal duduk menyerong di bangku teras depan rumah. Mukanya samar tertutup rambut panjangnya yang tertiup angin dengan kulit sawo matang. Ya, itu Sherly.
Aku ingin sekali punya kulit agak gelap dari kulit asliku, karena mama keturunan belanda dan papa manado sepertinya mustahil. Sherly yang sadar aku sedang melihatnya, menyapa dan mengajak duduk disampingnya.
"Cel, sini duduk sama aku"
"Eh..."
Aku menghampirinya dan duduk di sampingnya
"Semalem acel bobo ya? Aku kan lagi cerita"
"hehe..." pasti wajah ku berubah menjadi aneh karena heran
Apa Sherly ketiduran dan tidak sadar ia memeluk ku erat semalam? Apa aku saja yang terlalu berlebih karena tidak pernah di peluk sesama teman wanita? Apa aku saja yang merasa gugup dan takut saat dipeluk erat oleh teman wanita?
Ah, anggap saja memang hanya aku yang terlalu berlebihan.
____________________________________________
Prolog
Oh, ya aku lupa memperkenalkan diri. Panggil saja Acel. Aku wanita dan usiaku saat ini masih belum di bilang tua. Ah, nanti kalian akan kenal aku seiring banyaknya Part di Thread ku ini.
Mohon maaf Thread ini masih sangat banyak kekurangan. Maklum baru pertama kali menjadi "Penulis" setelah sekian lama menjadi Silent Reader. Inipun terpaksa membuat ID karena tertarik ingin membagi sedikit perjalanan hidupku. Aku tau kalian sudah cukup bijak membedakan yang baik dan buruk dari Thread ini.
Mohon maaf sekali lagi. Dengan tidak bermaksud menyinggung apalagi menyudutkan salah satu pihak ataupun golongan. Jika dari kalian mengenal aku atau tokoh-tokoh dalam cerita ini. Mohon untuk tidak saling mengusik. Biarkan kami bahagia dengan jalan hidup masing-masing.
Terimakasih sebelumnya.
Part 2 : Sherly ke Jakarta
Part 3 : Pengakuan Sherly
Part 4 : Patah Hati
Part 5 : Hidup Baru
Part 6 : Tatto Pertama
Part 7 : Olive
Part 8 : Mulai Nyaman dengan Olive
Part 9 : Renda Ungu
Part 10 : Patah Hati 2
Part 11 : Penjelasan Olive
Part 12 : Ketulusan Mas Jerry
Part 13 : Pertama Kali Kerja
Part 14 : Paling Ku Takuti
Part 15 : Iqbal
Part 16 : Lumba-lumba
Part 17 : Lumba-lumba 2
Part 18 : Pertama
Part 19 : Langit Ke Tujuh
Part 20 : Menarik
Stay tuned ❤
Ku amati bayangan di depanku dari jendela kelas, samar-samar terlihat anak club basket sedang bermain basket di depanku. Aku memang lebih tertarik melihat anak laki-laki memperebutkan bola dari pada anak perempuan yang sibuk memikirkan dandanan mereka.
Namaku Angela Aghastya, panggil saja Acel. Aku memang sedikit tomboy kala itu. Aku punya pacar laki-laki saat aku kelas 2 SMA di sekolah kejuruan di Jakarta. Setelah 6 bulan kami berpacaran, aku memutuskan hubungan karna pacarku terlalu "lembek" pikir ku.
Saat libur sekolah kenaikan kelas 3 SMA, aku berlibur ke rumah kakak Ke 2 ku di Bandung. Disana aku bertemu dengan adik teman kakak ku, namanya Sherly.
Sherly kuliah di australia dan sedang berlibur sama sepertiku. Kami menghabiskan waktu berdua mengobrol dan bercanda. Aku senang sekali berteman dengan Sherly. Selain ia baik, ia juga pintar.
Tak terasa sudah seminggu kami berteman, hampir setiap hari Sherly menginap di rumah kakak ku. Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Badanku mulai lelah dan mataku mengantuk. Aku memeluk guling membelakangi Sherly,
"Cel, punya pacar ga?"
"Pernah punya, tapi udah ga, kalo sherly?" jawabku dengan mata berair hasil menguap
"Pernah punya juga"
Mataku terpejam sedikit demi sedikit. Badanku terasa ada yang memeluk dari belakang dengan erat dan makin erat. Seketika mataku terbuka lebar yang tadinya berat seperti ada batu dikelopaknya. Dadaku bergebu-gebu seperti jantungnya mau keluar dari tempatnya. Aku tak berani bergerak sedikit pun dan tak berani bicara sepatah katapun. Aku takut. Sampai ku sadari sudah berganti hari dan pelukan itu terlepas dengan sendirinya dan aku tertidur.
Pagi itu, matahari sudah menerangi rerumputan yang tertutup embun. Aku melihat sosok gadis berambut ikal duduk menyerong di bangku teras depan rumah. Mukanya samar tertutup rambut panjangnya yang tertiup angin dengan kulit sawo matang. Ya, itu Sherly.
Aku ingin sekali punya kulit agak gelap dari kulit asliku, karena mama keturunan belanda dan papa manado sepertinya mustahil. Sherly yang sadar aku sedang melihatnya, menyapa dan mengajak duduk disampingnya.
"Cel, sini duduk sama aku"
"Eh..."
Aku menghampirinya dan duduk di sampingnya
"Semalem acel bobo ya? Aku kan lagi cerita"
"hehe..." pasti wajah ku berubah menjadi aneh karena heran
Apa Sherly ketiduran dan tidak sadar ia memeluk ku erat semalam? Apa aku saja yang terlalu berlebih karena tidak pernah di peluk sesama teman wanita? Apa aku saja yang merasa gugup dan takut saat dipeluk erat oleh teman wanita?
Ah, anggap saja memang hanya aku yang terlalu berlebihan.
____________________________________________
Prolog
Oh, ya aku lupa memperkenalkan diri. Panggil saja Acel. Aku wanita dan usiaku saat ini masih belum di bilang tua. Ah, nanti kalian akan kenal aku seiring banyaknya Part di Thread ku ini.
Mohon maaf Thread ini masih sangat banyak kekurangan. Maklum baru pertama kali menjadi "Penulis" setelah sekian lama menjadi Silent Reader. Inipun terpaksa membuat ID karena tertarik ingin membagi sedikit perjalanan hidupku. Aku tau kalian sudah cukup bijak membedakan yang baik dan buruk dari Thread ini.
Mohon maaf sekali lagi. Dengan tidak bermaksud menyinggung apalagi menyudutkan salah satu pihak ataupun golongan. Jika dari kalian mengenal aku atau tokoh-tokoh dalam cerita ini. Mohon untuk tidak saling mengusik. Biarkan kami bahagia dengan jalan hidup masing-masing.
Terimakasih sebelumnya.
Part 2 : Sherly ke Jakarta
Part 3 : Pengakuan Sherly
Part 4 : Patah Hati
Part 5 : Hidup Baru
Part 6 : Tatto Pertama
Part 7 : Olive
Part 8 : Mulai Nyaman dengan Olive
Part 9 : Renda Ungu
Part 10 : Patah Hati 2
Part 11 : Penjelasan Olive
Part 12 : Ketulusan Mas Jerry
Part 13 : Pertama Kali Kerja
Part 14 : Paling Ku Takuti
Part 15 : Iqbal
Part 16 : Lumba-lumba
Part 17 : Lumba-lumba 2
Part 18 : Pertama
Part 19 : Langit Ke Tujuh
Part 20 : Menarik
Stay tuned ❤
Diubah oleh angela.aghastya 31-05-2018 22:47
anasabila memberi reputasi
1
15.7K
97
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
angela.aghastya
#53
Part 12 : Ketulusan Mas jerry
Sang fajar membangunkanku. Bukan, Olive yang membangunkanku. Olive memintaku menemaninya mencari sarapan. Aku juga lapar. Kami berjalan di area belakang apartment masih lengkap dengan baju tidur dan muka kusut belum mandi. Ternyata banyak jajanan disana. Sudah sekitar pukul 10 pagi. Sepertinya enak sarapan nasi padang. Maaf, aku memang agak rakus.
Setelah kami makan. Aku berjalan kembali ke apartment. Rencananya aku ingin mandi, menunggu Alea dan pulang kerumah.
Mama janji mau membuatkan aku Poffertjes. Sejenis kue cubit yang diberi gula bubuk diatasnya.
Sampai di lantai kamar apartment Olive. Pintunya tidak terkunci. Seingatku, Olive sudah menguncinya. Aku curiga ada orang didalam. Benar ada yang sedang diduduk menonton TV disana. Ya, benar itu adalah Mas jerry. Ia membuat kejutan lagi untuk Olive. Ternyata ia pulang lebih cepat. Mukanya agak kaget saat melihatku berdua dengan Olive. Olive malah tidak ada apa-apa. Tak perduli tepatnya. Olive hanya sedikit basa-basi pelengkap kalau mereka roommate.
"Jer, lebih cepet pulangnya? " Olive menyalimi tangan Mas Jerry.
"Oh, ada Acel. Apa kabar, Cel? " Mas Jerry bangun dari duduknya dan menyapaku.
"Baik Mas. Maaf nih pinjem apartnya semalam"
"Ah, kenapa ku bilang seperti itu, bodohnya" Batinku
"Gpp Cel, santai aja. Kasian juga Olive kalau sendirian" Mas Jerry tersenyum melihatku. Aku malah merasa bersalah sudah mendekati calon istrinya.
"Oya, Live. Jadi jalan ke Puncak sama temen-temen kamu? " Mas Jerry mengingatkan.
"Eh, aku sampe lupa. Yuk, siap-siap"
Aku bingung harus ngomong apa. Tapi sebaiknya aku bersiap menjemput Alea dan pulang.
"Live, Mas, gue pulang aja kali ya. Ganggu nih"
Aku mengambil baju yang tergantung menuju kamar mandi.
"Jangan Cel. Ikut aja yuk. Libur kan kuliahnya" Mas Jerry mengajak. Aku mulai salah tingkah. Benar sebaiknya aku bergegas.
"Cel, ikut yuk. Ada temen-temen aku yang kamu kenal kok. Masa gak mau liburan bareng aku? "
Olive mulai merayu. Aku makin salah tingkah dan bingung harus bagaimana.
Dengan segala bujuk rayu Olive dan Mas Jerry, akhirnya aku setuju. Dengan syarat pakai Mobilku. Setidaknya aku ada kesibukan menyetir. Anggap saja aku menyupirkan mereka liburan. Dan supir jadi ikut liburan.
Aku menelpon Mama, aku bilang bahwa aku ada urusan. Alea akan pulang sendiri kerumah dan sudah ku beri ongkos taxi. Aku menelpon Alea, beritahu bahwa aku akan pergi dengan Olive dan teman-temannya dan pulang dengan taxi sudah ku transfer duitnya.
Kami bertiga meluncur ke arah Puncak. Aku menyetir, Mas Jerry menemani ku di depan dan Olive di kursi belakang tepat di belakangku. Diperjalanan kami berhenti sejenak di rest area untuk makan dan melanjutkan perjalanan yang macet. Olive tak segan memegangi pinggang sebelah kananku dari selah antara bangku belakang dan depan dekat pintu. Aku malah risih dan berusaha melepaskannya. Aku tak mengerti. Seberani itukan? Sampai satu mobil dengan Mas Jerry saja Olive masih mengodaku.
Setelah perjalanan 3 jam, akhirnya kami sampai di puncak. Ya, kalian tau lah kalau hari sabtu seperti apa jalanan Bogor. Disana Manda sudah menyewa Villa daerah Ciloto. Ternyata Manda sedang berulang tahun dan ingin teman-temannya berkumpul disana. Villanya cukup besar, terdiri dari 8 kamar tidur. Diarea belakang ada taman dan kolam renang. Untung lah ada teman-teman Olive yang sebagian ku kenal. Aku malah melihat Mas Jerry agak kaget setelah tau cukup banyak teman Olive yang ku kenal.
Malam harinya, kami berkumpul diarea taman. Banyak di sediakan minuman dan baberque. Aku malah sibuk membantu Manda dan pacarnya membakar bahan makanan. Olive menghampiriku. Merangkul ku. Aku lepaskan rangkulannya.
Tak terasa sudah pukul 2 malam. Bahan baberque sudah habis untuk dibakar. Yang lain ada yang sudah masuk kamar. Ada yang menonton tv. Tinggal aku duduk di gazebo kayu disudut taman.
Aku merokok dan minum sedikit bir sambil menikmati udara dingin. Ternyata Mas Jerry menghampiri.
"Cel, ga tidur? "
Aku kaget.
"Eh, belum ngantuk Mas. Masih mau nikmatin udara dingin nih. Mas Jerry ga tidur? "
"Sama Cel, belum ngantuk. Aku kan jarang bisa begadang gini. Mumpung besok bisa bangun siang"
Meski agak canggung tapi aku punya kesalahan besar ke Mas Jerry. Walaupun menyakitkan juga bagiku. Setidaknya aku pernah meminta maaf kepadanya.
"Mas, Acel mau minta maaf. Maaf kalo Acel udah kirimin bunga ke Olive. Olive gak pernah bilang kalo udah punya Mas Jerry. Acel merasa bersalah banget pas tau Mas Jerry udah ngelamar Olive"
Aku menunduk. Malu sekali. Mungkin kalau kalian merebut pacar orang berlainan jenis tidak akan semalu aku. Sama saja membongkar aibku.
"Cel, aku tau bukan kamu yang salah. Mungkin kamu gak akan deketin Olive kalo kamu tau Olive udah sama aku. Aku sudah tau prilaku Olive dari sebelum kami memutuskan untuk akan menikah. Walaupun kecewa dengan sikapnya. Aku berusaha menerima kok. Aku percaya, batu saja bisa bolong kalau rutin di teteskan air. Masa hati manusia gak bisa luluh sama orang tulus. Jangan canggung ya sama aku. Makasih udah jagain Olive saat aku gak ada"
Mas Jerry tersenyum. Matanya sendu. Raut wajahnya tulus. Aku tak habis pikir mengapa ia mau repot-repot memperbaiki Olive. Ya, mungkin ini namanya cinta.
"Mas, coba cari kerja yang gak keluar kota terus. Mungkin Olive kesepian"
"Iya, Cel. Sudah aku dapat kok pekerjaan barunya. Kebetulan di Dukuh atas. Bisa jalan kaki dari apart. Semoga bisa lebih baik aku jagain Olivenya"
Aku tersenyum lega. Setidaknya orang yang ku sayang akan lebih baik lagi di jaga orang tulus seperti Mas Jerry.
Entah apa lagi yang kami obroli. Dari pekerjaan Mas Jerry, sampai kuliah dan teman-temanku. Ternyata Mas Jerry baru tau LGBT itu benar ada di "dunia" ini. Baru tau juga istilah-istilah kami dari Olive. Bahkan Mas Jerry sempat meminta Olive untuk mengajak ia ke tempat teman-temannya. Katanya untuk survey seberapa parah "sakit"nya Olive.
Sudah mulai Fajar. Aku mengakhiri obrolan. Aku mengantuk. Aku menuju salah satu kamar. Aku tutup pintunya tapi tak ku kunci. Aku berbaring. Nikmatnya. Setelah seharian badanku kaku karena suasana yang tegang. Gagang pintuku bergerak. Perasaanku tak enak. Benar saja. Olive membuka pintu. Masuk. Dan menutup pintunya. Duh, berani sekali wanita satu ini.
Setelah kami makan. Aku berjalan kembali ke apartment. Rencananya aku ingin mandi, menunggu Alea dan pulang kerumah.
Mama janji mau membuatkan aku Poffertjes. Sejenis kue cubit yang diberi gula bubuk diatasnya.
Sampai di lantai kamar apartment Olive. Pintunya tidak terkunci. Seingatku, Olive sudah menguncinya. Aku curiga ada orang didalam. Benar ada yang sedang diduduk menonton TV disana. Ya, benar itu adalah Mas jerry. Ia membuat kejutan lagi untuk Olive. Ternyata ia pulang lebih cepat. Mukanya agak kaget saat melihatku berdua dengan Olive. Olive malah tidak ada apa-apa. Tak perduli tepatnya. Olive hanya sedikit basa-basi pelengkap kalau mereka roommate.
"Jer, lebih cepet pulangnya? " Olive menyalimi tangan Mas Jerry.
"Oh, ada Acel. Apa kabar, Cel? " Mas Jerry bangun dari duduknya dan menyapaku.
"Baik Mas. Maaf nih pinjem apartnya semalam"
"Ah, kenapa ku bilang seperti itu, bodohnya" Batinku
"Gpp Cel, santai aja. Kasian juga Olive kalau sendirian" Mas Jerry tersenyum melihatku. Aku malah merasa bersalah sudah mendekati calon istrinya.
"Oya, Live. Jadi jalan ke Puncak sama temen-temen kamu? " Mas Jerry mengingatkan.
"Eh, aku sampe lupa. Yuk, siap-siap"
Aku bingung harus ngomong apa. Tapi sebaiknya aku bersiap menjemput Alea dan pulang.
"Live, Mas, gue pulang aja kali ya. Ganggu nih"
Aku mengambil baju yang tergantung menuju kamar mandi.
"Jangan Cel. Ikut aja yuk. Libur kan kuliahnya" Mas Jerry mengajak. Aku mulai salah tingkah. Benar sebaiknya aku bergegas.
"Cel, ikut yuk. Ada temen-temen aku yang kamu kenal kok. Masa gak mau liburan bareng aku? "
Olive mulai merayu. Aku makin salah tingkah dan bingung harus bagaimana.
Dengan segala bujuk rayu Olive dan Mas Jerry, akhirnya aku setuju. Dengan syarat pakai Mobilku. Setidaknya aku ada kesibukan menyetir. Anggap saja aku menyupirkan mereka liburan. Dan supir jadi ikut liburan.
Aku menelpon Mama, aku bilang bahwa aku ada urusan. Alea akan pulang sendiri kerumah dan sudah ku beri ongkos taxi. Aku menelpon Alea, beritahu bahwa aku akan pergi dengan Olive dan teman-temannya dan pulang dengan taxi sudah ku transfer duitnya.
Kami bertiga meluncur ke arah Puncak. Aku menyetir, Mas Jerry menemani ku di depan dan Olive di kursi belakang tepat di belakangku. Diperjalanan kami berhenti sejenak di rest area untuk makan dan melanjutkan perjalanan yang macet. Olive tak segan memegangi pinggang sebelah kananku dari selah antara bangku belakang dan depan dekat pintu. Aku malah risih dan berusaha melepaskannya. Aku tak mengerti. Seberani itukan? Sampai satu mobil dengan Mas Jerry saja Olive masih mengodaku.
Setelah perjalanan 3 jam, akhirnya kami sampai di puncak. Ya, kalian tau lah kalau hari sabtu seperti apa jalanan Bogor. Disana Manda sudah menyewa Villa daerah Ciloto. Ternyata Manda sedang berulang tahun dan ingin teman-temannya berkumpul disana. Villanya cukup besar, terdiri dari 8 kamar tidur. Diarea belakang ada taman dan kolam renang. Untung lah ada teman-teman Olive yang sebagian ku kenal. Aku malah melihat Mas Jerry agak kaget setelah tau cukup banyak teman Olive yang ku kenal.
Malam harinya, kami berkumpul diarea taman. Banyak di sediakan minuman dan baberque. Aku malah sibuk membantu Manda dan pacarnya membakar bahan makanan. Olive menghampiriku. Merangkul ku. Aku lepaskan rangkulannya.
Tak terasa sudah pukul 2 malam. Bahan baberque sudah habis untuk dibakar. Yang lain ada yang sudah masuk kamar. Ada yang menonton tv. Tinggal aku duduk di gazebo kayu disudut taman.
Aku merokok dan minum sedikit bir sambil menikmati udara dingin. Ternyata Mas Jerry menghampiri.
"Cel, ga tidur? "
Aku kaget.
"Eh, belum ngantuk Mas. Masih mau nikmatin udara dingin nih. Mas Jerry ga tidur? "
"Sama Cel, belum ngantuk. Aku kan jarang bisa begadang gini. Mumpung besok bisa bangun siang"
Meski agak canggung tapi aku punya kesalahan besar ke Mas Jerry. Walaupun menyakitkan juga bagiku. Setidaknya aku pernah meminta maaf kepadanya.
"Mas, Acel mau minta maaf. Maaf kalo Acel udah kirimin bunga ke Olive. Olive gak pernah bilang kalo udah punya Mas Jerry. Acel merasa bersalah banget pas tau Mas Jerry udah ngelamar Olive"
Aku menunduk. Malu sekali. Mungkin kalau kalian merebut pacar orang berlainan jenis tidak akan semalu aku. Sama saja membongkar aibku.
"Cel, aku tau bukan kamu yang salah. Mungkin kamu gak akan deketin Olive kalo kamu tau Olive udah sama aku. Aku sudah tau prilaku Olive dari sebelum kami memutuskan untuk akan menikah. Walaupun kecewa dengan sikapnya. Aku berusaha menerima kok. Aku percaya, batu saja bisa bolong kalau rutin di teteskan air. Masa hati manusia gak bisa luluh sama orang tulus. Jangan canggung ya sama aku. Makasih udah jagain Olive saat aku gak ada"
Mas Jerry tersenyum. Matanya sendu. Raut wajahnya tulus. Aku tak habis pikir mengapa ia mau repot-repot memperbaiki Olive. Ya, mungkin ini namanya cinta.
"Mas, coba cari kerja yang gak keluar kota terus. Mungkin Olive kesepian"
"Iya, Cel. Sudah aku dapat kok pekerjaan barunya. Kebetulan di Dukuh atas. Bisa jalan kaki dari apart. Semoga bisa lebih baik aku jagain Olivenya"
Aku tersenyum lega. Setidaknya orang yang ku sayang akan lebih baik lagi di jaga orang tulus seperti Mas Jerry.
Entah apa lagi yang kami obroli. Dari pekerjaan Mas Jerry, sampai kuliah dan teman-temanku. Ternyata Mas Jerry baru tau LGBT itu benar ada di "dunia" ini. Baru tau juga istilah-istilah kami dari Olive. Bahkan Mas Jerry sempat meminta Olive untuk mengajak ia ke tempat teman-temannya. Katanya untuk survey seberapa parah "sakit"nya Olive.
Sudah mulai Fajar. Aku mengakhiri obrolan. Aku mengantuk. Aku menuju salah satu kamar. Aku tutup pintunya tapi tak ku kunci. Aku berbaring. Nikmatnya. Setelah seharian badanku kaku karena suasana yang tegang. Gagang pintuku bergerak. Perasaanku tak enak. Benar saja. Olive membuka pintu. Masuk. Dan menutup pintunya. Duh, berani sekali wanita satu ini.
Diubah oleh angela.aghastya 26-08-2017 18:19
0