- Beranda
- Stories from the Heart
Ketidak Normalan Ku
...
TS
angela.aghastya
Ketidak Normalan Ku
Part 1 : Panggil saja Acel
Ku amati bayangan di depanku dari jendela kelas, samar-samar terlihat anak club basket sedang bermain basket di depanku. Aku memang lebih tertarik melihat anak laki-laki memperebutkan bola dari pada anak perempuan yang sibuk memikirkan dandanan mereka.
Namaku Angela Aghastya, panggil saja Acel. Aku memang sedikit tomboy kala itu. Aku punya pacar laki-laki saat aku kelas 2 SMA di sekolah kejuruan di Jakarta. Setelah 6 bulan kami berpacaran, aku memutuskan hubungan karna pacarku terlalu "lembek" pikir ku.
Saat libur sekolah kenaikan kelas 3 SMA, aku berlibur ke rumah kakak Ke 2 ku di Bandung. Disana aku bertemu dengan adik teman kakak ku, namanya Sherly.
Sherly kuliah di australia dan sedang berlibur sama sepertiku. Kami menghabiskan waktu berdua mengobrol dan bercanda. Aku senang sekali berteman dengan Sherly. Selain ia baik, ia juga pintar.
Tak terasa sudah seminggu kami berteman, hampir setiap hari Sherly menginap di rumah kakak ku. Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Badanku mulai lelah dan mataku mengantuk. Aku memeluk guling membelakangi Sherly,
"Cel, punya pacar ga?"
"Pernah punya, tapi udah ga, kalo sherly?" jawabku dengan mata berair hasil menguap
"Pernah punya juga"
Mataku terpejam sedikit demi sedikit. Badanku terasa ada yang memeluk dari belakang dengan erat dan makin erat. Seketika mataku terbuka lebar yang tadinya berat seperti ada batu dikelopaknya. Dadaku bergebu-gebu seperti jantungnya mau keluar dari tempatnya. Aku tak berani bergerak sedikit pun dan tak berani bicara sepatah katapun. Aku takut. Sampai ku sadari sudah berganti hari dan pelukan itu terlepas dengan sendirinya dan aku tertidur.
Pagi itu, matahari sudah menerangi rerumputan yang tertutup embun. Aku melihat sosok gadis berambut ikal duduk menyerong di bangku teras depan rumah. Mukanya samar tertutup rambut panjangnya yang tertiup angin dengan kulit sawo matang. Ya, itu Sherly.
Aku ingin sekali punya kulit agak gelap dari kulit asliku, karena mama keturunan belanda dan papa manado sepertinya mustahil. Sherly yang sadar aku sedang melihatnya, menyapa dan mengajak duduk disampingnya.
"Cel, sini duduk sama aku"
"Eh..."
Aku menghampirinya dan duduk di sampingnya
"Semalem acel bobo ya? Aku kan lagi cerita"
"hehe..." pasti wajah ku berubah menjadi aneh karena heran
Apa Sherly ketiduran dan tidak sadar ia memeluk ku erat semalam? Apa aku saja yang terlalu berlebih karena tidak pernah di peluk sesama teman wanita? Apa aku saja yang merasa gugup dan takut saat dipeluk erat oleh teman wanita?
Ah, anggap saja memang hanya aku yang terlalu berlebihan.
____________________________________________
Prolog
Oh, ya aku lupa memperkenalkan diri. Panggil saja Acel. Aku wanita dan usiaku saat ini masih belum di bilang tua. Ah, nanti kalian akan kenal aku seiring banyaknya Part di Thread ku ini.
Mohon maaf Thread ini masih sangat banyak kekurangan. Maklum baru pertama kali menjadi "Penulis" setelah sekian lama menjadi Silent Reader. Inipun terpaksa membuat ID karena tertarik ingin membagi sedikit perjalanan hidupku. Aku tau kalian sudah cukup bijak membedakan yang baik dan buruk dari Thread ini.
Mohon maaf sekali lagi. Dengan tidak bermaksud menyinggung apalagi menyudutkan salah satu pihak ataupun golongan. Jika dari kalian mengenal aku atau tokoh-tokoh dalam cerita ini. Mohon untuk tidak saling mengusik. Biarkan kami bahagia dengan jalan hidup masing-masing.
Terimakasih sebelumnya.
Part 2 : Sherly ke Jakarta
Part 3 : Pengakuan Sherly
Part 4 : Patah Hati
Part 5 : Hidup Baru
Part 6 : Tatto Pertama
Part 7 : Olive
Part 8 : Mulai Nyaman dengan Olive
Part 9 : Renda Ungu
Part 10 : Patah Hati 2
Part 11 : Penjelasan Olive
Part 12 : Ketulusan Mas Jerry
Part 13 : Pertama Kali Kerja
Part 14 : Paling Ku Takuti
Part 15 : Iqbal
Part 16 : Lumba-lumba
Part 17 : Lumba-lumba 2
Part 18 : Pertama
Part 19 : Langit Ke Tujuh
Part 20 : Menarik
Stay tuned ❤
Ku amati bayangan di depanku dari jendela kelas, samar-samar terlihat anak club basket sedang bermain basket di depanku. Aku memang lebih tertarik melihat anak laki-laki memperebutkan bola dari pada anak perempuan yang sibuk memikirkan dandanan mereka.
Namaku Angela Aghastya, panggil saja Acel. Aku memang sedikit tomboy kala itu. Aku punya pacar laki-laki saat aku kelas 2 SMA di sekolah kejuruan di Jakarta. Setelah 6 bulan kami berpacaran, aku memutuskan hubungan karna pacarku terlalu "lembek" pikir ku.
Saat libur sekolah kenaikan kelas 3 SMA, aku berlibur ke rumah kakak Ke 2 ku di Bandung. Disana aku bertemu dengan adik teman kakak ku, namanya Sherly.
Sherly kuliah di australia dan sedang berlibur sama sepertiku. Kami menghabiskan waktu berdua mengobrol dan bercanda. Aku senang sekali berteman dengan Sherly. Selain ia baik, ia juga pintar.
Tak terasa sudah seminggu kami berteman, hampir setiap hari Sherly menginap di rumah kakak ku. Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Badanku mulai lelah dan mataku mengantuk. Aku memeluk guling membelakangi Sherly,
"Cel, punya pacar ga?"
"Pernah punya, tapi udah ga, kalo sherly?" jawabku dengan mata berair hasil menguap
"Pernah punya juga"
Mataku terpejam sedikit demi sedikit. Badanku terasa ada yang memeluk dari belakang dengan erat dan makin erat. Seketika mataku terbuka lebar yang tadinya berat seperti ada batu dikelopaknya. Dadaku bergebu-gebu seperti jantungnya mau keluar dari tempatnya. Aku tak berani bergerak sedikit pun dan tak berani bicara sepatah katapun. Aku takut. Sampai ku sadari sudah berganti hari dan pelukan itu terlepas dengan sendirinya dan aku tertidur.
Pagi itu, matahari sudah menerangi rerumputan yang tertutup embun. Aku melihat sosok gadis berambut ikal duduk menyerong di bangku teras depan rumah. Mukanya samar tertutup rambut panjangnya yang tertiup angin dengan kulit sawo matang. Ya, itu Sherly.
Aku ingin sekali punya kulit agak gelap dari kulit asliku, karena mama keturunan belanda dan papa manado sepertinya mustahil. Sherly yang sadar aku sedang melihatnya, menyapa dan mengajak duduk disampingnya.
"Cel, sini duduk sama aku"
"Eh..."
Aku menghampirinya dan duduk di sampingnya
"Semalem acel bobo ya? Aku kan lagi cerita"
"hehe..." pasti wajah ku berubah menjadi aneh karena heran
Apa Sherly ketiduran dan tidak sadar ia memeluk ku erat semalam? Apa aku saja yang terlalu berlebih karena tidak pernah di peluk sesama teman wanita? Apa aku saja yang merasa gugup dan takut saat dipeluk erat oleh teman wanita?
Ah, anggap saja memang hanya aku yang terlalu berlebihan.
____________________________________________
Prolog
Oh, ya aku lupa memperkenalkan diri. Panggil saja Acel. Aku wanita dan usiaku saat ini masih belum di bilang tua. Ah, nanti kalian akan kenal aku seiring banyaknya Part di Thread ku ini.
Mohon maaf Thread ini masih sangat banyak kekurangan. Maklum baru pertama kali menjadi "Penulis" setelah sekian lama menjadi Silent Reader. Inipun terpaksa membuat ID karena tertarik ingin membagi sedikit perjalanan hidupku. Aku tau kalian sudah cukup bijak membedakan yang baik dan buruk dari Thread ini.
Mohon maaf sekali lagi. Dengan tidak bermaksud menyinggung apalagi menyudutkan salah satu pihak ataupun golongan. Jika dari kalian mengenal aku atau tokoh-tokoh dalam cerita ini. Mohon untuk tidak saling mengusik. Biarkan kami bahagia dengan jalan hidup masing-masing.
Terimakasih sebelumnya.
Part 2 : Sherly ke Jakarta
Part 3 : Pengakuan Sherly
Part 4 : Patah Hati
Part 5 : Hidup Baru
Part 6 : Tatto Pertama
Part 7 : Olive
Part 8 : Mulai Nyaman dengan Olive
Part 9 : Renda Ungu
Part 10 : Patah Hati 2
Part 11 : Penjelasan Olive
Part 12 : Ketulusan Mas Jerry
Part 13 : Pertama Kali Kerja
Part 14 : Paling Ku Takuti
Part 15 : Iqbal
Part 16 : Lumba-lumba
Part 17 : Lumba-lumba 2
Part 18 : Pertama
Part 19 : Langit Ke Tujuh
Part 20 : Menarik
Stay tuned ❤
Diubah oleh angela.aghastya 31-05-2018 22:47
anasabila memberi reputasi
1
15.7K
97
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
angela.aghastya
#47
Part 11 : Penjelasan Olive
Aku penikmat senja. Campuran warna jingga dan ungu menjadi pemandangan indah dilangit sore hari. Matahari dan langit sebenarnya tidak berubah warna. Ini nanya soal permainan cahaya menembus atmosfir.
Seperti biasa juga, jika aku sedang marah dan kesal sebaiknya aku sendiri. Aku tak terima saran apa lagi kritik ketika aku sedang emosi. Anggap saya aku yang paling benar sekarang. Aku masih duduk di pinggir pantai. Ujung kakiku sekali-kali dibasahi air laut. Aku menenggakkan muka ke atas. Aku masih mendengarkan lagu band indie favoriteku. Aku menarik napas panjang.
Aku berpikir sejenak dimana letak kekeliruan ku. Mudahnya orang berkhianay dan menyepelekan. Lagu di Hpku berhenti setiap lima menit. Ada saja telepon masuk. Entah, teman-temanku atau Olive. Aku tak mau diganggu siapapun, batinku berteriak. Kalau saja ini pulau pribadi dan aku sendiri. Ku ingin berkata kasar.
Aku pulang kerumah. Sudah ku duga, pasti Bona dan yg lain datang kerumah. Mereka sudah biasa datang kerumahku. Apa lagi Mama sudah terbiasa di repotkan mereka. Kamarku berantakan. Aku tau pelakunya. Aku duduk di bangku depan pintu balkon kamarku. Aku menyalakan rokok. Baru kali ini aku merokok dirumah. Bona menghampiri. Ya, mereka pasti tau ada yang tidak beres denganku.
"Cel, udah makan? "
Bona hanya basa-basi. Aku tau. Aku hanya melihat dan agak tersenyum.
"Cel, tadi udah rapih loh mejanya. Udah rapih juga makanannya. Sebelum lo telpon sih emang udah agak di comot-comot makanannya sama anak-anak. Gue juga sih"
Aku memasang muka kaget. Tanpa berkata apapun. Kalau aku sama Olive jadi berarti kami makan bekas mereka, batinku. Bona hanya cengir-cengir kuda. Entah, apa mungkin ia hanya ingin mengajakku bercanda.
"Yaudah kalo Acel lagi mau sendiri gpp kok. Acel masih inget gak pesen Bona? Pacaran kalangan kita gak bakal nikah, Cel. Sakit hati udah biasa. Jangan di ambil pusing. Ambil baiknya aja, lupain yang buruknya. Banyakin temen, bukan musuh. Semangat, Cel. Bona sama yang lain pulang yah"
Aku tersenyum. Hatiku terketuk.
Terulang kali kejadian Sherly dengan Audi. Sekarang Olive dengan Mas jerry. Benar aku memang tak berhak apapun. Karena walaupun Sherly mengenalkan ku ke "dunia" seperti ini tapi aku dan Sherly tak punya hubungan apapun. Sama halnya dengan Olive. Walaupun ia memperlakukan aku dengan spesial tapi aku tak pernah menyatakan apapun. Mungkin itu kesalahan yang aku tau sekarang.
Aku berusaha menerima semuanya. Tenang saja Cel, ini bukan acara pernikahan yang telah sebar undangan dan gagal. Jadi tak perlu malu. Toh, yang tau hanya orang-orang sekitar ku. Aku tarik napas panjang. Mematikan rokokku. Berdiri. Melihat cermin. Tampan juga aku. Haha... Ini hanya bercanda.
***
Hari libur ini, aku diajak adikku mencari calon kampusnya. Oya, aku belum memperkenalkannya. Azalea namanya. Seperti bunga kesukaan Mamaku. Alea, biasa kami memanggilnya. Alea memilih jurusan Broadcasting. Sebelum ia melangkah lebih jauh. Alea ingin tau dasar-dasar kuliahnya nanti. Kebetulan ia tau aku "berteman" dengan Olive yang lebih dulu lulus dengan jurusan yang sama. Sebenarnya aku bisa alasan agar Lea tak bertemu dengan Olive. Tapi aku ingin mendengar seribu alasan Olkve tentang Mas Jerry.
Setelah dua minggu, akhirnya aku mencari nomornya lagi dilayar Hpku. Aku menekan tombol panggilan.
"Hallo Cel" katanya dengan nada gembira.
"Eh, hallo juga" aku yang malah gugup.
"Kamu udah maafin aku? "
Aku tak menjawab. Aku malas membahasnya.
"Live, Alea butuh referensi kampus Broadcas. Mau ngobrol banyak sama kamu"
"Oh, aku kira kamu yang mau ketemu aku. Yaudah, ajak Alea ke apart aja ya. Sekalian kamu ikut. Aku juga mau ngobrol banyak sama kamu" nada Olive agak kecewa.
"Iya, aku ikut. Nanti malam aku ke apart kamu. Udah dulu ya. Bye"
Langsung ku tutup teleponnya. Aku tak mau basa-basi.
Malamnya, aku mengajak Alea untuk makan nasi goreng kambing didaerah Sabang sebelum ke apartment Olive. Sampai diapart, ku telepon kembali dan menunggu di lobby. Hanya jaga-jaga jika ada Mas Jerry setidaknya aku bisa langsung pulang.
Suara Olive menyadarkan ku yang sedari tadi berdiri sambil nunduk.
"Cel... " dengan sedikit berteriak. Agak berlari. Dan memelukku.
Aku sedikit kaget. Tingkahnya memalukan, menurutku.
"Eh, iya" aku menatapnya sekarang.
"Wey, ada gue nih" Alea menegur dengan senyum kudanya.
Aku melepaskan pelukan Olive
"Eh, ini Alea, Live"
"Oh, ini yang mau jadi artis ya lewat jalur Broadcas? "
"Hah? Emang diajarin jadi artis juga? " Alea sepertinya tertarik.
"Haha... Bisa. Yuk aku ajarin di kamarku"
Olive merangkul Alea. Alea menanggapi dengan baik. Aku hanya mengikuti mereka dari belakang.
Masuk ke kamar Olive, ku melihat ada bouquet bunga yang ku beri di taruh di atas meja riasnya. Masih seperti itu bentuknya. Hanya saja sudah berwarna kuning kecokelatan tanda mengering.
Apa Mas Jerry tak curiga, pikirku.
Alea bertanya banyak tentang dunia kerja Olive. Tak hanya tentang pekerjaan. Alea lebih detail menanyakan soal pergaulan dan pacar. Makin tak mau mendengarkan obrolan mereka. Aku hanya duduk di lantai dekat pintu balkon memandangi langit dan menikmati angin.
"Cel, nginep ya. Alea juga" bujuk Olive
Aku hanya diam. Tak mau menanggapi.
"Cel, gue nginep di kostan Doni ya. Lo disini aja sama Olive"
Alea sangat memanfaatkan keadaan. Jika ia tak pulang hari ini. Pasti Mama dan Papa tak akan melacak keberadaannya karena mereka tau Lea sedang pergi denganku. Licik memang. Biasanya aku biarkan saja karena akupun pernah seusianya. Setidaknya aku paham.
"Iya, tapi besok balik kesini lagi Le. Kita pulang bareng"
"Siap, Cel. Besok gue beliin mie aceh paling enak disetiabudi" Alea mengeluarkan jurus rayu mautnya.
Tak lama Alea dijemput oleh Doni dan mereka berpamitan dengan aku dan Olive. Tinggal lah aku berdua dengan Olive. Aku berbaring dikasurnya.
Olive mengikuti. Ia memandangku. Dan mulai bercerita.
"Cel, aku mau cerita. Tapi sebelumnya aku minta maaf sama kamu. Sejak pertama kali punya pacar. Pacarku perempuan. Sampai dua tahun lalu Orang tuaku menuntutku untuk menikah. Aku coba untuk dekat dengan laki-laki. Tapi aku tak bisa. Jerry sahabatku dari SMA. Memang terlihat sekali kalau ia mencintaiku sejak lama. Tapi Jerry tau aku tak suka laki-laki. Sampai Jerry tau masalahku dengan orang tuaku. Jerry menawarkan diri untuk jadi suamiku. Dengan keterbatasan yang aku punya. Aku menerimanya. Keluarga kami sudah mulai mempersiapkan pernikahan.
Jerry itu bekerja sebagai Auditor di salah satu bank BUMN. Jadi sering berpergian keluar kota. Sebenarnya ini apartmentnya. Tapi ku ubah jadi hak milikku. Karena memang aku yang lebih banyak tidur disini.
Pertama kali lihat kamu. Aku langsung jatuh cinta, Cel. Naluri penyuka sesama jenis memang tak bisa di hilangkan begitu saja. Saat aku ulang tahun. Jerry tau kalau ada yang mengirimkan bunga untukku. Aku menangis, bercerita panjang lebar dan meminta maaf. Tak sanggup rasanya aku melihat kamu pergi tanpa kejelasan aku. Aku pikir aku ga akan pernah menjelaskan apapun ke kamu. Maafin aku yang banyak bohong. Cuma satu tujuannya kok, aku ga mau kamu pergi"
Aku memandangnya, mendengarkan dan mencerna setiap ucapannya. Andai kamu tahu aku mulai menyayangimu, Live dan kau buat aku kecewa.
"Jadi mas Jerry tau kalo kamu sama aku ada apa-apa? Dia ga marah? "
"Iya Cel. Jerry tau. Jerry marah. Tapi hanya meninggalkan ku sendiri. Jika pikirannya sudah tenang, tengah malam ia akan pulang"
Ternyata ada yang lebih sakit dari ku. Di bohongi calon istrinya.
"Oya, Cel. Jerry mau ketemu kamu lagi loh. Aku kaget pas Jerry bilang kalian pernah ngopi bareng"
"Iya, sebagai ucapan makasih karena udah kembaliin kado buat pacarnya"
Seketika pikiranku melayang. Benar ada yang tidak beres dengan apartmentnya Olive. Ternyata Lemari yang selalu di kunci Olive adalah Lemari Mas Jerry. Oya, baju tidur tipis renda ungu itu ternyata hadiah Mas Jerry untuk Olive yang aku temukan di lift. Pantas saja, setiap bertemu di lift saat aku mau naik lift. Mas Jerry pasti mau turun dilantai yang sama. Dan sialnya, Ternyata kami menuju kamar yang sama.
Seperti biasa juga, jika aku sedang marah dan kesal sebaiknya aku sendiri. Aku tak terima saran apa lagi kritik ketika aku sedang emosi. Anggap saya aku yang paling benar sekarang. Aku masih duduk di pinggir pantai. Ujung kakiku sekali-kali dibasahi air laut. Aku menenggakkan muka ke atas. Aku masih mendengarkan lagu band indie favoriteku. Aku menarik napas panjang.
Aku berpikir sejenak dimana letak kekeliruan ku. Mudahnya orang berkhianay dan menyepelekan. Lagu di Hpku berhenti setiap lima menit. Ada saja telepon masuk. Entah, teman-temanku atau Olive. Aku tak mau diganggu siapapun, batinku berteriak. Kalau saja ini pulau pribadi dan aku sendiri. Ku ingin berkata kasar.
Aku pulang kerumah. Sudah ku duga, pasti Bona dan yg lain datang kerumah. Mereka sudah biasa datang kerumahku. Apa lagi Mama sudah terbiasa di repotkan mereka. Kamarku berantakan. Aku tau pelakunya. Aku duduk di bangku depan pintu balkon kamarku. Aku menyalakan rokok. Baru kali ini aku merokok dirumah. Bona menghampiri. Ya, mereka pasti tau ada yang tidak beres denganku.
"Cel, udah makan? "
Bona hanya basa-basi. Aku tau. Aku hanya melihat dan agak tersenyum.
"Cel, tadi udah rapih loh mejanya. Udah rapih juga makanannya. Sebelum lo telpon sih emang udah agak di comot-comot makanannya sama anak-anak. Gue juga sih"
Aku memasang muka kaget. Tanpa berkata apapun. Kalau aku sama Olive jadi berarti kami makan bekas mereka, batinku. Bona hanya cengir-cengir kuda. Entah, apa mungkin ia hanya ingin mengajakku bercanda.
"Yaudah kalo Acel lagi mau sendiri gpp kok. Acel masih inget gak pesen Bona? Pacaran kalangan kita gak bakal nikah, Cel. Sakit hati udah biasa. Jangan di ambil pusing. Ambil baiknya aja, lupain yang buruknya. Banyakin temen, bukan musuh. Semangat, Cel. Bona sama yang lain pulang yah"
Aku tersenyum. Hatiku terketuk.
Terulang kali kejadian Sherly dengan Audi. Sekarang Olive dengan Mas jerry. Benar aku memang tak berhak apapun. Karena walaupun Sherly mengenalkan ku ke "dunia" seperti ini tapi aku dan Sherly tak punya hubungan apapun. Sama halnya dengan Olive. Walaupun ia memperlakukan aku dengan spesial tapi aku tak pernah menyatakan apapun. Mungkin itu kesalahan yang aku tau sekarang.
Aku berusaha menerima semuanya. Tenang saja Cel, ini bukan acara pernikahan yang telah sebar undangan dan gagal. Jadi tak perlu malu. Toh, yang tau hanya orang-orang sekitar ku. Aku tarik napas panjang. Mematikan rokokku. Berdiri. Melihat cermin. Tampan juga aku. Haha... Ini hanya bercanda.
***
Hari libur ini, aku diajak adikku mencari calon kampusnya. Oya, aku belum memperkenalkannya. Azalea namanya. Seperti bunga kesukaan Mamaku. Alea, biasa kami memanggilnya. Alea memilih jurusan Broadcasting. Sebelum ia melangkah lebih jauh. Alea ingin tau dasar-dasar kuliahnya nanti. Kebetulan ia tau aku "berteman" dengan Olive yang lebih dulu lulus dengan jurusan yang sama. Sebenarnya aku bisa alasan agar Lea tak bertemu dengan Olive. Tapi aku ingin mendengar seribu alasan Olkve tentang Mas Jerry.
Setelah dua minggu, akhirnya aku mencari nomornya lagi dilayar Hpku. Aku menekan tombol panggilan.
"Hallo Cel" katanya dengan nada gembira.
"Eh, hallo juga" aku yang malah gugup.
"Kamu udah maafin aku? "
Aku tak menjawab. Aku malas membahasnya.
"Live, Alea butuh referensi kampus Broadcas. Mau ngobrol banyak sama kamu"
"Oh, aku kira kamu yang mau ketemu aku. Yaudah, ajak Alea ke apart aja ya. Sekalian kamu ikut. Aku juga mau ngobrol banyak sama kamu" nada Olive agak kecewa.
"Iya, aku ikut. Nanti malam aku ke apart kamu. Udah dulu ya. Bye"
Langsung ku tutup teleponnya. Aku tak mau basa-basi.
Malamnya, aku mengajak Alea untuk makan nasi goreng kambing didaerah Sabang sebelum ke apartment Olive. Sampai diapart, ku telepon kembali dan menunggu di lobby. Hanya jaga-jaga jika ada Mas Jerry setidaknya aku bisa langsung pulang.
Suara Olive menyadarkan ku yang sedari tadi berdiri sambil nunduk.
"Cel... " dengan sedikit berteriak. Agak berlari. Dan memelukku.
Aku sedikit kaget. Tingkahnya memalukan, menurutku.
"Eh, iya" aku menatapnya sekarang.
"Wey, ada gue nih" Alea menegur dengan senyum kudanya.
Aku melepaskan pelukan Olive
"Eh, ini Alea, Live"
"Oh, ini yang mau jadi artis ya lewat jalur Broadcas? "
"Hah? Emang diajarin jadi artis juga? " Alea sepertinya tertarik.
"Haha... Bisa. Yuk aku ajarin di kamarku"
Olive merangkul Alea. Alea menanggapi dengan baik. Aku hanya mengikuti mereka dari belakang.
Masuk ke kamar Olive, ku melihat ada bouquet bunga yang ku beri di taruh di atas meja riasnya. Masih seperti itu bentuknya. Hanya saja sudah berwarna kuning kecokelatan tanda mengering.
Apa Mas Jerry tak curiga, pikirku.
Alea bertanya banyak tentang dunia kerja Olive. Tak hanya tentang pekerjaan. Alea lebih detail menanyakan soal pergaulan dan pacar. Makin tak mau mendengarkan obrolan mereka. Aku hanya duduk di lantai dekat pintu balkon memandangi langit dan menikmati angin.
"Cel, nginep ya. Alea juga" bujuk Olive
Aku hanya diam. Tak mau menanggapi.
"Cel, gue nginep di kostan Doni ya. Lo disini aja sama Olive"
Alea sangat memanfaatkan keadaan. Jika ia tak pulang hari ini. Pasti Mama dan Papa tak akan melacak keberadaannya karena mereka tau Lea sedang pergi denganku. Licik memang. Biasanya aku biarkan saja karena akupun pernah seusianya. Setidaknya aku paham.
"Iya, tapi besok balik kesini lagi Le. Kita pulang bareng"
"Siap, Cel. Besok gue beliin mie aceh paling enak disetiabudi" Alea mengeluarkan jurus rayu mautnya.
Tak lama Alea dijemput oleh Doni dan mereka berpamitan dengan aku dan Olive. Tinggal lah aku berdua dengan Olive. Aku berbaring dikasurnya.
Olive mengikuti. Ia memandangku. Dan mulai bercerita.
"Cel, aku mau cerita. Tapi sebelumnya aku minta maaf sama kamu. Sejak pertama kali punya pacar. Pacarku perempuan. Sampai dua tahun lalu Orang tuaku menuntutku untuk menikah. Aku coba untuk dekat dengan laki-laki. Tapi aku tak bisa. Jerry sahabatku dari SMA. Memang terlihat sekali kalau ia mencintaiku sejak lama. Tapi Jerry tau aku tak suka laki-laki. Sampai Jerry tau masalahku dengan orang tuaku. Jerry menawarkan diri untuk jadi suamiku. Dengan keterbatasan yang aku punya. Aku menerimanya. Keluarga kami sudah mulai mempersiapkan pernikahan.
Jerry itu bekerja sebagai Auditor di salah satu bank BUMN. Jadi sering berpergian keluar kota. Sebenarnya ini apartmentnya. Tapi ku ubah jadi hak milikku. Karena memang aku yang lebih banyak tidur disini.
Pertama kali lihat kamu. Aku langsung jatuh cinta, Cel. Naluri penyuka sesama jenis memang tak bisa di hilangkan begitu saja. Saat aku ulang tahun. Jerry tau kalau ada yang mengirimkan bunga untukku. Aku menangis, bercerita panjang lebar dan meminta maaf. Tak sanggup rasanya aku melihat kamu pergi tanpa kejelasan aku. Aku pikir aku ga akan pernah menjelaskan apapun ke kamu. Maafin aku yang banyak bohong. Cuma satu tujuannya kok, aku ga mau kamu pergi"
Aku memandangnya, mendengarkan dan mencerna setiap ucapannya. Andai kamu tahu aku mulai menyayangimu, Live dan kau buat aku kecewa.
"Jadi mas Jerry tau kalo kamu sama aku ada apa-apa? Dia ga marah? "
"Iya Cel. Jerry tau. Jerry marah. Tapi hanya meninggalkan ku sendiri. Jika pikirannya sudah tenang, tengah malam ia akan pulang"
Ternyata ada yang lebih sakit dari ku. Di bohongi calon istrinya.
"Oya, Cel. Jerry mau ketemu kamu lagi loh. Aku kaget pas Jerry bilang kalian pernah ngopi bareng"
"Iya, sebagai ucapan makasih karena udah kembaliin kado buat pacarnya"
Seketika pikiranku melayang. Benar ada yang tidak beres dengan apartmentnya Olive. Ternyata Lemari yang selalu di kunci Olive adalah Lemari Mas Jerry. Oya, baju tidur tipis renda ungu itu ternyata hadiah Mas Jerry untuk Olive yang aku temukan di lift. Pantas saja, setiap bertemu di lift saat aku mau naik lift. Mas Jerry pasti mau turun dilantai yang sama. Dan sialnya, Ternyata kami menuju kamar yang sama.
Diubah oleh angela.aghastya 26-08-2017 19:11
0