- Beranda
- Stories from the Heart
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
...
TS
Shadowroad
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ane mau share novel buatan ane sendiri gan
Novel ane bergenre action, horror, romance, school-life dan supranatural
Inspirasi dapat dari alur game, film, anime, kehidupan, komik, mitologi, legenda dan novel yang pernah ane amati
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Spoiler for Begini gan ceritanya::
Cerita ini tentang seorang remaja dari Jakarta yang keluarganya terbunuh karena kaum vampire. Cowok remaja ini bernama Erik Calendula. Setelah selamat dari bencana yang dibuat kaum vampire, dia lalu memohon pada Arthur Pendragon. Arthur adalah salah satu dari beberapa pemburu vampire yang menyelamatkan Erik. Dibakar oleh tangisan, amarah dan dendam atas kematian keluarganya, Erik meminta Arthur untuk mendidiknya agar menjadi seorang pemburu vampire. Erik berniat menghancurkan organisasi vampire penebar bencana yang menjadi penyebab kematian orang tuanya.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Spoiler for Daftar Isi:
Prolog: Hotel Indonesia
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Gan, setelah baca mohon komennya, ya
Ane sangat menerima kritik dan saran
Pertanyaan juga sangat dianjurkan, supaya agan2 dapat lebih memahami cerita yang rumit ini
Kalau terjadi kesalahan seperti tanda baca, kurang jelas, ketidak konsistenan cerita mohon diingatkan ya gan
Terima kasih gan
Diubah oleh Shadowroad 26-11-2017 06:31
2
86.9K
Kutip
544
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Shadowroad
#496
Part 52: Lantai Dua
Spoiler for Part 52: Lantai Dua:
“Dimanakah hantunya, Sandra?” tanya seorang pria yang berdiri di hadapan Sandra.
“Tunggu,” Sandra menatap pria di hadapannya dengan penuh kecurigaan, “Kau bukan Emmy Merah yang sedang menyamar, kan?”
Pria itu menjawab sambil menghela nafas, “Pertama, Emmy Merah ... itukah lawan kita sekarang? Kedua, apakah Emmy Merah bisa melakukan ini?” kata si pria sambil mengeluarkan cahaya kecil di telunjuknya, “Ketiga, apakah harus kusebutkan apa menu makan siangmu tadi?”
“Oke, Putra yang asli,” Sandra tertawa dan menepuk pipi Putra.
Amanda mengajak Putra masuk ke rumahnya. Sambil berjalan menuju lantai dua, Amanda dan Sandra menjelaskan semuanya. Mulai dari akar masalah hingga usaha Emmy Merah memisahkan mereka dengan cara menyamar menjadi tetangga Amanda. Ketika sampai di akhir cerita, Putra mentertawakan Sandra.
“Jarang-jarang kau dibodohi oleh hantu, Sandra,” komentar Putra, “Kau yang paling sensitif di antara kami. Seharusnya kau bisa mendeteksi bahkan sebelum membuka pintu. Sehingga, ketika membuka pintu dan melihat ‘tetangga palsu’ itu, kau bisa membakar mukanya.”
“Nah, itulah masalahnya,” kata Sandra, “Aku teringat misi kita dulu ketika menghadapi hantu yang tidak bisa kudeteksi hawa nethernya. Jangan-jangan, sepasang badut itu ...”
“Kalian berdua tahu sesuatu?” tanya Amanda.
“Sedikit, sih. Masih kemungkinan, lebih tepatnya,” jawab Putra, “Bisa hantu yang sama, bisa juga bukan.”
“Jika memang dua hantu yang kita hadapi sekarang adalah hantu yang sama dengan yang kami hadapi dulu ... begini, dua hantu ini bukan lawan kuat,” tambah Sandra sambil menggelengkan kepalanya, “Tapi sangat merepotkan.”
Mereka berempat sudah sampai di lantai dua. Para anggota SID menyalakan lampu dan melihat situasi sekitar. Lantai dua terdiri dari satu toilet, tiga kamar tidur, satu ruang keluarga, dan di bagian luarnya ada balkon kecil. Dari ketiga kamar tidur, hanya kamar Sandra saja yang memiliki jendela. Dua lainnya hanya menggunakan ventilasi yang dipasang di atas pintu. Putra berdecak kagum melihat desain interior di lantai dua dan memuji Amanda. Amanda tersenyum bangga karena dialah yang mendesain semuanya. Erik yang tak tahu apapun hanya diam saja dari tadi.
“Tiga kamar ini milik siapa?” tanya Putra sambil menunjuk tiga kamar yang didesain dalam satu baris itu.
Dari kamar terdepan hingga belakang, Amanda menjelaskan satu per satu, “Kamarku, kamar pembantu rumah tangga dan kamar tamu. Kamar tamu disediakan jika ada keluarga jauh kami yang datang.”
“Pembantu rumah tangga?!” Sandra membelalakkan mata, “Kenapa kau tidak bilang dari tadi??? Kita bisa saja mengamankan ...”
“Jangan cemas, Kak Sandra,” jawab Amanda, “Dia sedang liburan di rumahnya.”
“Sandra, tolong cek kamar pembantu,” kata Putra, “Aku akan mengecek kamar tamu.”
Dua anggota SID itu butuh tiga menit untuk mengecek kamar. Sandra mencoba membuka pintu namun terkunci. Amanda menjelaskan bahwa pembantunya membawa kunci kamarnya. Sehingga Sandra hanya menempelkan telinga dan tangannya ke pintu. Pintu kamar tamu tidak dikunci sehingga Putra bisa masuk dengan mudah. Putra keluar dengan muka merengut dan menggelengkan kepalanya. Sementara senyum Sandra yang mengecek kamar pembantu semakin mengembang. Dia mengangguk dan tiga kali mengetuk pintu kamar pembantu yang terbuat dari kayu jati itu.
“Adikku di dalam?” Amanda tersenyum lega.
“Bisa iya bisa tidak,” jawab Sandra.
“Maksudnya???” Erik akhirnya membuka mulut.
“Adik Amanda memang disembunyikan di kamar ini. Tapi tidak benar-benar berada di kamar ini,” kata Putra, “Emmy Merah lumayan cerdas untuk seukuran badut. Dia menyembunyikannya di kamar terkunci dan ‘melapisi’ kamarnya agar tak terdeteksi. Tapi kemampuan mereka tidak ada apa-apanya dengan kemampuan deteksi nether milik Sandra.”
“Aku masih tidak mengerti ...,” kata Erik.
“Jangan berbelit-belit begitu, kawan,” kata Sandra yang beralih dari Putra ke Amanda, “Adikmu berada di dimensi hantu.”
Putra mendengus, “Aku hanya berusaha merancang kalimat yang tidak membuat mereka panik.”
“Wah, gawat!!!” Erik menghampiri pintu dengan tangan yang diselimuti oleh listrik biru, ”Kita harus segera menyelamatkannya!!!”
“Tenang,” Putra menahan bahu kanan Erik, “Kami pernah mengalami yang lebih buruk daripada klien yang disandera di dimensi hantu.”
“Aku ... tidak begitu paham ...,” Erik mengangkat bahu.
“Masalah itu jangan dipikir susah,” respon Putra, “Masalah yang harus dipikir sekarang adalah bagaimana cara membuka pintu itu tanpa merusaknya?”
Sandra menatap Putra dan menggeleng, “Tidak ada cara lain, Put.”
“Lalu bagaimana? Menggunakan apimu untuk meledakkannya?” tanya Putra, “Jangan sampai dinding dan sekitarnya juga hancur, Sandra.”
“Please, aku tidak sebodoh itu,” jawab Sandra.
“Lalu?” tanya Putra sambil mengetuk pintu.
“Diam dan lihat, Put. Ayo, Erik. Bantu kami.”
Erik, Sandra dan Amanda menggunakan cara yang sama ketika membuka jendela tadi. Amanda mengkonsentrasikan esnya ke gagang pintu pada tingkat molekul. Karena ukuran gagang pintu lebih besar, Amanda membutuhkan waktu lebih lama daripada membuka jendela. Tepatnya butuh lima menit untuk membuka pintu yang terbuat dari besi paduan itu. Setelah selesai, Erik menghantam gagang pintu dengan listrik biru. Gagang pintu hancur dan rontok ke lantai.
Begitu pintu hancur, Amanda segera masuk dan memanggil-manggil nama adiknya. Tidak ada jawaban. Yang ada hanyalah kegelapan. Erik menyalakan lampu kamar dan dia melihat Amanda berdiri di atas lututnya. Amanda menggigit bibir bawahnya dengan penuh kekecewaan.
“Jangan kecewa begitu,” kata Sandra, “Pertunjukkan belum selesai.”
“Di titik mana?” tanya Putra.
“Lemari.”
Putra membuka pintu lemari dan berkata, “Aku jadi ingat pengejaran melawan White Lady. Ketika dia sembunyi di lemari rusak di kebun belakang rumah.”
“Saat-saat ketika kita lebih merasa jemu daripada merasa takut, ya,” kata Sandra yang tangannya seperti menarik sesuatu di udara, “Yap, sudah kubuka gerbangnya.”
“Siapa yang masuk?” tanya Putra.
Tentu saja pertanyaan Putra dan perkataan Sandra membuat Erik bingung. Karena pengendali listrik itu tidak melihat satu pun yang berubah. Kondisi kamar tetap biasa saja dan tidak ada gerbang atau apapun yang terbuka. Dia menatap Sandra dan Putra dengan tatapan heran.
“Sudahlah lihat saja sendiri,” kata Sandra seraya menyalurkan energi nether ke mata Erik dan Amanda.
Sebuah lubang besar terlihat di depan lemari. Lubang berbentuk oval dan seukuran manusia itu melayang di udara. Ada retakan-retakan di tepian lubangnya. Erik dan Amanda melihat ke bagian dalam lubang. Hantu-hantu berseliweran. Para hantu menatap lubang itu dengan acuh tak acuh. Hantu-hantu itu beraneka wujud. Mulai dari yang berfisik aneh, buruk rupa dan menakutkan hingga berwujud mulia, cantik, tampan bagaikan model dan selebriti ternama.
“Jadi seperti ini dunia hantu ...,” komentar Erik.
“Aku juga baru tahu,” Amanda juga berkomentar, “Ternyata ada juga hantu yang tidak menakutkan.”
“Sebagian kecil, Amanda,” tambah Putra, “Mayoritas bermuka menyeramkan.”
“Kadang-kadang aku ingin memukul mereka tepat di muka mereka yang menyeramkan,” kata Sandra, “Siapa tahu mereka berubah jadi tampan.”
Erik mendengus, “Memangnya tinjumu setara dengan operasi plastik?”
“Sudah, sudah ...,” kata Sandra, “Biarkan aku dan Erik yang masuk. Kalian tunggu di sini.”
“Eh ... aku???” Erik menganga dengan telunjuk yang mengarah ke mukanya sendiri.
Tangan kanan Erik sudah ditarik oleh Sandra sehingga pemburu vampire itu tidak bisa membantah lagi. Dia terpaksa masuk ke dimensi hantu. Dimensi yang baru dikenalnya. Erik merasa saat ini terlalu cepat untuk memasuki dunia yang baru dikenalnya. Setelah Sandra masuk, Erik menyusul si gadis SID memasuki retakan di udara itu.
Setelah menginjak kaki di dimensi hantu, Erik sangat mengenal tempat ini. Tempat ini sama dengan kamar pembantu rumah tangga Sandra. Meski terlihat sama, Erik tahu tempat ini juga berbeda. Sama tapi beda, begitulah tepatnya. Ditambah lagi, di hadapan Erik dan Sandra ada Dinda yang tertidur. Sepertinya dia lelah karena terus menangis. Dalam tidurnya dia masih menangis sesenggukan.
Namun, di depan Dinda ada Emmy Merah yang berdiri menghadang. Erik tidak bisa melihat matanya dengan jelas karena tertutup rambut. Yang terlihat hanyalah bibirnya yang menyeringai kejam.
“Kau pernah menghadapi kami dan kalah,” kata Sandra, “Kenapa tidak menyerah saja jika nanti hasilnya sama saja?”
“Hei! Bukan itu!” protes Erik, “Kenapa tidak menanyakan alasannya menghantui Dinda?”
“Tidak perlu, Erik. Sepertinya alasannya juga sama dengan dua tahun lalu.”
“Hah? Memang apa alasannya?”
Hantu berpakaian merah itu tertawa menyeramkan, “Aku tidak mengenalmu dan aku tidak akan menyerahkan anak ini padamu.”
Sang hantu langsung melompat dan berusaha mencakar muka Sandra. Sandra mengelak dan menangkap lengan Emmy Merah. Dengan lutut yang sudah terlapisi api-nether, Sandra mendaratkannya ke perut Emmy Merah. Hantu itu tidak kalah cepat. Dia menangkis serangan Sandra dengan lengannya. Hantu itu terhempas mundur beberapa langkah. Erik bisa melihat muka lawannya yang mengernyit menahan sakit.
“Panas, kan?” ejek Sandra.
“Tunggu,” Sandra menatap pria di hadapannya dengan penuh kecurigaan, “Kau bukan Emmy Merah yang sedang menyamar, kan?”
Pria itu menjawab sambil menghela nafas, “Pertama, Emmy Merah ... itukah lawan kita sekarang? Kedua, apakah Emmy Merah bisa melakukan ini?” kata si pria sambil mengeluarkan cahaya kecil di telunjuknya, “Ketiga, apakah harus kusebutkan apa menu makan siangmu tadi?”
“Oke, Putra yang asli,” Sandra tertawa dan menepuk pipi Putra.
Amanda mengajak Putra masuk ke rumahnya. Sambil berjalan menuju lantai dua, Amanda dan Sandra menjelaskan semuanya. Mulai dari akar masalah hingga usaha Emmy Merah memisahkan mereka dengan cara menyamar menjadi tetangga Amanda. Ketika sampai di akhir cerita, Putra mentertawakan Sandra.
“Jarang-jarang kau dibodohi oleh hantu, Sandra,” komentar Putra, “Kau yang paling sensitif di antara kami. Seharusnya kau bisa mendeteksi bahkan sebelum membuka pintu. Sehingga, ketika membuka pintu dan melihat ‘tetangga palsu’ itu, kau bisa membakar mukanya.”
“Nah, itulah masalahnya,” kata Sandra, “Aku teringat misi kita dulu ketika menghadapi hantu yang tidak bisa kudeteksi hawa nethernya. Jangan-jangan, sepasang badut itu ...”
“Kalian berdua tahu sesuatu?” tanya Amanda.
“Sedikit, sih. Masih kemungkinan, lebih tepatnya,” jawab Putra, “Bisa hantu yang sama, bisa juga bukan.”
“Jika memang dua hantu yang kita hadapi sekarang adalah hantu yang sama dengan yang kami hadapi dulu ... begini, dua hantu ini bukan lawan kuat,” tambah Sandra sambil menggelengkan kepalanya, “Tapi sangat merepotkan.”
Mereka berempat sudah sampai di lantai dua. Para anggota SID menyalakan lampu dan melihat situasi sekitar. Lantai dua terdiri dari satu toilet, tiga kamar tidur, satu ruang keluarga, dan di bagian luarnya ada balkon kecil. Dari ketiga kamar tidur, hanya kamar Sandra saja yang memiliki jendela. Dua lainnya hanya menggunakan ventilasi yang dipasang di atas pintu. Putra berdecak kagum melihat desain interior di lantai dua dan memuji Amanda. Amanda tersenyum bangga karena dialah yang mendesain semuanya. Erik yang tak tahu apapun hanya diam saja dari tadi.
“Tiga kamar ini milik siapa?” tanya Putra sambil menunjuk tiga kamar yang didesain dalam satu baris itu.
Dari kamar terdepan hingga belakang, Amanda menjelaskan satu per satu, “Kamarku, kamar pembantu rumah tangga dan kamar tamu. Kamar tamu disediakan jika ada keluarga jauh kami yang datang.”
“Pembantu rumah tangga?!” Sandra membelalakkan mata, “Kenapa kau tidak bilang dari tadi??? Kita bisa saja mengamankan ...”
“Jangan cemas, Kak Sandra,” jawab Amanda, “Dia sedang liburan di rumahnya.”
“Sandra, tolong cek kamar pembantu,” kata Putra, “Aku akan mengecek kamar tamu.”
Dua anggota SID itu butuh tiga menit untuk mengecek kamar. Sandra mencoba membuka pintu namun terkunci. Amanda menjelaskan bahwa pembantunya membawa kunci kamarnya. Sehingga Sandra hanya menempelkan telinga dan tangannya ke pintu. Pintu kamar tamu tidak dikunci sehingga Putra bisa masuk dengan mudah. Putra keluar dengan muka merengut dan menggelengkan kepalanya. Sementara senyum Sandra yang mengecek kamar pembantu semakin mengembang. Dia mengangguk dan tiga kali mengetuk pintu kamar pembantu yang terbuat dari kayu jati itu.
“Adikku di dalam?” Amanda tersenyum lega.
“Bisa iya bisa tidak,” jawab Sandra.
“Maksudnya???” Erik akhirnya membuka mulut.
“Adik Amanda memang disembunyikan di kamar ini. Tapi tidak benar-benar berada di kamar ini,” kata Putra, “Emmy Merah lumayan cerdas untuk seukuran badut. Dia menyembunyikannya di kamar terkunci dan ‘melapisi’ kamarnya agar tak terdeteksi. Tapi kemampuan mereka tidak ada apa-apanya dengan kemampuan deteksi nether milik Sandra.”
“Aku masih tidak mengerti ...,” kata Erik.
“Jangan berbelit-belit begitu, kawan,” kata Sandra yang beralih dari Putra ke Amanda, “Adikmu berada di dimensi hantu.”
Putra mendengus, “Aku hanya berusaha merancang kalimat yang tidak membuat mereka panik.”
“Wah, gawat!!!” Erik menghampiri pintu dengan tangan yang diselimuti oleh listrik biru, ”Kita harus segera menyelamatkannya!!!”
“Tenang,” Putra menahan bahu kanan Erik, “Kami pernah mengalami yang lebih buruk daripada klien yang disandera di dimensi hantu.”
“Aku ... tidak begitu paham ...,” Erik mengangkat bahu.
“Masalah itu jangan dipikir susah,” respon Putra, “Masalah yang harus dipikir sekarang adalah bagaimana cara membuka pintu itu tanpa merusaknya?”
Sandra menatap Putra dan menggeleng, “Tidak ada cara lain, Put.”
“Lalu bagaimana? Menggunakan apimu untuk meledakkannya?” tanya Putra, “Jangan sampai dinding dan sekitarnya juga hancur, Sandra.”
“Please, aku tidak sebodoh itu,” jawab Sandra.
“Lalu?” tanya Putra sambil mengetuk pintu.
“Diam dan lihat, Put. Ayo, Erik. Bantu kami.”
Erik, Sandra dan Amanda menggunakan cara yang sama ketika membuka jendela tadi. Amanda mengkonsentrasikan esnya ke gagang pintu pada tingkat molekul. Karena ukuran gagang pintu lebih besar, Amanda membutuhkan waktu lebih lama daripada membuka jendela. Tepatnya butuh lima menit untuk membuka pintu yang terbuat dari besi paduan itu. Setelah selesai, Erik menghantam gagang pintu dengan listrik biru. Gagang pintu hancur dan rontok ke lantai.
Begitu pintu hancur, Amanda segera masuk dan memanggil-manggil nama adiknya. Tidak ada jawaban. Yang ada hanyalah kegelapan. Erik menyalakan lampu kamar dan dia melihat Amanda berdiri di atas lututnya. Amanda menggigit bibir bawahnya dengan penuh kekecewaan.
“Jangan kecewa begitu,” kata Sandra, “Pertunjukkan belum selesai.”
“Di titik mana?” tanya Putra.
“Lemari.”
Putra membuka pintu lemari dan berkata, “Aku jadi ingat pengejaran melawan White Lady. Ketika dia sembunyi di lemari rusak di kebun belakang rumah.”
“Saat-saat ketika kita lebih merasa jemu daripada merasa takut, ya,” kata Sandra yang tangannya seperti menarik sesuatu di udara, “Yap, sudah kubuka gerbangnya.”
“Siapa yang masuk?” tanya Putra.
Tentu saja pertanyaan Putra dan perkataan Sandra membuat Erik bingung. Karena pengendali listrik itu tidak melihat satu pun yang berubah. Kondisi kamar tetap biasa saja dan tidak ada gerbang atau apapun yang terbuka. Dia menatap Sandra dan Putra dengan tatapan heran.
“Sudahlah lihat saja sendiri,” kata Sandra seraya menyalurkan energi nether ke mata Erik dan Amanda.
Sebuah lubang besar terlihat di depan lemari. Lubang berbentuk oval dan seukuran manusia itu melayang di udara. Ada retakan-retakan di tepian lubangnya. Erik dan Amanda melihat ke bagian dalam lubang. Hantu-hantu berseliweran. Para hantu menatap lubang itu dengan acuh tak acuh. Hantu-hantu itu beraneka wujud. Mulai dari yang berfisik aneh, buruk rupa dan menakutkan hingga berwujud mulia, cantik, tampan bagaikan model dan selebriti ternama.
“Jadi seperti ini dunia hantu ...,” komentar Erik.
“Aku juga baru tahu,” Amanda juga berkomentar, “Ternyata ada juga hantu yang tidak menakutkan.”
“Sebagian kecil, Amanda,” tambah Putra, “Mayoritas bermuka menyeramkan.”
“Kadang-kadang aku ingin memukul mereka tepat di muka mereka yang menyeramkan,” kata Sandra, “Siapa tahu mereka berubah jadi tampan.”
Erik mendengus, “Memangnya tinjumu setara dengan operasi plastik?”
“Sudah, sudah ...,” kata Sandra, “Biarkan aku dan Erik yang masuk. Kalian tunggu di sini.”
“Eh ... aku???” Erik menganga dengan telunjuk yang mengarah ke mukanya sendiri.
Tangan kanan Erik sudah ditarik oleh Sandra sehingga pemburu vampire itu tidak bisa membantah lagi. Dia terpaksa masuk ke dimensi hantu. Dimensi yang baru dikenalnya. Erik merasa saat ini terlalu cepat untuk memasuki dunia yang baru dikenalnya. Setelah Sandra masuk, Erik menyusul si gadis SID memasuki retakan di udara itu.
Setelah menginjak kaki di dimensi hantu, Erik sangat mengenal tempat ini. Tempat ini sama dengan kamar pembantu rumah tangga Sandra. Meski terlihat sama, Erik tahu tempat ini juga berbeda. Sama tapi beda, begitulah tepatnya. Ditambah lagi, di hadapan Erik dan Sandra ada Dinda yang tertidur. Sepertinya dia lelah karena terus menangis. Dalam tidurnya dia masih menangis sesenggukan.
Namun, di depan Dinda ada Emmy Merah yang berdiri menghadang. Erik tidak bisa melihat matanya dengan jelas karena tertutup rambut. Yang terlihat hanyalah bibirnya yang menyeringai kejam.
“Kau pernah menghadapi kami dan kalah,” kata Sandra, “Kenapa tidak menyerah saja jika nanti hasilnya sama saja?”
“Hei! Bukan itu!” protes Erik, “Kenapa tidak menanyakan alasannya menghantui Dinda?”
“Tidak perlu, Erik. Sepertinya alasannya juga sama dengan dua tahun lalu.”
“Hah? Memang apa alasannya?”
Hantu berpakaian merah itu tertawa menyeramkan, “Aku tidak mengenalmu dan aku tidak akan menyerahkan anak ini padamu.”
Sang hantu langsung melompat dan berusaha mencakar muka Sandra. Sandra mengelak dan menangkap lengan Emmy Merah. Dengan lutut yang sudah terlapisi api-nether, Sandra mendaratkannya ke perut Emmy Merah. Hantu itu tidak kalah cepat. Dia menangkis serangan Sandra dengan lengannya. Hantu itu terhempas mundur beberapa langkah. Erik bisa melihat muka lawannya yang mengernyit menahan sakit.
“Panas, kan?” ejek Sandra.
0
Kutip
Balas