- Beranda
- Stories from the Heart
Hawa untuk Sang Adam [My Story ~ 18+ ]
...
TS
adrianercia
Hawa untuk Sang Adam [My Story ~ 18+ ]
![Hawa untuk Sang Adam [My Story ~ 18+ ]](https://s.kaskus.id/images/2017/07/09/9820451_20170709045725.jpg)
DRAMA PERJUANGAN MENCARI SOSOK SANG HAWA
Diubah oleh adrianercia 16-07-2017 11:58
do.pistols dan 6 lainnya memberi reputasi
7
526.5K
Kutip
1.3K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
adrianercia
#472
Episode 20
Quote:
Perilaku manusia dibentuk dari kebiasaan. Hal yang dilakukan sehari-hari akan membentuk watak seseorang lalu diproyeksikan menjadi prilaku yang dilakukan dalam kegiatan sehari-hari. Sehingga untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Semua harus dimulai dari kebiasaan dan keyakinan. Gua bukan sedang berlatih menjadi Mario teguh, apalagi Mama Dedeh. Gua hanya sedang mengutuk keras dalam batin saat mendengar pertengkaran yang terjadi di salah satu kamar kosan. Laki-laki yang mengatakan tak akan pernah lagi mengecewakan pacarnya kini terdengar sedang berbicara kasar sambil melempar benda-benda hingga terdengar keras sampai kamar gua. Kali ini gua gak tahu pangkal masalahnya karena yang gua dengar hanya umpatan-umpatan kasar dan kelimat tak bermakna dari mulut Bang David.
Bruukk…. Terdengar suara pintu di buka lalu ditutup dengan keras. Gua langsung mengintip di dari balik jendela. Beda seperti malam itu, kini bukan Claudia yang diusir namun Bang David yang tampak meninggalkan kamarnya. Mungkin ia tak ingin membiarkan Claudia luntang-lantung di jalan sehingga ia memilih agar dia saja yang meninggalkan kamar kosannya. Jauh lebih baik walau tetap bukan hal baik.
Bang David berlalu meninggalkan kosan gua. Apakah gua akan keluar? Lalu mencoba menghibur Claudia? Tidak! Gua gak boleh gegabah. Gua harus belajar melupakan cewek itu. Jelas-jelas ia tak tertarik kepada gua. Lebih baik gua matikan lampu lalu tidur dengan pulas.
***
“Nguap mulu, lu begadang ya?” tanya Doni. Kami bertiga sedang duduk sambil menikmati makan siang kami di cafetaria kampus. Dua gelas kopi yang hampir kosong tak bisa membuat mata gua membuka dengan lebar.
“Gua gak bisa tidur,” jawab gua lemas.
“Lu ada masalah?” samber Monita.
“Gak ada sih, Cuma gak bisa tidur aja,” jawab gua.
“Oh…” jawab Monita walau terdengar tak percaya dengan alasan gua.
“Udah siap-siap buat ospek besok?” tanya Doni.
“Tugasnya udah keluar?” Gua sama sekali belum mendengar informasi dengan ospek.
“Udah ada tuh di website, diupload tadi malam,” jawab Doni.
“Emang tugasnya apa?”
“Standarlah, bawa makanan sama buat rangkuman tentang profil himpunan mahasiswa masing-masing jurusan.” Jawab Doni tanpa melepas sendok dari tangannya. Ia masih menikmati gado-gado dengan porsi super sedikit dengan harga selangit. Makan di kafetaria kampus memang pilihan yang buruk bagi mahasiswa rantau seperti kami.
“Gua udah buat, lu mau lihat?” kata Monita.
“Boleh deh,” jawab gua.
“Oke, nanti gua kirim email,” kata Monita.
“Lu udah ngerjain Don?” tanya gua kepada Doni.
“Udah, gua tadi malam ngerjain sama Monita di kosan,” jawab Doni.
“Kosan lu dimana sih?” gua baru sadar kalau belum tahu informasi standar macam tempat tinggal teman sepermainan gua.
“Di daerah Soekarno Hatta. Ada perumahan kan deket taman budaya itu! Nah masuh deh ke sana” balas Doni.
“Kalau lu Mon?”
“Di sana juga, beda Kavling aja,” jawab Monita.
“Romantis bener ya kalian, sampai kos aja mesti deketan. Gak sekalian ngontrak bareng aja biar selalu bareng,” sindir gua.
“Awalnya rencananya sih gitu tapi Monita gak mau,” jawab Doni tanpa ragu.
“Jelaslah aku gak mau sayang! Apa kata orang kalau kita tinggal bareng tapi belum nikah, kita berdua bisa digrebek satpam.” Jawab Monita agak emosi.
“Tinggal bilang aja kita saudara, wajah kita juga mirip jadi gak ada yang akan curiga,” jawab Doni santai.
“Terus kalau ada temen-temen kita yang mau berkunjung gimana? Lalu Papa sama Mamaku? Apa mereka mau terima? Kamu bicara sama mereka aja masih gemeteran gimana mau izin tinggal bareng!” ketus Monita. Cewek ini tampak bener-bener emosi namun Doni tampaknya belum sadar bahwa dia dalam masalah besar.
“Rahasiain aja sayang,”
“Ini yang paling aku benci dari kamu, penakut!” ketus Monita. Gadis itu langsung berdiri meninggalkan meja. Doni tampak melongo karena gak sadar dia mengatakan hal yang menyinggung perasaan Monita.
“Kok dia pergi? Gua salah ngomong kah?” tanya Doni.
“Yah, lu benar-benar udah salah banget,” jawab gua.
“Cewek emang susah dimengerti,” jawab Doni.
“Gak lu kejer?”
“Gak! Gua juga lagi bete, nanti juga baikan lagi.” Jawab Doni santai.
“Yakin?”
“Yakinlah. Kami gak mungkin pisah gara-gara hal sepele,”
“Kok lu yakin banget dia akan selalu setia sama lu?” tanya gua heran.
“Feeling aja. Gua rasa dia butuh gua dan gua butuh dia. Jadi gak ada alasan buat pisah kan?” jawab Doni. Mendengar jawaban itu membuat gua kesal. Ucapan itu mengingatkan gua kepada Claudia. Semalam gua gak bisa tidur gara-gara memikirkan cewek itu. Apakah Claudia juga berfikir sama dengan Doni bahwa Ia dan Bang David saling membutuhkan walau pada dasarnya mereka sering saling melukai. Apa cinta sehebat itu hingga mereka mulai memaklumi kesalahan pasangan masing-masing. Bodoh! Gua rasa kalau cinta mengajarkan hal itu makan cinta hanya akan membawa sebuah kebodohan. Seperti gua sekarang, bodoh karena tertarik dengan cewek yang sudah jadi pacar orang.
“Gua boleh tanya lagi?” gua agak ragu.
“Tanya aja Dam, pake izin segala,” kata Doni cengengesan.
“Bagaimana kalau hal yang Monita butuhkan bisa ia dapatkan dari orang lain, bahkan lebih banyak daripada yang lu kasih. Apa mungkin dia masih akan mempetahankan lu?” tanya gua agak serius.
“Gua rasa itulah uniknya cinta Dam, walau orang sama-sama memberikan variabel perhatian yang sama, misalkan saja x. Namun koefisien antara orang asing dan pacar memiliki perbedaan yang besar. Bisa saja perbedaannya sepuluh kali lipat. Orang asing terasa seperti 2x maka pacar akan terasa seperti 20x,” Doni menjawab dengan sok ilmiah.
Gua tersenyum.
“Bagimana pengandaian gua? Bagus kan,” Doni memuji diri sendiri.
“Dari mana lu tahu 2x lebih kecil dari 20x?” tanya gua.
“Yah, gimana ya,” Doni bingung sendiri.
“Bagaimana kalau sikapmu malah membuat sebuah variabel x bernilai negatif? Karena lu adalah pacarnya maka sakit yang ia rasakan bisa saja 10 kali lebih besar dari orang asing. 20x tak selamanya lebih besar daripada 2x,” jawab gua. Doni terdiam.
“Tapi gua sedang gak mood buat ngejar dia,” jawab Doni tetap malas.
“Terserah lu! Gua sudah mencoba mengingatkan,”
***
Doni memutuskan untuk kembali ke kosan dan menolak mengejar Monita. Sedangkan gua pergi ke gazebo jurusan untuk bertemu dengan Desi dan Raja untuk membahas beberapa rencana gua tentang penggalangan dana untuk acara ospek. Rapat kami bejalan cepat karena tak banyak yang bisa disimpukna karena aturan pengumpulan dana yang resmi belum diumumkan. Setelah usai rapat gua langsung menuju parkiran Fakultas untuk mengambil motor.
“Mon?” gua kaget saat mendapati Mona sedang duduk di pinggir parkiran sambil memandangi ponselnya.
“Dam,” jawabnya lemas. “Doni kemana?” tanyanya.
“Pulang,” jawab gua pelan. Wajah Monita langsung mengkerut.
“Cowok emang gitu, egois!” ketusnya.
“Ngomong-ngomong, manusia di depan lu juga cowok loh?” kata gua.
“Semua cowok sama aja,” lanjut Monita. “Bisa-bisanya dia ngomong semudah itu tentang tinggal berdua. Padahal dia selalu ragu kalau ketemu papa gua. Apa dia gak mikir perasaan gua. Gua tahu gua bukan cewek yang sok suci tapi walaupun begitu gua juga gak mau dibilang murahan,” suara Monita bergetar.
“Mungkin maksud Doni bukan begitu,” balas gua.
“lalu apa? Coba jelaskan?” tantang Monita.
“Lu gak bawa motor?” gua mengalihkan pembicaraan.
“Kelihatan banget sih lu ngalihin pembicaraan,” kata Monita seraya tersenyum getir.
“Lu bawa motor?” tanya gua lagi.
“Gua ke kampus selalu bareng Doni,” jawabnya.
“Lu mau ikut gua ke alun-alun bukit?” tanya gua. Bukit adalah salah satu kota dingin yang lengkap dengan pemandangan indah dan alun-alun serta taman bermain yang keren-keren.
“Kenapa tiba-tiba lu ngajak gua ke sana?” tanya Monita bingung.
“Anggap aja gua kasih kesempatan buat lu jalan sama cowok lain. Pasti bosen dong kalau sama Doni terus,” kata gua berncanda.
“Kok alesannya aneh, kayak kita mau selingkuh aja,” kata Monita.
“Hahaa…. Apapun namanya terserah. Lu mau gak?” tanya gua.
“Boleh deh tapi…” Monita tampak ragu.
“Tapi apa? Tapi jangan sampai Doni tahu?” tebak gua.
Monita mengangguk.
“Walau dia tahu pun dia gak akan marah kok, kita ini sahabat dan Doni juga sahabat gua. Jadi tenang aja,” gua coba meyakinkan Monita.
“Walaupun begitu lebih baik Doni gak tahu kalau kita pergi,” kata Monta tampak serius.
“Sepertinya yang punya imajinasi berlebihan ini bukan gua tapi lu.” sindir gua.
“Mungkin karena gua gak pernah pergi berdua dengan orang lain selain dengan Doni. Jadi jelas gua merasa aneh,” jawab Monita jujur.
“kita capcus?”
Monita mengangguk…
***
“Orang kayak Linda aja lu anggurin, lu cowok yang pemilih ya?” tanya Monita dalam perjalanan kami menuju alun-alun puncak. Kami berdua berada di atas motor.
“Enggak juga,” jawab gua.
“Terus lu cari cewek yang kayak gimana?” tanya Monita kembali. Gua berfikir sejenak lalu mencoba mengutarakan hal yang terfikirkan dalam benak gua beberapa minggu ini.
“Mungkin gua suka cewek yang udah punya cowok,” jawab gua jujur.
“Maksud lu?” Monita terdengar heran.
“Cewek yang udah punya pacar,” jawab gua.
“Lu gak lagi godian gua kan?” tanya Monita. Gua tersenyum.
“Gak lah. Jangan GR Mon, bukan Cuma lo aja cewek udah punya pacar,” jawab gua.
“Oh…” jawabnya singkat.
“Tapi… Andaikan gua harus memilih. Gua tentu jauh lebih tertarik sama lu daripada sama Linda. Gua baru tahu sifat aneh gua ini beberapa minggu ini, apa ini penyakit ya?” Sekarang gua malah khawatir dengan sifat aneh gua ini.
“Jadi, intinya sekarang lu lagi tertarik sama seseorang yang udah punya pacar,”
“Ya, begitulah.”
“Edan!”
“Mau gimana lagi, gimana cara gua membohongi hati gua sendiri,” jawab gua jujur.
“Lu bener-bener gak tertarik sama Linda?” Monita makin penasaran.
“Begitulah,”
“Oh jangan! Jangan sampai apa yang gua fikirin ini akan lu lakuin,” Monita tiba-tiba panik sendiri.
“Emang lu mikir apa?” tanya gua heran.
“Jangan bilang lu sengaja biarin Linda pacaran sama Raja agar nanti lu bisa lebih tertarik sama dia,” kata Monita. Wow? Gua gak pernah berfikir sampai sejauh itu tapi gua sedikit penasaran, jika nantinya Linda benar-benar jadian dengan Raja apakah cewek ini akan jadi lebih menarik pehatian gua. Apakah harus gua coba?
“Gua jadi penasaran,” jawab gua.
“Gila!”
Bruukk…. Terdengar suara pintu di buka lalu ditutup dengan keras. Gua langsung mengintip di dari balik jendela. Beda seperti malam itu, kini bukan Claudia yang diusir namun Bang David yang tampak meninggalkan kamarnya. Mungkin ia tak ingin membiarkan Claudia luntang-lantung di jalan sehingga ia memilih agar dia saja yang meninggalkan kamar kosannya. Jauh lebih baik walau tetap bukan hal baik.
Bang David berlalu meninggalkan kosan gua. Apakah gua akan keluar? Lalu mencoba menghibur Claudia? Tidak! Gua gak boleh gegabah. Gua harus belajar melupakan cewek itu. Jelas-jelas ia tak tertarik kepada gua. Lebih baik gua matikan lampu lalu tidur dengan pulas.
***
“Nguap mulu, lu begadang ya?” tanya Doni. Kami bertiga sedang duduk sambil menikmati makan siang kami di cafetaria kampus. Dua gelas kopi yang hampir kosong tak bisa membuat mata gua membuka dengan lebar.
“Gua gak bisa tidur,” jawab gua lemas.
“Lu ada masalah?” samber Monita.
“Gak ada sih, Cuma gak bisa tidur aja,” jawab gua.
“Oh…” jawab Monita walau terdengar tak percaya dengan alasan gua.
“Udah siap-siap buat ospek besok?” tanya Doni.
“Tugasnya udah keluar?” Gua sama sekali belum mendengar informasi dengan ospek.
“Udah ada tuh di website, diupload tadi malam,” jawab Doni.
“Emang tugasnya apa?”
“Standarlah, bawa makanan sama buat rangkuman tentang profil himpunan mahasiswa masing-masing jurusan.” Jawab Doni tanpa melepas sendok dari tangannya. Ia masih menikmati gado-gado dengan porsi super sedikit dengan harga selangit. Makan di kafetaria kampus memang pilihan yang buruk bagi mahasiswa rantau seperti kami.
“Gua udah buat, lu mau lihat?” kata Monita.
“Boleh deh,” jawab gua.
“Oke, nanti gua kirim email,” kata Monita.
“Lu udah ngerjain Don?” tanya gua kepada Doni.
“Udah, gua tadi malam ngerjain sama Monita di kosan,” jawab Doni.
“Kosan lu dimana sih?” gua baru sadar kalau belum tahu informasi standar macam tempat tinggal teman sepermainan gua.
“Di daerah Soekarno Hatta. Ada perumahan kan deket taman budaya itu! Nah masuh deh ke sana” balas Doni.
“Kalau lu Mon?”
“Di sana juga, beda Kavling aja,” jawab Monita.
“Romantis bener ya kalian, sampai kos aja mesti deketan. Gak sekalian ngontrak bareng aja biar selalu bareng,” sindir gua.
“Awalnya rencananya sih gitu tapi Monita gak mau,” jawab Doni tanpa ragu.
“Jelaslah aku gak mau sayang! Apa kata orang kalau kita tinggal bareng tapi belum nikah, kita berdua bisa digrebek satpam.” Jawab Monita agak emosi.
“Tinggal bilang aja kita saudara, wajah kita juga mirip jadi gak ada yang akan curiga,” jawab Doni santai.
“Terus kalau ada temen-temen kita yang mau berkunjung gimana? Lalu Papa sama Mamaku? Apa mereka mau terima? Kamu bicara sama mereka aja masih gemeteran gimana mau izin tinggal bareng!” ketus Monita. Cewek ini tampak bener-bener emosi namun Doni tampaknya belum sadar bahwa dia dalam masalah besar.
“Rahasiain aja sayang,”
“Ini yang paling aku benci dari kamu, penakut!” ketus Monita. Gadis itu langsung berdiri meninggalkan meja. Doni tampak melongo karena gak sadar dia mengatakan hal yang menyinggung perasaan Monita.
“Kok dia pergi? Gua salah ngomong kah?” tanya Doni.
“Yah, lu benar-benar udah salah banget,” jawab gua.
“Cewek emang susah dimengerti,” jawab Doni.
“Gak lu kejer?”
“Gak! Gua juga lagi bete, nanti juga baikan lagi.” Jawab Doni santai.
“Yakin?”
“Yakinlah. Kami gak mungkin pisah gara-gara hal sepele,”
“Kok lu yakin banget dia akan selalu setia sama lu?” tanya gua heran.
“Feeling aja. Gua rasa dia butuh gua dan gua butuh dia. Jadi gak ada alasan buat pisah kan?” jawab Doni. Mendengar jawaban itu membuat gua kesal. Ucapan itu mengingatkan gua kepada Claudia. Semalam gua gak bisa tidur gara-gara memikirkan cewek itu. Apakah Claudia juga berfikir sama dengan Doni bahwa Ia dan Bang David saling membutuhkan walau pada dasarnya mereka sering saling melukai. Apa cinta sehebat itu hingga mereka mulai memaklumi kesalahan pasangan masing-masing. Bodoh! Gua rasa kalau cinta mengajarkan hal itu makan cinta hanya akan membawa sebuah kebodohan. Seperti gua sekarang, bodoh karena tertarik dengan cewek yang sudah jadi pacar orang.
“Gua boleh tanya lagi?” gua agak ragu.
“Tanya aja Dam, pake izin segala,” kata Doni cengengesan.
“Bagaimana kalau hal yang Monita butuhkan bisa ia dapatkan dari orang lain, bahkan lebih banyak daripada yang lu kasih. Apa mungkin dia masih akan mempetahankan lu?” tanya gua agak serius.
“Gua rasa itulah uniknya cinta Dam, walau orang sama-sama memberikan variabel perhatian yang sama, misalkan saja x. Namun koefisien antara orang asing dan pacar memiliki perbedaan yang besar. Bisa saja perbedaannya sepuluh kali lipat. Orang asing terasa seperti 2x maka pacar akan terasa seperti 20x,” Doni menjawab dengan sok ilmiah.
Gua tersenyum.
“Bagimana pengandaian gua? Bagus kan,” Doni memuji diri sendiri.
“Dari mana lu tahu 2x lebih kecil dari 20x?” tanya gua.
“Yah, gimana ya,” Doni bingung sendiri.
“Bagaimana kalau sikapmu malah membuat sebuah variabel x bernilai negatif? Karena lu adalah pacarnya maka sakit yang ia rasakan bisa saja 10 kali lebih besar dari orang asing. 20x tak selamanya lebih besar daripada 2x,” jawab gua. Doni terdiam.
“Tapi gua sedang gak mood buat ngejar dia,” jawab Doni tetap malas.
“Terserah lu! Gua sudah mencoba mengingatkan,”
***
Doni memutuskan untuk kembali ke kosan dan menolak mengejar Monita. Sedangkan gua pergi ke gazebo jurusan untuk bertemu dengan Desi dan Raja untuk membahas beberapa rencana gua tentang penggalangan dana untuk acara ospek. Rapat kami bejalan cepat karena tak banyak yang bisa disimpukna karena aturan pengumpulan dana yang resmi belum diumumkan. Setelah usai rapat gua langsung menuju parkiran Fakultas untuk mengambil motor.
“Mon?” gua kaget saat mendapati Mona sedang duduk di pinggir parkiran sambil memandangi ponselnya.
“Dam,” jawabnya lemas. “Doni kemana?” tanyanya.
“Pulang,” jawab gua pelan. Wajah Monita langsung mengkerut.
“Cowok emang gitu, egois!” ketusnya.
“Ngomong-ngomong, manusia di depan lu juga cowok loh?” kata gua.
“Semua cowok sama aja,” lanjut Monita. “Bisa-bisanya dia ngomong semudah itu tentang tinggal berdua. Padahal dia selalu ragu kalau ketemu papa gua. Apa dia gak mikir perasaan gua. Gua tahu gua bukan cewek yang sok suci tapi walaupun begitu gua juga gak mau dibilang murahan,” suara Monita bergetar.
“Mungkin maksud Doni bukan begitu,” balas gua.
“lalu apa? Coba jelaskan?” tantang Monita.
“Lu gak bawa motor?” gua mengalihkan pembicaraan.
“Kelihatan banget sih lu ngalihin pembicaraan,” kata Monita seraya tersenyum getir.
“Lu bawa motor?” tanya gua lagi.
“Gua ke kampus selalu bareng Doni,” jawabnya.
“Lu mau ikut gua ke alun-alun bukit?” tanya gua. Bukit adalah salah satu kota dingin yang lengkap dengan pemandangan indah dan alun-alun serta taman bermain yang keren-keren.
“Kenapa tiba-tiba lu ngajak gua ke sana?” tanya Monita bingung.
“Anggap aja gua kasih kesempatan buat lu jalan sama cowok lain. Pasti bosen dong kalau sama Doni terus,” kata gua berncanda.
“Kok alesannya aneh, kayak kita mau selingkuh aja,” kata Monita.
“Hahaa…. Apapun namanya terserah. Lu mau gak?” tanya gua.
“Boleh deh tapi…” Monita tampak ragu.
“Tapi apa? Tapi jangan sampai Doni tahu?” tebak gua.
Monita mengangguk.
“Walau dia tahu pun dia gak akan marah kok, kita ini sahabat dan Doni juga sahabat gua. Jadi tenang aja,” gua coba meyakinkan Monita.
“Walaupun begitu lebih baik Doni gak tahu kalau kita pergi,” kata Monta tampak serius.
“Sepertinya yang punya imajinasi berlebihan ini bukan gua tapi lu.” sindir gua.
“Mungkin karena gua gak pernah pergi berdua dengan orang lain selain dengan Doni. Jadi jelas gua merasa aneh,” jawab Monita jujur.
“kita capcus?”
Monita mengangguk…
***
“Orang kayak Linda aja lu anggurin, lu cowok yang pemilih ya?” tanya Monita dalam perjalanan kami menuju alun-alun puncak. Kami berdua berada di atas motor.
“Enggak juga,” jawab gua.
“Terus lu cari cewek yang kayak gimana?” tanya Monita kembali. Gua berfikir sejenak lalu mencoba mengutarakan hal yang terfikirkan dalam benak gua beberapa minggu ini.
“Mungkin gua suka cewek yang udah punya cowok,” jawab gua jujur.
“Maksud lu?” Monita terdengar heran.
“Cewek yang udah punya pacar,” jawab gua.
“Lu gak lagi godian gua kan?” tanya Monita. Gua tersenyum.
“Gak lah. Jangan GR Mon, bukan Cuma lo aja cewek udah punya pacar,” jawab gua.
“Oh…” jawabnya singkat.
“Tapi… Andaikan gua harus memilih. Gua tentu jauh lebih tertarik sama lu daripada sama Linda. Gua baru tahu sifat aneh gua ini beberapa minggu ini, apa ini penyakit ya?” Sekarang gua malah khawatir dengan sifat aneh gua ini.
“Jadi, intinya sekarang lu lagi tertarik sama seseorang yang udah punya pacar,”
“Ya, begitulah.”
“Edan!”
“Mau gimana lagi, gimana cara gua membohongi hati gua sendiri,” jawab gua jujur.
“Lu bener-bener gak tertarik sama Linda?” Monita makin penasaran.
“Begitulah,”
“Oh jangan! Jangan sampai apa yang gua fikirin ini akan lu lakuin,” Monita tiba-tiba panik sendiri.
“Emang lu mikir apa?” tanya gua heran.
“Jangan bilang lu sengaja biarin Linda pacaran sama Raja agar nanti lu bisa lebih tertarik sama dia,” kata Monita. Wow? Gua gak pernah berfikir sampai sejauh itu tapi gua sedikit penasaran, jika nantinya Linda benar-benar jadian dengan Raja apakah cewek ini akan jadi lebih menarik pehatian gua. Apakah harus gua coba?
“Gua jadi penasaran,” jawab gua.
“Gila!”
JabLai cOY dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas