- Beranda
- Stories from the Heart
Serigala Berbulu Mata Anti Badai
...
TS
mugumogu
Serigala Berbulu Mata Anti Badai
Bagian 1 - Tidak Seindah Kisah FTv
Sejak tadi, otak kiri dan kanan bersinkronisasi, coba mencari solusi, mungkinkah duduk berlama-lama disini akan mengurangi sedikit gundah didalam hati???, sedikit mengurangi resah didalam dada???, dan sedikit mengurangi pening didalam kepala???. Ternyata nihil. Karena, aura positif yang sejak tadi saya yakini akan mengerubungi, perlahan raib termakan sepi. Saya hadapkan wajah ke udara, mulai berharap hujan, berharap Tuhan mau datangkan ratusan awan hitam. Setidaknya, hujan bisa mengelabuhi segala kesedihan yang sejak tadi menghadang. Seketika sirna juga, setelah dianalisis bahwa kemungkinan besoknya menjadi demam, atau mungkin, dapat mengakibatkan panas dalam sangat mungkin bisa saya rasakan. Selain itu, sudah bertahun-tahun lamanya saya tidak bermain air hujan, takut nervous, takut salah tingkah karena sudah terlalu lama tidak dilakukan. Menurut hasil penelitian, entah siapa penelitinya, yang rela berhujan-hujan ria demi sebuah kebenaran yang sangat bermanfaat bagi kita semua, hujan merupakan hasil Kondensasi Uap menjadi Senyawa H2O berfasa Liquid dan bereaksi dengan sekian mol kenangan indah masa lalu yang tidak begitu saja mudah untuk saya lupakan… #laahhh
Lelah berharap, dan juga karena lelah menghadapkan wajah keatas, saya hadapkan wajah kedepan, disana ada sebuah jalan, tidak kecil, dan juga tidak terlalu besar. Banyak manusia yang bergerak dinamis diatasnya. Berbagai orang berlalu lalang, perlahan, diam-diam saya perhatikan. Pengendara motor dengan penumpangnya dibelakang, para manusia yang berjalan dengan kakinya, kiri dan kanan, dan terakhir, yang membuat luka dihati yang sebentar lagi kering, seperti kembali terguyur air cuka, yaitu, dua insan beda kelamin yang berjalan pelan sambil bergandengan tangan penuh penghayatan, memancing gelak tawa dusta dari sekitaran. Seakan mereka tahu, kalo sangat banyak pasang mata yang melempar pandang kearah mereka. Semakin membuat mereka beranggapan, bahwa para manusia memandang iri pada mereka berdua yang sedang mengumbar kemesraan.
...
Seorang Pria datang entah dari mana, tidak terdengar langkah kakinya, hanya bentuk fisiknya yang tiba-tiba duduk di kursi seberang saya. Bungkusan rokok berwarna hitam dikeluarkannya, asap putih pekat dia hembuskan keudara, sesaat setelah sebuah korek membakar salah satu ujung batang rokoknya. Dia tersenyum kearah saya sesudahnya.
“Hey… engga ikut ngerubung didalem?” ramah nada suaranya
Hanya gelengan kepala yang menjadi respon saya kepadanya. Takut, walaupun dia sebenarnya tampan, tapi penampilannya cukup menyeramkan. Rambut gondrong yang tidak diikatnya menjadi alasan, terlebih celana jeans belel dan kaos hitam tanpa lengan, bertuliskan, I'M GONNA KILL YOU.
Kita selalu berpikiran bahwa rambut hanyalah tentang penampilan. Terutama bagi Perempuan, yang mampu menghabiskan jutaan rupiah demi menjaga rambutnya yang panjang layaknya sebuah mahkota kerajaan. Namun untuk sebagian kaum Pria, rambut lebih dari sekedar mode. Kaum pria mempunyai pandangan yang lebih Filosofis terhadap rambut panjang. Rambut adalah salah satu bentuk dari cara mereka untuk menginterpretasikan karakter seseorang. Kadang status kehidupan seorang Pria dapat terlihat dari jenis rambutnya. Contohnya, Pria berambut pendek sering dipandang sebagai seseorang yang senang berada di bawah aturan, pekerja harian atau karyawan. Sedangkan Pria berambut panjang dipandang sebagai seseorang yang senang membelot, seniman atau memiliki pandangan di luar semesta pada umumnya. Tetapi perbedaan pandangan itu hanyalah gambaran sempit saja, karena persepsi setiap orang akan suatu hal pastilah berbeda. Ditambah, gambaran dari diri saya sendiri yang lebih banyak sok taunya.
Selanjutnya, saya hanya terdiam, tetapi, bukan tidak melakukan apa-apa, saya masih bernafas, kedua lubang hidung dan mulut masih dinamis menjadi media keluar masuknya udara, yang menyebabkan kembang kempisnya dada, juga dengan beberapa kedipan kelopak mata. Bosan sebenarnya, tetapi tidak berani melanjutkan pembicaraan. Kemudian, saya menggerakkan tangan, Telepon Genggam saya keluarkan, dari saku Almamater sebelah kanan. Mendadak autis. Bermain Telepon Genggam dan berlagak sok artis. Buka kunci Telepon Genggam, tekan tombol Menu kemudian tekan tombol Home, berulang-ulang, saya lupa, sejak pagi, Telepon Genggam tidak saya beri makan, tidak ada kuota Internet, miris.
“Eh, tapi, sorry yah, gue sambil ngerokok, lo... engga ada riwayat penyakit yang diakibatkan asap rokok kan??? Atau semacam alergi yang berhubungan dengan asap juga kan???”
Kalimat yang diucapkannya di 10 menit terakhir.
“Iya.” senyum saya lemparkan kepadanya.
“Eh, lo udah bikin proker apa aja selama KKN?” lanjutnya berbicara.
“Bakti sosial, ehm, udah itu aja, selebihnya aku jadi Sekertaris.” Emang dia nanya saya jadi apa???
“Emang dari jurusan mana lo?”
“Fisip.”
“Yaa… paling engga, rada nyambung sih, nah kalo Mahasiswa Jurusan Teknik Geologi kaya gue??? Gimana??? Dimana Korelasinya coba??? Ketika gue cuma belajar seputaran Bumi dan isinya, dan semua itu adalah benda mati, dan disini, gue harus berinteraksi dan bersosialisai dengan makhluk hidup yang bernama masyarakat??? Kecuali, ketika gue kuliah, ada Mata Kuliah tentang, Dinamika Pertumbuhan penduduk yang seiring dengan Pergerakan Lempeng Tektonik, atau mungkin, Laju Migrasi Penduduk Desa akibat Peningkatan Aktifitas Vulkanik."
Saya mengangguk, memaksa otak ini untuk mengerti, walaupun saya tidak memahami semua perkataannya secara pasti, inti dari jawabannya sama seperti yang di ucapkan Ijal, temen sekelompok KKN saya yang juga berasal dari Teknik Geologi, hanya saja, cara penyampaian dari Pria Tampan berwajah sangar diseberang saya ini lebih berkelas.
“Padahal, tujuan utama KKN itu adalah penerapan Disiplin Ilmu masing-masing Mahasiswanya yang telah disesuaikan dengan Sosiokultural masing-masing Desanya, kalo dikampus gue belajar tentang segala hal tentang Eksplorasi, dan Pemetaan lahan Pertambangan Mineral, Minyak dan Gas Bumi, dan, apa yang bisa gue eksplor dan gue tambang disini coba?, kalo adanya Lahan Pertanian, Perikanan sama Perkumpulan Ibu-Ibu Arisan Kelurahan.” Pria Tampan berwajah sangar dihadapan saya ini masih berorasi
“Iya bener, dominasi Program Kerja, kebanyakan dari Pertanian, Peternakan, Perikanan dan juga Kedokteran, aku aja cuma bisa sumbang sebagian kecil.” engga tau kesambet apaan saya, mendadak saya jadi bisa nyambung sama obrolannya.
“Mungkin, Program Gabungan se-Kecamatan kaya gini ini, termasuk dalam kategori Program Kerja Urgensi aja menurut gue, karena Desa yang menjadi sasaran utama para Mahasiswanya perlahan berubah jadi Kota.” Pria Tampan dihadapan saya masih berorasi.
“Iyah, mungkin, sebagai bentuk dari bingung mau ngapain.”
“Nah itu dia, itu kenapa kayaknya, menurut gue, Program KKN kaya gini sih harusnya engga ada, bikin bingung Mahasiswa yang engga bisa sumbangsih apa-apa, yang gue pelajarin di kampus itu cuma ngerusak alam, atau yang tidak ada hubungannya sama sekali sama yang hidup, makanya, seringnya gue keluar duduk duduk doang, kaya sekarang ini.”
“Heeh, sama kok, aku juga mikir kaya gitu.” saya latah.
Entahlah, manusia dari jenis apa Pria Tampan berwajah sangar dihadapan saya ini, dengan gamblang merubah rasa kesepian ini jadi nyaman. Prasangka buruk pikiran, tidak sesuai dengan kenyataan. Dia yang sangar, ternyata mampu berkomunikasi dengan pintar, dan mampu membuat saya, yang notabene anak Jurusan Ilmu Komunikasi, merasa gagal.
Profesor Amy Cuddy dari Harvard Business School mengatakan impresi pertama bisa sangat mempengaruhi penilaian orang terhadap diri kita.
Tapi untuk meninggalkan kesan baik tidak cukup hanya dengan menjaga bahasa tubuh atau kontak mata saja. Untuk bisa dipercaya orang, tampilkan pula sisi hangat dan kompetensi.
"Dilihat dari perspektif yang evolusioner, kehangatan lebih penting untuk pertahanan kita untuk mengetahui apakah seseorang berhak menerima kepercayaan." Kata Amy yang sudah lama mempelajari impresi orang dalam bukunya Presence.
…
Selanjutnya.
“Kalo Gunung Slamet meletus, lo mau ngapain?.” Menurut saya, dan mungkin juga, menurut sebagian penduduk alam semesta, pertanyaan ini terdengar aneh.
“Menyelamatkan diri atuh, gimana kamu teh, nah... kalo kamu?” Malah saya tanya balik. Sebenernya mah, saya cuma engga enak, masa cuma dia yang dikira aneh sendiri.
“Engga tau, belom pernah ngerasain soalnya, pengen ngerasain sih sebenernya, kali aja seru, tapi, kalo bisa mah jangan kaya Sinabung atau kaya Merapi, lah itu mah serem, eh… hehehee.”
Sumpah jawabannya.
“Kalo lo ketemu Monyet yang ngomong pake bahasa manusia gimana?” saya mencoba untuk membiasakan diri, walaupun, pertanyaan ini masih saya masukkan dalam kategori pertanyaan aneh.
“Kaya di Film Apes gitu yah?” dibacanya sesuai Pronounce Bahasa Inggris, jangan tabrak aja kaya lagi ngebaca tulisan Bahasa Indonesia.
“Heeh…” Pria Tampan berwajag sangar kemudian mengangguk.
“Engga tau atuh, meni serem da aku mah kalo ketemu Monyet ngomong bahasa manusia, nah kamu, sok, mau ngapain?”
“Gue ajakin ngomong bahasa Monyet biar dia bingung, hehehe…”
#speechless
...
Pembicaraan normal sebenarnya, namun berkesan. Tidak pernah ada obrolan semacam ini sepanjang sejarah kisah Pria yang begitu saja datang kehadapan saya. Saling bertukar informasi tentang dunia kita berdua, hingga ke objek pembicaraan yang menjadi luber ke arah yang tak terduga, kegilaan semacam inilah yang kadang membuat saya pribadi tidak mudah bergaul dengan orang lain, ketika orang lain, khususnya Pria memulai perkenalan, dan mulai mengajak berbicara seputar hal yang itu-itu saja, sehingga, bentuk kesaltingan saya terhadap orang yang baru saya kenal biasanya terwujud dengan ngobrol sekenanya, seperlunya, hingga semalas-malasnya, baik dengan Perempuan terlebih dengan para Pria.
“Hey, nama kamu siapa??? Atau, kamu engga mau tau namaku???” Dalam hati saya berbicara.
Asking Alexandria dengan lagu Move On nya berdendang dari HP milik Pria Tampan berwajah sangar. Saya hafal betul warna suaranya, warna suara khas dari Danny Worsnop.
“Yoo… udahan?”
“Wewewewee…” (ini adalah bentuk dialog dari seseorang diseberang sana, diseberang sambungan telepon sang Pria Tampan berwajah sangar disebelah saya, saya memang tidak memperhatikan, namun masih mampu untuk mendengarkan, jarak telinga saya dan suara yang keluar dari sepasang bibirnya tidak lebih dari 3 meter…)
“Kamfrait, giliran angkat-angkat bangku gue dicariin, bayar mahal mahal disini gue cuma difungsikan sebagai Seksi Perlengkapan doang?”
“Wewewewee…”
“Hanif dah noh klo urusan ngepel sama nyapu, dan angkat-angkat bangku, gue bagian anter-anter Bu Dokter Gigi aja.”
“Wewewewee…”
“Iyeee…”
“Wewewewee…”
“Wa’alaikumsalam…”
Seketika saya memerintahkan telinga sebelah kanan untuk berhenti “menguping” pembicaraan sang Pria Tampan, dan mengalihkan pandangan ke sebuah tempat yang paling tidak saya sukai dari semua bagian tubuh yang terdapat dalam diri saya, sepasang flat shoes putih yang membalut sepasang kaki yang semakin hari semakin tidak terlihat, dari posisi duduk seperti ini, pandangan kedua mata saya terhalang oleh sepasang paha maha besar dan maha lebar yang tumbuh kembangnya tidak mampu saya kendalikan.
Sang Pria Tampan berdiri dari duduknya,
“Eh, gue cabut duluan.”
“Heh?” saya tatap wajahnya,
“Beresin ruangan, hehehe… duluan yaa, thanks buat 2 jam waktunya buat ngobrol, Assalamualaikum Cantik…” Pria Tampan berwajah sangar berlalu pergi sambil tersenyum setelah melambaikan tangan.
“Waalaikumsalam…”
Selanjutnya, sang Pria Tampan berwajah sangar menuju sedan hitam yang saya tebak itu adalah miliknya di ujung lapangan, entah apa yang dilakukannya, sebentar, setelah itu dia kembali berjalan, menuju ke dalam ruangan.
...
Masih banyak cerita yang akan tersampaikan jika kebersamaan ini terus menjalar. Namun, terjadi di waktu dan tempat yang tidak wajar. Mungkin, suatu saat, saya akan diajaknya berkeliling, bercerita, duduk bersampingan didalam sedan hitam miliknya, mungkin. Maaf, angan saya terlampau jauh keluar. Sejenak saya tidak sadar.
Gaung suara samar terlontar dari dalam otak, bernada jahat,
“Paling juga besok dia udah lupa, namanya juga cowok, kebanyakan basa-basinya aja.”
Selanjutnya, Tujuh orang lainnya yang sama sekali bukan rombongan Ashabul Kahfi datang, mereka adalah teman sekelompok KKN saya, mengajak saya pulang bersama. Saya duduk dibelakang Fajar, diatas jok motornya. Tidak bisa mengendarai motor dan terlebih mobil adalah alasannya. Ijal ada disalah satunya.
...
Kenapa sang Pria Tampan berwajah sangar tidak menanyakan nomer HP saya???.
Kenapa sang Pria Tampan berwajah sangar tidak mengajak saya berkenalan???.
INDEX :
Bagian 2 - Ku Tak Kan Lari, Karena Kau Pun Tak Mengejar
Bagian 3 - Gundukan Indah Didepan Saya
Bagian 4 - Serius Yang Tidak Sebercanda Itu
Bagian 5 - Kata Pria Bermotor : Imam Itu Didepan, Bukan Disamping
Bagian 6 - Ketika Jantung dan Hati, Memiliki Terjemahan Yang Sama Dalam Bahasa Inggris
Bagian 7 - Jikalau Seporsi Mie Goreng Tidak Mengenyangkan, Bisa Tambah Nasi
Bagian 8 - Nikmatnya Isi Buah Durian, Tanpa Berusaha Membuka Sendiri Kulitnya
Bagian 9 - Masuk Angin Lebih Baik Daripada Masuk TNI Angkatan Laut
Bagian 10 - Nonton Live Concert Lewat HP, Sekalian Ngerekam??? Cerdas!?!!
Bagian 11 - Serigala Berbulu Mata Anti Badai
Bagian 12 - Pendaki Gunung, Penikmat Gundukan, Menuju Puncak Kenikmatan
Bagian 13 - Jangan Pake HT, Harusnya Diakhiri Salam / Kata Sayang, Malahan, Ganti!!!
Bagian 14 - The Tallest Dwarf Ever
Bagian 15 - Dering Teleponmu Membuatku Mendengus Di Pagi Hari
Bagian 16 - Sedia Payung Walau Sepanjang Tahun Musim Kemarau
Bagian 17 - Calon Suami Idaman Semua Orang? Ralat!?!! Saya Doang!?!!
Bagian 18 - Memantaskan Diri, Tidak Seperti Ekspektasi, Tidak Semudah Kisah FTv
Bagian 19 - Sendiri Itu, Tidak Melulu Sepi. Bola Voli pun Bisa Jadi Tambatan Hati.
Bagian 20 - "Hantam Mereka." Joe Taslim
Bagian 21 - Wahai Jarum Timbangan Berat Badan, Janganlah Kamu Bergerak Kearah Kanan
Bagian 22 - Indomie Itu Enak, Walaupun Isinya, Tidak Semeriah Gambar Dibungkusnya.
Bagian 23 - Dokter Cinta Lulusan S3, Expert Luar Biasa.
Bagian 24 - Every Woman, Has Its Special Love, for a Special Men.
Bagian 25 - Do You Bleed??? Oh... You Wil!!!
Bagian 26 - Paling Tidak, Sempurna Menurut Saya. Selain Itu Mah... Biasa Aja!!!
Bagian 27 - Yang Tak Pernah Lelah, Memikat Wanita.
Bagian 28 - Cinta, Melihat Dengan Kacamata Kuda.
Bagian 29 - Bahkan, Seorang Superman pun Punya Satu Kelemahan Didalam Dirinya
Bagian 30 - burjo ketemu Angkringan
Sejak tadi, otak kiri dan kanan bersinkronisasi, coba mencari solusi, mungkinkah duduk berlama-lama disini akan mengurangi sedikit gundah didalam hati???, sedikit mengurangi resah didalam dada???, dan sedikit mengurangi pening didalam kepala???. Ternyata nihil. Karena, aura positif yang sejak tadi saya yakini akan mengerubungi, perlahan raib termakan sepi. Saya hadapkan wajah ke udara, mulai berharap hujan, berharap Tuhan mau datangkan ratusan awan hitam. Setidaknya, hujan bisa mengelabuhi segala kesedihan yang sejak tadi menghadang. Seketika sirna juga, setelah dianalisis bahwa kemungkinan besoknya menjadi demam, atau mungkin, dapat mengakibatkan panas dalam sangat mungkin bisa saya rasakan. Selain itu, sudah bertahun-tahun lamanya saya tidak bermain air hujan, takut nervous, takut salah tingkah karena sudah terlalu lama tidak dilakukan. Menurut hasil penelitian, entah siapa penelitinya, yang rela berhujan-hujan ria demi sebuah kebenaran yang sangat bermanfaat bagi kita semua, hujan merupakan hasil Kondensasi Uap menjadi Senyawa H2O berfasa Liquid dan bereaksi dengan sekian mol kenangan indah masa lalu yang tidak begitu saja mudah untuk saya lupakan… #laahhh
Lelah berharap, dan juga karena lelah menghadapkan wajah keatas, saya hadapkan wajah kedepan, disana ada sebuah jalan, tidak kecil, dan juga tidak terlalu besar. Banyak manusia yang bergerak dinamis diatasnya. Berbagai orang berlalu lalang, perlahan, diam-diam saya perhatikan. Pengendara motor dengan penumpangnya dibelakang, para manusia yang berjalan dengan kakinya, kiri dan kanan, dan terakhir, yang membuat luka dihati yang sebentar lagi kering, seperti kembali terguyur air cuka, yaitu, dua insan beda kelamin yang berjalan pelan sambil bergandengan tangan penuh penghayatan, memancing gelak tawa dusta dari sekitaran. Seakan mereka tahu, kalo sangat banyak pasang mata yang melempar pandang kearah mereka. Semakin membuat mereka beranggapan, bahwa para manusia memandang iri pada mereka berdua yang sedang mengumbar kemesraan.
...
Seorang Pria datang entah dari mana, tidak terdengar langkah kakinya, hanya bentuk fisiknya yang tiba-tiba duduk di kursi seberang saya. Bungkusan rokok berwarna hitam dikeluarkannya, asap putih pekat dia hembuskan keudara, sesaat setelah sebuah korek membakar salah satu ujung batang rokoknya. Dia tersenyum kearah saya sesudahnya.
“Hey… engga ikut ngerubung didalem?” ramah nada suaranya
Hanya gelengan kepala yang menjadi respon saya kepadanya. Takut, walaupun dia sebenarnya tampan, tapi penampilannya cukup menyeramkan. Rambut gondrong yang tidak diikatnya menjadi alasan, terlebih celana jeans belel dan kaos hitam tanpa lengan, bertuliskan, I'M GONNA KILL YOU.
Kita selalu berpikiran bahwa rambut hanyalah tentang penampilan. Terutama bagi Perempuan, yang mampu menghabiskan jutaan rupiah demi menjaga rambutnya yang panjang layaknya sebuah mahkota kerajaan. Namun untuk sebagian kaum Pria, rambut lebih dari sekedar mode. Kaum pria mempunyai pandangan yang lebih Filosofis terhadap rambut panjang. Rambut adalah salah satu bentuk dari cara mereka untuk menginterpretasikan karakter seseorang. Kadang status kehidupan seorang Pria dapat terlihat dari jenis rambutnya. Contohnya, Pria berambut pendek sering dipandang sebagai seseorang yang senang berada di bawah aturan, pekerja harian atau karyawan. Sedangkan Pria berambut panjang dipandang sebagai seseorang yang senang membelot, seniman atau memiliki pandangan di luar semesta pada umumnya. Tetapi perbedaan pandangan itu hanyalah gambaran sempit saja, karena persepsi setiap orang akan suatu hal pastilah berbeda. Ditambah, gambaran dari diri saya sendiri yang lebih banyak sok taunya.
Selanjutnya, saya hanya terdiam, tetapi, bukan tidak melakukan apa-apa, saya masih bernafas, kedua lubang hidung dan mulut masih dinamis menjadi media keluar masuknya udara, yang menyebabkan kembang kempisnya dada, juga dengan beberapa kedipan kelopak mata. Bosan sebenarnya, tetapi tidak berani melanjutkan pembicaraan. Kemudian, saya menggerakkan tangan, Telepon Genggam saya keluarkan, dari saku Almamater sebelah kanan. Mendadak autis. Bermain Telepon Genggam dan berlagak sok artis. Buka kunci Telepon Genggam, tekan tombol Menu kemudian tekan tombol Home, berulang-ulang, saya lupa, sejak pagi, Telepon Genggam tidak saya beri makan, tidak ada kuota Internet, miris.
“Eh, tapi, sorry yah, gue sambil ngerokok, lo... engga ada riwayat penyakit yang diakibatkan asap rokok kan??? Atau semacam alergi yang berhubungan dengan asap juga kan???”
Kalimat yang diucapkannya di 10 menit terakhir.
“Iya.” senyum saya lemparkan kepadanya.
“Eh, lo udah bikin proker apa aja selama KKN?” lanjutnya berbicara.
“Bakti sosial, ehm, udah itu aja, selebihnya aku jadi Sekertaris.” Emang dia nanya saya jadi apa???
“Emang dari jurusan mana lo?”
“Fisip.”
“Yaa… paling engga, rada nyambung sih, nah kalo Mahasiswa Jurusan Teknik Geologi kaya gue??? Gimana??? Dimana Korelasinya coba??? Ketika gue cuma belajar seputaran Bumi dan isinya, dan semua itu adalah benda mati, dan disini, gue harus berinteraksi dan bersosialisai dengan makhluk hidup yang bernama masyarakat??? Kecuali, ketika gue kuliah, ada Mata Kuliah tentang, Dinamika Pertumbuhan penduduk yang seiring dengan Pergerakan Lempeng Tektonik, atau mungkin, Laju Migrasi Penduduk Desa akibat Peningkatan Aktifitas Vulkanik."
Saya mengangguk, memaksa otak ini untuk mengerti, walaupun saya tidak memahami semua perkataannya secara pasti, inti dari jawabannya sama seperti yang di ucapkan Ijal, temen sekelompok KKN saya yang juga berasal dari Teknik Geologi, hanya saja, cara penyampaian dari Pria Tampan berwajah sangar diseberang saya ini lebih berkelas.
“Padahal, tujuan utama KKN itu adalah penerapan Disiplin Ilmu masing-masing Mahasiswanya yang telah disesuaikan dengan Sosiokultural masing-masing Desanya, kalo dikampus gue belajar tentang segala hal tentang Eksplorasi, dan Pemetaan lahan Pertambangan Mineral, Minyak dan Gas Bumi, dan, apa yang bisa gue eksplor dan gue tambang disini coba?, kalo adanya Lahan Pertanian, Perikanan sama Perkumpulan Ibu-Ibu Arisan Kelurahan.” Pria Tampan berwajah sangar dihadapan saya ini masih berorasi
“Iya bener, dominasi Program Kerja, kebanyakan dari Pertanian, Peternakan, Perikanan dan juga Kedokteran, aku aja cuma bisa sumbang sebagian kecil.” engga tau kesambet apaan saya, mendadak saya jadi bisa nyambung sama obrolannya.
“Mungkin, Program Gabungan se-Kecamatan kaya gini ini, termasuk dalam kategori Program Kerja Urgensi aja menurut gue, karena Desa yang menjadi sasaran utama para Mahasiswanya perlahan berubah jadi Kota.” Pria Tampan dihadapan saya masih berorasi.
“Iyah, mungkin, sebagai bentuk dari bingung mau ngapain.”
“Nah itu dia, itu kenapa kayaknya, menurut gue, Program KKN kaya gini sih harusnya engga ada, bikin bingung Mahasiswa yang engga bisa sumbangsih apa-apa, yang gue pelajarin di kampus itu cuma ngerusak alam, atau yang tidak ada hubungannya sama sekali sama yang hidup, makanya, seringnya gue keluar duduk duduk doang, kaya sekarang ini.”
“Heeh, sama kok, aku juga mikir kaya gitu.” saya latah.
Entahlah, manusia dari jenis apa Pria Tampan berwajah sangar dihadapan saya ini, dengan gamblang merubah rasa kesepian ini jadi nyaman. Prasangka buruk pikiran, tidak sesuai dengan kenyataan. Dia yang sangar, ternyata mampu berkomunikasi dengan pintar, dan mampu membuat saya, yang notabene anak Jurusan Ilmu Komunikasi, merasa gagal.
Profesor Amy Cuddy dari Harvard Business School mengatakan impresi pertama bisa sangat mempengaruhi penilaian orang terhadap diri kita.
Tapi untuk meninggalkan kesan baik tidak cukup hanya dengan menjaga bahasa tubuh atau kontak mata saja. Untuk bisa dipercaya orang, tampilkan pula sisi hangat dan kompetensi.
"Dilihat dari perspektif yang evolusioner, kehangatan lebih penting untuk pertahanan kita untuk mengetahui apakah seseorang berhak menerima kepercayaan." Kata Amy yang sudah lama mempelajari impresi orang dalam bukunya Presence.
…
Selanjutnya.
“Kalo Gunung Slamet meletus, lo mau ngapain?.” Menurut saya, dan mungkin juga, menurut sebagian penduduk alam semesta, pertanyaan ini terdengar aneh.
“Menyelamatkan diri atuh, gimana kamu teh, nah... kalo kamu?” Malah saya tanya balik. Sebenernya mah, saya cuma engga enak, masa cuma dia yang dikira aneh sendiri.
“Engga tau, belom pernah ngerasain soalnya, pengen ngerasain sih sebenernya, kali aja seru, tapi, kalo bisa mah jangan kaya Sinabung atau kaya Merapi, lah itu mah serem, eh… hehehee.”
Sumpah jawabannya.
“Kalo lo ketemu Monyet yang ngomong pake bahasa manusia gimana?” saya mencoba untuk membiasakan diri, walaupun, pertanyaan ini masih saya masukkan dalam kategori pertanyaan aneh.
“Kaya di Film Apes gitu yah?” dibacanya sesuai Pronounce Bahasa Inggris, jangan tabrak aja kaya lagi ngebaca tulisan Bahasa Indonesia.
“Heeh…” Pria Tampan berwajag sangar kemudian mengangguk.
“Engga tau atuh, meni serem da aku mah kalo ketemu Monyet ngomong bahasa manusia, nah kamu, sok, mau ngapain?”
“Gue ajakin ngomong bahasa Monyet biar dia bingung, hehehe…”
#speechless
...
Pembicaraan normal sebenarnya, namun berkesan. Tidak pernah ada obrolan semacam ini sepanjang sejarah kisah Pria yang begitu saja datang kehadapan saya. Saling bertukar informasi tentang dunia kita berdua, hingga ke objek pembicaraan yang menjadi luber ke arah yang tak terduga, kegilaan semacam inilah yang kadang membuat saya pribadi tidak mudah bergaul dengan orang lain, ketika orang lain, khususnya Pria memulai perkenalan, dan mulai mengajak berbicara seputar hal yang itu-itu saja, sehingga, bentuk kesaltingan saya terhadap orang yang baru saya kenal biasanya terwujud dengan ngobrol sekenanya, seperlunya, hingga semalas-malasnya, baik dengan Perempuan terlebih dengan para Pria.
“Hey, nama kamu siapa??? Atau, kamu engga mau tau namaku???” Dalam hati saya berbicara.
Asking Alexandria dengan lagu Move On nya berdendang dari HP milik Pria Tampan berwajah sangar. Saya hafal betul warna suaranya, warna suara khas dari Danny Worsnop.
“Yoo… udahan?”
“Wewewewee…” (ini adalah bentuk dialog dari seseorang diseberang sana, diseberang sambungan telepon sang Pria Tampan berwajah sangar disebelah saya, saya memang tidak memperhatikan, namun masih mampu untuk mendengarkan, jarak telinga saya dan suara yang keluar dari sepasang bibirnya tidak lebih dari 3 meter…)
“Kamfrait, giliran angkat-angkat bangku gue dicariin, bayar mahal mahal disini gue cuma difungsikan sebagai Seksi Perlengkapan doang?”
“Wewewewee…”
“Hanif dah noh klo urusan ngepel sama nyapu, dan angkat-angkat bangku, gue bagian anter-anter Bu Dokter Gigi aja.”
“Wewewewee…”
“Iyeee…”
“Wewewewee…”
“Wa’alaikumsalam…”
Seketika saya memerintahkan telinga sebelah kanan untuk berhenti “menguping” pembicaraan sang Pria Tampan, dan mengalihkan pandangan ke sebuah tempat yang paling tidak saya sukai dari semua bagian tubuh yang terdapat dalam diri saya, sepasang flat shoes putih yang membalut sepasang kaki yang semakin hari semakin tidak terlihat, dari posisi duduk seperti ini, pandangan kedua mata saya terhalang oleh sepasang paha maha besar dan maha lebar yang tumbuh kembangnya tidak mampu saya kendalikan.
Sang Pria Tampan berdiri dari duduknya,
“Eh, gue cabut duluan.”
“Heh?” saya tatap wajahnya,
“Beresin ruangan, hehehe… duluan yaa, thanks buat 2 jam waktunya buat ngobrol, Assalamualaikum Cantik…” Pria Tampan berwajah sangar berlalu pergi sambil tersenyum setelah melambaikan tangan.
“Waalaikumsalam…”
Selanjutnya, sang Pria Tampan berwajah sangar menuju sedan hitam yang saya tebak itu adalah miliknya di ujung lapangan, entah apa yang dilakukannya, sebentar, setelah itu dia kembali berjalan, menuju ke dalam ruangan.
...
Masih banyak cerita yang akan tersampaikan jika kebersamaan ini terus menjalar. Namun, terjadi di waktu dan tempat yang tidak wajar. Mungkin, suatu saat, saya akan diajaknya berkeliling, bercerita, duduk bersampingan didalam sedan hitam miliknya, mungkin. Maaf, angan saya terlampau jauh keluar. Sejenak saya tidak sadar.
Gaung suara samar terlontar dari dalam otak, bernada jahat,
“Paling juga besok dia udah lupa, namanya juga cowok, kebanyakan basa-basinya aja.”
Selanjutnya, Tujuh orang lainnya yang sama sekali bukan rombongan Ashabul Kahfi datang, mereka adalah teman sekelompok KKN saya, mengajak saya pulang bersama. Saya duduk dibelakang Fajar, diatas jok motornya. Tidak bisa mengendarai motor dan terlebih mobil adalah alasannya. Ijal ada disalah satunya.
...
Kenapa sang Pria Tampan berwajah sangar tidak menanyakan nomer HP saya???.
Kenapa sang Pria Tampan berwajah sangar tidak mengajak saya berkenalan???.
INDEX :
Bagian 2 - Ku Tak Kan Lari, Karena Kau Pun Tak Mengejar
Bagian 3 - Gundukan Indah Didepan Saya
Bagian 4 - Serius Yang Tidak Sebercanda Itu
Bagian 5 - Kata Pria Bermotor : Imam Itu Didepan, Bukan Disamping
Bagian 6 - Ketika Jantung dan Hati, Memiliki Terjemahan Yang Sama Dalam Bahasa Inggris
Bagian 7 - Jikalau Seporsi Mie Goreng Tidak Mengenyangkan, Bisa Tambah Nasi
Bagian 8 - Nikmatnya Isi Buah Durian, Tanpa Berusaha Membuka Sendiri Kulitnya
Bagian 9 - Masuk Angin Lebih Baik Daripada Masuk TNI Angkatan Laut
Bagian 10 - Nonton Live Concert Lewat HP, Sekalian Ngerekam??? Cerdas!?!!
Bagian 11 - Serigala Berbulu Mata Anti Badai
Bagian 12 - Pendaki Gunung, Penikmat Gundukan, Menuju Puncak Kenikmatan
Bagian 13 - Jangan Pake HT, Harusnya Diakhiri Salam / Kata Sayang, Malahan, Ganti!!!
Bagian 14 - The Tallest Dwarf Ever
Bagian 15 - Dering Teleponmu Membuatku Mendengus Di Pagi Hari
Bagian 16 - Sedia Payung Walau Sepanjang Tahun Musim Kemarau
Bagian 17 - Calon Suami Idaman Semua Orang? Ralat!?!! Saya Doang!?!!
Bagian 18 - Memantaskan Diri, Tidak Seperti Ekspektasi, Tidak Semudah Kisah FTv
Bagian 19 - Sendiri Itu, Tidak Melulu Sepi. Bola Voli pun Bisa Jadi Tambatan Hati.
Bagian 20 - "Hantam Mereka." Joe Taslim
Bagian 21 - Wahai Jarum Timbangan Berat Badan, Janganlah Kamu Bergerak Kearah Kanan
Bagian 22 - Indomie Itu Enak, Walaupun Isinya, Tidak Semeriah Gambar Dibungkusnya.
Bagian 23 - Dokter Cinta Lulusan S3, Expert Luar Biasa.
Bagian 24 - Every Woman, Has Its Special Love, for a Special Men.
Bagian 25 - Do You Bleed??? Oh... You Wil!!!
Bagian 26 - Paling Tidak, Sempurna Menurut Saya. Selain Itu Mah... Biasa Aja!!!
Bagian 27 - Yang Tak Pernah Lelah, Memikat Wanita.
Bagian 28 - Cinta, Melihat Dengan Kacamata Kuda.
Bagian 29 - Bahkan, Seorang Superman pun Punya Satu Kelemahan Didalam Dirinya
Bagian 30 - burjo ketemu Angkringan
Diubah oleh mugumogu 26-11-2017 11:58
asmaranggaditha dan anasabila memberi reputasi
2
49.4K
384
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mugumogu
#90
Bagian 19 - Sendiri Itu, Tidak Melulu Sepi. Bola Voli Pun Bisa Jadi Tambatan Hati.
“Neng, Ibu kerja dimana?” Sambil Ian menyalakan sebatang rokoknya.
“DPRD Kota Tasikmalaya, kenapa?”
“Gak apa-apa, beneran nih gak mao nemenin gue ke Bengkel, sama ke Tukang Cucian mobil?”
“Engga.” Simple, jelas, mengena di hati.
“Gue perginya lama loh.”
“Tetep engga.”
“Ntar gue nyasar loh.”
“Engga.”
“Lo dirumah sendirian loh.”
“Engga apa-apa.”
“Abis itu kita bisa jalan-jalan loh.”
“Engga.”
“Yaudah deh… gue pergi ya.”
“Engga, ehh… sana!?!!”
Kedua pipi saya dicubitnya.
…
Sendirian lah saya akhirnya dirumah. Mendadak merasa seperti Chuck Noland yang terdampar di Pulau Terpencil selama 1500 hari dan hanya ditemani oleh sebuah bola Voli yang diberinya nama Wilson. Saya adalah versi Perempuannya.
Tidak ada bola Voli ataupun bola-bola lainnya dirumah, karena dirumah saya, ada kasur, bantal, guling, piring, sendok dan berbagai macam perabotan lainnya. Tapi tidak harus juga saya ajak bicara mereka, toh saya masih punya HP, walaupun habis pulsanya. Tidak harus menggunakan Sepatu Ice Skating sebagai pisau, karena dirumah, jangankan pisau, Gergaji Mesin juga ada. Tidak harus menggunakan dua buah kayu kering yang digesekkan sebagai sumber pencahayaan dan perapian, karena dirumah ada Kompor Gas, ada lampu yang jika saya butuh pencahayaan, tinggal saya tekan, gampang. Tidak harus lelah menangkap ikan dengan tombak kayu dan memakannya mentah-mentah, karena tidak hanya Ikan yang tersedia di Lemari Es rumah, daging Ayam, daging Sapi, dan daging hewan lainnya juga ada. Dan yang terakhir, saya juga tidak harus sampai tumbuh brewok disekitaran wajah, saya Perempuan, cukup Ian, saya engga usah ikut-ikutan. Walaupun penasaran. #laahhh
Poin yang saya garis bawahi disini, adalah tentang perjuangan Chuck Noland yang sangat luar biasa. Chuck Noland adalah seorang Pria pada umumnya, yang bekerja di sebuah perusahaan jasa pengiriman barang yang namanya sudah terkenal seantero jagat raya, FedEx. Cerita dimulai setelah perjamuan makan malam Natal antara Chuck dengan keluarga dan juga kekasihnya, Kelly.
Chuck pergi setelah malam itu. Sebelum berangkat, Chuck dan Kelly saling bertukar kado Natal. Kelly memberi sebuah Jam Saku dengan Foto Kelly didalamnya untuk Chuck. Sedangkan Chuck memberi Kelly sebuah Memo, Lampu Hias, Sapu Tangan, dan sebuah Kado spesial yang boleh dibuka Kelly saat Tahun Baru, karena Chuck berniat akan melamar Kelly setelah pulang nanti.
Tetapi karena cuaca yang buruk, Pesawat Kargo yang ditumpangi Chuck jatuh di laut lepas. Klasik memang, tetapi, jika tidak karena cuaca buruk, bagaimana Pesawat Kargo itu bisa jatuh? Cerita tentang Cast Away juga tidak akan terjadi sepertinya. Alhasil, semua penumpang tewas, hanya Chuck yang dapat selamat dengan sekoci darurat. Arus laut mengantarkannya ke sebuah pulau yang tidak berpenghuni. Selama Chuck berada di pulau itulah, penonton disuguhkan akting Monolog dari sang aktor kenamaan, Tom Hanks. Chuck harus bertahan hidup di pulau itu dengan tidak membawa apapun, hanya Pager dan jam saku dengan foto Kelly, yang keduanya juga sudah rusak terendam air. Namun, jam saku dengan foto Kelly lah yang memberi semangat Chuck untuk terus bertahan hidup di pulau itu. Hidupnya sedikit terbantu dengan beberapa paket pengiriman FedEx yang hanyut dan secara kebetulan juga ikut terdampar di pulau yang sama dengannya. Chuck menemukan sepatu Ice Skating yang dapat dijadikan sebagai pisau, Baju Pesta, Video VHS, beberapa lembar Dokumen, dan yang paling penting adalah sebuah Bola Voli yang akhirnya menjadi teman bicara Chuck selama terdampar. Chuck memberi nama bola itu sesuai dengan merknya, Wilson. Jika sebuah Tas Ransel, namanya mungkin akan menjadi Eiger. Jika sebuah Coklat batangan, namanya mungkin akan menjadi Toblerone. Dan mungkin, jika itu adalah sebuah Tepung Beras, mungkin juga akan dinamai Rose Brand.
Berbagai cara Chuck lakukan untuk hidup, mulai minum dari Air Kelapa yang jatuh, memakan ikan mentah, hingga membuat api dari ranting pohon. Adaptasi yang sangat sulit, sukses membuatnya frustasi, hingga Chuck harus membuat pilihan, mati di Pulau itu, atau berjuang keluar untuk kembali.
Chuck akhirnya memilih untuk keluar dari pulau itu. Ia mempelajari Arah Angin setiap bulannya. Membuat sebuah Rakit dari kayu, dan di waktu yang tepat, akhirnya ia pergi dari pulau itu dengan membawa Wilson serta dan sebuah paket dengan gambar sayap malaikat yang tidak dibuka olehnya.
Chuck memang berhasil pergi dari pulau itu dan kembali ke tempat asalnya. Namun, tetap saja, ada sosok yang harus pergi meninggalkannya, ketika dirasa Chuck telah berjuang sekuat tenaga. Yang pertama Wilson, Bola Voli kesayangannya, yang kedua, tentu saja Kelly, alasan Chuck berjuang sekuat tenaga untuk kembali.
Film ini sungguh sangat sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat luar biasa. Menurut saya, bagi mereka, para pecinta Drama Seri Korea, tentu saja, menonton film ini adalah sebuah bencana. Drama Seri Korea yang notabene adalah film dengan adegan Romantis, dialog antar tokoh yang cenderung dinamis, dan alur cerita yang melankolis, sangat bertolak belakang dengan apa yang disuguhkan oleh Film Cast Away ini. Bayangkan saja, para Pecinta Drama Seri Korea itu disuguhi adegan Monolog selama 60 menit, dari total keseluruhan durasi 143 menit.
Saya tidak menyarankan para Pecinta Drama Seri Korea untuk menonton film ini, saya sendiri pun bosan, bahkan sangat bosan. Saya baru mengerti makna dari film ini setelah menontonnya untuk yang keempat kali. Karena dari film ini, saya mengerti, betapa sesungguhnya, manusia itu sangat tidak bisa jauh dari yang namanya Komunikasi, sangat membutuhkan lawan bicara untuk sekedar meneduhkan hati, membuat para manusia tidak merasa sepi. Karena memang, manusia tidak mampu hidup seorang diri.
Dan juga, betapapun setelah kita berjuang mati-matian, sampai tidak bisa makan, sampai tidak mampu berdiri lagi, karena beratnya tubuh yang sudah terlalu banyak menampung beban, tetap saja, kalau memang sosok Perempuan atau Pria yang sudah kita tetapkan dan niatkan sebagai tujuan akhiran, jikalau memang Tuhan tidak menakdirkan? Manusia bisa apa? Mungkin, hadiah dan awardnya terkadang, bukan wujud manusia seperti yang sudah kita inginkan. Tuhan ingin kita lebih Survive, ingin kita semakin Struggle dan tetap tidak lelah berjuang, tentu saja untuk kehidupan, bukan melulu untuk manusia, untuk Pria atau sekalipun untuk seorang Perempuan.
Itulah yang terkadang, terjadi hampir di seluruh Permukaan Bumi sekarang. Perjuangan harus seketika terhenti ketika sosok atau sesuatu yang diinginkan, ditakdirkan untuk tidak bersandingan. Berubah mati-matian, namun ketika sosok atau sesuatu itu tidak bisa kita dapatkan, kemurkaan selalu keluar layaknya udara yang masuk dan keluar lewat pernapasan. Padahal, kita harusnya bangga, dan senang, sosok dan sesuatu yang akhirnya tidak bisa kita dapatkan, sedang ditutup matanya oleh Tuhan, bahwa mereka tidak pantas menyambut kedatangan kita yang sudah menjadi sosok yang luar biasa, sosok yang tidak lelah untuk terus berjuang untuk kehidupan. Karena mereka tidak pantas bersanding dengan kita, bersanding dengan para manusia pilihan Tuhan.
#ngomongapasihkamuNda
#maafsayangantuk
#tidurdulu
...
Jam Lima sore Waktu Indonesia bagian Kota Tasikmalaya. Dua orang yang sejak tadi saya khawatirkan tidak kunjung pulang, Mama dan juga Ian. Berondongan pesan sudah saya kirimkan, pun dengan panggilan telepon ke masing-masing nomor tujuan, namun tetap saja, tidak ada jawaban.
Hingga Adzan Maghrib berkumandang dari Toa Masjid sekitaran. HP saya masih tetap diam.
Jam setengah 8 malam, setelah Isya’ menjelang. Suara berisik berkumandang dari arah rumah bagian depan. Saya tergerak untuk menghampiri, siapakah mereka yang berani berbicara kencang didepan rumah Perdana Menteri Jerman?
Setelah saya buka pintu depan, tampaklah dua sosok yang sedang asik melontarkan senyuman, saya hanya bisa diam, kesal bercampurkan sedikit kekhawatiran. Karena melihat Mama dan juga Ian.
“Kalian darimana aja sih? Seharian engga ada kabarnya!?!!” Saya, dengan kedua tangan yang dilipat didepan dada, akses jalan masuk kedalam saya tutup untuk mereka berdua, karena saya berdiri persis ditengah-tengah pintu masuknya.
“Tuh Bu, marah kan!?!!” Sambil Ian menoleh kearah Mama saya.
“Biarin aja dia mah, siapa suruh tadi diajak kamu engga mau, jadinya, kita berdua aja yang jalan-jalan.” Ibu, eh… Mama, sambil menggandeng tangan Ian sebelah kanan.
“Jalan-jalan?” Saya makin murka.
Mama mengangguk sambil tersenyum senang, Genderuwo cengar cengir engga karuan.
Wahai Chuck Noland, sepertinya kita senasib sekarang.
“DPRD Kota Tasikmalaya, kenapa?”
“Gak apa-apa, beneran nih gak mao nemenin gue ke Bengkel, sama ke Tukang Cucian mobil?”
“Engga.” Simple, jelas, mengena di hati.
“Gue perginya lama loh.”
“Tetep engga.”
“Ntar gue nyasar loh.”
“Engga.”
“Lo dirumah sendirian loh.”
“Engga apa-apa.”
“Abis itu kita bisa jalan-jalan loh.”
“Engga.”
“Yaudah deh… gue pergi ya.”
“Engga, ehh… sana!?!!”
Kedua pipi saya dicubitnya.
…
Sendirian lah saya akhirnya dirumah. Mendadak merasa seperti Chuck Noland yang terdampar di Pulau Terpencil selama 1500 hari dan hanya ditemani oleh sebuah bola Voli yang diberinya nama Wilson. Saya adalah versi Perempuannya.
Tidak ada bola Voli ataupun bola-bola lainnya dirumah, karena dirumah saya, ada kasur, bantal, guling, piring, sendok dan berbagai macam perabotan lainnya. Tapi tidak harus juga saya ajak bicara mereka, toh saya masih punya HP, walaupun habis pulsanya. Tidak harus menggunakan Sepatu Ice Skating sebagai pisau, karena dirumah, jangankan pisau, Gergaji Mesin juga ada. Tidak harus menggunakan dua buah kayu kering yang digesekkan sebagai sumber pencahayaan dan perapian, karena dirumah ada Kompor Gas, ada lampu yang jika saya butuh pencahayaan, tinggal saya tekan, gampang. Tidak harus lelah menangkap ikan dengan tombak kayu dan memakannya mentah-mentah, karena tidak hanya Ikan yang tersedia di Lemari Es rumah, daging Ayam, daging Sapi, dan daging hewan lainnya juga ada. Dan yang terakhir, saya juga tidak harus sampai tumbuh brewok disekitaran wajah, saya Perempuan, cukup Ian, saya engga usah ikut-ikutan. Walaupun penasaran. #laahhh
Poin yang saya garis bawahi disini, adalah tentang perjuangan Chuck Noland yang sangat luar biasa. Chuck Noland adalah seorang Pria pada umumnya, yang bekerja di sebuah perusahaan jasa pengiriman barang yang namanya sudah terkenal seantero jagat raya, FedEx. Cerita dimulai setelah perjamuan makan malam Natal antara Chuck dengan keluarga dan juga kekasihnya, Kelly.
Chuck pergi setelah malam itu. Sebelum berangkat, Chuck dan Kelly saling bertukar kado Natal. Kelly memberi sebuah Jam Saku dengan Foto Kelly didalamnya untuk Chuck. Sedangkan Chuck memberi Kelly sebuah Memo, Lampu Hias, Sapu Tangan, dan sebuah Kado spesial yang boleh dibuka Kelly saat Tahun Baru, karena Chuck berniat akan melamar Kelly setelah pulang nanti.
Tetapi karena cuaca yang buruk, Pesawat Kargo yang ditumpangi Chuck jatuh di laut lepas. Klasik memang, tetapi, jika tidak karena cuaca buruk, bagaimana Pesawat Kargo itu bisa jatuh? Cerita tentang Cast Away juga tidak akan terjadi sepertinya. Alhasil, semua penumpang tewas, hanya Chuck yang dapat selamat dengan sekoci darurat. Arus laut mengantarkannya ke sebuah pulau yang tidak berpenghuni. Selama Chuck berada di pulau itulah, penonton disuguhkan akting Monolog dari sang aktor kenamaan, Tom Hanks. Chuck harus bertahan hidup di pulau itu dengan tidak membawa apapun, hanya Pager dan jam saku dengan foto Kelly, yang keduanya juga sudah rusak terendam air. Namun, jam saku dengan foto Kelly lah yang memberi semangat Chuck untuk terus bertahan hidup di pulau itu. Hidupnya sedikit terbantu dengan beberapa paket pengiriman FedEx yang hanyut dan secara kebetulan juga ikut terdampar di pulau yang sama dengannya. Chuck menemukan sepatu Ice Skating yang dapat dijadikan sebagai pisau, Baju Pesta, Video VHS, beberapa lembar Dokumen, dan yang paling penting adalah sebuah Bola Voli yang akhirnya menjadi teman bicara Chuck selama terdampar. Chuck memberi nama bola itu sesuai dengan merknya, Wilson. Jika sebuah Tas Ransel, namanya mungkin akan menjadi Eiger. Jika sebuah Coklat batangan, namanya mungkin akan menjadi Toblerone. Dan mungkin, jika itu adalah sebuah Tepung Beras, mungkin juga akan dinamai Rose Brand.
Berbagai cara Chuck lakukan untuk hidup, mulai minum dari Air Kelapa yang jatuh, memakan ikan mentah, hingga membuat api dari ranting pohon. Adaptasi yang sangat sulit, sukses membuatnya frustasi, hingga Chuck harus membuat pilihan, mati di Pulau itu, atau berjuang keluar untuk kembali.
Chuck akhirnya memilih untuk keluar dari pulau itu. Ia mempelajari Arah Angin setiap bulannya. Membuat sebuah Rakit dari kayu, dan di waktu yang tepat, akhirnya ia pergi dari pulau itu dengan membawa Wilson serta dan sebuah paket dengan gambar sayap malaikat yang tidak dibuka olehnya.
Chuck memang berhasil pergi dari pulau itu dan kembali ke tempat asalnya. Namun, tetap saja, ada sosok yang harus pergi meninggalkannya, ketika dirasa Chuck telah berjuang sekuat tenaga. Yang pertama Wilson, Bola Voli kesayangannya, yang kedua, tentu saja Kelly, alasan Chuck berjuang sekuat tenaga untuk kembali.
Film ini sungguh sangat sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat luar biasa. Menurut saya, bagi mereka, para pecinta Drama Seri Korea, tentu saja, menonton film ini adalah sebuah bencana. Drama Seri Korea yang notabene adalah film dengan adegan Romantis, dialog antar tokoh yang cenderung dinamis, dan alur cerita yang melankolis, sangat bertolak belakang dengan apa yang disuguhkan oleh Film Cast Away ini. Bayangkan saja, para Pecinta Drama Seri Korea itu disuguhi adegan Monolog selama 60 menit, dari total keseluruhan durasi 143 menit.
Saya tidak menyarankan para Pecinta Drama Seri Korea untuk menonton film ini, saya sendiri pun bosan, bahkan sangat bosan. Saya baru mengerti makna dari film ini setelah menontonnya untuk yang keempat kali. Karena dari film ini, saya mengerti, betapa sesungguhnya, manusia itu sangat tidak bisa jauh dari yang namanya Komunikasi, sangat membutuhkan lawan bicara untuk sekedar meneduhkan hati, membuat para manusia tidak merasa sepi. Karena memang, manusia tidak mampu hidup seorang diri.
Dan juga, betapapun setelah kita berjuang mati-matian, sampai tidak bisa makan, sampai tidak mampu berdiri lagi, karena beratnya tubuh yang sudah terlalu banyak menampung beban, tetap saja, kalau memang sosok Perempuan atau Pria yang sudah kita tetapkan dan niatkan sebagai tujuan akhiran, jikalau memang Tuhan tidak menakdirkan? Manusia bisa apa? Mungkin, hadiah dan awardnya terkadang, bukan wujud manusia seperti yang sudah kita inginkan. Tuhan ingin kita lebih Survive, ingin kita semakin Struggle dan tetap tidak lelah berjuang, tentu saja untuk kehidupan, bukan melulu untuk manusia, untuk Pria atau sekalipun untuk seorang Perempuan.
Itulah yang terkadang, terjadi hampir di seluruh Permukaan Bumi sekarang. Perjuangan harus seketika terhenti ketika sosok atau sesuatu yang diinginkan, ditakdirkan untuk tidak bersandingan. Berubah mati-matian, namun ketika sosok atau sesuatu itu tidak bisa kita dapatkan, kemurkaan selalu keluar layaknya udara yang masuk dan keluar lewat pernapasan. Padahal, kita harusnya bangga, dan senang, sosok dan sesuatu yang akhirnya tidak bisa kita dapatkan, sedang ditutup matanya oleh Tuhan, bahwa mereka tidak pantas menyambut kedatangan kita yang sudah menjadi sosok yang luar biasa, sosok yang tidak lelah untuk terus berjuang untuk kehidupan. Karena mereka tidak pantas bersanding dengan kita, bersanding dengan para manusia pilihan Tuhan.
#ngomongapasihkamuNda
#maafsayangantuk
#tidurdulu
...
Jam Lima sore Waktu Indonesia bagian Kota Tasikmalaya. Dua orang yang sejak tadi saya khawatirkan tidak kunjung pulang, Mama dan juga Ian. Berondongan pesan sudah saya kirimkan, pun dengan panggilan telepon ke masing-masing nomor tujuan, namun tetap saja, tidak ada jawaban.
Hingga Adzan Maghrib berkumandang dari Toa Masjid sekitaran. HP saya masih tetap diam.
Jam setengah 8 malam, setelah Isya’ menjelang. Suara berisik berkumandang dari arah rumah bagian depan. Saya tergerak untuk menghampiri, siapakah mereka yang berani berbicara kencang didepan rumah Perdana Menteri Jerman?
Setelah saya buka pintu depan, tampaklah dua sosok yang sedang asik melontarkan senyuman, saya hanya bisa diam, kesal bercampurkan sedikit kekhawatiran. Karena melihat Mama dan juga Ian.
“Kalian darimana aja sih? Seharian engga ada kabarnya!?!!” Saya, dengan kedua tangan yang dilipat didepan dada, akses jalan masuk kedalam saya tutup untuk mereka berdua, karena saya berdiri persis ditengah-tengah pintu masuknya.
“Tuh Bu, marah kan!?!!” Sambil Ian menoleh kearah Mama saya.
“Biarin aja dia mah, siapa suruh tadi diajak kamu engga mau, jadinya, kita berdua aja yang jalan-jalan.” Ibu, eh… Mama, sambil menggandeng tangan Ian sebelah kanan.
“Jalan-jalan?” Saya makin murka.
Mama mengangguk sambil tersenyum senang, Genderuwo cengar cengir engga karuan.
Wahai Chuck Noland, sepertinya kita senasib sekarang.
0