- Beranda
- Stories from the Heart
Ketidak Normalan Ku
...
TS
angela.aghastya
Ketidak Normalan Ku
Part 1 : Panggil saja Acel
Ku amati bayangan di depanku dari jendela kelas, samar-samar terlihat anak club basket sedang bermain basket di depanku. Aku memang lebih tertarik melihat anak laki-laki memperebutkan bola dari pada anak perempuan yang sibuk memikirkan dandanan mereka.
Namaku Angela Aghastya, panggil saja Acel. Aku memang sedikit tomboy kala itu. Aku punya pacar laki-laki saat aku kelas 2 SMA di sekolah kejuruan di Jakarta. Setelah 6 bulan kami berpacaran, aku memutuskan hubungan karna pacarku terlalu "lembek" pikir ku.
Saat libur sekolah kenaikan kelas 3 SMA, aku berlibur ke rumah kakak Ke 2 ku di Bandung. Disana aku bertemu dengan adik teman kakak ku, namanya Sherly.
Sherly kuliah di australia dan sedang berlibur sama sepertiku. Kami menghabiskan waktu berdua mengobrol dan bercanda. Aku senang sekali berteman dengan Sherly. Selain ia baik, ia juga pintar.
Tak terasa sudah seminggu kami berteman, hampir setiap hari Sherly menginap di rumah kakak ku. Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Badanku mulai lelah dan mataku mengantuk. Aku memeluk guling membelakangi Sherly,
"Cel, punya pacar ga?"
"Pernah punya, tapi udah ga, kalo sherly?" jawabku dengan mata berair hasil menguap
"Pernah punya juga"
Mataku terpejam sedikit demi sedikit. Badanku terasa ada yang memeluk dari belakang dengan erat dan makin erat. Seketika mataku terbuka lebar yang tadinya berat seperti ada batu dikelopaknya. Dadaku bergebu-gebu seperti jantungnya mau keluar dari tempatnya. Aku tak berani bergerak sedikit pun dan tak berani bicara sepatah katapun. Aku takut. Sampai ku sadari sudah berganti hari dan pelukan itu terlepas dengan sendirinya dan aku tertidur.
Pagi itu, matahari sudah menerangi rerumputan yang tertutup embun. Aku melihat sosok gadis berambut ikal duduk menyerong di bangku teras depan rumah. Mukanya samar tertutup rambut panjangnya yang tertiup angin dengan kulit sawo matang. Ya, itu Sherly.
Aku ingin sekali punya kulit agak gelap dari kulit asliku, karena mama keturunan belanda dan papa manado sepertinya mustahil. Sherly yang sadar aku sedang melihatnya, menyapa dan mengajak duduk disampingnya.
"Cel, sini duduk sama aku"
"Eh..."
Aku menghampirinya dan duduk di sampingnya
"Semalem acel bobo ya? Aku kan lagi cerita"
"hehe..." pasti wajah ku berubah menjadi aneh karena heran
Apa Sherly ketiduran dan tidak sadar ia memeluk ku erat semalam? Apa aku saja yang terlalu berlebih karena tidak pernah di peluk sesama teman wanita? Apa aku saja yang merasa gugup dan takut saat dipeluk erat oleh teman wanita?
Ah, anggap saja memang hanya aku yang terlalu berlebihan.
____________________________________________
Prolog
Oh, ya aku lupa memperkenalkan diri. Panggil saja Acel. Aku wanita dan usiaku saat ini masih belum di bilang tua. Ah, nanti kalian akan kenal aku seiring banyaknya Part di Thread ku ini.
Mohon maaf Thread ini masih sangat banyak kekurangan. Maklum baru pertama kali menjadi "Penulis" setelah sekian lama menjadi Silent Reader. Inipun terpaksa membuat ID karena tertarik ingin membagi sedikit perjalanan hidupku. Aku tau kalian sudah cukup bijak membedakan yang baik dan buruk dari Thread ini.
Mohon maaf sekali lagi. Dengan tidak bermaksud menyinggung apalagi menyudutkan salah satu pihak ataupun golongan. Jika dari kalian mengenal aku atau tokoh-tokoh dalam cerita ini. Mohon untuk tidak saling mengusik. Biarkan kami bahagia dengan jalan hidup masing-masing.
Terimakasih sebelumnya.
Part 2 : Sherly ke Jakarta
Part 3 : Pengakuan Sherly
Part 4 : Patah Hati
Part 5 : Hidup Baru
Part 6 : Tatto Pertama
Part 7 : Olive
Part 8 : Mulai Nyaman dengan Olive
Part 9 : Renda Ungu
Part 10 : Patah Hati 2
Part 11 : Penjelasan Olive
Part 12 : Ketulusan Mas Jerry
Part 13 : Pertama Kali Kerja
Part 14 : Paling Ku Takuti
Part 15 : Iqbal
Part 16 : Lumba-lumba
Part 17 : Lumba-lumba 2
Part 18 : Pertama
Part 19 : Langit Ke Tujuh
Part 20 : Menarik
Stay tuned ❤
Ku amati bayangan di depanku dari jendela kelas, samar-samar terlihat anak club basket sedang bermain basket di depanku. Aku memang lebih tertarik melihat anak laki-laki memperebutkan bola dari pada anak perempuan yang sibuk memikirkan dandanan mereka.
Namaku Angela Aghastya, panggil saja Acel. Aku memang sedikit tomboy kala itu. Aku punya pacar laki-laki saat aku kelas 2 SMA di sekolah kejuruan di Jakarta. Setelah 6 bulan kami berpacaran, aku memutuskan hubungan karna pacarku terlalu "lembek" pikir ku.
Saat libur sekolah kenaikan kelas 3 SMA, aku berlibur ke rumah kakak Ke 2 ku di Bandung. Disana aku bertemu dengan adik teman kakak ku, namanya Sherly.
Sherly kuliah di australia dan sedang berlibur sama sepertiku. Kami menghabiskan waktu berdua mengobrol dan bercanda. Aku senang sekali berteman dengan Sherly. Selain ia baik, ia juga pintar.
Tak terasa sudah seminggu kami berteman, hampir setiap hari Sherly menginap di rumah kakak ku. Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Badanku mulai lelah dan mataku mengantuk. Aku memeluk guling membelakangi Sherly,
"Cel, punya pacar ga?"
"Pernah punya, tapi udah ga, kalo sherly?" jawabku dengan mata berair hasil menguap
"Pernah punya juga"
Mataku terpejam sedikit demi sedikit. Badanku terasa ada yang memeluk dari belakang dengan erat dan makin erat. Seketika mataku terbuka lebar yang tadinya berat seperti ada batu dikelopaknya. Dadaku bergebu-gebu seperti jantungnya mau keluar dari tempatnya. Aku tak berani bergerak sedikit pun dan tak berani bicara sepatah katapun. Aku takut. Sampai ku sadari sudah berganti hari dan pelukan itu terlepas dengan sendirinya dan aku tertidur.
Pagi itu, matahari sudah menerangi rerumputan yang tertutup embun. Aku melihat sosok gadis berambut ikal duduk menyerong di bangku teras depan rumah. Mukanya samar tertutup rambut panjangnya yang tertiup angin dengan kulit sawo matang. Ya, itu Sherly.
Aku ingin sekali punya kulit agak gelap dari kulit asliku, karena mama keturunan belanda dan papa manado sepertinya mustahil. Sherly yang sadar aku sedang melihatnya, menyapa dan mengajak duduk disampingnya.
"Cel, sini duduk sama aku"
"Eh..."
Aku menghampirinya dan duduk di sampingnya
"Semalem acel bobo ya? Aku kan lagi cerita"
"hehe..." pasti wajah ku berubah menjadi aneh karena heran
Apa Sherly ketiduran dan tidak sadar ia memeluk ku erat semalam? Apa aku saja yang terlalu berlebih karena tidak pernah di peluk sesama teman wanita? Apa aku saja yang merasa gugup dan takut saat dipeluk erat oleh teman wanita?
Ah, anggap saja memang hanya aku yang terlalu berlebihan.
____________________________________________
Prolog
Oh, ya aku lupa memperkenalkan diri. Panggil saja Acel. Aku wanita dan usiaku saat ini masih belum di bilang tua. Ah, nanti kalian akan kenal aku seiring banyaknya Part di Thread ku ini.
Mohon maaf Thread ini masih sangat banyak kekurangan. Maklum baru pertama kali menjadi "Penulis" setelah sekian lama menjadi Silent Reader. Inipun terpaksa membuat ID karena tertarik ingin membagi sedikit perjalanan hidupku. Aku tau kalian sudah cukup bijak membedakan yang baik dan buruk dari Thread ini.
Mohon maaf sekali lagi. Dengan tidak bermaksud menyinggung apalagi menyudutkan salah satu pihak ataupun golongan. Jika dari kalian mengenal aku atau tokoh-tokoh dalam cerita ini. Mohon untuk tidak saling mengusik. Biarkan kami bahagia dengan jalan hidup masing-masing.
Terimakasih sebelumnya.
Part 2 : Sherly ke Jakarta
Part 3 : Pengakuan Sherly
Part 4 : Patah Hati
Part 5 : Hidup Baru
Part 6 : Tatto Pertama
Part 7 : Olive
Part 8 : Mulai Nyaman dengan Olive
Part 9 : Renda Ungu
Part 10 : Patah Hati 2
Part 11 : Penjelasan Olive
Part 12 : Ketulusan Mas Jerry
Part 13 : Pertama Kali Kerja
Part 14 : Paling Ku Takuti
Part 15 : Iqbal
Part 16 : Lumba-lumba
Part 17 : Lumba-lumba 2
Part 18 : Pertama
Part 19 : Langit Ke Tujuh
Part 20 : Menarik
Stay tuned ❤
Diubah oleh angela.aghastya 31-05-2018 22:47
anasabila memberi reputasi
1
15.7K
97
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
angela.aghastya
#38
Part 10 : Patah Hati 2
“Cel… Cel…”
Desi membangunkanku.
Aku hanya membuka setengah mataku. Melihat muka sendu Desi. Lalu kututup lagi. Mengganggu saja, batinku.
“Cel, bangun. Udah pernah mandi susu belum?”
Pasti susu jatah sarapanku yang mbak Ida rutin menaruh di meja sebelah kasurku.
Aku langsung tersentak membuka mata. Duduk dan mengambil gelasnya. Bukannya aku takut. Tapi Desi kadang suka tega.
Susu itu sudah aman diperutku. Aku tau Desi pasti ada maunya, pagi-pagi sudah di dalam kamarku. Wajahnya yang sendu bikin aku penasaran. Oya, aku akan cerita sedikit permulaannya. Setelah kami lulus SMA. Dwi, “mantan” Desi memilih berkuliah di Semarang. Hubungan Desi dan Dwi mulai renggang. Mereka akhirnya lost contact. Desi memilih mencari kesibukan dengan Freelance di salah satu Website penjual berbagai model baju. Di tempat kerja barunya itu, Desi bertemu dengan Sandra. Wanita keturunan arab campuran jawa. Dengan hidung yang mancung, badan ideal dan wajah photogenic membuat Sandra berhasil mendapat pekerjaan sebagai model di website tersebut.
Seiring berjalannya waktu, membuat mereka semakin dekat. Kebetulan rumah Desi di Jakarta timur dan Sandra di Tangerang. Jarak kantor mereka dengan rumah Desi hanya 5 Km. Sandra yang merasa jauh akhirnya sering menginap di rumah Desi. Sudah hampir lima bulan mereka dekat. Desi menyadari kalau ia tertarik dengan Sandra. Tapi setau Desi, Sandra masih suka laki-laki.
Desi dan Sandra sebenarnya sudah menunjukan bahwa mereka berdua saling menyukai dengan segala perilaku mereka berdua yang buat pasangan manapun iri. Gangguan-gangguan itu mulai dirasakan Desi dan Sandra di kantornya. Mereka sering di ejek karena terlalu dekat. Sudah tak tahan dengan ejekan itu. Desi yang “tau diri” mengajukan resign. Selang dua minggu, Sandra pun melakukan hal yang sama.
Desi mendapat kerja baru di Studio Foto di Jakarta Timur dan Sandra menjadi Agen asuransi di salah satu bank di Tangerang. Karena jarak dan pekerjaan yang terpisah, otomatis peran Desi sebagai yang di butuhkan Sandra menjadi berkurang. Sandra semakin jarang memberi kabar. Sandra mulai dekat dengan laki-laki. Desi yang mulai panik menjadi over posesif. Segala cara dilakukan Desi. Perilaku Desi yang Over posesif itu yang malah mengacaukan segalanya. Desi mulai menunjukan ke public bahwa Desi tak mau Sandra menjauh. Malah sampai membuat Tattoo di pergelangan tangan di atas nadi sebelah kanannya. Bertuliskan De S i. De dan I menggunakan tinta hitam sedangkan Snya menggunakan tinta merah. Aku tau maksud tattoo yang ia buat untuk menunjukan apa.
“Sandra gak mau ketemu Gue lagi, Cel”
Aku diam. Hanya mengelus pundaknya.
“Sandra katanya gak mau namanya jelek di depan teman-temannya”
Desi menunduk. Menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.
Aku baru kali ini melihat Desi di tahap depresi menjalani masalah. Padahal Desi yang ku kenal dulu bukan Desi yang mudah mengeluh. Jika ia mengeluh. Pasti hatinya memang sudah sesak.
“De, sabar ya. Cari yang lain. Kan biasanya Lo yang ngomong gitu ke Gue”
“ia sih. Tapi kali ini Gue mau galau. Mau nikmatin perjuangan cinta Gue, Cel. Katanya kan dia gak mau ketemu Gue karena gak mau namanya jelek didepan temen-temennya? Berarti bukan gak suka sama Gue dong, Cel? Gak salah dong Gue perjuangin dulu. Bukan salah dia juga di deketin cowo. Cowonya aja yang gak tau Gue”
“Iya, De”
Hanya itu yang bisa aku jawab. Aku tau bagaimana rasanya kecewa. Ya, kalau kalian sedang kecewa. Semua di sekitar kalian yang tidak setuju dengan pendapat kalian pasti dianggap salah. Apapun nasehatnya. Jadi kuanggap saja semua yang dikatakan Desi sekarang ini benar. Nanti kalau Desi sudah mereda amarahnya. Baru bisa memikirkan yang benar dan salah. Tunggu saja.
Aku hanya memandangi Desi sesegukkan bekas usaha menahan air matanya. Beginilah cinta, deritanya tiada akhir. Aku jadi belajar lagi satu hal. Jika kalian mau, usahakan dulu tapi jangan terlalu dipaksakan. Jika memang tak bisa anggap saja sebuah ujian.
***
Pagi hari yang tak seperti biasanya. Aku ingin menyiapkan hadiah untuk Olive yang berulang tahun hari ini. Aku membooking meja disalah satu restoran yang menyediakan pemandangan indah Jakarta malam hari di daerah Setiabudi. Dibantu Bona, Desi, Aulia dan Rubi yang menghandle tempat dan dekor. Aku pergi ke toko bunga langganan Mama. Aku membeli beraneka macam bunga berwarna putih yang di rangkai menjadi 3 bouquet bunga dan beberapa balon gas. Hanya feeling ku saja kalau Olive suka dengan bunga berwarna putih. Aku membuat teka-teki sederhana yang ku tulis pada 3 kartu ucapan.
Aku menuju apartment Olive. Ku bawa dua bouquet bunga dan kartu ucapan. Bunga pertama aku taruh di receptionist. Sudah ku beri clue kepada mbak-mbak penunggu meja lobby itu. Bunga kedua aku taruh di depan pintu kamarnya. Tapi sepertinya tidak ada orang setelah ku ketuk dan ku berlari untuk sembunyi. Baiklah. Akan aku tunggu di mobil menunggu bunga ke tiga yang aku taruh di bangku depan mobil dan beberapa balon di bangku belakang. Sampai aku tak berani mematikan mobil takut balonnya pecah hehe…
Aku sengaja memarkirkan mobil tak jauh dari lobby. Agar aku bisa mengawasi Olive saat sedang mencari clue dariku.
Sudah hampir dua jam aku menunggunya di mobil. Dari kejauhan aku melihat wanita mirip sekali dengan Olive berjalan dari parkiran. Ya, itu Olive. Pasti aku tersenyum dan menahan tawa. Sudah tak sabar bagaimana reaksinya nanti. Tunggu dulu. Olive tidak sendiri. Ada pria berjalan di belakangnya. Sepertinya aku pernah lihat. Mas Jerry. Oh, mungkin mereka saling kenal karena tinggal di satu apartment. Aku masih melihat mereka berjalan. Aku tersentak. Saat Mas Jerry merangkul dan dibalas oleh Olive. Tanpa canggung Mas Jerry mencium kening Olive yang sedang berjalan. Aku kaget. Seperti ada petir yang menyambar kaca depan mobilku. Aku masih di posisi yang sama dengan tatapan fokus yang sama saat Olive dan Mas Jerry hilang tertutup pintu lobby.
Tak ada yang ingin aku lakukan saat itu. Aku hanya diam. Tatapanku kosong. Aku masih memandang pintu lobby itu. Jantungku berdegub kencang. Saking kencangnya aku sampai bisa mendengar suara jantungku. Mataku berair. Hanya berair di sudutnya. Aku melihat bunga disebelahku. Tak tau mau diapakan kamu, batinku. Ingin marah tapi mulutku terkunci. Suara ketukan kaca menyadarkanku. Ada Olive disana. aku buka kaca mobilku. Aku melihat muka paniknya.
“Cel, aku bisa jelasin. Cel, turun dulu”
Olive panik. Sangat panik. Suaranya sampai bergetar. Tangannya memegang dua bouquet bunga dariku. Aku sudah tak peduli apa reaksinya. Aku melihat mata Olive yang mulai menggenang. Sesekali ia menengok ke arah lobby. Aku tau ia takut ketahuan Mas Jerry. Olive menghapus air matanya agar tak benar-benar tumpah.
"Cel, turun dulu. Aku bisa jelasin. Kita omongin baik-baik. Jangan ikutin emosi kamu"
Olive membujukku yang hanya kaku memandangnya.
Olive melihat ke arah lobby. Mas jerry keluar dari lobby. Mungkin ia tak menyadari kalau itu aku. Aku menutup kacanya. Olive masih berusaha mengetuk kaca mobilku. Aku tak perduli. Aku mundurkan mobilku. Olive melambaikan tangan seolah aku temannya. Agar Mas Jerry tak curiga. Mungkin.
Aku menyetir dengan pandangan kosong. Aku menepi. Hampir saja aku menabrak motor didepanku karena telat menginjak rem. Pikiranku kacau. Aku menelpon Bona.
"Cel, dimana? Udah deket? "
"Bon, gak jadi. Makan aja makanannya. Gue yang bayar"
Sebelum ku dengar Bona melanjutkan kata-katanya. Aku mematikan teleponku.
Ku laju mobilku dengan kecepatan tinggi. Tenang, aku baik-baik saja. Jadi tak ada drama kecelakaan disini. Hanya butuh tempat yang tenang untuk menenangkan fikiranku. Aku pilih tempat wisata di ujung Jakarta utara. Ada area pantai baru didepan mallnya. Ya mirip-mirip bali lah. Kakiku menapak di pasir putihnya. Ku arungi pinggir pantainya. Di basahi sedikit telapak kakiku. Aku duduk di pinggir pantainya. Menikmati lagu yang ku setel dari Hp menggunakan headshet. Ku tarik nafas panjang. Dan ku hembuskan.
Desi membangunkanku.
Aku hanya membuka setengah mataku. Melihat muka sendu Desi. Lalu kututup lagi. Mengganggu saja, batinku.
“Cel, bangun. Udah pernah mandi susu belum?”
Pasti susu jatah sarapanku yang mbak Ida rutin menaruh di meja sebelah kasurku.
Aku langsung tersentak membuka mata. Duduk dan mengambil gelasnya. Bukannya aku takut. Tapi Desi kadang suka tega.
Susu itu sudah aman diperutku. Aku tau Desi pasti ada maunya, pagi-pagi sudah di dalam kamarku. Wajahnya yang sendu bikin aku penasaran. Oya, aku akan cerita sedikit permulaannya. Setelah kami lulus SMA. Dwi, “mantan” Desi memilih berkuliah di Semarang. Hubungan Desi dan Dwi mulai renggang. Mereka akhirnya lost contact. Desi memilih mencari kesibukan dengan Freelance di salah satu Website penjual berbagai model baju. Di tempat kerja barunya itu, Desi bertemu dengan Sandra. Wanita keturunan arab campuran jawa. Dengan hidung yang mancung, badan ideal dan wajah photogenic membuat Sandra berhasil mendapat pekerjaan sebagai model di website tersebut.
Seiring berjalannya waktu, membuat mereka semakin dekat. Kebetulan rumah Desi di Jakarta timur dan Sandra di Tangerang. Jarak kantor mereka dengan rumah Desi hanya 5 Km. Sandra yang merasa jauh akhirnya sering menginap di rumah Desi. Sudah hampir lima bulan mereka dekat. Desi menyadari kalau ia tertarik dengan Sandra. Tapi setau Desi, Sandra masih suka laki-laki.
Desi dan Sandra sebenarnya sudah menunjukan bahwa mereka berdua saling menyukai dengan segala perilaku mereka berdua yang buat pasangan manapun iri. Gangguan-gangguan itu mulai dirasakan Desi dan Sandra di kantornya. Mereka sering di ejek karena terlalu dekat. Sudah tak tahan dengan ejekan itu. Desi yang “tau diri” mengajukan resign. Selang dua minggu, Sandra pun melakukan hal yang sama.
Desi mendapat kerja baru di Studio Foto di Jakarta Timur dan Sandra menjadi Agen asuransi di salah satu bank di Tangerang. Karena jarak dan pekerjaan yang terpisah, otomatis peran Desi sebagai yang di butuhkan Sandra menjadi berkurang. Sandra semakin jarang memberi kabar. Sandra mulai dekat dengan laki-laki. Desi yang mulai panik menjadi over posesif. Segala cara dilakukan Desi. Perilaku Desi yang Over posesif itu yang malah mengacaukan segalanya. Desi mulai menunjukan ke public bahwa Desi tak mau Sandra menjauh. Malah sampai membuat Tattoo di pergelangan tangan di atas nadi sebelah kanannya. Bertuliskan De S i. De dan I menggunakan tinta hitam sedangkan Snya menggunakan tinta merah. Aku tau maksud tattoo yang ia buat untuk menunjukan apa.
“Sandra gak mau ketemu Gue lagi, Cel”
Aku diam. Hanya mengelus pundaknya.
“Sandra katanya gak mau namanya jelek di depan teman-temannya”
Desi menunduk. Menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.
Aku baru kali ini melihat Desi di tahap depresi menjalani masalah. Padahal Desi yang ku kenal dulu bukan Desi yang mudah mengeluh. Jika ia mengeluh. Pasti hatinya memang sudah sesak.
“De, sabar ya. Cari yang lain. Kan biasanya Lo yang ngomong gitu ke Gue”
“ia sih. Tapi kali ini Gue mau galau. Mau nikmatin perjuangan cinta Gue, Cel. Katanya kan dia gak mau ketemu Gue karena gak mau namanya jelek didepan temen-temennya? Berarti bukan gak suka sama Gue dong, Cel? Gak salah dong Gue perjuangin dulu. Bukan salah dia juga di deketin cowo. Cowonya aja yang gak tau Gue”
“Iya, De”
Hanya itu yang bisa aku jawab. Aku tau bagaimana rasanya kecewa. Ya, kalau kalian sedang kecewa. Semua di sekitar kalian yang tidak setuju dengan pendapat kalian pasti dianggap salah. Apapun nasehatnya. Jadi kuanggap saja semua yang dikatakan Desi sekarang ini benar. Nanti kalau Desi sudah mereda amarahnya. Baru bisa memikirkan yang benar dan salah. Tunggu saja.
Aku hanya memandangi Desi sesegukkan bekas usaha menahan air matanya. Beginilah cinta, deritanya tiada akhir. Aku jadi belajar lagi satu hal. Jika kalian mau, usahakan dulu tapi jangan terlalu dipaksakan. Jika memang tak bisa anggap saja sebuah ujian.
***
Pagi hari yang tak seperti biasanya. Aku ingin menyiapkan hadiah untuk Olive yang berulang tahun hari ini. Aku membooking meja disalah satu restoran yang menyediakan pemandangan indah Jakarta malam hari di daerah Setiabudi. Dibantu Bona, Desi, Aulia dan Rubi yang menghandle tempat dan dekor. Aku pergi ke toko bunga langganan Mama. Aku membeli beraneka macam bunga berwarna putih yang di rangkai menjadi 3 bouquet bunga dan beberapa balon gas. Hanya feeling ku saja kalau Olive suka dengan bunga berwarna putih. Aku membuat teka-teki sederhana yang ku tulis pada 3 kartu ucapan.
Aku menuju apartment Olive. Ku bawa dua bouquet bunga dan kartu ucapan. Bunga pertama aku taruh di receptionist. Sudah ku beri clue kepada mbak-mbak penunggu meja lobby itu. Bunga kedua aku taruh di depan pintu kamarnya. Tapi sepertinya tidak ada orang setelah ku ketuk dan ku berlari untuk sembunyi. Baiklah. Akan aku tunggu di mobil menunggu bunga ke tiga yang aku taruh di bangku depan mobil dan beberapa balon di bangku belakang. Sampai aku tak berani mematikan mobil takut balonnya pecah hehe…
Aku sengaja memarkirkan mobil tak jauh dari lobby. Agar aku bisa mengawasi Olive saat sedang mencari clue dariku.
Sudah hampir dua jam aku menunggunya di mobil. Dari kejauhan aku melihat wanita mirip sekali dengan Olive berjalan dari parkiran. Ya, itu Olive. Pasti aku tersenyum dan menahan tawa. Sudah tak sabar bagaimana reaksinya nanti. Tunggu dulu. Olive tidak sendiri. Ada pria berjalan di belakangnya. Sepertinya aku pernah lihat. Mas Jerry. Oh, mungkin mereka saling kenal karena tinggal di satu apartment. Aku masih melihat mereka berjalan. Aku tersentak. Saat Mas Jerry merangkul dan dibalas oleh Olive. Tanpa canggung Mas Jerry mencium kening Olive yang sedang berjalan. Aku kaget. Seperti ada petir yang menyambar kaca depan mobilku. Aku masih di posisi yang sama dengan tatapan fokus yang sama saat Olive dan Mas Jerry hilang tertutup pintu lobby.
Tak ada yang ingin aku lakukan saat itu. Aku hanya diam. Tatapanku kosong. Aku masih memandang pintu lobby itu. Jantungku berdegub kencang. Saking kencangnya aku sampai bisa mendengar suara jantungku. Mataku berair. Hanya berair di sudutnya. Aku melihat bunga disebelahku. Tak tau mau diapakan kamu, batinku. Ingin marah tapi mulutku terkunci. Suara ketukan kaca menyadarkanku. Ada Olive disana. aku buka kaca mobilku. Aku melihat muka paniknya.
“Cel, aku bisa jelasin. Cel, turun dulu”
Olive panik. Sangat panik. Suaranya sampai bergetar. Tangannya memegang dua bouquet bunga dariku. Aku sudah tak peduli apa reaksinya. Aku melihat mata Olive yang mulai menggenang. Sesekali ia menengok ke arah lobby. Aku tau ia takut ketahuan Mas Jerry. Olive menghapus air matanya agar tak benar-benar tumpah.
"Cel, turun dulu. Aku bisa jelasin. Kita omongin baik-baik. Jangan ikutin emosi kamu"
Olive membujukku yang hanya kaku memandangnya.
Olive melihat ke arah lobby. Mas jerry keluar dari lobby. Mungkin ia tak menyadari kalau itu aku. Aku menutup kacanya. Olive masih berusaha mengetuk kaca mobilku. Aku tak perduli. Aku mundurkan mobilku. Olive melambaikan tangan seolah aku temannya. Agar Mas Jerry tak curiga. Mungkin.
Aku menyetir dengan pandangan kosong. Aku menepi. Hampir saja aku menabrak motor didepanku karena telat menginjak rem. Pikiranku kacau. Aku menelpon Bona.
"Cel, dimana? Udah deket? "
"Bon, gak jadi. Makan aja makanannya. Gue yang bayar"
Sebelum ku dengar Bona melanjutkan kata-katanya. Aku mematikan teleponku.
Ku laju mobilku dengan kecepatan tinggi. Tenang, aku baik-baik saja. Jadi tak ada drama kecelakaan disini. Hanya butuh tempat yang tenang untuk menenangkan fikiranku. Aku pilih tempat wisata di ujung Jakarta utara. Ada area pantai baru didepan mallnya. Ya mirip-mirip bali lah. Kakiku menapak di pasir putihnya. Ku arungi pinggir pantainya. Di basahi sedikit telapak kakiku. Aku duduk di pinggir pantainya. Menikmati lagu yang ku setel dari Hp menggunakan headshet. Ku tarik nafas panjang. Dan ku hembuskan.
Diubah oleh angela.aghastya 22-08-2017 21:28
0