- Beranda
- Stories from the Heart
BULLET
...
TS
whiteshark21
BULLET
Bullet - minus personality [ fiksi | thriller ]
Satu lokasi, satu korban, satu luka, satu nyawa, satu peluru, nol tersangka.
Di saat ini siapapun orangnya tak akan ada yang begitu sangat peduli dengan sebuah angka satu, hanya sebuah angka dengan nilai terkecil di depan nol.
Hanya saja saat 'satu' itu menjadi lebih dari cukup untuk merenggut sebuah nyawa, maka tak ada seorang pun yang meremehkan keberadaannya lagi.

* FYI, keseluruhan cerita ini belum tertulis sama sekali,
jadi bukan maksud mengulur-ngulur update tapi memang tergantung situasi & kondisi.
* Kesamaan cerita terhitung sangat kebetulan, kecuali beberapa yang tercantum referensinya.
Satu lokasi, satu korban, satu luka, satu nyawa, satu peluru, nol tersangka.
Di saat ini siapapun orangnya tak akan ada yang begitu sangat peduli dengan sebuah angka satu, hanya sebuah angka dengan nilai terkecil di depan nol.
Hanya saja saat 'satu' itu menjadi lebih dari cukup untuk merenggut sebuah nyawa, maka tak ada seorang pun yang meremehkan keberadaannya lagi.
Spoiler for Konten cerita:

Quote:
[ ??? ] - [ Raka ] - [ Lintang ] - [ ??? ] - [ Ratna ] - [ ??? ]
Quote:
Chapter 00
Chapter 01
- masa lalu Raka dan awal mula permasalahan.
Chapter 02
- kasus penembakkan ke-10 dan mimpi buruk Raka.
Chapter 03
- obrolan panjang tentang pemuda yang sudah mati.
Chapter 04
- obrolan berlanjut, membuka sisi gelap seorang Raka.
Chapter 05
- tiga tahun seusai kematian.
- kasus pembulian yang menelan korban nyawa.
Chapter 06
- jawaban Raka.
Chapter 01
- masa lalu Raka dan awal mula permasalahan.
Chapter 02
- kasus penembakkan ke-10 dan mimpi buruk Raka.
Chapter 03
- obrolan panjang tentang pemuda yang sudah mati.
Chapter 04
- obrolan berlanjut, membuka sisi gelap seorang Raka.
Chapter 05
- tiga tahun seusai kematian.
- kasus pembulian yang menelan korban nyawa.
Chapter 06
- jawaban Raka.
* FYI, keseluruhan cerita ini belum tertulis sama sekali,
jadi bukan maksud mengulur-ngulur update tapi memang tergantung situasi & kondisi.
* Kesamaan cerita terhitung sangat kebetulan, kecuali beberapa yang tercantum referensinya.
Quote:
Q :nggak lanjut cerita lama aja? genre sama.. A : nggak, ntar niatnya cerita lama sekalian ane tamatin di cerita ini.
Q : baca dari kiri ke kanan nggak? A : ya, kalo dibaca terbalik maknanya berubah jadi teori bumi kotak dan rencana konspirasi rahasia penguasaan dunia. eeekk..
Q : baca dari kiri ke kanan nggak? A : ya, kalo dibaca terbalik maknanya berubah jadi teori bumi kotak dan rencana konspirasi rahasia penguasaan dunia. eeekk..
Diubah oleh whiteshark21 21-08-2017 18:23
anasabila memberi reputasi
1
1.8K
Kutip
7
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
whiteshark21
#7
Spoiler for Chapter 05:
Quote:
"Jancukk!! Terus gimana bisa lu selamat kalau kenyataannya lu loncat ke SANA!???"
"...itu keajaiban"
"...itu keajaiban"
"my- my.... kamu nggak perlu cerita soal itu ke orang lain, Raka" gumam seorang gadis lainnya lagi, nampak mengomentari apa yang baru saja ia dengar dari sepasang headphone di telinganya.
Di kamarnya yang bernuansa hangat, sebuah tedybear coklat berukuran sedang nampak menjadi satu-satunya teman gadis itu di sana. diam bersender dipeluknya, seakan menjadi teman bicaranya yang siap mendengarkan apapun.
Chapter 05 .
Kembali ke tempat si kedua pemuda sebelumnya berada. Raka kini terlihat mulai bisa menerima emosi yang ada di dalam dirinya, ia tersenyum hampir ingin tertawa saat Lintang begitu herannya dengan jawaban dirinya tadi. Namun tetap, Diam masih jadi respon utamanya bahkan sampai detik ini."Apa rasanya?" Tanya Lintang kemudian.
"Maksudmu?" Tanya Raka balik, belum paham apa yang dipertanyakan.
"Rasanya ingin mati tapi gagal.. jadi enakan atau tambah nyesek di pikiran?" Jelas Lintang.
"Waktu itu aku justru berubah semakin parah.. buatku aku sudah kehilangan semuanya waktu itu.. waktu aku bangun dari pingsanku"
"Yeah.. gue kira lu bakalan mulai tobat sejak itu"
"Nggak secepet itu aku berdamai dengan semuanya"
"................"
"Aku terbawa arus cukup lama, sadar-sadar aku sudah terdampar saja di tepi sungai, bercampur dengan segala macam ranting kayu dan sampah-sampah dari hutan"
"Apa itu sungai umum?"
"Nggak.. aku masuk ke aliran sungai asing, di dalam hutan belantara jauh dari pemukiman warga"
"Hohoo lu ngarang kan? Tunggu, emang gimana kondisi desamu itu sih?"
"Nggak lah... desaku itu cuma desa kecil yang bener-bener masuk area hutan asli.. dan nggak aneh juga kalau faktanya aku terbawa arus masuk ke hutan"
"Okelah.. apa mau dikata" Lintang menyerah soal mempertanyakan anggapannya.
"....aku bangun dengan badan penuh luka, nggak punya rumah, nggak punya makanan, uang, apalagi orang dekat.. aku kehilangan semuanya" panjut Raka.
"Hidup di hutan sendirian? Sebagai seorang yang sudah mati?"
"Uh.."
"Damn-hell!! susah dipercaya"
"Aku sudah terbiasa berkebun jadi hidup 2 minggu di hutan lepas seperti itu nggak terlalu terasa.. baru setelah kondisi fisikku membaik, aku memutuskan untuk pergi mencari pemukiman warga terdekat, berharap dari sana aku bisa memulai hidup baru atau sekedar mencari biaya untuk pergi ke kota" lanjut Raka masih menerangkannya secara detail.
"Skip deh, jadi akhirnya lu ke kota sebagai 'Raka' yang baru..." Sela Lintang memotong ceritanya.
"Ya.. aku sewa kamar,mulai kehidupanku dengan perilaku yang sekarang ini, menyendiri, dan- " balas Raka langsung ke point yang mungkin diinginkan Lintang. Namun belum selesai bicara, perkataannya terpotong oleh Lintang lagi.
"Heei.. lu dari sekarat di hutan sendirian, apa-apaan bisa langsung sewa kamar segala macem?" Tanya Lintang justru butuh kepingan cerita yang baru saja ia minta untuk dilewati.
"Gehh.. kamu tau jembatan terbesar sekaligus bendungan sungai nomer satu di kota ini?" Balas Raka dengan bertanya.
"Yah, apa hubungannya?"
"3 tahun yang lalu, Aku yang merancang desainnya.. modal paket begadang di warnet aku udah bisa menghasilkan 150juta di minggu pertama aku berada di kota ini" jawab Raka kembali membuat Lintang tertawa terheran-heran.
"Huhh!? Lu punya orang daleman di proyek garapan pemerintah,eh?"
"Hahahaa... Siapa yang perlu koneksi, kamu cuma perlu kirim barang daganganmu, nego harga, terus tanda tangan kontrak, selesai"
"Sialan, di sini gue perlu kerja keras setahun buat dapet duit segitu..."
".........."
Keduanya benar-benar hanyut dalam obrolan tersebut, sama sekali tak melakukan kegiatan lainnya selain fokus dan aktif berbalas tanggapan.
"Ngomong-ngomong kenapa lu milih bunuh diri, dulu? Kalau alesanmu cuma mau mati pasti lu bakalan nyoba yang kedua kalinya kan?" Tanya Lintang kembali ke ujung awal cerita Raka.
"Kan sudah dibilang karena depresi"
"Tetep saja, kalau lu benci hidup pasti lu mau nyoba bunuh diri lagi untuk kedua kalinya.... Tapi kenapa nggak? Apa kehidupanmu yang sekarang udah lebih baik? "
".....kamu sadar juga sampai ke situ"
"Hmm??"
"Aku sudah belajar meretas sejak sebelum aku terjun ke arus deras waktu itu.. jauh sebelum aku bunuh diri, aku sudah bisa meretas seluruh keamanan pada jaringan informasi digital pada masanya"
"Soooo.....?" tanya Lintang panjang sambil menerka arah penjelasan singkat barusan.
"...aku tau semuanya, semuanya.."
"Semuanya, apa?"
"Di setiap serial ID- ,atau gampangnya 'setiap manusia', sengaja atau nggak sengaja, mereka semua melakukan suatu kejahatan yang tersembunyi"
"Ohh, soal itu? Jadi ini arti dari penjelasanmu waktu diinterogasi dulu.... Kalau kamu tau kejahatan semua orang"
"Yah, dari yang kecil sampai yang besar, dari yang perorang sampai yang berkelompok... Bahkan sampai yang berkomplotan luas pun ada.. dari orang rendahan sampai yang tertinggi, muda-tua, kaya-miskin, pria-wanita.... aku belum siap mengetahui kebenaran sebesar itu"
".........."
"Semua orang hidup dengan terlalu santai dan mengabaikan itu semua.... Yang aku lihat, dunia ini sangat kotor oleh persekutuan maupun perselisihan tentang hal buruk.. tentang hal kotor dan licik"
"Tapi di satu sisi bagus kan? Lu bisa jadi penyelamat yang membasmi itu semua, bahkan dari tempat dan cara yang nggak terlihat oleh siapapun... kayak di film-film" komentar Lintang.
"Nggak.. justru karena pemikiran naif seperti itu, aku berakhir menjadi depresi dan bunuh diri" Raka nampak simpati pada dirinya yang dulu, saat mengatakannya.
"Lu... Nggak bisa? Ngelakuin itu sendiri?" Tanya Lintang lagi.
"Ya, semua ini.. semua masalah yang ada di sisi lain koin ini, bukan lagi soal adu kekuatan militer ataupun soal senjata pemusnah, tapi soal kuantitas.. yang dominan akan menang, mau bagaimanapun caranya"
"Hei, lu mikir terlalu jauh,Ra- "
"Itu kenyataannya! Penduduk negeri ini sudah hidup di satu dimensi khayalan di mana semuanya terlihat baik-baik saja, tapi kenyataannya dunia yang asli semakin hari semakin kelam... Kita nggak sadar soal itu! Kalian nggak sadar, semuanya!" Jelas Raka menekankan.
"..."
Untuk sesaat Lintang benar-benar menggunakan otaknya untuk memikirkan perkataan Raka barusan. Ia sadar kalau maknanya akan sangat dalam sampai ia tak akan paham jika tak mengalaminya sendiri.
Mengetahui semua keburukan yang tersembunyi ternyata membuat pemuda yang satu ini mulai kehilangan harapannya untuk hidup lagi.
"Well.. gue yakin itu terlalu jauh, tapi ya.. balik lagi, cuma lu yang tau persis bagaiamannya" kata Lintang tak mau menyerang pendapat Raka begitu saja.
"Persisnya bisa dibilang seperti kamu mencoba merusak benteng baja kokoh hanya dengan bermodal sepasang tangan kosong.... Simpelnya, itu mustahil" balas Raka memberi gambarannya.
"..........."
"Atau yang lebih simpelnya, seperti negeri ini nggak akan pernah bisa merdeka dari penjajahan kalau dulu pejuangnya hanya satu orang"
"Yeah, aku maksud"
"................." Raka berdiam lebih lama dari yang sebelumnya.
"lengkap sekali kan kekuranganku?" tambahnya kemudian.
"hh??" Lintang merespon.
"bukan lagi aku hilang harapan pada diriku sendiri, pada orang di sekitarku.. tapi bahkan aku sudah hilang harapan pada semua manusia yang hidup di dunia ini" lanjut Raka.
"lu cuma masih terlalu muda saat itu.. dewasa bakalan mengubah cara pikirmu nantinya" komentar Lintang kembali.
"yah, apapun itu.. kenyataannya dunia ini hanya tempat yang membosankan buatku, baik dulu maupun sekarang... sama saja"
"hehh.... alesanmu bunuh diri itu konyol banget, sumpah" kata Lintang terdengar seperti keluhan saja.
Setelah lepas dari ketegangan sejenak, Lintang berhenti menanggapi topik pembicaraan barusan dan kemudian berhenti bicara pula untuk sesaat, begitu pula dengan Raka yang juga ikut berhenti.
Keduanya sama-sama menggunakan momen jeda mereka untuk meneguk apapun yanv tersisa di gelas masing-masing. Dirasa-rasa larutan penyegar keduanya kini sudah tak terlalu manis lagi akibat semua es di dalam gelasnya mencair, namun pada akhirnya tetap tak mempengaruhi kedua orang ini untuk menghabiskannya.
Masa lalu dan asal usul Raka, misteri soal kematian dan juga sifat mengurung dirinya, kali ini Lintang sudah mulai sedikit paham semuanya. Kini semua misteri itu justru berlalu begitu saja dan hanya menyisahkan 1 pertanyaan baginya.
Yakni apakah Raka bersedia atau tidak, mengenai permintaannya untuk membantu mencari target buronan yang sampai detik kesepuluh nyawa hilang pun, belum bisa ditemukan.
"Lu jadi begini karena dulu lu berusaha mencari tau keseluruhan informasi tentang semua orang,kan?" Kata Lintang kembali memulai percakapannya.
"....kurang lebih" jawab Raka sedikit tak berharap hal itu dipertanyakan lagi setelah cerita panjangnya.
"Apa lu masih ngelakuin itu semua? ...maksud gue, lu nggak bener-bener jadi trauma kan, karena hal itu?" Tanya Lintang bersumpah dirinya akan langsung to-the-point setelah yang satu ini.
"Aku nggak pernah ngelakuin itu lagi..." jawab Raka datar, biasa saja.
"...!"
"Terakhir kali aku melakukannya, seorang pelajar memilih untuk loncat dari atas jembatan di pusat kota" jawab Raka justru membuka satu pintu misteri baru lagi, bagi Lintang.
"Maksudmu??" Tanya Lintang sebenarnya cukup tanggap dan sudah sempat terpikir soal kasus bunuh diri yang dilakukan pelajar remaja sekitar dua bulan yang lalu.
"...aku pernah dipenjara karena kasus pembulianku dilaporkan ke pihak kepolisian kan, dulu?" Ujar Raka nampak ingin memulai satu cerita barunya lagi.
".....hmm" balas Lintang enteng sambil mencerna semuanya.
"Sejak aku pindah ke kota, aku punya semuanya kecuali emosiku.. waktu itu aku seperti orang mati, nggak punya perasaan sama sekali.. nggak peduli tentang apapun, sama sekali"
"Karena itu lu membuli orang lain di internet,kah? Itu alasanmu?"
"Yeah.. orang-orang dengan urusan sepele merengek-rengek tentang bunuh diri... 'lakukan saja!' pikirku saat itu.. karena aku sendiri tau rasanya putus asa seperti mereka, walau kenyataannya masalah mereka nggak sebanding dengan punyaku"
"Oke, aku maksud.. semuanya berakhir di kasus bunuh diri remaja putri waktu itu, kan? Namanya kalau nggak salah...." Ujar Lintang mengingatkem kembali pertemuan secara tidak langsungnya dengan Raka, setahun yang lalu.
"Namanya Nanda.." ujar Raka membantunya mengingat nama tersebut.
"Yah, gue inget sekarang... Anak perempuan yang tertekan karena kedua orang tuanya bertengkar, dan kemudian membunuh dirinya sendiri dengan meminum larutan pembasmi serangga"
"Aku.. waktu itu aku menekannya habis-habisan, tanpa peduli apa mentalnya sudah siap atau belum"
"....jadi, ditambah dengan pelajar laki-laki yang terjun dari jembatan itu, korbanmu sudah ada 2 orang?" Tanya Lintang.
"Nggak.."
".................?"
"Nanda korban dari pembulianku yang ke-sembilan, dan bocah yang lompat dari jembatan itu yang ke-sepuluh" jelas Raka tentu terdengar seram saja untuk diketahui secara tiba-tiba oleh Lintang di sana.
"hh- ...!!!" reaksi Lintang tak menyangkanya.
"Entah kamu paham atau nggak soal kondisi kejiwaanku di masa lalu, kenyataannya aku sudah membunuh 10 nyawa tanpa ada orang yang tau" tambah Raka sangat kosong, pandangan matanya.
0
Kutip
Balas